Tag: korsleting listrik

  • Jangan Nyalakan 4 Elektronik Ini Barengan, Bisa Bikin Korslet!


    Jakarta

    Ada banyak barang elektronik di rumah yang perlu dicolok ke stopkontak agar bisa menyala, seperti AC, kipas angin, TV, mesin cuci, dan kulkas. Barang-barang tersebut juga memiliki daya listrik yang besar agar bisa beroperasi.

    Sayangnya, masih banyak pemilik rumah yang mencolok barang-barang elektronik tersebut pada satu stopkontak yang sama. Lebih parahnya lagi, barang elektronik itu digunakan dalam waktu bersamaan.

    Sebenarnya, sah-sah saja jika kamu menyalakan AC, lemari es, atau menggunakan vacuum cleaner di waktu yang bersamaan. Namun, masalah bisa muncul jika benda tersebut dicolok pada satu stopkontak yang sama dan daya listrik di rumah tidak terlalu besar.


    Perlu diketahui, ada sejumlah barang elektronik yang sebaiknya tidak dicolok ke stopkontak dan dinyalakan secara bersamaan. Apa saja? Simak dalam artikel ini.

    Barang Elektronik Ini Jangan Menyala Secara Bersamaan

    Sejumlah pakar di bidang kelistrikan menyebut ada barang-barang elektronik yang jangan dinyalakan secara bersamaan. Dikutip dari Better Homes & Gardens, berikut daftarnya:

    1. Mesin Cuci dan Dishwasher

    Mesin cuci dan dishwasher (mesin pencuci piring) sebaiknya tidak dinyalakan dalam waktu yang sama. Sebab, kedua alat ini dapat mengonsumsi daya listrik yang sangat besar.

    Jika mesin cuci dan dishwasher dicolok pada satu stopkontak dan dinyalakan secara bersamaan, maka bisa merusak kedua barang elektronik tersebut seiring waktu.

    “Menyalakan dishwasher sambil mencuci pakaian di mesin cuci dapat memengaruhi kinerja mesin. Bisa jadi pakaian tidak akan bersih atau air yang keluar di dishwasher sangat kecil,” kata pakar listrik Glenn Lewis.

    2. Peralatan Dapur

    Jika kamu memiliki peralatan dapur seperti microwave, pemanggang roti, atau ketel listrik, sebaiknya tidak dinyalakan secara bersamaan. Ketiga alat itu memiliki daya listrik yang besar dan jika dihidupkan bersamaan dapat membebani sirkuit, sehingga berpotensi memicu korsleting.

    Untuk mencegah hal itu terjadi, hindari mencolok ketiga barang tersebut pada satu stopkontak. Cek juga besaran watt-nya untuk mengetahui mana peralatan dapur yang paling besar dan rendah daya listriknya.

    3. Pengering Rambut

    Meski ukurannya kecil, tapi ternyata pengering rambut atau hair dryer memiliki daya listrik yang besar. Pada umumnya hair dryer memiliki daya listrik sekitar 400-1.000 watt.

    Jika daya listrik di rumah kamu tidak terlalu besar, sebaiknya jangan menggunakan pengering rambut sambil menyalakan AC, TV, atau mesin cuci. Sebab, arus listrik yang terlalu besar bisa memicu kelebihan beban pada sirkuit dan berisiko terjadi arus pendek listrik.

    4. Barang Elektronik yang Menyala dalam Waktu Lama

    Ada sejumlah barang elektronik yang terus menyala dalam waktu lama, seperti lemari es, AC, dan dispenser air. Selain terus menyala setiap waktu, barang elektronik itu juga memiliki daya listrik yang besar.

    Sebaiknya hindari mencolok barang-barang elektronik, terutama yang menyala dalam waktu lama dan punya daya besar pada satu stopkontak. Langkah ini dilakukan untuk mencegah bahaya pada arus listrik yang berisiko menyebabkan terjadinya korsleting.

    Itulah empat barang elektronik di rumah yang sebaiknya jangan menyala dan dicolok pada satu stopkontak yang sama. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/zlf)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason
  • Penting! Ketahui Jenis dan Penyebab Korsleting Listrik di Rumah


    Jakarta

    Korsleting listrik atau arus pendek merupakan aliran listrik yang bergerak keluar dari jalurnya. Korsleting listrik bisa berbahaya karena sering kali menjadi penyebab kebakaran rumah.

    Nah, untuk mencegah terjadi kebakaran, penting memahami jenis dan penyebab korsleting listrik. Beberapa penyebab hal ini mulai dari sambungan listrik yang berantakan hingga penggunaan kabel yang hampir putus.

    Jangan sampai korsleting listrik dan kebakaran kejadian di rumah kamu. Simak penjelasan soal jenis dan penyebab korsleting listrik berikut ini, dikutip dari Klopmart, Jumat (14/6/2024).


