Tag: kiblat

  • Bolehkah Posisi Toilet di Rumah Menghadap Kiblat? Ini Jawabannya



    Jakarta

    Keberadaan toilet di dalam rumah merupakan suatu hal yang vital. Sebab, keberadaannya memudahkan penghuni rumah untuk kegiatannya seperti buang air besar maupun buang air kecil.

    Ternyata, penempatan toilet ada tata caranya. Disebutkan bahwa sebaiknya posisi toilet sebagai tempat buang hajat tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

    “Apabila engkau ke WC, janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kencing atau buang air besar.” (HR. Muslim).


    Apabila seseorang tidak punya pilihan selain menggunakan toilet dan dalam prosesnya menghadap atau memunggungi kiblat, sebaiknya posisi badan agak sedikit menyimpang agar tidak benar-benar menghadap atau membelakangi kiblat.

    Sementara itu, dilansir dari islamcity.org, disebutkan bahwa mayoritas ulama menilai kasus-kasus tersebut berlaku di area yang tidak memiliki dinding atau sekat tetap. Apabila ada tembok, maka toilet menghadap atau membelakangi kiblat diperbolehkan ketika menjawab ‘panggilan alam’.

    Dikutip dari jatim.nu.or.id, terkait kamar mandi di rumah yang toiletnya menghadap atau membelakangi kiblat disebutkan bahwa hal itu tidak masalah. Sebab, dalam bangunan kamar mandi dikelilingi tembok dan bangunan sehingga boleh toilet menghadap atau membelakangi kiblat.

    Imam An-Nawawi pentarjih utama dalam Mazhab Syafi’i menguraikan panjang lebar khilafiyah dalam permasalahan ini. Disampaikan:

    ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻊ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﺣﺮاﻡ ﻓﻲ اﻟﺼﺤﺮاء ﺟﺎﺋﺰ ﻓﻲ اﻟﺒﻨﻴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺳﺒﻖ ﻭﻫﺬا ﻗﻮﻝ اﻟﻌﺒﺎﺱ اﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻤﻄﻠﺐ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻭاﻟﺸﻌﺒﻲ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ﻭﺭﻭاﻳﺔ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ

    Artinya: Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa kencing menghadap kiblat adalah haram saat di tanah lapang dan boleh di dalam bangunan (kamar mandi, toilet). Ini adalah pendapat Abbas bin Abdul Muthalib, Ibnu Umar, Syu’bi, Malik, Ishaq dan satu riwayat Ahmad(Al-Majmu’ 2/81-82)

    Adapun, tempat toilet disarankan berukuran cukup luas agar penggunanya tidak bersentuhan dengan kotoran. Selain itu, tersedia air yang cukup, sebaiknya air mengalir, untuk membersihkan tubuh dan tempat.

    Meskipun membangun toilet dengan arah menuju atau membelakangi kiblat bukanlah sebuah dosa, sebaiknya jika ingin membangun toilet haruslah membuatnya dengan mengarah di sisi lain kiblat dan bukannya mengarah atau membelakanginya.

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Menentukan Arah Kiblat di Rumah


    Jakarta

    Menempati rumah baru selalu membawa kesan tersendiri bagi pemiliknya. Salah satu pengalaman yang umumnya dialami adalah menentukan arah kiblat saat pertama kali menghuni rumah.

    Ini penting, khususnya bagi umat muslim kaena ada perintah menghadap kiblat ketika sholat yang salah satunya disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Khallad bin Rafi’, Rasulullah SAW bersabda:

    إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القبلة


    Yang atinya: “Jika kamu hendak shalat sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah ke arah kiblat.” (HR. Muslim).

    Lalu bagaimana cara menentukan arah kiblat di rumah ya?

    Informasi yang dirangkum dari detikHikmah, disebutkan, ada 4 cara sederhana menentukan arah kiblat di Rumah hanya bermodalkan telpon pintar.

    1. Menggunakan Kompas

    Cara lain untuk menentukan arah kiblat bisa dilakukan menggunakan kompas. Saat ini, kompas juga tersedia di HP dalam bentuk aplikasi.

