Tag: kesehatan

  • Mau Turunkan BB, Mending Minum Kopi Hitam atau Teh Hitam? Ini Penjelasannya


    Jakarta

    Kebanyakan orang kerap mempermasalahkan berat badan. Untuk menurunkannya, kopi hitam dan teh hitam menjadi pilihan karena rendah kalori.

    Keduanya merupakan minuman kaya kafein, tanpa gula, dan kaya akan antioksidan. Keduanya sering dikaitkan dapat menurunkan berat badan.

    Lantas, mana yang benar-benar lebih baik untuk menurunkan berat badan?


    Kopi Hitam Vs Teh Hitam

    Kopi hitam memberikan dorongan kuat pada metabolisme tubuh, meningkatkan pembakaran lemak, dan dapat menekan nafsu makan. Di sisi lain, memadukan kafein dengan senyawa pada teh hitam yang unik, seperti katekin dan theaflavin, dapat memberikan dorongan yang lebih lembut untuk membakar lemak.

    Namun, penelitian belum mencapai kesepakatan. Beberapa menunjukkan efek kopi yang lebih kuat, sementara yang lain menyoroti peran pendukung dari kandungan teh. Berikut perbandingan keduanya yang dikutip dari Times of India.

    1. Metabolisme dan Pembakaran Kalori

    Kopi hitam mengandung kafein yang tinggi, sekitar 95 mg per cangkir. Minuman ini dapat meningkatkan laju metabolisme sebesar 3-13 persen selama beberapa jam, sehingga dapat membakar lebih banyak kalori bahkan saat beristirahat.

    Sebaliknya, teh hitam mengandung lebih sedikit kafein yakni sekitar 47 mg. Tetapi, teh hitam tetap menawarkan peningkatan metabolisme yang ringan berkat kandungan kafein dan senyawa seperti theaflavin di dalamnya.

    2. Terkait Oksidasi Lemak dan Penurunan Berat Badan

    Kafein dalam kopi meningkatkan oksidasi lemak, yakni lemak yang digunakan untuk energi. Beberapa penelitian menunjukkan penurunan lemak tubuh dengan mengonsumsi beberapa cangkir setiap hari.

    Sementara itu, katekin dan theaflavin dalam teh hitam juga dapat membantu meningkatkan pembakaran lemak dan mengurangi lemak tubuh, meskipun buktinya masih terbatas.

    3. Penekan Nafsu Makan

    Kafein dalam kopi hitam dapat menekan rasa lapar dan mengurangi asupan kalori. Di sisi lain, teh hitam dapat meningkatkan rasa kenyang berkat antioksidan dan kafein yang ringan.

    Namun, efek penekan nafsu makan dari teh hitam cenderung lebih halus.

    4. Peningkatan Olahraga dan Performa

    Kafein meningkatkan performa fisik, baik untuk kekuatan maupun daya tahan. Hal ini membantu seseorang tetap aktif dan membakar lebih banyak kalori selama latihan atau olahraga.

    Meskipun kadar kafein yang lebih rendah dalam teh hitam juga dapat meningkatkan performa olahraga, efeknya lebih lembut. Selain itu, teh hitam mengandung L-theanine yang menenangkan untuk mengurangi rasa gelisah.

    5. Antioksidan dan Dampak Kesehatan

    Kopi kaya akan asam klorogenat, yang mendukung metabolisme lemak dan menawarkan manfaat antioksidan. Teh hitam juga mengandung polifenol kuat, seperti katekin dan theafavin, yang dapat membantu mengurangi penyimpanan lemak serta meningkatkan kesehatan usus.

    Ini berpotensi membentuk manajemen berat badan yang lebih baik.

    6. Perbandingan Bukti Ilmiah

    Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa teh hijau terbukti memiliki manfaat penurunan berat badan. Tetapi, teh hitam dan kopi tidak signifikan mengungguli plasebo.

    Namun, sebuah studi intervensi terpisah menemukan bahwa kopi menyebabkan penurunan indeks massa tubuh (IMT) dan lemak tubuh yang signifikan selama enam bulan. Sementara teh hijau menunjukkan efek yang lebih ringan.

    7. Memilih Berdasarkan Gaya Hidup dan Sensitivitas

    Jika lebih suka dorongan energi yang kuat, pilihlah kopi hitam. Tetapi, disarankan untuk tetap berhati-hati jika kafein sudah menyebabkan gelisah atau sulit tidur.

    Jika lebih menginginkan ketenangan atau kafein lebih sedikit, L-theanine dalam teh hitam dapat memberikan dorongan lebih halus. Tetapi, membuat seseorang tetap waspada dan rileks, yang sempurna untuk malam hari atau orang dengan toleransi kafein yang rendah.

