Tag: kuman

  • 5 Alat Kebersihan yang Harus Sering Diganti Agar Tak Jadi Sarang Kuman


    Jakarta

    Peralatan kebersihan di rumah tidak bisa digunakan selamanya. Barang-barang tersebut harus diganti secara berkala, terutama jika tampilannya sudah tidak bagus dan tidak nyaman dipakai.

    Apabila peralatan kebersihan tidak diganti, bukan hanya menyulitkan penggunanya karena sudah tidak nyaman dipakai, melainkan bisa jadi sarang kuman pada barang lain. Bukan membersihkan, justru peralatan ini membawa kuman.

    Dilansir The Spruce, berikut 5 peralatan kebersihan yang harus diganti secara berkala.


    1. Spons Cuci Piring

    Saat mencuci piring alat yang digunakan adalah spons untuk mengusap kotoran dan sabun. Spons yang masih baru biasanya bentuknya kotak dan ada bagian yang keras. Namun, setelah lama digunakan bentuknya akan menyusut dan lebih lentur.

    Ternyata spons yang berubah bentuknya harus langsung dibuang. Spons tidak disarankan untuk dipakai hingga berminggu-minggu. Jika spons sudah pecah dan berbau selain sabun berarti harus diganti karena bisa menjadi sarang kuman.

    2. Kain Pel

    Sama seperti spons, penggunaan kain pel juga perlu dicelupkan ke dalam air. Perubahan bentuk sangat mungkin terjadi dari waktu ke waktu.

    Untuk kain pel berbahan mikrofiber disarankan hanya dipakai selama 6-9 bulan. Hal ini dikarenakan kain pel sudah tidak layak lagi digunakan untuk membersihkan lantai. Bukannya membersihkan, kain pel justru jadi sumber kuman.

    Jika menggunakan kain pel berbahan benang masa pemakaiannya hanya 2 bulan dan untuk kain pel berbahan spons harus diganti setelah pemakaian 3-6 bulan.

    3. Sapu

    Sapu harus langsung diganti dengan yang baru saat melihat bulunya sudah kaku dan tidak nyaman lagi ketika dipakai. Biasanya masa pemakaian sapu 1-2 tahun, tetapi jika sudah tidak nyaman sebelum itu, tidak ada salahnya mengganti yang baru.

    4. Filter Vacuum Cleaner

    Bagi pengguna vacuum cleaner, di dalam alat tersebut terdapat filter atau penyaring debu. Filter ini sebenarnya bisa dicuci secara berkala setelah dipakai, tetapi disarankan pula setiap 3-6 bulan sekali filter tersebut diganti.

    5. Sikat Toilet

    Setiap toilet pasti memiliki sikat untuk membersihkan kloset. Sikat ini pasti menjadi sumber kuman karena penggunaannya. Disarankan untuk mengganti sikat toilet setiap enam bulan sekali dan setelah dipakai harus selalu dibersihkan dengan sabun.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Habis Ngepel Malah Bau Amis? Ini Cara biar Lantai Kinclong dan Wangi


    Jakarta

    Lantai harus rajin dipel agar kinclong dan wangi. Namun, cara ngepel yang kurang tepat justru menimbulkan bau amis pada lantai.

    Hal ini bisa menandakan lantai sebenarnya masih kotor, lho. Alhasil, penghuni rumah menjadi kurang nyaman berjalan di atas lantai kotor sambil menghirup bau yang tidak sedap.

    Lantas, apa yang bikin lantai amis setelah dipel? Simak penjelasan dan tips ngepel berikut ini.


    Penyebab Lantai Bau Amis Setelah Dipel

    Inilah beberapa alasan lantai bau amis setelah dipel beserta cara menyiasatinya, dikutip dari Cleanpedia.

    1. Kain Pel Kotor

    Bau tak sedap pada lantai setelah dipel bisa disebabkan dari kain pel yang sudah kotor. Kain pel yang kotor pastinya tidak akan bisa membersihkan lantai kamu dengan optimal.