    Sebelumnya, perlu diketahui arah kiblat di Indonesia berkisar antara 290 dan 295 derajat, tergantung letak lokasi setiap daerah. Adapun cara menentukan arah kiblat menggunakan kompas dalam bentuk aplikasi yang ada di smartphone, yaitu sebagai berikut:

    • Pastikan fitur lokasi kompas (GPS) aktif dan akurat.
    • Buka aplikasi Kompas atau Compass.
    • Arahkan smartphone ke arah manapun untuk mengetahui letak arah mata angin.
    • Atur posisi sampai jarum berhenti bergerak dan menunjuk ke arah antara 290 hingga 295 derajat.

    2. Melalui Google Maps

    Cara menentukan arah kiblat menggunakan handphone bisa dilakukan melalui Google Maps. Layanan dari Google ini telah memakai sistem Global Positioning System (GPS) yang mampu mengidentifikasi lokasi secara akurat berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai satelit. Adapun langkah menggunakannya, yaitu sebagai berikut:

    • Buka aplikasi Google Maps pada browser atau aplikasi, bisa menggunakan handphone maupun laptop.
    • Ubah tampilan peta Google Maps ke mode satelit dengan klik kotak satelit yang terdapat pada pojok kiri bawah.
    • Ketik “Kakbah, Makkah Arab Saudi” atau dalam bahasa inggris “Kaaba, Mecca Saudi Arabia” pada kotak telusuri yang ada pada menu Google Maps, lalu tekan enter atau oke.
    • Pusatkan titik tepat di atas Kakbah. Selanjutnya, klik kanan dan pilih ukur jarak (measure distance).
    • Cari posisi atau lokasi yang akan diketahui arah kiblatnya dengan menuliskan pada kolom lokasi.
    • Terakhir, klik kiri lokasi yang akan ditentukan. Setelah itu, Google Maps akan menampilkan garis yang menunjukkan arah kiblat.

    3. Menggunakan Aplikasi Penunjuk Kiblat

    Cara menentukan arah kiblat juga dapat menggunakan bantuan aplikasi penunjuk kiblat yang bisa diunduh melalui App Store atau Play Store pada ponsel. Beberapa aplikasi yang bisa dipakai antara lain Qibla Compass, Arah Kiblat, Qibla Finder, dan Qibla Connect.

    Langkah-langkahnya cukup dengan mengunduh salah satu aplikasi tersebut, lalu buka dan ikuti langkah yang tertera pada tampilan ponsel Selanjutnya, aplikasi tersebut akan menampilkan arah kiblat yang tepat untuk sholat.

    4. Pencarian Online Melalui Situs Google Qibla Finder

    Google juga telah menyediakan fitur Qibla Finder untuk menentukan arah kiblat dengan mudah. Cara menggunakannya, yaitu:

    • Buka browser pada ponsel
    • Selanjutnya buka laman https://qiblafinder.withgoogle.com
    • Klik tombol ‘mulai’ untuk menemukan arah kiblat pada posisi kamu

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Panduan Desain Rumah Sesuai Arah Kiblat


    Jakarta

    Kiblat merupakan arah yang suci bagi umat Islam karena menghadap ke Ka’bah yang dijadikan patokan ketika beribadah. Hal ini yang membuat arah kiblat mesti dihormati serta diperhitungkan dalam kehidupan seorang muslim.

    Melansir dari laman SeekersGuidance, sebagaimana adanya adab terhadap Al-Qur’an, ternyata muslim juga perlu menjaga adab terhadap kiblat. Untuk itu, muslim dianjurkan untuk mempertimbangkan arah kiblat bahkan ketika mendesain rumah.

    Hal ini turut menentukan arah dan letak kamar mandi, tempat tidur, serta berbagai elemen rumah lainnya. Berikut ini beberapa cara mendesain rumah sesuai arah kiblat.


    Kamar Mandi

    Dalam Kitab Al Umm Imam Syafi’i mengatakan, “Abu Ayyub mengetahui larangan tersebut dan dia melihatnya sebagai larangan yang bersifat mutlak. Ibnu Umar mengetahui menghadapnya Rasulullah SAW ketika buang hajat ke Baitul Muqaddas, dan dia tidak mengetahui larangan beliau.”

    Larangan menghadap kiblat saat buang hajat ini juga disebutkan dalam Kitab al-Muwatha’ karya Imam Malik, yaitu menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi dari seorang laki-laki dari Anshar, bahwa Rasulullah SAW melarang menghadap kiblat bagi orang yang buang air besar atau kecil.

