Tag: lembap

  • Kenapa Ada Banyak Nyamuk di Halaman Rumah? Ini Penyebab dan Cara Cegahnya


    Jakarta

    Pernahkah berjalan di halaman rumah atau sekadar bersantai di teras, lalu diserang banyak nyamuk? Alhasil, kulit jadi bentol-bentol dan gatal. Hal itu tentu bikin risih penghuni rumah.

    Kehadiran nyamuk memang patut diwaspadai. Sebab, hama ini dapat membawa sumber penyakit berbahaya.

    Bukan cuma di pekarangan, nyamuk itu nantinya bisa masuk ke dalam rumah. Oleh karena itu, penghuni perlu mencegah nyamuk di halaman rumah.


    Namun, kenapa ada banyak nyamuk di pekarangan ya? Simak penyebab dan cara cegahnya berikut ini.

    Penyebab Banyak Nyamuk di Halaman Rumah

    Inilah beberapa faktor yang mengakibatkan nyamuk bersarang di pekarangan, dikutip dari Trio Pest Control, Senin (6/10/2025).

    1. Genangan Air

    Salah satu penyebab utama kehadiran nyamuk adalah adanya genangan air. Nyamuk betina bertelur, lalu larvanya tumbuh di sana. Biasanya genangan air ada di talang air, pot tanaman, ataupun benda lainnya.

    2. Area Gelap dan Lembap

    Area pekarangan yang lembap dan gelap menjadi tempat yang menarik bagi nyamuk. Penyiraman kebun secara teratur tanpa adanya sinar matahari yang cukup untuk area tersebut mengering bisa menciptakan kondisi lembap yang disukai nyamuk.

    3. Tempat Berlindung

    Nyamuk mencari tempat berlindung dari angin dan predator di rumput tinggi, semak lebat, dan bawah dedaunan. Selain jadi tempat istirahat nyamuk, kondisi pekarangan yang rimbun seperti itu membuat lingkungan lebih lembap.

    4. Sampah Organik

    Akumulasi sampah organik di halaman rumah seperti daun kering, ranting, dan potongan rumput bisa menahan kelembapan. Tempat itu menjadi lokasi yang ideal buat nyamuk tempati.

    Cara Cegah Nyamuk di Halaman Rumah

    Jika tak ingin ada banyak nyamuk di halaman rumah, ikuti langkah-langkah pencegahan berikut ini.

    1. Hilangkan Genangan Air

    Periksa kondisi pekarangan setiap minggu untuk mengecek adanya genangan air. Segera hilangkan genangan air agar tidak menjadi sarang nyamuk.

    2. Bersihkan Talang Air

    Pastikan talang air bersih dan air mengalir dengan baik supaya tidak ada genangan air.

    3. Rapikan Halaman Rumah

    Rapikan halaman rumah dengan memangkas rumput tinggi dan semak lebat biar nggak disinggahi nyamuk. Penghuni juga bisa menanam tanaman yang tak disukai nyamuk. Lalu, perbaiki juga permukaan tanah yang rawan timbul genangan air.

    4. Pasang Perangkap

    Perangkap nyamuk dapat mengurangi populasi nyamuk di halaman. Kemudian, penghuni dapat memasang produk anti nyamuk di teras biar nyamuk ogah mendekat.

    Itulah penyebab beserta cara cegah banyak nyamuk di halaman rumah. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Pakaian Masih Bau Meski Sudah Dicuci Berulang Kali? Ini Sebabnya


    Jakarta

    Agar pakaian kembali bersih dan wangi maka harus dicuci menggunakan carian detergen. Setelah itu, jemur baju di bawah sinar matahari agar cepat kering.

    Namun sayangnya, baju yang telah dicuci terkadang masih mengeluarkan bau tidak sedap. Meski sudah dicuci sampai berulang kali dengan detergen, tapi tetap saja pakaian masih bau.

    Ada sejumlah faktor yang menyebabkan pakaian tetap bau meski sudah dicuci berulang kali. Apa sebabnya? Simak selengkapnya dalam artikel ini.


    Penyebab Pakaian Masih Bau Walau Sudah Dicuci

    Dilansir situs Cleanipedia, berikut sejumlah penyebab pakaian masih bau meski sudah dicuci sampai berulang kali:

    1. Mesin Cuci Sudah Kotor

    Sama halnya seperti pakaian, mesin cuci yang digunakan berulang kali juga harus dibersihkan. Soalnya, partikel debu dan kotoran bisa menumpuk di bawah mesin cuci sehingga dapat mengotori pakaian saat sedang dicuci.

