Tag: listrik

  • 5 Karakteristik Rumah Ini Bisa Bikin Boros Listrik


    Jakarta

    Listrik sangat penting untuk menjalankan berbagai kegiatan, termasuk di dalam rumah. Tentunya rumah hemat listrik menjadi dambaan banyak orang karena bisa menekan tagihan listrik.

    Akan tetapi, tak jarang bangunan rumah justru membuat boros listrik. Nah, penting sekali memperhatikan karakteristik rumah yang mesti dihindari biar nggak tagihan listrik membengkak.

    Lalu, seperti apa rumah yang bisa bikin boros listrik? Simak penjelasan berikut ini.


    Ciri-ciri Rumah Boros Listrik

    1. Jendela Besar di Sisi Barat Rumah

    Arsitek Denny Setiawan menyarankan agar tidak membuat bukaan terlalu besar pada sisi rumah yang menghadap ke arah mata angin barat. Ia menjelaskan wilayah tersebut cenderung panas karena matahari terbenam di barat.

    “Kalau pun terpaksa kita mempunyai rumah yang menghadap barat, kita harus memikirkan bagaimana membuat kisi-kisi atau sun shading, penghalau panas matahari di wilayah barat,” ujar Denny kepada detikcom belum lama ini.

    Udara dari arah barat membuat rumah terasa panas, sehingga pemilik perlu menyalakan AC. Justru untuk menghemat listrik, penggunaan AC mesti diminimalisir.

    2. Ruangan Tanpa Ventilasi

    Lalu, ventilasi menjadi salah satu kunci utama memiliki rumah hemat listrik. Sebaiknya pemilik rumah memaksimalkan ventilasi agar udara bisa keluar-masuk rumah. Meski ruangan tidak dingin, setidaknya penghuni rumah masih bisa merasa nyaman karena ada hembusan angin melalui ventilasi.

    Oleh karena itu, Denny menyarankan desain rumah dengan ventilasi yang baik, sehingga terjadi ventilasi silang. Beberapa cara yang bisa digunakan antara lain menggunakan jendela swing, pintu geser, dan jalusi.

    3. Kekurangan Jendela

    Kemudian, ia sangat menganjurkan banyak bukaan seperti jendela agar angin bisa masuk dan membuat rumah terasa sejuk. Namun, tetap hindari bukaan besar di sisi barat.

    “Menggunakan atau mem-block dinding terlalu masif karena takut cahaya matahari itu juga jadi salah karena akhirnya angin tidak dapat masuk ke dalam,” katanya.

    Selain membuat ruangan terasa adem, jendela penting agar ruangan mendapat pencahayaan alami. Ia mengatakan setiap ruangan harus memiliki jendela supaya tidak gelap.

    4. Plafon Tinggi

    Menurut Denny, rumah dengan plafon tinggi berpotensi membuat tagihan listrik jadi mahal. Hal ini kalau pemilik rumah menggunakan AC untuk mendinginkan ruangan besar tersebut.

    “Plafon tinggi itu katanya rumah akan menjadi adem, tapi kalau kita pakenya masih pengudaraan buatan (AC), otomatis dia (AC) akan bekerja lebih keras karena harus mendinginkan lebih banyak space,” jelasnya.

    Jika menggunakan AC di rumah, Ia menyarankan memilih AC yang sesuai dengan ukuran ruangan.

    5. Dinding Berwarna Gelap

    Selanjutnya, Denny meyakini pemilihan warna rumah akan mempengaruhi pencahayaan lampu yang dibutuhkan.

    “Warnanya kalau misalnya terlalu gelap, otomatis kita membutuhkan lampu yang lebih banyak, sehingga kita harus jadi lebih boros menggunakan lampu sehingga cahayanya lebih banyak,” pungkasnya.

    Itulah beberapa ciri-ciri rumah yang bisa bikin boro listrik. Semoga bermanfaat!

    (dhw/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Beli Rumah tapi Listriknya Masih Nama Pengembang, Bagaimana Cara Balik Namanya?


    Jakarta

    Ketika kita membeli rumah, baik itu rumah baru dari pengembang properti, maupun rumah bekas milik perorangan, tentu kita akan mengikuti beberapa rangkaian proses pindah tangan yang tidak sedikit.

    Namun, dalam proses pindah tangan tersebut selalu ada satu hal yang sering dilupakan. Yaitu nama pemilik listrik dari rumah tersebut.

    Lantas, apakah nama pemilik listrik tersebut bisa kita ubah?


    Menurut konsultan properti, Frimadona, nama pemilik meteran listrik dari sebuah rumah yang baru dibeli, baik itu dari pengembang properti maupun perorangan sebenarnya bisa saja dilakukan, dengan syarat sertifikat tanah rumah tersebut sudah balik nama sesuai dengan pemilik barunya.

    “Sebenarnya kalau rumah tersebut (sertifikatnya) sudah balik nama, walaupun masih KPR. Kita minta kopiannya ke notaris atau ke banknya itu bisa diajukan. Yang penting sih sertifikat tanahnya sudah balik nama sesuai dengan si pemilik,” ujar Frimadona kepada detikcom, Senin (10/6/2024).

    Lebih jelas, ia mengatakan bahwa dalam waktu 3 bulan, seharusnya sertifikat tanah dari rumah yang baru dibeli tersebut sudah balik nama sesuai dengan pemilik barunya. Jadi pemilik baru bisa meminta salinannya kepada notaris atau bank yang bersangkutan sebagai salah satu persyaratan balik nama listrik.