    Jenis-Jenis Korsleting Listrik

    1. Korsleting Normal

    Hal ini dapat terjadi ketika kabel listrik yang membawa arus dan kabel netral saling bersentuhan. Ketika hal ini terjadi, resistensi akan turun secara instan dan arus dalam jumlah besar akan mengalir melalui jalur yang tidak terduga.

    2. Korsleting Ground Fault

    Hal ini akan terjadi di saat kabel yang membawa arus bersentuhan dengan bagian sistem yang berada di tanah. Ini bisa berupa kotak dinding logam yang ditanam, kabel dalam tanah atau bagian peralatan yang ditanam.

    Penyebab Korsleting Listrik

    1. Isolasi Kawat Sirkuit Rusak

    Jika insulasi rusak atau sudah tua, hal ini bisa menyebabkan kabel cepat panas kemudian bersentuhan dengan netral. Hal inilah yang menyebabkan korsleting. Umur kawat, paku atau sekrup yang sudah tua dapat mempengaruhi bahkan merusak isolasi. Terdapat juga risiko dimana ada hama yang bisa menggerogoti insulasi dan mengekspos konduktor kawat.

    2. Koneksi Kabel Longgar

    Jika terdapat sambungan kabel listrik yang longgar, maka memungkinkan kabel yang sedang mengalirkan listrik dan netral dapat bersentuhan. Jika Kamu melihat sambungan kabel yang salah, jangan mencoba memperbaikinya sendiri. Lebih baik Kamu segera menghubungi teknisi listrik.

    3. Kondisi Kabel Peralatan yang Rusak

    Jika Kamu mencolok alat elektronik ke stop kontak listrik dinding, kabel akan menjadi perpanjangan sirkuit. Jika ada masalah pada kabel alat elektronik tersebut, maka tentu saja akan terjadi masalah sirkuit. Korsleting dapat terjadi di kabel daya, steker, atau di dalam alat. Pastikan untuk mendapatkan perlindungan sirkuit pendek untuk semua peralatan elektronik yang ada di rumah Kamu.

    4. Sambungan Kabel Listrik yang Berantakan

    Penyebab selanjutnya yang dapat mengakibatkan korsleting listrik adalah karena sambungan kabel listrik yang berantakan. Kabel listrik yang tidak rapi bisa membuat terlilit satu sama lain.Jika itu terjadi maka dapat menyebabkan arus listrik menjadi tidak terkendali dan dapat terbakar.

    5. Sekring yang Tidak Stabil

    Salah satu penyebab korsleting listrik adalah karena adanya sekring listrik yang tidak stabil. Kejadian ini disebabkan karena adanya ketidakstabilan arus listrik saat akan memakai barang elektronik berkali-kali di rumah Kamu. Jika tidak dibenarkan maka lama kelamaan akan menyebabkan mati listrik pada rumah.

    (dhw/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Pahami Pengertian, Jenis, dan Fungsinya


    Jakarta

    Sistem kelistrikan yang ada di setiap bangunan rumah hingga perkantoran tak terlepas dari risiko korsleting. Untuk itu, terdapat satu komponen penting yang berperan sebagai pengaman instalasi listrik, namanya MCB atau Mini Circuit Breaker.

    Adanya MCB dalam sistem listrik antara lain adalah untuk memutus arus listrik berlebih secara otomatis yang berpotensi menyebabkan korsleting. MCB sendiri memiliki beragam jenis dan fungsi. Apa saja jenis dan fungsinya? Simak di artikel berikut.

    Pengertian MCB Listrik

    Miniature Circuit Breaker atau kerap disingkat MCB merupakan sebuah alat dalam instalasi listrik yang berfungsi sebagai pembatas sekaligus pengaman dari arus listrik pendek. Mengutip dari buku Instalasi Listrik Industri oleh Djoko Laras Budiyo Taruno dkk, MCB dilengkapi dengan komponen relay elektromagnetik dan Thermis atau bimetal.


    Ketika terdapat aliran berlebih, komponen bimetal akan melengkung dan memutuskan kontak MCB (trip). Selain komponen relay elektromagnetik dan bimetal, terdapat juga solenoid yang berperan untuk memutuskan MCB saat terjadi aliran listrik singkat.

    Secara umum, MCB terdiri atas 9 arus nominal, diantaranya adalah 1A, 2A, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, 25A, dan 32A. Berdasarkan penjelasan pada buku Transmisi dan Distribusi oleh Hendro Widiarto, arus nominal tersebut ditentukan dari besarnya aliran yang dapat dihantarkan. Karena banyak yang menggunakan daya listrik 450 VA (Volt Ampere), sebagian besar pelanggan PLN di Indonesia masih menggunakan MCB dengan arus nominal 2A (ampere).

    Jenis-jenis MCB Listrik

    Komponen MCB terbagi menjadi beberapa jenis sesuai karakteristik tripnya. Adapun jenis-jenis MCB listrik yang dirangkum dari laman Wilsoncables adalah sebagai berikut:

    1. MCB Tipe B

    MCB Tipe B merupakan jenis MCB standar yang biasa dipasang pada bangunan domestik. Tipe MCB ini akan mengalami putus jaringan transmisi listrik atau trip ketika arus beban listrik lebih besar 3-5 kali lipat dari arus maksimum atau arus nominal.

