Tag: mengepel

  • Haruskah Mengepel Lantai Setiap Selesai Menyapu? Begini Anjurannya



    Jakarta

    Mengepel lantai biasa dilakukan setelah menyapu lantai. Namun, jika dilihat secara kasat mata, sebenarnya lantai sudah terlihat bersih hanya dengan disapu. Lantas, apakah mengepel lantai harus dilakukan setiap hari, terutama setelah menyapu?

    Dilansir Angi, ternyata penentuan waktu untuk mengepel lantai bisa disesuaikan dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan di rumah. Apabila seharian berada di rumah, lantai harus dipel setiap hari bahkan setiap setelah melakukan kegiatan lho. Bahkan mengepel tidak hanya dilakukan satu kali saja, melainkan dua kali yakni pada pagi dan sore hari.

    Untuk area dapur, mengepel lantai juga dianjurkan dilakukan ketika selesai makan, termasuk di area ruang makan. Tumpahan, remah-remah, dan minyak dari masakan dapat mengotori lantai selama memasak dan makan.


    Menyapu dan mengepel setelah makan malam juga dianjurkan. Dengan begitu, saat penghuni rumah ingin memasak keesokan paginya, dapur tidak berantakan bak kapal pecah.

    Lalu, untuk area di dekat pintu masuk dan ruangan yang sering jadi tempat lalu lalang bisa dipel setiap dua minggu sekali. Namun, jika sedang musim hujan, mengepel lantai sebaiknya dilakukan setiap selesai hujan.

    Ruang tempat keluarga berkumpul atau menerima tamu seperti ruang keluarga, ruang tamu, dan ruang TV harus sering dipel terutama setelah selesai digunakan. Sebab, kotoran bisa terbawa dari luar. Di ruangan ini bisa saja ada tumpahan remah makanan dan lainnya.

    Apa yang Terjadi Jika Jarang Mengepel Lantai?

    Lantai yang jarang dipel pasti terasa lengket, berpasir, dan kasar. Terutama bagi penghuni yang jarang memakai alas kaki selama di dalam rumah.

    Selain itu, lantai yang kotor dan jarang dipel menjadi tempat berkumpulnya serbuk sari, kotoran, debu, dan kotoran lainnya menyebabkan penumpukan alergen, bakteri, dan bahkan jamur, yang mencemari rumah dan menciptakan lingkungan yang tidak higienis. Seiring waktu, muncul bau tak sedap di rumah karena pertumbuhan jamur dan bakteri.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason
  • 7 Tips Mengepel Lantai Agar Bersih Kinclong dan Tidak Bau Amis


    Jakarta

    Agar rumah tetap bersih dan nyaman maka lantai perlu dipel secara rutin. Langkah ini dapat membersihkan lantai dari kotoran, debu, hingga minyak menempel.

    Namun, lantai yang sudah dipel terkadang justru tetap kotor dan bahkan tercium aroma amis yang bikin enek. Hal ini tentu dapat mengganggu kenyamanan dan bikin lelah karena harus kembali mengepel lantai.

    Sebenarnya, ada beberapa tips saat mengepel lantai agar bersih, kinclong, dan tidak mengeluarkan bau amis. Penasaran? Simak tipsnya di bawah ini.


    Tips Mengepel Lantai Agar Bersih dan Wangi

    Ada sejumlah tips dalam mengepel lantai agar tetap bersih dan wangi. Dikutip dari situs Martha Stewart dan The Spruce, berikut cara mengepel lantai agar bersih dan wangi:

    1. Sapu Lantai dengan Bersih

    Tips yang pertama adalah menyapu lantai hingga bersih sebelum dipel. Jika tidak disapu, maka debu, kotoran, hingga sisa makanan yang jatuh ke lantai akan tetap berserakan meski sudah dipel.

    Bahkan, kotoran dan debu justru bisa menyebar ke area lain karena ikut terbawa oleh kain pel. Maka tak heran setelah lantai dipel tapi tetap terasa kotor dan lengket.