    Oleh karena itu, kamu perlu menjaga kebersihan kain pel. Caranya dengan mencuci kain pel secara rutin dengan detergen, lalu dijemur hingga kering.

    Pel yang lembap akibat disimpan dengan cara yang salah akan menyebabkan bau tidak sedap yang menempel di lantai. Selain itu, sebaiknya mengganti kain pel setiap tiga bulan sekali.

    2. Air Pel Kotor

    Salah satu biang kerok lantai bau amis usai dipel adalah penggunaan air yang kotor. Jangan mengepel lantai dengan air yang sudah butek dan berbau.

    Kamu perlu rajin mengganti air pel dengan yang bersih. Kamu juga bisa menggunakan air hangat supaya kotoran yang menempel di lantai keramik bisa dibersihkan dengan lebih mudah.

    3. Ember Kotor

    Ember pel yang sering digunakan lama-lama akan kotor. Bila ember tak dibersihkan secara rutin, ember akan berkerak dan kotor akibat sisa sabun dan kotoran yang tertinggal. Kalau menggunakan air dari ember kotor, tentu akan mempengaruhi kebersihan lantaimu.

    Setelah digunakan, sebaiknya membersihkan ember pel dan dikeringkan. Kamu juga bisa menjemurnya di bawah sinar matahari untuk membantu sanitasi pel.

    4. Cara Pel yang Kurang Tepat

    Lantai yang bau amis setelah dipel bisa disebabkan oleh cara mengepel yang kurang tepat. Kamu perlu menggunakan alat dan metode ngepel yang cocok dengan jenis lantai supaya bersih menyeluruh. Bila lantai dibersihkan dengan lebih baik, bau tak sedap pun lebih mudah dicegah.

    Lantai keramik biasanya lebih fleksibel dibersihkan dengan berbagai jenis kain pel. Jika lantai rumah kamu terbuat dari jenis lantai lain, bersihkan lantai kamu dengan jenis pel yang tepat.

    Gunakan gerakan yang tepat saat membersihkan lantai sesuai dengan alat pel yang kamu gunakan. Kain pel dengan kepala serupa rumbai-rumbai tali sebaiknya menggunakan gerakkan menyerupai angka delapan.

    Sementara pel yang terbuat darispons dibersihkan lantai dengan gerakan maju mundur. Cara mengepel lantai seperti ini membantu kamu menjangkau seluruh permukaan lantai, sehingga lebih bersih.

    5. Tidak Menggunakan Cairan Pembersih dan Pewangi

    Bau tak sedap menandakan lantai sebenarnya belum bersih. Kamu harus membasmi bau beserta kuman dan bakteri menggunakan cairan pembersih. Kamu juga dapat menggunakan pembersih lantai dengan pewangi agar lantai jadi bau harum dan segar.

    Itulah penyebab lantai bau amis setelah dipel beserta cara supaya kinclong dan wangi. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    Lihat juga Video ‘Lantai Bau Amis Setelah Dipel? Ini Alasannya’:

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah Kloset Harus Tertutup Saat Menekan Tombol Flush? Ini Kata Ahli



    Jakarta

    Kloset duduk memiliki penutup yang berfungsi untuk mencegah penyebaran kuman, bau, dan cipratan air. Banyak yang menyarankan ketika kita hendak menyiram lubang kloset, sebaiknya penutup tersebut diturunkan hingga lubang tersebut tertutup. Kira-kira apa ya alasannya?

    Dilansir Better Homes and Garden, seorang CEO dan pemilik AK Building Service, Shari Cedar, mengatakan ketika flush ditekan dan air keluar untuk membersihkan lubang kloset akan muncul aerosol yang mengandung bakteri dan virus ke permukaan kamar mandi dan udara di sekitar. Oleh karena itu, lebih baik kloset dalam keadaan tertutup.