    2. MCB Tipe C

    MCB Tipe C cenderung lebih banyak dijumpai pada perangkat listrik dengan arus yang lebih tinggi, seperti misalnya lampu, motor, dan lain sebagainya. Listrik jeglek atau trip pada jenis MBC ini dapat terjadi saat aliran listrik 5-10 kali lebih besar dari arus nominal MCB.

    3. MCB Tipe D

    Jenis MCB listrik berikutnya adalah MCB Tipe D. Tipe MCB ini bisa ditemukan pada peralatan listrik yang menghasilkan lonjakan arus besar seperti pada perangkat kapasitor, transformator, peralatan las, atau mesin X-Ray. MCB Tipe D berpotensi mengalami trip ketika aliran listrik lebih besar 10-20 kali lipat dari beban yang seharusnya.

    4. MCB Tipe K

    MCB tipe K merupakan opsi komponen MCB yang bagus untuk berbagai jenis mesin. MCB tipe ini akan mengalami perubahan trip saat lonjakan arus mencapai 8-12 kali lebih besar dari batas maksimum beban yang direkomendasikan.

    5. MCB Tipe Z

    Berbeda dengan tipe MCB sebelumnya,MCB tipe Z bersifat khusus dan hanya diperuntukkan bagi perangkat-perangkat tertentu yang rentan terhadap korsleting, seperti semikonduktor. MCB tipe ini juga lebih sensitif, ia akan trip atau jeglek saat lonjakan arus mencapai 2-3 kali lipat lebih besar dari beban arus yang seharusnya.

    Fungsi MCB Listrik

    Setelah tadi membahas pengertian dan jenis-jenis MCB, berikut beberapa fungsi penting dari MCB dalam sistem listrik yang perlu diketahui:

    1. Pengaman dari Arus Pendek

    Seringkali kebakaran pada bangunan rumah atau pasar bersumber dari masalah hubungan arus pendek atau korsleting. Korsleting dapat terjadi karena sejumlah faktor, misalnya saja akibat mengambil sumber listrik langsung dari tiang listrik, sehingga arus listrik langsung dilewatkan ke saklar dan diteruskan ke lampu atau perangkat elektronik lain.

    Selain itu, bunga api juga dipicu karena tidak adanya pengaman yang mencegah instalasi listrik dari korsleting akibat beban arus yang melebihi batas kemampuan kabel. Karena itulah, MCB hadir sebagai pengaman sistem listrik dari risiko korslet.

    2. Sakelar Utama dalam Rumah

    Selain sebagai pengaman yang mencegah dari hubungan arus pendek, MCB juga memiliki fungsi penting sebagai saklar utama yang ada dalam setiap rumah. Dengan MCB, kita dapat memutus semua aliran listrik dalam rumah ketika ingin memasang lampu atau kotak-kontak (steker). Kemudian, MCB juga penting untuk memutus aliran listrik sementara saat meninggalkan rumah.

    3. Mengamankan Beban Berlebih

    Fungsi berikutnya dari MCB yaitu untuk memutus beban arus listrik berlebih. Biasanya, pelanggan telah mengontrak listrik dengan besar daya tertentu dengan PLN. Contohnya, pelanggan mengontrak daya sebesar 450 VA (Volt Ampere). Maka, saat daya yang digunakan sudah lebih dari 450 VA, MCB akan trip atau putus secara otomatis. Kabel pun akan disesuaikan dengan besar daya yang dikontrak oleh pelanggan.

    4. Mendistribusikan Energi Listrik

    Manfaat terakhir dari adanya MCB adalah untuk membagikan atau menyuplai energi listrik ke ruangan-ruangan dalam rumah secara merata. Pembagian energi listrik ini dilakukan dengan tujuan agar jaringan instalasi listrik dapat bertahan lama dan meminimalisir menumpuknya beban pada kabel instalasi listrik.

    Selain itu, MCB juga membantu mencegah pemadaman listrik secara keseluruhan dalam rumah, sehingga line MCB lain masih bisa berfungsi normal ketika terjadi korsleting. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Pemikiran-pemikiran yang Tersisa karya Guru-guru SMA/SMK/PK-PLK Jawa Timur.

    Dari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa penggunaan MCB sangat penting dalam menjaga efisiensi dan keamanan sistem listrik. Maka dari itu, pastikan untuk memilih jenis MCB yang tepat dan berkualitas tinggi bagi instalasi listrik di rumah atau kantor detikers ya.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Salah Pilih Kabel Listrik Bisa Bawa Petaka di Rumah


    Jakarta

    Memilih kabel listrik yang tepat untuk rumah adalah hal krusial yang sering diabaikan.

    Padahal, kesalahan dalam memilih kabel bisa menimbulkan berbagai risiko yang berbahaya, mulai dari kerusakan perangkat hingga kebakaran rumah.

