Tag: lapuk

  • Belajar dari Kasus di Cilegon, Ini Cara Cegah Atap Rumah Ambruk Saat Hujan Angin



    Jakarta

    Sebuah rumah milik warga Kopo Tanjak, Gunung Sugih, Cilegon belum lama ini bagian atapnya roboh saat diterjang hujan yang disertai angin kencang. Bagian atap rumah ambruk hingga menimbulkan kerugian belasan juta rupiah.

    “Atap rumah bagian depan dan kamar ambruk, rusak sedang. Kerugian kurang lebih Rp 15 juta,” ucap Kepala BPBD Cilegon Suhendi dikutip dari detikNews, Minggu (7/7/2024).

    Suhendi mengungkapkan ambruknya atap rumah juga disebabkan oleh kondisi bangunan yang sudah rapuh. Walau demikian, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.


    “Penyebab kejadian, hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang dan bangunan yang sudah rapuh. Korban jiwa nihil,” katanya.

    Rumah semestinya menjadi tempat berlindung dari berbagai kondisi alam. Namun, kondisi cuaca yang ekstrem serta bangunan yang kurang kokoh bisa membuat bangunan rusak, terutama pada bagian atap rumah.

    Lalu, bagaimana cara membangun rumah yang tahan terhadap terpaan hujan lebat yang disertai angin kencang? Simak penjelasan ahli berikut ini.

    Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama Panggah Nuzhulrizky menyampaikan pemilihan material rangka atap mempengaruhi kekuatan atap untuk menahan hujan dan angin kencang. Ia menyarankan agar memakai rangka atap dari baja ringan.

    “Penggunaan rangka pakai bambu kering itu sudah tidak sarankan pakai bambu atau material kayu karena rangka atap bisa pakai baja ringan,” ujar Panggah kepada detikProperti belum lama ini.

    Ia mengatakan penggunaan material kayu atau bambu untuk rangka atap sudah tidak lagi disarankan karena rawan lapuk dan dimakan rayap, sehingga tidak kuat menahan bobot genteng. Sementara baja ringan merupakan inovasi material yang awet dan memiliki umur pakai yang lebih panjang.

    “Biasanya rangka habisnya dengan rayap lalu juga cuaca. Nah itu kayu gampang lapuknya, nah ini kita bisa pakai baja ringan,” jelasnya.

    Panggah menyebut baja ringan mudah diaplikasikan dan mudah dibentuk sebagai rangka atap. Namun, pemasangan rangka atap harus sesuai standar dan instruksi dari fabrikator. Pastikan juga jarak antar baja ringan sudah cukup menahan beban atap genteng.

    “Lalu, dia (rangka baja ringan) kan penggunaannya itu menggunakan moor dan baut, itu juga harus diperhatikan juga pada saat pelaksanaan,” imbuhnya.

    Selain itu, pemasangan genteng harus sesuai supaya tidak ada air hujan yang masuk rumah. Setiap genteng perlu disusun saling meniban, serta memiliki kemiringan yang cukup untuk mengalirkan air. Sebab, meski memiliki sifat anti karat, baja ringan bisa rusak bila terkena air.

    Kemudian, Panggah juga membagikan tips agar atap rumah tidak mudah rusak akibat tiupan angin kencang. Ia menyarankan agar memilih material genteng yang berat, seperti genteng tanah liat berkeramik atau genteng beton.

    (dhw/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Rumah Kosong Lama Tak Dihuni Bisa Cepat Rusak? Ini Alasannya


    Jakarta

    Banyak yang beranggapan rumah kosong yang lama tidak dihuni akan cepat rusak. Bahkan, penghuni rumah seakan-akan menjadi ‘nyawa’ suatu rumah, sehingga bangunannya bisa bertahan lama.

    Ya, memang rumah yang tidak ditinggali lebih rentan rusak. Kondisi rumah akan semakin buruk mulai dari cepat tumbuh ilalang, lembap dan tembok akan retak hingga sewaktu-waktu bangunan dapat ambruk.

    Lantas, kenapa rumah kosong atau tak berpenghuni lebih berisiko rusak lebih cepat. Yuk, simak penjelasannya berikut ini.


    Alasan Rumah Tak Berpenghuni Cepat Rusak

    1. Sirkulasi Udara Buruk

    Dikutip dari detikFinance, Senin (23/9/2024), ternyata kondisi rumah sangat dipengaruhi oleh kualitas sirkulasi udara. Kalau tidak ada yang tinggal dan beraktivitas di rumah, maka sirkulasi di dalamannya mencjadi tidak bagus.

    Udara menjadi lembap saat rumah dibiarkan kosong, sehingga bangunan dan barang di dalam rumah menjadi lebih cepat rusak.

