Tag Archives: kiamat

Cepatlah Beramal sebelum Datang 6 Perkara


Jakarta

Rasulullah SAW menyeru umatnya agar segera beramal sebelum datang enam perkara. Perkara yang dimaksud dalam hal ini adalah tanda-tanda kiamat.

Seruan tersebut termaktub dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA, sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir dalam Kitab al-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim. Rasulullah SAW bersabda, “Cepat-cepatlah kamu beramal sebelum terjadinya enam perkara.”

Lalu beliau sebutkan, antara lain terbitnya matahari dari barat, Dajjal, asap, dan binatang melata, sebagaimana tersebut di hadits lainnya.


Perkara yang menjadi tanda-tanda kiamat sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW turut diriwayatkan Abu Syarihah Hudzaifah bin Usaid RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَرَوُا عَشْرَ آيات طلوع الشمس من مغربها وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَالدَّابَّةَ وَثَلَاثَةَ حُسُوفٍ حَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَحَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَعَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرْبِ وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَدَ تَسُوق النَّاسَ أَو تَحْشُرُ النَّاسَ قَيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا وَتَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا

Artinya: “Kiamat takkan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda: terbitnya matahari dari barat, asap, binatang melata, keluarnya Ya’juj Ma’juj, turunnya Nabi Isa bin Maryam, Dajjal, tiga kali gempa, sekali di barat, sekali di timur dan sekali lagi di Jazirah Arab, keluarnya api dari suatu jurang di Aden yang menggiring manusia–atau mengumpulkan manusia. Api itu menginap bersama mereka di malam hari, dan tetap menyala menunggui tidur mereka di siang hari.”

Imam Muslim dalam Shahih-nya, Abu Dawud, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya pertanda yang pertama-tama muncul (menjelang kiamat) ialah terbitnya matahari dari barat dan munculnya binatang melata menemui manusia pada waktu dhuha. Mana saja dari keduanya yang lebih dulu terjadi, maka tidak lama sesudah itu yang lainnya pun terjadi.”

Ibnu Katsir menjelaskan, yang dimaksud pertanda kiamat dalam hadits-hadits di atas adalah pertanda yang tidak lumrah, yang berlawanan dengan kebiasaan yang dialami manusia selama ini. Seperti binatang melata yang bisa berbicara dan menandai mana orang kafir dan mukmin, serta terbitnya matahari dari barat, di mana lazimnya matahari terbit dari timur.

“Pada hadits ini terbitnya matahari dari barat dinyatakan sebelum keluarnya binatang melata. Itu mungkin saja terjadi dan barangkali lebih tepat. Dan Allah-lah yang lebih tahu,” terang Ibnu Katsir sebagaimana diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan.

Iman Tidak Berguna ketika 3 Perkara Ini Terjadi

Dalam hadits lain dikatakan, iman tidak akan berguna ketika telah datang tiga perkara. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW yang bersabda,

ثَلَاثٌ إِذَا خَرَجْنَ لَمْ يَنْفَعْ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَالدُّحَانُ وَدَابَّةُ الْأَرْضِ

Artinya: “Ada tiga kejadian yang apabila telah terjadi, maka iman seseorang tidak berguna lagi bagi dirinya, yang sebelumnya tidak beriman, atau (belum) melakukan kebaikan dalam masa imannya, yaitu: terbitnya matahari dari barat, munculnya asap, dan binatang melata dari dalam bumi.” (HR Ahmad)

Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits serupa dari Abu Hurairah RA, dengan redaksi berikut,

Artinya: “Kiamat takkan terjadi sebelum matahari terbit dari barat. Apabila matahari telah terbit dan manusia melihatnya, maka berimanlah mereka semua. Itulah saat iman seseorang tidak bermanfaat lagi bari dirinya.”

Wallahu a’lam.

Amal Saleh yang Bisa Dikerjakan

Ada banyak amal saleh yang bisa dikerjakan setiap muslim. Adapun, sebaik-baik amal saleh adalah yang menyangkut orang lain karena pahalanya akan berlipat ganda, sebagaimana diterangkan Iyadah bin Ayyub Al-Kubaisi dalam Al-arba’uunal muniiratu fil ajuuril Kabiirati ‘alal ‘amaalil yasiirati (edisi Indonesia: 40 Amalan Ringan Berpahala Besar).

Rasulullah SAW bersabda, “Mengasuh anak yatim untuk dirinya atau untuk yang lain maka aku dan dia seperti ini (Rasulullah mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersama-sama) di surga.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya. Maka barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, barang siapa yang menghilangkan kesulitan seorang muslim maka Allah akan menghilangkan baginya kesulitan-kesulitan pada hari kiamat, dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

(kri/nwk)



Sumber : www.detik.com

Diserahkannya Urusan Bukan pada Ahlinya



Jakarta

Kiamat adalah hari yang pasti akan terjadi dan sejumlah tandanya telah disebutkan dalam hadits. Salah satunya diserahkannya urusan bukan pada ahlinya.

Tanda kiamat ini termuat dalam Shahih Bukhari dari hadits Atha’ bin Yasar dari Abu Hurairah RA. Hadits ini turut dinukil Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim.

Diceritakan, seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kapan kiamat?” Beliau bersabda, “Jika amanah disia-siakan, tunggulah kehancurannya.” Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau bersabda, “Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari)


Menurut penjelasan dalam Al-Masih Al-Muntazhar wa Nihayah Al-Alam karya Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, urusan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah segala jenis urusan, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat. Pengarang kitab mencontohkan urusan tersebut antara lain peradilan, fatwa, pendidikan, administrasi, kepemimpinan, dan semua kepentingan umum.

Penyalahgunaan amanah ini, kata Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, merupakan tanda dekatnya hari kiamat.

