Tag: makanan sehat

  • Deretan Makanan Ini Bisa Bantu Hempaskan Lemak di Perut, Bye Buncit!


    Jakarta

    Lemak perut yang yang ‘membandel’ kerap menjadi masalah besar dalam proses penurunan berat badan. Lemak di perut atau yang dikenal juga dengan lemak visceral melapisi ruang antara organ di dalam perut sehingga berisiko memberikan efek yang membahayakan untuk kesehatan.

    Banyaknya jumlah lemak visceral dikaitkan dengan berbagai macam penyakit seperti diabetes tipe dua, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker. Dikutip dari NY Post, berikut ini adalah beberapa makanan yang dapat membantu proses penurunan berat badan dan mengurangi lemak di perut:

    Kimchi

    Makanan fermentasi kubis dari Korea Selatan ini rupanya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 116 ribu orang di Korsel, makanan ini dapat mengurangi risiko obesitas hingga 11 persen.


    Orang yang menyukai makan kimchi cenderung memiliki lingkar perut yang lebih kecil menurut penelitian yang diterbitkan oleh BMJ Open tersebut. Hal itu diakibatkan oleh bakteri hidup yang ada di kimchi tersebut.

    “Kimchi rendah kalori, kaya akan serat makanan, bakteri asam laktat, vitamin, dan polifenol,” ucap peneliti.

    Protein Rendah Lemak

    Beberapa jenis sumber protein rendah lemak seperti daging putih, ikan, daging merah tanpa lemak, tahu, dan kacang-kacangan memiliki manfaat yang besar dalam proses penurunan berat badan. Ahli diet di Inggris Priya Tew menuturkan pemilihan jenis protein ini dapat mempermudah jalan menuju berat badan ideal.

    “Saya tidak mengatakan ada makanan tertentu yang dapat mengurangi atau mencegah lemak di perut, melainkan pendekatan gaya hidup. Mengonsumsi makanan ala mediterania terbukti baik untuk tekanan darah, kesehatan jantung, dan kesehatan secara keseluruhan,” kata Priya.

    Diet mediterania memang menjadi salah satu pola diet yang banyak dianjurkan selama proses penurunan berat badan. Pola makan ini menekankan variasi konsumsi buah-buahan, sayuran hijau, lemak sehat seperti minyak zaitun dan kacang-kacangan, serta makanan tinggi omega 3 seperti salmon dan tuna.

    Alpukat

    Sumber lemak sehat juga bisa didapatkan dari buah alpukat. Mengonsumsi makanan yang mengandung lemak sehat seperti ikan, alpukat, dan minyak zaitun dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan dapat menurunkan kadar kolesterol jahat.

    Asam lemak omega-3 memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu melawan perkembangan lemak visceral. Selain itu, lemak sehat ini juga berperan mengatur hormon dan meningkatkan kesehatan metabolisme.

    Greek Yogurt

    Greek yogurt memiliki kandungan probiotik yang tinggi. Probiotik baik untuk meningkatkan mikrobioma usus yang sehat dan dikaitkan dengan pengurangan lemak visceral.

    Selain itu, greek yogurt juga dapat mengatur peradangan dan meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga mampu berkontribusi pada berat badan yang lebih sehat.

    Oatmeal

    Oatmeal merupakan jenis makanan yang memiliki serat larut tinggi. Serat larut memiliki manfaat untuk menurunkan glukosa darah, meningkatkan pertumbuhan bakteri baik di saluran pencernaan, dan mengurangi risiko diabetes tipe dua.

    Oatmeal juga membantu menekan nafsu makan dan memperpanjang durasi kenyang untuk membantu mengurangi lemak visceral.

    (avk/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com / Demi DeHerrera
  • Pakar Ungkap 9 Makanan Terbaik untuk Menurunkan Berat Badan


    Jakarta

    Banyak yang beranggapan diet berarti mengurangi porsi makan. Nyatanya, menurunkan berat badan tidak cukup hanya dengan mengurangi porsi makan saja.

    Jenis makanan yang dikonsumsi juga harus diperhatikan. Bahkan, mengonsumsi makanan yang tepat dapat membantu menghilangkan lebih banyak lemak dan mencapai berat badan ideal.

