Tag: material

  • 3 Jenis Bahan Genteng buat Bangun Atap, Ini Plus Minusnya Menurut Kontraktor


    Jakarta

    Atap adalah bagian atas rumah yang melindungi seisi bangunan dari terpaan hujan dan panas matahari. Bagian rumah ini biasanya terbuat dari genteng yang disusun sedemikian rupa.

    Terdapat beragam jenis genteng berdasarkan bahannya. Pemilik bisa memilih genteng sesuai dengan konsep rumah dan kebutuhan.

    Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama Panggah Nuzhul Rizky pernah menyebutkan beberapa tipe material genteng, seperti beton, keramik, tanah liat, dan metal. Setiap jenis genteng punya karakteristik tersendiri.


    Jika pemilik berencana membuat atap tapi bingung mau pakai bahan genteng apa, coba pertimbangkan kelebihan dan kekurangannya. Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

    Jenis-jenis Material Genteng

    Inilah jenis-jenis bahan genteng beserta kelebihan dan kekurangannya menurut kontraktor.

    1. Genteng Tanah Liat Berkeramik

    Genteng KeramikGenteng Keramik Foto: Getty Images/iStockphoto/ewg3D

    Menurut Panggah, material terbaik untuk membangun atap rumah adalah genteng tanah liat berkeramik. Berbeda dari material tanah liat biasa, genteng ini mempunyai permukaan yang mengkilap. Genteng tersebut biasanya dipakai untuk rumah-rumah mewah karena bahannya tergolong premium.

    “Populer di Indonesia itu cocoknya adalah genteng tanah liat yang keramik. Tanah liat dan keramik ini mempunyai karakteristik pembuatan dari tanah liat dibentuk dan di-oven, jadi kadar airnya nol,” kata Panggah kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Kelebihan:

    • Bobot paling berat yang tidak mudah terbang tertiup angin
    • Berbahan solid yang mencegah retak dan bocor
    • Tampilan glossy yang estetik

    Kekurangan:

    • Boros penggunaan rangka atap karena berat
    • Harganya paling mahal

    Sementara itu, genteng tanah liat tradisional yang sering digunakan masyarakat Indonesia lebih ringan sehingga lebih mudah tertiup angin. Genteng tersebut terbuat dari tanah liat yang dibentuk dan dibakar, tetapi tanpa melalui proses oven. Tampilannya genteng tanah liat doff, berbeda dari versi keramik yang mengkilap.

    2. Genteng Beton

    Genteng BetonGenteng Beton Foto: Getty Images/iStockphoto/geargodz

    Lalu, genteng beton juga sering digunakan masyarakat Indonesia. Genteng ini termasuk segmentasi menengah dan bisa menjadi pilihan terbaik buat harga yang masih terjangkau.

    Kelebihan:

    • Tampilan estetik
    • Bobot cukup berat
    • Harga lebih terjangkau daripada genteng tanah liat berkeramik

    Kekurangan:

    • Boros rangka baja ringan karena harus ditopang dengan rangka yang rapat
    • Permukaan genteng mudah retak sehingga rawan bocor setelah pemakaian lama

    3. Genteng Metal

    Male Asian Construction worker installing roof tiles at construction siteGenteng Spandek Foto: Getty Images/Vithun Khamsong

    Kemudian, genteng metal bisa menjadi opsi bahan yang ekonomis. Jenis genteng ini hadir dalam beragam macam, seperti spandek metal, metal berpasir, metal seperti beton.

    Kelebihan:

    • Hemat baja ringan karena tidak perlu rangka yang rapat
    • Pemasangan genteng mudah dan cepat
    • Harga genteng paling terjangkau

    Kekurangan:

    • Penampilan genteng kurang estetik karena terlihat ringkih
    • Bobotnya ringan sehingga mudah terbang tertiup angin
    • Mudah robek kalau terkena angin kencang

    Itulah jenis-jenis material genteng yang bisa pemilik rumah pertimbangkan plus minusnya buat bikin atap. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Bangun Rumah 2 Lantai Tipe 36 Butuh Berapa? Ini Estimasi Lengkapnya!



    Jakarta

    Pemilik tanah kosong bisa membangun rumah sendiri. Tak harus langsung bangun rumah megah, pemilik bisa memulai dengan rumah yang sederhana.