“Hal ini menunjukkan dekatnya kiamat karena terdapat pengkhianatan terhadap pemimpin dan rakyat yang berimplikasi pada penyelewengan hak dan kemaslahatan serta kemarahan publik dan fitnah,” jelas Abdul Wahab Abdussalam Thawilah seperti diterjemahkan Subhanur.

Lebih lanjut dijelaskan, salah satu dampak dari penyerahan urusan kepada orang yang bukan ahlinya adalah hilangnya kepercayaan di tengah manusia. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ ، يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذِّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ قَالَ: السَّفِيْهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di saat itu orang yang berdusta dianggap jujur dan orang yang jujur dianggap berdusta, orang yang berkhianat dipercaya dan orang yang jujur dikhianati, serta ruwaidhah berbicara.” Beliau bertanya, “Apa itu ruwaidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan rakyat.” Redaksi lain menyebut, “Orang yang lemah akalnya berbicara tentang masalah orang-orang kebanyakan.”

Hadits tersebut termuat dalam Musnad Ahmad dan Mustadrak Al-Hakim dengan sanad shahih. Ibnu Majah turut meriwayatkannya. Hadits ini turut dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash Shaghir dan Silsilah Ash-Shahihah.

Berkaitan tentang amanah, ulama Mesir, Yusuf Al Qardhawi dalam kitabnya, Akhlaq Al-Islam, menyebutkan sebuah hadits bahwa kekuasaan adalah amanah yang wajib ditunaikan pada tempatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Abu Dzar RA tentang kekuasaan,

“Sesungguhnya ia adalah amanah. Sesungguhnya ia di hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya secara hak, lalu menunaikan apa yang ditanggungnya pada keduanya.” (HR Muslim)

Masih banyak hadits lain yang menyebutkan tentang tanda-tanda kiamat, selain diserahkannya urusan bukan pada ahlinya. Meski demikian, waktu datangnya kiamat merupakan rahasia Allah SWT sebagaimana Dia berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 63,

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا ٦٣

Artinya: “Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah.” Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.”

Dalam surah Al Hajj ayat 7, Allah SWT juga berfirman,

وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ ٧

Artinya: “Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”

Wallahu a’lam.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

7 Hadits tentang Umat Muslim di Akhir Zaman, Bagaimana Keadaannya?



Jakarta

Tanda akhir zaman mungkin sudah mulai muncul beberapa. Tentunya hal ini sudah seharusnya menjadi pengingat bahwa dunia ini hanya sementara. Dalam sebuah hadits dijelaskan mengenai gambaran akhir zaman, seperti apa?

Salah satu tanda hari kiamat yakni adanya fitnah akhir zaman. Tanda-tanda hari kiamat terbagi menjadi dua yaitu tanda-tanda kecil dan besar. Dikutip dalam buku Fikih Akhir Zaman karya Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto, Lc., M.A. Al Hafizh dijelaskan bahwa tanda-tanda kecil yang dimaksud adalah tanda-tannda yang terjadi setelah Rasulullah SAW wafat. Para ulama menyebutkan bahwa fitnah dimulai dengan terbunuhnya khalifah ke-2, Umar bi Khattab.

Sedangkan tanda-tanda besar hari kiamat adalah tanda-tanda yanng akan terjadi sanngat berdekatann dengan hari kiamat.


Hadits Tentang Umat Muslim di Akhir Zaman

1. Hilangnya Wibawa Umat Islam

Setiap umat memiliki masa kejayaan. Umat Islam berjaya ratusa tahun, menjadi umat yang disegani dalam banyak aspek oleh musuh-musuhnya sehingga datang zamanumat ini kehilangan wibawanya. Nabi bersabda:

Dari Tsauban berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja umat-umat menyerang kalian sebagaimana para pemakan menyerbu piringnya”. Maka ada seorang yang mengatakan, “Apakah karena jumlah kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Akan tetapi kalian ketika itu berjumlah banyak. Akan tetapi kalian seperti buih seperti buih-buih di air yang mengalir dengan deras. Dan sungguh Allah akan mencabut dari hati musuhmu rasa takut. Dan sungguh Allah akan melemparkan di dalam hatimu al-Wahn”. Maka ada seorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al-Wahn?” Rasulullah SAW menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian.” (HR Abu Dawud)

2. Terjadinya fitnah Dajjal

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai diutus para dajjal (kecil), para pendusta, jumlahnya hampir 30 orang, seluruhnya mengaku dirinya utusan Allah.” (HR Muslim dan lainnya)

3. Umat muslim akan menguasai Baitul Maqdis

Auf bin Malik berkata, “Aku mendatangi Nabi SAW. Dalam perang Tasbuk beliau sedang berada di dalam tenda dari kulit, beliau bersabda:

“Hitunglah enam perkara sebelum terjadinya hari kiamat, kematianku, kemudian penaklukan Baitul Maqdis, kematian yang menimpa kalian seperti penyakit domba yang mematikan, berlimpahnya harta sehinga seorang diberikan 100 Dinar, ia menjadi marah, fitnah yang terjadi dimana tidak ada satu rumah dari orang Arab kecuali dimasuki fitnah itu. Kemudian perjanjian damai antara kalian dan Bani Ashfar (orang Romawi), kemudian mereka melanggar perjanjian itu dan mendatangimu dengan membawa 80 bendera (untuk memerangimu). Pada setiap bendera ada dua belas ribu orang”. (HR Bukhari)

4. Banyak Muslim yang Murtad

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Segerakanlah beramal sebelum terjadinya fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di pagi hari seorang lelaki beriman, namun di sore harinya menjadi kafir. Atau di sore harinya ia beriman, esok paginya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan barang dunia.’ (HR Muslim)

