Tag: malaikat

  • Doa Menempati Rumah Baru, Ungkapan Syukur



    Jakarta

    Ada doa yang bisa dipanjatkan ketika menempati rumah baru. Doa ini bisa dilafalkan sebagai ungkapan syukur karena telah diberi rezeki berupa rumah kediaman untuk menetap bersama keluarga.

    Selain sebagai ungkapan rasa syukur, doa yang dibaca saat menempati rumah baru juga bertujuan untuk melindungi diri dan kediaman dari gangguan jin serta setan. Tentu semua semata-mata dilakukan untuk mendapatkan ridho dan perlindungan dari Allah SWT.

    Dengan memohon perlindungan kepada Allah SWT, niscaya kita juga akan dilindungi di lingkungan tempat tinggal yang baru.


    Doa Menempati Rumah Baru

    Mengutip buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki oleh KH Sulaeman Bin Muhammad Bahri, berikut adalah beberapa kumpulan doa yang bisa dibaca saat hendak menempati rumah baru.

    Doa menempati rumah baru

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

    Latin: Allahumma innii as-asluka khairal mawlaji wa khairal makhraji bismillahi wa lajnaa wa bismillahi kharajnaa wa’alaallahi rabbanaa tawakkalnaa

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu atas kebaikan rumah yang aku masuki dan kebaikan rumah yang aku tinggalkan. Dengan menyebut nama Allah aku masuk dan dengan menyebut nama Allah aku keluar dan kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakal.” (HR. Abu Daud)

    Doa memasuki rumah baru

    مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Latin: MasyaAllah laa quwwata illa billah

    Artinya: “Semua kehendak Allah tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.”

    Doa masuk rumah

    اَللهُمَّ اِنّىْ اَسْأَلُكَ خَيْرَالْمَوْلِجِ وَخَيْرَالْمَخْرَجِ بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللهِ رَبّنَا تَوَكَّلْنَا

    Latin: Alloohumma inni as-aluka khoirol mauliji wa khoirol makhroji bimillaahi wa lajnaa wa bismillaahi khorojnaa wa’alallohi robbinaa tawakkalnaa

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu baiknya tempat masuk dan baiknya tempat keluar dengan menyebut nama Allah kami masuk, dan dengan menyebut nama Allah kami keluar dan kepada Allah Tuhan kami, kami bertawakal.”

    Doa agar rumah diberi keberkahan

    Melansir laman Nahdlatul Ulama (NU), Kamis (6/7/2023) sebelum menempati rumah baru juga dianjurkan untuk membaca doa berikut agar kediaman diliputi keberkahan.

    اَللّٰهُمَّ يَا مَنْ فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوْسَى بْنِ عِمْرَانَ وَنَجَّى يُوْنُسَ مِنْ بَطْنِ الْحُوْتِ وَسَيَّرَ الْفُلْكَ لِمَنْ شَاءَ أَنْتَ الْعَالِمُ بِعَدَدِ قَطْرِ الْبِحَارِ وَذَرَّاتِ الرِّمَالِ يَا خَالِقَ أَصْنَافِ عَجَائِبِ الْمَخْلُوْقَاتِ أَسْأَلُكَ الْكِفَايَةَ يَا كَافِيَ مَنْ اِسْتَكْفَاهُ يَا مُجِيْبَ مَنْ دَعَاهُ يَا مُقِيْلَ مَنْ رَجَاهُ أَنْتَ الْكَافِيْ لَا كَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، اِكْفِنِيْ شَرَّمَا أَخَافُ وَأَحْذَرُ وَامْلَأْ مَنْزِلِيْ هٰذَا خَيْرًا وَبَرَكَةً وَصَلِّ عَلَى نَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

    Latin: Allahumma ya man falaqal bahra li Musa bin ‘Imran, wa najjz Yunusa min bathnil ḫut, wa sayyaral fulka li man sya-a, antal ‘alimu bi ‘adadi qathril biḫari, wa dzarratir rimal. Ya Khaliqa ashnafi ‘aja’ibil makhluqat. As’alukal kifayah, ya kafiya man istakfah, ya Mujiba man da’ah, ya muqila man rajah. Antal kafi, la kafiya illa anta. Ikfini syarra ma akhafu wa ahdzar. Wamla’ manzili hadza khairan wa barakah. Washalli ‘ala nabiyyika wa rasulika sayyidina Muḫammadin wa alihi wa shaḫbih wa sallim.

    Artinya: “Ya Allah yang membelah lautan untuk Musa bin ‘Imran, dan menyelamatkan Yunus dari perut ikan besar, yang menjalankan perahu kepada siapa pun yang dikehendaki. Engkau mengetahui jumlah tetesan air laut dan satuan-satuan kerikil.”