    Oleh karena, muslim dianjurkan membangun kamar mandi dengan tempat mandi dan kloset WC yang tegak lurus dengan arah kiblat. Sebaliknya, wastafel untuk wudhu sebaiknya diposisikan menghadap kiblat.

    Kamar Tidur

    Selain itu, kamar tidur sebaiknya didesain kamar agar tempat tidur dapat diletakkan tegak lurus dengan arah kiblat. Tempat tidur sebaiknya diposisikan sedemikian rupa, sehingga orang yang tidur miring ke kanan menghadap kiblat.

    “Jika engkau hendak menuju tempat tidurmu (untuk tidur), maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu (bagian tubuhmu) sebelah kanan” (HR al-Bukhari dan Muslim).”

    “Rasulullah memerintahkan ‘Aisyah untuk menyiapkan tempat tidurnya. Tempat tidurnya pun disiapkan, lalu Rasulullah menghadap kiblat. Dan apabila beliau merebahkan diri di atasnya, beliau jadikan telapak tangan kanannya sebagai bantal.” (HR Abu Ya’la)

    Sedangkan Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Maraqi al-‘Ubudiyah menjelaskan terkait hadits tersebut bahwa jika hendak tidur. Maka gelarlah tempat tidur dengan menghadap kiblat dengan bertumpu pada bagian kanan dengan menghadapkan wajah dan bagian depan tubuh pada arah kiblat.

    Musala

    Lalu, bila hendak membuat musala, maka semua penataan tempat duduk dan sajadah sebaiknya disesuaikan ke arah kiblat. Hal itu untuk memastikan orang-orang menghadap kiblat tidak hanya ketika mereka sedang salat, tetapi juga buat ibadah lainnya seperti berdzikir, berdoa, atau membaca Al-Qur’an.

    Dengan niat yang benar, mendesain rumah sesuai arah kiblat dapat menambah berkah dari Allah SWT. Semoga bermanfaat!

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Anjuran Posisi WC di Rumah dalam Islam, Benarkah Tak Boleh Hadap Kiblat?



    Jakarta

    Ajaran Islam mengatur cara hidup umatnya, termasuk soal buang hajat. Posisi WC di rumah pun ada anjurannya menurut ajaran Islam.

    Disebutkan bahwa sebaiknya WC tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    “Apabila engkau ke WC, janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kencing atau buang air besar.” (HR. Muslim).


    Jika seseorang tidak punya pilihan selain menggunakan WC yang menghadap atau memunggungi kiblat, sebaiknya posisi badan agak sedikit menyamping. Dengan begitu, posisi tubuh saat buang air tidak benar-benar menghadap atau membelakangi kiblat.

    Sementara itu, mayoritas ulama menilai kasus-kasus tersebut berlaku di area yang tidak memiliki dinding atau sekat tetap, dilansir dari islamcity.org. Selama ada tembok, WC yang menghadap atau membelakangi kiblat diperbolehkan ketika buang air besar maupun kecil.

    Dikutip dari jatim.nu.or.id, tidak masalah memiliki kamar mandi yang WC-nya menghadap atau membelakangi kiblat. Pasalnya, kamar mandi dikelilingi tembok dan bangunan, sehingga WC boleh menghadap atau membelakangi kiblat.

    Imam An-Nawawi pentarjih utama dalam Mazhab Syafi’i menguraikan panjang lebar khilafiyah dalam permasalahan ini. Disampaikan:

    ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻊ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﺣﺮاﻡ ﻓﻲ اﻟﺼﺤﺮاء ﺟﺎﺋﺰ ﻓﻲ اﻟﺒﻨﻴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺳﺒﻖ ﻭﻫﺬا ﻗﻮﻝ اﻟﻌﺒﺎﺱ اﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻤﻄﻠﺐ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻭاﻟﺸﻌﺒﻲ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ﻭﺭﻭاﻳﺔ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ

    Artinya: Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa kencing menghadap kiblat adalah haram saat di tanah lapang dan boleh di dalam bangunan (kamar mandi, toilet). Ini adalah pendapat Abbas bin Abdul Muthalib, Ibnu Umar, Syu’bi, Malik, Ishaq dan satu riwayat Ahmad (Al-Majmu’ 2/81-82)

    Selain itu, tempat WC disarankan agar berukuran cukup luas, sehingga penggunanya tidak bersentuhan dengan kotoran. Lalu, tersedia air yang cukup dan air mengalir untuk membersihkan tubuh serta WC.

