Tag: meninggal dunia

  • Malaikat Maut Memandang Wajah Manusia 70 Kali Sehari, Benarkah?



    Jakarta

    Ada sebuah hadits yang menyebut bahwa Malaikat Maut memandang wajah manusia 70 kali sehari. Dikatakan, dalam aktivitasnya itu, malaikat yang juga disebut Izrail ini heran melihat tingkah manusia yang masih tertawa, sementara ajalnya sudah dekat.

    Malaikat Maut adalah malaikat yang bertugas mencabut nyawa. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah As Sajdah ayat 11,

    قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ


    Artinya: “Katakanlah, “Malaikat Maut yang diserahi (tugas) untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

    Adapun, hadits yang menyebut bahwa Malaikat Maut memandang wajah manusia 70 kali sehari termuat dalam Kitab At-Tadzkirah karya Imam Syamsuddin Al-Qurthubi. Ulama lain, seperti Imam as-Suyuthi turut meriwayatkannya dalam salah satu kitabnya.

    Hadits tersebut berbunyi:

    إن ملك الموت لينظر في وجوه العباد كل يوم سبعين نظرة، فإذا ضحك العبد الذي بعث إليه يقول: يا عجبا، بعثت إليه لأقبض روحه وهو يضحك

    Artinya: “Sesungguhnya Malaikat Maut memandang wajah para hamba setiap hari 70 kali. Ketika manusia tertawa, Malaikat Maut yang diutus itu pun berkata: Sungguh aneh dia, aku diutus untuk mencabut rohnya, sedangkan ia masih sempat tertawa.”

    Imam Syamsuddin Al-Qurthubi menjelaskan, hadits tersebut diriwayatkan Abu Hadbah Ibrahim bin Hadbah dari Anas bin Malik RA, dari Rasulullah SAW. Dalam At-Tahrir Al-Murassakh dikatakan bahwa hadits tersebut adalah maudhu’ atau palsu. Menurut Ibnu Hatim, Abu Hadbah adalah pendusta.

    Selain itu, ada pula hadits yang menyebut bahwa Malaikat Maut berdiri di pintu rumah-rumah lima kali sehari. Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ pada khabar yang masyhur dalam Kitab Al-Arba’in, dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidak satu pun rumah, melainkan Malaikat Maut berdiri di pintunya lima kali sehari. Apabila dia menemukan seseorang sudah habis jatah makannya dan berakhir ajalnya, maka dia menimpakan sakaratul maut kepadanya, sehingga orang itu diliputi kesusahan-kesusahan maut dan dihimpit tekanan-tekanannya. Lalu, di antara keluarganya ada yang mengurai rambutnya, memukul-mukul mukanya, menangis saking sedihnya, dan berteriak menyesali kecelakaannya.

    Maka berkatalah Malaikat Maut Alaihissalam, ‘Celaka kalian, kenapa kalian kaget, kenapa kalian gusar? Aku tidak menghilangkan rezeki seorang pun dari kamu sekalian, aku tidak memperpendek ajalnya, aku tidak datang kepadanya kecuali diperintah, dan aku tidak akan mencabut nyawanya kecuali setelah aku baca daftarnya. Tapi, aku pasti akan datang lagi kepada kalian, kemudian akan datang lagi, sampai tidak ada seorang pun dari kalian yang aku biarkan hidup.’”

    Nabi SAW bersabda, “Demi Allah Yang menggenggam jiwaku, andaikan orang-orang itu melihat di mana Malaikat Maut itu berdiri dan mendengar perkataannya, niscaya mereka tidak peduli lagi dengan keluarga mereka yang mati itu, dan niscaya mereka menangisi diri mereka sendiri.

    Sehingga, manakala mayit itu dibawa di atas keranda, nyawanya melambai-lambai di atas keranda itu seraya berseru, ‘Hari keluargaku, hai anakku, jangan sekali-kali kalian dipermainkan dunia, sebagaimana yang telah aku alami. Aku telah mengumpulkan harta dari yang halal dan tidak halal, kemudian aku tinggalkan harta itu untuk orang lain. Enak dia, dan aku yang payah. Maka berhati-hatilah, jangan sampai kalian ditimpa oleh sesuatu yang menimpaku.’”

    Imam Syamsuddin Al-Qurthubi mengatakan tidak mengenali hadits tersebut. Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Larangan Mencela Jenazah dan Ungkit Keburukannya



    Jakarta

    Mencela jenazah merupakan perkara yang dilarang dalam Islam. Termasuk, mengungkit-ungkit keburukannya semasa hidup di dunia.

    Larangan mencela jenazah dan mengungkit-ungkit keburukannya disebutkan dalam sebuah hadits yang termaktub dalam Kitab Bulughul Maram. Dari Aisyah RA, ia mengatakan, Rasulullah SAW telah bersabda,

    لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا


    Artinya: “Janganlah kamu mencela orang-orang yang telah meninggal, karena sesungguhnya mereka telah sampai pada balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan.” (HR Bukhari)

    Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dan turut dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad, dan Al-Baihaqi. Imam an-Nawawi mengatakan lebih lanjut, haram hukumnya mencela jenazah muslim yang tidak nyata kefasikannya.