    Kesimpulannya, kopi hitam mungkin lebih unggul dalam hal pembakaran lemak yang cepat, peningkatan metabolisme, pengendalian nafsu makan, dan dukungan kebugaran. Tetapi, minuman ini mengandung kafein yang lebih kuat, yang berpotensi menyebabkan kegelisahan atau gangguan tidur pada individu yang sensitif.

    Teh hitam, dengan kafein yang lebih lembut dan antioksidan yang menenangkan, menawarkan dukungan yang lebih ringan. Tetapi, itu tetap sangat berpengaruh untuk manajemen berat badan.

    Manfaat tambahannya bagi usus dan antioksidan menjadikannya pilihan yang bijaksana bagi mereka yang memprioritaskan kesehatan secara keseluruhan daripada peningkatan energi yang intens.

    Pilihlah apa yang disukai dan baik untuk kesehatan tubuh. Tetapi, tetap dipadukan dengan diet sehat, olahraga teratur, dan kebiasaan yang sehat untuk hasil yang nyata dan bisa bertahan lama.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • 8 Makanan Pembakar Lemak Perut untuk Turunkan Berat Badan

    Jakarta

    Menurunkan berat badan seringkali dianggap sebagai proses yang kompleks dan penuh tantangan. Namun, salah satu caranya adalah memilih asupan makanan yang tepat.

    Beberapa makanan bisa membantu membakar lemak perut. Diketahui bahwa lemak perut berlebih bisa berdampak negatif terhadap kesehatan dan menyebabkan beberapa kondisi kronis. Ketahui sejumlah makanan yang bisa menghempas lemak perut berikut ini

    8 Makanan Pembakar Lemak Perut

    Beberapa makanan ini dapat membantu menghilangkan lemak di perut. Mulai dari yoghurt, telur, kacang-kacangan, hingga sayuran.


    1. Yoghurt

    Probiotik adalah bakteri yang ditemukan dalam beberapa makanan, seperti yoghurt. Penelitian menunjukkan bahwa probiotik, terutama yang mengandung bakteri Lactobacillus bisa membantu menurunkan berat badan dan lemak perut.

    Sebuah studi selama 43 hari pada 28 orang dewasa yang kelebihan berat badan menemukan bahwa mengonsumsi 100 gram Yoghurt dengan Lactobacillus amylovorus per hari menghasilkan pengurangan lemak tubuh yang lebih besar, dibandingkan yogurt tanpa probiotik.

    Kandungan protein dalam yoghurt juga bisa membantu menurunkan berat badan. Yoghurt Yunani mengandung protein hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan yogurt lainnya. Yoghurt ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dicerna, sehingga membuat kenyang lebih lama. Pilih jenis yogurt tanpa lemak, rendah lemak, dan rendah gula.

    2. Telur

    Satu butir telur mengandung 75 kalori, 7 gram protein, serta nutrisi penting lainnya. Tubuh akan membakar lebih banyak kalori saat mencerna telu dibandingkan sarapan tinggi karbohidrat.

    Protein sendiri merupakan nutrisi yang penting dalam manajemen berat badan. Asupan protein yang tinggi meningkatkan pelepasan hormon kenyang peptida YY yang mengurangi nafsu makan.

    3. Kacang-kacangan

    Mengonsumsi kacang-kacangan menjadi cara yang sangat baik untuk menahan rasa lapar di antara waktu makan. Kacang-kacangan kaya akan protein, serat, dan lemak sehat untuk jantung.

    Studi menunjukkan bahwa kacang-kacangan bisa membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki kadar kolesterol jika dikonsumsi dalam jumlah sedang.

    4. Buah Beri

    Buah beri, seperti stroberi, bluberi, dan raspberi kaya akan air dan serat, sehingga bisa membuat kenyang lebih lama. Rasanya juga manis, sehingga bisa memuaskan keinginan untuk makan makanan manis dengan kalori yang lebih rendah.

    5. Semangka

    Dikutip dari laman Very Well Health, semangka mengandung nutrisi yang bisa membantu menurunkan berat badan dengan meningkatkan rasa kenyang, meningkatkan performa olahraga, membakar lemak, dan melancarkan pencernaan.

    Secangkir semangka hanya mengandung 45 kalori. Sitrulin dalam semangka dimetabolisme menjadi arginin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplementasi arginin secara signifikan bisa mengurangi BMI, lingkar pinggang, dan massa lemak.