    Walaupun posisi WC yang menghadap atau membelakangi kiblat bukanlah dosa, ada baiknya memasang WC mengarah ke sisi lain saja.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Panduan Menata Kamar Tidur Sesuai Ajaran Islam, Simak Anjurannya!



    Jakarta

    Kamar tidur merupakan salah satu ruangan penting dalam sebuah rumah. Ruangan ini digunakan untuk penghuninya beristirahat. Oleh karena itu kamar tidur perlu dibuat senyaman mungkin.

    Bagi umat muslim, sebenarnya ada anjuran dalam menata kamar tidur. Seperti misalnya meletakkan kasur menghadap ke arah kiblat.

    Nabi Muhammad SAW juga menyarankan posisi tidur sebaiknya tubuh menghadap ke arah kanan dan kaki menghadap berlawanan dari kiblat.


    “Jika engkau hendak menuju tempat tidurmu (untuk tidur), maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu (bagian tubuhmu) sebelah kanan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Posisi geografis Indonesia yang berada di bagian timur Ka`bah atau Mekah, maka arah kiblat Salat menghadap ke arah barat. Namun, bukan berarti tempat tidur dihadapkan ke arah barat, melainkan arahkan tempat tidur ke arah sebaliknya agar kaki tidak menghadap kiblat.

    Posisi tempat tidur yang baik menurut Islam pertama adalah dengan mengarah ke selatan. Jangan letakkan posisi tempat tidur tepat menghadap pintu kamar yang langsung mengarah ke ruang tamu atau ruang keluarga.

    Kriteria kamar tidur lainnya menurut Islam adalah tidak boleh memiliki perabotan yang terlalu mewah dan nyaman yang dapat menyebabkan tidur berlebihan dan membuat penghuninya menjadi malas.

    “Keadaan kamar tidur di rumah (umat) Muslim dan perabotannya harus mendorong dan memfasilitasi tradisi Islam untuk tidur lebih awal dan bangun lebih awal dalam keadaan segar dan segar untuk salat Subuh, dan bahkan lebih awal untuk salat malam sunnah,” tulis Islami City seperti yang dikutip pada Selasa (19/3/2024).

    Hindari melengkapi Kamar tidur dengan gaya perabotan atau aksesori yang memperlihatkan elemen hiburan. Hal ini dikhawatirkan dapat menghambat penghuninya untuk lebih produktif dan beribadah.

    Buat kamar tidur yang dapat membantu penghuninya lebih cepat beristirahat dan merasa aman ketika beribadah.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Bagaimana Hukumnya Kamar Mandi yang Menghadap Kiblat dalam Islam?



    Jakarta

    Letak kamar mandi di rumah tidak boleh sembarangan. Sebab, terdapat aturan yang sebaiknya diikuti. Aturan tersebut bukan hanya soal posisinya saja, melainkan arah hadapnya juga.

    Dalam Islam sendiri ada aturan bahwa kamar mandi tidak boleh menghadap atau membelakangi kiblat salat. Aturan ini tertuang dalam sabda Rasulullah SAW:

    “Apabila engkau ke WC, janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kencing atau buang air besar.” (HR. Muslim).


    Namun, pada praktiknya ada beberapa kamar mandi yang posisinya tidak dapat diubah. Misalnya karena membeli rumah jadi yang pengembangnya tidak memahami hal ini atau karena rumahnya memang sempit. Apabila kondisinya seperti itu, bisa disiasati dengan menghadap atau memunggungi kiblat ketika sedang berada di dalamnya. Biarkan pintu menghadap kiblat, tetapi badan selama bersih-bersih menghadap ke sisi kanan atau kiri dari pintu.

    Dilansir dari islamcity.org menjelaskan perihal maksud hadis tadi bahwa mayoritas ulama menilai aturan tersebut berlaku untuk area yang tidak memiliki dinding atau sekat tetap. Selama kamar mandi atau toilet tersebut memiliki tembok dan tertutup sepenuhnya maka toilet menghadap atau membelakangi kiblat diperbolehkan.

    Senada dengan itu, dilansir NU Jatim, diperbolehkan seseorang buang air di toilet menghadap atau membelakangi kiblat selama dikelilingi tembok.