    Jika lahan yang dimiliki terbatas, pemilik dapat mempertimbangkan rumah tipe 36. Namun, kalau butuh lebih banyak ruang, rumah tersebut bisa dibuat dua lantai. Tipe rumah ini cocok buat keluarga kecil di perkotaan.

    Saat hendak membangun rumah, pemilik perlu mengetahui gambaran biayanya. Hal ini penting untuk menyiapkan dan yang cukup dan menjalankan proyek sesuai budget.


    Lalu, berapa estimasi biaya untuk membangun rumah tipe 36 dengan dua lantai? Berikut ini penjelasannya.

    Estimasi Biaya Bangun Rumah 2 Lantai Tipe 36

    Kontraktor dari Rebwild Construction Wildan mengatakan pembangunan rumah dua lantai bisa memakan biaya mulai dari Rp 4,8 juta hingga Rp 5 juta per meter persegi. Biaya tersebut berbeda tergantung lokasi pembangunan.

    Biaya itu sudah mencakup semua material konstruksi, seperti pasir, semen, bata ringan, genteng, dan cat. Begitu juga dengan upah tukang borongan, biayanya sudah termasuk dalam harga tersebut.

    Pemilik bisa saja mendapatkan harga yang lebih murah tergantung pemilihan material bangunan. Misalnya, lantai rumah menggunakan keramik kualitas KW 1 yang lebih terjangkau.

    “Kalau misalkan atapnya pakai yang genteng keramik tuh lebih mahal lagi, karena dia per pieces-nya sudah Rp 12 ribu, beda dengan atap spandek karena lembaran,” kata Wildan saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

    Biaya pembangunan juga hanya berlaku untuk membuat bangunan rumah standar. Pemilik mesti menyiapkan dana lebih untuk instalasi listrik, pembuatan taman, pagar rumah, dan kanopi.

    Terpisah, Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Konstruksindo Utama Panggah Nuzhul Rizki pernah mengingatkan agar pemilik menyiapkan dana darurat sekitar 10-15 persen dari total biaya bangun rumah. Langkah tersebut untuk mengantisipasi kalau membutuhkan biaya lebih saat bangun rumah.

    Sebagai contoh, pemilik tanah ingin membangun rumah tipe 36 dengan dua lantai. Dengan asumsi biaya pembangunannya sekitar Rp 4,8 juta per meter persegi, berikut ini estimasi biaya yang perlu disiapkan.

    • Biaya konstruksi: 72 m2 x Rp 4.800.000 per m2 = Rp 345.600.000.
    • Biaya instalasi listrik: Rp 1.000.000
    • Biaya tak terduga 15%: Rp 51.840.000

    Total Biaya: Rp 345.600.000 + Rp 1.000.000 + Rp 51.840.000 = Rp 398.440.000

    Secara keseluruhan, biaya yang perlu disiapkan pemilik untuk bangun rumah tipe 36 dengan dua lantai sekitar Rp 398 jutaan. Perlu diingat, biaya ini hanya estimasi untuk pembangunan rumah sederhana.

    Pemilik bisa menekan biaya kalau menggunakan material sederhana tapi berkualitas. Sebaliknya, biaya akan semakin mahal kalau mengusung konsep hunian tertentu, misalkan modern atau skandinavia.

    Itulah perkiraan biaya untuk membangun rumah tipe 36 dengan dua lantai. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Kebiasaan Buruk yang Sering Dilakukan Saat Bebersih Rumah, Jangan Diulangi!


    Jakarta

    Membersihkan rumah merupakan kegiatan yang perlu dilakukan secara rutin. Tak hanya menyapu dan mengepel lantai, tapi juga membersihkan jendela hingga meja dapur.

    Namun, tak semua orang melakukan kegiatan bersih-bersih rumah dengan teknik yang benar. Misalnya, membersihkan cermin di kamar dengan cara menyemprotkan langsung cairan pembersih ke cermin.

    Meski tujuannya untuk membersihkan debu dan kotoran, tapi jika tekniknya salah malah justru bisa merusak permukaan kaca. Alih-alih cermin terlihat kinclong, tapi justru tambah kusam dan muncul goresan halus.


    Agar perabotan di rumah tidak rusak saat dibersihkan, penting untuk mengetahui teknik membersihkannya yang benar. Simak selengkapnya dalam artikel ini.

