Tag: konstipasi

  • Hari Gini Nggak Doyan Sayur? Sumbatan Usus Juga Bisa Terjadi karena Kurang Serat Lho


    Jakarta

    Konsumsi serat penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kebiasaan makan buah dan sayur. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 96,7 persen penduduk belum memenuhi anjuran konsumsi sayur dan buah setiap hari. Pola makan yang lebih banyak mengutamakan nasi, lauk tinggi lemak, serta minuman manis membuat tubuh kekurangan komponen penting yang seharusnya membantu menjaga fungsi pencernaan.

    Serat adalah zat penyusun makanan nabati yang tidak dicerna oleh tubuh secara langsung. Meski tidak dicerna, serat punya peran besar dalam menjaga ritme usus. Serat membantu mempertahankan bentuk feses, menjaga pergerakan usus agar tetap teratur, serta mendukung keseimbangan bakteri baik yang dibutuhkan tubuh. Jika Asupan serat rendah dan berlangsung dalam jangka panjang, pergerakan feses di usus menjadi lambat, sehingga air yang terkandung di feses terus-menerus diserap oleh usus mengakibatkan feses menjadi keras. Kondisi ini dapat memicu sembelit berulang.

    Sembelit yang berlangsung lama tidak hanya membuat perut tidak nyaman. Dalam beberapa kasus, feses yang mengeras dapat membentuk massa/gumpalan padat yang disebut fekaloma. Gumpalan ini dapat menghambat aliran makanan dan gas di dalam usus. Jika saluran benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berkembang menjadi obstruksi usus. Gejalanya meliputi perut kembung, nyeri hebat, mual, muntah, hingga tidak bisa buang gas maupun buang air besar. Obstruksi usus merupakan kondisi yang perlu penanganan medis segera.


    Serat Penting Agar Pencernaan Optimal

    Serat terbagi menjadi dua jenis yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat larut menyerap air dan membentuk gel, yang membantu membuat proses pencernaan berjalan lebih teratur dan lembut. Sedangkan serat tidak larut berfungsi menambah volume feses sehingga merangsang gerakan usus. Kedua jenis serat ini bekerja saling melengkapi dalam menjaga kesehatan pencernaan.

    Penelitian dalam Jurnal Nutrients tahun 2013 menjelaskan bahwa serat bekerja dengan menahan air di dalam saluran cerna sehingga feses lebih lunak dan volumenya tetap ideal. Kondisi ini membantu usus bergerak dengan ritme yang teratur. Waktu transit yang stabil membuat sisa makanan tidak menumpuk dan mengeras. Dengan begitu, risiko sembelit berat yang dapat berkembang menjadi penyumbatan usus dapat dicegah.

    Waspadai Sembelit Terus-Menerus

    Sembelit yang muncul sesekali memang bisa hilang dengan memperbaiki asupan cairan dan makanan berserat. Namun perlu diperhatikan dengan serius ketika sembelit terjadi berulang atau berlangsung dalam jangka panjang.

    Sebuah publikasi penelitian di Jurnal Clinical Case Reports tahun 2023, dilaporkan kasus obstruksi usus yang dipicu oleh konstipasi kronis yang tidak diatasi. Kondisi ini terjadi karena feses yang mengeras dapat menghambat jalur keluarnya sisa makanan di usus. Ketika aliran tersumbat, tekanan dalam usus meningkat, memicu nyeri perut hebat, kembung berlebihan, mual, muntah, hingga tidak dapat buang angin maupun buang air besar.

    Selain itu, gerakan usus yang lambat dapat mengubah keseimbangan bakteri di dalamnya. Lapisan usus yang mengalami iritasi dan peradangan akan menjadi lebih sensitif dan rentan terhadap gangguan. Dalam kondisi tertentu, gangguan ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko obstruksi.

    Kelompok Rentan

    Beberapa kelompok lebih rentan mengalami gangguan pencernaan terkait serat yang rendah, seperti:

    • Lansia
    • Orang yang kurang minum air
    • Orang yang sering menahan buang air besar
    • Orang dengan riwayat operasi perut
    • Orang dengan pola makan rendah serat dalam waktu lama

    Untuk kelompok ini, menjaga pola makan seimbang menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.