    Imam An-Nawawi pentarjih utama dalam Mazhab Syafi’i menguraikan panjang lebar khilafiyah dalam permasalahan ini. Disampaikan:

    ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻊ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﺣﺮاﻡ ﻓﻲ اﻟﺼﺤﺮاء ﺟﺎﺋﺰ ﻓﻲ اﻟﺒﻨﻴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺳﺒﻖ ﻭﻫﺬا ﻗﻮﻝ اﻟﻌﺒﺎﺱ اﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻤﻄﻠﺐ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻭاﻟﺸﻌﺒﻲ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ﻭﺭﻭاﻳﺔ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ

    Artinya: Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa kencing menghadap kiblat adalah haram saat di tanah lapang dan boleh di dalam bangunan (kamar mandi, toilet). Ini adalah pendapat Abbas bin Abdul Muthalib, Ibnu Umar, Syu’bi, Malik, Ishaq dan satu riwayat Ahmad(Al-Majmu’ 2/81-82)

    Selain mengenai arah hadap, kamar mandi atau toilet disarankan berukuran cukup luas agar penggunanya tidak bersentuhan dengan kotoran. Air di kamar mandi juga harus dipastikan cukup, mengalir, dan bisa untuk membersihkan tubuh dan tempat.

    Itulah penjelasan mengenai aturan arah hadap kamar mandi. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Apakah Pahala Sholat di Pelataran Masjidil Haram 100.000 Kali Lipat?


    Jakarta

    Banyak keutamaan yang dapat diraih muslim jika sholat di Masjidil Haram, Makkah. Salah satu riwayat menyebut akan mendapat pahala 100.000 kali lipat. Bagaimana dengan pelatarannya?

    Masjidil Haram merupakan tempat berdirinya Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam seluruh dunia sekaligus pusat ibadah haji dan umrah. Karenanya, banyak jemaah memanfaatkan waktunya untuk memperbanyak sholat di Masjidil Haram baik sebelum maupun setelah menunaikan ritual tawaf.

    Hadits Pahala Sholat di Masjidil Haram

    Sholat di Masjidil Haram memiliki pahala besar. Menukil dari buku Amalan Kecil Berpahala Besar: Meraih Keberkahan Hidup ala Rasulullah SAW susunan Ustaz Arif Rahman, sebuah hadits menyebut sholat di Masjidil Haram berpahala 100.000 kali lebih besar ketimbang sholat di tempat lain. Berikut bunyinya dari Jabir RA,


    “Sholat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1.000 kali sholat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram, Makkah dan sholat di Masjidil Haram lebih dari 100.000 sholat di masjid lainnya.” (HR Ibnu Majah)

    Bagaimana dengan di pelatarannya? Apakah pahala sholat di pelataran Masjidil Haram 100.000 kali lipat juga?

    Sholat di Pelataran Masjidil Haram Diganjar Pahala 100.000 Kali Lipat

    Meski berada di kawasan yang sama, Masjidil Haram dan pelataran Masjidil Haram adalah dua tempat yang berbeda. Keutamaan yang disebutkan dalam hadits sebelumnya adalah jika muslim sholat di Masjidil Haram.

    Jalaluddin Imam As Suyuthi melalui kitab al-Asybah wa an-Nazha’ir yang dinukil dari situs Kementerian Agama RI menyebut bahwa pelipatgandaan pahala di Tanah Haram Makkah tak hanya dikhususkan di Masjidil Haram. Artinya, keutamaan sholat di pelataran Masjidil Haram sama seperti sholat di Masjidil Haram itu sendiri.

    “Sesungguhnya pelipatgandaan pahala di Tanah Haram Makkah tidak khusus di Masjidil Haram tetapi meliputi seluruh Tanah Haram,” tulisnya.

    Begitu pula dengan pendapat mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i. Ketiga mazhab ini berpandangan bahwa pelipatgandaan pahala di Tanah Haram Makkah meliputi seluruh wilayah Tanah Haram itu sendiri.

    Bagaimana Jika Muslim Tidak Sholat di Masjidil Haram?

    Muslim yang tidak sempat atau berhalangan untuk sholat di Masjidil Haram tidak masalah. Menurut kitab Shalatul Mu’min oleh Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani yang diterjemahkan Abu Khadijah, muslim tidak akan mendapat dosa jika tidak mengerjakan sholat di Masjidil Haram.