    Sebagai informasi, aerosol merupakan partikel halus di udara yang dapat membawa patogen seperti E. coli, C. difficile, norovirus, dan adenovirus, di udara dan di seluruh kamar mandi.


    Namun, Arianna Castro, seorang manajer komunikasi ilmiah di P&G, mengungkapkan dalam studi The American Journal of Infection Control bahwa menutup tutup toilet sebelum menyiram tidak benar-benar mengurangi penyebaran partikel virus.

    Kajian tersebut tetap menyarankan kloset perlu diberi disinfektan secara teratur untuk membunuh partikel-partikel kuman yang mungkin menempel di kamar mandi.

    Castro menekankan menutup kloset ketika menyiram memang hanya membatasi jangkauan semburan, tetapi risiko penyebarannya tetap dapat terjadi karena beberapa kuman dapat bertahan pada air kloset setelah beberapa kali penyiraman.

    “Lebih buruk lagi, beberapa kuman bertahan di air toilet selama beberapa kali pembilasan, yang berarti risikonya tidak hilang setelah satu kali pembilasan. Bagaimana jika Anda menggunakan toilet umum tanpa penutup? Kuman itu akan menyebar ke mana-mana,” jelas Cedar, seperti yang dikutip Sabtu (5/4/2025).

    Sebuah penelitian dari University of Colorado melakukan uji coba untuk mengetahui efek dari penyebaran partikel kuman dan bakteri saat flush ditekan. Mereka menggunakan laser berdaya tinggi untuk memvisualisasikan efeknya.

    Ternyata partikel kuman dan bakteri tersebut dapat berceceran ke segala arah dengan kecepatan 20 meter per detik, mencapai ketinggian 14 meter hanya dalam waktu 8 detik.

    Jadi, Cedar maupun Castro mengatakan lebih baik menutup kloset saat hendak menyiram. Meskipun tidak menjamin kamar mandi aman dari bakteri, setidaknya partikel kuman dan bakteri tidak jatuh ke area yang lebih jauh di kamar mandi. Mereka setuju bahwa tidak ada salahnya menutup tutup toilet saat menyiram toilet.

    “Berdasarkan penelitian yang ada, saya rasa sangat disarankan untuk menutup toilet saat menyiramnya guna meminimalkan penyebaran patogen melalui udara dan meningkatkan praktik kebersihan yang lebih baik,” tutur Castro.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Air Panas atau Dingin? Ini Suhu Terbaik untuk Mengepel Lantai



    Jakarta

    Suhu air ternyata cukup berpengaruh terhadap hasil saat mengepel lantai. Suhu air menjadi faktor tambahan selain penggunaan sabun dan pewangi.

    Penentuan suhu air dalam mengepel juga bisa berpengaruh untuk membersihkan lantai dari debu, bakteri dan kuman yang tak kasat mata. Oleh karena itu, suhu pada air berpengaruh pada kebersihan saat mengepel lantai. Ada dua jenis suhu air, yakni dingin dan panas.

    Lantas, mana yang lebih baik untuk mengepel lantai?


    Air Panas vs Air Dingin, Mana yang Lebih Baik?

    Mengutip dari Home Viable, penggunaan air panas ternyata lebih efektif membunuh kuman di lantai. Selain itu, air panas juga lebih mudah menghilangkan noda, lemak, dan kotoran yang menempel di lantai dibandingkan mengepel dengan air dingin.

    Bahan pembersih lantai juga dapat bekerja lebih efektif jika dicampurkan dengan air panas.

    Namun, tidak semua jenis lantai bisa terkena air panas karena sifatnya yang tidak begitu kuat untuk menahan suhu tinggi. Beberapa jenis lantai yang tidak bisa dibersihkan dengan air panas adalah lantai kayu, lantai vinyl, dan lantai yang dilaminasi.

    Jenis-jenis lantai seperti ini lebih baik menggunakan air dingin saat mengepel.