    Pakar gizi sekaligus instruktur kebugaran Luke Hanna mengungkapkan ada sembilan makanan terbaik yang menurutnya dapat membantu penurunan berat badan. Makanan-makanan ini memang tidak secara langsung menurunkan berat badan, tetapi dapat meningkatkan rasa kenyang sehingga tidak perlu makan terlalu banyak sepanjang hari.


    “Ini adalah makanan yang akan membantu Anda merasa kenyang lebih lama,” ungkapnya dikutip dari Nottingham Post, Kamis (30/1/2025).

    Berikut sembilan makanan untuk menurunkan berat badan yang direkomendasikan Hanna:

    1. Ikan putih
    2. Ayam
    3. Gandum
    4. Greek yoghurt
    5. Buah-buahan
    6. Popcorn
    7. Pasta dari gandum utuh
    8. Sayuran berserat, seperti brokoli, wortel, dan kembang kol

    Selain sembilan makanan di atas, Hanna juga menyarankan para pejuang diet untuk mengonsumsi kentang.

    Sebuah studi yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition yang menganalisa berbagai makanan untuk membuat indeks rasa kenyang (satiety index). Menurut studi tersebut, kentang ternyata memiliki skor indeks rasa kenyang tertinggi.

    “Skor indeks rasa kenyang tertinggi dihasilkan oleh kentang rebus yang tujuh kali lebih tinggi dibandingkan skor indeks rasa kenyang terendah dari croissant,” tulis peneliti.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Awas Basi! Kenali Tanda-tanda Rebusan dan Kukusan Sudah Tak Layak Konsumsi


    Jakarta

    Makanan rebusan maupun kukusan seperti ubi, singkong, kentang kini digemari oleh kalangan Gen Z. Jenis makanan ini memang sehat sebab rendah lemak dan mempertahankan nutrisi yang lebih baik daripada dengan gorengan.

    Kendati demikian, dibandingkan dengan gorengan, makanan rebusan maupun kukusan cenderung lebih cepat basi. Menurut spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, hal ini karena gorengan memiliki minyak yang bertindak sebagai pengawet alami dan mengurangi kadar air, berbeda dengan kukusan.

    “Kukusan punya kadar air tinggi yang memudahkan bakteri, jamur, atau ragi berkembang biak,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/11/2025).


    Karenanya, penting untuk mengetahui tanda-tanda rebusan atau kukusan yang sudah tidak layak konsumsi. Menurut dr Ardian, tanda-tanda pembusukan pada umbi-umbian kukus biasanya muncul dalam 1-3 hari di suhu ruang atau lebih lama jika di kulkas.

    “Jangan konsumsi jika ada gejala berikut, karena bisa menandakan kontaminasi bakteri seperti Salmonella atau E. coli yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan (food poisoning),” ungkapnya.

    Adapun beberapa gejala atau tanda pada umbi-umbian tak layak konsumsi yang dimaksud yaitu:

    1. Perubahan warna: Kulit atau dagingnya menghitam, kecoklatan, atau muncul bintik hitam atau hijau. Misalnya, ubi atau kentang yang mulanya oranye/kuning jadi gelap dan lembek.
    2. Bau tidak sedap: Aroma asam, busuk, atau seperti alkohol, bukan bau alami makanan segar. Ini sering disebabkan oleh fermentasi bakteri.
    3. Tekstur berubah: Menjadi lembek, berlendir (slimy), atau berair berlebih. Jagung kukus yang biasanya kenyal bisa jadi lembab dan berjamur, sementara singkong atau kentang bisa berubah jadi seperti bubur.
    4. Muncul jamur atau gelembung: Bercak putih/hijau (mold) atau gelembung gas di permukaan, tanda aktivitas mikroba yang menghasilkan gas.
    5. Rasa aneh: Jika dicicipi (tapi sebaiknya jangan jika sudah curiga), rasanya asam atau pahit tidak wajar.

    Sementara, untuk singkong khususnya, pastikan sudah direbus lalu dikukus dengan matang sempurna. Umbi-umbian ini mengandung senyawa sianida alami yang bisa beracun jika kurang matang.

    “Tapi ini bukan persoalan kondisi basi, melainkan persiapan awal,” tuturnya.