    Adapun, terkait jenazah orang kafir dan umat Islam yang nyata kefasikannya terdapat perbedaan di kalangan ulama salaf dalam menghukuminya. Menurut Imam an-Nawawi, pendapat yang paling kuat dan lebih bisa dipertahankan adalah boleh menyebut keburukan-keburukan jenazah orang-orang kafir.

    Sedangkan, jenazah umat Islam yang secara nyata memperlihatkan kefasikannya atau bid’ah dan sejenisnya, maka boleh juga membicarakan keburukan-keburukannya jika memang ada kepentingan dan manfaat seperti untuk memberikan peringatan dan supaya tidak mengikuti jejaknya. Akan tetapi, jika tidak ada kepentingan dan manfaatnya, tidak diperbolehkan.

    Kebolehan mencela jenazah orang kafir ini turut dikatakan Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah. Ia berhujjah dengan firman Allah SWT dalam surah Al Maidah ayat 78, “Orang-orang kafir dari bani Israil telah dilaknat…”

    Kemudian melalui surah Hud ayat 18 yang berbunyi,

    وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ اُولٰۤىِٕكَ يُعْرَضُوْنَ عَلٰى رَبِّهِمْ وَيَقُوْلُ الْاَشْهَادُ هٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلٰى رَبِّهِمْۚ اَلَا لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ ۙ

    Artinya: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada tuhan mereka dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap tuhan mereka.” Ketahuilah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang zalim.”

    Anjuran Membicarakan Kebaikan Jenazah

    Dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan At-Tirmidzi terdapat sebuah hadits yang menyebut anjuran membicarakan kebaikan jenazah dan menyembunyikan keburukannya. Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Hendaklah kalian memperbincangkan kebaikan-kebaikan jenazah kalian dan menyembunyikan keburukan-keburukan mereka.”

    At-Tirmidzi menganggap hadits tersebut dhaif, sementara Ibnu Hibban menilainya shahih.

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Anas RA terkait orang yang memuji kebaikan jenazah dan mencelanya. Anas RA menceritakan, suatu ketika, para sahabat melintasi jenazah dan mereka memuji segala kebaikan (yang pernah) ia lakukan (selama masih hidup).

    Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW lantas bersabda, “Kamu harus (melakukan itu)”

    Kemudian mereka melewati jenazah yang lain dan meriwayatkan mencela perbuatan yang pernah dilakukan selama masih hidup. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Harus”

    Lantas Umar bertanya kepada beliau, “Apa yang engkau maksud dengan harus?”

    Rasulullah SAW menjawab,

    “Jenazah ini kalian puji atas kebaikan yang pernah ia lakukan, maka ia berhak masuk ke dalam surga. Dan jenazah ini lagi kalian cela atas keburukannya, maka ia pantas masuk ke dalam neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah SWT yang berada di muka bumi.” (HR Bukhari dalam Kitab al-Janaiz bab Thanau an-Nas aa al-Mayyiti dan Muslim dalam Kitab Al-Janaiz bab Fi man Yutsna ‘alaihi Khairan aw Syarran mi al-Mauta)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Meninggal Dunia di Madinah Menurut Sabda Nabi



    Jakarta

    Madinah al-Munawwarah adalah tempat yang disucikan Allah SWT bersama dengan Makkah al-Mukarramah. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai keutamaan meninggal dunia di Madinah.

    Kota Madinah awalnya bernama Yatsrib. Kota ini berganti nama setelah Rasulullah SAW hijrah. Hal ini turut dikisahkan dalam Sunan an-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku diperintah mengganti nama sebuah negeri yang telah mengusir banyak perkampungan. Mereka menyebut Yatsrib padahal ia adalah Madinah. Negeri itu menyisihkan orang-orang sebagaimana alat peniup besi menyisihkan kotoran besi.”


    Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW menyebut keutamaan-keutamaan Kota Madinah. Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya Madinah seperti alat peniup api yang membersihkan besi dari karat dan kotorannya, dengan memunculkan kebaikan besinya.” (HR Muslim dalam Kitab Al-Hajj)

    Rasulullah SAW juga menyebut sejumlah keutamaan Madinah termasuk bagi orang yang bertahan menghadapi kesulitan di sana. Beliau SAW bersabda,

    “Madinah adalah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui. Orang yang meninggalkan Madinah karena benci terhadapnya maka Allah akan menggantikan dengan orang yang lebih baik darinya. Orang yang terus bertahan dalam cobaan dan kesukaran yang ada di sana maka aku akan memberi syafaat kepadanya dan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.” (HR Muslim dalam Kitab Al-Hajj)

    Imam Bukhari mengeluarkan sejumlah hadits terkait keutamaan Madinah. Salah satunya dari Abu Hurairah, ia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda,

    إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَأْزِرُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْزِرُ الْحَيَّةُ إِلَى حُجْرِهَا

    Artinya: “Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah seperti ular berkumpul dalam sarangnya.” (HR Bukhari dalam Kitab al-Umrati dan Muslim dalam Kitab al-Hajj)

    Rasulullah Beri Syafaat bagi Orang yang Meninggal di Madinah

    Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Kitab Minhajul Muslim menukil sebuah hadits yang menyebut bahwa Rasulullah SAW akan menjadi saksi bagi orang yang meninggal dunia di Madinah. Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْهَدُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

    Artinya: “Barang siapa sanggup meninggal di Madinah hendaklah dia melakukannya. Sebab, aku akan menjadi saksi bagi orang yang meninggal di sana.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

    Ulama Syafi’iyah Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah-nya juga menukil sebuah hadits yang menyebut bahwa Rasulullah SAW akan menjadi saksi atau pemberi syafaat bagi orang yang meninggal dunia di Madinah.

