Tag: material rumah

  • Pilihan Material Rumah yang Cocok saat Musim Hujan Biar Nggak Gampang Rusak



    Jakarta

    Memilih material rumah tentu sangat penting, apalagi sudah masuk musim hujan seperti ini. Jika salah pilih material, justru ketika hujan datang bisa merusak rumah.

    Maka dari itu, tak hanya estetika saja yang diperhatikan saat bangun rumah, tetapi material yang tahan ketika hujan juga diperlukan. Berikut ini merupakan contoh material yang tahan saat kondisi hujan.

    Kenapa Hujan Bisa Merusak Rumah?

    Sebelum masuk ke contoh material yang tahan saat kondisi hujan, perlu diketahui alasan hujan bisa merusak rumah. Hal itu karena saat musim hujan, intensitas jumlah air yang menerpa rumah meningkat. Paparan air yang terus menerus bisa inilah yang bisa perlahan merusak rumah.


    Melansir Enercare, Rabu (3/1/2024), hujan yang sering dan deras akan merusak atap dan sirap rumah lebih cepat sehingga berpotensi menyebabkan merembesnya air ke dalam struktur pendukung rumah, seperti dinding dan lantai. Air yang merembes ini bisa melemahkan ketahanan struktur rumah.

    Atap, lantai, dan dinding rumah merupakan bagian penting dari struktur rumah yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu, pemilihan material bangunan untuk ketiga bagian rumah ini tidak boleh dilakukan sembarangan.

    Material Bangunan Ideal untuk Atap, Lantai, dan Dinding yang Tahan Hujan

    Melansir situs sunrise-steel.com, Rabu (3/1/2024), berikut material bangunan ideal untuk atap, lantai, dan dinding rumah yang tahan terhadap hujan.

    Baja Ringan dan Genteng Metal untuk Atap yang Kuat

    Atap menjadi pelindung utama rumah dari hujan. Maka dari itu, memilih bahan yang tepat untuk rangka atap sangat penting. Baja ringan hadir sebagai solusi unggul dengan daya tahan terhadap rayap dan korosi, harga yang terjangkau, dan daya tahan tinggi.

    Pilihlah baja ringan berbahan dan bertanda Zinium untuk kekokohan yang terjamin. Genteng metal yang ringan juga menjadi opsi ideal untuk atap rumah karena tidak hanya tahan karat, tetapi juga mampu menampung air hujan dan mengurangi risiko kebocoran.

    Keramik dan Lantai Beton Waterproof untuk Lantai Anti-lembap

    Lantai yang tahan air adalah kunci untuk mencegah masalah kelembaban yang bisa merusak bangunan. Keramik dan lantai beton yang dilapisi waterproofing adalah pilihan terbaik untuk daerah dengan curah hujan tinggi. Material ini tidak hanya tahan terhadap air, tetapi juga menjaga lantai tetap kering, mengurangi risiko kelembaban pada dinding, dan memberikan kenyamanan bagi penghuni rumah.

    Bata Ringan dan Cat Eksterior untuk Dinding Tangguh

    Pemilihan material untuk dinding juga memegang peranan penting. Bata ringan atau bata merah dengan lapisan waterproofing bisa mencegah rembesan air hujan dan menjaga kekokohan struktur rumah.

    Penambahan cat eksterior atau cladding seperti acp, vinyl cladding, atau panel resin juga bisa memberikan perlindungan tambahan dan meningkatkan estetika bangunan.

    Demikian material bangunan ideal untuk atap, lantai, dan dinding rumah yang tahan hujan. Dalam memilih material bangunan untuk daerah dengan curah hujan tinggi, pemilihan yang bijak sangat dibutuhkan. Atap, lantai, dan dinding adalah elemen-elemen kunci yang harus mendapatkan perhatian khusus. Semoga informasinya bermanfaat!

    Buat detikers yang punya permasalahan seputar rumah, tanah atau properti lain. Baik itu berkaitan dengan hukum, konstruksi, pembiayaan dan lainnya, tim detikProperti bisa bantu cari solusinya. Kirim pertanyaan Kamu via email ke [email protected] dengan subject ‘Tanya detikProperti’, nanti pertanyaan akan dijawab oleh pakar.

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Deretan Sampah dan Barang Unik yang Pernah Dibuat Material Rumah


    Jakarta

    Bahan material yang biasanya dibutuhkan untuk membangun rumah adalah batu bata, mortar, kayu, batu, baja, dan beton. Namun, ternyata ada orang-orang yang membuat rumah dari barang bekas atau bisa disebut sampah pakai. Di berbagai belahan dunia, orang-orang menjadi semakin kreatif dengan membangun rumah mereka menggunakan botol soda daur ulang hingga jagung bekas.