    “Wahai zat yang menciptakan beberapa macam keajaiban makhluk-makhluk. Aku memohon kepada-Mu kecukupan, wahai zat yang mencukupi hamba yang memintakan kecukupan kepada-Nya. Wahai zat yang mengabulkan hamba yang berdoa kepada-Nya, yang mengampuni hamba yang mengharap rahmat-Nya, Engkau maha mencukupi.”

    “Tiada yang mencukupi selain-Mu. Cukupilah aku dari keburukan sesuatu yang kukhawatirkan, penuhilah tempatku ini dengan kebaikan dan keberkahan. Selawat salam semoga tercurah kepada nabi dan utusan-Mu, junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, dan kepada para keluarga serta sahabatnya.”

    Demikian beberapa doa yang bisa dibaca saat menempati rumah baru. Rumah yang di dalamnya terdapat orang-orang beriman dan sering menjalani amalan saleh niscaya akan selalu dilindungi Allah SWT.

    (dvs/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Wasiat Jibril yang Selalu Disampaikan ke Rasulullah



    Jakarta

    Malaikat Jibril selalu berwasiat kepada Rasulullah SAW tentang amal perbuatan yang bisa dikerjakan. Menurut sebuah riwayat, setidaknya ada tujuh wasiat Jibril yang disampaikan kepada Rasulullah SAW.

    Wasiat Jibril ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari RA sebagaimana dinukil Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Jawi dalam Nashaihul ‘Ibad Syarh Al-Munabbihaat ‘Alal Isti’daad Li Yaumil Ma’aad.

    Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


    1. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai aku mengira kalau tetangga itu akan dijadikan sebagai ahli waris.

    2. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memperlakukan istri sebaik mungkin sampai aku mengira kalau istri itu haram diceraikan.

    3. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar sebaik mungkin dalam memperlakukan para budak sampai aku mengira suatu waktu nanti mereka harus dimerdekakan.

    4. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar aku melakukan siwak (gosok gigi) sampai aku mengira kalau bersiwak itu wajib.

    5. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk melakukan salat berjamaah sampai aku mengira Allah tidak akan menerima salat, kecuali dengan berjamaah.

    6. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk mengerjakan salat Tahajud sampai aku mengira tidak ada tidur pada waktu malam.

    7. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar senantiasa berdzikir kepada Allah sampai aku mengira tidak ada ucapan yang bermanfaat, kecuali dzikir kepada Allah.

    Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan riwayat wasiat Jibril agar berbuat baik kepada tetangga dalam Shahih-nya. Muslim mengeluarkannya dalam Bab Al-Birr wa Ash-Shilah. Hadits tersebut dinilai shahih.

    Dari hasil wasiat tersebut, Rasulullah SAW mensyariatkan beberapa sunnah kepada umatnya, sebagaimana diterangkan dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah karya Raghib As-Sirjani. Salah satunya adalah sunnah berbagi makanan kepada tetangganya.

    “Sunnah ini bukan bermaksud menyeru seseorang membuat makanan khusus untuk tetangganya, namun memberi hadiah makanan yang dikonsumsi oleh tuan rumah sendiri, dan tentu tidak mengapa menambah sedikit kuantitas makanan agar dapat menyisihkan kepada tetangga sebagai pemberian atau hadiah,” jelas akademisi Islam berkebangsaan Mesir tersebut.

    Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW secara khusus berpesan kepada kaum wanita, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa beliau SAW bersabda,

    “Wahai wanita-wanita kaum muslimin, janganlah seseorang meremehkan tetangganya walaupun hanya dengan memberi sedikit daging kambing.” (HR Bukhari dalam Kitab Al-Adab dan Muslim dalam Kitab Az-Zakat)

    Selain wasiat untuk berbuat baik kepada tetangga dan enam wasiat seperti disebutkan dalam hadits di atas, Malaikat Jibril juga memberikan wasiat lainnya kepada Rasulullah SAW. Dalam hadits yang dikeluarkan Thabrani dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    أتاني جبريلُ ، فقال : يا محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به ، واعلمْ أنَّ شرَفَ المؤمنِ قيامُه بالَّليلِ ، وعِزَّه استغناؤه عن الناسِ

    Artinya: “Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepadaku seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malam dan kehormatannya adalah rasa kecukupan dari manusia.”

    Dalam Tasliyat Ahlul Masha’ib karya Muhammad Al-Manjai Al-Hanbali terdapat hadits serupa dengan redaksi,

    “Jibril berkata, ‘Hiduplah semaumu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayat. Cintailah siapa saja yang engkau mau karena sesungguhnya engkau akan meninggalkannya. Dan, berbuatlah semaumu karena sesungguhnya engkau akan menghadap-Nya.” (HR Abu Dawud)

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Catat! Ini 3 Amalan yang Didoakan Malaikat


    Yogyakarta

    Banyak amalan yang bila dikerjakan maka akan didoakan malaikat. Umat muslim harus tahu agar setiap amalan yang dikerjakan bernilai pahala sekaligus mendapat doa malaikat.