5. Umat muslim akan kehilangan rasa malunya

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya tidak hancur umat ini sehingga (datang satu masa) seorang lelaki mendatangi perempuan kemudian ia menghamparkan kasur untuknya di jalanan (untuk berzina). Kemudian datang seorang pilihan/mulia dari kaum itu mengatakan: Wahai fulan andai engkau menyembunyikannya di balik tembok ini”. (HR Ahmad)

6. Umat Muslim Mengikuti Kebiasaan Pemeluk Agama Lain

Dari Abu Said al-Kudri dari Nabi SAW bersabda, “Kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa. Sehingga apabila mereka masuk lubang biawak kalian akan mengikutinya”. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Nabi menjawab, “Siapa lagi?” (HR Bukhari)

7. Menghalalkan Zina dan Khamar

Rasulullah SAW bersabda, “Akan muncul dari umatku beberapa kaum, mereka menghalalkan zina, sutra, khamar, dan alat-alat musik. Dan sungguh akan tinggal beberapa kaum di samping gunung, datang di sore hari kepada mereka penggembala ternaknya dengan hewan piaraannya – yaitu orang fakir – karena ada hajat. Mereka mengatakan: Kembalilah engkau besok hari, maka Allah menyiksa mereka, meletakkan gunung di atas mereka. Dan merubah yang lainnya menjadi kera-kera dan babi-babi sampai hari kiamat.” (HR Bukhari)

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Hadits Angin yang Membawa Roh Orang-orang Beriman Jelang Kiamat



Jakarta

Kiamat adalah peristiwa kehancuran alam semesta dan seisinya. Tanda-tanda kiamat sendiri disebutkan dalam sejumlah riwayat, salah satunya terkait angin lembut yang diutus untuk mencabut roh para mukmin.

Terkait hal ini diceritakan dalam Kitab Kasyf al-Minan fi ‘Alamat as-Sa’ah wa al-Malahim wa al-Fitan susunan Mahmud Rajab Hamady yang diterjemahkan oleh Ibnu Tirmidzi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah SWT akan mengirim dari arah Yaman, angin yang lebih halus dari sutra. Maka setiap orang yang di hatinya ada keimanan seberat sawi, rohnya akan dibawa oleh angin tersebut.” (HR Muslim)


Dalam hadits lainnya dijelaskan bahwa angin tersebut nantinya membawa roh orang-orang mukmin. Sementara itu, di dunia hanya tersisa manusia dengan perangai buruk, merekalah yang nanti akan merasakan mencekamnya hari kiamat.

Nabi SAW bersabda,

“…kemudian Allah SWT mengirimkan angin dingin dari arah Syam mencabut roh setiap orang yang berada di muka bumi yang memiliki iman walau sebiji sawi, sehingga sekalipun di antara kalian ada yang masuk ke dalam perut gunung, angin itu akan mengikutinya dan mengambil rohnya. Tinggallah di muka bumi manusia yang berperilaku jelek, bodoh seperti burung dan akalnya seperti binatang buas yang tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemunkaran.” (HR Muslim)

Berdasarkan pendapat Imam An-Nawawi, kemungkinan ada dua angin. Satunya berhembus dari Syam dan satunya dari Yaman.

Kemungkinan lainnya, angin tersebut mulai berhembus dari arah salah satu dari dua daerah tersebut lalu berakhir pada daerah yang lain dan dari sanalah angin menyebar. Pendapat tersebut didasarkan dari dua hadits yang menyebut perbedaan terkait dari mana angin itu berasal.

Melalui ‘Asyarah Yantazhiruhal ‘Aalam ‘Indal Muslimin wal Yahuud wan Nashaara susunan Mansur Abdul Hakim terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani dan Uniqu Attaqi, ada kemungkinan pengiriman angin tersebut akan terjadi setelah peristiwa diangkatnya Al-Qur’an dari hati manusia dan dari lembaran-lembaran mushaf.

Peristiwa angin lembut untuk membawa roh orang mukmin ini terjadi setelah berakhirnya masa kekuasaan Nabi Isa bin Maryam dan setelah keluarnya hewan melata. Keduanya adalah tanda-tanda menjelang datangnya kiamat yang disebutkan oleh sejumlah ulama dalam kitabnya, termasuk Imam Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim.

Pendapat lainnya yang menguatkan ialah yang menyebut pada masa keluarnya daabbah, manusia masih terbagi ke dalam dua kelompok, yakni mukmin dan kafir. Peristiwa tersebut menjadi tanda kecil kiamat yang terjadi setelah keluarnya hewan tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Inikah Tanda-tanda Kiamat yang Muncul di Makkah?



Jakarta

Pegunungan di Makkah, Arab Saudi tampak menghijau belakangan ini usai beberapa kali diguyur hujan. Ada sebuah hadits yang menyebut, menghijaunya tanah Saudi merupakan salah satu tanda kiamat.

Potret menghijaunya pegunungan di Makkah dibagikan oleh media yang berbasis di Makkah, Inside the Haramain (Haramain Sharifain) melalui media sosialnya pekan lalu.

“Pegunungan berubah jadi hijau di Makkah setelah turun hujan baru-baru ini,” tulis Haramain, seperti dilihat detikHikmah, Selasa (28/11/2023).


Sejumlah warganet turut mengomentari unggahan tersebut dan di antaranya mengatakan hal itu sebagai tanda kiamat.

Menurut penelusuran detikHikmah, ada sejumlah hadits yang menyebut menghijaunya tanah Arab Saudi merupakan salah satu tanda kiamat. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا

Artinya: “Hari kiamat tidak berlaku sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR Muslim)

Imam Muslim turut meriwayatkan hadits serupa dari Abu Hurairah RA dengan redaksi yang lebih panjang. Disebutkan, pada suatu ketika Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai.” (HR Muslim)

Hadits-hadits tersebut termuat dalam kitab Shahih Muslim dan kitab kumpulan hadits Misykat Al-Mashabih serta dinukil para ulama dalam kitab tentang kiamat. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar turut menukilnya dalam Al-Madkhal ila Dirasah Al-Akidah Al-Islamiyyah.