    Overheating yang Berpotensi Kebakaran

    Salah satu risiko terbesar dari pemilihan kabel yang tidak sesuai adalah overheating. Kabel yang tidak mampu menahan arus listrik berlebih dapat memanas dengan cepat, melansir familyhandyman.com, tukang listrik biasanya menggunakan alat penguji tegangan non kontak, dan kamu juga sebaiknya memiliki alat tersebut.


    Jika dibiarkan, suhu tinggi ini dapat menyebabkan isolasi kabel terbakar, yang akhirnya berujung pada kebakaran rumah. Pastikan memilih kabel dengan kapasitas yang sesuai dengan beban listrik di rumah, konsultasikan dengan teknisi listrik jika kamu tidak yakin dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

    Korsleting Listrik

    Korsleting listrik terjadi ketika aliran listrik yang tidak sesuai atau arus pendek mengalir di dalam rangkaian. Ini biasanya disebabkan oleh penggunaan kabel yang tidak mampu menahan beban arus listrik yang besar. Korsleting tidak hanya dapat merusak perangkat elektronik, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran.

    Gunakan kabel dengan standar yang sudah teruji kualitasnya dan mampu menahan arus listrik yang diperlukan. Periksa juga instalasi listrik secara berkala untuk memastikan semua kabel dalam kondisi baik.

    Kerusakan Perangkat Elektronik

    Memilih kabel dengan spesifikasi yang salah, terutama yang tidak sesuai dengan kebutuhan arus listrik, bisa menyebabkan kerusakan perangkat elektronik. Ini disebabkan oleh arus listrik yang tidak stabil, yang membuat perangkat cepat rusak atau bahkan terbakar.

    Kamu bisa menggunakan kabel dengan ukuran yang tepat sesuai daya yang dibutuhkan oleh perangkat. Misalnya, untuk perangkat besar seperti AC dan kulkas, gunakan kabel dengan diameter yang lebih besar.

    Kejutan Listrik (Sengatan Listrik)

    Bahaya lain yang tak kalah serius adalah kejutan listrik. Ini bisa terjadi jika kabel yang dipilih tidak memiliki isolasi yang baik atau rusak. Risiko ini bisa sangat berbahaya, terutama jika penghuni rumah secara tidak sengaja menyentuh kabel yang terkelupas.

    Pilihlah kabel dengan isolasi yang tebal dan berkualitas baik. Hindari penggunaan kabel yang murah dan tidak jelas mereknya, karena biasanya memiliki kualitas isolasi yang buruk.

    Biaya Perbaikan yang Tinggi

    Memilih kabel yang salah bukan hanya menimbulkan risiko keselamatan, tetapi juga berdampak pada biaya perbaikan yang tinggi. Perangkat yang rusak akibat arus listrik yang tidak stabil atau korsleting membutuhkan biaya perbaikan atau penggantian yang mahal.

    Jangan berhemat pada kualitas kabel. Meskipun kabel berkualitas mungkin lebih mahal, ini adalah investasi jangka panjang yang akan melindungi rumah dan perangkat kamu dari kerusakan lebih lanjut.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Alasan Rumah Harus Pasang Aliran Listrik Terpisah Tiap Lantai



    Jakarta

    Rumah harus memiliki kapasitas listrik yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, apa pun perangkat elektronik yang akan digunakan dapat berfungsi. Salah satu yang bisa dilakukan agar aliran listrik sesuai dengan kebutuhan adalah dengan memasang MCB atau Miniature Circuit Breaker di beberapa tempat.

    Sebagai informasi, MCB merupakan komponen listrik yang dapat memutuskan aliran listrik di rumah. Biasanya aliran listrik yang mati disebabkan penggunaan yang berlebihan. Dengan satu tombol di MCB ini, kamu bisa mematikan dan menghidupkan lagi listrik di rumah. MCB ini letaknya di luar rumah.

    Menurut Produk Manager Produk Manager Schneider Electric Ivan Desian Kaulika, sebuah rumah yang memakai banyak perangkat elektronik, sebaiknya MCB-nya ditopang oleh beberapa MCB yang bekerja terpisah.


    Hal ini dikarenakan, rumah yang memiliki beberapa MCB dapat mencegah listrik di rumah mati seluruhnya apabila ada kerusakan. Jika masalah berada di lantai pertama, misalnya karena kebocoran listrik, maka yang perlu diperbaiki hanya lantai 1 saja. Listrik di lantai atas dapat beroperasi secara normal karena tidak terpengaruh.

    Cara ini juga dinilai cukup efektif karena biasanya perbaikan listrik memerlukan beberapa hari untuk datang ke rumah. Dengan hanya sebagian yang rusak, penghuni rumah tetap bisa beraktivitas seperti biasa, meskipun terbatas.