    2. Jumlah Detergen yang Tidak Tepat

    Detergen sangat penting digunakan saat mencuci agar baju kembali bersih dan wangi. Namun, apakah kamu memperhatikan jumlah detergen yang digunakan?

    Jika jumlah detergen terlalu banyak maka tidak akan terbilas dengan air secara optimal, sehingga meninggalkan sisa di bawah mesin cuci. Seiring waktu, sisa detergen tersebut akan lembap dan memicu bau tidak sedap.

    Di sisi lain, jumlah detergen yang terlalu sedikit membuat pakaian yang dicuci tidak akan bersih dan wangi. Maka dari itu, penting untuk menuangkan detergen sesuai ketentuan.

    3. Membiarkan Pakaian di Mesin Cuci

    Sering membiarkan pakaian di mesin cuci selama berjam-jam? Jika iya, maka hal itu bisa memicu pakaian jadi bau. Sebab, udara lembap di dalam mesin cuci membuat pakaian yang harusnya wangi malah justru bau.

    Oleh sebab itu, segera jemur pakaian yang telah dicuci. Jangan dibiarkan berjam-jam atau bahkan seharian di dalam mesin cuci.

    4. Menjemur Pakaian di Tempat Lembap

    Pakaian yang dijemur di tempat lembap dan minim sinar matahari akan menciptakan bau tidak sedap. Meski awalnya baju terasa wangi dan segar usai dicuci, tapi bisa saja menjadi bau karena tidak dijemur secara benar.

    Pastikan kamu menjemur baju di bawah sinar matahari langsung. Panas dari matahari dapat mengeringkan baju dengan cepat.

    5. Proses Pengeringan yang Tidak Tepat

    Baju yang telah dicuci akan memasuki tahap pengeringan. Pada fase ini, pastikan baju benar-benar dikeringkan dengan mesin cuci sampai selesai. Proses pengeringan yang tidak tepat membuat baju masih basah dan berpotensi menimbulkan bau apak.

    Saat proses pengeringan dengan mesin cuci, sebaiknya jangan menaruh pakaian dalam jumlah banyak. Hal ini dapat memberikan beban besar pada mesin cuci sehingga tidak bekerja secara optimal.

    6. Pakaian Masih Basah Saat Diangkat dari Jemuran

    Pakaian yang dijemur sebaiknya diangkat jika benar-benar sudah kering. Cek bagian sela-sela ketiak dan bawah baju. Kalau masih sedikit basah sebaiknya biarkan dijemur selama beberapa jam lagi.

    Mengangkat pakaian yang masih basah berpotensi menimbulkan bau apak. Jika baju langsung dimasukkan ke dalam lemari, maka bau tersebut bisa menyebar ke seluruh pakaian.

    Itulah enam penyebab pakaian yang dicuci masih mengeluarkan bau. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kamar Mandi Lembap Sarangnya Bakteri, Begini Cara Agar Tetap Kering



    Jakarta

    Kamar mandi yang ukurannya cukup luas biasanya terdiri dari area basah dan kering. Namun, kebanyakan rumah di Indonesia tidak memiliki ruang yang luas untuk kamar mandi sehingga umumnya hanya memiliki kamar mandi basah.

    Selain itu, umumnya letak kamar mandi berada di tengah atau di dalam rumah tanpa memiliki ventilasi yang memadai. Jika ada ventilasi, letaknya di atas pintu kamar mandi dan ukurannya tidak begitu besar.

    Kondisi tersebut membuat kamar mandi lembap dan sulit untuk kering. Kamar mandi yang selalu basah, baik lantai dan dindingnya mudah sekali berjamur dan berlumut. Risikonya adalah kamar mandi terlihat kotor, lantainya licin, dan bisa muncul bau tak sedap.


    Oleh karena itu, kamar mandi yang bisa mengering setelah digunakan sangat dianjurkan. Kamar mandi yang kering berarti tidak ada genangan di lantai. Pengeringan ini bisa terjadi dengan sendirinya terutama jika kamar mandi tidak digunakan selama 30 menit hingga berjam-jam. Namun, apabila kamar mandi digunakan sejam sekali, memang tidak akan selalu kering.

    Direktur HomeWork Wahyu Achadi mengatakan setiap kamar mandi harus diupayakan menjadi ruang yang kering. Hal ini untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

    “Dengan kondisi kering bakteri dan virus tidak mudah berbiak,” katanya kepada detikcom, Kamis (19/10/2023).