    Kebiasaan Buruk yang Sering Dilakukan saat Bebersih Rumah

    Menurut pakar kebersihan, banyak orang yang belum tahu teknik yang tepat dalam membersihkan rumah. Dikutip dari Good Housekeeping, berikut sejumlah kebiasaan buruk saat bebersih rumah yang masih sering dilakukan:

    1. Membersihkan Lantai Kayu Pakai Pel Basah

    Pakar kebersihan dari Good Housekeeping Institute Carolyn Forte menyebut masih banyak yang membersihkan lantai kayu dengan kain pel basah. Padahal, terlalu banyak air dapat menyebabkan kayu cepat rusak hingga berubah warna.

    “Hal terburuk dalam mengepel lantai kayu adalah membiarkan air menggenang di lantai. Hal ini bisa menyebabkan pertumbuhan jamur,” kata Forte.

    Cara yang benar adalah menggunakan pel microfiber lembap atau kain pel dengan semprotan. Cara ini lebih efektif untuk membersihkan debu dan kotoran di lantai kayu tanpa merusaknya.

    2. Semprot Cairan Pembersih Langsung ke Cermin

    Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang adalah menyemprotkan langsung cairan pembersih ke cermin. Forte menilai cara ini kurang efektif karena cairan pembersih dapat menetes ke bawah dengan cepat dan ikut membawa debu yang menempel. Alhasil, kaca akan tetap kotor meski sudah dibersihkan.

    Untuk membersihkan cermin tanpa menimbulkan goresan, semprotkan cairan pembersih ke kain. Setelah itu, baru membersihkan cermin dengan gerakan membentuk huruf ‘S’ dari atas ke bawah.

    3. Produk Stainless Steel

    Ada banyak peralatan rumah tangga yang terbuat dari material stainless steel. Jika dibersihkan secara asal maka bisa muncul goresan pada perabotan tersebut.

    Untuk mencegah hal itu terjadi, Forte menyarankan untuk memakai cairan pembersih khusus untuk produk stainless steel.

    “Untuk menghindari goresan, gunakan pembersih yang dibuat khusus untuk membersihkan stainless steel. Pakai kain microfiber dan bersihkan perlahan,” paparnya.

    4. Membersihkan Jendela Saat Siang

    Forte menyebut ada satu kesalahan yang sering dilakukan saat membersihkan jendela dan pintu kaca, yakni dibersihkan ketika cuaca sedang cerah. Ia menyarankan untuk melakukan kegiatan ini saat cuaca cenderung mendung.

    “Membersihkan jendela dan pintu kaca di bawah terik matahari menyebabkan cairan akan mengering dengan cepat sebelum Anda sempat mengelapnya, sehingga meninggalkan goresan yang sulit dihilangkan,” ujarnya.

    5. Pakai Bahan Kimia Keras Saat Bersihkan Meja Dapur dari Batu Alam

    Hindari penggunaan bahan kimia keras saat membersihkan meja dapur dari batu alam, seperti penggunaan cairan pemutih. Selain itu, hindari juga penggunaan pembersih yang mengandung asam tinggi, seperti cuka atau air perasan lemon.

    Sebab, meja dapur yang terbuat dari batu alam akan mudah rusak dan permukaannya dapat terkikis jika menggunakan bahan-bahan tersebut. Dianjurkan memakai cairan pembersih khusus dengan pH netral.

    Itulah lima kebiasaan salah yang ternyata masih sering dilakukan banyak orang saat bersih-bersih rumah. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Marmer vs Keramik, Mana yang Lebih Awet dan Go Green?



    Jakarta

    Dalam persiapan membangun rumah, perlu dipertimbangkan terkait material lantai atau dinding yang akan digunakan. Pilihan antara ubin marmer dan keramik tidak hanya soal keindahan dan harga, tetapi juga soal dampak lingkungan dalam jangka panjang.

    Pembuatan keramik maupun ubin tidak dilakukan secara instan, melainkan dengan proses produksi yang cukup panjang. Maka dari itu, perlu untuk diperhatikan penggunaan energi dalam produksinya, ketahanan, serta perawatannya.

    Di bawah ini diulas mengenai penggunaan keramik ataupun marmer dengan tiga aspek penting yaitu ketahanan dan daya tahan, perawatan, serta yang paling utama adalah dampak lingkungan.