    6. Ikan Berlemak

    Dikutip dari Healthline, ikan berlemak menjadi salah satu makanan yang bisa membakar lemak. Ikan ini bisa menjadi tambahan bergizi untuk pola makan seimbang,

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lemak omega-3 dari ikan seperti salmon, kembung, dan sarden bisa membantu mengurangi lemak visceral. Studi pada orang dewasa dan anak dengan penyakit hati berlemak menunjukkan bahwa suplemen omega-3 bisa mengurangi lemak hati dan perut secara signifikan.

    7. Daging Tanpa Lemak

    Protein dapat membuat rasa kenyang yang lebih lama dan membakar lebih banyak kalori selama proses pencernaan. Salah satu pilihan protein yang tepat adalah dada ayam tanpa kulit, selain itu, beberapa potongan daging sapi juga bisa menjadi pilihan yang baik.

    Penelitian menunjukkan, orang yang mengonsumsi lebih banyak protein cenderung memiliki lebih sedikit lemak perut, dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi makanan rendah protein.

    8. Sayuran

    Sayuran mengandung serat larut yang menyerap air dan membentuk gel yang membantu memperlambat makanan saat melewati sistem pencernaan. Studi menunjukkan bahwa serat ini bisa mendorong penurunan berat badan dengan membantu tubuh merasa kenyang.

    Terlebih, serat larut bisa mengurangi lemak di perut. Studi observasional lama yang melibatkan 1.100 orang dewasa menemukan bahwa, untuk setiap peningkatan 10 g asupan serat larut, penambahan lemak perut berkurang sebesar 3,7 persen selama lima tahun.

    (elk/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Diet Pangkas BB demi Film, Orlando Bloom Malah Kena Efek Samping Mengerikan


    Jakarta

    Aktor Orlando Bloom melakukan penurunan berat badan untuk peran terbarunya sebagai petinju di film The Cut. Namun, ia malah mengeluhkan efek samping yang mengerikan akibat penurunan berat badan itu.

    Pada kenyataannya, petinju harus ‘mencapai berat’ untuk kelas yang mereka ikuti. Mulai dari kelas di bawah 45 kg hingga kelas berat di atas 90 kg. Bloom harus menyesuaikan diri dengan kelas berat.

    “Menurunkan berat badan adalah fokus kami, dan itulah perjuangannya. Ini benar-benar semacam komentar tentang pikiran internal, stres yang dialami tubuh, yang dialami pikiran, dan itu sangat, sangat nyata,” terang Bloom yang dikutip dari Unilad, Sabtu (30/8/2025).


    Meski penurunan berat badan terkadang baik untuk kesehatan, ia tidak merekomendasikan metode yang dijalaninya.

    “Itu jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng,” tuturnya.

    Bloom memuji ‘ahli gizinya’ karena membantunya menurunkan berat badan. Termasuk dengan mengurangi porsi makan dari tiga menjadi dua, lalu menjadi satu, dan berhenti mengonsumsi bubuk protein.

    Dalam tiga minggu terakhir transformasinya, Bloom mengatakan ia hanya makan tuna dan mentimun. Meski itu memberikan hasil yang baik untuk berat badannya, ada edek samping lain yang muncul.

    “Saya hanya kelelahan secara mental, fisik, dan saya hanya merasa lapar, seperti orang yang mengerikan.”

    Bloom juga menggambarkan dirinya yang mengalami paranoia dan pikiran intrusif. Untungnya, transformasi intensnya hanya untuk kepentingan film, ia mengakui kurang tidur dan berdampak pada kesehatan mentalnya.

    “Ternyata kamu tidak bisa tidur saat lapar,” pungkasnya.

    (sao/naf)



    Sumber : health.detik.com

  • 7 Makanan Rendah Kalori untuk Diet, Bikin Kenyang!

    Jakarta

    Salah satu kunci sukses menjalani diet terletak pada pemilihan makanan yang tepat. Makanan rendah kalori bisa menjadi solusi, sebab tidak hanya membantu mengontrol asupan energi, tapi tetap merasa kenyang.

    Menariknya, banyak pilihan makanan rendah kalori yang mudah didapatkan.

    7 Makanan Rendah Kalori untuk Diet, Mudah Didapatkan dan Bikin Kenyang

    Mulai dari sayuran, buah, hingga daging tanpa lemak, makanan-makanan ini bisa memberikan rasa kenyang dengan kalori yang rendah. Dikutip dari Healthline dan Prevention, berikut informasinya.


    1. Oat

    Oat bisa menjadi tambahan yang sangat baik untuk diet harian. Tak hanya rendah kalori, oat juga tinggi protein dan serat yang bisa membuat tubuh merasa kenyang. Setengah cangkir oat kering hanya mengandung 154 kalori, 5 gram protein, dan serat. Protein dan serat diketahui bisa berdampak signifikan pada rasa lapar dan nafsu makan.