    Tips membuat kamar mandi dapat cepat kering bisa dengan beberapa cara. Pertama pastikan kamar mandi memiliki ventilasi agar sirkulasi udara di dalam bagus. Bentuk ventilasi ini adalah jendela yang tidak tembus pandang, tetapi udara bisa masuk dan keluar atau memasang exhaust fan.

    Cara kedua adalah membagi kamar mandi menjadi area basah dan kering. Area basah merupakan tempat shower atau bak mandi. Sementara area kering tempat kloset dan wastafel.

    Ketiga, Wahyu menyarankan tidak perlu memasang bak mandi. Ganti dengan pancuran air (shower) sementara kloset harus dilengkapi pembilas semprot (jet washer) sehingga tidak perlu gayung atau bak penampungan air di dekatnya.

    “Jet washer membuat proses berbilas menjadi lebih terarah dan cipratan air tidak keluar dari lubang kloset,” sambung dia.

    Selain itu, material yang digunakan untuk perangkat sanitasi juga dipilih yang mudah dibersihkan. Jangan lupa area shower dibuat lebih rendah dibandingkan area kering untuk memudahkan air mengalir dan lantai kamar mandi bisa kering dengan lebih cepat.

    “Supaya air tidak menyiprat ke mana-mana bisa digunakan shower screen atau tirai yang tersedia dalam berbagai bahan seperti plastic, akrilik, hingga kaca. Shower screen ini menjadi pemisah antara area basah dan kering, jangan lupa shower screen juga perlu dibersihkan berkala supaya tidak berjamur,” jelas dia.

    Apabila ingin membuat area basah dan kering di kamar mandi, tidak butuh kamar mandi yang terlalu luas, ukuran 1×3 meter sudah cukup. Area kering ini bisa berukuran 1,5×1,5 m, terdiri dari kloset dan wastafel dilengkapi cermin serta rak-rak dan lemari kecil di sisi lain yang dekat dengan pintu. Sisanya untuk area basah dengan shower.

    Terakhir, letakkan head shower di sudut dalam posisi diagonal termasuk tempat sabun dan sampo untuk mendapatkan area mandi (basah) yang lebih lapang dan lebih efisien.

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Udara Lembap di Musim Hujan, Jangan Sembarangan Gunakan Humidifier di Rumah!



    Jakarta

    Musim hujan identik dengan udara yang lebih dingin, basah, dan lembap. Pada saat inilah terkadang rumah menjadi kurang nyaman baik karena udara yang terlalu lembap, ruangan terasa dingin dan pengap, atau bahkan sebagian orang merasa kulit dan saluran napas menjadi kering akibat sering menutup ventilasi. Kondisi ini membuat orang mencari cara agar udara tetap nyaman, salah satunya dengan menggunakan humidifier.

    Humidifier atau pelembab udara merupakan alat yang berfungsi untuk menambah kelembaban udara di dalam ruangan. Alat ini bekerja dengan cara menyemprotkan uap air dalam bentuk kabut halus. Penggunaannya saat suhu udara di dalam ruangan terasa kering atau di ruangan ber-AC, karena mampu membantu meredakan bibir dan kulit kering.

    Namun, ketika musim hujan tiba dan kelembaban alami ruangan sedang tinggi, apakah humidifier tetap bermanfaat atau malah memperburuk keadaan? Dilansir melalui Medical News Today, berikut penjelasan lengkapnya.


    Musim Hujan dan Kegunaan Humidifier Saat Hujan

    Pada dasarnya, humidifier memang berfungsi sebagai penambah kadar uap air yang akan disemprotkan ke dalam ruangan melalui kabut halus. Sehingga, alat ini memang berguna saat udara terlalu kering. Tidak hanya membantu mengatasi bibir dan kulit kering, humidifier juga dapat membantu meringankan iritasi mata, kekeringan pada tenggorokan, hingga saluran napas yang terganggu.

    Akan tetapi, saat musim hujan seringkali kita mendapati kondisi sebaliknya. Udara akan semakin lembab, suhu menjadi dingin, dan ventilasi semakin minim karena dibatasi untuk mencegah air hujan masuk ke dalam ruangan. Lantas, keputusan untuk menggunakan humidifier saat musim hujan tidak dapat langsung dianggap perlu, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi udara di dalam rumah.

    Kondisi Rumah yang Masih Membutuhkan Humidifier Meskipun Saat Hujan

    Meskipun terkesan kontradiktif, ternyata terdapat kondisi khusus di mana penggunaan humidifier bisa sangat membantu. Ketika tinggal di rumah yang sangat rapat ventilasi udaranya, ditambah dengan penggunaan AC atau pemanas ruangan, hal itu akan membuat udara menjadi kering, meskipun sedang hujan.