    “Semisal dia membeli (rumah) itu dari pengembang kan. satu dua tiga bulan itu kan sertifikat tanahnya sudah balik nama tuh, walaupun masih KPR. Kita bisa minta kopiannya ke notaris atau ke pihak banknya untuk balik nama listriknya,” jelasnya

    Nah, bagi kamu yang listrik rumahnya masih pakai nama orang lain, kamu bisa simak cara untuk balik nama listrik tersebut di bawah ini.

    Cara Balik Nama Listrik Rumah

    Menurut Frimadona, persyaratan yang perlu disiapkan ketika ingin melakukan balik nama listrik PLN yaitu sebagai berikut:

    1. Fotokopi KTP

    2. Nomor ID pelanggan listrik PLN

    3. Fotokopi Akta Jual Beli (AJB) / sertifikat tanah rumah

    4. Melunasi tagihan rek listrik berjalan (jika kwh pascabayar)

    Setelah kamu menyiapkan seluruh persyaratan tersebut, kamu bisa melakukan proses selanjutnya, yaitu pengajuan balik nama listrik tersebut.

    Menurut Frimadona, untuk melakukan proses balik nama listrik PLN bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mendatangi langsung ke kantor PLN terdekat, atau dengan melakukan pengajuan terlebih dahulu lewat aplikasi PLN Mobile.

    “Datang langsung ke kantor PLN terdekat, tinggal bawa persyaratan aja. Nantinya data itu diverifikasi sama PLN,” ujar Frimadona.

    “Kalau saya lewat aplikasi PLN Mobile, jadi kita mengajukan melalui PLN mobile melalui live chatnya dulu, terus nanti kita dapat WA dari PLN terkait balik nama sama syarat-syaratnya,” tambahnya.

    Lebih lengkap, ia menjelaskan bahwa proses pengajuannya tersebut akan dilanjutkan melalui WhatsApp. Namun, kamu juga akan tetap diminta untuk datang ke kantor PLN terdekat untuk menyerahkan syarat-syarat yang wajib untuk dilengkapi.

    “Untuk pengajuannya itu via WhatsApp. Pertama melalui PLN Mobile kita chat (di live chat PLN Mobile), habis itu kita dapat konfirmasi dari nomor PLN untuk syarat-syaratnya. Tapi tetap, berkas-berkas persyaratan kaya fotokopi KTP, terus nomor ID pelanggan sama fotokopi AJB atau sertifikat itu harus dibawa ke kantor PLNnya,” terang Frimadona.

    Berapa Biaya Balik Nama Listrik PLN?

    Menurut keterangan yang diberikan oleh Frimadona, biaya yang harus disiapkan saat melakukan balik nama listrik PLN itu meliputi biaya balik nama sebesar paling kecil Rp 5000, biaya beli materai 10.000 untuk surat pernyataan, dan biaya untuk membeli token listrik setelah balik nama.

    “Biaya balik nama listrik biasanya paling kecil 5000, sama biaya materai 10.000 buat nanti ada surat pernyataan. Sama nanti kita langsung disuruh beli token listrik. Buat beli token listriknya sendiri terserah mau yang berapa saja,” katanya.

    Apakah Token Listrik Akan Hilang Ketika Balik Nama?

    Frimadona mengatakan bahwa sisa token listrik tidak akan hilang, karena proses balik nama ini tidak akan mengganti ID pelanggan dari listrik tersebut.

    “Listrik kita gak hilang, cuma ganti namanya saja. IDnya tetap sama, cuma namanya saja yang ganti,” jawabnya.

    Apakah Nama Pemilik Listrik yang Berbeda Dari Nama Sertifikat Tanah Berbahaya?

    Menurut Frimadona, nama listrik yang berbeda dari nama sertifikat tanah rumah tersebut sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Namun, dengan selarasnya nama pemilik listrik dengan sertifikat tanah atau PBB tentunya bisa membuat kita lebih aman secara legalitas, terutama bila kamu ingin melakukan hal yang memerlukan detail listrik seperti saat melakukan pinjaman, kredit kendaraan, dan sebagainya.

    “Sebenarnya nama pemilik listrik itu gak terlalu jadi masalah, cuman nanti biasanya kalau ada mau pinjaman, atau beli motor secara cicil, biasanya dimintai rekening, PBB, sama kWh listrik,” kata Frimadona.

    “Walaupun gak jadi masalah, tapi kan kalau namanya sinkron dari mulai sertifikat, PBB, listrik, jadi terasa lebih aman sih secara legalitas,” sambungnya.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Penting! Ketahui Jenis dan Penyebab Korsleting Listrik di Rumah


    Jakarta

    Korsleting listrik atau arus pendek merupakan aliran listrik yang bergerak keluar dari jalurnya. Korsleting listrik bisa berbahaya karena sering kali menjadi penyebab kebakaran rumah.

    Nah, untuk mencegah terjadi kebakaran, penting memahami jenis dan penyebab korsleting listrik. Beberapa penyebab hal ini mulai dari sambungan listrik yang berantakan hingga penggunaan kabel yang hampir putus.

    Jangan sampai korsleting listrik dan kebakaran kejadian di rumah kamu. Simak penjelasan soal jenis dan penyebab korsleting listrik berikut ini, dikutip dari Klopmart, Jumat (14/6/2024).


    Jenis-Jenis Korsleting Listrik

    1. Korsleting Normal

    Hal ini dapat terjadi ketika kabel listrik yang membawa arus dan kabel netral saling bersentuhan. Ketika hal ini terjadi, resistensi akan turun secara instan dan arus dalam jumlah besar akan mengalir melalui jalur yang tidak terduga.

