Tag: metabolisme

  • 5 Tips Mengatur Suhu AC agar Tidur Nyenyak dan Tidak Kedinginan


    Jakarta

    Cuaca panas bahkan saat malam hari menjadi alasan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) digunakan selama tidur. Dengan begitu, suasana nyaman dapat diperoleh dan tidur malam bisa nyenyak.

    Namun, tak sedikit orang terbangun di tengah malam karena suhu AC yang dinyalakan terlalu dingin. Kalau detikers mengalami hal ini, kamu bisa simak cara mengatur suhu AC agar tidak kedinginan saat tidur di bawah ini.

    Cara Mengatur Suhu AC saat Tidur

    Dilansir Mitsubishi Electric, berikut beberapa tips menyetel suhu AC agar tidur malam nyenyak, nyaman, dan tidak kedinginan:


    1. Tutup Rapat Pintu dan Jendela Ruangan

    Sebelum menyalakan AC, pastikan semua jendela dan pintu kamar tidur tertutup rapat. Hal ini agar suhu AC yang dipilih bisa segera mendinginkan ruangan. Energi AC tidak terbuang percuma, karena digunakan semaksimal mungkin agar ruangan lebih nyaman.

    2. Nyalakan AC pada Suhu Rendah

    Saat menyalakan AC, jangan langsung pilih suhu rendah. Menyetelnya langsung ke temperatur rendah tidak mendinginkan kamar lebih cepat. Justru AC berisiko buang-buang energi, hingga mengakibatkan tagihan listrik naik.

    Detikers sebaiknya memilih suhu ruangan lebih dulu di kisaran 25 hingga 28 derajat Celcius. Setelah ruangan terasa nyaman, detikers bisa perlahan menurunkan suhu AC menjadi lebih rendah dan dingin.

    3. Setel Suhu Secara Bertahap

    Setelah kamar dan tubuh terasa cukup sejuk, barulah suhunya dapat diatur sesuai keinginan. Turunkan suhu kembali agar mencapai suasana kamar nyaman untuk tidur. Namun jika terbiasa tidak terlalu dingin, setel suhu AC tinggi agar tidak kedinginan saat tidur.

    4. Naikkan Suhu AC Sebelum Tidur Terlelap

    Ketika tidur, tubuh biasanya akan menjadi lebih dingin. Meski sudah menyetel suhu AC yang nyaman, detikers dapat menaikkan suhu beberapa derajat saat benar-benar mengantuk atau sebelum lelap tidur. Hal ini agar mencegah terbangun di tengah malam karena kedinginan.

    5. Atur Mode pada Remot AC

    Pengaturan AC umumnya dilengkapi dengan beberapa mode dan fitur yang menunjang penggunanya seperti mode tidur. AC akan mendeteksi temperatur kamar dan menyesuaikan suhu yang cocok saat kamu tertidur.

    Selain itu, ada pula fitur timer untuk agar AC mati secara otomatis setelah beberapa waktu dinyalakan. Dengan begitu, detikers tidak perlu bangun di malam hari untuk mematikan AC.

    Suhu AC yang Ideal agar Tidur Nyenyak

    AC penting diatur pada suhu ideal agar bisa nyenyak tidur dan tidak terus terbangun di tengah malam karena kedinginan. Akan tetapi, berapa suhu AC ideal untuk tidur?

    Dilansir Medical News Today, suhu ideal AC agar tidur nyenyak yaitu antara 15,6-19,4 derajat celcius. Sementara menurut pakar tidur dari Universitas Kansai, Jepang, suhu AC terbaik untuk mendorong tidur berkualitas antara 25-28 derajat celcius.

    Tubuh membutuhkan lingkungan yang lebih sejuk di malam hari dibandingkan pada siang karena laju metabolisme menurun sekitar 30 persen saat tidur. Sehingga udara kamar yang sejuk bisa didapat dengan memasang suhu AC lebih rendah.