    “Jadi nggak satu rumahnya mati listriknya. Jadi kalau misalnya kita tahu matinya di situ, jadi tunggal listrik perbaikinya hanya di bagian itu saja. Jadi nggak perlu bongkar listrik satu rumah,” kata Ifan kepada detikProperti usai acara Innovation Talk: Rumah Nyaman Listrik Aman di Jakarta pada Rabu (2/10/2024).

    Lalu, alasan kedua adalah mencegah terjadinya korsleting listrik dan kebakaran di rumah.

    “Dengan makin banyak MCB, artinya dia kondisi korsletingnya lebih kecil kemungkinan terjadinya,” ujarnya.

    Cara menentukan jumlah MCB di rumah ditentukan dari jumlah kapasitas listrik yang dipakai di rumah. Semakin banyak perangkat listrik yang dipakai sebaiknya dipisah.

    Apabila rumah terdiri dari 2 lantai dan pemakaian listrik cukup besar dayanya, maka MCB sebaiknya dipisahkan. Dia menegaskan penentuan jumlah MCB per zona ini tidak ditentukan dari luas rumah.

    Lebih lanjut, dia menuturkan perangkat elektronik yang membutuhkan daya listrik yang besar adalah yang harus menghasilkan panas. Sebagai contoh water heater elektrik dan microwave. Selain itu, AC juga bisa menguras banyak daya listrik di rumah.

    “Elektronik yang paling banyak sebenarnya yang berhubungan dengan apa yang membuat panas. Water heater atau microwave, itu pasti pakai listrik aja. Atau yang membutuhkan gerak yang besar seperti AC,” pungkasnya.

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Belajar dari Kebakaran Mal di Jakbar, Ini Cara Cegah Korsleting Listrik


    Jakarta

    Kebakaran hebat terjadi pada sebuah mal di Grogol, Jakarta Barat pada Jumat (4/10) pukul 00.58 WIB. Kebakaran dilaporkan berasal dari lantai 5 gedung tersebut.

    Sekitar pukul 01.00 WIB, pihak pemadam kebakaran (damkar) mulai proses pemadaman api dan selesai pukul 03.05 WIB. Diduga, kebakaran tersebut dipicu dari korsleting listrik.

    “Menurut informasi yang diterima, api berasal dari salah satu cafe yang berada di lantai 5 bangunan tersebut. Diduga terjadi arus pendek/korsleting listrik pada salah satu restoran (food court) dan kondisi tertutup,” tulis damkar DKI Jakarta dalam keterangannya.


    Kebakaran akibat korsleting listrik memang kerap terjadi, baik itu di rumah, gedung perkantoran, hingga pusat perbelanjaan. Dilansir dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Banda Aceh, kebanyakan korsleting listrik asal mulanya karena kelalaian manusia. Salah satu contohnya adalah pemasangan kabel listrik yang tidak sesuai atau tidak merawat kabel listrik di rumah. Kabel listrik yang sudah terkelupas atau rusak karena tertekuk dapat mengakibatkan aliran listrik terganggu yang biasa memicu korsleting.

    Nah, berikut ini beberapa cara mencegah korsleting listrik agar terhindar dari kebakaran.

    1. Selalu Cabut Kabel Listrik Setelah Digunakan

    Kebanyakan orang setelah menggunakan perangkat elektronik, tidak langsung mencabut kabel pada stop kontak. Padahal itu berisiko penghuni rumah tersetrum dan korsleting listrik.

    2. Pilih Kualitas Peralatan Listrik yang Bermutu

    Pastikan peralatan listrik di rumah adalah produk baru dan berkualitas. Lebih baik membeli peralatan listrik dengan harga mahal, daripada rumah yang justru hangus terbakar. Cari peralatan listrik yang berkualitas, berlambang SNI atau LMK.

    3. Hindari Memakai Tusuk Kontak yang Terlalu Longgar

    Tusuk kontak adalah area kepala dan kaki dari kabel. Biasanya tusuk kontak adalah bagian yang dimasukkan ke dalam stop kontak. Tusuk kontak yang terlalu longgar, jika terpegang tangan bisa menyetrum dan tidak sedikit yang menimbulkan percikan.

    4. Jangan Memencet atau Memainkan MCB

    Mengotak-atik atau menyambung langsung (bypass) peralatan pengaman, baik sekring maupun Mini Circuit Breaker (MCB) dapat menyebabkan korsleting listrik.

    5. Minta Bantuan Ahli Saat Pemasangan Instalasi Listrik di Rumah

    Untuk pemasangan baru atau menambah instalasi listrik di rumah atau bangunan, serahkan pada ahli.

    6. Periksa Instalasi Listrik Secara Berkala

    Pemeriksaan dapat dilakukan kurang lebih setelah 10 tahun dan selanjutnya 5 tahun.

    7. Lakukan Perawatan Rutin

    Dilansir dari Sinar Mas Land, jadwalkan pemeriksaan rutin instalasi listrik oleh teknisi listrik profesional. Mereka akan memeriksa kabel, sambungan, dan komponen lainnya untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik.