    2. Pakai Air Bersih

    Saat mengepel lantai, pastikan kamu menggunakan air bersih dan cairan pembersih khusus lantai. Jika menggunakan air kotor, maka kotoran di dalam air akan menempel di kain pel dan terbawa saat mengepel. Hal ini yang membuat lantai malah tambah kotor dan menjadi bau amis.

    Jika mencuci dan membilas kain pel langsung di ember, pastikan memakai dua ember yang berbeda. Jadi, satu ember berisi air cairan pembersih lantai sedangkan ember satunya lagi untuk membilas kotoran.

    3. Pel dengan Teknik yang Tepat

    Ternyata, teknik mengepel yang salah juga bisa membuat kotoran justru menyebar ke seluruh lantai. Lakukan mengepel dengan cara bergerak mundur sehingga tidak menginjak lantai yang basah.

    Selain itu, mulai mengepel dari sudut terjauh dari pintu dan pel di sepanjang tepi dinding terlebih dahulu. Ayunkan kain pel maju dan mundur dengan membentuk angka ‘8’ di seluruh ruangan.

    Setelah beberapa kali mengepel maka kain pel akan menjadi kotor dan berwarna hitam. Kemudian balikkan pel ke sisi lainnya yang masih bersih. Jika kedua sisi kain pel sudah kotor maka segera dicuci hingga bersih.

    4. Jangan Terlalu Banyak Sabun

    Mengepel lantai memang membutuhkan sabun lantai, tapi hindari menggunakannya terlalu banyak karena membuat lantai lengket dan cepat kotor. Maka dari itu, sebaiknya gunakan sabun lantai sesuai petunjuk kemasan dan sesuai dengan jenis lantai. Hindari memakan sabun cuci piring karena berisiko merusak keramik lantai.

    5. Cuci Bersih Kain Pel

    Setelah digunakan, segera cuci bersih kain pel dan keringkan. Cara ini dilakukan agar kain pel tetap bersih dan mencegah bau apek, sehingga tidak memicu pertumbuhan jamur dan bakteri. Perlu diingat, menggunakan kain kotor untuk mengepel dapat membuat lantai menjadi bau amis.

    Untuk membersihkan kain pel juga gampang, cukup bilas kain pel secara menyeluruh dalam ember yang berisi air panas, kemudian peras kain sampai kering hingga tidak ada air tersisa.

    6. Keringkan Kain Pel

    Agar kain pel bisa digunakan kembali, sebaiknya keringkan kain di tempat yang terkena sinar matahari. Semakin cepat kering kain pel juga meminimalisir kemungkinan untuk menjadi bau.

    Cara mengeringkan kain pel juga tidak bisa sembarangan. Letakkan kepala pel secara terbalik di area yang berventilasi baik hingga kering secara menyeluruh. Hindari meletakkan kain pel di lantai atau menyimpannya di lemari saat basah.

    7. Ganti Kain Pel Secara Berkala

    Kain pel yang sudah sangat kotor tentu akan tetap mengeluarkan bau tak sedap meski sudah dicuci berkali-kali. Itu tandanya kain pel harus diganti dengan yang baru. Disarankan memilih kain pel berbahan mikrofiber agar dapat mengangkat kotoran membandel dengan mudah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/ilf)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason
  • 5 Langkah Merawat Lantai Kayu agar Tahan Lama


    Jakarta

    Memutuskan untuk menggunakan lantai kayu di rumah, merupakan keputusan besar yang kamu ambil. Pembersihan rutin jadi hal wajib untuk merawat lantai kayu agar tetap dalam kondisi prima.

    Lantai kayu cenderung cepat dalam menyerap debu, kotoran kecil, dan pasir. Hal ini membuat lantai menjadi tergores, sehingga menimbulkan kerusakan pada lantai kayu.

    Melansir Architectural Digest, Selasa (17/09/2024), berikut ini merupakan cara yang tepat membersihkan lantai kayu agar tetap kokoh dan bertahan lama.