    Masih belum percaya? Berikut adalah daftar barang bekas yang digunakan untuk membangun rumah, melansir dari berbagai sumber.

    1. Rumah dari Botol Daur Ulang

    Rumah unik yang pertama dibangun menggunakan botol daur ulang alias botol bekas. Lebih dari 25.000 botol daur ulang disatukan untuk menciptakan Bottle Houses atau rumah botol. Tempat ini dijadikan sebagai tempat wisata di Kanada, tepatnya pada Cap-Egmont, Prince Edward Island, Kanada.


    Rumah ini awalnya dibangun oleh mendiang Édouard T. Arsenault setelah menerima kartu pos kastil kaca dari putrinya pada tahun 1979. Setelah itu, dia mulai mengumpulkan botol-botol kaca bekas di sekelilingnya, sebagian besar dari restoran lokal, ruang dansa komunitas, teman, kerabat dan tetangga.

    2. Rumah Lego

    Presenter Top Gear James May membangun rumah Lego full-size pertama di dunia. Jika kamu mengira ini adalah rumah mainan, kamu salah. Rumah lego ini adalah rumah yang terbuat dari lego, tapi berfungsi seperti rumah normal pada umumnya.

    Rumah ini memiliki toilet yang bisa berfungsi, kamar mandi dengan shower air panas, dan juga kasur yang tentunya keras. Melansir dari The Daily Mail, rumah lego ini merupakan rumah dua lantai dengan tinggi sekitar 6 meter. Dibangun pada tahun 2009, rumah ini menggunakan 3,3 juta batu bata lego dan dikerjakan oleh sekitar 1000 orang.

    Meski rumah tersebut kini sudah tidak lagi berdiri karena mengalami beberapa konflik dengan pihak Lego, tetapi rumah lego ini tetap menarik untuk dibahas dari segi keunikannya.

    3. Rumah dari Bonggol Jagung

    Tak kalah unik, ada juga rumah yang terbuat dari bonggol jagung. Melansir dari Arch Daily, rumah yang dindingnya terbuat dari ribuan bonggol jagung ini telah memenangkan kompetisi Archi<20 pada tahun 2012. Rumah ini berbentuk seperti lingkaran dengan 20 meter persegi.

    Terletak di kawasan alam yang dilindungi di desa Muttersholtz, di North-East Prancis, rumah bonggol jagung ini diklaim sebagai sebuah inovasi untuk membangun rumah dengan biaya rendah. Selain itu, rumah ini juga tidak memiliki dapur, sehingga memang hanya digunakan untuk tempat tidur dan berlindung.

    4. Rumah dari Kaleng Aluminium Bekas

    Richard Van Os Keuls, seorang arsitek dari Silver Spring, Maryland, pertama kali mendapat ide untuk menggunakan kaleng aluminium pipih di dalam bangunan rumah setelah melihat mobil melindas kaleng soda yang dibuang di jalan. Dia berpikir bahwa kaleng soda bekas mungkin bisa menjadi material untuk rumah. Jadi, ia mulai mengumpulkan kaleng bekas dan menggunakannya sebagai dinding untuk ekstensi kayu lapis di rumahnya.

    Dengan menggunakan sepatu bot yang berat, Richard pertama-tama menginjak kaleng dan kemudian meratakannya dengan palu godam hingga pipih. Setelah itu, ia membulatkan sudut-sudutnya agar tidak tajam dan melukai orang. Setelah semuanya selesai, ia menempatkan 30-40 kaleng di dinding dan menempelkannya menggunakan paku aluminium.

    5. Rumah Kaca Transparan

    Selanjutnya ada rumah transparan yang terbuat dari kaca. Rumah kaca transparan di Tokyo, yang dikenal sebagai “House NA”, adalah rumah tanpa privasi. Pasalnya, dinding rumah ini hampir seluruhnya terbuat dari kaca.

    Rumah transparan seluas 84,9 meter persegi ini dibangun oleh Sou Fujimoto Architects dan dikaitkan dengan konsep hidup di dalam pohon. Rumah yang dominan warna putih ini terlihat tinggi dengan banyak tangga dan tiang yang terlihat. Rumah ini juga memiliki semua ruangan yang ada di rumah pada umumnya.

    6. Rumah dari Kontainer Pegiriman Bekas

    Melansir dari laman Digital Trends, mengubah kontainer pengiriman tua menjadi rumah adalah hal yang populer di luar negeri belakangan ini. Biasanya, kontainer pengiriman hanya berharga US$ 1.800 – US$ 5.000 atau sekitar Rp 29 – 81 juta, tergantung pada ukurannya. Di sana, harga ini cenderung lebih murah ketimbang membeli rumah atau membeli tanah untuk membangun rumah.