    Namun, preferensi setiap orang berbeda-beda. Maka dari itu, kamu dapat menyetel suhu AC yang sesuai dengan ketahanan tubuh agar tidak terlalu kedinginan maupun kepanasan saat tidur. Nah, itu tadi cara mengatur suhu AC agar bisa tidur nyenyak.

    (azn/row)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Cara Simpel Meningkatkan Metabolisme Tubuh agar Cepat Kurus

    Jakarta

    Metabolisme adalah salah satu aspek penting dalam proses penurunan berat badan. Sebab, semakin cepat metabolisme tubuh maka semakin banyak pula kalori yang dibakar. Jika pembakaran kalori berjalan dengan baik, tentu proses penurunan berat badan berjalan lebih optimal.

    Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan metabolisme? Dikutip dari Cleveland Clinic, metabolisme adalah proses pembakaran kalori dari makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh untuk menghasilkan energi.

    Metabolisme dapat dipengaruhi sejumlah faktor, seperti usia, jenis kelamin, massa otot, berat badan, hingga tingkat aktivitas fisik. Selain itu, sejumlah kebiasaan simpel yang kita lakukan sehari-hari juga dapat memengaruhi metabolisme dan proses pembakaran kalori dalam tubuh.


    Dikutip dari berbagai sumber, berikut sederet kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan untuk meningkatkan metabolisme agar cepat kurus.

    1. Konsumsi Banyak Protein

    Mengonsumsi makanan tertentu dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Sebab, setiap makanan memiliki thermic effect of food (TEF) atau efek termis makanan yang berbeda.

    TEF adalah indikator yang mengacu pada jumlah kalori yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna, menyerap, dan memproses kandungan gizi dalam makanan. Di antara seluruh nutrisi, protein memiliki efek termal paling besar, yakni 20-30 persen. Artinya, dari setiap 100 kalori yang dikonsumsi, 20-30 kalori akan digunakan untuk memproses protein tersebut.

    Karenanya, memperbanyak asupan protein dapat meningkatkan metabolisme dan pembakaran kalori. Selain itu, protein juga mampu mencegah penurunan massa otot yang sering terjadi akibat diet.

    2. Tidur yang Cukup

    Banyak orang yang menyepelekan manfaat tidur yang cukup dan berkualitas. Padahal, tidur malam yang nyenyak merupakan faktor penting dalam proses penurunan berat badan.

    Kurang tidur dapat memengaruhi kadar ghrelin, yakni hormon yang mengatur rasa lapar dan nafsu makan. Akibatnya, orang yang kurang tidur cenderung selalu merasa lapar dan sulit menurunkan berat badan.

    Sebuah studi yang dilakukan pada 2019 juga menemukan orang yang kurang tidur seslama empat malam atau lebih dapat mengalami penurunan metabolisme.

    3. Minum Kopi

    Kopi memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan, dan salah satunya adalah mendukung proses metabolisme tubuh.

    Penelitian menunjukkan kafein dalam kopi dapat memicu tubuh untuk melepaskan epinefrin, yakni hormon yang mengatur cara tubuh dalam memproses lemak.

    Namun, efek ini dapat bervariasi pada masing-masing orang. Contohnya, sebuah studi menunjukkan kafein lebih efektif meningkatkan pembakaran lemak selama berolahraga pada individu dengan gaya hidup kurang aktif (sedentary) dibandingkan atlet terlatih.

    4. Sering Berdiri dan Jalan Kaki

    Kebanyakan duduk dapat berdampak negatif pada kesehatan. Sebab, selama duduk tubuh akan membakar lebih sedikit kalori sehingga menyebabkan kenaikan berat badan.

    Sebuah ulasan yang diterbitkan pada 2018 mengungkapkan berdiri atau berjalan kaki saat bekerja dapat membantu menurunkan berat badan, lemak tubuh, lingkar pinggang, tekanan darah sistolik dan diastolik, trigliserida puasa, kolesterol total, dan insulin.