    Cara mengepelnya pun tidak sembarangan. Jenis lantai dari kayu, lantai vinyl, dan lantai yang dilaminasi cukup rentan terhadap air dan suhu yang lembap. Oleh karena itu, kamu perlu mengeringkan kain pel terlebih dulu agar saat mengepel tidak begitu basah.

    Untuk jenis lantai yang mahal seperti marmer, penggunaan air panas sama sekali tidak masalah karena bahannya kuat menerima suhu tinggi.

    Jika lantai rumah kamu memakai ubin, keramik dan porselen lebih disarankan memakai air dingin ketika hendak mengepel. Sebab, mengepel dengan air panas justru dapat merusak permukaan keramik.

    Tips lain saat mengepel lantai adalah hindari menuangkan cairan pembersih terlalu banyak saat mengepel lantai vinyl. Cairan kimia yang terlalu banyak justru bisa merusak permukaannya.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Ternyata Ini Manfaat Bantal dan Guling Perlu Dijemur di Bawah Sinar Matahari


    Jakarta

    Bantal dan guling adalah perlengkapan tidur yang harus terjaga kebersihannya. Sebab, kedua benda ini menempel langsung pada pakaian dan tubuh. Apabila pakaian tersebut kotor dan tubuh bau atau berkeringat, bantal dan guling juga bisa ikut kotor dan muncul bau.

    Salah satu cara untuk membersihkan bantal dan guling dari kuman adalah dengan menjemur di bawah sinar matahari. Cara ini telah dilakukan oleh banyak keluarga sejak zaman dahulu. Apalagi dahulu bahan yang dipakai untuk bantal dan guling berasal dari kapuk.

    Selain untuk melindungi bantal dan guling dari pertumbuhan jamur dan bakteri, menjemur keduanya juga memiliki banyak manfaat lain. Dilansir BTN Properti, berikut beberapa di antaranya.


    Manfaat Jemur Bantal & Guling

    1. Menjaga Kesehatan Kulit

    Seperti yang disebut sebelumnya, bantal dan guling bisa kotor dari keringat dan minyak tubuh yang menempel atau kotoran lain yang menempel di pakaian. Kotoran ini bisa memicu masalah kulit pada penggunanya seperti jerawat, alergi, hingga iritasi. Menjemur bantal dan guling secara rutin dapat mengeringkan keringat dan minyak untuk mengurangi risiko permasalahan pada kulit.

    2. Mencegah Tumbuhnya Jamur-Mikroorganisme

    Jamur, bakteri, atau mikroorganisme lainnya sangat menyukai lingkungan yang lembap dan kotor. Keringat membuat bantal dan guling lembap dan itu adalah area yang disukai oleh jamur dan bakteri. Jamur dan tungau dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti memicu alergi, asma, maupun iritasi kulit. Belum lagi, kulit mati yang menempel di bantal dan guling dapat menarik tungau berdatangan.

    Mikroorganisme jahat tersebut dapat diatasi dengan sering mengganti seprai dan menjemur bantal dan guling yang digunakan. Sebab, panas membuat bantal dan guling tidak lembap dan mematikan mikroorganisme yang tak suka hawa panas.

    3. Mengurangi Bau Tidak Sedap

    bau tak sedap biasanya ditimbulkan dari bakteri atau jamur yang tengah aktif. Dengan menjemur pakaian, jamur dan mikroorganisme tidak ada yang dapat hidup sehingga tidak ada bau yang muncul.

    4. Memperpanjang Umur Perlengkapan Tidur

    Dengan kondisi bantal dan guling selalu bersih dan aman dipakai, tentu membuat perlengkapan tersebut nyaman dipakai dan tidak mudah rusak. Menjemur bantal dan guling secara teratur dapat membantu mengurangi kelembaban yang dapat merusak bahan bantal-guling. Dengan merawat perlengkapan tidur dengan baik tentunya akan bertahan dalam jangka waktu yang lama, sehingga kamu tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk menggantinya.