    Selain itu, saat musim hujan di Indonesia yang beriklim tropis, terkadang ruangan tetap terasa kering walaupun udara luar menjadi lembap. Karena jendela sebagai ventilasi ini ditutup, humidifier dapat membantu menjaga kelembapan dalam ruangan agar tetap ideal.

    Namun, perlu diingat bahwa penggunaan humidifier bukan berarti dapat digunakan kapan saja. Penempatan, jenis humidifier, serta kondisi lingkungan harus diperhatikan agar humidifier tidak malah membahayakan keadaan.

    Kondisi Saat Penggunaan Humidifier Perlu Dihindari

    Ada banyak kondisi yang tidak menganjurkan penggunaan humidifier saat musim hujan. Kondisi ini akan berpotensi membahayakan kesehatan dan bisa merusak lingkungan rumah jika diteruskan. Ketika kelembapan dalam ruangan sudah tinggi, di atas 50%-60% menggunakan humidifier hanya akan memperbesar risiko jamur, tungau debu, dan kondensasi.

    Berdasarkan artikel dari Medical News Today, penggunaan humidifier di ruangan yang sudah lembap dapat meningkatkan kadar kelembapan secara berlebihan. Kondisi ini tidak hanya memicu pertumbuhan jamur, tetapi juga dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan memperburuk gejala alergi.

    Selain itu, jika ruangan sudah terlihat memiliki dinding yang berembun atau dapat terlihat noda jamurnya, penggunaan humidifier juga tidak disarankan. Karena hal tersebut membuat kelembapan udara dalam ruangan menjadi tidak terkontrol. Kelembapan yang tidak terkontrol ini dapat mengundang banyak permasalahan seperti bau, kerusakan kayu, hingga gangguan pernapasan.

    Tips Aman Penggunaan Humidifier di Musim Hujan

    Agar penggunaan humidifier di musim hujan tetap aman dan efektif, berikut beberapa tips praktis yang dapat diterapkan.

    • Selalu pantau kelembapan udara dalam ruangan menggunakan hygrometer. Idealnya berada di kisaran 40%-50% di dalam rumah. Kelembapan yang terlalu tinggi justru bisa berbahaya.
    • Gunakan air yang tepat, seperti air suling atau demineralisasi. Kandungan mineral air yang terlalu tinggi dapat memicu pertumbuhan bakteri dan jamur.
    • Memperhatikan jenis dan penempatan humidifier juga penting untuk dilakukan. Model humidifier yang menghasilkan uap panas, dapat berbahaya untuk anak kecil. Tempatkan humidifier yang menggunakan air panas, jauh dari jangkauan anak kecil.
    • Jika ruangan terasa lembap atau ada tanda munculnya embun dan jamur, matikan humidifier dan pertimbangkan dengan menggunakan dehumidifier (pengering udara) atau dengan meningkatkan sirkulasi melalui ventilasi sebagai alternatif.

    Dengan memahami kapan humidifier bermanfaat dan kapan harus dihentikan, kita dapat menjaga kualitas udara di rumah tetap sehat selama musim hujan berlangsung.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Awas! Dinding Lembap dan Bau Aneh Bisa Jadi Tanda Rumah Diserbu Lebah



    Jakarta

    Saat musim kemarau atau cuaca sedang panas, rumah sering menjadi tempat yang menarik bagi lebah untuk bersarang. Celah di dinding, atap, dan ventilasi bisa menjadi lokasi ideal bagi mereka untuk membangun sarang.

    Jika dibiarkan, keberadaan sarang lebah di rumah bukan hanya mengganggu kenyamanan penghuni. Dalam jangka panjang, aktivitas lebah yang terus berlangsung dapat merusak struktur bangunan.

    Dilansir dari ABC Wildlife, Jumat (31/10/2025) lebah cenderung mencari tempat berlindung yang tertutup dan aman dari gangguan luar. Di alam liar, mereka biasanya memilih rongga pohon atau batu. Namun, pada area permukiman, tempat yang mereka jadikan untuk membangun sarang biasanya pada dinding rumah, atap, hingga celah di antara lantai.