    2. Korsleting Ground Fault

    Hal ini akan terjadi di saat kabel yang membawa arus bersentuhan dengan bagian sistem yang berada di tanah. Ini bisa berupa kotak dinding logam yang ditanam, kabel dalam tanah atau bagian peralatan yang ditanam.

    Penyebab Korsleting Listrik

    1. Isolasi Kawat Sirkuit Rusak

    Jika insulasi rusak atau sudah tua, hal ini bisa menyebabkan kabel cepat panas kemudian bersentuhan dengan netral. Hal inilah yang menyebabkan korsleting. Umur kawat, paku atau sekrup yang sudah tua dapat mempengaruhi bahkan merusak isolasi. Terdapat juga risiko dimana ada hama yang bisa menggerogoti insulasi dan mengekspos konduktor kawat.

    2. Koneksi Kabel Longgar

    Jika terdapat sambungan kabel listrik yang longgar, maka memungkinkan kabel yang sedang mengalirkan listrik dan netral dapat bersentuhan. Jika Kamu melihat sambungan kabel yang salah, jangan mencoba memperbaikinya sendiri. Lebih baik Kamu segera menghubungi teknisi listrik.

    3. Kondisi Kabel Peralatan yang Rusak

    Jika Kamu mencolok alat elektronik ke stop kontak listrik dinding, kabel akan menjadi perpanjangan sirkuit. Jika ada masalah pada kabel alat elektronik tersebut, maka tentu saja akan terjadi masalah sirkuit. Korsleting dapat terjadi di kabel daya, steker, atau di dalam alat. Pastikan untuk mendapatkan perlindungan sirkuit pendek untuk semua peralatan elektronik yang ada di rumah Kamu.

    4. Sambungan Kabel Listrik yang Berantakan

    Penyebab selanjutnya yang dapat mengakibatkan korsleting listrik adalah karena sambungan kabel listrik yang berantakan. Kabel listrik yang tidak rapi bisa membuat terlilit satu sama lain.Jika itu terjadi maka dapat menyebabkan arus listrik menjadi tidak terkendali dan dapat terbakar.

    5. Sekring yang Tidak Stabil

    Salah satu penyebab korsleting listrik adalah karena adanya sekring listrik yang tidak stabil. Kejadian ini disebabkan karena adanya ketidakstabilan arus listrik saat akan memakai barang elektronik berkali-kali di rumah Kamu. Jika tidak dibenarkan maka lama kelamaan akan menyebabkan mati listrik pada rumah.

    (dhw/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Listrik di Rumah Boros, Ini 12 Tips Biar Tagihan Nggak Bengkak


    Jakarta

    Listrik merupakan kebutuhan penting di rumah untuk menerangi ruangan hingga mengalirkan air. Tentunya tagihan listrik pun menjadi salah satu pengeluaran rumah yang harus diemban pemilik rumah setiap bulannya.

    Namun, terkadang tagihan listrik bisa membengkak karena penggunaan yang boros. Tentu kamu nggak mau pusing gegara tagihan listrik yang melonjak tinggi bukan?

    Nah, oleh karena itu kamu perlu melakukan upaya menghemat listrik. Lalu, seperti apa ya cara menghemat penggunaan listrik di rumah?


    Dalam Modul Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kemdikbud oleh Haris Danial dan Ismiyati Ano, menghemat listrik berarti sikap yang tidak membuang listrik secara percuma, dan mematikan sebagian listrik yang tidak terpakai. Perilaku itu terlihat sepele, namun membawa dampak besar untuk lingkungan kita.

    Mengutip dari detikJabar, Selasa (18/6/2024), berikut ini cara untuk menghemat penggunaan listrik di rumah.

    Tips Hemat Listrik di Rumah

    1. Menyambung Daya Listrik PLN Sesuai Kebutuhan

    Melansir dari anjuran Kementerian Lingkungan Hidup dan ESDM, rumah tangga kecil rata-rata membutuhkan daya listrik yang sedikit. Maka, cukup dengan menyambung listrik berdaya 450 VA atau 900 VA. Sedangkan untuk rumah tangga sedang cukup menyambung 900 – 1300 VA.

    2. Menyesuaikan Perabot Elektronik Sesuai Kebutuhan

    Kamu bisa lebih efisien memakai listrik dengan menyesuaikan barang elektronik sesuai kebutuhan, seperti memilih kulkas dengan ukuran yang sesuai. Jika rumah tangga kecil maka cukup pilih kulkas satu pintu dengan ukuran kecil, namun jika untuk industri usaha barulah menggunakan pendingin dengan kapasitas yang lebih besar. Serta gunakan mesin cuci sesuai dengan kapasitas rumah tangga.

    Bisa juga dengan mengatur jumlah kepemilikan perabotan, seperti untuk rumah tangga kecil tak perlu menggunakan pendingin ruangan atau AC pada setiap ruangan. Kemudian untuk ruangan yang memiliki cukup ventilasi tak perlu menggunakan AC.

    3. Mengatur Suhu Sesuai Kebutuhan

    Selain itu, pantau juga suhu barang-barang elektronik seperti kulkas dan AC. Tak perlu dengan suhu yang maksimal, pastikan dengan suhu yang cukup. Contohnya seperti mengatur serta sesuaikan suhu AC berdasar luas ruangan, pertahankan suhu pendingin sekitar 25°C.

    Berdasar anjuran dari ESDM Provinsi Kalimantan Timur melalui lamannya, masyarakat juga bisa mengatur daya pencahayaan maksimum sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai berikut:

    • Untuk ruangan kerja gunakan penerangan 12 watt/m² dengan tingkat pencahayaan 350 lux.
    • Untuk tempat parkir, lobi, dan koridor gunakan penerangan 4 watt/m² dengan tingkat pencahayaan 100 lux.
    • Untuk ruang arsip gunakan penerangan 6 watt/m² dengan tingkat pencahayaan 150 lux.