    Jika sering duduk saat bekerja, cobalah untuk sesekali berdiri dan berjalan kaki untuk mengimbangi waktu yang dihabiskan saat duduk. Hal ini dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan pengaturan kadar gula darah, yang tentunya berkontribusi terhadap penurunan berat badan.

    (ath/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • Katy Perry Bikin Pangling usai Turun 9 Kg, Sesimpel Ini Menu Dietnya

    Jakarta

    Penyanyi Katy Perry membuat penggemarnya terpukau dengan penampilan baru. Wanita 39 tahun itu terlihat lebih bugar setelah sukses memangkas berat badan hingga 9 kg dalam beberapa bulan.

    Lewat unggahan Instagram pribadi, Katy mengungkapkan selama diet mengkonsumsi makan makanan pokok untuk sarapan, salah satunya telur rebus.

    “Saya makan banyak telur rebus karena itu sumber protein yang bagus,” beber Katy yang dikutip dari Mirror UK.


    Selain itu, ia mengklaim tengah meniru tips kebugaran dari pasangannya, Orlando Bloom. Katy mulai beralih ke pilihan makanan ‘bersih’ atau clean eating, seperti ayam, ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

    Pada bulan Januari, ia juga mengatakan mulai mengkonsumsi cuka sari apel, banyak air, dan jus seledri untuk kesehatannya.

    “Itulah cara terbaik untuk memulai, yaitu minum air. Saya tahu ini klise, tetapi saya pikir banyak dari kita langsung minum kopi tanpa minum segelas air lebih dulu,” bebernya.

    Bagaimana pendapat para ahli diet?

    Seorang ahli gizi di UK Care Guide, Helen Bell, mengatakan jika ingin menurunkan berat badan harus benar-benar menemukan makanan atau camilan yang tepat. Mengacu pada menu sarapan Katy, ia mengatakan telur dapat membantu meningkatkan rasa kenyang yang lebih lama.

    “Menurut pengalaman saya, mengonsumsi telur sebagai camilan sebenarnya cukup bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Telur mengandung banyak protein, yang membantu meningkatkan rasa kenyang dan membuat Anda merasa lebih kenyang lebih lama,” jelas Helen.

    “Ini dapat mengurangi asupan kalori secara keseluruhan sepanjang hari. Namun, penting untuk memperhatikan ukuran porsi dan menyiapkannya dengan cara yang sehat, seperti merebus atau merebusnya, untuk menghindari penambahan lemak yang tidak perlu,” lanjut dia.

    Menurut Helen, menu ‘makanan bersih’ atau clean eating juga sangat bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Penelitian terkini dari Cleveland Clinic yang berpusat di AS menemukan bahwa mengonsumsi daging olahan merupakan salah satu pendorong utama kanker kolorektal pada usia muda.

    “Makanan-makanan ini biasanya lebih rendah kalori dan lebih tinggi nutrisi penting dibandingkan dengan makanan olahan. Makanan-makanan ini menyediakan serat, yang membantu pencernaan dan membantu mempertahankan rasa kenyang,” terang dia.

    “Menurut pengalaman saya, klien yang beralih ke pola makan yang kaya akan makanan ini sering kali merasa lebih mudah mengelola berat badan, karena mereka mengonsumsi lebih banyak kalori padat nutrisi yang mendukung kesehatan dan metabolisme secara keseluruhan,” tambahnya.

    Meski begitu, Helen menekankan bahwa metode yang dijalani Katy Perry dapat memberikan hasil yang beragam. Ini terutama mencakup minum cuka sari apel dan jus seledri sebagai bagian dari menu harian.

    Menurutnya, cuka sari apel dapat membuat pencernaan lebih lancar dan membantu mengatur kadar gula darah, yang berpotensi membantu penurunan berat badan. Jus seledri juga rendah kalori dan dapat menghidrasi, tetapi tidak memberikan nutrisi yang signifikan dibandingkan dengan sayuran utuh.