    Malaikat adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dari cahaya serta tidak memiliki dosa dan salah. Itulah sebabnya doa para malaikat termasuk mustajab.

    Seorang muslim wajib beriman kepada malaikat, seperti Firman Allah SWT yang tertera dalam Al-Qur’an surat An Nisa’ ayat 136,


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا ١٣٦

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh.”

    Dikutip dari buku Berkenalan dengan Malaikat karya Abdul Hamid Kisyik, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda,

    أن تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

    Artinya: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya serta Hari Kemudian dan hendaklah engkau beriman kepada Qadha dan Qadar, kebaikan maupun keburukannya.” (HR Muslim)

    Terdapat beberapa amal kebaikan yang akan didoakan oleh malaikat. Maka akan sangat beruntung jika seorang Muslim mendapatkan doanya karena Allah SWT akan mengabulkannya.

    Amalan yang Didoakan Malaikat

    Dikutip dari buku Didoakan Oleh 70 Ribu Malaikat karya A. Noer Che bahwa beberapa golongan amalan ini akan didoakan oleh malaikat.

    1. Tidur dalam Keadaan Suci

    Terdapat banyak keutamaan jika seorang muslim mensucikan diri dari hadas besar dan kecil ketika akan tidur. Beberapa diantaranya adalah malaikat akan menemani tidurnya, memohonkan ampunan hingga ia terbangun, dan menjaganya dari segala bahaya.

    Sebagaimana hadits Rasulullah SAW,

    “Sucikanlah badan-badan kalian. Semoga Allah menyucikan kalian karena tidak ada seorang hamba pun yang tidur malam dalam keadaan suci, melainkan satu malaikat akan bersamanya di dalam ‘syi’ar’ (segala sesuatu yang ada pada badan berupa pakaian atau yang lainnya). Tidak satu saat pun ia membalikkan badannya melainkan satu malaikat akan berkata, ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini, karena ia tidur malam dalam keadaan suci.” (HR. Thabrani)

    2. Tidak Meninggalkan Tempat Sholat Setelah Sholat

    Alangkah baiknya jika seorang muslim berdzikir setelah melaksanakan sholat. Karena dengan melaksanakannya, malaikat akan bershalawat kepadanya, berdoa atas keselamatan dunia dan akhirat, memohonkan ampunan, dan memohonkan kasih sayang kepada Allah SWT.

    Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat di mana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah, ampunilah dan sayangilah ia.” (HR. Ahmad)

    3. Menjenguk Sesama Muslim yang Sakit

    Disebutkan dalam buku Amalan Kecil Berpahala Besar karya Ustadz Arif Rahman bahwa malaikat akan mendoakan seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya yang sedang sakit.

    “Tiada seorang muslim yang menjenguk seorang muslim pada waktu pagi melainkan dia didoakan oleh 70.000 malaikat hingga sore hari. Dan ia menjenguk pada sore hari maka ia didoakan oleh 70.000 malaikat hingga pagi harinya. Dan akan mendapatkan jaminan buah-buahan yang siap di petik di dalam surga.” (HR. Tirmidzi)

    Selain mendapatkan doa dari malaikat, dengan menjenguk saudara muslim yang sakit akan mempererat tali silaturahmi.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Doa Malaikat untuk Orang yang Bersholawat atas Nabi Muhammad


    Jakarta

    Salah satu amalan yang pelakunya akan didoakan oleh para malaikat adalah bersholawat atas Nabi Muhammad SAW. Keterangan ini berdasarkan salah satu riwayat hadits yang disabdakan Rasulullah SAW.

    Hadits tersebut termaktub dalam Shahih Al Jami yang juga diriwayatkan oleh Adh Dhiya dalam Al Mukhtarah. Hadits yang bersanad hasan dari Amir bin Rabi’ah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah seorang hamba membaca sholawat untukku, kecuali didoakan oleh para malaikat selama ia membaca sholawat untukku. Karena itu, hendaklah ia mengucapkan atau memperbanyak sholawat atas diriku.” (HR Ahmad)


    Dikutip dari Syaikh ash Shafuri dalam Nuzhah al Majalis Muntakhab an Nafa’is, Rasulullah SAW pernah menjelaskan doa yang dipanjatkan malaikat bagi orang-orang yang senantiasa bersholawat padanya. Para malaikat di alam kubur akan memintakan ampunan pada Allah SWT bagi muslim yang bersholawat.

    Tiap manusia akan ditemani oleh dua malaikat di alam kubur. Menurut riwayat, bila seorang muslim di alam kubur memanjatkan sholawat atas Nabi Muhammad SAW tiap disebutkan nama Rasulullah SAW maka para malaikat turut berdoa untuknya.

    Salah satu malaikat itu berdoa, “Semoga Allah mengampunimu,” dan malaikat lainnya berkata, “Aamiin.”