    8. Hindari Beban Berlebih

    Jangan mencolokkan terlalu banyak perangkat ke satu stopkontak atau sirkuit. Gunakan kabel ekstensi dengan hati-hati dan pastikan kabel tersebut memiliki kapasitas yang cukup.

    9. Lindungi Kabel dan Perangkat Listrik dari Air

    Jauhkan kabel dan perangkat listrik dari sumber air atau kelembapan. Pastikan stopkontak dan saklar di area basah (seperti kamar mandi atau dapur) memiliki penutup pelindung.

    10. Pasang Alat Pelindung

    Pertimbangkan untuk memasang alat pelindung seperti MCB (Miniature Circuit Breaker) dan ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker). MCB melindungi dari kelebihan beban, sedangkan ELCB melindungi dari kebocoran arus yang bisa menyebabkan sengatan listrik.

    11. Sedia APAR

    Dilansir dari situs Pemerintah Kota Depok, sebaiknya di setiap rumah atau tempat usaha menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk penanganan pertama jika terjadi kebakaran. Tabung Apar 5 kg untuk skala rumah tangga dan tempat usaha 6 kg.

    Itulah beberapa cara mencegah terjadinya korsleting listrik. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Belajar dari Kebakaran Mal di Jakbar, Ini Cara Cegah Korsleting Listrik


    Jakarta

    Kebakaran hebat terjadi pada sebuah mal di Grogol, Jakarta Barat pada Jumat (4/10) pukul 00.58 WIB. Kebakaran dilaporkan berasal dari lantai 5 gedung tersebut.

    Sekitar pukul 01.00 WIB, pihak pemadam kebakaran (damkar) mulai proses pemadaman api dan selesai pukul 03.05 WIB. Diduga, kebakaran tersebut dipicu dari korsleting listrik.

    “Menurut informasi yang diterima, api berasal dari salah satu cafe yang berada di lantai 5 bangunan tersebut. Diduga terjadi arus pendek/korsleting listrik pada salah satu restoran (food court) dan kondisi tertutup,” tulis damkar DKI Jakarta dalam keterangannya.


    Kebakaran akibat korsleting listrik memang kerap terjadi, baik itu di rumah, gedung perkantoran, hingga pusat perbelanjaan. Dilansir dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Banda Aceh, kebanyakan korsleting listrik asal mulanya karena kelalaian manusia. Salah satu contohnya adalah pemasangan kabel listrik yang tidak sesuai atau tidak merawat kabel listrik di rumah. Kabel listrik yang sudah terkelupas atau rusak karena tertekuk dapat mengakibatkan aliran listrik terganggu yang biasa memicu korsleting.

    Nah, berikut ini beberapa cara mencegah korsleting listrik agar terhindar dari kebakaran.

    1. Selalu Cabut Kabel Listrik Setelah Digunakan

    Kebanyakan orang setelah menggunakan perangkat elektronik, tidak langsung mencabut kabel pada stop kontak. Padahal itu berisiko penghuni rumah tersetrum dan korsleting listrik.

    2. Pilih Kualitas Peralatan Listrik yang Bermutu

    Pastikan peralatan listrik di rumah adalah produk baru dan berkualitas. Lebih baik membeli peralatan listrik dengan harga mahal, daripada rumah yang justru hangus terbakar. Cari peralatan listrik yang berkualitas, berlambang SNI atau LMK.

    3. Hindari Memakai Tusuk Kontak yang Terlalu Longgar

    Tusuk kontak adalah area kepala dan kaki dari kabel. Biasanya tusuk kontak adalah bagian yang dimasukkan ke dalam stop kontak. Tusuk kontak yang terlalu longgar, jika terpegang tangan bisa menyetrum dan tidak sedikit yang menimbulkan percikan.

    4. Jangan Memencet atau Memainkan MCB

    Mengotak-atik atau menyambung langsung (bypass) peralatan pengaman, baik sekring maupun Mini Circuit Breaker (MCB) dapat menyebabkan korsleting listrik.

    5. Minta Bantuan Ahli Saat Pemasangan Instalasi Listrik di Rumah

    Untuk pemasangan baru atau menambah instalasi listrik di rumah atau bangunan, serahkan pada ahli.

    6. Periksa Instalasi Listrik Secara Berkala

    Pemeriksaan dapat dilakukan kurang lebih setelah 10 tahun dan selanjutnya 5 tahun.

    7. Lakukan Perawatan Rutin

    Dilansir dari Sinar Mas Land, jadwalkan pemeriksaan rutin instalasi listrik oleh teknisi listrik profesional. Mereka akan memeriksa kabel, sambungan, dan komponen lainnya untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik.

    8. Hindari Beban Berlebih

    Jangan mencolokkan terlalu banyak perangkat ke satu stopkontak atau sirkuit. Gunakan kabel ekstensi dengan hati-hati dan pastikan kabel tersebut memiliki kapasitas yang cukup.