    4. Gunakan Elektronik Hemat Energi

    Sekarang ada banyak elektronik hemat energi. Kamu bisa mulai menggunakan setrika yang memiliki pengatur panas otomatis. Gunakan lampu LED sebagai penerangan, sebab lebih terang sehingga mampu menghemat hingga 90% listrik di rumah.

    Untuk komputer, tentunya sekarang nyaris semua pengguna monitor sudah menggunakan LCD atau LED karena lebih hemat listrik daripada menggunakan monitor tabung. Kemudian bisa juga menggunakan saklar otomatis, pengatur waktu (timer), atau sensor cahaya (photocell) untuk lampu taman dan teras.

    5. Nyalakan Hanya Saat Diperlukan

    Kamu bisa lebih hemat listrik dengan mulai membiasakan matikan barang elektronik yang tidak digunakan. Contohnya seperti jangan nyalakan televisi saat tidak ingin menonton televisi, nyalakan televisi ketika ingin menonton. Jadi, jangan dibiasakan TV menyala ketika tertidur, ya!

    Kemudian matikan lampu saat pagi dan siang hari, hingga matahari mulai terbenam barulah nyalakan kembali lampu. Kemudian, mulai kurangi ;ampu pada setiap armateur (kotak lampu) dari tiga menjadi dua atau satu lampu saja.

    6. Hindari Penggunaan Listrik Bersamaan

    Sebaiknya menghindari penggunaan benda elektronik secara bersamaan. Misalnya kamu terburu-buru akan pergi, kemudian ingin menggunakan hair dryer. Maka sebelum mulai memasang hair dryer matikan televisi dan AC. Nyalakan listrik seperlunya saja, selebihnya dimatikan.

    7. Beli Tangki Penampungan Air

    Selain listrik, penggunaan air pun kita harus berhemat. Sebaiknya mulai gunakan tangki air untuk menghemat penggunaan pompa air listrik. Buatlah tandon air dan gunakan mesin pompa air jika benar-benar membutuhkan.

    8. Cabut Aliran Listrik

    Pastikan mencabut aliran listrik barang-barang elektronik yang sudah penuh dayanya, seperti handphone, kabel komputer, printer, dispenser, jika tidak dibutuhkan lagi maka cabut dari stop kontak (plug) setelah selesai digunakan atau setelah jam kerja berakhir.

    Kabel listrik peralatan elektronik yang masih menancap, meski sedang tidak digunakan juga akan tetap membuat aliran listrik mengalir. Hal itu juga akan membuat tagihan listrik semakin melonjak. Contoh lainnya, jangan biarkan kabel televisi tersambung ke saklar apabila ingin bepergian berhari-hari dari rumah.

    9. Mengganti Keran yang Bocor

    Terkadang kita tahu ada keran yang bocor pada salah satu titik, namun kita biarkan karena tidak sempat mengganti atau bahkan malas. Keran yang bocor meskipun hanya mengeluarkan setetes demi tetes air juga merupakan bentuk pemborosan.

    Air juga termasuk sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Untuk itu gunakan air secukupnya. Apabila kita sering menyalakan pompa air, maka biaya listrik pun akan tinggi. Segera ganti keran jika memang bocor.

    10. Mempersingkat Penggunaan Listrik

    Persingkat penggunaan listrik sebisa mungkin, contohnya ketika ingin memasak nasi dengan rice cooker kamu sudah menggunakan air panas, cara ini dapat mempersingkat waktu memasak sehingga pemakaian listrik dapat dihemat.

    11. Membuat Rumah dengan Ventilasi Udara

    Cara menghemat listrik adalah dengan membuat rumah yang memiliki cukup ventilasi. Hal ini akan membuat aliran udara dari luar bisa masuk ke dalam rumah. Selain itu, membuat sirkulasi udara di dalam rumah juga bisa mengurangi penggunaan pendingin ruangan atau kipas angin. Lebih utamakan untuk membuka jendela agar ada sirkulasi udara daripada menggunakan pendingin ruangan di pagi dan siang hari.

    12. Manfaatkan Ventilasi Rumah

    Fungsi dari ventilasi tak hanya untuk sirkulasi udara, namun kamu juga bisa memanfaatkan cahaya alami (matahari) pada siang hari dengan membuka tirai jendela secukupnya agar tingkat cahaya memadai untuk melakukan kegiatan. Mulailah untuk mengurangi penggunaan lampu pada ruangan kerja.

    Itulah cara menghemat listrik di rumah. Semoga bermanfaat ya detikers!

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Pahami Pengertian, Jenis, dan Fungsinya


    Jakarta

    Sistem kelistrikan yang ada di setiap bangunan rumah hingga perkantoran tak terlepas dari risiko korsleting. Untuk itu, terdapat satu komponen penting yang berperan sebagai pengaman instalasi listrik, namanya MCB atau Mini Circuit Breaker.

    Adanya MCB dalam sistem listrik antara lain adalah untuk memutus arus listrik berlebih secara otomatis yang berpotensi menyebabkan korsleting. MCB sendiri memiliki beragam jenis dan fungsi. Apa saja jenis dan fungsinya? Simak di artikel berikut.

    Pengertian MCB Listrik

    Miniature Circuit Breaker atau kerap disingkat MCB merupakan sebuah alat dalam instalasi listrik yang berfungsi sebagai pembatas sekaligus pengaman dari arus listrik pendek. Mengutip dari buku Instalasi Listrik Industri oleh Djoko Laras Budiyo Taruno dkk, MCB dilengkapi dengan komponen relay elektromagnetik dan Thermis atau bimetal.