    Beberapa Tanda Rumah Menjadi Tempat Favorit Lebah

    Aktivitas Lebah Meningkat di Area Tertentu

    Jika lebah mulai terlihat masuk dan keluar melalui celah-celah kecil di dinding, plafon, atau lubang ventilasi, itu bisa menjadi tanda bahwa koloni lebah sedang membangun sarang di dalam rumah. ABC Wildlife menjelaskan bahwa perilaku ini disebut airport activity, dimana lebah tampak mondar-mandir di satu titik.

    Terdengar Dengungan Terus-menerus

    Suara dengungan samar yang terus terdengar, terutama di malam hari, bisa menjadi tanda adanya koloni lebah yang aktif. Bunyi tersebut biasanya berasal dari balik dinding, atap, atau plafon, tempat lebah membangun sarangnya secara tersembunyi.

    Terlihat Tetesan Madu

    Saat sarang lebah semakin besar, madu lebah bisa merembes ke permukaan dinding atau juga menetes di sekitarnya. Selain merusak cat, cairan manis ini juga bisa mengundang semut dan serangga lain.

    Muncul Kelembapan di Area Tertentu

    Lebah biasanya menjaga suhu dan kelembapan di dalam sarangnya agar tetap stabil. Jika mulai tercium bau aneh dan melihat dinding yang terasa lembap, bisa jadi itu pertanda ada sarang lebah tersembunyi di baliknya.

    Tips agar Rumah Tidak Menjadi Sarang Lebah

    Tutup Celah dan Retakan di Dinding atau Atap

    Gunakan sealant atau busa khusus bangunan untuk menutup lubang-lubang kecil di dinding, atap, atau celah ventilasi. Langkah sederhana ini bisa mencegah lebah masuk dan membuat sarang di area tersembunyi di rumah.

    Periksa Area Lembap dan Jarang Tersentuh

    Bersihkan gudang, loteng, dan area bawah atap secara rutin agar tidak menjadi tempat ideal bagi lebah bersarang. Area yang gelap, hangat, dan jarang tersentuh biasanya menjadi lokasi favorit lebah untuk membangun koloni.

    Gunakan Aroma Pengusir Alami

    Beberapa aroma alami seperti kayu manis, cengkeh, atau serai terbukti tidak disukai oleh lebah. Aroma-aroma tersebut efektif untuk mencegah lebah bersarang di area tertentu di sekitar rumah.

    Hubungi Ahli yang Profesional

    Jika koloni lebah sudah tumbuh besar dan sarangnya melekat kuat pada struktur rumah, hindari mencoba mengusirnya sendiri. Kondisi seperti ini sebaiknya ditangani oleh petugas atau ahli pengendalian hama agar proses pemindahan lebah berlangsung aman dan tidak merusak bangunan. Melalui artikel ABC Wildlife juga menekankan pentingnya memanggil spesialis pengangkut lebah agar koloni bisa dipindahkan dengan aman tanpa membahayakan penghuni rumah maupun lebah itu sendiri.

    Itulah tanda-tanda rumah menjadi tempat lebah membangun sarang dan tips mencegah serta mengatasinya. Semoga membantu!

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Cuaca Tak Menentu Bikin Rumah Mudah Lembap, Begini Atasinya


    Jakarta

    Kelembapan merupakan musuh utama rumah. Ketika rumah terlalu lembap berbagai masalah akan muncul, mulai dari masalah pada bangunan dan kesehatan.

    Rumah yang lembap dapat memicu pertumbuhan jamur hitam atau black mold yang dapat merusak tampilan rumah, merusak cat, plafon, hingga material perabotan, serta memicu penyakit pernapasan yang tidak disangka-sangka.

    Di masa-masa seperti saat ini, cuaca panas dan hujan sedang tidak menentu, potensi rumah jadi lebih lembap sangat besar. Pemilik rumah harus lebih mewaspadai terhadap kenaikan kelembapan di rumah. Dilansir dari Telegrafi, cara mengatasinya bukan dengan membongkar rumah, melainkan ada cara-cara sederhana yang bisa diikuti dan ada yang instan juga. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasannya.


    1. Jaga Suhu Ruangan

    Suhu ruangan yang ideal menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO adalah sekitar 18-20°C dengan kelembapan relatif 50-60 persen. Apabila sudah lewat dari batas tersebut, pemilik rumah perlu melakukan sesuatu. Salah satu cara paling praktis adalah sering-sering membuka jendela agar sirkulasi di dalam rumah teratur. Bisa juga dengan menyalakan kipas angin yang dapat meningkatkan aliran udara.