Ulama tafsir sekaligus ahli hadits Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah Fi Al-Fitan wa Al-Malahim juga menyampaikan riwayat serupa dari Sufyan ats-Tsauri, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda,

“Siang dan malam tidak akan hilang sampai tanah Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai sehingga Sungai Furat mengeluarkan gunung emas dan orang-orang berperang karenanya. Setiap seratus orang, tewas 99 orang dan satu orang selamat.” (HR Muslim)

Menurut penjelasan dalam Asyratus Sa’ah karya Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil sebagaimana diterjemahkan Atho’illah Umar, hadits menghijaunya tanah Arab dan dipenuhi sungai-sungai tersebut menunjukkan bahwa dulu tanah Arab adalah daerah yang membentang luas dan memiliki banyak sungai. Keadaan ini akan kembali ketika kiamat sudah dekat.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Nawawi li Muslim memaknai maksud “tanah Arab kembali terbentang luas dan dipenuhi sungai” sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim, bahwa mereka meninggalkan tanah Arab dan menjadikannya kosong serta tidak ada aktivitas pertanian di sana.

“Hal itu karena jumlah kaum laki semakin sedikit dan pula banyaknya peperangan dan fitnah yang terjadi, dan karena semakin dekatnya hari kiamat, dan kecilnya harapan dan cita-cita dan tidak ada waktu untuk mengurus tanah yang kosong itu,” jelas Imam an-Nawawi seperti diterjemahkan Atho’illah Umar.

Penerjemah sendiri mendebat pendapat Imam an-Nawawi saat mensyarah hadits tersebut. Ia berpendapat, hadits ini menunjukkan bahwa tanah Arab akan menjadi kaya air sehingga banyak sungai dan tumbuhlah tetumbuhan hingga menjadi taman dan hutan belantara.

Terlepas dari itu, menghijaunya tanah Arab merupakan satu dari sekian tanda kiamat. Beberapa tanda kiamat lain sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih adalah munculnya Dajjal, matahari terbit dari barat, keluarnya asap, hingga turunnya Nabi Isa AS.

Hudzaifah bin Usaid mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian melihat sepuluh tanda-tandanya: (1) terbitnya matahari dari barat, (2) asap, (3) binatang melata, (4) munculnya Ya’juj dan Ma’juj, (5) keluarnya Dajjal, (6) munculnya Isa bin Maryam, (7) tiga gerhana; gerhana di barat (8) gerhana di timur, (9) gerhana di Jazirah Arab, (10) api yang keluar dari dasar Aden yang menggiring manusia atau mengumpulkan manusia dan bersama mereka di mana saja berada.” (HR Muslim, Ahmad, dan lainnya. Ibnu Katsir mengatakan hadits ini shahih)

Beberapa tanda kiamat lain yang mungkin saat ini sudah terjadi adalah sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda,

“Di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu diangkat, kebodohan merebak, zina merajalela, meminum khamar, kaum lelaki banyak yang meninggal, sedangkan kaum wanita masih bertahan (atau bertambah) sehingga selisih antara perempuan dan lelaki lima puluh dibandingkan satu.” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Wallahu a’lam.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Tanah Arab Menghijau Disebut Jadi Tanda Kiamat, Ini Haditsnya



Jakarta

Islam meyakini datangnya hari kiamat meski hanya Allah SWT yang tahu waktu persisnya. Namun demikian, Rasulullah SAW telah menjelaskan sejumlah tanda-tanda dekatnya kiamat, salah satunya tanah Arab menghijau atau kembali subur.

Menghijaunya tanah Arab sebagai tanda kiamat ini dikatakan dalam hadits yang dikeluarkan Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا


Artinya: “Hari kiamat tidak berlaku sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR Muslim)

Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits serupa dengan redaksi lebih panjang bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai.” (HR Muslim)

Hadits-hadits tersebut termuat dalam kitab Shahih Muslim dan kitab kumpulan hadits Misykat Al-Mashabih serta dinukil para ulama dalam kitab tentang kiamat. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar turut menukilnya dalam Al-Madkhal ila Dirasah Al-Akidah Al-Islamiyyah dan diterjemahkan Muhammad Misbah.

Ulama ahli hadits dan sejarawan Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah Fi Al-Fitan wa Al-Malahim yang diterjemahkan Ali Nurdin juga menyampaikan hadits serupa dari Sufyan ats-Tsauri, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW yang bersabda,

“Siang dan malam tidak akan hilang sampai tanah Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai sehingga Sungai Furat mengeluarkan gunung emas dan orang-orang berperang karenanya. Setiap seratus orang, tewas 99 orang dan satu orang selamat.” (HR Muslim)

Menurut penjelasan dalam Asyratus Sa’ah karya Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil sebagaimana diterjemahkan Atho’illah Umar, hadits menghijaunya tanah Arab dan dipenuhi sungai-sungai sebagai salah satu tanda kiamat tersebut menunjukkan bahwa dulu tanah Arab adalah daerah yang membentang luas dan memiliki banyak sungai. Keadaan ini akan kembali ketika kiamat sudah dekat.

Tanah Arab berada dalam kondisi tandus dan gersang pada era Nabi Ibrahim AS. Dijelaskan dalam Ih Fadzillah Yahfadzka karya ‘Aidh Abdullah al-Qarny yang diterjemahkan Masrukhin, pada masa itu, tanah Arab yang dikenal dengan Jazirah Arab, adalah tanah yang gersang, tidak ada pohon, kebun maupun tanaman. Air dan tempat berteduh juga tak dijumpai di sana.