    Sumber Serat yang Mudah Ditemukan Sehari-hari

    Kebutuhan serat harian berkisar 20 sampai 37 gram berdasarkan Angka Kebutuhan Gizi sesuai usia dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019. Pemenuhan serat bisa dimulai dengan membiasakan mengonsumsi makanan yang mudah ditemui seperti:

    • Pepaya, pir, apel, pisang
    • Bayam, brokoli, kangkung, sawi
    • Kacang merah, kacang hijau, kacang tanah
    • Singkong, talas, dan ubi

    Penuhi kebutuhan serat setiap hari dan porsi sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Konsumsi serat secara tiba-tiba dalam jumlah besar juga dapat memicu gas dan kembung.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Hari Gini Nggak Doyan Sayur? Sumbatan Usus Juga Bisa Terjadi karena Kurang Serat Lho


    Jakarta

    Konsumsi serat penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kebiasaan makan buah dan sayur. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 96,7 persen penduduk belum memenuhi anjuran konsumsi sayur dan buah setiap hari. Pola makan yang lebih banyak mengutamakan nasi, lauk tinggi lemak, serta minuman manis membuat tubuh kekurangan komponen penting yang seharusnya membantu menjaga fungsi pencernaan.

    Serat adalah zat penyusun makanan nabati yang tidak dicerna oleh tubuh secara langsung. Meski tidak dicerna, serat punya peran besar dalam menjaga ritme usus. Serat membantu mempertahankan bentuk feses, menjaga pergerakan usus agar tetap teratur, serta mendukung keseimbangan bakteri baik yang dibutuhkan tubuh. Jika Asupan serat rendah dan berlangsung dalam jangka panjang, pergerakan feses di usus menjadi lambat, sehingga air yang terkandung di feses terus-menerus diserap oleh usus mengakibatkan feses menjadi keras. Kondisi ini dapat memicu sembelit berulang.

    Sembelit yang berlangsung lama tidak hanya membuat perut tidak nyaman. Dalam beberapa kasus, feses yang mengeras dapat membentuk massa/gumpalan padat yang disebut fekaloma. Gumpalan ini dapat menghambat aliran makanan dan gas di dalam usus. Jika saluran benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berkembang menjadi obstruksi usus. Gejalanya meliputi perut kembung, nyeri hebat, mual, muntah, hingga tidak bisa buang gas maupun buang air besar. Obstruksi usus merupakan kondisi yang perlu penanganan medis segera.


    Serat Penting Agar Pencernaan Optimal

    Serat terbagi menjadi dua jenis yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat larut menyerap air dan membentuk gel, yang membantu membuat proses pencernaan berjalan lebih teratur dan lembut. Sedangkan serat tidak larut berfungsi menambah volume feses sehingga merangsang gerakan usus. Kedua jenis serat ini bekerja saling melengkapi dalam menjaga kesehatan pencernaan.

    Penelitian dalam Jurnal Nutrients tahun 2013 menjelaskan bahwa serat bekerja dengan menahan air di dalam saluran cerna sehingga feses lebih lunak dan volumenya tetap ideal. Kondisi ini membantu usus bergerak dengan ritme yang teratur. Waktu transit yang stabil membuat sisa makanan tidak menumpuk dan mengeras. Dengan begitu, risiko sembelit berat yang dapat berkembang menjadi penyumbatan usus dapat dicegah.

    Waspadai Sembelit Terus-Menerus

    Sembelit yang muncul sesekali memang bisa hilang dengan memperbaiki asupan cairan dan makanan berserat. Namun perlu diperhatikan dengan serius ketika sembelit terjadi berulang atau berlangsung dalam jangka panjang.

    Sebuah publikasi penelitian di Jurnal Clinical Case Reports tahun 2023, dilaporkan kasus obstruksi usus yang dipicu oleh konstipasi kronis yang tidak diatasi. Kondisi ini terjadi karena feses yang mengeras dapat menghambat jalur keluarnya sisa makanan di usus. Ketika aliran tersumbat, tekanan dalam usus meningkat, memicu nyeri perut hebat, kembung berlebihan, mual, muntah, hingga tidak dapat buang angin maupun buang air besar.