    Sebaliknya, bila seorang muslim tidak bersholawat pada Rasulullah SAW, hal itu membuat salah satu malaikat berkata, “Semoga Allah tidak mengampunimu,” hingga kemudian diaminkan oleh malaikat lainnya.

    Keutamaan Membaca Sholawat Nabi

    Tidak hanya didoakan oleh malaikat, keutamaan lain bagi muslim yang senantiasa membaca sholawat juga akan dihapuskan dosanya dan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Hal ini bersumber dari hadits dalam Kitab Sunan an-Nasai Jilid 1 dari Anas bin Malik RA,

    مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً؛ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

    Artinya: “Siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan derajatnya diangkat sepuluh tingkat.” (HR an Nasa’i)

    Melalui salah satu haditsnya, Rasulullah SAW sendiri pernah menjanjikan syafaat di hari akhir kelak bagi orang-orang yang senantiasa bersholawat kepadanya. Berikut bunyi haditsnya,

    أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً

    Artinya: “Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku.” (HR Tirmidzi)

    Anjuran untuk bersholawat juga disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 56 yang berbunyi,

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al Ahzab: 56)

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud sholawat dari Allah SWT dalam ayat di atas adalah pujian-Nya kepada Rasulullah SAW di kalangan para malaikat, sedangkan sholawat dari para malaikat adalah doa mereka untuknya.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Mendoakan Sesama Muslim dalam Islam, Ini Dalilnya


    Jakarta

    Berdoa adalah salah satu amalan dengan sejumlah keutamaan yang dapat dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadits pun menjelaskan keutamaan mendoakan sesama muslim.

    Islam sangat menganjurkan untuk berdoa karena terdapat keutamaan-keutamaan di dalamnya. Allah SWT berfirman dalam surah Ghafir ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ ٦٠


    Artinya: “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri. Seorang muslim juga dapat berdoa untuk orang lain apalagi bila orang yang didoakan juga tidak mengetahui hal tersebut.

    Keutamaan dan Dalil Mendoakan Sesama Muslim

    Keutamaan mendoakan sesama muslim disebutkan dalam salah satu hadits riwayat Muslim. Berdasarkan hadits tersebut, malaikat juga turut mendoakan orang yang berdoa tiap kali mereka mendoakan sesama muslim.

    مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Artinya: “Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu kecuali malaikat berkata, ‘Dan untuk kamu juga seperti itu.’” (HR Muslim)

    Melalui riwayat lainnya disebutkan pula bawah mendoakan sesama muslim termasuk jenis doa yang mustajab atau dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

    دَعْوَةُ الْمَرْء الْمُسْلِم لأخيه بظهر الغيب مُسْتَجَابَةٌ، عندَ رأْسه مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلِّمَا دَعَا الأَخِيهِ بِخَيْرِ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بمثل رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

    Artinya: “Doa seorang muslim untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuan saudaranya itu mustajab. Di kepala seorang muslim itu ada malaikat yang diberi tugas; bila ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu mengucapkan, ‘Amin, dan untukmu juga seperti itu.’”

    Selain itu, dikutip dari Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 3 karya Imam an Nawawi, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. Salah satunya, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 10,

    وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠

    Artinya: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

    Surah Muhammad ayat 19 berisikan memohonkan ampunan dosa bagi orang lain. Allah SWT berfirman:

    فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ ١٩

    Artinya: “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu.”

    Allah SWT juga berfirman dalam surah Ibrahim ayat 41 tentang bacaan doa yang dapat diamalkan untuk mendoakan sesama muslim. Berikut bacaannya:

    رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ ࣖ ٤١

    Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Malaikat Malik Bertemu Rasulullah SAW Tanpa Tersenyum



    Jakarta

    Malaikat Malik merupakan malaikat yang bertugas menjaga pintu neraka. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa Malaikat Malik bermuka masam ketika bertemu Rasulullah SAW.

    Pertemuan tersebut terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Isra Mi’raj. Imam Al-Qusyairi dalam Kitab al-Mi’raj, menceritakan mengenai kisah Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan suci tersebut.

    Saat melakukan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW diajak oleh Malaikat Jibril untuk menaiki Buraq. Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW melihat malaikat yang banyak sekali jumlahnya. Beliau melihat tangga yang menjulang dari Bayt al-Muqaddas ke langit dunia.


    Kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan perjalanan hingga sampai ke langit dunia yang disebut al-raqi. Ketika memasukinya, semua malaikat senantiasa tersenyum gembira. Sampai akhirnya Rasulullah SAW bertemu dengan satu malaikat yang juga menyambutnya seperti yang lainnya, tetapi tanpa tersenyum dan tidak tampak kegembiraan di wajahnya.

    Malaikat Jibril lalu berkata tentangnya, “Seandainya dia tersenyum selain kepada selainmu, tentu dia akan tersenyum padamu.”