    Sebuah penelitian yang melibatkan 48 orang dewasa menunjukkan, konsumsi oatmeal bisa meningkatkan rasa kenyang dan dan mengurangi rasa lapar.

    2. Buah Beri

    Buah beri, seperti strawberry, blueberry, raspberry, dan blackberry kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan yang bisa mengoptimalkan kesehatan.
    Secangkir blueberry hanya mengandung 86 kalori dan 3,6 gram serat.

    Buah beri juga merupakan sumber pektin yang baik, yaitu jenis serat makanan yang terbukti bisa memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan rasa kenyang. Selain itu, buah ini juga bisa membantu mengurangi konsumsi kalori.

    Sebuah penelitian menunjukkan, camilan sore hari berisi buah beri dengan 65 kalori menurunkan asupan kalori di kemudian hari, dibandingkan dengan camilan permen gummy dengan 65 kalori.

    3. Bayam

    Bayam kaya akan nutrisi dan antioksidan seperti vitamin K, mangan, folat, dan magnesium. Secangkir bayam hanya mengandung 7 kalori.

    Sayuran ini juga mengandung serat yang tinggi, sehingga bisa lebih mengenyangkan dan bermanfaat bagi pencernaan.

    4. Telur

    Telur sangat padat nutrisi. Sebutir telur berukuran besar mengandung sekitar 72 kalori, 6 gram protein, dan berbagai macam vitamin serta mineral penting.

    Sebuah penelitian melibatkan sebanyak 30 orang. Mereka yang makan telur untuk sarapan merasakan kenyang lebih lama dibandingkan mengonsumsi bagel. Setelah makan telur, mereka juga mengonsumsi 105 kalori lebih sedikit di kemudian hari.

    Penelitian lainnya mengamati, sarapan berprotein tinggi bisa mengurangi keinginan untuk ngemil, memperlambat pengosongan lambung, serta mengurangi kadar ghrelin, hormon yang bertanggung jawab atas rasa lapar.

    5. Kentang

    Kentang seringkali dianggap tidak sehat karena dikaitkan dengan kentang goreng dan keripik kentang yang memiliki lemak tinggi. Tapi, pada kenyataannya kentang bisa mengenyangkan dan menjadi bagian penting dari diet kaya nutrisi.

    Satu kentang panggang ukuran sedang beserta kulitnya mengandung 161 kalori, tapi juga menyediakan 4 gram protein dan serat.

    Pada faktanya, sebuah studi yang mengevaluasi makanan tertentu yang bisa memberikan rasa kenyang menempatkan kentang sebagai makanan yang paling mengenyangkan, dengan skor 323 pada indeks rasa kenyang.

    6. Daging Tanpa Lemak

    Daging tanpa lemak dapat secara efektif mengurangi rasa lapar dan nafsu makan di antara waktu makan. Ayam, kalkun, serta potongan daging merah redah lemak mengandung kalori yang rendah tapi kaya protein.

    Misalnya, 113 gram dada ayam yang dimasak mengandung sekitar 163 kalori dan 32 gram protein. Menurut penelitian, orang yang mengonsumsi makanan berprotein tinggi, termasuk daging mengonsumsi 12 persen lebih sedikit makanan berdasarkan beratnya saat makan malam, dibandingkan mereka yang mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan tanpa daging.

    7. Kacang-kacangan

    Mengandung serat tinggi, kacang-kacangan seperti buncis, kacang polong, dan lentil bisa sangat mengenyangkan. Secangkir lentil (198 gram) yang dimasak menyediakan sekitar 230 kalori, 15,6 gram serat, dan hampir 18 gram protein.

    Sebuah penelitian yang melibatkan 43 orang dewasa menemukan, makanan berprotein tinggi dengan kacang-kacangan dan polong-polongan meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi nafsu makan dan rasa lapar, lebih dari makanan berprotein tinggi dengan daging sapi muda dan daging babi.

    Tinjauan lainnya dari sembilan studi menunjukkan, orang merasa 31 persen lebih kenyang setelah makan kacang-kacangan seperti buncis, lentil, dan kacang polong kering, dibandingkan dengan makanan tinggi karbohidrat seperti pasta dan roti.

    (elk/suc)



    Sumber : health.detik.com

  • Teh Hijau Vs Kopi Tanpa Gula, Lebih Ampuh Mana Turunkan BB? Ini Kata Studi

    Jakarta

    Jika ingin menurunkan berat badan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah pola makan, termasuk mengganti pilihan makanan dan minuman. Bagi yang gemar mengonsumsi teh atau kopi, ahli gizi sering merekomendasikan teh hijau dan kopi hitam sebagai alternatif yang lebih sehat.