    Seorang perempuan Tsaqif pernah berada di sisi Rasulullah SAW dan ia meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Siapa saja di antara kalian yang dapat meninggal di Madinah, maka hendaklah ia meninggal (di Madinah) karena siapa saja yang meninggal di Madinah, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.”

    Haitsami dalam Majma’ az-Zawa’id mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad hasan dan perawi shahih, kecuali guru Thabrani.

    Oleh karena itu, Umar RA meminta kepada Allah agar ia meninggal di Madinah. Ayah dari Zaid bin Salim meriwayatkan bahwa Umar RA berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di Tanah Haram Rasul-Mu SAW (Madinah).”

    Allah SWT mengabulkan doa Umar dan dia mati syahid di mihrab Masjid Nabawi ketika menjadi imam kaum muslimin pada saat salat Subuh, sebagaimana dikatakan Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Sirah Nabawiyah.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Versi Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah, Yuk Amalkan!


    Jakarta

    Husnul khatimah dimaknai sebagai akhir yang baik. Artinya, ketika seseorang wafat dalam keadaan husnul khatimah maka ia meninggal dalam kondisi yang baik.

    Menurut buku Cermin Muslim: Petikan Hikmah Bekal Pribadi Muslim susunan Dr Muhammad Irfan Helmy Lc MA, secara Islam orang yang meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah saat-saat terakhir kehidupannya diwarnai dengan amal saleh hingga ajal menjemput.

    Berkaitan dengan husnul khatimah, ada doa yang dapat diamalkan kaum muslimin agar meninggal dalam kondisi baik. Apa saja?


    4 Versi Doa Memohon Husnul Khatimah

    1. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah Versi Pertama

    Dikutip dari buku Doa-Doa Terbaik Sepanjang Masa susunan Ahmad Zacky El-Syafa, berikut doa agar husnul khatimah,

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

    Arab latin: Allahummaj’al khaira ‘umrii aakhirahu wa khaira amalii khwaatimahu wa kharra ayyamii yauma lawaaika fiih

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada penghujungnya dan sebaik-baik amalku (juga) pada penghujungnya dan sebaik-baik hari-hariku adalah dari pertemuan dengan-Mu.”

    2. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah Versi Kedua

    Doa selanjutnya diambil dari surat Ali Imran ayat 193 yang berbunyi,

    رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

    Arab latin: Rabbanā innanā sami’nā munādiyay yunādī lil-īmāni an āminụ birabbikum fa āmannā rabbanā fagfir lanā żunụbanā wa kaffir ‘annā sayyi`ātinā wa tawaffanā ma’al-abrār

    Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

    3. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah Versi Ketiga

    Selanjutnya, doa meraih kematian husnul khatimah terdapat dalam surat Al A’raf ayat 126,

    رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ ࣖ ١٢٦ …

    Arab latin: … Rabbana afrigh ‘alayna shabran wa tawaffana muslimin.

    Artinya: “… Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu)”

    4. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah

    اللَّهمَّ أحسِنْ عاقبتَنا في الأمورِ كلِّها ، وأجِرْنا من خِزيِ الدُّنيا وعذابِ الآخرةِ

    Arab latin: Allahumma ahsin ‘aaqibatana fil umuuri kullihaa wa ajirnaa min khizyid dun-yaa wa ‘adzaabil aakhirah.

    Artinya: “Ya Allah, baguskanlah akhir dari segala urusan kami dan hindarkanlah kami dari kehinaan godaan dunia dan siksa di akhirat nanti.”

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa untuk Ayah yang Sudah Meninggal, Yuk Amalkan!



    Jakarta

    Sebagai seorang anak yang berbakti, sudah sepatutnya kita mendoakan kedua orang tua ketika mereka masih hidup maupun telah tiada. Berkaitan dengan itu, ada sebuah doa untuk ayah yang sudah meninggal yang dapat dibaca oleh kaum muslimin.