    Ketahanan dan Daya Tahan

    Ubin Marmer

    Ubin marmer adalah batu alam yang memberikan kesan mewah dan alami. Dikutip melalui Situs A-Class Marble, ubin keramik umumnya lebih tahan lama dibanding marmer.

    Namun, karena marmer bersifat berpori dan lebih lunak dibanding keramik, maka lebih rentan terhadap goresan, noda, dan kerusakan jika digunakan di area yang sering dilalui.

    Dengan perawatan yang tepat, seperti pelapisan (sealing) secara berkala, ubin marmer dapat bertahan lama, dengan tetap memerlukan perhatian lebih.

    Ubin Keramik

    Keramik, terutama dengan jenis yang diproduksi dengan kualitas tinggi, memiliki struktur padat, tahan terhadap retak, dan sedikit perawatan dibanding marmer.

    Dalam artikel pada situs A-Class Marble yang dikutip Kamis (23/10/2025), juga dijelaskan bahwa keramik merupakan bahan material ubin yang memiliki ketahanan tinggi dengan sedikit perawatan.

    Hal ini berarti dari aspek daya tahan, keramik memiliki keunggulan dalam konteks penggunaan rumah tangga sehari-hari.

    Perawatan

    Ubin Marmer

    Karena sifatnya berpori, marmer membutuhkan pelindung agar tidak menyerap noda ataupun air. Melansir dari artikel VolarkTiles, tumpahan noda dengan kandungan asam seperti lemon ataupun cuka dapat menyebabkan noda permanen.

    Marmer memerlukan pemilihan pembersih yang tepat dengan pH netral, pelapisan ulang secara bertahap, dan perhatian untuk menghindari kerusakan.

    Ubin Keramik

    Keramik biasanya tidak berpori, tidak memerlukan pelindung yang dipasang dengan rutin, serta pembersihan sehari-hari cukup dengan lap atau pel.

    Dari sisi kemudahan perawatan, keramik jauh lebih praktis. Apabila aktivitas dengan intensitas tinggi dan menginginkan material yang minim repot, keramik bisa jadi pilihan yang tepat.

    Dampak Lingkungan

    Ubin Marmer

    Marmer merupakan batu alam dan secara alami memiliki aspek keberlanjutan dari sisi bahan dasar (tidak dibuat secara sintetik). Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

    Dilansir dari artikel situs A-Class Marble, proses penambangan (quarrying) marmer dapat berdampak besar terhadap lingkungan baik dari penggalian, pengangkutan berat, kerusakan lanskap, dan emisi.

    Pengangkutan dari lokasi tambang ke pabrik dan kemudian ke lokasi pengguna bisa jauh sehingga meningkatkan jejak karbon. Namun, karena marmer bisa bertahan puluhan tahun jika dirawat dengan baik, maka frekuensi penggantian marmer bisa lebih rendah.

    Ubin Keramik

    Keramik dibuat dari tanah liat dan mineral alami. Namun, proses produksinya memerlukan suhu sangat tinggi (firing), penggunaan energi, dan seringkali mengalami emisi terhadap lingkungan.

    Meski demikian, banyak produsen keramik kini menggunakan teknologi lebih hemat energi dan bahan daur ulang. Karena keramik lebih tahan lama dan sering tidak memerlukan penggantian cepat, siklus ketahanannya pun bisa sangat panjang.

    Keramik yang dibuat lokal dapat mengurangi emisi transportasi, serta daur ulang keramik biasanya lebih mudah dibanding batu alam yang rusak atau pecah.

    Jika ingin menentukan pilihan yang lebih ramah lingkungan untuk ubin rumah, dari segi ketahanan, perawatan, dan dampak lingkungan, ubin keramik seringkali menjadi pilihan yang lebih praktis dan berkelanjutan dibanding ubin marmer.

    Namun, bukan berarti marmer buruk secara lingkungan. Hanya saja memerlukan perhatian lebih besar dalam pemilihan dan pemakaiannya.

    Pilihan antara marmer atau keramik dengan memperhatikan keramahan lingkungan, dapat disesuaikan dengan prioritas serta resiko perawatan akan ketahanan masing-masing material.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Tips Pasang Genteng Agar Tidak Mudah Geser Saat Angin Kencang


    Jakarta

    Genteng atap rumah sewaktu-waktu bisa bergeser atau terbang akibat terjangan angin kencang dan hujan deras. Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena berawal dari genteng geser bisa merambat ke masalah lainnya.