    Akan tetapi dia tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, dia adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sama sekali, mukanya selalu masam, cemberut, marah, dan menyeramkan karena begitu marahnya kepada para penghuni neraka sebagaimana Tuhan marah kepada mereka.

    Lalu, Rasulullah SAW bertanya, “Hai Jibril, maukah kamu menyuruhnya untuk menunjukkan neraka kepadaku?”

    Jibril menjawab, “Ya.” Lalu Jibril berkata, “Hai Malik, Muhammad Rasul Allah ingin melihat neraka.”

    Malaikat Malik lalu membukakan penutup neraka dan terlihatlah neraka yang bergolak dan mendidih, sangat hitam, berasap, dan apinya juga hitam pekat.

    Ada yang meronta-ronta dan menggelegak hampir pecah lantaran marah. Begitulah gambaran neraka.

    Sebelum bertemu dengan Malaikat Malik dan saat menaiki tangga di sebelah kanan Rasulullah SAW ada 400 ribu malaikat, di sebelah kirinya juga ada 400 ribu malaikat, di depannya 1000 malaikat dan di belakangnya juga 1000 malaikat.

    Setiap malaikat mempunyai dua sayap berwarna hijau. Kemudian, Malaikat Jibril membimbing Nabi Muhammad SAW menaiki tangga. Pada setiap tangga ada satu malaikat yang bermahkotakan cahaya dengan dua sayap berwarna hijau.

    Setiap malaikat itu disertai lima ratus malaikat lainnya. Semuanya berkata, “Selamat datang bagimu wahai Muhammad.”

    Ada pendapat yang menyebut, jarak antar anak tangga sejauh perjalanan selama 40 tahun lamanya dan begitu seterusnya hingga terdapat 55 anak tangga.

    Nabi Muhammad SAW kemudian melihat malaikat di udara yang jumlahnya tidak terhingga bertanya kepada Malaikat Jibril tentang mereka. Lalu Malaikat Jibril menjawab, “Mereka adalah para malaikat yang layang-layang di udara sejak langit dan bumi diciptakan.”

    Kepala malaikat yang melayang di udara itu berada di bawah sayapnya. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat tubuhnya masing-masing, karena mereka demikian takut kepada Allah SWT. Mereka selalu membaca tasbih dan menangis, namun tidak diketahui ke mana jatuhnya air mata mereka.

    Kisah Malaikat Malik bertemu Rasulullah SAW turut diceritakan oleh Nur Syam dalam buku Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal.

    Dijelaskan bahwa Malaikat Malik yang bertugas menjaga neraka, digambarkan tidak pernah tertawa, bahkan juga ketika bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga Nabi SAW pun bertanya kepada Malaikat Jibril.

    Lalu Malaikat Jibril menjawab, kalau Malaikat Malik tertawa maka hawa panas neraka akan berkurang sehingga membuat senang orang-orang yang di neraka.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Juhainah, Sosok yang Membuat Semua Penghuni Neraka Menangis



    Jakarta

    Ketika malaikat memanggil nama Juhainah, semua penghuni neraka menangis. Juhainah adalah orang terakhir yang keluar dari neraka dan paling akhir pula masuk ke surga.

    Seluruh penduduk neraka akan menangis karena Juhainah telah dipanggil masuk ke surga terakhir kalinya sekaligus menjadi pertanda bahwa mereka yang tersisa akan kekal di dalam neraka.

    Tidak ada harapan lagi bagi penduduk neraka setelah Juhainah dipanggil oleh malaikat. Kisah Juhainah ini telah diterangkan dalam hadits yang dinukil dari Kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim oleh Ibnu Katsir.


    Ad-Daruquthni meriwayatkan dalam kitabnya, “Para perawi dari Malik dan al-Khathib al-Baghdadi dari Abdul Malik bin Hakam, Malik menuturkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    ‘Sesungguhnya, orang yang terakhir masuk surga adalah seorang lelaki dari suku Juhainah bernama Juhainah.’ Penghuni surga lalu berkata, ‘Juhainah memiliki kabar yang yakin. Tanyakanlah kepadanya, apakah masih ada yang tersisa dari para makhluk?’”

    Namun, riwayat tersebut dikatakan tidak sah disandangkan kepada Imam Malik sebab tidak diketahui para perawinya. Demikian pula as-Suhaili menyebutkan hadits tersebut dalam kitabnya dan tidak menganggapnya lemah.

    Justru pendapat lain yang disebutkan dari as-Suhaili, bahwa orang yang terakhir keluar dari neraka tersebut bernama Hanad.

    Dikisahkan dalam riwayat, bahwa penduduk neraka akan menangis karena Juhainah telah dipanggil masuk ke surga. Hal itu menjadi pertanda bahwa penduduk neraka yang tersisa akan kekal di dalamnya dan tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk berpindah menuju surga.

    Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam Kitab At-Tadzkirah Jilid 2 turut menerangkan orang orang yang terakhir keluar dari neraka sekaligus terkahir masuk surga.

    Menurut hadits riwayat Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya aku benar-benar tahu penghuni neraka yang terakhir kali keluar darinya, dan penghuni neraka yang terakhir kali masuk surga, yaitu seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan merangkak. Maka Allah Ta’ala berkata, “Pergilah dan masuk ke surga.”

    Orang itu pun datang ke surga, tetapi terbayang olehnya bahwa surga telah penuh. Maka ia berkata, “Ya Tuhanku, hamba dapati surga telah penuh.” Allah SWT berkata lagi, “Pergilah dan masuk ke surga.”

    Ia pun datang ke surga dan terbayang lagi bahwa surga telah penuh, maka ia balik serata berkata, “Ya Tuhanku, hamba dapati surga telah penuh.”

    Maka, (sekali lagi) Allah SWT berkata, “Pergilah dan masuk ke surga. Sesungguhnya kamu akan memperoleh sepuluh kali lipat dunia.”

    Kemudian orang itu berkata, “Apakah Engkau mengejekku?” Atau, “Engkau menertawakan hamba, padahal Engkau Raja?”

    Abdullah bin Mas’ud RA menambahkan dengan berkata, “Saya sungguh-sungguh melihat Rasulullah SAW tertawa sampai tampak gigi-gigi gerahamnya, beliau bersabda,

    “Mengenai orang itu dikatakan, ‘Itulah ahli surga yang paling rendah derajatnya.’” (HR Muslim)

    Itulah kisah Juhainah, seseorang yang membuat semua penghuni neraka menangis tatkala malaikat memanggil namanya. Sebab, ia menjadi sosok terakhir yang dikeluarkan dari neraka dan tak ada lagi penghuni lain yang keluar setelahnya.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Umar bin Khattab Bentak Malaikat Munkar-Nakir di Alam Barzakh


    Jakarta

    Umar bin Khattab RA adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang dikenal setia dan pemberani. Salah satu kisah Umar bin Khattab RA yang menunjukkan keberaniannya adalah saat ia membentak malaikat.

    Keberanian Umar RA tetap terlihat saat dia berhadapan dengan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Setiap individu yang meninggal akan mengalami fase alam kubur.

    Di dalam alam ini, ada dua malaikat yang bernama Munkar dan Nakir yang memiliki tugas untuk mengajukan pertanyaan kepada individu yang meninggal.


    Tugas Malaikat Munkar dan Nakir dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah, di mana Rasulullah SAW bersabda,

    إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ

    Artinya: “Apabila jenazah atau salah satu dari kalian dikubur, maka dua malaikat yang berwujud hitam dan biru, salah satunya bernama Munkar dan yang lain bernama Nakir, akan datang dan bertanya: ‘Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)?’ Lalu orang tersebut akan menjawab sebagaimana yang dia katakan di dunia…” (HR Tirmidzi)

    Setiap orang yang beriman akan dengan mudah menjawab pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir. Namun, bagi orang yang berlaku zalim, mereka akan kesulitan menjawabnya. Wallahu a’lam.

    Umar bin Khattab RA pun mendapatkan pertanyaan dari kedua malaikat tersebut. Namun, ia justru balik bertanya. Berikut kisah Umar bin Khattab RA membentak malaikat yang dikutip dari buku Akidah Akhlak Madrasah Ibtidaiyah tulisan Fida’ Abdillah dan Yusak Burhanudin.

    Kisah Umar Membentak Malaikat

    Suatu ketika Rasulullah SAW membicarakan Malaikat Munkar dan Nakir kepada para sahabat. Beliau menggambarkan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir akan mendatangi seorang mayat di kuburan dalam bentuk yang menyeramkan; berkulit hitam, garang, keras, dengan sifat-sifat buruk dan menakutkan lainnya.

    Setelah mendengar penjelasan Rasulullah SAW, Sayyidina Umar RA bertanya, “Ya Rasulullah, apakah di alam kubur nanti aku akan menjadi seperti sekarang ini?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Ya, engkau akan tetap dalam keadaan seperti sekarang.”

    Mendengar itu, Sayyidina Umar RA dengan tegas menyatakan, “Demi Allah, aku akan melawan kedua malaikat itu!”

    Menurut riwayat, setelah Sayyidina Umar bin Khattab RA meninggal dunia, putranya yang bernama Abdullah bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpinya, Abdullah menanyakan tentang keadaan ayahnya di alam kubur.

    Umar menjelaskan bahwa dia didatangi oleh dua malaikat. Malaikat-malaikat tersebut bertanya kepadanya, “Siapakah Tuhanmu? Siapakah nabimu?” Umar menjawab dengan tegas, “Tuhan saya adalah Allah dan nabiku adalah Muhammad.” Lalu Umar pun bertanya kepada kedua malaikat, “Siapakah Tuhan kalian berdua?” Mendengar pertanyaan itu, kedua malaikat saling pandang. Salah satu dari mereka berkata, “Ini adalah Umar bin Khattab.”