    Perintah mendoakan orang tua tercantum dalam surah Al-Ahqaf ayat 15,

    وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ١٥


    Artinya: “Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

    Adapun, mengenai cara berbakti bagi orang tua yang sudah meninggal disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang berbunyi:

    “Jika orang tua yang sudah meninggal masih ada cara berbakti yang harus dilakukan seorang anak, yakni dengan mendoakan mereka untuk keselamatan dan pengampunan, memenuhi janji, membayar utang-utang mereka, dan menjalin silaturahmi dengan kerabat dan sahabatnya.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

    Menukil buku Bersahabat dengan Orang Tua susunan Nurul Asmayani, doa anak untuk orang tua menjadi hal yang sangat berharga. Dari Abu Hurairah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Sungguh seseorang dapat naik kelasnya di surga!” Seorang sahabat bertanya keheranan, “Ya Rasulullah! Dari mana saya mendapatkan tempat setinggi itu?” Lalu Rasulullah menjawab, “Dengan permohonan ampun anakmu untuk dirimu.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al Baihaqi)

    Bacaan Doa untuk Ayah yang Sudah Meninggal: Arab, Latin dan Arti

    Mengutip buku Ayah Ibu Kubangunkan Surga Untukmu: Amalan-amalan Dahsyat untuk Orangtua oleh Muhammad Abdul Hadi, berikut doa yang dapat dipanjatkan seorang anak untuk ayahnya yang sudah meninggal dunia.

    1. Doa untuk Ayah yang Sudah Meninggal

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى آبَاءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ عَلَيْنَا

    Arab latin: Allāhummaghfir lil muslimīna wal muslimāt, wal mukminīna wal mukmināt, al-ahyā’i minhum wal amwāt, min masyāriqil ardhi ilā maghāribihā, barrihā wa bahrihā, khushūshan ilā ābā’inā, wa ummahātinā, wa ajdādinā, wa jaddārinā, wa asātidzatinā, wa mu’allimīnā, wa li man ahsana ilainā, wa li ashhābil huquqi ‘alaynā.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah mukminin, mukminat, muslimin, muslimat, yang masih hidup, yang telah wafat, yang tersebar dari timur hingga barat, di darat dan di laut, khususnya bapak, ibu, kakek, nenek, ustadz, guru, mereka yang telah berbuat baik terhadap kami, dan mereka yang masih memiliki hak terhadap kami.”

    Setelahnya, bisa membaca doa berikut:

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ. اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ وَالشَّفَاعَةَ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِ لَاالَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ.

    Arab latin: Allāhummaghfir lahum, warhamhum, wa ‘āfihim, wa’fu ‘anhum. Allāhumma anzilir rahmata, wal maghfirata, was syafā’ata ‘alā ahlil qubūri min ahli lā ilāha illallāhu Muhammadun rasūlullāh.

    Artinya: “Ya Allah, berikanlah ampunan, kasih sayang, afiat, dan maaf untuk mereka. Ya Allah, turunkanlah rahmat, ampunan, syafa’at bagi ahli kubur penganut dua kalimat syahadat.”

    Terakhir untuk menutup doa untuk ayah yang sudah meninggal, selanjutnya dapat membaca doa sapu jagat, sholawat nabi dan membaca surah al-Fatihah.

    رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سًبْحَانَ رَبَّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. اَلْفَاتِحَةْ …

    Arab latin: Rabbanā ātina fid duniā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūna, wa salāmun ‘alal mursalīna, wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin, wa ‘alā ālihī, wa shahbihī, wa sallama, wal hamdulillāhi rabbil ‘alamīn. Al-Fatihah.

    Artinya: “Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungi kami dari siksa api neraka. Maha suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan, dari segala yang mereka gambarkan. Semoga kesejahteraan melimpah untuk para rasul. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. (Lalu bacalah Surat Al-Fatihah).”

    Doa-doa tersebut alangkah baiknya jika dibaca setelah selesai menjalankan salat fardhu. Sebab doa setelah salat fardhu termasuk salah satu doa yang mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

    رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

    Arab latin: Rabbigh firlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shaghiiraa

    Artinya: “Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”

    Demikian doa untuk ayah yang sudah meninggal. Jangan lupa dipanjatkan ya!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Surat untuk Orang Meninggal Selain Yasin


    Jakarta

    Surat untuk orang meninggal selain Yasin ada banyak macamnya. Mulai dari Al-Fatihah hingga Al-Ahzab bisa digunakan untuk mentahlilkan seseorang.

    Diambil dari buku Ayah Ibu Kubangunkan Surga Untukmu: Amalan-Amalan Dahsyat untuk Orangtua yang Sudah Meninggal karya Muhammad Abdul Hadi, memulai sebuah tahlil untuk orang yang sudah meninggal bisa dengan membaca pengantar Al-Fatihah atau tawassul.

    إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ


    Kemudian, hendaknya melanjutkan dengan membaca surat-surat yang lainnya. Surat untuk orang meninggal selain Yasin adalah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, Al-Baqarah, Hud, dan Al-Ahzab. Berikut bacaannya.

    1. Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

    Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm(i).

    Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

    Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn(a).

    Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan) semesta alam

    الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ

    Ar-raḥmānir-raḥīm(i).

    Artinya: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

    مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

    Māliki yaumid-dīn(i).

    Artinya: Pemilik hari Pembalasan)

    اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

    Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn(u),

    Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

    اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

    Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm(a).

    Artinya: Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,)

    صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ

    Ṣirāṭal-lażīna an’amta ‘alaihim, gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn(a).

    Artinya: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

    2. Al-Ikhlas

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

    Qul huwallāhu aḥad(un).

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

    اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

    Allāhuṣ-ṣamad(u).

    Artinya: Allah tempat meminta segala sesuatu.

    لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

    Lam yalid wa lam yūlad.