    “Aspek psikologis memulai hari dengan minuman ‘detoks’ terkadang dapat mendorong individu untuk membuat pilihan yang lebih sehat sepanjang hari. Namun, tidak ada minuman ajaib untuk menurunkan berat badan, bagi saya, pola makan dan gaya hidup secara keseluruhanlah yang membuat perbedaan,” pungkasnya.

    (sao/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • 8 Penyebab Berat Badan Nggak Turun-turun Meski Sudah Diet dan Olahraga

    Jakarta

    Sudah bukan rahasia lagi kalau diet dan olahraga menjadi ‘jurus jitu’ untuk menurunkan berat badan. Namun terkadang, berat badan tidak berkurang meski sudah melakukan diet ketat dan olahraga rutin.

    Hal ini bisa disebabkan sejumlah faktor, seperti pola makan yang dijalani, jenis makanan yang dikonsumsi, hingga cara berolahraga. Bahkan, sesuatu yang terkesan sepele juga dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap proses penurunan berat badan.

    Dikutip dari Health, berikut sederet faktor yang bisa menyebabkan berat badan tidak turun meski sudah diet dan berolahraga.


    1. Kebanyakan Latihan Kardio

    Kardio tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tapi juga dapat menjaga kesehatan jantung, meningkatkan kualitas tidur, dan mengurangi stres.

    Namun, jika melakukan terlalu banyak kardio dan tidak cukup makan justru dapat menurunkan laju metabolisme karena tubuh merasa perlu menyimpan energi. Akibatnya, pembakaran lemak pun ikut menurun.

    2. Tidak Angkat Beban

    Sebagian orang mengira kardio dan diet saja sudah cukup untuk menurunkan berat badan. Namun, menambahkan latihan kekuatan, seperti angkat beban, sebenarnya dapat mempercepat penurunan berat badan.

    Angkat beban dapat membentuk otot. Semakin banyak otot yang dimiliki, semakin banyak pula kalori yang dibakar tubuh untuk mempertahankan otot-otot tersebut.

    3. Duduk Terlalu Lama

    Duduk dalam waktu lama bisa menjadi salah satu penyebab berat badan susah turun. Studi menunjukkan setiap dua jam duduk dapat meningkatkan risiko obesitas sebesar 5 persen.

    Para ahli menyarankan orang dewasa agar setidaknya melakukan olahraga intensitas sedang 300 menit per minggu, atau olahraga intensitas tinggi 150 menit per minggu.

    4. Tidak Mengubah Pola Makan

    Olahraga saja tidak cukup untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal. Pola makan sehat dan seimbang juga memainkan peranan yang sangat penting dalam menurunkan berat badan.

    Usahakan untuk menjalani diet seimbang yang terdiri dari buah-buahan, protein, dan kacang-kacangan. Selain itu, hindari pula makanan atau minuman yang mengandung gula, garam, lemak jenuh, dan lemak trans yang berlebihan.

    5. Membatasi Karbohidrat dan Lemak

    Beberapa orang mengira membatasi asupan nutrisi makro, seperti karbohidrat dan lemak, dan mempercepat penurunan berat badan. Padahal, asupan tersebut merupakan sumber energi yang sangat dibutuhkan tubuh.

    Alih-alih membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak, cobalah untuk mengganti dengan sumber yang lebih sehat. Mengonsumsi karbohidrat kompleks (ubi jalar, gandum, quinoa) dan lemak sehat (alpukat, biji-bijian, ikan berlemak) dapat lebih bermanfaat untuk mendukung penurunan berat badan.

    6. Kurang Minum

    Air memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, termasuk dalam mengelola berat badan. Karenanya, pastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi, baik saat berolahraga ataupun tidak.

    7. Kurang Tidur

    Orang dewasa rata-rata membutuhkan tidur tujuh sampai sembilan jam setiap malam. Tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup dan konsisten dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, termasuk peningkatan berat badan.

    Penelitian juga menunjukkan kurang tidur dapat meningkatkan hormon ghrelin. Ghrelin merupakan hormon yang mengatur rasa lapar. Akibatnya, orang yang kurang tidur rentan makan berlebihan dan mengalami kenaikan berat badan.