    Jika genteng bergeser, bakal ada celah buat air hujan masuk ke rumah. Atap bocor seperti ini nantinya bisa menimbulkan genangan air, jamur, bahkan kerusakan plafon dan dinding.

    Kondisi tersebut membuat penghuni harus repot-repot memperbaiki rumah sampai mengeluarkan dana besar. Oleh karena itu, sejak awal pemilik rumah harus memastikan genteng terpasang dengan kuat.


    Pelajari cara pasang genteng atap dengan benar agar tidak bergeser saat ada angin kencang. Temukan tipsnya berikut ini.

    Tips Pasang Genteng Agar Atap Aman Diterjang Angin

    Inilah cara memasang genteng yang kuat menurut kontraktor.

    Pilih Material Genteng yang Berat

    Panggah menganjurkan untuk memilih genteng yang bobotnya berat agar tidak mudah bergeser. Ia merekomendasikan memakai genteng tanah liat keramik karena bobot, kualitas, dan estetika terbaik dibandingkan tipe genteng lainnya.

    “Pemilihan material genteng sendiri, disarankan material genteng itu adalah yang memang yang agak lumayan berat dan kedap dari panas karena kadang-kadang juga sering ditemui genteng ini juga menyerap panas juga dan gampang terbang juga,” kata Panggah kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

    “Ada beberapa tipe (genteng). Ada dari tipe beton, genteng keramik, yang sekarang lagi marak itu metal. Biasanya kalau yang agak enteng itu yang memang dari metal dan dia gampang terbang,” tambahnya.

    Selain itu, pemilik bisa memilih alternatif genteng yang lebih terjangkau. Salah satu jenis yang bisa dipertimbangkan adalah genteng beton, meski secara estetika kalah dari keramik.

    Susun Genteng dengan Rapi

    Kemudian, susun genteng dengan cara saling menimpa satu dengan lainnya dan memiliki kemiringan yang sesuai. Bobot genteng akan menahan genteng lainnya sehingga lebih tahan dari terjangan angin kencang.

    “Genteng tanah liat sebenarnya sudah cukup berat, tapi paling nanti bagaimana caranya biar itu nggak terbang, biasanya kita pastikan pada saat pemasang itu dia sudah tersusun dengan rapi karena memang pasang genteng itu ada susunannya ya,” tuturnya.

    Itulah cara memasang genteng yang tidak mudah geser dan terbang. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Material yang Aman Buat Perabotan Outdoor, Tahan di Musim Hujan-Panas


    Jakarta

    Sudah sering ditemukan, banyak pemilik rumah meletakkan perabotan di teras atau area luar rumah. Perabotan tersebut seperti kursi, meja kecil, rak sepatu hingga sofa untuk bersantai.

    Jika cuacanya bagus, tanpa hujan dan tidak begitu panas, meletakkan perabotan tersebut di luar ruangan sepertinya tidak masalah. Namun, akhir-akhir ini hujan turun sangat deras, bahkan disertai angin yang kencang. Kemudian beberapa jam setelahnya suhunya naik jadi sangat panas karena matahari yang terik. Apakah aman meletakkan perabotan di luar rumah?

    Dilansir dari The Spruce, Wakil Presiden Pengembangan Bisnis di POLYWOOD, Lindsay Schleis, mengatakan asalkan material yang dipakai pada perabotan tersebut benar-benar tahan cuaca, tidak akan ada masalah pada perabotan tersebut.


    Jenis perabotan yang tidak boleh dibiarkan berada di luar terutama saat hujan adalah sofa yang dibuat khusus di dalam ruangan dan perlengkapan makan. Jadi setiap habis berkumpul di luar, peralatan makan harus segera dikembalikan.

    “Furnitur luar ruangan dibuat agar tahan cuaca, tetapi itu tidak selalu berarti tahan cuaca,” kata Schleis, seperti yang dikutip pada Selasa (28/10/2025).

    Material Perabotan yang Aman di Luar Ruangan

    1. Kayu plastik

    Saat ini sudah banyak produk yang bisa meniru tampilan atau tekstur kayu. Salah satunya adalah plastik. Material tersebut tahan air, panas, dan lembap. Dengan memakai material kayu plastik, dari segi tampilan bakal tetap estetik, tetapi dari kualitas bakal tetap tahan lama.