    Artinya: Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

    وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ

    Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad(un).

    Artinya: serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    3. Al-Falaq

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ

    Qul a’ūżu birabbil-falaq(i).

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)

    مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ

    Min syarri mā khalaq(a).

    Artinya: dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

    وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ

    Wa min syarri gāsiqin iżā waqab(a).

    Artinya: dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

    وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ

    Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad(i).

    Artinya: dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

    وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ

    Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad(a).

    Artinya: dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

    4. An-Nas

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

    Qul a’ūżu birabbin-nās(i).

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

    مَلِكِ النَّاسِۙ

    Malikin-nās(i).

    Artinya: raja manusia,

    اِلٰهِ النَّاسِۙ

    Ilāhin-nās(i).

    Artinya: sembahan manusia

    مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

    Min syarril-waswāsil-khannās(i).

    Artinya: dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

    الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

    Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās(i).

    Artinya: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

    مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ

    Minal jinnati wan-nās(i).

    Artinya: dari (golongan) jin dan manusia.”

    5. Al-Baqarah Ayat 255 (Ayat Kursi)

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

    Allāhu lā ilāha illā huw(a), al-ḥayyul-qayyūm(u), lā ta’khużuhū sinatuw wa lā naum(un), lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), man żal-lażī yasyfa’u ‘indahū illā bi’iżnih(ī), ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bisyai’im min ‘ilmihī illā bimā syā'(a), wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ(a), wa lā ya’ūduhū ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm(u).

    Artinya: Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

    6. Hud Ayat 7

    وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ وَّكَانَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗوَلَىِٕنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَٓا اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

    Wa huwal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmiw wa kāna ‘arsyuhū ‘alal-mā’i liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā(n), wa la’in qulta innakum mab’ūṡūna mim ba’dil-mauti layaqūlannal-lażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn(un).

    Artinya: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa serta (sebelum itu) ʻArasy-Nya di atas air. (Penciptaan itu dilakukan) untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) berkata, “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang-orang kafir akan berkata, “Ini (Al-Qur’an) tidak lain kecuali sihir yang nyata.”

    7. Al-Ahzab Ayat 33

    وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

    Wa qarna fī buyūtikunna wa lā tabarrajna tabarrujal-jāhiliyyatil-ūlā wa aqimnaṣ-ṣalāta wa ātīnaz-zakāta wa aṭi’nallāha wa rasūlah(ū), innamā yurīdullāhu liyużhiba ‘ankumur-rijsa ahlal-baiti wa yuṭahhirakum taṭhīrā(n).

    Artinya: Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

    Bacaan surat untuk orang meninggal selain Yasin tersebut juga diambil dari buku Majmu’ Syarif yang disusun oleh Tim Turos Pustaka. detikers juga bisa membaca surat tersebut melalui Al-Qur’an digital detikHikmah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Sholat Jenazah, Ini Penjelasannya


    Jakarta

    Sholat jenazah dikerjakan sebagai bentuk doa bagi orang yang sudah meninggal. Menurut ijma’ ulama, hukum pengerjaannya ialah fardhu kifayah.

    Menukil buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2 oleh Prof Wahbah Az-Zuhaili, maksud dari fardhu kifayah ialah kewajiban mengamalkannya menjadi gugur setelah sebagian muslim mengerjakannya.

    Muhamad Bagir melalui buku Fiqih Praktis-nya menyebutkan bahwa sholat jenazah boleh dikerjakan di setiap waktu, meski waktu terlarang sholat sekali pun. Namun, jika tidak ada alasan yang mendesak, maka sepatutnya untuk melaksanakan pada waktu diperbolehkannya sholat.


    Bahkan, dalam sejumlah hadits juga dijelaskan terkait sholat jenazah. Berikut deretan haditsnya,

    Hadits tentang Sholat Jenazah

    Mengutip buku Fiqih Lengkap Mengurus Jenazah karya M Nashiruddin al-Albani berikut sejumlah hadits yang membahas tentang sholat jenazah,

    1. Pahala Bagi yang Menyolatkan Jenazah

    مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

    Artinya: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR Bukhari)

    2. Anjuran Salat Jenazah

    مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ

    Artinya: “Tidaklah seorang muslim mati lalu disholatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan doa mereka akan dikabulkan.” (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

    3. Sholat Jenazah Dapat Memberi Syafaat

    مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّى عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوا فِيهِ

    Artinya: “Tidaklah seorang mayit disholatkan (dengan sholat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (doa mereka) akan diperkenankan.” (HR Muslim)

    4. Pahala Sholat Jenazah Seraya Mengiringinya

    « مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ». قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ ».

    Artinya: “Barangsiapa sholat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qirath. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qirath.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qirath?” “Ukuran paling kecil dari dua qirath adalah semisal gunung Uhud,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR Muslim)

    5. Sholat Jenazah Memiliki Empat Kali Takbir

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى لِلنَّاسِ النَّجَاشِيَ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّ وَكَبَّرَ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ

    Artinya: “Rasulullah SAW mengabarkan kematian Najasyi (gelar bagi raja Habasyah) kepada orang-orang pada hari kematiannya, lalu beliau pergi bersama mereka menuju tempat sholat untuk mensholatkannya, dan beliau bertakbir empat kali.” (HR Muslim)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Doa agar Husnul Khatimah yang Bisa Diamalkan


    Jakarta

    Meninggal dalam keadaan husnul khatimah merupakan sebuah keberuntungan. Sebagai salah satu ikhtiar, seorang hamba bisa memanjatkan doa agar husnul khatimah.