    1. Sapu Lantai Kayu Setiap Hari

    Langkah pertama dan terpenting untuk membersihkan lantai kayu adalah dengan menyapu secara rutin. Kotoran dan debu yang menumpuk akan membuat lantai kayu tidak mengkilap. Dengan menjaga lantai dari serpihan merupakan kunci agar lantai kayu tetap awet.

    Jika serpihan dibiarkan dan terinjak oleh kamu, hal itu akan merusak dan menggores permukaan lantai kayu.

    2. Vakum Secara Teratur

    Selain menyapu, kamu juga harus melakukan menyedot debu secara teratur. Hal ini akan membantu menyedot partikel halus yang mungkin terlewatkan oleh sapuan, dan daya hisap kuat penyedot debu sangat berguna untuk menyedot debu di celah-celah kecil.

    3. Mengepel Lantai Kayu

    Mengepel lantai kayu harus sangat hati-hati dan tanpa air berlebih. Jangan biarkan air menggenang di lantai kayu, karena hal itu akan membuat lantai kayu menjadi lembap dan menimbulkan rayap yang akan merusak lantai kayu kamu.

    Untuk mencegah terlalu banyak air, pilih pel microfiber daripada pel katun, karena pel microfiber membutuhkan lebih sedikit air dan tidak akan membuat pel menjadi basah kuyup.

    4. Perbaiki Goresan di Lantai Kayu

    Bulu penyedot debu, kotoran, dan bahkan bulu hewan peliharaan dapat menyebabkan goresan. Terjadinya goresan dan lecet akan merusak lantai kayu, bahkan dengan jenis kayu terbaik pun.

    Jika ingin memperbaiki goresan, cukup gunakan spidol noda atau dengan batang lilin yang berfungsi untuk penyok yang lebih dalam.

    Bila kerusakan serius, pilih pewarna yang sesuai dengan warna lantai kayu, kemudian poles lecet dengan mengamplas area yang rusak menggunakan amplas halus. Pastikan untuk menggunakan lapisan akhir yang sama.

    5. Rawat Lantai Kayu

    Mengetahui cara membersihkan lantai kayu bukanlah satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal lantai kayu yang bersih. Lingkungan di sekitar lantai juga merupakan komponen penting dalam perawatan dan ketahanannya.

    Kayu bereaksi secara drastis terhadap suhu dan kelembapan, jadi penting untuk memahami elemen-elemen ini. Garis pertahanan terbaik adalah dengan memperhatikan tanda-tanda bahaya.

    Jika terdapat terlalu banyak kelembapan di bawah kayu, kayu akan melengkung. Hilangkan sumber air, terutama genangan air untuk menghentikan hal ini terjadi. Kondisi yang terlalu kering menyebabkan celah, retakan, dan terbelah.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Asal Ngepel Pakai Air Panas, Ini Anjuran Sesuai Jenis Lantainya



    Jakarta

    Pernahkah kamu mendengar kalau mengepel dengan air panas bisa membuat lantai lebih bersih? Suhu dari air memang dapat memberikan hasil yang berbeda saat mengepel, lho.

    Dikutip dari Home Viable, penggunaan air panas ternyata lebih efektif membunuh kuman di lantai. Air panas juga lebih mudah menghilangkan noda, lemak, dan kotoran yang menempel di lantai dibandingkan mengepel dengan air dingin.

    Selain itu, bahan pembersih lantai dapat bekerja lebih efektif kalau dicampurkan dengan air panas. Dengan begitu, aktivitas mengepel pun menjadi lebih mudah.


    Namun, tidak semua jenis lantai bisa terkena air panas karena sifatnya yang tidak begitu kuat untuk menahan suhu tinggi. Beberapa jenis lantai yang tidak bisa dibersihkan dengan air panas adalah lantai kayu, lantai vinyl, dan lantai yang dilaminasi. Jenis-jenis lantai seperti ini lebih baik menggunakan air dingin saat mengepel.

    Cara mengepelnya pun tidak sembarangan. Jenis lantai dari kayu, lantai vinyl, dan lantai yang dilaminasi cukup rentan terhadap air dan suhu yang lembap. Oleh karena itu, kamu perlu mengeringkan kain pel terlebih dulu agar saat mengepel tidak begitu basah.