    Selain itu, turut dijelaskan dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenag RI bahwa sholat di Masjidil Haram hukumnya sunnah. Dengan demikian, jemaah haji atau umrah yang tidak sempat sholat di Masjidil Haram tidak berdosa.

    Mereka tetap mendapat keutamaan dari sholat di Masjidil Haram selama mengerjakannya di Tanah Haram. Baik itu pelataran Masjidil Haram, hotel ataupun masjid sekitar sana.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ayo Cek Arah Kiblat! Matahari di Atas Ka’bah 15-16 Juli 2025



    Jakarta

    Pada 15-16 Juli 2025, matahari akan melintas tepat di atas Ka’bah. Masyarakat diimbau untuk mengecek ulang arah kiblat.

    Imbauan itu disampaikan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama (Kemenag), Arsad Hidayat. Ia menyebut peristiwa itu sebagai Peristiwa Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat.

    “Peristiwa Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat akan terjadi pada Selasa dan Rabu, 15 dan 16 Juli 2025, yang bertepatan dengan 19 dan 20 Muharam 1447 H, pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA,” kata Arsad dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat (11/7/2025), dikutip dari laman Kemenag.


    “Pada saat itu, matahari berada tepat di atas Ka’bah,” lanjutnya.

    Ini adalah kesempatan emas bagi umat Islam untuk memastikan arah kiblatnya sendiri. Cukup mudah, tak perlu keahlian khusus dan alat bantu canggih untuk melakukan kalibrasi arah kiblat secara mandiri.

    Caranya sederhana. Bayangan dari benda yang berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah yang berlawanan dari arah kiblat.

    Metode ini, menurut Arsad, bersifat konfirmatif. Jika arah kiblat yang selama ini digunakan sudah tepat, fenomena ini akan memperkuat keyakinan tersebut. Namun, jika masih ada keraguan, inilah waktu yang paling ideal untuk memverifikasi ulang.

    Untuk memastikan akurasi, Arsad memberikan beberapa panduan penting:

    1. Gunakan benda yang benar-benar tegak lurus sebagai patokan. Bisa menggunakan bantuan benang berbandul (lot) untuk memastikan ketegakan.
    2. Pastikan permukaan tempat pengecekan datar dan rata.
    3. Sesuaikan waktu pengukuran dengan waktu resmi yang dikeluarkan oleh lembaga kredibel seperti BMKG, RRI, atau Telkom.

    “Ketepatan waktu sangat penting agar bayangan yang dihasilkan benar-benar mengarah sesuai posisi matahari yang sedang berada di atas Ka’bah,” tegasnya.

    Fenomena Istiwa A’zam, yang hanya terjadi dua kali dalam setahun, tidak hanya berfungsi sebagai alat verifikasi arah kiblat, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan spiritual bagi umat Islam. Ini mengingatkan pentingnya akurasi dalam ibadah, khususnya salat, yang menjadi tiang agama.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Menentukan Arah Kiblat yang Tepat Secara Online dan GPS


    Jakarta

    Dalam Islam, menghadap kiblat adalah salah satu syarat sah sholat. Kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia adalah Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.

    Arah kiblat ini harus dihadapkan oleh seluruh tubuh saat sholat, baik ketika berada dekat maupun jauh dari Ka’bah. Umat Islam harus memastikan arah kiblat yang tepat sebelum mendirikan sholat.

    Menentukan arah kiblat dengan tepat sangat penting agar ibadah shalat sesuai tuntunan syariat. Kesalahan arah kiblat yang terlalu jauh dari Ka’bah dapat mempengaruhi kesahan sholat. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan menggunakan metode yang akurat.


    Dalil tentang Kewajiban Menghadap Kiblat

    Kewajiban menghadap kiblat dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 144, Allah SWT berfirman,

    قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

    Artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

    Hadits Rasulullah SAW juga menegaskan tentang perintah sholat menghadap kiblat,

    “Apabila kamu berdiri untuk shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke kiblat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Penentuan Arah Kiblat

    Dalam buku Ilmu Falak Waktu Shalat dan Arah Kiblat karya Drs. H.M. Teguh Shobri, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa kiblat orang yang melihat Ka’bah adalah tepat menghadap ke bangunan Ka’bah itu sendiri. Adapun kiblat orang yang tidak melihat Ka’bah adalah arah Ka’bah.