    Cara yang tak kalah instan, tetapi memang perlu mengeluarkan uang adalah membeli Dehumidifier. Alat tersebut dapat menghilangkan kelembapan berlebih di udara. Cara menggunakannya dengan menyalakan alat ini dan biarkan selama beberapa jam. Nanti kamu bisa melihat tempat penampungan di bagian bawah untuk mengecek air yang terserap oleh alat tersebut dari proses kondensasi (perubahan gas menjadi air).

    2. Membuka Jendela

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, membuka jendela merupakan cara sederhana dan wajib dilakukan agar rumah tidak terasa pengap dan terisolasi. Terutama saat memasak dan mandi karena pada di ruang yang tidak begitu luas tersebut memerlukan sirkulasi udara yang baik.

    3. Jangan Biarkan Ada Pakaian Basah di Kamar Mandi

    Kamar mandi merupakan ruangan di rumah yang paling berpotensi cepat lembap. Alasannya kamar mandi umumnya ruangannya berada di dalam rumah, minim ventilasi, dan selalu basah sehingga air yang berkumpul di dalamnya bisa menyebabkan ruangan cepat lembap. Jika kamar mandi sering dibiarkan dalam keadaan basah dan jarang dibersihkan, lantainya akan mudah licin, muncul jamur di sela-sela keramik, hingga muncul binatang seperti cacing.

    Selain itu, hindari menyimpan handuk atau pakaian basah di dalam kamar mandi. Kebiasaan ini juga mempengaruhi kelembapan di kamar mandi. Hindari juga meletakkan handuk basah sembarangan karena jamur bisa tumbuh di mana saja asal ada area yang lembap.

    Itulah cara untuk mengatasi rumah yang lembap, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Tanaman Ini Bisa Bikin Dapur Bebas Lembap dan Jadi Sejuk


    Jakarta

    Tanaman umumnya diletakkan di halaman dan teras rumah. Hal ini karena tanaman di luar ruangan bisa mendapatkan cahaya matahari dan sumber air yang dibutuhkan.

    Tanaman tidak hanya tumbuh subur di luar ruangan, tapi di dalam rumah juga bisa. Bahkan ada satu ruangan yang butuh sekali tanaman, yakni dapur. Area yang digunakan untuk memasak ini bisa menjadi tempat yang lebih sehat apabila diletakkan tanaman.

    Beberapa jenis tanaman ada yang bisa menyerap kelembapan dan menyaring udara menjadi lebih bersih. Alhasil dapur tidak akan mudah lembap dan tidak muncul banyak noda jamur yang bisa berbahaya bagi pernapasan manusia.


    Selain itu, tanaman merupakan penghasil oksigen sehingga baik bagi penghuni rumah. Jika dapur sering terasa panas, tanaman bisa menjaga ruangan tersebut tetap sejuk.

    Dilansir dari The Spruce, berikut beberapa tanaman yang cocok diletakkan di dapur.

    1. Pothos

    Ilustrasi pothosIlustrasi pothos Foto: Getty Images/iStockphoto/Firn

    Pilihan tanaman yang pas untuk dapur yang kecil dan tidak bisa ada banyak barang dipajang di area memasak adalah pothos. Tanaman hias satu ini tidak memiliki bunga, hanya daun-daun hijau yang mungil. Tanaman ini terlihat indah karena batangnya yang bisa memanjang karena termasuk tanaman rambat.

    Untuk memajang tanaman ini bisa dengan digantung atau diletakkan di dinding. Jadi tidak akan menghabiskan banyak tempat di dapur. Pothos atau Epipremnum aureum juga salah satu tanaman hias yang paling mudah dirawat karena tidak butuh banyak cahaya dan dapat tetap tumbuh meski jarang disiram.

    Dalam feng shui, tanaman ini dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan. Secara ilmiah, manfaatnya dapat menyaring racun di udara dan menyerap kelembapan.

    2. Spider Plant

    cat playing in spider plantIlustrasi spider plant. Foto: Getty Images/iStockphoto/kodachrome25

    Spider plant (Chlorophytum comosum) merupakan tanaman hias yang paling mudah dirawat. Tanaman ini juga bisa digantung, bisa berbunga, dan di ruangan yang tidak ada sinar matahari karena tanaman ini tidak bisa terkena sinar matahari langsung.

    Tanaman dengan bentuk daun memanjang dan ramping ini disebut dapat menyaring polutan di udara dan menyerap kelembapan.

    3. Lidah Mertua

    Ilustrasi lidah mertuaIlustrasi lidah mertua Foto: Getty Images/iStockphoto/Tharakorn

    Tanaman lidah mertua pasti sudah tidak asing lagi di Indonesia karena tanaman ini memang mudah tumbuh di dalam dan luar ruangan. Tanaman ini juga mudah dirawat tanpa perlu sering disiram.