    Jika lantai rumah kamu memakai ubin, keramik, dan porselen, lebih disarankan memakai air dingin ketika hendak mengepel. Sebab, mengepel dengan air panas justru dapat merusak permukaan keramik.

    Berbeda halnya dengan jenis lantai yang mahal seperti marmer, penggunaan air panas sama sekali tidak masalah karena bahannya kuat menerima suhu tinggi.

    Itulah anjuran mengepel lantai dengan suhu air yang berbeda. Jangan asal pakai air panas agar lantai nggak rusak ya. Semoga Bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Air Panas atau Dingin? Ini Suhu Terbaik untuk Mengepel Lantai



    Jakarta

    Suhu air ternyata cukup berpengaruh terhadap hasil saat mengepel lantai. Suhu air menjadi faktor tambahan selain penggunaan sabun dan pewangi.

    Penentuan suhu air dalam mengepel juga bisa berpengaruh untuk membersihkan lantai dari debu, bakteri dan kuman yang tak kasat mata. Oleh karena itu, suhu pada air berpengaruh pada kebersihan saat mengepel lantai. Ada dua jenis suhu air, yakni dingin dan panas.

    Lantas, mana yang lebih baik untuk mengepel lantai?


    Air Panas vs Air Dingin, Mana yang Lebih Baik?

    Mengutip dari Home Viable, penggunaan air panas ternyata lebih efektif membunuh kuman di lantai. Selain itu, air panas juga lebih mudah menghilangkan noda, lemak, dan kotoran yang menempel di lantai dibandingkan mengepel dengan air dingin.

    Bahan pembersih lantai juga dapat bekerja lebih efektif jika dicampurkan dengan air panas.

    Namun, tidak semua jenis lantai bisa terkena air panas karena sifatnya yang tidak begitu kuat untuk menahan suhu tinggi. Beberapa jenis lantai yang tidak bisa dibersihkan dengan air panas adalah lantai kayu, lantai vinyl, dan lantai yang dilaminasi.

    Jenis-jenis lantai seperti ini lebih baik menggunakan air dingin saat mengepel.

    Cara mengepelnya pun tidak sembarangan. Jenis lantai dari kayu, lantai vinyl, dan lantai yang dilaminasi cukup rentan terhadap air dan suhu yang lembap. Oleh karena itu, kamu perlu mengeringkan kain pel terlebih dulu agar saat mengepel tidak begitu basah.

    Untuk jenis lantai yang mahal seperti marmer, penggunaan air panas sama sekali tidak masalah karena bahannya kuat menerima suhu tinggi.

    Jika lantai rumah kamu memakai ubin, keramik dan porselen lebih disarankan memakai air dingin ketika hendak mengepel. Sebab, mengepel dengan air panas justru dapat merusak permukaan keramik.

    Tips lain saat mengepel lantai adalah hindari menuangkan cairan pembersih terlalu banyak saat mengepel lantai vinyl. Cairan kimia yang terlalu banyak justru bisa merusak permukaannya.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Muncul Bau Amis Setelah Mengepel Lantai? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya


    Jakarta

    Setelah bersih-bersih rumah, yang diharapkan adalah rumah bersih dan rumah terasa segar. Namun, pernah tidak mendapati lantai yang baru saja dipel justru mengeluarkan bau tidak sedap seperti amis atau bau telur busuk?

    Bau tersebut biasanya tidak tercium saat sedang menyiapkan kain pel, melainkan setelah selesai mengepel. Pasti pemilik rumah bingung karena seharusnya rumah jadi wangi setelah dipel dengan pewangi, bukan justru berbau amis.

    Tenang, bau tersebut bisa diatasi segera karena letak masalahnya ada di alat pel yang digunakan. Dilansir situs Hunker, berikut beberapa penyebab dan cara mengatasi bau amis yang muncul setelah mengepel.