    Nah, salah satu contohnya dampak sirkulasi udara buruk ada pada perabotan. Kualitas udara yang nggak bagus bisa membuat perabotan kayu lapuk. Selain itu, perabotan yang terbuat dari besi juga akan mudah berkarat.

    2. Rumah Jarang Dirawat

    Kemudian, rumah yang kosong atau tidak ditempati pasti jarang, bahkan tidak pernah dibersihkan dan dirawat. Hal ini juga memicu kerusakan lebih cepat dibandingkan rumah yang ditempati dan dirawat oleh penghuninya.

    Jika rumah berpenghuni, tentu saja rumah akan dirawat dan dibersihkan sehingga memperlambat berbagai kerusakan di rumah.

    3. Hewan Bersarang

    Selanjutnya, rumah kosong menjadi tempat yang cocok buat hewan bersarang dan berkembang biak. Tanpa pengawasan penghuni, makhluk hidup lain seperti laba-laba dan tikus mengotori dan merusak rumah.

    Oleh karena itu, kalau sudah mempunyai rumah dan belum ditempati, sebaiknya dijenguk dan dibersihkan minimal satu minggu sekali. Rawatlah rumah dengan menyapu dan mengepel lantai. Lalu, mengelap kaca-kaca dan membuka pintu jendela agar aliran udara lebih baik.

    Itulah beberapa penyebab rumah yang tak berpenghuni lebih cepat rusak. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengepel Lantai Bakal Lebih Bersih Pakai Air Hangat atau Dingin?



    Jakarta

    Mengepel lantai merupakan salah satu cara membersihkan lantai dari bakteri, noda, dan kotoran yang sulit hilang. Namun, lantai akan benar-benar bersih apabila kondisi air yang digunakan tepat.

    Banyak yang mengatakan air hangat lebih baik untuk mengepel lantai daripada air dingin. Dilansir Home Viable, hal ini dikarenakan bakteri susah untuk berkembang di suhu yang tinggi. Air hangat juga mudah untuk mengurai kotoran, lemak, serta noda yang menempel pada lantai sehingga saat diberikan tekanan sedikit, noda dan kotoran bisa langsung hilang.

    Beberapa material yang cocok dibersihkan menggunakan air hangat adalah marmer, granit, dan beberapa batuan alam. Marmer sudah dikenal sebagai batuan alam yang tahan terhadap panas. Oleh sebab itu, material ini sering digunakan untuk pelapis lantai, meja, hingga dinding di dapur. Marmer merupakan material yang bisa menerima suhu tinggi.


    Material lantai yang tidak bisa dibersihkan menggunakan air hangat adalah kayu, baik yang alami dan buatan. Beberapa kayu memang rentan terhadap air. Bahkan di daerah yang lembap dapat membuat kayu cepat berjamur dan lapuk. Kayu yang aman untuk dipakai di daerah yang basah dan lembap hanya ulin dan jati.

    Untuk membersihkan lantai berbahan kayu bisa memakai kain pel atau kain bersih yang dimasukkan ke air dingin dan diperas hingga tidak begitu basah. Terlalu banyak air justru dapat merusak zat pelindung kayu dan membuat warna lantai kayu kusam.

    Kemudian, untuk material seperti keramik, porselen, atau ubin lebih baik memakai air dingin atau air biasa karena air panas akan merusak permukaan keramik.

    Baik air panas maupun air dingin tetap harus ditambahkan larutan pembersih dan pewangi agar lantai benar-benar bebas dari kuman dan wangi setelah dipel.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Mau Beli Rumah Tua? Jangan Lupa Periksa 7 Bagian Ini


    Jakarta

    Saat hendak membeli rumah tua, hal pertama yang kita lihat adalah kondisinya. Sebab, kualitas rumah bisa menurun seiring waktu meskipun memakai material terbaik, bisa jadi banyak ditemukan cacat.

    Cara mengecek kondisi rumah tersebut tidak hanya dengan melihat, calon pembeli harus memeriksa beberapa tempat di dalam rumah tersebut. Untuk mempermudah ketika pengecekan, dilansir This Old House, berikut bagian rumah tua yang harus diperhatikan.

    1. Fondasi

    Hal pertama yang harus dicek dan ditanyakan adalah mengenai fondasi rumah. Seperti namanya bagian ini adalah pondasi atau bagian yang menopang rumah tetap berdiri tegak. Saat rumah sudah berdiri cukup lama, banyak masalah yang terjadi pada fondasi adalah keretakan, fondasi yang sudah lapuk, fondasi yang miring karena pergerakan tanah, pintu dan jendela sulit dibuka dan ditutup, permukaan lantai tidak rata, hingga kerusakan saluran air.