    Setelah itu, kedua malaikat itu pergi meninggalkannya.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengusiran Iblis dari Surga yang Awalnya Taat Beribadah



    Jakarta

    Iblis merupakan salah satu makhluk ghaib yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Iblis identik dengan setan dan kerap dikaitkan sebagai sosok pengganggu manusia.

    Menurut buku Mengungkap Rahasia Iblis susunan Muhammad Abdul Mughawiri, kata iblis merujuk pada jin bernama Azazil. Makna dari iblis bahkan tercantum dalam surat Al Kahfi ayat 50,

    وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ


    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya,”

    Ketika Nabi Adam AS diciptakan sebagai manusia pertama, Allah SWT memerintahkan para makhluk untuk sujud. Makhluk yang dimaksud itu disebut sebagai al-malaa’ikah (para malaikat). Namun iblis menolak, sebutan iblis ini muncul dalam surat Al Baqarah ayat 34 yang berbunyi,

    وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Arab latin: Wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, abā wastakbara wa kāna minal-kāfirīn

    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir,”

    Dalam kitab Tafsir al- Munir karya Imam an-Nawawi al-Bantani serta dinukilkan dari Hasyiyat as-Shawi atas Tafsir al-Jalalain, dalam sejumlah riwayat dikatakan, konon iblis adalah penjaga surga dalam kurun waktu 40 ribu tahun. Ia pernah hidup bersama dengan malaikat selama 80 ribu tahun dan tawaf mengelilingi Arsy bersama para malaikat selama 14 ribu tahun.

    Iblis tidak merasa lelah atau mengeluh dalam menjalankan perintah Allah SWT. Iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apa pun kecuali karena Allah semata. Pada masa itu, malaikat dan lainnya memberi gelar al-‘Aziz (makhluk Allah yang termulia) kepada iblis, ada juga yang memberi gelar ‘Azazil (panglima besar malaikat).

    Dijelaskan dalam Tafsir Qashashi Jilid 1 susunan Syofyan Hadi, sebutan tersebut lantas berubah akibat pembangkangan yang ia lakukan. Secara harfiah, iblis artinya keluar dari rahmat Allah SWT.

    Hal tersebut tercantum dalam surat Al A’raf ayat 12,

    قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

    Artinya: “Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab: ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah,”

    Keangkuhan iblis itu menyebabkan dia diusir dari surga oleh Allah SWT sebagai makhluk yang hina. Sikap angkuh dan pembangkangan tidak patut berada di dalam surga.

    Penyebutan madz’uman madhuran (terhina lagi terusir) menunjukkan terhinanya iblis dalam bentuk yang berlipat ganda seakan Allah SWT hendak mengatakan bahwa kehinaan iblis karena keangkuhan dan pembangkangannya tidak cukup satu penghinaan saja.

    Allah SWT berfirman dalam surat Al A’raf ayat 18,

    قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُوْمًا مَّدْحُوْرًا ۗ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ اَجْمَعِيْنَ

    Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Keluarlah kamu darinya (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sungguh, siapa pun di antara mereka yang mengikutimu pasti akan Aku isi (neraka) Jahanam dengan kamu semua,”

    Lebih lanjut dijelaskan, pengusiran iblis dari surga itu menyebabkan ia dendam terhadap manusia. Iblis meminta kepada Allah SWT untuk memastikan bahwa manusia benar-benar menjadi insan yang sesat dan penghuni neraka, Allah SWT lalu memberi tenggang waktu kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan memanjangkan usianya. Namun, Allah SWT tidak memenuhi permohonan iblis secara sempurna.

    Kala itu, iblis meminta agar tidak dimatikan sampai hari berbangkit, tetapi Allah SWT hanya memberi waktu hidup bagi mereka hingga kiamat datang. Dengan demikian, ketika kiamat berlangsung iblis juga mengalami kematian sebagaimana berlaku pada seluruh makhluk ciptaan Allah SWT.

    Pada surat Al Hijr ayat 36-38, Allah SWT berfirman,

    قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ . قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ . إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

    Artinya: “(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang ditangguhkan sampai hari yang telah ditentukan waktunya (kiamat),”

    Dalam Qashash Al-Anbiyaa susunan Ibnu Katsir dijelaskan, Al-Qur’an menyebut iblis membisikkan kata-kata jahat yang menjerumuskan Nabi Adam AS. Hal ini tercantum dalam surat Thaha ayat 120,

    فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ ٱلشَّيْطَٰنُ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ

    Artinya: “Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

    Lebih lanjut diterangkan, walau iblis mendapatkan kesempatan menggoda anak manusia hingga hari kiamat, Allah SWT memberikan penawarnya, yaitu dengan menjaga konsistensi bertobat nasuha, seperti penegasan dalam surat Al Baqarah ayat 160.

    إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَبَيَّنُوا۟ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

    Artinya: “Kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima tobat lagi Maha Penyayang.”

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ibadah Haji Nabi Adam yang Ikuti Cara Tawaf Para Malaikat



    Jakarta

    Ibadah haji sudah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Menurut sejumlah pendapat, Nabi Adam AS mengikuti tata cara tawaf para malaikat.

    Kisah haji Nabi Adam AS ini diterangkan dalam Tarikh Ka’bah yang disusun oleh Ali Husni al-Kharbuthli. Ada banyak versi mengenai kisahnya, terutama awal mula pembangunan Ka’bah dan pelaksanaan tawaf.

    Para sejarawan ada yang berpendapat bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah malaikat. Dikatakan, pada saat Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” (QS Al Baqarah: 30)


    Dikatakan, Allah SWT murka pada para malaikat dan Dia berpaling. Akhirnya, para malaikat lari menuju ‘Arsy. Mereka menengadah sambil memohon ampun karena takut akan murka Allah SWT.

    Lalu, para malaikat tawaf mengelilingi ‘Arsy sebanyak tujuh kali–seperti tawaf jemaah haji di Ka’bah saat ini. Sambil bertawaf, mereka menyeru, “Ya Allah kami datang menyambut panggilan-Mu, kami datang memohon ampunan-Mu, kami memohon ampunan dan bertobat kepada-Mu.”

    Melihat itu, kemudian Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dan membuat sebuah rumah di bawah ‘Arsy yaitu al-baitul ma’mur. Kemudian Allah SWT berfirman, “Tawaflah kamu mengelilingi rumah ini dan tinggalkanlah ‘Arsy.”

    Akhirnya, mereka tawaf di al-baitul ma’mur dan itu dirasa lebih mudah oleh mereka daripada tawaf mengelilingi ‘Arsy.

    Selanjutnya, menurut sejarawan sebagaimana diceritakan Ali Husni al-Kharbuthli, Allah SWT memerintahkan para malaikat yang ada di bumi untuk membangun sebuah bangunan yang serupa dengan al-baitul ma’mur.

    Kemudian, Allah SWT memerintahkan para malaikat di bumi agar tawaf mengelilingi bangunan tersebut sebagaimana tawafnya para malaikat di langit mengelilingi al-baitul ma’mur.

    Menurut versi ini, ketika Nabi Adam AS melaksanakan ibadah haji di Ka’bah, para malaikat berkata, “Semoga hajimu mabrur wahai Adam. Kami telah melakukannya 2000 tahun sebelum engkau diciptakan.”

    Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin turut menukil sebuah riwayat yang berisi doa malaikat untuk haji Nabi Adam AS tersebut. Hal itu diriwayatkan oleh Imam al-Mufadhdhal al-Ja’di. Dari jalur yang sama juga diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-‘Ilal dari hadits Ibnu Abbas RA lalu dikatakan tidak shahih. Adapun, Imam al-Azruqi dalam Tarikh Makkah meriwayatkannya secara mauquf pada Ibnu Abbas RA.

    Ibnu Fadhlilah al-Umari dalam bukunya Masalik al-Abshar mengutip riwayat dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash yang menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan Ka’bah 2000 tahun sebelum bumi diciptakan. Al-Umari menyandarkan riwayat ini pada Mujahid, Qatadah, dan as-Sudi.

    Al-Umari juga meriwayatkan dari Qatadah tentang kisah haji Nabi Adam AS. Dikatakan, Ka’bah turun dari langit bersama Nabi Adam AS. Kemudian, Allah SWT berfirman, “Ketika rumah-Ku turun bersamamu, maka bertawaflah mengelilinginya, sebagaimana para malaikat mengelilingi ‘Arsy-Ku.”

    Maka, Nabi Adam AS pun bertawaf mengelilinginya, demikian juga orang mukmin yang hidup setelahnya. Hingga saat terjadi banjir di masa Nabi Nuh AS, Allah SWT mengangkat Ka’bah kembali ke langit agar tidak dicemari dosa penduduk bumi.

    Saat itu, Ka’bah dimuliakan di langit. Nabi Ibrahim AS kemudian menelusuri jejaknya dan membangun Ka’bah yang baru, tapi dengan fondasi dari Ka’bah yang lama. Demikian menurut riwayat yang berasal dari Qatadah sebagaimana dinukil al-Umari.

    Ada pendapat yang menyebut bahwa Nabi Adam AS melakukan ibadah haji sebanyak 40 kali dari India dengan berjalan kaki. Pendapat ini termuat dalam Kitab I’anat al Tholibin yang dinukil Imaduddin Utsman al-Bantanie dalam Buku Induk Fikih Islam Nusantara.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com