    (elk/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Awas Basi! Kenali Tanda-tanda Rebusan dan Kukusan Sudah Tak Layak Konsumsi


    Jakarta

    Makanan rebusan maupun kukusan seperti ubi, singkong, kentang kini digemari oleh kalangan Gen Z. Jenis makanan ini memang sehat sebab rendah lemak dan mempertahankan nutrisi yang lebih baik daripada dengan gorengan.

    Kendati demikian, dibandingkan dengan gorengan, makanan rebusan maupun kukusan cenderung lebih cepat basi. Menurut spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, hal ini karena gorengan memiliki minyak yang bertindak sebagai pengawet alami dan mengurangi kadar air, berbeda dengan kukusan.

    “Kukusan punya kadar air tinggi yang memudahkan bakteri, jamur, atau ragi berkembang biak,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/11/2025).


    Karenanya, penting untuk mengetahui tanda-tanda rebusan atau kukusan yang sudah tidak layak konsumsi. Menurut dr Ardian, tanda-tanda pembusukan pada umbi-umbian kukus biasanya muncul dalam 1-3 hari di suhu ruang atau lebih lama jika di kulkas.

    “Jangan konsumsi jika ada gejala berikut, karena bisa menandakan kontaminasi bakteri seperti Salmonella atau E. coli yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan (food poisoning),” ungkapnya.

    Adapun beberapa gejala atau tanda pada umbi-umbian tak layak konsumsi yang dimaksud yaitu:

    1. Perubahan warna: Kulit atau dagingnya menghitam, kecoklatan, atau muncul bintik hitam atau hijau. Misalnya, ubi atau kentang yang mulanya oranye/kuning jadi gelap dan lembek.
    2. Bau tidak sedap: Aroma asam, busuk, atau seperti alkohol, bukan bau alami makanan segar. Ini sering disebabkan oleh fermentasi bakteri.
    3. Tekstur berubah: Menjadi lembek, berlendir (slimy), atau berair berlebih. Jagung kukus yang biasanya kenyal bisa jadi lembab dan berjamur, sementara singkong atau kentang bisa berubah jadi seperti bubur.
    4. Muncul jamur atau gelembung: Bercak putih/hijau (mold) atau gelembung gas di permukaan, tanda aktivitas mikroba yang menghasilkan gas.
    5. Rasa aneh: Jika dicicipi (tapi sebaiknya jangan jika sudah curiga), rasanya asam atau pahit tidak wajar.

    Sementara, untuk singkong khususnya, pastikan sudah direbus lalu dikukus dengan matang sempurna. Umbi-umbian ini mengandung senyawa sianida alami yang bisa beracun jika kurang matang.

    “Tapi ini bukan persoalan kondisi basi, melainkan persiapan awal,” tuturnya.

    (elk/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kukusan Lagi Ngetren, Jadi Pilihan Sarapan Sehat Biar Nggak Gorengan Melulu


    Jakarta

    Tak salah bila generasi Z atau Gen Z dianggap lebih memprioritaskan kesehatannya. Hal ini bisa terlihat dari tren kukusan-rebusan yang lagi viral di media sosial dan diburu kaum muda sebagai alternatif sarapan sehat.

    Salah satu penjual kukusan, Alaibi (21), bercerita baru berjualan dua minggu di sekitar Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat. Meski begitu, dagangannya banyak diminati pembeli.

    “Cuma (jualan) tiap pagi, dari jam 6 sampai 9 pagi. Alhamdulillah selalu habis sih kak,” ujar Alaibi saat ditemui detikcom, Rabu (12/11/2025).

    Sebelumnya, semua makanan yang dijual sudah direbus terlebih dahulu di rumah hingga matang. Saat berada di lokasi berjualan, Alaibi dan rekannya hanya menyusun kembali bahan-bahan tersebut di dalam kukusan alumunium agar tetap hangat.


    Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari ubi, singkong, kentang, jagung, talas, pisang, kacang, labu kuning, hingga telur. Untuk satu paket dijual Rp 10.000 dengan tiga pilihan bebas.

    “Kombinasi yang paling sering dibeli itu ubi, jagung, dan singkong,” tuturnya.