    9. Lindungi Kabel dan Perangkat Listrik dari Air

    Jauhkan kabel dan perangkat listrik dari sumber air atau kelembapan. Pastikan stopkontak dan saklar di area basah (seperti kamar mandi atau dapur) memiliki penutup pelindung.

    10. Pasang Alat Pelindung

    Pertimbangkan untuk memasang alat pelindung seperti MCB (Miniature Circuit Breaker) dan ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker). MCB melindungi dari kelebihan beban, sedangkan ELCB melindungi dari kebocoran arus yang bisa menyebabkan sengatan listrik.

    11. Sedia APAR

    Dilansir dari situs Pemerintah Kota Depok, sebaiknya di setiap rumah atau tempat usaha menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk penanganan pertama jika terjadi kebakaran. Tabung Apar 5 kg untuk skala rumah tangga dan tempat usaha 6 kg.

    Itulah beberapa cara mencegah terjadinya korsleting listrik. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Begini 4 Cara Perbaiki Kebocoran Listrik di Rumah


    Jakarta

    Kebocoran listrik adalah kondisi saat arus listrik mengalir di luar jalur yang seharusnya. Kondisinya dapat berbahaya karena listrik dapat menyambar ke benda atau bahkan penghuni rumah.

    Menurut SPV Teknik PLN ULP Sawangan Depok, Yudhi Maharsa Jaya kebocoran listrik akan lebih berbahaya apabila dekat dengan media yang sifatnya penghantar listrik seperti besi dan air.

    “Misalkan jalur kabel itu melewati besi. Nah itu mungkin ada sedikit sengatan, (meskipun) kebocorannya masih kecil, bisa tersetrum lah bahasa kasarnya,” kata Yudhi kepada detikProperti pada Kamis (31/10/2024).


    “(Aliran dekat air) Itu ngaruh juga karena kalau setahu saya, saya pernah kejadian terkait instalasi yang bocor ke arah pemanas kamar mandi. Air itu kan pengantar yang bagus untuk listrik,” lanjutnya.

    Selain dapat membahayakan keselamatan, kebocoran listrik juga dapat memicu korsleting listrik dan kebakaran. Peralatan listrik juga jadi cepat rusak karena daya yang diterima bisa jadi lebih besar dari yang bisa diproses.

    Kerugian lainnya adalah tagihan listrik dipastikan membengkak setiap bulan karena pemakaian listrik yang berlebihan meskipun sudah mengurangi penggunaan perangkat elektronik.

    “Tagihan listrik kita kan naik terus ya, maksudnya kayak gede. Jadi kenapa sih masyarakat sering kan kontraknya saya agak bengkak itu (karena kebocoran listrik),” jelasnya.

    Cara Mengatasi Kebocoran Listrik

    1. Cek Listrik di Rumah Bocor atau Tidak

    Apabila kamu merasa tagihan listrik tiap bulan besar nominalnya, sementara penggunaan listrik tidak seberapa, coba periksa kebocoran listrik melalui meteran listrik atau kWh meter. Pastikan meteran listrik di rumah berjenis pra bayar yang memiliki tombol.

    Pada saat mengecek ini, kamu harus mematikan semua perangkat listrik dan mencabut kabel dari stop kontak. Lalu, meteran listrik juga dalam keadaan mati. Setelah itu pencet angkat ’44’ lalu enter.

    Lihat angka yang muncul di layar. Apabila yang muncul angka ‘0’ maka listrik di rumah tidak bocor. Namun, apabila muncul angka lain, maka listrik di rumah kamu mengalami kebocoran.

    “Harusnya kan itu menunjukkan angka 0. Tapi misalkan ada angka 1, 2, atau 1,3, nah itu kan ada kebocoran di sisi instalasi,” ungkapnya.

    2. Laporkan ke PLN

    Kamu harus segera melaporkan temuanmu itu PLN, bisa dengan menghubungi nomor bantuan atau melalui aplikasi yakni PLN Mobile. Masuk ke fitur ‘ListriQu’ di aplikasi PLN Mobile lalu jelaskan keluhan listrik di rumah.

    3. Tunggu Petugas PLN Datang

    Agar kerusakan tidak parah, lebih baik menunggu pemeriksaan dari PLN. Biaya pemeriksaan tidak dipungut biaya operasional apa pun.

    “Ya (gratis) misalkan hanya pengaduan, kita datang pengecekan,” ujarnya.

    4. Penggantian Kabel

    Apabila letak masalahnya pada pemasangan kabel atau kondisi kabel yang sudah tidak layak, maka ada pergantian kabel.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Tips Antisipasi Sambaran Petir Biar Seisi Rumah Aman


    Jakarta

    Hujan lebat kerap kali disertai petir, sehingga berpotensi menyambar rumah. Meski kamu merasa aman berlindung di dalam rumah, fenomena ini bisa menyebabkan sejumlah kerusakan.

    Sambaran petir dapat menimbulkan kerusakan atap, korsleting listrik, bahkan kebakaran. Tentu kamu nggak akan mau mengalami hal seperti ini kan?