    Rasulullah SAW bersabda, “Ka’bah (Baitullah) adalah kiblat bagi orang-orang di Masjidil Haram, Masjidil Haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk Tanah Haram (Makkah) dan Tanah Haram (Makkah) adalah kiblat bagi semua umatku di bumi, baik di barat maupun di timur.” (HR Al Baihaqi dari Abu Hurairah)

    Secara prinsip, arah kiblat adalah garis terpendek dari lokasi kita menuju Ka’bah di Makkah. Garis ini disebut great circle route dalam ilmu geografi. Arah ini bisa ditentukan dengan berbagai metode, mulai dari cara tradisional hingga teknologi modern.

    Sebagian besar metode penentuan arah kiblat berdasarkan pada perhitungan sudut antara suatu tempat dengan Ka’bah berdasarkan trigonometri segitiga bola dengan asumsi Bumi berbentuk bulat sempurna.

    Menurut Ali al-Hadad, Ka’bah menempati posisi : 21° 25′ 23,2″ LU 39° 49′ 37,6″ BT, berdasarkan pengukuran dengan receiver Carmin GPS 45 XL pada error margin 15 meter yang dipasang sekitar 30 meter dari Ka’bah.

    Cara Menentukan Arah Kiblat

    Menentukan Arah Kiblat Secara Online

    Menentukan arah kiblat dapat dilakukan secara online. Cara yang pertama adalah dengan menggunakan aplikasi Google Maps yang bisa diunduh di smartphone.

    Berikut langkah menentukan arah kiblat secara online:

    1. Nyalakan GPS di Smartphone

    Langkah pertama adalah dengan mengaktifkan fungsi GPS terlebih dahulu di smartphone. Pastikan GPS sudah aktif agar dapat mengakses lokasi saat ini untuk menemukan arah kiblat. Fungsi GPS atau lokasi biasanya dapat diaktifkan melalui pengaturan.

    2. Buka Google Maps di Smartphone

    Jika sudah, buka aplikasi Google Maps di smartphone. Kalau belum ada, silahkan download di App Store atau Play Store.

    3. Cari Ka’Bah

    Setelah itu ketik “Ka’bah” pada kolom pencarian di Google Maps.

    4. Perbesar Lokasi

    Jika hasil pencarian sudah muncul, selanjutnya perbesar tampilan (zoom) Google Maps hingga dapat melihat jarak antara lokasi yang sekarang dan Ka’bah.

    5. Arahkan Ponsel Menghadap Ka’bah

    Langkah terakhir adalah mengarahkan layar HP ke arah Ka’bah. Setelah itu, dapat mengetahui arah kiblat di lokasi tempat seseorang berada pada saat itu.

    Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, seorang muslim dapat menentukan arah kiblat secara online dengan mudah meskipun sedang bepergian ke suatu tempat.

    Menentukan Arah Kiblat Lewat Kompas

    Cara lain untuk menentukan arah kiblat adalah dengan menggunakan kompas. Saat ini, kompas telah tersedia di smartphone dalam bentuk aplikasi tersendiri.

    Sebelum menggunakannya, perlu diketahui bahwa arah kiblat di Indonesia berkisar antara 290 hingga 295 derajat, tergantung dari letak lokasi setiap daerah. Jika sudah, kini detikers tinggal menggunakan kompas di HP untuk mengetahui arah kiblat, yakni sebagai berikut:

    1. Pastikan fitur lokasi kompas (GPS) aktif dan akurat
    2. Buka aplikasi kompas atau ‘Compass’ di smartphone
    3. Arahkan smartphone ke arah manapun untuk mengetahui letak arah mata angin.
    4. Kemudian atur posisi sampai jarum berhenti bergerak dan menunjuk ke arah antara 290 hingga 295 derajat.

    (dvs/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Hukum dan Tata Cara Sholat di Pesawat, Bisa Dibaca Sebelum Perjalanan



    Jakarta

    Sholat adalah ibadah wajib setiap muslim. Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakan sholat. Perintah tersebut termaktub dalam beberapa surah dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam surah Al-Baqarah ayat 43,

    وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣

    Artinya: “Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”


    Kewajiban untuk melaksanakan sholat menuntut setiap muslim harus mengerjakannya dimanapun ia berada, entah sedang dalam perjalanan atau yang lainnya. Jika seorang muslim meninggalkan sholatnya, maka ia akan mendapatkan dosa yang sangat besar.