    Selain itu, gerakan usus yang lambat dapat mengubah keseimbangan bakteri di dalamnya. Lapisan usus yang mengalami iritasi dan peradangan akan menjadi lebih sensitif dan rentan terhadap gangguan. Dalam kondisi tertentu, gangguan ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko obstruksi.

    Kelompok Rentan

    Beberapa kelompok lebih rentan mengalami gangguan pencernaan terkait serat yang rendah, seperti:

    • Lansia
    • Orang yang kurang minum air
    • Orang yang sering menahan buang air besar
    • Orang dengan riwayat operasi perut
    • Orang dengan pola makan rendah serat dalam waktu lama

    Untuk kelompok ini, menjaga pola makan seimbang menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.

    Sumber Serat yang Mudah Ditemukan Sehari-hari

    Kebutuhan serat harian berkisar 20 sampai 37 gram berdasarkan Angka Kebutuhan Gizi sesuai usia dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019. Pemenuhan serat bisa dimulai dengan membiasakan mengonsumsi makanan yang mudah ditemui seperti:

    • Pepaya, pir, apel, pisang
    • Bayam, brokoli, kangkung, sawi
    • Kacang merah, kacang hijau, kacang tanah
    • Singkong, talas, dan ubi

    Penuhi kebutuhan serat setiap hari dan porsi sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Konsumsi serat secara tiba-tiba dalam jumlah besar juga dapat memicu gas dan kembung.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Atasi Susah BAB, Lebih Manjur Makan Pepaya atau Pisang? Cek Nutrisinya Yuk


    Jakarta

    Sulit buang air besar (BAB) sering kali bikin tidak nyaman. Masalah pencernaan ini bisa dialami siapa saja, dari anak-anak hingga dewasa. Banyak orang mengandalkan buah-buahan untuk membantu melancarkan pencernaan, dan yang paling sering diandalkan adalah pepaya dan pisang. Sama-sama manis, mudah ditemukan, dan murah.

    Tapi,sebenarnya mana yang lebih efektif untuk melancarkan BAB?


    Kandungan Nutrisi Pepaya

    Dalam 100 gram pepaya matang, terdapat sekitar 46 kalori, 1,6 gram serat, serta kandungan air yang tinggi, mencapai hampir 87 persen. Buah ini juga mengandung vitamin C tinggi, sekitar 78 mg atau setara 86 persen dari kebutuhan harian.

    Tidak hanya itu, pepaya juga menyimpan vitamin A, folat, kalium, serta antioksidan berupa karotenoid seperti likopen dan beta-karoten. Kandungan ini dapat melindungi tubuh dari radikal bebas.

    Kandungan istimewa pepaya adalah papain. Enzim alami ini berfungsi memecah protein dan mendukung proses pencernaan.

    Kandungan Nutrisi Pisang

    Sementara pisang matang lebih padat energi, sekitar 92-108 kalori per 100 gram, dengan serat 1,9 gram, dan karbohidrat 24 gram.

    Pisang juga dikenal sebagai sumber kalium yaitu sekitar 221 mg, mineral yang penting untuk menjaga fungsi otot, termasuk otot usus yang mendorong pergerakan feses. Selain itu, pisang mengandung vitamin B6, vitamin C, serta magnesium.

    Pektin merupakan serat utama yang ada dalam pisang. Pektin sejenis serat larut yang membantu melembutkan feses sekaligus menstabilkan kadar gula darah.

    Nutrisi Apa yang Bikin BAB Lancar?

    Berikut ini beberapa kandungan pepaya maupun pisang yang membantu mengatasi susah BAB:

    Serat pangan

    Serat pangan ada dua jenis. pertama yaitu serat larut yang tugasnya menyerap air dan bikin tekstur feses menjadi lembut, sehingga mudah dikeluarkan. Kedua yaitu serat tidak larut yang dapat menambah massa feses dan merangsang gerakan usus agar lebih aktif.