    Ketika terdapat aliran berlebih, komponen bimetal akan melengkung dan memutuskan kontak MCB (trip). Selain komponen relay elektromagnetik dan bimetal, terdapat juga solenoid yang berperan untuk memutuskan MCB saat terjadi aliran listrik singkat.

    Secara umum, MCB terdiri atas 9 arus nominal, diantaranya adalah 1A, 2A, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, 25A, dan 32A. Berdasarkan penjelasan pada buku Transmisi dan Distribusi oleh Hendro Widiarto, arus nominal tersebut ditentukan dari besarnya aliran yang dapat dihantarkan. Karena banyak yang menggunakan daya listrik 450 VA (Volt Ampere), sebagian besar pelanggan PLN di Indonesia masih menggunakan MCB dengan arus nominal 2A (ampere).

    Jenis-jenis MCB Listrik

    Komponen MCB terbagi menjadi beberapa jenis sesuai karakteristik tripnya. Adapun jenis-jenis MCB listrik yang dirangkum dari laman Wilsoncables adalah sebagai berikut:

    1. MCB Tipe B

    MCB Tipe B merupakan jenis MCB standar yang biasa dipasang pada bangunan domestik. Tipe MCB ini akan mengalami putus jaringan transmisi listrik atau trip ketika arus beban listrik lebih besar 3-5 kali lipat dari arus maksimum atau arus nominal.

    2. MCB Tipe C

    MCB Tipe C cenderung lebih banyak dijumpai pada perangkat listrik dengan arus yang lebih tinggi, seperti misalnya lampu, motor, dan lain sebagainya. Listrik jeglek atau trip pada jenis MBC ini dapat terjadi saat aliran listrik 5-10 kali lebih besar dari arus nominal MCB.

    3. MCB Tipe D

    Jenis MCB listrik berikutnya adalah MCB Tipe D. Tipe MCB ini bisa ditemukan pada peralatan listrik yang menghasilkan lonjakan arus besar seperti pada perangkat kapasitor, transformator, peralatan las, atau mesin X-Ray. MCB Tipe D berpotensi mengalami trip ketika aliran listrik lebih besar 10-20 kali lipat dari beban yang seharusnya.

    4. MCB Tipe K

    MCB tipe K merupakan opsi komponen MCB yang bagus untuk berbagai jenis mesin. MCB tipe ini akan mengalami perubahan trip saat lonjakan arus mencapai 8-12 kali lebih besar dari batas maksimum beban yang direkomendasikan.

    5. MCB Tipe Z

    Berbeda dengan tipe MCB sebelumnya,MCB tipe Z bersifat khusus dan hanya diperuntukkan bagi perangkat-perangkat tertentu yang rentan terhadap korsleting, seperti semikonduktor. MCB tipe ini juga lebih sensitif, ia akan trip atau jeglek saat lonjakan arus mencapai 2-3 kali lipat lebih besar dari beban arus yang seharusnya.

    Fungsi MCB Listrik

    Setelah tadi membahas pengertian dan jenis-jenis MCB, berikut beberapa fungsi penting dari MCB dalam sistem listrik yang perlu diketahui:

    1. Pengaman dari Arus Pendek

    Seringkali kebakaran pada bangunan rumah atau pasar bersumber dari masalah hubungan arus pendek atau korsleting. Korsleting dapat terjadi karena sejumlah faktor, misalnya saja akibat mengambil sumber listrik langsung dari tiang listrik, sehingga arus listrik langsung dilewatkan ke saklar dan diteruskan ke lampu atau perangkat elektronik lain.

    Selain itu, bunga api juga dipicu karena tidak adanya pengaman yang mencegah instalasi listrik dari korsleting akibat beban arus yang melebihi batas kemampuan kabel. Karena itulah, MCB hadir sebagai pengaman sistem listrik dari risiko korslet.

    2. Sakelar Utama dalam Rumah

    Selain sebagai pengaman yang mencegah dari hubungan arus pendek, MCB juga memiliki fungsi penting sebagai saklar utama yang ada dalam setiap rumah. Dengan MCB, kita dapat memutus semua aliran listrik dalam rumah ketika ingin memasang lampu atau kotak-kontak (steker). Kemudian, MCB juga penting untuk memutus aliran listrik sementara saat meninggalkan rumah.

    3. Mengamankan Beban Berlebih

    Fungsi berikutnya dari MCB yaitu untuk memutus beban arus listrik berlebih. Biasanya, pelanggan telah mengontrak listrik dengan besar daya tertentu dengan PLN. Contohnya, pelanggan mengontrak daya sebesar 450 VA (Volt Ampere). Maka, saat daya yang digunakan sudah lebih dari 450 VA, MCB akan trip atau putus secara otomatis. Kabel pun akan disesuaikan dengan besar daya yang dikontrak oleh pelanggan.

    4. Mendistribusikan Energi Listrik

    Manfaat terakhir dari adanya MCB adalah untuk membagikan atau menyuplai energi listrik ke ruangan-ruangan dalam rumah secara merata. Pembagian energi listrik ini dilakukan dengan tujuan agar jaringan instalasi listrik dapat bertahan lama dan meminimalisir menumpuknya beban pada kabel instalasi listrik.

    Selain itu, MCB juga membantu mencegah pemadaman listrik secara keseluruhan dalam rumah, sehingga line MCB lain masih bisa berfungsi normal ketika terjadi korsleting. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Pemikiran-pemikiran yang Tersisa karya Guru-guru SMA/SMK/PK-PLK Jawa Timur.