    Jika diletakkan di dapur, tanaman ini dapat menyerap bau, polutan hingga memperindah tampilan dapur. Untuk meletakkan tanaman ini di dalam rumah, umumnya memakai pot dan diletakkan di tempat yang datar.

    4. ZZ Plant

    Zamioculcas is a tropical perennial plant native to eastern Africa.Tanaman ZZ Foto: Getty Images/iStockphoto/OleseaV

    Mungkin sebagian orang merasa nama tanaman ini agak sedikit aneh. Namun, tanaman yang memiliki nama ilmiah Zamioculcas zamiifolia ini punya segudang manfaat mulai dari membersihkan udara dari polutan dan racun hingga mengurangi kelembapan pada ruangan. Sebagai catatan, tanaman ini jangan sampai digapai oleh hewan peliharaan karena bisa menjadi racun bagi mereka.

    Sama seperti lidah mertua, ZZ Plant kebanyakan juga ditempatkan di pot dan diletakkan di area yang terlihat.

    5. Sukulen

    House indoor plants collection. Succulent and cactus in different pots on white backgroundSukulen. Foto: Getty Images/Zakharova_Natalia

    Jika penghuni rumah mencari tanaman yang kecil dengan bentuk menarik, coba pilih sukulen. Tanaman ini ukurannya seperti kaktus kecil dan memiliki daun yang keras dan kaku. Selain itu, ada berbagai macam sukulen yang bisa dipilih.

    Selain itu manfaatnya nggak main-main, mulai dari bisa melepas banyak oksigen di malam hari, membuat ruangan tidak lembap, dan membersihkan racun dari udara.

    Itulah beberapa tanaman yang bisa diletakkan di dapur, semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Tips Simpan Handuk di Kamar Mandi agar Tidak Lembap dan Bebas Jamur


    Jakarta

    Kamar mandi kerap digunakan sebagai ruang penyimpanan handuk karena lebih mudah diambil ketika dibutuhkan. Bukan hanya di rumah, di hotel dan penginapan, handuk bersih dan basah juga disimpan di kamar mandi.

    Mungkin beberapa orang tidak sependapat dengan hal ini karena menyimpan kain di kamar mandi dapat berisiko. Sebab, kamar mandi merupakan ruangan yang lembap sehingga mudah sekali tumbuh jamur dan timbul bau apek.

    Ternyata ada caranya lho agar handuk yang disimpan di dalam kamar mandi tetap bersih dan tidak berjamur. Dilansir The Spruce, berikut tips menyimpan handuk yang benar di kamar mandi.


    1. Gantung di Rak

    Sebelum mengetahui teknik menjemur yang benar, pastikan di kamar mandi tersebut memiliki ruang dan tempat menjemur handuk. Selain tempat, harus ada juga alat atau benda untuk menggantung handuk basah.

    2. Pastikan Kamar Mandi Punya Ventilasi

    Selain itu, kamar mandi harus punya ventilasi, baik berupa jendela atau exhaust fan yang bisa mengurangi kelembapan di ruangan tersebut. Membiarkan pintu kamar mandi terbuka sembari menyalakan kipas angin juga ampuh untuk mengeringkan handuk.

    3. Pakai Dehumidifier

    Saat ini sudah ada perangkat yang dapat otomatis menyedot kelembapan udara di sebuah ruangan. Alat tersebut bernama dehumidifier. Sebenarnya tidak ada paksaan untuk membeli alat ini, tetapi keberadaannya pasti akan membantu terutama yang kamar mandinya kecil dan tidak memiliki ventilasi yang besar.

    Dehumidifier menyerap kelembapan dari udara dan menyimpannya dalam wadah air. Pastikan untuk mengosongkan wadah air secara teratur untuk mencegah pertumbuhan spora jamur.

    4. Gantung Handuk dengan Benar

    Handuk basah tidak boleh dibiarkan menumpuk di suatu wadah, digantung di sisi bak mandi, atau dilipat dua kali di atas gantungan handuk.

    Sebelum digantung, handuk basah harus dikibaskan agar tidak ada kerutan pada kain sehingga aliran udara di permukaannya baik. Ingat untuk selalu menggantung handuk dalam satu lapisan atau dibentangkan di atas gantungan handuk, atau gantungan di atas pancuran menggunakan klip pakaian untuk membantu kering lebih cepat.