    Merujuk pada buku Istiqomah until Husnul Khotimah karya Ririn Rahayu dan Umar Habib, husnul khatimah artinya seorang muslim tutup napas di dunia dalam keadaan iman yang penuh kepada Allah SWT. Mereka tutup usia dengan amal-amal saleh yang kelak akan menjadi penerangnya untuk menuju menghadap Ilahi.

    Terdapat beberapa doa yang bisa dibaca oleh setiap muslim jika ia menginginkan husnul khatimah. Begini doa husnul khatimah.


    Doa Husnul Khatimah: Arab, Latin, Artinya

    Merangkum buku Doa dalam Al-Quran dan Sunnah karya M. Quraish Shihab dan buku Doa-doa Menjelang Kiamat karya Ziyad Syarif, berikut bacaan doa husnul khatimah yang bisa dipanjatkan umat Islam.

    Doa Husnul Khatimah Versi Pertama

    رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

    Bacaan latin: Rabbana afrigh ‘alayna shabran wa tawaffana muslimin

    Artinya: “Tuhan kami! Tuangkanlah kesabaran (ke dalam hati kami sehingga memenuhi relung-relungnya) dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).”

    Doa Husnul Khatimah Versi Kedua

    اَنْتَ وَلِي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَّالْحِقْنِي بِالصَّلِحِينَ

    Bacaan latin: Anta waliy fi ad-dunya wa al-akhirah, tawaffani musliman wa alhiqni bi ash-shalihin

    Artinya: “Tuhan Pemeliharaku, Engkau adalah Pembelaku (yang paling dekat kepadaku) dalam kehidupan dunia ini (demikian juga) di akhirat nanti. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim (yang berserah diri dengan tulus kepada-Mu) dan ikutkanlah aku dalam kelompok orang-orang yang saleh (yakni yang selalu melakukan aktivitas yang baik dan bermanfaat).”

    Doa Husnul Khatimah Versi Ketiga

    اللهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى وَ ارْزُقْنَا مُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ النَّظْرَ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي قَبْلَ الْمَوْتِ تَوْبَةً وَعِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةً وَبَعْدَ الْمَوْتِ جَنَّةً اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُسْنَ الْخَاتِمَةِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آخِرَهُ وَ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمَهُ وَ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لِقَائِكَ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ سَلَّمَ

    Bacaan latin: Allahumma ikhtim lana bi al-husna wa urzuqna murafaqah nabiyyik Muhammad shalla Allah ‘alay-hi wa sallam wa an-nazhra ila wajhik al-karim. Allahumma urzuqni qabla al-mawt tawbah wa ‘inda al-mawt syahadah wa ba’da al-mawt jannah. Allahumma urzuqni husna al-khatimah. Allahumma ij’al khayra a’marina akhirahu wa khayra a’malina khawatimahu wa khayra ayyamina yawm liqa’ika wa shalla Allah ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alih wa shahbihi wa sallam.

    Artinya: “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan akhir yang baik, anugerahilah kami rezeki berupa keberadaan bersama Rasul-Mu Muhammad SAW serta memandang ke wajah-Mu Yang Mahamulia. Ya Allah, anugerahilah aku pengampunan sebelum wafat, dan syahadat pada saat kematian dan surga setelah kematian. Ya Allah, anugerahilah aku husnul khatimah/akhir yang baik. Ya Allah, jadikanlah perjalanan hidup kami yang terbaik adalah akhirnya, amal-amal kami yang terbaik adalah kesudahannya, dan hari terbaik kami adalah hari pertemuan dengan-Mu.”

    Doa Husnul Khatimah Versi Keempat

    رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ . رَبَّنَا وَعَاتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

    Bacaan latin: Rabbana faghfirlana dzunubana wakaffir ‘anna sayyi-atina watawaffana ma’al abraar rabbana wa-atina maa wa’adtana ‘ala rusulika wala tukhzina yaumal qiyamati innaka laka tukhliful mi’ad.

    Artinya: “Wahai Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Wahai Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa untuk Orang Meninggal dan Keutamaan yang Terkandung



    Jakarta

    Doa untuk orang meninggal adalah amalan sunnah Rasulullah SAW. Bacaan ini dipanjatkan kepada sesama muslim yang wafat, baik keluarga maupun kerabat.

    Mengutip Buku Induk Doa dan Zikir oleh Imam Nawawi yang diterjemahkan Abu Firly Bassam Taqiy, doa untuk seseorang yang meninggal unia bertujuan agar Allah SWT mempermudah jalan mereka menuju akhirat dan mendapat ampunan atas dosa-dosanya. Mereka yang bertakziah dan mendoakan saudaranya akan diganjar pahala.