    Tren ini ternyata disambut baik para pembeli, terutama pekerja kantoran yang mencari sarapan. Salah satunya Grace (27), yang mengaku hampir setiap hari membeli makanan kukusan di tempat Alaibi.

    “Tiap hari beli sih aku, Rp 10.000 kan sepaketnya. Yang biasa aku beli itu singkong, ubi, sama pisang,” kata Grace.

    Pembeli lain, Lia (24), juga menjadikan makanan kukusan sebagai menu sarapan. Ia menyebut makanan seperti itu cocok untuk menjaga pola makan sehat, seperti jagung, ubi, dan singkong.

    “Sekalian juga kan buat defisit kalori. Jadi sehat juga ngurangin makan gorengan dan sudah kenyang,” sambungnya.

    Meski belum terbiasa, beberapa pembeli lain tertarik mencoba makanan kukusan karena tren ini sedang ramai. Siska (23) misalnya, ia membeli ubi dan singkong kukusan ini untuk pertama kalinya karena memang kurang terbiasa dengan makanan yang direbus atau dikukus.

    “Karena lagi viral nyoba saja deh sekalian lewat, beli ubi-ubian sama singkong. Rasanya enak sih, cuma aku kurang terbiasa saja jadi cuma bisa rasain manis saja dari ubinya,” pungkasnya.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Kukusan Lagi Ngetren, Jadi Pilihan Sarapan Sehat Biar Nggak Gorengan Melulu


    Jakarta

    Tak salah bila generasi Z atau Gen Z dianggap lebih memprioritaskan kesehatannya. Hal ini bisa terlihat dari tren kukusan-rebusan yang lagi viral di media sosial dan diburu kaum muda sebagai alternatif sarapan sehat.

    Salah satu penjual kukusan, Alaibi (21), bercerita baru berjualan dua minggu di sekitar Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat. Meski begitu, dagangannya banyak diminati pembeli.

    “Cuma (jualan) tiap pagi, dari jam 6 sampai 9 pagi. Alhamdulillah selalu habis sih kak,” ujar Alaibi saat ditemui detikcom, Rabu (12/11/2025).

    Sebelumnya, semua makanan yang dijual sudah direbus terlebih dahulu di rumah hingga matang. Saat berada di lokasi berjualan, Alaibi dan rekannya hanya menyusun kembali bahan-bahan tersebut di dalam kukusan alumunium agar tetap hangat.


    Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari ubi, singkong, kentang, jagung, talas, pisang, kacang, labu kuning, hingga telur. Untuk satu paket dijual Rp 10.000 dengan tiga pilihan bebas.

    “Kombinasi yang paling sering dibeli itu ubi, jagung, dan singkong,” tuturnya.

    Tren ini ternyata disambut baik para pembeli, terutama pekerja kantoran yang mencari sarapan. Salah satunya Grace (27), yang mengaku hampir setiap hari membeli makanan kukusan di tempat Alaibi.

    “Tiap hari beli sih aku, Rp 10.000 kan sepaketnya. Yang biasa aku beli itu singkong, ubi, sama pisang,” kata Grace.

    Pembeli lain, Lia (24), juga menjadikan makanan kukusan sebagai menu sarapan. Ia menyebut makanan seperti itu cocok untuk menjaga pola makan sehat, seperti jagung, ubi, dan singkong.

    “Sekalian juga kan buat defisit kalori. Jadi sehat juga ngurangin makan gorengan dan sudah kenyang,” sambungnya.

    Meski belum terbiasa, beberapa pembeli lain tertarik mencoba makanan kukusan karena tren ini sedang ramai. Siska (23) misalnya, ia membeli ubi dan singkong kukusan ini untuk pertama kalinya karena memang kurang terbiasa dengan makanan yang direbus atau dikukus.

    “Karena lagi viral nyoba saja deh sekalian lewat, beli ubi-ubian sama singkong. Rasanya enak sih, cuma aku kurang terbiasa saja jadi cuma bisa rasain manis saja dari ubinya,” pungkasnya.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Tren Rebusan-Kukusan Diklaim Lebih Sehat, Ini Saran Dokter Gizi agar Manfaatnya Optimal


    Jakarta

    Sarapan dengan menu rebusan dan kukusan belakangan sedang digemari kalangan Gen Z. Tren ini bahkan mendorong banyak pelaku usaha mulai menjual pilihan makanan yang lebih sehat.