    Secara kasat mata biasanya akan sulit menilai fondasi tersebut masih layak atau tidak. Sebaiknya minta bantuan profesional untuk memperbaikinya.

    2. Atap

    Bagian kedua yang tidak kalah penting adalah mengecek atap. Rumah yang baru selesai dibangun saja sering ditemukan kebocoran apalagi yang sudah berdiri lama. Untuk mengetahui ada kebocoran atau tidak, bisa bertanya dengan pemilik sebelumnya atau penjual. Selain itu, cek plafonnya apakah baru atau sudah lama. Atap yang bocor biasanya menyebabkan plafon berjamur, lapuk, dan berlubang. Apabila menemukan tanda-tanda tersebut, atap dan plafon harus segera diganti karena dapat berpengaruh pada kesehatan penghuni.

    3. Pipa Saluran Air

    Rumah harus dialiri dengan air. Oleh karena itu, calon pembeli harus mengecek kondisi pipa saluran air karena di rumah tua kemungkinan sudah usang dan banyak sumbatan. Tanda ada masalah pada pipa saluran air adalah warna air tidak jernih, air yang keluar sedikit, air berbau, keluar lumut atau kotoran padat, hingga air lama penuh saat diisi.

    4. Instalasi Listrik

    Selain air, listrik juga sangat dibutuhkan di rumah. Rumah yang sudah berdiri puluhan tahun biasanya memiliki saluran listrik yang sudah tua. Hal ini cukup berisiko apalagi tidak pernah diperiksa karena bisa saja ada kabel yang sudah rusak dan bisa menimbulkan kebakaran. Untuk mengecek instalasi listrik, bisa memanggil PLN. Apabila disarankan untuk diganti, ikuti saja karena berarti ada instalasi yang sudah tak layak.

    Tanda-tanda masalah saluran listrik di antaranya muncul aroma terbakar, lampu berkedip, dan saklar yang bergetar.

    5. Pintu dan Jendela

    Seperti yang disebut tadi, masalah pada pintu dan jendela juga bisa menunjukkan masalah pada fondasi rumah. Selain itu, pintu dan jendela di rumah tua juga bisa jadi sudah berkarat atau mengalami pengeroposan karena dimakan rayap. Ada pula jendela yang sudah sulit ditutup dan dibuka. Semua itu harus diperiksa secara detail karena keduanya akan komponen utama keamanan rumah.

    Cari ciri-ciri gangguan pada pintu dan jendela, seperti kondensasi atau kabut pada kaca, serangga mati, kesulitan membuka dan menutup, kayu yang melengkung, dan lainnya.

    6. Saluran Pembuangan

    Saluran pembuangan adalah pipa atau akses keluarnya air ke tempat pembuangan akhir seperti septic tank dan selokan. Lokasinya cukup banyak di rumah, ada di kamar mandi, wastafel, talang air, hingga area laundry. Pastikan pada bagian ini tidak ada saluran pembuangan yang mampet. Ciri-ciri masalah pada saluran pembuangan antara lain ada aroma tidak sedap, saluran mampet, hingga beberapa titik penyerapan yang lambat.

    7. Bahan Beracun

    Bangunan rumah tua kemungkinan mengandung bahan-bahan berbahaya, terutama yang dibangun sebelum tahun 1980. Salah satu kandungan berbahaya di rumah tua adalah timbal pada cat yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Untuk mengetahuinya, ajak ahli untuk mengeceknya.

    Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli rumah tua. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Tips Bangun Atap yang Kuat, Tak Mudah Ambruk dan Terbang Tertiup Angin


    Jakarta

    Atap rumah berfungsi untuk melindungi penghuni dari terpaan cuaca, baik hujan maupun sengatan matahari. Untuk itu, bagian rumah harus kuat agar tidak rusak.

    Saat angin kencang mengembus, genteng bisa bergeser atau terbang. Belum lagi hujan deras bisa bikin atap ambruk.

    Lantas, bagaimana cara membangun atap rumah yang kuat menahan cuaca? Simak tipsnya berikut ini.


    Tips Bangun Genteng yang Kuat

    Inilah cara membuat atap yang kuat menurut kontraktor.

    1. Pasang Rangka Atap dari Baja Ringan

    Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama Panggah Nuzhulrizky menyarankan untuk membuat rangka atap menggunakan bahan baja ringan. Bahan ini dapat membuat struktur atap lebih kuat karena tidak akan lapuk seperti kayu.