Kemudian, Nabi Ibrahim AS berdoa dengan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37.

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ ٣٧

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Tanah Arab masih tandus pada era Nabi Muhammad SAW, tepatnya saat Perang Tabuk. Hal ini diceritakan dalam riwayat yang dikeluarkan Imam Muslim melalui Muadz bin Jabal. Imam Muslim menyampaikan hadits ini dengan redaksi yang cukup panjang dan pada akhir hadits Rasulullah SAW bersabda,

“Wahai Muaz, jikalau umur kamu panjang, barangkali kamu akan melihat tempat ini dipenuhi kebun-kebun dan bangunan-bangunan.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam.

(kri/lus)



Sumber : www.detik.com

Orang yang Pertama Keluar dari Neraka lalu Masuk Surga



Jakarta

Ada penghuni neraka yang kelak dikeluarkan darinya untuk dimasukkan ke surga. Peristiwa ini disebut terjadi ketika Allah SWT telah selesai memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya.

Hal tersebut dijelaskan melalui sebuah hadits dalam Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah RA sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam kitab An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan.

Mulanya Abu Hurairah RA menceritakan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW terkait apakah bisa melihat Allah SWT pada hari kiamat. Rasulullah SAW kemudian menjawab bahwa manusia akan melihat Tuhannya dengan jelas.


Sahabat bertanya, “Ya Rasul Allah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita pada hari kiamat?”

Maka Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah kamu merasa samar ketika melihat bulan pada malam purnama?”

Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasul Allah.”

Rasulullah SAW kembali bertanya, “Apakah kamu merasa samar ketika melihat matahari yang tidak terhalang awan?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat-Nya dalam keadaan seperti itu.”

Rasulullah SAW lalu menceritakan peristiwa yang terjadi pada hari kiamat nanti. Dikatakan, Allah SWT akan mengumpulkan seluruh umat manusia lalu berfirman, “Barang siapa yang dulu menyembah sesuatu, maka ikutilah dia.”

Para penyembah matahari kemudian mengikuti matahari, para penyembah bulan kemudian mengikuti bulan, dan para penyembah berhala lainnya mengikuti berhalanya.

Lalu, tinggallah sekelompok umat yang termasuk orang-orang munafik. Allah SWT mendatangi mereka dalam wujud yang tidak mereka kenal seraya berfirman, “Aku Tuhanmu.”

Tetapi mereka menjawab, “Kami berlindung kepada Allah darimu. Biarlah kami tetap di sini, sampai Tuhan kami datang menemui kami. Jika Tuhan kami datang, kami pasti bisa mengenal-Nya.”

Maka Allah SWT pun datang dalam wujud yang mereka kenal seraya berfirman, “Akulah Tuhanmu.”

Mereka pun menjawab, “Engkaulah Tuhan kami.” dan mengikuti-Nya.

Setelah menceritakan hal itu, Rasulullah SAW kemudian menceritakan tentang shirath (jembatan) yang dibentangkan di antara dua pinggir neraka Jahannam. Orang yang pertama kali melewatinya adalah Rasulullah SAW dan umatnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Pada waktu itu tidak ada yang berbicara kecuali para Rasul dan doa yang selalu mereka ucapkan pada waktu itu adalah ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’!”

Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa dalam Jahannam muncul kait-kait seperti duri-duri pohon sa’dan. Kait-kait itu menyambar orang-orang sesuai amal mereka masing-masing. Oleh karena itu, ada manusia yang binasa karena perbuatannya dan ada yang berhasil melewatinya.

Setelah Allah SWT selesai memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya, Allah SWT hendak mengeluarkan beberapa orang penghuni neraka yang dikehendaki-Nya atas rahmat-Nya. Dia memerintahkan para malaikat mengeluarkan orang yang-orang yang dulu tidak menyekutukan Allah SWT, yang mendapat rahmat-Nya. Mereka ini adalah orang yang mengucapkan “La Ilaha Illallah.”

Para malaikat dapat mengenali orang yang dimaksud Allah SWT meskipun mereka berada dalam api. Dikatakan, malaikat mengenalnya dari adanya bekas sujud pada anggota tubuh mereka.

Demikianlah Allah SWT mengeluarkan penghuni neraka dalam keadaan hangus. Menurut sabda Rasulullah SAW, mereka disiram air kehidupan (Maa’ Al-Hayat) dan mereka pun tumbuh bagaikan biji-biji yang tumbuh di antara sampah-sampah yang terbawa arus.

Itulah golongan orang pertama yang keluar dari neraka lalu masuk surga atas rahmat-Nya. Mereka adalah orang-orang yang yang dulunya tidak menyekutukan Allah SWT.

Abu Hurairah RA menceritakan riwayat yang cukup panjang terkait orang yang dikeluarkan dari neraka ini. Keputusan ini berlangsung hingga tinggallah seorang lelaki yang wajahnya menghadap ke neraka. Dia adalah penghuni neraka yang paling akhir masuk surga.

Wallahu a’lam.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Di Mana Dajjal Berada Sekarang? Ini Penjelasan Hadits



Jakarta

Banyak hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa keberadaan Dajjal menjadi salah satu tanda datangnya kiamat. Sebuah hadits bahkan menjelaskan tentang keberadaan Dajjal.

Lahirnya Nabi Muhammad SAW menjadi tanda akhir zaman. Nabi Muhammad SAW menjadi nabi penutup sekaligus nabi terakhir yang diutus Allah SWT.

Diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad ra,


“Aku melihat Rasulullah SAW mengisyaraatkaan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan, seraya berkata: “Aku diutus sedangkan jarak antaaraku dan kiamat seperti dua jari ini.” (HR Bukhari)

Selain kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanda datangnya kiamat adalah hadirnya Dajjal. Seperti yang diriwayatkan oleh Samurah, bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya sewaktu terjadi gerhana matahari, “Demi Allah SWT! Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul 30 orang pendusta, yang diakhiri oleh pendusta bermata satu (Dajjal).” (HR Ahmad)

Di Mana Dajjal Berada?

Mengenai keberadaan Dajjal saat ini, dinukil dari buku Kiamat: Tanda-tandanya Menurut Islam, Kristen, dan Yahudi oleh Manshur Abdul Hakim, Nabi SAW pernah menyebut bahwa makhluk itu berlokasi di suatu pulau, sekitar Laut Yaman.

Kabar tentang tempat berdiam dirinya Dajjal ini diketahui dalam sebuah hadits dari Fatimah binti Qais, yang menceritakan bahwa seorang sahabat nabi yakni Tamim Ad-Dari pernah bertemu Dajjal dan Al-Jassasah pada masa Rasulullah.

Ketika itu, Dajjal sedang dibelenggu kedua tangan hingga lehernya, sementara kedua lutut sampai mata kakinya terikat dengan rantai besi.

Hadits mengenai Tamim Ad-Dari ini dikenal oleh kalangan ulama dengan sebutan ‘hadits al-Jasaasah’. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyraath us-Saa’ah, Bab ‘Ibnu Shayyaad’.

“Dari ‘Amir bin Syarahil bahwa dia bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudari Adh-Dhahhak bin Qais, wanita itu termasuk orang yang berhijrah pertama kali. Fathimah berkata,

“Aku mendengar suatu seruan untuk menunaikan sholat berjamaah. Kemudian aku berangkat ke masjid untuk mendirikan sholat bersama Rasulullah. Aku berada di barisan kaum wanita yang letaknya di belakang kaum laki-laki. Seusai sholat, Rasulullah duduk di mimbar sambil tertawa, lalu bersabda:

“Setiap orang hendaknya diam di tempatnya masing-masing. Tahukah kalian, mengapa aku mengumpulkan kalian sekarang?”

Kaum muslim kala itu menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.’

“Aku bukan mengumpulkan kalian karena untuk memotivasi atau memberi peringatan. Aku mengumpulkan kalian karena Tamiim Ad-Daari, yang dulunya merupakan seorang penganut Nasrani, datang ke sini dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sesuatu yang pernah aku sampaikan kepada kalian mengenai al-Masih ad-Dajjal.”

Nabi SAW melanjutkan, “Dia bercerita bahwa dirinya bersama 30 orang dari suku Lakhm dan Jadzam, berlayar dengan sebuah kapal. Mereka dipermainkan ombak besar selama satu bulan di tengah laut . Kemudian mereka berlabuh ke sebuah pulau di tengah laut, hingga matahari tenggelam.”

Lanjut Rasulullah, “Mereka duduk-duduk di dekat kapal, kemudian memasuki pulau itu. Mereka bertemu seekor binatang besar yang berbulu lebat, sedemikian lebatnya bulu hewan tersebut sehingga mereka tidak dapat membedakan mana bagian depan dan mana yang belakang. Mereka bertanya, ‘Siapa kamu?’

Binatang itu menjawab, ‘Aku adalah al-Jassaasah (mata-mata).’

Mereka bertanya, ‘Apakah al-Jassaasah itu?’

Dia menjawab, ‘Wahai orang-orang. Temuilah orang yang ada di dalam gua itu, sebab dia sangat menanti-nantikan berita dari kalian.’

Tamim berujar, ‘Ketika binatang itu menyebut keberadaan seseorang, kami khawatir, jangan-jangan binatang tersebut adalah setan. Kami pun cepat-cepat pergi memasuki gua. Dan ternyata di dalamnya kami lihat ada seorang manusia bertubuh sangat besar, merupakan pria terbesar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Tangannya terbelenggu ke lehernya. Kedua kakinya juga terikat dengan besi.’

Mereka lalu bertanya, ‘Apa sebenarnya kamu ini?’

Dia menjawab, ‘Kalian telah mendapat kabar tentang aku. Siapa kalian ini?’

Mereka menjawab: ‘Kami adalah bangsa Arab. Kami berlayar dengan kapal. Kami dipermainkan ombak yang sangat besar selama sebulan. Lalu kami berlabuh ke pulaumu ini. Kami duduk-duduk tidak jauh dari kapal kami. Lalu kami memasuki pulau dan bertemu seekor hewan yang berbulu sangat lebat, dan dia menyuruh kami untuk mendatangi istana ini karena orang yang di dalamnya sangat ingin mendengar berita dari kami. Kami segera menemuimu di sini, padahal kami tidak tahu apakah kamu setan atau bukan.’

Lelaki tersebut bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang Nukhail Bisan (sebuah kampung di Syam, tepatnya Palestina, sebelah sungai Thabriyah).’

Kami bertanya, “Apanya yang kamu tanyakan?’

Dia kembali bertanya, ‘Aku bertanya tentang kurmanya, apakah berbuah?’

Kami jawab, ‘Ya, masih berbuah.’

Dia berkata, ‘Ketahuilah, kurma di sana nanti tidak berbuah.’

Dia berkata lagi, ‘Lalu bagaimana keadaan Danau Thabariyyah?’

Kami balik bertanya,’Apanya yang ingin kamu ketahui?’

Pria itu bertanya,’Apakah danau itu ada airnya?’

Kami menjawab, ‘Ya, airnya berlimpah.’

Dia berkata, ‘Air danau itu nanti akan habis.’

Lelaki itu bertanya, ‘Lalu bagaimana dengan mata air Zughar?’

Kami bertanya, ‘Apanya yang kamu tanyakan?’

Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut memancarkan air? Dan apakah penduduk disana bercocok tanam dengan memanfaatkan air dari mata air itu?’

Kami menjawab, ‘Ya. Airnya banyak, dan penduduk di sana bercocok tanam dengan airnya.’

Dia bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apa yang dilakukan oleh nabi yang diutus kepada bangsa yang buta huruf (bangsa Arab)?’

Kami menjawab, ‘Dia telah keluar dari Mekah, dan tinggal di Yatsrib.’

Pria itu bertanya, ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’

Kami menjawab, ‘Ya.’

Tanya dia kembali, ‘Bagaimana dia melawan mereka?”

Kami menjawab, ‘Dia telah menang atas orang-orang Arab, dan sekarang mereka tunduk, taat kepadanya.’

Dia berkata, ‘Begitukah?’

Kami berkata, ‘Ya, memang begitu.’

Dia berkata, ‘Ketahuilah, memang lebih baik mereka menaatinya.’

Lelaki itu melanjutkan, ‘Sekarang aku beri tahu kalian tentang diriku. Aku adalah al-Masih. Telah hampir tiba waktunya aku diizinkan keluar. Kalau aku telah keluar, aku menjelajahi bumi, tidak satu pun perkampungan yang tidak aku singgahi selama empat puluh hari, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Kedua kota itu diharamkan bagiku memasukinya. Setiap kali aku mau memasuki keduanya, aku dihadang malaikat yang memegang pedang terhunus, menghalangiku memasukinya. Di setiap jalan dari kedua kota itu terdapat malaikat yang menjaganya.’

Fatimah berkata, ‘Sambil menekan tongkatnya pada mimbar, Rasulullah bersabda, “Ini (yakni Madinah) adalah Thayyibah. Ini adalah Thayyibah. Bukankah sebelumnya aku telah menyampaikan hal itu kepada kalian?”

Orang-orang muslim pada saat itu menjawab, ‘Benar!’

Beliau melanjutkan sabdanya:

فَإِنَّهُ أَعْجَبَنِي حَدِيثُ تَمِيمٍ أَنَّهُ وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أَحَدِتْكُمْ عَنْهُ وَعَنِ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ أَلا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّامِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ

Artinya: “Cerita Tamim sangat menakjubkan hatiku, sangat sesuai dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah, dia (Dajjal) ada di Laut Syam atau Laut Yaman. Tidak, melainkan dari arah timur. Dia dari arah timur, dari arah timur.”

Fatimah binti Qais berkata, ‘Aku hafalkan ini dari Rasulullah sendiri.’ (HR Muslim)

Hadits Tentang Fitnah yang Akan Menimpa Umat Islam

Merangkum buku Tanda-tanda Kiamat karya Mahmud Rajab disebutkan beberapa hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang fitnah serta ujian bagi umat Islam. Ujian ini bahkan dijelaskan asalnya.

Diriwayatkan dari Usamah ibn Zaid, Rasulullah SAW melepas pandangan ke dataran tinggi pinggiran Madinah, kemudian beliau bersabda, “Sungguh aku melihat tempat terjadinya fitnah dari sela-sela rumah kalian seperti turunnya hujan.” (HR Bukhari Muslim)

Imam Nawawi mengatakan, “Perumpamaan dengan tempat turunnya hujan menunjukkan fitnah itu akan menimpa setiap kaum muslimin, bukan hanya satu golongan saja. Ini isyarat akan terjadinya pertempuran di antara sesama muslim seperti perang Jamal dan Shiffin.”

Diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Fitnah akan muncul dari sini (beliau menunjukkan arah timur, arah munculnya dua tanduk syaitan) dan kalian akan saling membunuh. Sesungguhnya Musa membunuh keluarga Fir’aun karena tidak sengaja.” (HR Muslim)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah! berkahilah negeri Syam dan Yaman” (2x), lalu seorang sahabat berkata: “Daerah Timur, ya Rasulullah!”, Rasulullah SAW bersabda, “Dari sana munculnya tanduk syaitan dan dari sana timbulnya 9/10 kejahatan.” (HR Ahmad)

Di riwayat lain, sahabat berkata: “Daerah Irak, ya Rasulullah!”, Rasulullah SAW bersabda, “Dari sana sumber goncangan dan munculnya tanduk syaitan.”

Wallaahu alam.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

5 Hadits tentang Hari Kiamat, Muslim Sudah Tahu?


Jakarta

Kiamat merupakan peristiwa besar di mana seluruh alam semesta akan mengalami kehancuran. Mempercayai adanya kiamat termasuk ke dalam rukun iman kelima.

Tidak ada yang tahu pasti terkait kapan hari akhir ini tiba. Meski demikian, dalam sejumlah ayat Al-Qur’an disebutkan mengenai tanda-tandanya, salah satunya pada surah Al Qamar ayat 1-2.

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ ١


وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ ٢

Artinya: “Hari Kiamat makin dekat dan bulan terbelah. Jika mereka (kaum musyrik Mekkah) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”

Menukil buku Fikih Akhir Zaman oleh Dr KH Rachmat Morado Sugiarto Lc M A Al Hafizh, tanda kiamat terbagi menjadi dua yaitu kecil dan besar. Tanda-tanda kiamat kecil muncul setelah Nabi SAW wafat. Sementara itu, tanda-tanda kiamat besar adalah tanda yang akan terjadi berdekatan dengan hari kiamat.

Hadits tentang Hari Kiamat

Berikut sejumlah hadits yang menjelaskan terkait hari kiamat sebagaimana dinukil dari buku Tanda-Tanda Kiamat tulisan Mahmud Rajab Hamady.