    Keduanya dikenal dapat membantu proses penurunan berat badan sekaligus berperan sebagai katalis pembakaran lemak. Namun, di antara keduanya, mana yang lebih efektif untuk menurunkan berat badan? Dikutip dari Times of India, begini penjelasannya.

    1. Teh Hijau

    Teh ini telah lama digunakan untuk menurunkan berat badan. Sebuah studi yang dipublikasikan di British Journal of Nutrition, menemukan, konsumsi teh hijau secara rutin dapat memberikan efek positif terhadap berat badan. Dalam meta-analisis terhadap 22 uji coba acak, peneliti mencatat konsumsi teh hijau menghasilkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 1,23 kg dibandingkan dengan plasebo.


    Kandungan epigallocatechin gallate (EGCG) dalam teh hijau terbukti efektif dalam mengurangi lemak tubuh, rasio pinggang-pinggul, lingkar pinggang, serta indeks massa tubuh (IMT).

    Tak hanya itu, mereka yang sudah memulai perjalanan menurunkan berat badan, teh hijau dapat membantu mempertahankan hasil yang telah dicapai.

    Menurut studi yang dipublikasikan di Obesity Research, teh hijau terbukti mampu meningkatkan metabolisme dan oksidasi lemak selama fase pemeliharaan, sehingga mendukung kestabilan berat badan dalam jangka panjang.

    2. Kopi Tanpa Gula

    Penelitian menyatakan, tingkat metabolisme yang tinggi sebesar 3 hingga 11 persen, dapat menyebabkan menekan rasa lapar dan secara keseluruhan mengurangi asupan kalori. Sebuah studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan konsumsi empat cangkir kopi hitam atau kopi tanpa gula per hari dapat mengurangi lemak tubuh hingga sekitar 4 persen.

    Sementara itu, menurut jurnal yang dipublikasikan di Critical Reviews in Food Science and Nutrition, kopi juga berkontribusi pada peningkatan metabolisme serta penurunan IMT dan lemak tubuh.

    Kopi tanpa gula juga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Peningkatan konsumsi satu kopi tanpa gula dikaitkan dengan penurunan berat badan sekitar 0,12 kg.

    Meskipun teh hijau dan kopi hitam terbukti sangat efektif dalam menurunkan berat badan, teh hijau memiliki lebih banyak manfaat dalam hal kesehatan secara keseluruhan, khususnya antioksidan dan penurunan berat badan.

    (suc/suc)



    Sumber : health.detik.com

  • Teh Hijau Vs Kopi Tanpa Gula, Lebih Ampuh Mana Turunkan BB? Ini Kata Studi

    Jakarta

    Jika ingin menurunkan berat badan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah pola makan, termasuk mengganti pilihan makanan dan minuman. Bagi yang gemar mengonsumsi teh atau kopi, ahli gizi sering merekomendasikan teh hijau dan kopi hitam sebagai alternatif yang lebih sehat.

    Keduanya dikenal dapat membantu proses penurunan berat badan sekaligus berperan sebagai katalis pembakaran lemak. Namun, di antara keduanya, mana yang lebih efektif untuk menurunkan berat badan? Dikutip dari Times of India, begini penjelasannya.

    1. Teh Hijau

    Teh ini telah lama digunakan untuk menurunkan berat badan. Sebuah studi yang dipublikasikan di British Journal of Nutrition, menemukan, konsumsi teh hijau secara rutin dapat memberikan efek positif terhadap berat badan. Dalam meta-analisis terhadap 22 uji coba acak, peneliti mencatat konsumsi teh hijau menghasilkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 1,23 kg dibandingkan dengan plasebo.


    Kandungan epigallocatechin gallate (EGCG) dalam teh hijau terbukti efektif dalam mengurangi lemak tubuh, rasio pinggang-pinggul, lingkar pinggang, serta indeks massa tubuh (IMT).

    Tak hanya itu, mereka yang sudah memulai perjalanan menurunkan berat badan, teh hijau dapat membantu mempertahankan hasil yang telah dicapai.

    Menurut studi yang dipublikasikan di Obesity Research, teh hijau terbukti mampu meningkatkan metabolisme dan oksidasi lemak selama fase pemeliharaan, sehingga mendukung kestabilan berat badan dalam jangka panjang.