    “Penggunaan rangka pakai bambu kering itu sudah tidak sarankan pakai bambu atau material kayu karena rangka atap bisa pakai baja ringan. Biasanya rangka habisnya dengan rayap lalu juga cuaca. Nah itu kayu gampang lapuknya, nah ini kita bisa pakai baja ringan,” ujar Panggah kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

    Baja ringan mudah diaplikasikan dan mudah dibentuk. Meski demikian, pemasangan rangka atap tetap harus sesuai standar dan instruksi dari fabrikator. Pastikan jarak antar baja ringan sudah cukup menahan bobot genteng.

    “Lalu, dia (rangka baja ringan) kan penggunaannya itu menggunakan moor dan baut, itu juga harus diperhatikan juga pada saat pelaksanaan,” ucapnya.

    2. Pakai Genteng yang Berat

    Selain itu, Panggah menganjurkan untuk menggunakan genteng yang berat. Tujuannya, agar bobot genteng dapat menahan terpaan hujan deras dan angin kencang.

    “Ada beberapa tipe (genteng). Ada dari tipe beton, genteng keramik, yang sekarang lagi marak itu metal. Biasanya kalau yang agak enteng itu yang memang dari metal dan dia gampang terbang,” katanya.

    3. Susun Genteng dengan Rapi

    Jika sudah memilih genteng yang tepat, penyusunannya dilakukan dengan cara saling menimpa satu dengan lainnya. Kemiringan genteng pun harus sesuai.

    “Genteng tanah liat sebenarnya sudah cukup berat, tapi paling nanti bagaimana caranya biar itu nggak terbang, biasanya kita pastikan pada saat pemasang itu dia sudah tersusun dengan rapi karena memang pasang genteng itu ada susunannya ya,” tuturnya.

    Itulah cara membuat atap yang kuat sehingga tidak cepat rusak. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Material yang Aman Buat Perabotan Outdoor, Tahan di Musim Hujan-Panas


    Jakarta

    Sudah sering ditemukan, banyak pemilik rumah meletakkan perabotan di teras atau area luar rumah. Perabotan tersebut seperti kursi, meja kecil, rak sepatu hingga sofa untuk bersantai.

    Jika cuacanya bagus, tanpa hujan dan tidak begitu panas, meletakkan perabotan tersebut di luar ruangan sepertinya tidak masalah. Namun, akhir-akhir ini hujan turun sangat deras, bahkan disertai angin yang kencang. Kemudian beberapa jam setelahnya suhunya naik jadi sangat panas karena matahari yang terik. Apakah aman meletakkan perabotan di luar rumah?

    Dilansir dari The Spruce, Wakil Presiden Pengembangan Bisnis di POLYWOOD, Lindsay Schleis, mengatakan asalkan material yang dipakai pada perabotan tersebut benar-benar tahan cuaca, tidak akan ada masalah pada perabotan tersebut.


    Jenis perabotan yang tidak boleh dibiarkan berada di luar terutama saat hujan adalah sofa yang dibuat khusus di dalam ruangan dan perlengkapan makan. Jadi setiap habis berkumpul di luar, peralatan makan harus segera dikembalikan.

    “Furnitur luar ruangan dibuat agar tahan cuaca, tetapi itu tidak selalu berarti tahan cuaca,” kata Schleis, seperti yang dikutip pada Selasa (28/10/2025).

    Material Perabotan yang Aman di Luar Ruangan

    1. Kayu plastik

    Saat ini sudah banyak produk yang bisa meniru tampilan atau tekstur kayu. Salah satunya adalah plastik. Material tersebut tahan air, panas, dan lembap. Dengan memakai material kayu plastik, dari segi tampilan bakal tetap estetik, tetapi dari kualitas bakal tetap tahan lama.

    2. Aluminium

    Aluminium kerap dipakai sebagai material untuk rak sepatu. Berbeda dengan besi yang mudah karatan, aluminium lebih tahan terhadap perubahan cuaca. Selain itu, dari segi tampilan, aluminium cukup berkelas dan bisa cocok dengan segala jenis desain.

    3. Kayu

    Banyak orang menghindari kayu sebagai material di luar ruangan karena takut cepat lapuk, berjamur, dan jadi sasaran rayap. Padahal kayu memiliki banyak sekali jenis. Bisa jadi yang mengalami gejala tadi merupakan jenis kayu yang tidak cocok untuk luar ruangan.

    Kalau dilihat ke belakang, rumah tradisional di Indonesia kebanyakan memakai kayu, tetapi bisa bertahan lama. Beberapa jenis kayu yang bagus dipakai di luar ruangan adalah jati, ulin, akasia, kayu merah, cedar, dan eukaliptus.

    Itulah penjelasan mengenai perabotan di luar ruangan saat hujan, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com