    Air

    Air memiliki peranan penting dalam membantu menjaga kelembapan feses agar BAB terasa lebih lancer. Tanpa cukup cairan, serat justru malah membuat feses lebih keras.

    Kalium

    Kalium dapat membantu menjaga kontraksi otot, termasuk otot pada dinding usus, sehingga gerakan perstaltik berjalan normal. Selain itu, peranan kalium dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh agar fungsi pencernaan optimal juga penting.

    Enzim Papain

    Enzim alami ini yang membantu memecah protein di dalam saluran cerna. Papain membuat proses pencernaan berjalan lebih efisien dan mengurangi beban pada usus.

    Jadi, Mana yang Lebih Efektif?

    Kalau bicara soal efek cepat melancarkan BAB, pepaya lebih unggul dikarenakan kombinasi kandungan air dan serat yang tinggi, serta enzim papain membuat pepaya bisa membantu mengatasi konstipasi hanya dalam beberapa hari konsumsi rutin.

    Terbukti dari Jurnal Neuro Endocrinology Letters bahwasanya konsumsi pepaya dapat menurunkan skor konstipasi (sembelit).

    Pisang tetap bermanfaat, terutama dalam menjaga ritme BAB sehari-hari berkat serat larut (pektin) dan kalium. Studi yang terbit pada jurnal Food Hidrocolloids tahun 2021 menyebutkan bahwa pektin yang terkandung dalam pisang dapat membantu mengatasi konstipasi ringan.

    Namun, jika tujuannya untuk melancarkan BAB yang sudah mengganggu, pisang biasanya kurang cukup.

    Kesimpulan

    Baik pepaya maupun pisang sama-sama mendukung kesehatan pencernaan. Pepaya lebih efektif untuk solusi cepat dalam melancarkan BAB, sementara pisang lebih cocok sebagai pendukung jangka panjang untuk menjaga keteraturan BAB.

    Keduanya bisa saling melengkapi. Mengombinasikan pepaya dan pisang dalam pola makan sehari-hari memberi manfaat gizi yang lengkap yaitu energi dari pisang, vitamin dan antioksidan dari pepaya, plus serat dari keduanya.

    Jadi, tidak perlu bingung memilih salah satu. Kalau lagi susah BAB, pepaya bisa jadi “senjata utama”. Tapi untuk menjaga BAB tetap teratur dan usus tetap sehat setiap hari, pisang tetap punya tempat di meja makan.

    Kombinasi keduanya malah bikin manfaatnya lebih komplet: ada energi, ada serat, ada vitamin, dan efek pencernaan yang lebih lancar.

    (up/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Minum Susu 2 Liter Sehari Tidak Realistis, Bukan Solusi Tinggi Badan


    Jakarta

    Profesor ilmu nutrisi dan penyakit metabolik anak angkat bicara soal testimoni minum susu 2 liter sehari yang disebut punya dampak positif bagi pertumbuhan tinggi badan anak. Ditegaskan, minum susu dalam jumlah tersebut tidak realistis dan malah membahayakan.

    Pendapat ini disampaikan oleh Prof dr H Dida Akhmad Gurnida, SpA, Subsp.NPM, pakar penyakit metabolik anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ia menegaskan, mengonsumsi susu 2 liter sehari punya risiko bagi kesehatan.

    “Mengonsumsi 2 liter susu per hari bukan praktik yang realistis atau aman untuk semua anak,” katanya dalam penjelasan tertulis kepada detikcom, Jumat (30/5/2025).


    Prof Dida menuturkan, kapasitas lambung anak usia sekolah bervariasi antara 500 hingga 1.000 mililiter. Karenanya, mustahil asupan makanan lain bisa masuk jika anak mengonsumsi susu hingga 2 liter.

    “Meskipun susu memiliki nutrisi penting untuk pertumbuhan, konsumsi berlebihan bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan penyerapan nutrisi dan anemia,” tegasnya.

    Catatan penting lainnya adalah soal kandungan protein di dalam susu sapi. Menurut Prof Dida, mayoritas kandungan protein dalam susu sapi adalah kasein yang secara biologis memang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sapi.