    2. Aluminium

    Aluminium kerap dipakai sebagai material untuk rak sepatu. Berbeda dengan besi yang mudah karatan, aluminium lebih tahan terhadap perubahan cuaca. Selain itu, dari segi tampilan, aluminium cukup berkelas dan bisa cocok dengan segala jenis desain.

    3. Kayu

    Banyak orang menghindari kayu sebagai material di luar ruangan karena takut cepat lapuk, berjamur, dan jadi sasaran rayap. Padahal kayu memiliki banyak sekali jenis. Bisa jadi yang mengalami gejala tadi merupakan jenis kayu yang tidak cocok untuk luar ruangan.

    Kalau dilihat ke belakang, rumah tradisional di Indonesia kebanyakan memakai kayu, tetapi bisa bertahan lama. Beberapa jenis kayu yang bagus dipakai di luar ruangan adalah jati, ulin, akasia, kayu merah, cedar, dan eukaliptus.

    Itulah penjelasan mengenai perabotan di luar ruangan saat hujan, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Jenis Atap Rumah yang Mudah Rusak dan Lepas Saat Hujan Angin



    Jakarta

    Akhir-akhir ini beberapa wilayah di Indonesia dilanda hujan lebat yang disertai angin kencang. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan fenomena tersebut disebabkan karena memasuki fase peralihan musim atau pancaroba, dari musim kemarau menuju musim hujan.

    Salah satu ancaman ketika terjadi hujan deras disertai angin adalah kondisi atap rumah. Banyak kejadian akhir-akhir ini, atap bangunan lepas atau rusak terbawa angin.

    Kontraktor dari Rebwild Construction, Wildan, mengatakan di tengah musim hujan disertai angin seperti ini memang harus sering mengecek kondisi atap rumah. Material atap yang ringan seperti spandek, seng, dan asbes merupakan jenis yang rentan rusak dan lepas terbawa angin.


    Ia mengatakan lebih baik mengganti jenis atap yang memiliki bobot yang lebih berat, seperti genteng tanah liat dan genteng beton. Apabila mencari atap yang kuat, tetapi dengan harga yang lebih murah dari genteng, Wildan menyarankan untuk memakai jenis Unplasticized Polyvinyl Chloride (UPVC), yakni atap yang terbuat dari plastik padat yang lebih kokoh dan kaku.

    “Mungkin ke UPVC kali ya, yang single layer. Kalau yang double layer agak mahal soalnya atau spandek. Asal pemasangannya betul itu bisa jadi opsi utama,” kata Wildan kepada detikcom pada Rabu (29/10/2025).

    Cara Mengetahui Kondisi Atap yang Rentan Terbawa Angin

    Wildan mengatakan tanda-tanda paling jelas untuk mengetahui atap rentan rusak adalah terdengar suara berisik seperti gemuruh atau bergetar setiap terkena angin.

    “Kayak mau lepas kena angin, oglak dia, goyang-goyang gitu,” ujar Wildan.

    Untuk mencegah atap terbang atau rusak saat hujan angin, kata Wildan, lakukan pengecekan secara berkala dan lihat setiap baut pengikat sudah kencang atau longgar. Lalu, cek juga apakah ada retakan dan celah bocor. Sebab, celah tersebut bisa membuat retakan panjang pada atap saat menerima tekanan ketika terjadi hujan angin.

    “Yang paling penting pengecekan berkala karena kadang si atapnya sudah ngasih tanda-tanda kerusakan tapi ownernya (pemiliknya) yang suka nggak peka,” jelasnya.

    Itulah jenis atap yang rentan rusak saat hujan angin dan penggantinya. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Nggak Bisa Dianggap Sepele, Ini 4 Biang Kerok Lantai Keramik Ambles


    Jakarta

    Ketika lantai dibuat tidak sesuai standar, pasti ada saja masalah yang timbul. Salah satunya adalah lantai ambles, tidak lagi rata layaknya lantai rumah pada umumnya.

    Kondisi lantai yang ambles berbeda-beda, ada yang hanya satu keramik, ada yang seluruh permukaan turun, ada yang hanya pinggiran yang masuk ke dalam tanah, dan sebagainya. Seluas apa pun perubahannya, pemilik rumah harus tetap waspada.