    Dari pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa penggunaan MCB sangat penting dalam menjaga efisiensi dan keamanan sistem listrik. Maka dari itu, pastikan untuk memilih jenis MCB yang tepat dan berkualitas tinggi bagi instalasi listrik di rumah atau kantor detikers ya.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Salah Pilih Kabel Listrik Bisa Bawa Petaka di Rumah


    Jakarta

    Memilih kabel listrik yang tepat untuk rumah adalah hal krusial yang sering diabaikan.

    Padahal, kesalahan dalam memilih kabel bisa menimbulkan berbagai risiko yang berbahaya, mulai dari kerusakan perangkat hingga kebakaran rumah.

    Overheating yang Berpotensi Kebakaran

    Salah satu risiko terbesar dari pemilihan kabel yang tidak sesuai adalah overheating. Kabel yang tidak mampu menahan arus listrik berlebih dapat memanas dengan cepat, melansir familyhandyman.com, tukang listrik biasanya menggunakan alat penguji tegangan non kontak, dan kamu juga sebaiknya memiliki alat tersebut.


    Jika dibiarkan, suhu tinggi ini dapat menyebabkan isolasi kabel terbakar, yang akhirnya berujung pada kebakaran rumah. Pastikan memilih kabel dengan kapasitas yang sesuai dengan beban listrik di rumah, konsultasikan dengan teknisi listrik jika kamu tidak yakin dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

    Korsleting Listrik

    Korsleting listrik terjadi ketika aliran listrik yang tidak sesuai atau arus pendek mengalir di dalam rangkaian. Ini biasanya disebabkan oleh penggunaan kabel yang tidak mampu menahan beban arus listrik yang besar. Korsleting tidak hanya dapat merusak perangkat elektronik, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran.

    Gunakan kabel dengan standar yang sudah teruji kualitasnya dan mampu menahan arus listrik yang diperlukan. Periksa juga instalasi listrik secara berkala untuk memastikan semua kabel dalam kondisi baik.

    Kerusakan Perangkat Elektronik

    Memilih kabel dengan spesifikasi yang salah, terutama yang tidak sesuai dengan kebutuhan arus listrik, bisa menyebabkan kerusakan perangkat elektronik. Ini disebabkan oleh arus listrik yang tidak stabil, yang membuat perangkat cepat rusak atau bahkan terbakar.

    Kamu bisa menggunakan kabel dengan ukuran yang tepat sesuai daya yang dibutuhkan oleh perangkat. Misalnya, untuk perangkat besar seperti AC dan kulkas, gunakan kabel dengan diameter yang lebih besar.

    Kejutan Listrik (Sengatan Listrik)

    Bahaya lain yang tak kalah serius adalah kejutan listrik. Ini bisa terjadi jika kabel yang dipilih tidak memiliki isolasi yang baik atau rusak. Risiko ini bisa sangat berbahaya, terutama jika penghuni rumah secara tidak sengaja menyentuh kabel yang terkelupas.

    Pilihlah kabel dengan isolasi yang tebal dan berkualitas baik. Hindari penggunaan kabel yang murah dan tidak jelas mereknya, karena biasanya memiliki kualitas isolasi yang buruk.

    Biaya Perbaikan yang Tinggi

    Memilih kabel yang salah bukan hanya menimbulkan risiko keselamatan, tetapi juga berdampak pada biaya perbaikan yang tinggi. Perangkat yang rusak akibat arus listrik yang tidak stabil atau korsleting membutuhkan biaya perbaikan atau penggantian yang mahal.

    Jangan berhemat pada kualitas kabel. Meskipun kabel berkualitas mungkin lebih mahal, ini adalah investasi jangka panjang yang akan melindungi rumah dan perangkat kamu dari kerusakan lebih lanjut.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengenal Berbagai Jenis Kabel yang Ada di Rumah



    Jakarta

    Kabel merupakan komponen penting dalam instalasi listrik dan elektronik.

    Setiap jenis kabel memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda, tergantung pada kapasitas daya serta penggunaannya.

    Kabel Listrik

    Ilustrasi Colokan ListrikIlustrasi Colokan Listrik Foto: Foto: Getty Images/iStockphoto/smolaw11

    Kabel listrik adalah kabel yang digunakan untuk menyalurkan daya listrik dari sumber listrik ke peralatan elektronik, melansir wilsoncables.com, tanpa adanya kabel listrik, kita mungkin tidak bisa memanfaatkan fungsi peralatan dengan optimal.


    Kabel ini dirancang untuk menahan tegangan tinggi dan kuat dalam instalasi rumah, kantor, hingga industri.

    Contoh kabel listrik :

    Kabel NYM : Kabel ini memiliki isolasi ganda dan tahan terhadap air dan suhu, ideal untuk instalasi listrik permanen di rumah.

    Kabel NYY : Cocok untuk instalasi bawah tanah atau di luar ruangan, kabel ini memiliki pelindung ekstra agar tahan terhadap kerusakan fisik dan cuaca.

    Daya : Mulai dari 300V hingga 1000V.

    Fungsi: Menyalurkan daya listrik dari panel distribusi ke berbagai perangkat listrik seperti lampu, AC, dan mesin-mesin industri.

    Kabel Data

    cable to charge electronic gadgets and transfer data connectioncable to charge electronic gadgets and transfer data connection Foto: Thinkstock

    Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair): Kabel ini umum digunakan dalam instalasi jaringan komputer dan telekomunikasi.

    Kabel Coaxial: Digunakan untuk transmisi sinyal televisi dan internet.