    Pada dasarnya, takziah atau berbelasungkawa artinya menasihati untuk sabar dan menceritakan hal-hal yang menghibur hati orang yang ditinggal mati serta meringankan kesedihannya. Nabi SAW bersabda,


    “Barangsiapa yang berbelasungkawa kepada wanita yang ditinggal mati anaknya, kelak dia diberi pakaian burdah di dalam surga.” (Imam Tirmidzi)

    Diriwayatkan dari Abu Musa RA dalam hadits At-Tirmidzi, umat Islam dianjurkan mengucap istirja saat seseorang meninggal dunia. Kalimat istirja itu berbunyi sebagai berikut,

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

    Arab latin: Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun

    Artinya: “Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.”

    Lantas, apa doa untuk orang meninggal yang bisa dipanjatkan?

    Doa untuk Orang Meninggal

    Merujuk pada sumber yang sama, berikut sejumlah doa yang bisa dipanjatkan ketika ada seseorang yang meninggal.

    1. Doa untuk Orang Meninggal Versi Pertama

    Doa untuk orang meninggal versi pertama ini bisa dipanjatkan ketika mendengar kabar duka. Berikut bacaannya,

    إنَّا ِللهِ وإنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْن وَإِنَّا إليَ رَبِّنِا َلمُنْقَلِبُون الَلهُمَّ اكْتُبْهُ عِنْدَكَ ِفي اُلمحِسنِينِ وِاجْعَلْ ِكتابَهُ ِفي ِعلّيِّين وَاْخلُفْهُ في أَهْلِهِ في الغَابِرين وَلا تحَرِْمْنا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ

    Arab latin: Innalillahi wa inna ilahi raji’un, wa inna ila rabbina lamunqalibun, allahummaktubhu indaka fil muhsinin, waj’al kitabahu fi’illiyyin, wakhlufhu fi ahlihi fil ghabirin, wa la tahrimnaa ajrahu wala taftinna ba’dahu.

    Artinya: “Sesungguhnya kamu milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami kembali. Ya Allah, tuliskan-lah ia di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang baik. Jadikan-ah catatannya di illiyyin. Ganti-lah ia di keluarganya dari orang-orang yang meninggalkan. Jangan-lah Engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya.”

    2. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kedua

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ القُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ، أَنْتُمْ سَلَفْنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

    Arab latin: Assalaamu ‘alaikum yaa ahlal qubuur yaghfirullaahu lanaa wa lakum antum salafnaa wa nahnu bil atsar

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai ahli kubur. Semoga Allah SWT mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami akan menyusul kalian.” (HR Tirmidzi, dari Ibnu Abbas)

    3. Doa untuk Orang Meninggal Versi Ketiga

    Apabila seseorang yang meninggal adalah wanita, maka bisa membaca doa untuk orang meninggal berikut ini,

    للَّهُمَّ اغْفِرْلَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

    Arab latin: Allaahummaghfir lahaa warhamhaa wa’aafi haa wa’fu anha wa akrim nuzula hu wa wassi’madkhola hu wahgsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa’aidz hu min’adzaabil qobri wa fitnati hi wa min’adzaabin naar.

    Artinya: “Ya Allah, ampuni-lah, rahmati-lah, bebaskan-lah, dan lepaskan-lah dia. Dan, muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah dia. Dan, muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkan-lah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran.

    Dan ganti-lah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik dari yang ditinggalkan, serta suami yang lebih baik dari yang ditinggalkan pula. Masukkanlah dia ke dalam surga dan lindungi-lah dari siksa kuburnya serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka.”

    4. Doa untuk Orang Meninggal Versi Keempat

    Jika saudara muslim yang meninggal berjenis kelamin pria, maka doa yang dapat dipanjatkan ialah sebagai berikut.

    لَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

    Arab latin: Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi’madkhola hu wahgsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa’aidz hu min’adzaabil qobri wa fitnati hi wa min’adzaabin naar.

    Artinya: “Ya Allah, ampuni-lah, rahmati-lah, bebaskan-lah dan lepaskan-lah dia. Dan muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah dia. Dan muliakan-lah tempat tinggalnya, luaskan-lah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkan-lah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran.

    Dan ganti-lah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungi-lah dari siksa kubur serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka.”

    5. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kelima

    Doa untuk orang meninggal versi kelima ini bisa dipanjatkan saat melakukan takziah. Bacaannya sebagai berikut,

    أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لمَيِّتِكَ

    Arab latin: A’dlamallahu ajraka wa ahsana aza’aka wa ghafaraka li mayyitika

    Artinya: “Semoga Allah memperbesar pahalamu, dan menjadikan baik musibahmu, dan mengampuni jenazahmu.”

    إِنَّ لِلهِ تَعَالى مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فمُرْهَا فَلْتَصْبرْ وَلْتَحْتَسِبْ

    Arab latin: Inna lillahi taala ma akhadza wa lahu ma a’tha wa kullu syai-in ‘indahu bi ajalin musamma famurha faltashbir wa tahtasib

    Artinya: “Sesungguhnya Allah maha memiliki atas apa yang dia ambil dan dia berikan. Segala sesuatu mempunyai masa-masa yang telah ditetapkan di sisi-Nya. Hendaklah kamu bersabar dan mohon pahala dari Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Keutamaan Membaca Doa untuk Orang Meninggal

    Diterangkan dalam buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 susunan Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr terbitan Griya Ilmu, Nabi Muhammad SAW berkunjung ke makam para sahabatnya. Ia mendoakan mereka, meminta rahmat, serta memohon ampunan atas dosa para sahabat.

    Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali melalui Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 2 terjemahan M Abdul Ghoffar, menyebut sebuah hadits yang menunjukkan Nabi SAW menganjurkan umat Islam mendoakan sesamanya yang sudah meninggal dunia.

    “Nabi SAW mengajarkan kepada mereka berziarah ke kubur supaya mengucapkan, ‘Semoga keselamatan senantiasa tercurah pada kalian, hai para penghuni perkampungan kaum mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon afiyah kepada Allah SWT untuk kami dan untuk kalian.” (HR Muslim)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Anak Kecil yang Meninggal Disebut Jadi Syafaat Orang Tua, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Meninggalnya seorang anak tentu menjadi duka yang mendalam bagi orang tua maupun kerabatnya. Akan tetapi, dalam hadits disebutkan bahwa anak-anak yang meninggal kelak jadi syafaat orang tua.

    Anak yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka yang belum baligh. Dikatakan, mereka kelak akan membawa orang tuanya masuk surga.

    Menukil kitab At-Tadzkirah Jilid 2 karya Imam Syamsuddin Al-Qurthubi yang diterjemahkan oleh Anshori Umar Sitanggal, menurut riwayat Muslim, dari Abu Hassan, ia berkata, “Saya pernah berkata kepada Abu Hurairah RA, ‘Sesungguhnya dua orang anakku telah meninggal dunia. Maka, apa yang bisa Anda ceritakan dari Rasulullah SAW, agar hati kami menjadi tenang atas meninggalnya keluarga kami itu?’


    ‘Ya,’ jawab Abu Hurairah RA, ‘Anak-anak kecil, mereka bagaikan jentik-jentik air dalam surga. Salah seorang dari mereka menjemput bapaknya (atau dia katakan: kedua orang tuanya). Maka, anak itu memegang pakaian ayahnya itu (atau ia katakan: tangannya) sebagaimana aku memegang pakaianmu yang bagus ini. Anak itu tidak menghentikan (atau ia berkata: tidak berhenti) sehingga Allah memasukkan dia bersama kedua orang tuanya ke dalam surga’.” (Shahih Muslim)

    Terdapat pula hadits yang diriwayatkan dari Abu Dawud Ath-Thayalisi. Ia berkata,

    “Telah menceritakan kepada kami, Syu’bah, dari Mu’awiyyah bin Qurrah, dari ayahnya, bahwasanya ada seorang Anshar yang sering datang bolak-balik kepada Rasulullah SAW bersama seorang anaknya. Pada suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu mencintainya, hai Fulan?’ Orang itu menjawab, ‘Ya.’

    Rasulullah SAW pun berkata, ‘Semoga Allah mencintaimu, sebagaimana kamu mencintainya.’

    Pada suatu ketika Rasulullah SAW merasa kehilangan orang tersebut. Beliau pun menanyakan dia. Para sahabat mengabarkan, ‘Ya Rasulullah, anaknya telah meninggal.’

    Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Tidakkah kamu rela (atau bukankah kamu ridha) bahwa tidak satu pun pintu yang kamu datangi di antara pintu-pintu surga, melainkan anakmu itu akan datang bergegas membukakannya untukmu?’

    Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah ini bagi dia sendiri, ataukah bagi kami semua?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Bahkan, untuk kamu semua’.” (Shahih Musnad Ath-Thayalisi)

    Dalam Musnad-nya, Abu Dawud Ath-Thayalisi juga mengisahkan hadits yang diceritakan dari Hisyam, dari Qatadah, dari Rasyid, dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Para wanita yang (mati pada saat) melahirkan, pada hari kiamat akan ditarik anaknya dengan tali pusatnya menuju ke surga.” (Musnad Ath-Thayalisi)

    Anak-anak yang meninggal mendahului orang tuanya kelak membawa syafaat bagi ayahnya untuk masuk dalam surga. Hal ini dikatakan dalam sebuah hadits yang terdapat dalam buku Adab Kehidupan Berumah Tangga Sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah karya Syaikh Khalid Abd Ar-Rahman, Rasulullah SAW bersabda,

    “Dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian semua ke dalam surga.’ Mereka berkata, ‘Sampai ayah-ayah kami memasukinya.’ Maka dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian semua dan ayah-ayah kalian semua’.” (HR An-Nasa’i)

    Dikisahkan pula dalam Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah RA, seorang wanita berkata kepada Rasulullah SAW, “Aku telah memakamkan tiga orang anak.”

    Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau telah memelihara diri dengan benteng yang sangat kuat dari neraka.”

    Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggal sedangkan ia memiliki tiga orang anak yang meninggal sebelum baligh, maka pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga karena keutamaan rahmat dari-Nya untuk dirinya.”

    Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, dan juga dua anak?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Dan dua anak.” (HR Al-Bukhari dan Ahmad)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com