    1. Alat Pel

    Apabila mendapati lantai berbau amis setelah dipel, coba cek kain pel yang digunakan. Apakah sudah dicuci sebelum digunakan atau langsung digunakan untuk mengelap lantai?

    Kain pel rentan sekali menjadi sumber bakteri dan jamur. Aktivitas dari bakteri dan jamur dapat menimbulkan bau dan perubahan warna pada kain pel sehingga harus dicuci bersih dan kering. Ada anjuran untuk selalu mencuci alat pel dengan air bersih atau air hangat sebelum digunakan. Air tersebut bisa juga ditambahkan cairan anti bakteri atau pewangi. Cara ini dapat membuat kain pel lebih steril dan tidak muncul bau tak sedap pada lantai setelah digunakan.

    Selain itu, kain pel juga perlu diganti secara berkala, apabila warna kainnya sudah gelap padahal semula berwarna putih, segera ganti dengan yang baru.

    2. Sumber Air Pel

    Masalah kedua berasal dari air yang digunakan untuk mengepel. Setiap mengepel seharusnya air pembersih diganti karena sudah terkontaminasi bakteri. Kemudian, setiap air baru sebaiknya ditambahkan cairan khusus pembersih lantai dan pemutih. Air yang dicampur dengan pemutih bisa memusnahkan bakteri dan jamur penyebab aroma tidak sedap pada lantai.

    3. Sumber Bau Bukan dari Lantai

    Jika dirasa bukan dari kain pel dan air yang digunakan, coba periksa kondisi lantai di rumah. Apakah sebelumnya ada makanan atau kotoran yang jatuh ke lantai.

    Untuk mengatasi lantai yang memang sudah berbau, bisa dengan menuangkan campuran baking soda dengan air. Lalu biarkan campuran tersebut semalaman. Bila masih tidak berhasil, kamu harus coba untuk mencari sumber baunya. Sebagai contoh, mungkin karpet di rumah kamu adalah penyebabnya, karena karpet cenderung mudah untuk menangkap bau.

    4. Tutupi dengan Pengharum Ruangan

    Bila semua penyebab di atas sudah diatasi namun lantai masih tercium bau amis, semprot pengharum ruangan ke sekitar area tersebut. Kemudian, coba pel sekali lagi dengan kondisi air dan kain pel bersih.

    Bisa juga dengan meletakkan semangkuk cairan pembersih serbaguna di area tersebut dan diamkan semalaman untuk menutupi sebagian aroma amis dari lantai.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Perlukah Lantai Dipel Setiap Hari? Ini Anjurannya


    Jakarta

    Bersih-bersih rumah dapat dilakukan dengan menyapu dan mengepel lantai. Setelah lantai disapu maka debu dan kotoran langsung terangkat seluruhnya.

    Setelah menyapu lantai biasanya dilanjutkan dengan mengepel. Namun, tidak semua orang melakukan kebiasaan ini karena ada sebagian yang hanya menyapu lantai secara rutin, sedangkan mengepel lantai dilakukan sesekali saja.

    Sebenarnya, apakah perlu mengepel lantai setiap hari? Dilansir situs Angi, ternyata ketentuan waktu untuk mengepel lantai bisa disesuaikan dengan banyak aktivitas yang dilakukan di rumah.


    Misalnya, rumah kamu kedatangan banyak tamu dan mereka sering kali bolak-balik ke dapur, kamar mandi, dan ruang tamu. Setelah para tamu pulang, tentu lantai harus dipel agar tidak lengket.

    Begitupun jika kamu seharian berada di rumah, lantai harus dipel setiap hari agar tidak lengket. Bahkan dianjurkan mengepel sebanyak dua kali dalam sehari, yakni saat pagi dan sore.

    Sedangkan untuk area dapur, mengepel lantai juga dianjurkan setelah selesai masak. Sebab, cipratan minyak, air, atau remah-remah makanan kerap jatuh ke lantai dan akhirnya bikin kotor.