    Tips Menjemur Bantal dan Guling Agar Tak Merusak Bahan

    1. Cek Petunjuk Perawatan

    Menjemur di bawah sinar matahari pasti meletakkan benda untuk menerima panas. Tidak semua bahan dapat tahan terhadap panas berlebih. Oleh karena itu, sebelum menjemur pastikan bahan bantal dan guling yang digunakan bisa untuk menerima panas tersebut.

    2. Hindari Paparan Langsung Matahari Terlalu Lama

    Cara paling aman, agar tidak merusak bahan bantal dan guling adalah menghindari paparan langsung sinar matahari. Sebab, ada beberapa bahan yang rentan terhadap sinar UV yang bisa menyebabkan perubahan warna dan mengubah ukuran asli perlengkapan tidur.

    3. Pilih Waktu yang Tepat

    Pilih waktu yang tepat saat menjemur perlengkapan tidur, misalnya saat matahari tidak terlalu terik. Matahari pagi atau sore cocok untuk menjemur perlengkapan tidur.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Lakukan 5 Kebiasaan Ini Saat Membersihkan Rumah


    Jakarta

    Membersihkan rumah perlu dilakukan agar ruangan tetap bersih dan rapi. Nah, saat membersihkan rumah ini ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya tidak dilakukan.

    Sebab, kebiasaan-kebiasaan tersebut terkadang membuat kegiatan bersih-bersih kurang maksimal atau bahkan bisa merusak barang. Apa saja kebiasaan itu?

    Dilansir dari Southern Living, berikut ini kebiasaan-kebiasaan yang sebaiknya dihindari saat membersihkan rumah.


    1. Tidak Melakukan Deep Cleaning

    Membersihkan rumah secara menyeluruh atau deep cleaning perlu dilakukan. Sebab, biasanya rumah hanya dibersihkan pada bagian permukaan yang terlihat kotor sementara bagian belakang furniture kerap terabaikan.

    2. Menyemprot Pembersih Langsung ke Permukaan

    Saat membersihkan permukaan perabotan, sebaiknya tidak menyemprotkannya secara langsung. Akan lebih baik jika pembersih disemprotkan ke lap atau sponge terlebih dahulu untuk mencegah penggunaan berlebihan mengurangi terhirupnya cairan semprotan.

    3. Tidak Membersihkan Alat Bersih-bersih

    Alat bersih-bersih juga perlu dibersihkan lho detikers. Hal itu karena peralatan tersebut sering digunakan untuk membersihkan kotoran dan diletakkan di tempat yang terbuka di rumah.

    Menurut Presiden dan Co-CEO AspenClean, Alicia Sokolowski, tidak membersihkan alat bersih-bersih bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri. Jangan lupa untuk menaruh kembali di tempatnya setelah alat-alat itu digunakan.

    4. Tidak Memberi Waktu Cairan Pembersih Bekerja

    Biasanya saat membersihkan noda, penghuni rumah ingin cepat-cepat selesai. Padahal, kesabaran adalah kunci dalam membersihkan noda membandel.

    Saat membersih noda, diamkan produk pembersih selama beberapa saat dan biarkan bahan kimianya bekerja.

    “Anda juga harus membiarkan disinfektan selama waktu kontak yang disarankan sebelum mengelapnya. Ini memastikan disinfektan membunuh kuman dan bakteri secara efektif,” tutur Sokolowski.

    5. Pakai Pembersih Tertentu pada Permukaan yang Tidak Direkomendasikan

    Ambil contoh pembersih kaca. Kebanyakan pembersih kaca mengandung amonia atau cuka untuk menghilangkan noda seperti air sadah dan noda.

    Menggunakan pembersih kaca untuk permukaan selain kaca, seperti granit, kayu, maupun logam tidak direkomendasikan bahkan bisa menyebabkan kerusakan. Tak hanya itu, warna pada permukaan dengan material tersebut juga bisa berubah seiring waktu.