    “Kebutuhan buat bertumbuh anak manusia jauh lebih kompleks, butuh protein yang lebih bervariasi, seperti leusin, lisin, histidin, dan juga asam amino esensial lainnya,” tegasnya.

    Mengutip rekomendasi IDAI, Prof Dida merinci batasan konsumsi susu pada anak berdasarkan kategori usia:

    • Bayi (0-6 bulan): ASI (Air Susu Ibu) eksklusif selama 6 bulan pertama sangat disarankan. Jumlah ASI yang dibutuhkan bervariasi, tergantung kebutuhan bayi
    • Anak (1-2 tahun): Anak usia 1-2 tahun yang sudah mulai MPASI (Makanan pendamping ASI) dapat diberikan susu pertumbuhan 2-3 gelas per hari (sekitar 400-600 ml) untuk melengkapi asupan nutrisi harian
    • Anak (2-5 tahun): Anak usia 2-5 tahun disarankan mengonsumsi sekitar 2-2,5 gelas susu per hari, setara dengan 500 ml.
    • Anak (5-8 tahun): Disarankan 2,5 gelas susu per hari
    • Anak (9-12 tahun): Disarankan 3 gelas susu per hari

    Berlebihan mengonsumsi susu sapi, menurut Prof Dida berisiko memicu berbagai masalah kesehatan. Di antaranya konstipasi, obesitas, hingga kekurangan gizi karena asupan sumber nutrisi lain jadi berkurang.

    “Pemberian susu dua liter per hari bukan solusi tepat untuk menambah tinggi badan anak,” tegasnya lagi.

    NEXT: Alternatif sumber nutrisi dan faktor penentu tinggi badan

    Menurut Prof Dida, pola makan sehat dan seimbang lebih penting bagi pertumbuhan tinggi badan. Sumber nutrisi yang mengandung protein, kalsium, dan vitamin D, termasuk telur, ayam, hingga sayuran dan kacang-kacangan, paling dibutuhkan untuk tujuan tersebut.

    “Pada dasarnya, protein hewani dapat merangsangsan produksi IGF-1 atau Insulin light Growth Factor 1, yaitu hormon yang penting dalam pertumbuhan linear/pembentukan masa tulang dan masa otot buat manusia,” jelas Prof Dida.

    Terkait faktor yang mempengaruhi tinggi badan, Prof Dida menyebut genetik punya peran sebesar 60-80 persen dalam berbagai penelitian. Gen HMGA2 merupakan salah satu yang punya peran penting.

    “Perubahan pada salah satu huruf dasar dalam kode genetik HMGA2, yaitu perubahan dari huruf C (Cytosine) menjadi T (Thymine), dapat mempengaruhi tinggi badan,” jelas Prof Dida.

    “Seseorang yang hanya memiliki C dari salah satu orangtuanya akan lebih tinggi dari yang hanya memiliki T ganda,” tandasnya.

    Perkiraan tinggi akhir anak saat dewasa antara lain dapat dihitung dari tinggi badan orang tua, dengan rumus Tinggi Potensi Genetik (TPG).

    • TPG anak laki-laki = ((TB ibu (cm) + 13 cm) + TB ayah (cm))/2 ± 8,5 cm
    • TPG anak perempuan = ((TB ayah (cm) – 13 cm) + TB ibu (cm))/2 ± 8,5 cm

    (up/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Minum Susu 2 Liter Sehari Tidak Realistis, Bukan Solusi Tinggi Badan


    Jakarta

    Profesor ilmu nutrisi dan penyakit metabolik anak angkat bicara soal testimoni minum susu 2 liter sehari yang disebut punya dampak positif bagi pertumbuhan tinggi badan anak. Ditegaskan, minum susu dalam jumlah tersebut tidak realistis dan malah membahayakan.

    Pendapat ini disampaikan oleh Prof dr H Dida Akhmad Gurnida, SpA, Subsp.NPM, pakar penyakit metabolik anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ia menegaskan, mengonsumsi susu 2 liter sehari punya risiko bagi kesehatan.

    “Mengonsumsi 2 liter susu per hari bukan praktik yang realistis atau aman untuk semua anak,” katanya dalam penjelasan tertulis kepada detikcom, Jumat (30/5/2025).