    Selain itu, area ruang makan juga perlu dipel setelah makan siang dan malam. Terkadang, ada sisa-sisa makanan yang jatuh ke lantai dan tidak disadari oleh penghuni rumah. Jika dibiarkan maka bisa memancing semut, cicak, kecoak, dan tikus untuk datang.

    Lalu, untuk area di dekat pintu masuk dan ruangan yang sering menjadi tempat lalu lalang dianjurkan dipel setiap dua minggu sekali. Namun saat musim hujan, lantai sebaiknya dipel setelah hujan reda agar tidak basah dan licin.

    Ruang keluarga dan ruang tamu juga perlu dipel, terutama setelah digunakan. Soalnya, kotoran dan debu dari luar bisa terbawa masuk ke dalam sehingga lantai terasa tidak nyaman. Selain itu, bisa saja ada sisa camilan yang jatuh ke lantai sehingga wajib disapu dan dipel.

    Ini Akibat Jika Jarang Mengepel Lantai

    Jika kamu jarang mengepel lantai maka akan terasa lengket, berpasir, dan kasar saat diinjak. Apalagi kamu termasuk orang yang tidak menggunakan alas kaki selama di rumah, tentu lantai akan terasa sangat kotor.

    Di sisi lain, lantai yang kotor dan jarang dipel dapat menjadi tempat berkumpulnya serbuk sari, kotoran, dan debu yang memicu penumpukan alergen, bakteri, hingga jamur. Jika dibiarkan maka dapat mencemari rumah dan menciptakan lingkungan yang tidak higienis. Tak hanya menimbulkan bau tak sedap di rumah, tapi juga bisa mengganggu kesehatan para penghuninya.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/ilf)



    Sumber : www.detik.com

  • Alasan Rumah Sudah Dipel tapi Masih Tetap Kotor Menurut Ahli


    Jakarta

    Pernah ngalamin nggak setelah ngepel tapi rumah masih terasa kotor? Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal, salah satunya tetap menggunakan air yang kotor.

    Mengepel lantai merupakan salah satu hal yang harus dilakukan untuk menjaga kebersihan rumah. Para ahli mengungkapkan seharusnya lantai dipel sesering mungkin, setidaknya seminggu sekali.

    Walau demikian, kenapa setelah lantai dipel masih tetap kotor? Dilansir dari The Spruce, berikut ini alasannya.


    Alasan Lantai Tetap Kotor Meski Sudah Dipel

    Salah satu alasan lantai tetap kotor meski sudah dipel adalah tetap menggunakan air yang kotor untuk mengepel. Hal ini seperti memindahkan kotoran dengan kain pel saat membersihkan lantai.

    “Hal ini biasanya terjadi ketika air pel menjadi kotor dan Anda terus menggunakannya, atau Anda menggunakan terlalu banyak pembersih karena mengira hasilnya akan lebih baik,” ujar ahli kebersihan Fabuloso, Rosa Picosa, dikutip dari The Spruce, Rabu (6/8/2025).

    Sementara itu menurut quality lead cleaner di FreshSpace, Rhonda Wilson, alasan lantai tetap kotor meski sudah dipel terjadi karena lantai tidak dibiarkan kering sempurna setelah dipel. Residu dari pembersih lantai terasa lengket dan bisa menjadi magnet bagi debu, jejak kaki, serta bulu hewan peliharaan.

    “Hari berikutnya, lantai terasa seperti sama sekali tidak dibersihkan,” katanya.

    Cara Mengepel Lantai yang Benar

    Berikut ini merupakan cara mengepel lantai agar hasilnya bersih.

    Sapu Lantai Terlebih Dahulu

    Sebelum dipel, lantai harus disapu terlebih dahulu untuk menghilangkan debu dan kotoran. Hal ini supaya hasil mengepel lantai lebih efektif.

    Jangan Terlalu Banyak Pakai Pembersih Lantai

    Saat mengepel, jangan sampai pakai terlalu banyak pakai pembersih lantai. Picosa menyarankan untuk menggunakan 1/8 cup pembersih lantai yang kuat sebelum dicampur ke air.