    Jadi, banyak warga yang memanfaatkan bekas kontainer untuk dijadikan rumah dengan berbagai desain. Selain kokoh, bekas kontainer ini juga ramah lingkungan, karena digunakan kembali sebagai rumah alih-alih dilelehkan saat dibuang atau dikirim kembali.

    7. Rumah dari Gabus

    Menggunakan gabus sebagau sebagai bahan bangunan ternyata bagus karena sifatnya yang tahan api, bisa menjaga suhu, dan awet. MUJI, merek dari Jepang yang mengusung kesederhanaan, telah membuat rumah dari gabus dengan desainer Jasper Morrison. Rumah yang berwarna coklat itu, memiliki desain sederhana dengan ruangan layaknya rumah yang biasa kita temu. Tapi, menariknya adalah semua dinding di ruangan dan di rumah ini terbuat dari gabus.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Ciri-ciri Rumah Tahan Gempa yang Perlu Diketahui, Cek di Sini


    Jakarta

    Rumah tahan gempa adalah solusi penting untuk mengurangi dampak kerusakan akibat gempa bumi, khususnya di wilayah rawan bencana. Dengan konstruksi yang tepat, rumah tahan gempa mampu melindungi penghuninya dari risiko keruntuhan bangunan.

    Sehingga, memahami ciri-ciri rumah tahan gempa menjadi langkah awal untuk menciptakan hunian yang aman. Lantas apa saja ciri-cirinya?

    Ciri-ciri Rumah Tahan Gempa

    Ciri-ciri rumah tahan gempa bisa dilihat dari pondasi dan beton yang kokoh hingga beban material rumah yang minimal. Begini penjelasannya.


    1. Pondasi yang Kokoh

    Menurut laman DPU Kulon Progo, pondasi menjadi bagian penting dari struktur sebuah bangunan, terutama pada rumah tahan gempa. Berada di bagian paling bawah, pondasi berfungsi menyalurkan beban ke tanah.

    Kedalaman minimum pembuatan pondasi adalah 60-80 cm. Untuk faktor akurasi dari kedalaman, atau jenis pondasi, bisa dilakukan uji sondir tanah pada lokasi yang akan dibangun.

    2. Beton yang Kokoh

    Penggunaan beton umum dilakukan pada bangunan. Namun dalam bangunan tahan gempa, beton dibuat kokoh dengan standar tertentu, sehingga lebih aman.

    Beton bertulang merupakan bagian penting dalam membuat rumah tahan gempa. Pembuatan alat bantu seperti vibrator atau molen disarankan untuk menghasilkan beton bertulang yang berkualitas tinggi.

    3. Tanahnya Memiliki Komponen Kasar

    Kualitas tanah di mana bangunan berdiri juga harus mampu menahan tekanan gempa. Menurut laman Homify, contoh dari tanah dengan komponen kasar yaitu pasir lempung dan kerikil berpasir.

    Tanah ini biasanya mampu terpapar benturan yang padat dan keras sehingga sangat bagus untuk bangunan tahan gempa. Sebaliknya, tanah yang lunak, berpasir, liat, dan gembur tidak cocok untuk konstruksi.

    4. Bangunan Simetris

    Desain rumah yang simpel dan simetris tanpa ornamen atau aksen yang berlebihan, baik untuk rumah tahan gempa.

    Menurut salah satu situs penjualan furniture dan dekor rumah, bentuk rumah yang simetris bisa membantu memperkokoh struktur dan membuat penyebaran gayanya merata. Sehingga struktur tersebut bisa menahan gaya gempa yang lebih baik.

    5. Setiap Komponen dalam Rumah Terikat

    Pada rumah tahan gempa, setiap komponen-komponen elemen bangunan, baik struktural dan non-struktural terikat dengan baik satu sama lain. Hal tersebut akan memperkokoh bangunan dan membantu bangunan menyalurkan beban gempa lebih merata.

    6. Beban Material Rumah yang Minimal

    Saat melakukan pembangunan rumah tahan gempa, langkah tepatnya yaitu meminimalisir material bangunan yang bisa menambah beban bangunan saat terjadi gempa.

    Contohnya, mengganti konstruksi atap konvensional dengan atap baja ringan. Jika material yang digunakan tepat, maka efek gempa pada hunian bisa diminimalisir.

    Itulah enam ciri-ciri rumah tahan gempa. Semoga artikel ini membantu detikers yang ingin membangun rumah ya.

    (elk/inf)



    Sumber : www.detik.com