    Hal yang sama berlaku untuk pembersih toilet, yang dibuat untuk mengatasi noda membandel dan kuman yang hanya ada di mangkuk toilet. Pembersih ini sering kali mengandung asam klorida atau pemutih yang dapat merusak lapisan permukaan, mengubah warna material, atau menyebabkan berbagai bentuk kerusakan jika digunakan pada barang-barang lainnya.

    Itulah beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari saat membersihkan rumah. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah Lilin Ampuh Usir Lalat di Sekitar Makanan? Ini Jawabannya



    Jakarta

    Lalat merupakan salah satu hewan yang kerap ditemukan di rumah. Serangga satu ini kehadirannya tidak diinginkan karena tubuhnya kotor sehingga harus dijauhkan jangkauan makanan.

    Kita tidak pernah tahu lalat sudah hinggap di mana saja. Namun, beberapa penelitian mendapati pada kaki lalat terdapat banyak sekali bakteri dan kuman yang berbahaya apabila menempel di makanan. Kotoran yang disebar oleh lalat ke makanan, apabila tak sengaja dikonsumsi dapat menyebabkan diare, kolera, salmonella, hingga tuberkulosis.

    Jika kamu pernah lihat, di pasar banyak pedagang yang memasang lilin di jualan mereka, terutama yang menjual makanan dengan bau yang menyengat. Lilin tersebut bukan untuk menerangi dagangan atau sebagai ‘penglaris’, fungsi lilin di sini adalah untuk mengusir lalat. Lho emang ampuh?


    Dilansir Express, menurut Jordan Foster, seorang ahli pengendalian hama dari Fantastic Pest Control, mengatakan meletakkan lilin di tengah piring berisi air dapat mengusir lalat. Trik jebakan ini kerjanya mirip dengan cara menangkap laron.

    Kedua serangga tersebut mudah tertarik pada cahaya. Saat mereka mengira air adalah sumber cahaya, lalat akan terperangkap di air dan sulit keluar.

    Namun, pada saat meletakkan lilin dan air, usahakan ruangan tersebut gelap dan tidak ada sumber cahaya lain yang dapat mengalihkan perhatian lalat. Apabila memakai lilin di luar ruangan, kurang efektif.

    Ahli juga menyarankan untuk mengganti air dengan cuka. Seperti yang kita ketahui, lalat memiliki indra penciuman yang tajam. Cuka memiliki bau yang kuat sehingga mengganggu lalat untuk menemukan sumber bau makanannya.

    Ada pun cara untuk membuat jebakan ini adalah dengan menyiapkan dua sendok makan cuka sari apel, satu sendok makan gula, setengah cangkir air hangat, dan beberapa tetes sabun cuci piring.

    “Aduk hingga merata. Setelah cairan siap, tuang campuran ke dalam mangkuk. Letakkan di dekat area yang sering dihinggapi lalat,” ujarnya seperti yang dikutip detikcom, Selasa (15/4/2025).

    Meskipun cuka baunya tidak disukai lalat, tetapi karena sudah dilarutkan bersama gula, efeknya akan berbeda, yakni menarik mereka datang. Setelah lalat masuk ke dalam larutan mereka dapat mati seketika.

    Jordan juga mengingatkan selain memasang perangkap, pemilik rumah juga harus menjaga kebersihan rumah agar lalat tidak lagi tertarik masuk ke rumah. Selain itu, hindari menyimpan makanan dan minuman busuk atau kadaluarsa di dalam rumah. Lebih baik langsung buang ke luar untuk menghindari lalat buah atau lalat besar datang.

    Lalu, saluran pembuangan juga harus sering dicek dan dibersihkan agar tidak menarik lalat datang.