    Spesialis gizi klinik dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, mengatakan metode memasak dengan cara direbus atau dikukus memang dikenal lebih sehat karena minim penggunaan minyak dan lemak tambahan.

    Menurutnya, cara memasak tersebut dapat membantu mengurangi asupan kalori ekstra serta mencegah terbentuknya lemak trans yang kerap muncul pada makanan hasil penggorengan.


    “Di Indonesia, gorengan bisa mengandung lemak trans karena minyak digoreng ulang atau menggunakan minyak hidrogenasi parsial, yang meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi berlebih,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (12/11/2025).

    Sebaliknya, masakan kukus justru lebih baik dalam mempertahankan vitamin dan mineral yang larut air, seperti vitamin C dan vitamin B. Proses ini tidak melibatkan suhu tinggi atau pembakaran yang bisa merusak nutrisi.

    Sementara itu, metode merebus memiliki sedikit kekurangan karena sebagian nutrisi bisa larut ke dalam air, terutama jika air rebusannya dibuang.

    “Kalau dilihat bahan utama yang sering dipakai untuk rebusan dan kukusan, seperti ubi, singkong, kentang, atau pisang yang kaya serat, ini semua dapat membantu pencernaan dan menstabilkan gula darah karena mengandung indeks glikemik sedang dan membuat kenyang lebih lama hingga sangat cocok untuk pencegahan dan penanganan obesitas serta diabetes tipe 2 asal dikombinasi dengan makronutrien lengkap lainnya,” tuturnya.

    Agar manfaat sarapan rebusan dan kukusan lebih optimal, dr Ardian mengatakan penting untuk memperhatikan variasi bahan, porsi, dan cara pengolahannya. Menu sehat pun bisa kehilangan nilai gizinya jika tidak diatur dengan baik.

    Upayakan untuk memasak secukupnya, sekitar 10-20 menit saja, agar tekstur tetap lembut dan vitamin yang sensitif terhadap panas tidak banyak hilang. Hindari merebus terlalu lama karena proses pemanasan berlebihan dapat menurunkan kadar vitamin C dan B.

    Selain itu, batasi porsi makan, meski bahan rebusan tergolong sehat, konsumsi karbohidrat berlebih tetap dapat menyebabkan kenaikan berat badan atau kadar gula darah.

    Begitu juga bagi orang dengan kondisi tertentu seperti diabetes, penting untuk tetap memperhatikan total asupan karbohidrat, dengan kisaran 45-65 persen dari kebutuhan kalori harian. Untuk menambah cita rasa, boleh menambahkan sedikit garam atau rempah alami seperti bawang putih, jahe, atau daun salam. Sebisa mungkin hindari tambahan gula, kecap manis, atau saus tinggi kalori yang bisa mengurangi manfaat sehatnya.

    “Menu rebusan dan kukusan yang tampaknya dominan karbohidrat kompleks yang memang baik sebagai sumber energi, tapi kurang seimbang jika tanpa tambahan sumber lainnya. Untuk nutrisi lengkap, ikuti pedoman “Isi Piringku” dari Kemenkes: 1/3 piring untuk karbohidrat (umbi-umbian rebus), 1/3 untuk protein, dan 1/2 untuk sayur-buah,” tuturnya lagi.

    Berikut kombinasi menu yang disarankan.

    • Tambah protein: Telur rebus 1-2 butir untuk 12 gram protein dan rendah kalori, tahu atau tempe kukus, ikan kukus (seperti pepes tanpa minyak), atau kacang rebus (edamame, kacang tanah). Ini untuk bangun dan menjaga massa otot serta menjaga imunitas.
    • Tambah sayur dan buah: Sayur rebus seperti bayam, wortel, atau brokoli untuk vitamin dan serat tambahan. Buah segar seperti pepaya atau apel untuk antioksidan.
    • Lemak sehat: Sedikit kacang atau alpukat jika perlu.
    • Contoh menu seimbang: Ubi rebus + telur rebus + bayam kukus + pisang. Ini bisa penuhi sekitar 300-500 kkal sarapan dengan gizi lengkap, termasuk protein untuk perbaikan sel dan serat untuk kesehatan usus juga mengenyangkan dan memberikan energi yang lama hingga siang.