    Daya: Tidak dirancang untuk menyalurkan daya tinggi, melainkan untuk sinyal atau data.

    Fungsi: Menghubungkan perangkat komunikasi atau jaringan, seperti komputer dan modem, untuk transfer data berkecepatan tinggi.

    Kabel Serat Optik (Fiber Optic Cable)

    Mendaur Ulang Sampah Kabel Serat OptikMendaur Ulang Sampah Kabel Serat Optik Foto: Ari Saputra

    Kabel serat optik adalah kabel modern yang digunakan untuk transmisi data dalam jumlah besar dan jarak jauh dengan sangat cepat. Kabel ini menggunakan cahaya untuk mengirimkan data, sehingga memiliki kecepatan lebih tinggi dibandingkan kabel tembaga.

    Daya: Kabel ini tidak menyalurkan daya listrik, melainkan sinyal cahaya.

    Fungsi: Digunakan dalam jaringan internet berkecepatan tinggi, jaringan telekomunikasi, serta dalam instalasi jaringan backbone antar server.

    Kabel HDMI

    High-Definition Multimedia Interface (HDMI) adalah kabel yang digunakan untuk mentransmisikan audio dan video digital antara perangkat seperti TV, komputer, konsol game, dan proyektor. Kabel ini mendukung transmisi data dengan kualitas tinggi.

    Daya: HDMI biasanya tidak dirancang untuk menyalurkan daya, namun beberapa versi terbaru dapat mengirimkan daya hingga 5V untuk mengoperasikan perangkat kecil seperti dongle streaming.

    Fungsi: Menyalurkan sinyal audio dan video berkualitas tinggi dari perangkat pemutar ke layar tampilan atau speaker.

    Kabel USB (Universal Serial Bus)

    USB TYPE-CUSB TYPE-C Foto: 20Detik

    Kabel USB adalah salah satu jenis kabel paling umum yang digunakan untuk menghubungkan perangkat elektronik seperti ponsel, komputer, dan perangkat periferal lainnya.

    Daya: Biasanya sekitar 5V hingga 20V tergantung pada versi USB.

    Fungsi: Menyalurkan daya dan data antara perangkat elektronik, seperti pengisian baterai ponsel atau transfer data antara komputer dan perangkat penyimpanan eksternal.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Alasan Rumah Harus Pasang Aliran Listrik Terpisah Tiap Lantai



    Jakarta

    Rumah harus memiliki kapasitas listrik yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, apa pun perangkat elektronik yang akan digunakan dapat berfungsi. Salah satu yang bisa dilakukan agar aliran listrik sesuai dengan kebutuhan adalah dengan memasang MCB atau Miniature Circuit Breaker di beberapa tempat.

    Sebagai informasi, MCB merupakan komponen listrik yang dapat memutuskan aliran listrik di rumah. Biasanya aliran listrik yang mati disebabkan penggunaan yang berlebihan. Dengan satu tombol di MCB ini, kamu bisa mematikan dan menghidupkan lagi listrik di rumah. MCB ini letaknya di luar rumah.

    Menurut Produk Manager Produk Manager Schneider Electric Ivan Desian Kaulika, sebuah rumah yang memakai banyak perangkat elektronik, sebaiknya MCB-nya ditopang oleh beberapa MCB yang bekerja terpisah.


    Hal ini dikarenakan, rumah yang memiliki beberapa MCB dapat mencegah listrik di rumah mati seluruhnya apabila ada kerusakan. Jika masalah berada di lantai pertama, misalnya karena kebocoran listrik, maka yang perlu diperbaiki hanya lantai 1 saja. Listrik di lantai atas dapat beroperasi secara normal karena tidak terpengaruh.

    Cara ini juga dinilai cukup efektif karena biasanya perbaikan listrik memerlukan beberapa hari untuk datang ke rumah. Dengan hanya sebagian yang rusak, penghuni rumah tetap bisa beraktivitas seperti biasa, meskipun terbatas.

    “Jadi nggak satu rumahnya mati listriknya. Jadi kalau misalnya kita tahu matinya di situ, jadi tunggal listrik perbaikinya hanya di bagian itu saja. Jadi nggak perlu bongkar listrik satu rumah,” kata Ifan kepada detikProperti usai acara Innovation Talk: Rumah Nyaman Listrik Aman di Jakarta pada Rabu (2/10/2024).

    Lalu, alasan kedua adalah mencegah terjadinya korsleting listrik dan kebakaran di rumah.

    “Dengan makin banyak MCB, artinya dia kondisi korsletingnya lebih kecil kemungkinan terjadinya,” ujarnya.

    Cara menentukan jumlah MCB di rumah ditentukan dari jumlah kapasitas listrik yang dipakai di rumah. Semakin banyak perangkat listrik yang dipakai sebaiknya dipisah.

    Apabila rumah terdiri dari 2 lantai dan pemakaian listrik cukup besar dayanya, maka MCB sebaiknya dipisahkan. Dia menegaskan penentuan jumlah MCB per zona ini tidak ditentukan dari luas rumah.

    Lebih lanjut, dia menuturkan perangkat elektronik yang membutuhkan daya listrik yang besar adalah yang harus menghasilkan panas. Sebagai contoh water heater elektrik dan microwave. Selain itu, AC juga bisa menguras banyak daya listrik di rumah.

    “Elektronik yang paling banyak sebenarnya yang berhubungan dengan apa yang membuat panas. Water heater atau microwave, itu pasti pakai listrik aja. Atau yang membutuhkan gerak yang besar seperti AC,” pungkasnya.

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Jarak Paling Ideal Pasang Saklar, Rumah yang Sering Kebanjiran Wajib Tahu!