1. Kemunculan Dajjal sebagai Tanda Kiamat

Rasulullah SAW bersabda,

وَاللهِ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتّى يَخْرُجَ ثَلاثُونَ كَذَّابًا آخِرُهُمُ الأَعْوَرُ الدَّجَّالُ

Artinya: “Demi Allah SWT! Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul 20 orang pendusta, yang diakhiri oleh pendusta bermata satu (Dajjal).” (HR Ahmad)

2. Rasulullah SAW Diutus di Akhir Zaman

Diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad RA,

رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِإِصْبَعَيْهِ هَكَذَا بِالْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ، بُعِثْتُ وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

Artinya: “Aku melihat Rasulullah SAW mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari Tengah yang dirapatkan, seraya berkata: ‘Aku diutus sedangkan jarak antaraku dan kiamat seperti dua jari ini.'” (HR Bukhari)

3. Banyak Orang Mengaku Utusan Allah SWT

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاثِينَ كلهُمْ يَزْعَمُأَنَّهُ رَسُوْلُ الله

Artinya: “Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul para pendusta. Jumlah mereka kurang lebih 30 orang dan seluruhnya mendakwakan diri bahwa mereka adalah Rasulullah (utusan Allah).” (HR Bukhari)

4. Tanda Kiamat Peperangan Dua Kelompok

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتلَ فَئَتَان تَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ

دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ

Artinya: “Hari Kiamat tidak akan terjadi, hingga dua kelompok berperang. Pembunuhan besar-besaran akan berlangsung dan mereka berperang dengan tuntutan yang sama.” (HR Bukhari Muslim)

5. Waktu Terasa Cepat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Kiamat tidak akan terjadi hingga waktu terasa berjalan cepat; setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari dan sehari seperti sesaat, seperti cepatnya pelepah kurma yang kering terbakar.” (HR Tirmidzi)

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Kiamat Bakal Terjadi saat Manusia Abai, Ini Haditsnya



Jakarta

Rasulullah SAW telah menyampaikan sejumlah isyarat datangnya kiamat kepada para sahabat. Beliau pernah bersabda kiamat akan terjadi saat manusia abai.

Isyarat datangnya kiamat ini termuat dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah RA. Hadits ini dinukil Ibnu Katsir dalam kitab An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan.

Redaksi hadits ini cukup panjang. Di dalamnya memuat isyarat bakal munculnya banyak Dajjal sebelum kiamat hingga kiamat akan terjadi tiba-tiba saat manusia mengabaikan kedatangannya.


Rasulullah SAW bersabda,

“Takkan terjadi kiamat hingga ada dua pasukan besar berperang. Pertempuran terjadi di antara keduanya demikian sengitnya, padahal pengakuan masing-masing sama. Dan (takkan terjadi kiamat) sebelum dibangkitkannya dajjal-dajjal pendusta, hampir ada 30 orang jumlahnya, masing-masing mengaku dirinya utusan Allah.

Dan (takkan terjadi kiamat) sebelum dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa bumi, waktu berlalu cepat, huru-hara merajalela dan banyak terjadi kerusuhan, yaitu pembunuhan. Dan (takkan terjadi kiamat) sebelum harta kalian melimpah-ruah, sehingga membuat pusing pemilik harta karena kesulitan mencari siapa yang akan menerima sedekahnya. Sampai-sampai dia menawarkannya, maka orang yang ditawari berkata, ‘Aku tidak membutuhkannya’.

Dan (takkan terjadi kiamat) sebelum manusia berlomba membangun gedung-gedung tinggi. Dan (takkan terjadi kiamat) sebelum seseorang melewati kuburan orang lain, lalu dia berkata, ‘Andaikan aku menggantikan tempatnya’.

Dan (takkan terjadi kiamat) sebelum matahari terbit dari barat. Apabila matahari telah terbit disaksikan manusia, mereka semua beriman, tetapi pada saat itu tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya yang sebelumnya tidak beriman ataupun berbuat baik selagi telah beriman.

Dan sesungguhnya kiamat benar-benar terjadi di kala dua orang lelaki sudah merentangkan kain di antara keduanya, namun belum sempat berjual-beli ataupun melipatnya. Dan sesungguhnya kiamat benar-benar terjadi di kala seorang lelaki pulang dengan membawa susu untanya, tetapi belum sempat mencicipinya.

Dan sesungguhnya kiamat benar-benar terjadi di kala seseorang sedang melepa kolamnya, namun belum sempat mengisi air ke dalamnya. Dan sesungguhnya kiamat benar-benar terjadi di kala seseorang sudah mengangkat makanan ke mulutnya, tetapi belum sempat memakannya.”

Terkait sabda Rasulullah SAW tersebut, Ibnu Katsir tidak menjelaskan maksudnya. Namun, ia memberikan judul pada hadits tersebut bahwa kiamat terjadi saat manusia mengabaikannya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Daa Wa Ad-Dawaa yang diterjemahkan Fauzi Bahreisy mengatakan, maksiat membuat seseorang lupa diri. Orang yang mengabaikan dirinya sendiri akan mendapat hukuman besar.

Kata Ibnu Qayyim, orang yang memperhatikan hal ini akan mengetahui bahwa mayoritas dari mereka benar-benar lupa diri dan mereka mengabaikan bagian mereka yang telah Allah SWT sediakan untuknya. Kesadaran ini akan tampak saat datangnya kiamat, yakni saat manusia menyadari bahwa dirinya telah tertipu oleh nafsunya.

Tidak ada yang tahu kapan waktu tersebut akan tiba. Namun, datangnya kiamat adalah suatu kepastian, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Hajj ayat 7,

وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ ٧

Artinya: “Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”

Allah SWT juga berfirman dalam surah Al A’raf ayat 187,

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ١٨٧

Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Wallahu a’lam.

(kri/rah)



Sumber : www.detik.com