    2. Kopi Tanpa Gula

    Penelitian menyatakan, tingkat metabolisme yang tinggi sebesar 3 hingga 11 persen, dapat menyebabkan menekan rasa lapar dan secara keseluruhan mengurangi asupan kalori. Sebuah studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan konsumsi empat cangkir kopi hitam atau kopi tanpa gula per hari dapat mengurangi lemak tubuh hingga sekitar 4 persen.

    Sementara itu, menurut jurnal yang dipublikasikan di Critical Reviews in Food Science and Nutrition, kopi juga berkontribusi pada peningkatan metabolisme serta penurunan IMT dan lemak tubuh.

    Kopi tanpa gula juga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Peningkatan konsumsi satu kopi tanpa gula dikaitkan dengan penurunan berat badan sekitar 0,12 kg.

    Meskipun teh hijau dan kopi hitam terbukti sangat efektif dalam menurunkan berat badan, teh hijau memiliki lebih banyak manfaat dalam hal kesehatan secara keseluruhan, khususnya antioksidan dan penurunan berat badan.

    (suc/suc)



    Sumber : health.detik.com

  • Menu Makan Para Miliarder, Bisa Ditiru Kalau Mau Ikutan Sehat


    Jakarta

    Para miliarder terkenal seperti Jeff Bezos hingga Mark Zuckerberg kerap menjadi sorotan publik. Pasalnya, banyak yang penasaran dengan apa saja yang mereka makan setiap hari.

    Ternyata, mereka tetap menjalani gaya hidup yang sehat. Dikutip dari berbagai sumber, berikut menu makanan yang dikonsumsi:

    Menu Makan Jeff Bezos

    Pemimpin Amazon Jeff Bezos ternyata memiliki gaya hidup yang sehat. Ia memiliki jadwal olahraga dan makan yang teratur setiap harinya.


    Bezos mulai bekerja pada pukul 10 pagi setelah sarapan bersama keluarganya. Ia menjalani pola makan tinggi protein dan lemak.

    Kabarnya, ia sangat menyukai gurita mediterania, kentang, bacon, dan yogurt bawang putih. Kehidupannya ini jauh lebih sehat dari sebelumnya.

    “Saya belum pernah membaca label nutrisi seumur hidup. Saya makan apapun yang rasanya enak bagi saya,” beber Bezos yang dikutip dari Body and Soul.

    Meski menjalankan gaya hidup sehat, Bezos sesekali memiliki jadwal ‘cheat day’. Terkadang, ia masih mengonsumsi makanan ringan dan makanan cepat saji.

    Bezos rutin olahraga setiap hari, yang disarankan menjalani aktivitas yang berdampak rendah. Tetapi, resistensinya tinggi, seperti mendayung dan angkat beban.

    Ia juga suka aktivitas luar ruangan seperti lari di bukit, kayak, dan paddleboarding.

    Menu Makan Mark Zuckerberg

    Mark Zuckerberg bukanlah orang yang sulit soal makanan. Ia akan mengonsumsi apapun selama makanan tersebut praktis.

    Pola makannya relatif fleksibel dan sederhana. Ia lebih memilih efisiensi dibanding mengikuti tren kesehatan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, ia menggeluti berbagai olahraga intens seperti mixed martial arts (MMA) dan jujitsu. Dengan kegiatan yang intensitas sangat tinggi itu, Zuckerberg bahkan bisa mengonsumsi 4 ribu kalori setiap hari mengonpensasi kalori yang terbakar.

    Padahal, umumnya manusia mengonsumsi 2 ribu kalori per hari. Makanan favoritnya adalah menu-menu yang tinggi protein, seperti daging tanpa lemak, telur, dan sesekali mengonsumsi makanan cepat saji.

    “Tidak sedang menurunkan berat badan, jadi saya butuh sekitar 4 ribu kalori per hari untuk mengimbangi semua aktivitas,” katanya dalam sebuah unggahan media sosial Thread.

    Menu Makan Elon Musk

    Dibandingkan Zuckerberg dan Bezos, kebiasaan makanan Elon Musk ternyata tidak sesehat itu. Dalam unggahannya di X, pemilik Tesla ini bahkan mengaku suka makan donat setiap hari.

    Elon juga mengaku sering melewatkan sarapan. Ia hanya mengonsumsi cokelat bar atau kopi, jika memang tersedia.

    Makan siang biasanya diselipkan di sela-sela rapat, hanya sekitar 5 menit dengan menu apapun yang disediakan. Ia juga sangat menyukai daging sapi, pizza, minuman bersoda, hingga wine.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Menu Makan Para Miliarder, Bisa Ditiru Kalau Mau Ikutan Sehat


    Jakarta

    Para miliarder terkenal seperti Jeff Bezos hingga Mark Zuckerberg kerap menjadi sorotan publik. Pasalnya, banyak yang penasaran dengan apa saja yang mereka makan setiap hari.