    “Sebaiknya Anda membeli saringan halus untuk menyaring remah-remah dan sisa makanan agar tidak masuk ke dalam pipa yang jauh lebih sulit dibersihkan,” tuturnya.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Handuk Masih Bau Setelah Dicuci? Ini Penyebabnya



    Jakarta

    Handuk merupakan salah satu jenis kain pengering badan yang biasa digunakan sehabis mandi. Handuk juga harus dicuci walau tidak setiap hari, sebab handuk juga menyimpan kuman dan bakteri. Namun, pernahkah kamu merasa handuk masih bau bahkan setelah dicuci?

    Dilansir dari situs Homes To Love, pada Senin (21/04/2025), bau tersebut diakibatkan oleh adanya endapan detergen pada handuk. Sederhananya, residu sabun menumpuk pada serat handuk dan mencegah penyerapan air sehingga handuk tidak dapat kering dengan maksimal.

    Salah satu solusi agar handuk tidak bau setelah dicuci adalah membersihkannya menggunakan cuka putih dan soda bikarbonat. Selain menghilangkan bau, cuka putih dan soda bikarbonat membuat handuk terasa lembut dan seperti baru.


    Kamu bisa melakukan pembersihan pakai cuka putih dan soda bikarbonat apabila handuk sudah berjumbai atau usang, tidak lagi menyerap, dan masih bau setelah dicuci. Adapun, cara mencucinya adalah sebagai berikut.

    1. Masukkan handuk ke dalam mesin cuci dan secangkir cuka putih sebagai pengganti detergen, lalu cuci dengan air panas.
    2. Saat menekan tombol bilas, tambahkan setengah cangkir soda bikarbonat dan lanjutkan mencuci.
    3. Keluarkan handuk dan keringkan sampai maksimal di jemuran atau mesin pengering.

    Intinya, tuang cuka saat siklus pencucian dan tuang soda bikarbonat saat siklus pembilasan. Biasakan membersihkan handuk pakai cuka putih dan soda bikarbonat setiap pencucian ketiga atau keempat

    Sementara itu, untuk tips lainnya pastikan handuk kering maksimal di ruang terbuka. Kemudian, ikuti aturan pemakaian detergen yang disarankan. Lalu, jangan gunakan pelembut kain komersial karena bahan kimia dari pelembut dapat melapisi handuk sehingga daya serapnya berkurang.

    Itu dia tips mengatasi handuk yang masih bau setelah dicuci. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Mudah! Begini Trik Jitu Bikin Air di Rumah Jernih dan Aman Digunakan


    Jakarta

    Air bersih merupakan kebutuhan yang harus tersedia di setiap rumah. Tanpa adanya air bersih, penghuni rumah akan sulit melakukan kegiatan seperti mencuci, memasak, mandi, hingga buang air.

    Menurut World Health Organization (WHO) air yang bersih memiliki 7 ciri-ciri yakni tidak berwarna, tidak berasa, tidak memiliki kandungan sedimen (pasir, debu, tanah, tidak berbau, pH netral, tidak lengket, dan bersih dari bakteri.

    Untuk rumah-rumah yang letaknya di perumahan biasanya masalah yang ditemui adalah tidak mendapatkan air bersih. Air yang muncul berwarna keruh atau kekuningan. Beberapa di antaranya akhirnya memilih untuk berlangganan air bersih dari PAM.


    Sebelum memutuskan untuk berlangganan PAM, dilansir Angi, berikut beberapa cara untuk membuat air bersih.

    Tips Bikin Air Keran Jernih

    1. Pasang Filter pada Keran

    Saat ini tersedia barang untuk menjernihkan air keran. Alat ini akan menyaring air berkali-kali termasuk membunuh kuman yang membahayakan tubuh. Namun, perlu diketahui jika alat ini biasanya membutuhkan waktu beberapa kali penggunaan hingga benar-benar bisa membuat air jernih dan bersih.

    2. Rutin Ganti Filter

    Sama seperti alat lain, filter air juga perlu diganti secara berkala karena alat ini tak bisa dipakai terlalu lama. Air yang kotor juga bisa mempengaruhi wujud filter air. Selain itu, filter yang kotor juga tidak akan efektif untuk membersihkan air.