    Lantai pasti memiliki material penutup, seperti keramik. Ketika lantai tersebut ambles, otomatis materialnya akan terkena tekanan dari dua arah berbeda. Alhasil keramik bisa pecah dan berbahaya saat terinjak. Pecahan keramik ini bisa merobek kulit karena ujung keramik cukup tajam.


    Untuk mencegah dan mengatasi masalah ini, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari tahu penyebabnya dahulu. Dilansir dari True Level Concrete, berikut beberapa penyebab lantai rumah ambles.

    1. Tanah di Bawahnya Tidak Padat

    Penyebab paling umum lantai rumah tiba-tiba ambles adalah tanah di bawahnya tidak dapat menopang permukaan lantai di atasnya. Tanah dan struktur isi lantai tersebut tidak penuh sehingga ada ruang kosong yang tidak bisa menyokong tekanan dari atas.

    2. Lantai Lembap

    Saat membangun rumah, ahli bangunan sudah memiliki teknik agar kelembapan tidak dapat masuk ke rumah. Celah kelambapan itu bukan hanya dari sumber-sumber air di kamar mandi, pipa pembuangan, atau keran di rumah, melainkan bisa dari dalam tanah. Ketika tidak ada pelindung di bagian lantai, kelembapan dapat mudah menerobos dan membentuk celah di antara keramik. Air pun bisa masuk di antara lapisan tanah dan struktur paling bawah rumah. Hal ini yang menyebabkan tanah di bawahnya akan mudah tergerus dan susunannya tidak begitu padat.

    3. Pergerakan tanah

    Pergerakan tanah merupakan fenomena alam yang mungkin saja terjadi. Ciri-cirinya bisa terlihat jelas pada bangunan, tetapi terkadang tidak disadari. Selain itu, memang sudah sifat tanah yakni mengembang saat basah, dan menyusut saat kering.

    Pergerakan tanah tidak dapat dianggap sepele karena hampir sama dengan longsor. Perubahan iklim dan waktu juga dapat menyebabkan tanah bergerak. Apabila ada perubahan pada lantai, dinding, hingga ke tanah di halaman, langsung laporkan kepada ahli untuk dilakukan pemeriksaan. Apabila memiliki modal lebih, sebaiknya pindah dari sana untuk mencari rumah yang lebih aman.

    4. Ada Masalah pada Struktur Bangunan

    Kerusakan lantai dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti salah mendesain struktural, kondisi tanah di bawah rumah, atau usia bangunan tersebut.

    Itulah beberapa penyebab lantai rumah ambles, semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Pilih Toilet Jongkok atau Toilet Duduk? Ini Perbandingannya



    Jakarta

    Saat memilih perlengkapan untuk hunian, urusan toilet tidak bisa dianggap sepele. Toilet sangat penting karena digunakan untuk buang hajat para penghuni rumah dan tamu yang datang.

    Di Indonesia, toilet jongkok masih banyak ditemukan, sementara toilet duduk makin populer seiring hadirnya hunian modern. Lalu, mana yang lebih tepat untuk rumah Anda? Simak perbandingannya.

    Toilet Jongkok

    Asia, Turkey, Istanbul Area, 2017: View Of Toilet In Turkish RestaurantToilet jongkok. Foto: Getty Images/Kypros

    Dilansir dari laman Bladder & Bowel UK, Minggu (2/11/2025), posisi jongkok dinilai mendukung proses buang air besar lebih alami. Hal ini sejalan dengan kebiasaan banyak orang Asia yang sudah terbiasa menggunakan toilet jongkok.


    Toilet jongkok cenderung tidak membutuhkan banyak ruang, cocok untuk kamar mandi kecil dan area servis seperti kamar mandi ART. Bentuknya sederhana dan menyatu dengan lantai, membuat ruangan lebih efisien.

    Secara struktur, toilet jongkok lebih sederhana sehingga cenderung membutuhkan perawatan lebih minim. Namun karena lantai cenderung basah, kebersihan material lantai perlu diperhatikan agar tidak licin.