    Ternyata, mereka tetap menjalani gaya hidup yang sehat. Dikutip dari berbagai sumber, berikut menu makanan yang dikonsumsi:

    Menu Makan Jeff Bezos

    Pemimpin Amazon Jeff Bezos ternyata memiliki gaya hidup yang sehat. Ia memiliki jadwal olahraga dan makan yang teratur setiap harinya.


    Bezos mulai bekerja pada pukul 10 pagi setelah sarapan bersama keluarganya. Ia menjalani pola makan tinggi protein dan lemak.

    Kabarnya, ia sangat menyukai gurita mediterania, kentang, bacon, dan yogurt bawang putih. Kehidupannya ini jauh lebih sehat dari sebelumnya.

    “Saya belum pernah membaca label nutrisi seumur hidup. Saya makan apapun yang rasanya enak bagi saya,” beber Bezos yang dikutip dari Body and Soul.

    Meski menjalankan gaya hidup sehat, Bezos sesekali memiliki jadwal ‘cheat day’. Terkadang, ia masih mengonsumsi makanan ringan dan makanan cepat saji.

    Bezos rutin olahraga setiap hari, yang disarankan menjalani aktivitas yang berdampak rendah. Tetapi, resistensinya tinggi, seperti mendayung dan angkat beban.

    Ia juga suka aktivitas luar ruangan seperti lari di bukit, kayak, dan paddleboarding.

    Menu Makan Mark Zuckerberg

    Mark Zuckerberg bukanlah orang yang sulit soal makanan. Ia akan mengonsumsi apapun selama makanan tersebut praktis.

    Pola makannya relatif fleksibel dan sederhana. Ia lebih memilih efisiensi dibanding mengikuti tren kesehatan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, ia menggeluti berbagai olahraga intens seperti mixed martial arts (MMA) dan jujitsu. Dengan kegiatan yang intensitas sangat tinggi itu, Zuckerberg bahkan bisa mengonsumsi 4 ribu kalori setiap hari mengonpensasi kalori yang terbakar.

    Padahal, umumnya manusia mengonsumsi 2 ribu kalori per hari. Makanan favoritnya adalah menu-menu yang tinggi protein, seperti daging tanpa lemak, telur, dan sesekali mengonsumsi makanan cepat saji.

    “Tidak sedang menurunkan berat badan, jadi saya butuh sekitar 4 ribu kalori per hari untuk mengimbangi semua aktivitas,” katanya dalam sebuah unggahan media sosial Thread.

    Menu Makan Elon Musk

    Dibandingkan Zuckerberg dan Bezos, kebiasaan makanan Elon Musk ternyata tidak sesehat itu. Dalam unggahannya di X, pemilik Tesla ini bahkan mengaku suka makan donat setiap hari.

    Elon juga mengaku sering melewatkan sarapan. Ia hanya mengonsumsi cokelat bar atau kopi, jika memang tersedia.

    Makan siang biasanya diselipkan di sela-sela rapat, hanya sekitar 5 menit dengan menu apapun yang disediakan. Ia juga sangat menyukai daging sapi, pizza, minuman bersoda, hingga wine.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Cerita Diet Pria Turun 57 Kg, Begini Triknya yang Bisa Ditiru


    Jakarta

    Seorang pria asal Jerman yang tinggal di Shanghai, China bernama Thomas Derksen (36) menceritakan pengalamannya sukses menurunkan 57 kg berat badan menjadi 83 kg dalam 5 tahun. Ia mengaku berhasil menurunkan berat badannya tanpa obat dan tanpa diet ketat.

    Ia mengalami masalah berat badan sejak sekolah dasar. Ia sempat mencoba beberapa kali diet ketat dan berhasil turun, tapi akhirnya berat badannya justru naik lagi dan semakin parah. Bobot terberatnya pernah mencapai 140 kg.

    Semasa sekolah, ia sering diejek oleh teman-temannya dan Derksen menyebut itu pengalaman yang menyakitkan. Bahkan ketika sudah dewasa, dirinya masih sering menerima komentar dan saran yang tidak diminta untuk menurunkan berat badan.


    Sampai pada tahun 2020 di masa pandemi, isolasi mandiri membuatnya lebih banyak merenung soal berat badan dan kesehatan. Ini juga didorong komplikasi medis yang ia alami akibat berat badan berlebih.