    “Anda ingin (lantai) berkilau, bukan lengket,” kata Picosa.

    Ganti Air Jika Dibutuhkan

    Selanjutnya adalah mengganti air pel jika sudah kotor. Hal ini supaya hasil lantai yang dipel bisa sebersih mungkin.

    Pel dengan Gerakan Angka 8

    Menurut Wilson, cara ini efektif untuk membersihkan lantai dibandingkan dengan mengepel dengan gerakan lurus saja. Ia menilai, mengepel dengan gerakan angka 8 bisa menjangkau cakupan area lebih luas, bisa masuk ke sudut dengan mudah, dan tidak membuat tangan cepat lelah.

    Biarkan Lantai Mengering

    Penghuni rumah bisa membiarkan lantai mengering dengan sendirinya atau menggunakan kipas maupun membuka jendela untuk mempercepat proses tersebut.

    Itulah alasan dan cara mengepel lantai dengan benar. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Penyebab Lantai Bau Amis Meski Sudah Dipel Berkali-kali


    Jakarta

    Lantai rumah perlu dipel secara rutin agar tidak lengket dan terasa wangi. Namun terkadang muncul aroma bau amis dari lantai walau sudah dipel sampai berkali-kali.

    Jika lantai masih tercium bau amis yang bikin tidak nyaman, mungkin jadi pertanda kalau lantai sebenarnya masih kotor. Lantas, apa yang menyebabkan lantai masih bau meski sudah dipel? Simak penjelasannya dalam artikel ini.

    Penyebab Lantai Bau Amis Walau Sudah Dipel

    Dilansir situs Cleanpedia, berikut sejumlah faktor yang menyebabkan lantai tetap bau amis meski sudah dipel berkali-kali.


    1. Kain Pel Kotor

    Kain pel yang sudah kotor tentu tidak akan mampu membersihkan lantai secara optimal. Maka tak heran lantai masih tercium bau amis walau sudah dipel berulang kali.

    Untuk itu, kamu perlu mencuci kain pel secara berkala agar tetap bersih dan wangi. Caranya dengan mencuci kain pel secara rutin menggunakan detergen, lalu dijemur di bawah matahari sampai kering.

    2. Air Pel Kotor

    Meski kain pel sudah rutin dicuci, tapi percuma saja jika kamu menggunakan air pel yang kotor dan bau. Selain mengeluarkan bau tak sedap, mengepel lantai dengan air kotor justru menambah kuman dan bakteri yang dapat membahayakan penghuni rumah.

    Agar tetap bersih dan sehat, kamu bisa menggunakan air hangat untuk mengepel lantai. Tambahkan juga cairan pembersih lantai agar wangi dan kinclong.

    3. Ember Pel Sudah Kotor

    Ternyata ember pel yang sudah kotor juga bisa menyebabkan lantai bau amis. Sebab, banyak kotoran, sisa makanan, dan debu yang menggenang di bawah ember pel. Jika tidak dibersihkan secara rutin, maka kain pel justru menyerap kotoran tersebut dan akhirnya menempel di permukaan lantai.

    4. Cara Mengepel yang Salah

    Mengepel lantai secara asal-asalan juga bisa menimbulkan bau tidak sedap. Ternyata, teknik mengepel juga dipengaruhi oleh alat pel yang digunakan.

    Untuk kain pel dengan kepala serupa rumbai-rumbai tali sebaiknya menggunakan gerakkan menyerupai angka ‘8’. Sementara kain pel yang terbuat dari spons menggunakan teknik gerakan maju mundur.

    5. Pakai Cairan Pembersih yang Wangi

    Mungkin selama ini kamu mengepel tidak menggunakan cairan pembersih lantai, sehingga hanya menggunakan air biasa. Ditambah lagi kain dan ember pel yang sudah kotor, maka tak heran lantai tercium bau amis yang bikin tidak nyaman.

    Cobalah untuk mulai menggunakan cairan pembersih khusus lantai yang dijual secara umum. Pilih wangi yang sesuai dengan selera kamu, lalu gunakan secukupnya agar lantai tidak terlalu licin.