    Jakarta

    Saklar adalan perangkat listrik yang pasti ditemui di setiap rumah. Fungsi paling umum yang sering ditemui di rumah adalah untuk menghidupkan dan mematikan lampu. Penasaran nggak sih, untuk pemasangan saklar di rumah di mana lokasi paling ideal?

    Menurut Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) DKI Jakarta, Ranu Scarvia Ria Fitri tinggi pemasangan saklar sekitar 90 cm dari lantai. Jarak pemasangan setinggi ini juga aman untuk rumah yang kerap diterjang banjir.

    “Rumah kita yang kita bangun itu di daerah banjir, artinya saklar harus di atas minimal 90 cm dari lantai,” kata Ranu dalam acara Innovation Talk: Rumah Nyaman Listrik Aman di Jakarta pada Rabu (2/10/2024).


    Untuk saklar di kamar tidur, Ranu menyebutkan biasanya posisinya berada di samping pintu masuk. Lokasi ini dirasa ideal karena mudah dijangkau.

    Selain itu, dia juga ikut membahas mengenai penempatan stop kontak yang kerap berada di samping saklar. Menurutnya peletakkan perangkat listrik seperti ini tidak wajib, itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

    “Jadi saklar tempatnya dengan stok kontak itu juga tidak. Itu kadang sudah kebiasaan. Kebiasaan ada stop kontak, ada saklar sebelahnya. Jadi tidak diharuskan,” tegasnya.

    Lalu, dia juga membantah anggapan adanya stop kontak di samping tempat tidur dapat menyebabkan radiasi berbahaya kepada penghuninya. Menurutnya itu tidak mempengaruhi bagi orang yang berada di dekatnya.

    “Tidak ada aturannya stop kontak tidak boleh di dekat tempat tidur,” ujarnya.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Begini Cara Cek Aliran Listrik Aman atau Tidak, Biar Nggak Sering Jeglek!



    Jakarta

    Pemasangan instalasi listrik biasanya dilakukan bersamaan dengan pembangunan rumah karena peletakkannya di dalam. Terkadang bagi pembeli rumah siap huni, mereka tidak mengetahui kondisi instalasi yang dipasang aman atau tidak karena tidak mengawasi pembangunannya. Sementara, pengembang pasti mengatakan aman-aman saja.

    Lantas, bagaimana cara memastikan kondisi instalasi rumah aman atau tidak?

    Menurut, Business Vice President, Home and Distribution Schneider Electric Indonesia M. Farhan Lucky, hal paling mudah mengetahui instalasi listrik di rumah aman atau tidak adalah pada saat listrik di rumah turun atau jeglek. Biasanya, listrik yang suka jeglek dikarenakan kelebihan daya yang terpakai. Selain itu, jeglek juga bisa disebabkan karena kebocoran listrik.


    “Yang paling simple, untuk mengecek listrik rumah kita itu aman atau tidak adalah pada saat jeglek. Itu kayak kalau kita mau ngecek jantung kita, kita kan biasanya kan cek nadi kita tuh. Nah itu yang pertama tuh,” kata Farhan dalam acara ‘Innovation Talk: Rumah Nyaman Listrik Aman’ di Jakarta pada Rabu (2/10/2024).

    Biasanya listrik yang tiba-tiba mati masih bisa dihidupkan kembali dengan menarik tombol di MCB ke arah yang berlawanan. MCB adalah Miniature Circuit Breaker, sebuah komponen listrik yang dapat memutus arus listrik secara otomatis.

    Hadir di tempat yang sama, public figure dan influencer Andrew White, membagikan pengalamannya untuk mengecek instalasi listrik di rumah. Dia mengatakan caranya dengan menyalakan semua perangkat elektronik di rumah secara bersamaan.

    “Pas nyampe ke rumah yang KPR itu, nyalain aja semua AC-nya, kompornya, semua yang listrik-listrik itu,” imbuh Andrew.

    Dia menambahkan, apabila pada saat dinyalakan secara bersamaan, listrik di rumah langsung jeglek, kamu perlu minta pendampingan tenaga ahli untuk mengecek daya listrik di rumah dan berkonsultasi apakah perlu ditambah atau ada kesalahan lainnya.

    Produk Manager Produk Manager Schneider Electric Ivan Desian Kaulika juga turut menambahkan, pada saat pindahan rumah, terutama rumah siap huni, pemilik rumah harus memastikan tidak ada kabel listrik yang menjuntai. Apabila ada kabel yang terlihat di luar bangunan, maka itu sudah peringatan dan harus segera diperbaiki.

    “Harus lihat secara fisiknya. Ada yang di luar-luar nggak? Kalau lihat ada yang visible (terlihat) itu bahaya. Tetap ngga boleh ngecek sendiri. Harus (bersama) tukang listrik. Lihat kabelnya udah visible artinya red flag,” paparnya.

    Kemudian, tanda instalasi listrik tidak aman adalah pada saat memegang perangkat elektronik, kamu sering merasa tersetrum. Fenomena ini juga bisa menjadi pertanda.

    “Kemudian kalau menghidupkan alat elektronik kesetrum ngga? Itu bahaya, harus tanya ahli listrik. Itu biasanya pertanahannya nggak bener,” lanjutnya.

    Dia menegaskan selama melakukan pengecekan instalasi listrik, pemilik rumah harus didampingi oleh tenaga ahli agar lebih aman dan pasti. Meskipun sudah mengetahui beberapa tanda tadi, tetap perlu mendengar penilaian dari tenaga ahli mengenai kondisi instalasi listrik di rumah.

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com