    5. Pilih Bahan Handuk Mikrofiber

    Handuk mikrofiber sintetis cukup menyerap dan lebih cepat kering daripada handuk katun terrycloth. Serat mikro lebih ringan daripada serat katun sehingga lebih cepat kering.

    6. Pasang Lemari Penyimpanan Berventilasi

    Untuk penyimpanan handuk bersih usahakan lemari tersebut memiliki penutup dan berventilasi agar tidak lembap. Hindari menyimpan handuk yang belum benar-benar kering di lemari kamar mandi.

    Itulah tips menyimpan handuk di kamar mandi agar tidak mudah berjamur dan berbau apek, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Awas! Rumah Lembap Jadi ‘Surga’ Kutu Busuk, Begini Penjelasan Ahlinya



    Jakarta

    Kelembapan yang terlalu tinggi di dalam ruangan kerap menjadi pemicu berbagai masalah, termasuk meningkatnya potensi serangan hama. Potensi hama yang muncul di ruangan lembap salah satunya adalah kutu busuk. Hal itu dikarenakan udara lembap menyediakan kondisi yang ideal bagi mereka untuk bertahan dan berkembang.

    Kutu busuk sebenarnya tidak membutuhkan banyak hal untuk hidup, tetapi mereka sangat peka terhadap kondisi sekitar, terutama kelembapan. Saat udara menjadi lebih lembap, tubuh mereka bisa bertahan lebih lama tanpa makan dan tetap aktif bergerak untuk mencari inang. Inilah sebabnya mengapa rumah yang terasa lembap sering kali menjadi lokasi ideal bagi pertumbuhan kutu busuk.

    Dilansir dari situs E&G Exterminators, Kamis (20/11/2025), berikut penjelasan mengenai kelembapan bisa memengaruhi kehidupan dan penyebaran kutu busuk.


    Kelembapan Membantu Kutu Busuk Bertahan

    Menurut E&G Exterminators, kutu busuk tidak minum air secara langsung, melainkan menyerap kelembapan dari udara. Karena itulah kelembapan relatif di atas 50 persen dapat membantu mereka mencegah dehidrasi, memperpanjang masa hidup, dan tetap aktif.

    Telur kutu busuk cenderung menetas lebih baik dalam kondisi lembap, sehingga siklus hidup mereka berjalan lebih efisien. Selain itu, kelembapan tinggi mendorong aktivitas mereka berlangsung lebih lama. Pada kondisi kering, kutu busuk bisa pasif atau lebih jarang mencari inang, namun pada lingkungan lembap perilaku mereka menjadi lebih agresif karena tubuh mereka aman dari risiko kekurangan air.

    Tanda Kemunculan Kutu Busuk di Ruangan Lembap

    Ruangan yang lembap biasanya membuat tanda-tanda keberadaan kutu busuk lebih mudah terlihat. Beberapa gejala yang sering muncul adalah bercak kecokelatan di seprai, bau manis yang agak apek dari feromon (zat kimia) kutu busuk, serta ditemukannya telur atau kulit kutu busuk yang rontok di lipatan kasur.

    Kelembapan dan suhu hangat juga membuat mereka lebih aktif bergerak.Mereka bisa berpindah ke furnitur berlapis kain, celah dinding, sofa, karpet, dan furnitur lainnya.

    Selain mempercepat penyebaran, kondisi lembap juga bisa meningkatkan risiko reaksi alergi pada sebagian orang. Kombinasi kutu busuk dan kelembapan dapat memperparah iritasi atau sensitivitas kulit akibat gigitan.

    Cara Mengendalikan Kutu Busuk di Lingkungan Lembap

    E&G Exterminators menegaskan bahwa mengatasi kutu busuk di ruangan lembap membutuhkan beberapa cara. Namun, banyak metode mandiri tidak mampu menjangkau telur atau kutu busuk yang bersembunyi di celah-celah furnitur, apalagi jika kelembapan masih tinggi dan terus mendukung perkembangan mereka.

    Ahli pengendalian hama biasanya menggunakan strategi terpadu. Cara-cara tersebut dilakukan mulai dari inspeksi mendalam, perlakuan yang bertahap, hingga mengurangi sumber kelembapan dalam rumah.

    Penurunan kelembapan melalui perbaikan ventilasi, menutup kebocoran, atau penggunaan dehumidifier dapat membantu memperlambat siklus hidup kutu busuk. Namun keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kombinasi antara pengendalian lingkungan dan penanganan untuk benar-benar memutus siklus hidup kutu busuk di rumah.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com