    “Aku mulai menurunkan berat badan saat COVID melanda. Aku tahu harus menurunkan berat badan dan bahwa gaya hidupku tidak sehat. Aku punya masalah hati berlemak, nyeri dada, dan sendi yang sakit,” katas Derksen dikutip dari SCMP, Jumat (1/8/2025).

    Semenjak itu, Derksen jadi sering jalan-jalan, berolahraga, hingga pergi ke gym. Ia melakukan latihan kekuatan tiga kali seminggu dan kardio dua kali seminggu.

    Derksen juga selalu memilih jalan kaki jika pergi ke tempat yang jaraknya kurang dari 5 km. Menurutnya, jalan kaki adalah aktivitas fisik terbaik.

    Alih-alih diet ketat, Derksen justru makan 3-4 kali sehari tapi dengan porsi yang lebih kecil. Ia pernah mencoba intermittent fasting, tapi memutuskan berhenti karena menurutnya terlalu berat. Derksen bahkan bisa makan bebas seperti kentang dan hamburger sesekali.

    “Aku tidak pernah berkata pada diriku, ‘Kamu tidak boleh makan ini atau itu’. Sebaliknya, aku bilang, ‘Kamu boleh makan apa pun, tapi 80 persen waktunya harus makan sehat’. Pergeseran itu membuatku merasa jadi pelaku aktif, bukan pasif,” katanya.

    Dulu, ia menganggap makanan sebagai hiburan dan harus enak. Derksen kini lebih sering memasak sendiri dengan bahan sehat dan sederhana.

    Derksen tidak mempertimbangkan obat GLP-1 karena ia menyadari bahwa pola makannya selama ini bukan disebabkan oleh rasa lapar, melainkan oleh faktor emosional seperti stres atau kebosanan. Baginya, menekan nafsu makan saja tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan.

    (avk/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Pria Konsultasi Diet dengan ChatGPT, Bukannya Lebih Sehat Malah Keracunan


    Jakarta

    Seorang pria berusia 60 tahun dilarikan ke unit gawat darurat setelah mengikuti saran diet dari ChatGPT. Setelah tiga bulan konsisten mengubah pola makannya berdasarkan rekomendasi kecerdasan buatan, ia justru mengalami gejala masalah kejiwaan yang parah, termasuk halusinasi dan paranoia.

    Laporan kasus ini, yang dipublikasikan di jurnal Annals of Internal Medicine Clinical Cases, menyebutkan pria itu mengalami bromisme, yaitu sindrom keracunan akibat paparan berlebihan terhadap senyawa kimia bromida yang ia konsumsi.

    Semua berawal saat pria itu terinspirasi dari studi nutrisi di masa kuliahnya. Ia ingin menghilangkan klorida, senyawa penting yang ada di dalam garam (natrium klorida), dari pola makannya. Ia mengaku kesulitan menemukan literatur yang spesifik tentang pengurangan klorida.


    Pria itu kemudian memutuskan untuk berkonsultasi dengan ChatGPT yang memberikan saran fatal: klorida bisa ditukar dengan bromida. Tanpa ragu, ia mengganti semua natrium klorida dalam makanannya dengan natrium bromida yang ia beli secara daring.

    Untuk menguatkan temuan ini, dokter yang merawat pria tersebut mencoba bertanya kepada ChatGPT 3.5 tentang klorida yang bisa diganti, dan model AI itu memberikan respons yang menyertakan bromida.

    Diagnosis dokter

    Setelah tiga bulan mengonsumsi natrium bromida, pria itu datang ke UGD. Awalnya, hasil tes laboratorium menunjukkan kadar klorida yang tinggi, namun setelah diselidiki lebih lanjut, dokter mendiagnosisnya dengan ‘pseudohiperkloremia’, kondisi ketika senyawa bromida dalam jumlah besar mengganggu pengukuran klorida yang sebenarnya normal.

    Tanda-tanda keracunan bromida yang ia alami semakin jelas setelah dirawat. Ia menjadi paranoid terhadap air yang diberikan, mencoba melarikan diri, dan mulai mengalami halusinasi parah.

    Selain itu, muncul gejala fisik lain seperti jerawat di wajah, benjolan merah kecil di kulit, insomnia, kelelahan, dan masalah koordinasi otot.

    Baru setelah kondisinya membaik dengan cairan, elektrolit, dan antipsikotik, pria itu memberi tahu dokter tentang penggunaan ChatGPT. Setelah tiga minggu, ia diizinkan pulang dalam kondisi stabil.

    Kasus ini menjadi peringatan keras tentang bahaya mengandalkan kecerdasan buatan untuk saran medis atau kesehatan tanpa verifikasi dari tenaga profesional.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com