    Toilet Duduk

    Ilustrasi ToiletIlustrasi Toilet Duduk. Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawf8

    Dilansir dari Teaching Nomad, toilet duduk dinilai lebih ramah untuk anak-anak, lansia, hingga ibu hamil karena tidak perlu tenaga ekstra untuk berjongkok. Tak heran, toilet duduk banyak digunakan di rumah modern, apartemen, dan hotel.

    Penggunaan toilet duduk menghadirkan tampilan lebih modern pada hunian. Dilansir dari Architectural Digest, tren kamar mandi saat ini menonjolkan desain minimalis dan compact yang kerap dipadukan dengan toilet duduk untuk kesan bersih dan rapi.

    Untuk toilet duduk, perhatian lebih dibutuhkan pada bagian dudukan dan engsel. Dilansir dari Martha Stewart, pembersihan rutin dengan cairan lembut dan lap microfiber disarankan demi menjaga ketahanan porselen dan kebersihan permukaan.

    Perlu diingat, penggunaan toilet jongkok atau duduk tergantung pada kebutuhan masing-masing penghuni rumah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Bingung Pilih Lantai Keramik atau Vinyl? Ini Perbandingan Lengkapnya!



    Jakarta

    Pemilihan material lantai sering kali menjadi dilema saat membangun atau merenovasi rumah. Tidak hanya soal estetika, lantai juga menentukan kenyamanan hingga daya tahan hunian dalam jangka panjang.

    Dua material yang kerap dibandingkan adalah keramik dan vinyl. Keduanya sama-sama populer, namun punya karakter berbeda yang bisa mempengaruhi suasana rumah secara keseluruhan.

    Masih bingung pilih yang mana? Yuk simak!


    Tampilan Mirip, Karakter Berbeda

    Keramik sudah lama menjadi standar lantai di banyak rumah Indonesia. Material ini dibuat dari tanah liat yang dibakar pada suhu tinggi sehingga kuat dan tahan lama. Sementara itu, lantai vinyl kini semakin diminati karena tampilannya yang modern dan harganya yang cenderung murah.

    Melansir halaman The Spruce, Senin (03/11/2025), keramik masih dianggap unggul dari segi tampilan dan nilai estetika jangka panjang, terutama jika menggunakan keramik yang berkualitas tinggi. Sementara vinyl dinilai dapat menjadi alternatif bagi penghuni yang menginginkan tampilan hangat dengan kesan natural seperti kayu.

    Ketahanan dan Kenyamanan

    Salah satu keunggulan utama keramik adalah daya tahannya. Mengutip The Spruce, keramik dapat bertahan lebih dari 40 tahun jika dirawat dengan baik. Material ini juga tahan air dan panas sehingga aman digunakan di area lembab seperti dapur atau kamar mandi. Kekurangannya, permukaan keramik cenderung keras dan dingin saat diinjak, sehingga terasa kurang nyaman untuk mereka yang sering beraktivitas tanpa alas kaki.

    Sebaliknya, vinyl terkenal lebih ramah kaki. Mengutip situs Ranney Blair, permukaan vinyl terasa lebih hangat dan empuk, serta lebih senyap ketika diinjak. Hal ini menjadikannya pilihan menarik untuk kamar tidur atau ruang keluarga. Namun, vinyl memiliki umur pakai lebih pendek dibanding keramik dan bisa mengalami kerusakan jika terendam air terlalu lama, kecuali pada varian waterproof.

    Pemasangan dan Perawatan

    Dari sisi pemasangan, keramik membutuhkan proses yang lebih kompleks dan biasanya melibatkan tukang profesional. Nat di antara keramik juga perlu perhatian ekstra karena rentan kotor seiring waktu.

    Sebaliknya, vinyl dikenal sebagai material yang mudah dipasang, bahkan bisa dilakukan sendiri untuk beberapa jenisnya. Melansir halaman Mannington, teknologi pemasangan click system membuat vinyl lebih praktis dan menghemat waktu renovasi. Vinyl juga cenderung lebih mudah dibersihkan karena tidak memiliki nat seperti keramik.

    Mana yang Harus Dipilih?

    Pada akhirnya, pilihan antara keramik dan vinyl kembali pada kebutuhan hunian masing-masing. Keramik cocok bagi yang mencari material tahan lama dengan tampilan elegan. Di sisi lain, vinyl lebih ideal bagi penghuni yang mengutamakan kenyamanan, dan instalasi yang praktis.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com