    Ketika bepergian dengan pesawat, para musafir Muslim seringkali dihadapkan pada tantangan dalam menjalankan ibadah sholat. Maka dari itu, penting untuk memahami hukum dan tata cara sholat di pesawat agar ibadah tetap dapat dilaksanakan dengan penuh khusyuk dan sesuai dengan ajaran agama. Berikut hukum & tata cara sholat di pesawat.

    Hukum Sholat di Pesawat

    Merujuk pada buku Ensiklopedi Shalat Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hukum sholat di pesawat adalah sah. Hal ini disebabkan karena pesawat terbang di udara sama seperti kapal di lautan (di atas air). Setiap muslim wajib mengerjakan apa yang wajib dikerjakan dalam sholat.

    Namun jika muslim tersebut tidak bisa melakukan semua yang wajib dikerjakan dalam sholat, maka hendaklah ia tidak sholat di pesawat, tetapi menunggu sampai pesawat mendarat. Terkecuali jika ia mengetahui bahwa pesawat itu akan mendarat setelah berlalunya waktu sholat, sedangkan sholat yang akan dikerjakan di udara itu tidak mungkin dijamak dengan sholat setelahnya, misalnya sholat Asar dan Subuh.

    Tata Cara Sholat di Pesawat

    Mengutip dari sumber buku sebelumnya, jika mampu sholat sambil berdiri, hendaknya melaksanakan sholat sambil berdiri. Jika tidak mampu, maka boleh melakukan sholat sambil duduk dengan menghadap kiblat dan berputar terus menghadap kiblat mengikuti putaran pesawat.

    Hal tersebut didasarkan pada firman Allah SWT yang termaktub dalam surah At-Taghabun ayat 16, https://www.detik.com/hikmah/quran-online/at-tagabun

    فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٦

    Artinya: “Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

    Dirangkum dari buku Peta Perjalanan Haji dan Umrah (Edisi Revisi) karya Arifin, terdapat dua macam tata cara sholat di pesawat. Pertama, tayamum dengan menepukkan tangan ke dinding pesawat atau sandaran kursi kemudian melaksanakan sholat sambil duduk. Kedua, tanpa tayamum sholat seperti biasa sambil duduk (lihurmatil wakti) tetapi harus diulang salatnya (i’adah) setelah sampai di darat. (Menurut sumber dari Departemen Agama RI)

    Tata Cara Tayamum

    1. Menepukkan kedua telapak tangan (perlahan) ke sandaran kursi pesawat di depan atau dinding pesawat

    2. Menyapukan kedua telapak tangan ke wajah secara merata, dari ujung rambut (jidat) sampai ke dagu dilanjutkan dari daun telinga kanan sampai ke daun telinga kiri.

    3. Menepukkan kembali kedua telapak tangan, namun diusahakan di tempat yang berbeda.

    4. Menyapukan tangan kanan hingga siku dmenggunakan telapak tangan kiri secara merata dan menyapu tangan kiri hingga siku menggunakan telapak tangan kanan secara merata.

    Tata Cara Sholat

    1. Duduk di kursi pesawat, menghadap ke depan, dilanjutkan dengan berniat sholat.

    2. Mengangkat kedua tangan dan mengucapkan takbiratul ihram.

    3. Tangan bersedekap, membaca doa iftitah, surah Al Fatihah, dilanjutkan dengan surat yang lain.

    4. Rukuk dengan cara membungkuk sedikit, membaca bacaan rukuk

    5. I’tidal dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung lurus, dan tetap dalam posisi duduk

    6. Sujud dengan cara membungkukkan badan (lebih rendah dari rukuk), membaca bacaan sujud

    7. Duduk di antara dua sujud dengan cara poisi duduk sempurna, membaca bacaan duduk di antara dua sujud

    8. Sujud kembali seperti poin nomor enam. Kemudian kembali ke posisi semula untuk memulai rakaat kedua, dengan gerakan yang mirip dengan gerakan poin nomor tiga, tanpa doa iftitah

    9. Seterusnya sama dengan rakaat pertama hingga posisi seperti poin nomor delapan.

    10. Tahiyat akhir dengan cara duduk sempurna. Meletakkan kedua tangan di atas lutut dan mengacungkan telunjuk jari tangan

    11. Menoleh ke kanan dan kiri sambil mengucap salam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com