    Oleh karena itu, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi sambaran petir. Yuk, simak apa tipsnya berikut ini seperti yang dikutip dari Family Handy.


    Tips Antisipasi Sambaran Petir Kena Rumah

    Inilah cara mengantisipasi rumah tersambar petir agar rumah beserta isinya tidak rusak.

    1. Pasang Penangkal Petir

    Penangkal petir adalah alat paling penting yang harus dipasang di rumah dan tidak boleh dilupakan terutama untuk bangunan tinggi. Bentuk penangkal listrik ini sederhana yakni sebuah batang logam yang ditancapkan di ujung atap.

    Batang itu dihubungkan ke kawat tembaga yang mengalir ke tanah, dihubungkan dengan batang logam lain yang terkubur di bawah tanah. Dengan begitu, tegangan dapat disalurkan dengan aman ke bumi. Selain itu, kamu juga bisa memasang penangkal petir internal pada panel listrik atau barang-barang elektronik.

    2. Pasang Perangkat Pelindung Lonjakan Listrik

    Petir membawa muatan listrik yang besar, sehingga ada potensi terjadi lonjakan listrik di rumah kalau tersambar petir. Lonjakan listrik ekstrem dapat menyebabkan listrik di rumah padam hingga korsleting. Parahnya jika korsleting tersebut disertai ledakan dapat menyebabkan kebakaran.

    Solusinya adalah dengan memasang Surge Protector atau perangkat pelindung lonjakan arus. Pelindung ini dapat mencari, memblokir, dan mengalihkan tegangan di rumah. Alat ini sudah banyak dijual secara online dan mudah dipakai.

    3. Cabut Kabel Perangkat Elektronik

    Saat hujan disertai badai dan petir, sebaiknya tidak menyalakan perangkat elektronik seperti televisi, komputer, kabel pengisi daya ponsel, hingga peralatan portable. Sedangkan, untuk perangkat yang terkadang nggak bisa asal dimatikan yakni mesin cuci, pengering, dan kompor, atau kulkas sebenarnya masih aman asalkan tidak dipakai saat hujan badai.

    Itulah beberapa hal yang bisa kamu persiapkan untuk mengantisipasi hujan disertai petir. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Sakelar Lampu Terasa Panas dan Menyetrum? Bisa Jadi Ini 3 Penyebabnya!


    Jakarta

    Pada setiap instalasi lampu di rumah, pasti ada saklar untuk menyalakan dan mematikan lampu. Normalnya, saklar lampu aman dipegang karena memakai bahan yang tahan dari aliran listrik. Namun, pernahkah kamu merasa saklar di rumah terasa panas atau hangat? Kira-kira hal tersebut normal atau bahaya?

    Dilansir The Spruce, sakelar lampu yang terasa hangat adalah fenomena yang wajar karena panas yang terasa merupakan proses pembuangan panas dari aliran listrik.

    Maka dari itu, agar lebih aman digunakan bahan saklar biasanya memakai bahan dari plastik karena tahan terhadap aliran listrik, tahan rayap, dan tidak korosi. Plastik juga tahan lama dan mudah dibentuk untuk menyesuaikan desain interior di rumah.


    Sakelar lampu yang tidak bisa membuang panas dalam jangka waktu lama justru lebih berbahaya. Panas tersebut dapat merusak insulasi atau pengaman kabel. Kemudian, menimbulkan retakan dan jika sudah parah dapat memicu kebocoran pada aliran listrik. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya korsleting, gangguan busur listrik, hingga kebakaran.

    Hal yang harus kamu waspadai adalah apabila saklar yang panas tersebut juga disertai dengan kejutan atau aliran listrik yang terasa saat dipegang. Jika sudah seperti ini, kamu perlu berhati-hati dan memperbaiki saklar tersebut. Namun sebelum itu, ketahui dahulu beberapa penyebab saklar listrik panas hingga disertai kejut dari listrik.

    1. Besar Daya Listrik yang Tidak Sesuai dengan Kabel

    Saat memasang instalasi listrik, jenis kabel harus disesuaikan dengan besar daya yang digunakan. Perbedaan jenis kabel dan muatan justru dapat menimbulkan panas yang terasa hingga ke saklar. Semakin banyak panas yang ditimbulkan, bisa terjadi kebocoran yang dapat memicu korsleting listrik.

    2. Sambungan Kabel Longgar

    Penyebab kedua bisa karena sambungan kabel yang longgar. Untuk mengetahui hal ini dan cara perbaikannya, sebaiknya kamu memanggil tenaga ahli agar lebih aman.

    3. Pemasangan Instalasi Listrik yang Tidak Sesuai

    Pemasangan kabel yang tidak sesuai dapat menghambat arus listrik. Aliran listrik yang tidak benar membuat panas yang dihasilkan mengarah ke sakelar lampu. Cara memperbaikinya kamu perlu meminta bantuan ahli dan listrik di rumah perlu dimatikan sementara.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com