    3. Tes Kualitas Air

    Untuk memastikan air sudah bersih dan aman digunakan, perlu dilakukan uji coba dan pengecekan secara ilmiah. Coba beli alat tes kejernihan air yang bisa digunakan tanpa perlu memanggil ahli. Bisa pula kamu meminta bantuan sebuah jasa uji coba atau laboratorium yang bisa mengecek kondisi air.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • WC Duduk Sebaiknya Dibuka atau Ditutup Saat Disiram? Ini Kata Ahli



    Jakarta

    Kamar mandi adalah salah satu ruangan yang cepat kotor, sehingga harus lebih rajin dijaga kebersihannya. Meski ruangan dikenal sebagai sarang kuman, masih ada yang memperdebatkan cara terbaik untuk menyiram WC.

    Kloset atau WC duduk biasanya dilengkapi dengan tutup. Terkadang orang-orang membiarkan WC dalam keadaan terbuka atau tertutup ketika menyiram setelah buang air.

    Lantas, sebaiknya WC disiram dalam keadaan ditutup atau dibiarkan terbuka ya? Simak penjelasannya berikut ini.


    Dilansir dari Better Homes & Gardens, Shari Cedar selaku CEO dan salah satu pemilik AK Building Services menjelaskan setiap siraman menciptakan embusan aerosol yang dapat menyebarkan bakteri dan virus ke udara dan permukaan kamar mandi. Embusan aerosol adalah halus partikel di udara yang dapat membawa patogen seperti E. coli, C. difficile, norovirus, dan adenovirus.

    Embusan aerosol ini hampir tak kasat mata. Partikel-partikel kecilnya dapat mendarat di apa pun di dekatnya, mulai dari sikat gigi hingga handuk.

    “Beberapa kuman bertahan di air toilet selama beberapa kali siraman, yang berarti risikonya tidak hilang hanya setelah satu kali siraman. Dan jika Anda menggunakan toilet umum tanpa penutup? Embusan itu menyebar ke mana-mana,” kata Cedar dikutip dari Better Homes & Gardens, Kamis (24/4/2025).

    Oleh karena itu, pastikan sikat gigi tertutup dan disimpan di kabinet agar aman dari partikel tersebut. Lalu, tingkatkan ventilasi udara dengan memasang kipas exhaust atau jendela kecil. Desinfeksi permukaan secara teratur, termasuk meja dapur dan gagang pintu untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

    Sementara itu, Manajer Komunikasi Ilmiah P&G Arianna Castro mengungkapkan penemuan terbaru dari sebuah studi oleh The American Journal of Infection Control. Temuan tersebut menunjukkan bahwa menutup tutup toilet sebelum menyiram tidak secara signifikan mengurangi penyebaran partikel patogen. Studi itu menyoroti pentingnya desinfeksi toilet secara teratur untuk meminimalkan kontaminasi.

    Castro menekankan menutup WC sebelum disiram mungkin dapat meminimalisir jarak embusan aerosol, tetapi tidak menjamin hilangnya risiko penyebaran patogen. Aliran udara terus memindahkan bakteri, dan kuman dapat bertahan di air toilet setelah beberapa kali penyiraman. Hal ini membuat desinfeksi kamar mandi secara teratur sangat penting.

    “Berdasarkan penelitian yang ada, saya rasa sangat disarankan untuk menyiram dengan toilet tertutup guna meminimalkan penyebaran patogen melalui udara dan meningkatkan praktik kebersihan yang lebih baik. Namun, karena yang pada akhirnya menyebabkan penyebaran bakteri adalah aliran udara (embusan aerosol), mustahil untuk sepenuhnya mengatasi risiko tersebut hanya dengan menutup tutup toilet,” kata Castro.

    Castro mengatakan menutup tutup WC sebelum disiram dapat mengurangi radius semburan aerosol dan meminimalkan kemungkinan partikel mencapai zona pernapasan. Namun, hal ini belum terbukti.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com