    Demikian lima penyebab lantai tercium bau amis meski sudah dipel berulang kali. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Bau Amis di Lantai Jangan Dianggap Sepele, Begini Cara Atasinya


    Jakarta

    Salah satu cara untuk membuat rumah wangi dan bersih adalah dengan rajin mengepel. Sebab, cairan yang dipakai ketika mengepel biasanya sudah dilengkapi dengan anti bakteri dan pengharum sehingga bisa memusnahkan bakteri penyebab bau.

    Namun, pada kenyataannya ditemukan lantai yang baru selesai dipel justru berbau tak sedap, amis, seperti bau telur. Kira-kira kenapa ya?

    Penyebab Lantai Bau Amis Walau Sudah Dipel

    Dilansir situs Cleanpedia, berikut beberapa penyebab lantai berbau tak sedap setelah dipel.


    1. Kain Pel Kotor

    Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengecek kebersihan kain pel. Sebab, umumnya kain pel terbuat dari kain dan mudah sekali lembap sehingga jamur mudah berkembang dan menimbulkan bau.

    Penyebab lain kain pel berbau adalah jarang dibersihkan setelah digunakan. Meskipun permukaannya cepat kering, bakteri tetap dapat hidup di kain pel karena tidak pernah dibersihkan. Alangkah baiknya, setelah kain pel digunakan, bilas hingga bersih dan tidak berbusa.

    Sebelum dipakai pun kain pel perlu dibilas di air bersih beberapa kali. Apabila warna air masih keruh, bersihkan kain pel dengan tambahan cairan pembersih seperti sabun cuci piring, cuka, atau soda kue untuk membersihkannya.

    2. Air Pel Kotor

    Saat mengepel usahakan untuk segera mengganti air apabila warnanya sudah berubah. Untuk melihat perubahan tersebut, pakai ember berwarna cerah. Biasanya di rumah yang benar-benar kotor, warna air bisa cepat berubah dalam 1-2 pemakaian. Bukan hanya kotor, air tersebut bisa menjadi tempat berkembang kuman dan bakteri yang dapat menyebabkan bau.

    3. Ember Pel Sudah Kotor

    Selain kain pel dan air, ember yang dipakai juga harus bersih. Tanda ember kotor adalah di permukaannya ditemukan pasir halus, rambut, dan kotoran lainnya yang menempel. Kemudian, ketika diisi air muncul banyak busa. Cara membersihkannya bisa dengan membilas beberapa kali dengan air bersih atau menyikat permukaan dalamnya kemudian bilas.

    4. Cara Mengepel yang Salah

    Biang kerok selanjutnya terjadi apabila penggunanya mengepel dengan asal-asalan. Cara mengepel yang benar adalah membuat gerakkan menyerupai angka ‘8’ untuk kain pel dengan kepala serupa rumbai-rumbai tali. Sementara kain pel yang terbuat dari spons menggunakan teknik gerakan maju mundur.

    5. Pakai Cairan Pembersih yang Wangi

    Mungkin selama ini kamu mengepel tidak menggunakan cairan pembersih lantai, melainkan memakai cairan pembersih asal.

    Dilansir Real Simple, cairan pembersih lantai yang bisa dipakai adalah sabun cuci piring, soda kue, cuka, hingga minyak atsiri. Sementara itu, cairan yang tidak boleh digunakan untuk mengepel lantai adalah gabungan dari pemutih dan cuka karena dapat menghasilkan gas klorin. Ada pula pemutih dan amonia (yang terdapat dalam berbagai pembersih), campuran keduanya dapat menghasilkan zat beracun bernama kloramin, serta pemutih dengan alkohol gosok yang justru memicu cairan beracun bernama kloroform.

    Cobalah untuk mulai menggunakan cairan pembersih khusus lantai yang dijual secara umum. Pilih wangi yang sesuai dengan selera, lalu gunakan secukupnya agar lantai tidak terlalu licin.

    Itulah lima penyebab lantai sering berbau amis setelah dipel. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com