    Prof Dida menuturkan, kapasitas lambung anak usia sekolah bervariasi antara 500 hingga 1.000 mililiter. Karenanya, mustahil asupan makanan lain bisa masuk jika anak mengonsumsi susu hingga 2 liter.

    “Meskipun susu memiliki nutrisi penting untuk pertumbuhan, konsumsi berlebihan bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan penyerapan nutrisi dan anemia,” tegasnya.

    Catatan penting lainnya adalah soal kandungan protein di dalam susu sapi. Menurut Prof Dida, mayoritas kandungan protein dalam susu sapi adalah kasein yang secara biologis memang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sapi.

    “Kebutuhan buat bertumbuh anak manusia jauh lebih kompleks, butuh protein yang lebih bervariasi, seperti leusin, lisin, histidin, dan juga asam amino esensial lainnya,” tegasnya.

    Mengutip rekomendasi IDAI, Prof Dida merinci batasan konsumsi susu pada anak berdasarkan kategori usia:

    • Bayi (0-6 bulan): ASI (Air Susu Ibu) eksklusif selama 6 bulan pertama sangat disarankan. Jumlah ASI yang dibutuhkan bervariasi, tergantung kebutuhan bayi
    • Anak (1-2 tahun): Anak usia 1-2 tahun yang sudah mulai MPASI (Makanan pendamping ASI) dapat diberikan susu pertumbuhan 2-3 gelas per hari (sekitar 400-600 ml) untuk melengkapi asupan nutrisi harian
    • Anak (2-5 tahun): Anak usia 2-5 tahun disarankan mengonsumsi sekitar 2-2,5 gelas susu per hari, setara dengan 500 ml.
    • Anak (5-8 tahun): Disarankan 2,5 gelas susu per hari
    • Anak (9-12 tahun): Disarankan 3 gelas susu per hari

    Berlebihan mengonsumsi susu sapi, menurut Prof Dida berisiko memicu berbagai masalah kesehatan. Di antaranya konstipasi, obesitas, hingga kekurangan gizi karena asupan sumber nutrisi lain jadi berkurang.

    “Pemberian susu dua liter per hari bukan solusi tepat untuk menambah tinggi badan anak,” tegasnya lagi.

    NEXT: Alternatif sumber nutrisi dan faktor penentu tinggi badan

    Menurut Prof Dida, pola makan sehat dan seimbang lebih penting bagi pertumbuhan tinggi badan. Sumber nutrisi yang mengandung protein, kalsium, dan vitamin D, termasuk telur, ayam, hingga sayuran dan kacang-kacangan, paling dibutuhkan untuk tujuan tersebut.

    “Pada dasarnya, protein hewani dapat merangsangsan produksi IGF-1 atau Insulin light Growth Factor 1, yaitu hormon yang penting dalam pertumbuhan linear/pembentukan masa tulang dan masa otot buat manusia,” jelas Prof Dida.

    Terkait faktor yang mempengaruhi tinggi badan, Prof Dida menyebut genetik punya peran sebesar 60-80 persen dalam berbagai penelitian. Gen HMGA2 merupakan salah satu yang punya peran penting.

    “Perubahan pada salah satu huruf dasar dalam kode genetik HMGA2, yaitu perubahan dari huruf C (Cytosine) menjadi T (Thymine), dapat mempengaruhi tinggi badan,” jelas Prof Dida.

    “Seseorang yang hanya memiliki C dari salah satu orangtuanya akan lebih tinggi dari yang hanya memiliki T ganda,” tandasnya.

    Perkiraan tinggi akhir anak saat dewasa antara lain dapat dihitung dari tinggi badan orang tua, dengan rumus Tinggi Potensi Genetik (TPG).

    • TPG anak laki-laki = ((TB ibu (cm) + 13 cm) + TB ayah (cm))/2 ± 8,5 cm
    • TPG anak perempuan = ((TB ayah (cm) – 13 cm) + TB ibu (cm))/2 ± 8,5 cm

    (up/up)



    Sumber : health.detik.com