    (suc/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Menkes Senang Jajanan Kukusan Viral, Minta Lebih Banyak yang Jual Makanan Sehat


    Jakarta

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku senang banyak yang mulai berjualan makanan lebih sehat. Hal ini juga bisa meningkatkan tren kebiasan jajanan dari semula junkfood dan camilan tinggi gula, garam, lemak, (GGL) menjadi kaya gizi dengan langsung menyantap real food.

    “Iya lumayan itu banyak di TikTok saya lihat jutaan yang viral, saya senang. Lebih banyak makan-makanan sehat, sarapan sehat,” kata Menkes saat ditemui detikcom di Gedung Kemenkes RI, Rabu (12/11/2025).

    Menkes mengapresiasi penjual yang ikut memviralkan tren jajanan sehat. Di samping itu, dia juga mengingatkan pola makan sehat yang memenuhi aspek gizi mulai dari karbohidrat sampai serat.

    “Pola makan sehat wajib kaya gizi dengan tetap melibatkan protein, karbohidrat kompleks, buah, serat, juga protein nabati,” sambung dia.


    Kukusan Diserbu Buat Sarapan Sehat

    Pantauan detikcom, Rabu (12/11/2025), di sekitar Stasiun Sudirman Jakarta Selatan, menu sarapan serba rebus-rebusan dan kukusan mudah ditemui. Salah satu penjual, Alaibi (21), mengaku baru 2 minggu berjualan di lokasi tersebut namun sudah ramai pembeli.

    Alaibi menjual berbagai jenis makanan kukus, seperti ubi, singkong, pisang, talas, kentang, jagung, kacang, sukun, hingga labu kuning. Untuk satu paket dijual seharga Rp 10.000, dengan pilihan tiga jenis kukusan.

    “Kombinasi yang paling sering dibeli itu selain talas, ada ubi, jagung, dan singkong. Satu paket harganya 10 ribu sudah dapat 3 bisa pilih bebas,” bebernya.

    @detikhealth_official Telur dicampur bahan makanan lain bisa jadi keracunan? mitos atau fakta yaa? yuk kita dengerin penjelasan dari ahlinya! #telur #racun #mitos #edukasikesehatan ♬ suara asli – detikHealth

    (naf/kna)





    Sumber : health.detik.com

  • Lagi Tren Rebusan-Kukusan, Sehat Mana dibanding Nasi Uduk? Ini Kata Dokter Gizi


    Jakarta

    Belakangan, tren sarapan dengan menu rebusan dan kukusan tengah digemari kalangan Gen Z. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan turut mengapresiasi tren gaya hidup yang dianggap lebih sehat.

    Tak hanya itu, Menkes juga mengaku senang semakin banyak yang mulai berjualan makanan lebih sehat. Menurutnya, tren ini juga dapat mendorong perubahan kebiasaan jajan dari yang sebelumnya didominasi junk food dan camilan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), menjadi konsumsi makanan utuh (real food) yang lebih bergizi.

    “Iya lumayan itu banyak di TikTok saya lihat jutaan yang viral, saya senang. Lebih banyak makan-makanan sehat, sarapan sehat,” kata Menkes saat ditemui detikcom di Gedung Kemenkes RI, Rabu (12/11/2025).


    Spesialis gizi klinik dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, mengatakan, secara umum menu sarapan berbasis rebusan atau kukusan bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan sarapan tradisional yang kerap melibatkan proses penggorengan atau penggunaan santan berlebih.

    Namun, lanjutnya, ini bukan berarti makanan seperti bubur ayam, lontong sayur, atau nasi uduk termasuk makanan yang ‘jahat’ atau tidak sehat sama sekali. Hidangan-hidangan tersebut justru memiliki nilai gizi dan cita rasa khas yang sudah menjadi bagian dari budaya kuliner Indonesia. Di dalamnya terdapat sumber energi dari nasi atau lontong, serta protein dari ayam dan berbagai topping pelengkap.

    “Masalahnya cuma kalau dimakan berlebihan atau sering banget, bisa bikin asupan kalori harian jadi berlebih karena adanya tambahan dari minyak goreng, santan, atau topping seperti kerupuk dan cakwe juga emping,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (12/11/2025).

    “Namun, kalau dimakan in moderation, misalnya seminggu 1-2 kali dengan porsi kecil, masih oke-oke aja sih buat variasi. Yang penting, sesuaikan dengan jumlah kebutuhan kalori masing-masing,” lanjutnya.

    dr Ardian menjelaskan bagi yang sedang menjaga berat badan, mengalami defisit kalori, atau memiliki diabetes serta kadar kolesterol tinggi, sebaiknya memang mengurangi asupan makanan tinggi lemak dan memilih menu rebusan atau kukusan sebagai alternatif.

    Jenis makanan ini umumnya lebih rendah kalori, rendah lemak jenuh, dan mampu mempertahankan nutrisi alami dari bahan makanan.

    (suc/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Menu Makan Para Miliarder, Bisa Ditiru Kalau Mau Ikutan Sehat


    Jakarta

    Para miliarder terkenal seperti Jeff Bezos hingga Mark Zuckerberg kerap menjadi sorotan publik. Pasalnya, banyak yang penasaran dengan apa saja yang mereka makan setiap hari.

    Ternyata, mereka tetap menjalani gaya hidup yang sehat. Dikutip dari berbagai sumber, berikut menu makanan yang dikonsumsi:

    Menu Makan Jeff Bezos

    Pemimpin Amazon Jeff Bezos ternyata memiliki gaya hidup yang sehat. Ia memiliki jadwal olahraga dan makan yang teratur setiap harinya.


    Bezos mulai bekerja pada pukul 10 pagi setelah sarapan bersama keluarganya. Ia menjalani pola makan tinggi protein dan lemak.

    Kabarnya, ia sangat menyukai gurita mediterania, kentang, bacon, dan yogurt bawang putih. Kehidupannya ini jauh lebih sehat dari sebelumnya.

    “Saya belum pernah membaca label nutrisi seumur hidup. Saya makan apapun yang rasanya enak bagi saya,” beber Bezos yang dikutip dari Body and Soul.

    Meski menjalankan gaya hidup sehat, Bezos sesekali memiliki jadwal ‘cheat day’. Terkadang, ia masih mengonsumsi makanan ringan dan makanan cepat saji.

    Bezos rutin olahraga setiap hari, yang disarankan menjalani aktivitas yang berdampak rendah. Tetapi, resistensinya tinggi, seperti mendayung dan angkat beban.

    Ia juga suka aktivitas luar ruangan seperti lari di bukit, kayak, dan paddleboarding.

    Menu Makan Mark Zuckerberg

    Mark Zuckerberg bukanlah orang yang sulit soal makanan. Ia akan mengonsumsi apapun selama makanan tersebut praktis.

    Pola makannya relatif fleksibel dan sederhana. Ia lebih memilih efisiensi dibanding mengikuti tren kesehatan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, ia menggeluti berbagai olahraga intens seperti mixed martial arts (MMA) dan jujitsu. Dengan kegiatan yang intensitas sangat tinggi itu, Zuckerberg bahkan bisa mengonsumsi 4 ribu kalori setiap hari mengonpensasi kalori yang terbakar.

    Padahal, umumnya manusia mengonsumsi 2 ribu kalori per hari. Makanan favoritnya adalah menu-menu yang tinggi protein, seperti daging tanpa lemak, telur, dan sesekali mengonsumsi makanan cepat saji.

    “Tidak sedang menurunkan berat badan, jadi saya butuh sekitar 4 ribu kalori per hari untuk mengimbangi semua aktivitas,” katanya dalam sebuah unggahan media sosial Thread.

    Menu Makan Elon Musk

    Dibandingkan Zuckerberg dan Bezos, kebiasaan makanan Elon Musk ternyata tidak sesehat itu. Dalam unggahannya di X, pemilik Tesla ini bahkan mengaku suka makan donat setiap hari.

    Elon juga mengaku sering melewatkan sarapan. Ia hanya mengonsumsi cokelat bar atau kopi, jika memang tersedia.

    Makan siang biasanya diselipkan di sela-sela rapat, hanya sekitar 5 menit dengan menu apapun yang disediakan. Ia juga sangat menyukai daging sapi, pizza, minuman bersoda, hingga wine.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com