    8. Sering Stres

    Stres yang berlebihan juga dapat menghambat penurunan berat badan. Stres dapat merangsang pelepasan hormon kortisol dalam tubuh. Kortisol yang terlalu tinggi dapat menimbulkan efek negatif, seperti menghambat pemangkasan lemak tubuh.

    Tubuh juga dapat memproduksi kortisol berlebih jika tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan berkualitas.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • 6 Cara Simpel Tingkatkan Metabolisme Biar Cepat Kurus, Termasuk Sering Berdiri

    Jakarta

    Metabolisme memainkan peran yang sangat penting dalam penurunan berat badan. Laju metabolisme yang tinggi dapat membakar kalori lebih cepat dan banyak, sehingga mencegah kalori disimpan sebagai lemak dalam tubuh.

    Sebaliknya, metabolisme yang lambat membuat tubuh membakar lebih sedikit kalori. Akibatnya, kelebihan kalori disimpan dalam bentuk lemak dan menyebabkan kenaikan berat badan.

    Maka dari itu, seseorang yang ingin menurunkan berat badan perlu meningkatkan laju metabolismenya untuk membakar kalori dan mencegah penumpukan lemak.


    Dikutip dari Healthline, berikut cara meningkatkan metabolisme tubuh agar cepat kurus.

    1.⁠ ⁠Konsumsi Makanan Tinggi Protein

    Saat makan, metabolisme tubuh akan meningkat selama beberapa jam. Ini disebut juga sebagai efek termal makanan (thermic effect of food), yaitu kondisi ketika tubuh membakar kalori ekstra menjadi energi untuk memproses makanan yang dikonsumsi.

    Dibandingkan karbohidrat dan lemak, protein dapat memicu peningkatan metabolisme lebih besar. Protein meningkatkan laju metabolisme 20-30 persen. Sementara, karbohidrat meningkatkan laju metabolisme 5-10 persen, dan lemak 0-3 persen.

    Mengonsumsi lebih banyak protein juga dapat mencegah kehilangan massa otot yang kerap terjadi saat sedang diet.

    2.⁠ ⁠Jajal HIIT

    HIIT atau High-intensity interval training belakangan semakin sering digandrungi oleh mereka yang ingin menurunkan berat badan. HIIT biasanya menggabungkan gerakan dari beberapa olahraga, seperti kardio, angkat beban, push up, burpee, dan lain sebagainya.

    Karena HIIT melibatkan gerakan yang cepat dan intens, olahraga ini mampu mendongkrak laju metabolisme. Saat beristirahat, sel otot akan membakar energi, yang kemudian membantu mengurangi lemak dan membentuk otot.

    3.⁠ ⁠Lakukan Angkat Beban

    Otot tubuh lebih dari sekadar estetika saja. Faktanya, otot-otot tersebut dapat membantu meningkatkan metabolisme dan pembakaran lemak.

    Tubuh perlu membakar energi untuk mempertahankan massa otot. Semakin banyak otot yang dimiliki, tentu semakin banyak pula kalori dan energi yang dibakar untuk menjaga massa otot tersebut, sehingga mencegah terjadinya penumpukan lemak di dalam tubuh.

    Bahkan, latihan kekuatan dapat memicu metabolisme dan pembakaran kalori meski tubuh sedang beristirahat.

    4.⁠ ⁠Tidur yang Cukup

    Kurang tidur dikaitkan dengan peningkatan berat badan. Pasalnya, kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar (ghrelin) dan kenyang (leptin).

    Hal ini membuat seseorang yang kurang tidur cenderung mudah lapar dan makan berlebihan, yang kemudian meningkatkan risiko kenaikan berat badan.

    Studi pada 2019 juga menunjukkan kurang tidur dapat memperlambat metabolisme lemak dalam tubuh.

    5.⁠ ⁠Minum Kopi

    Penelitian menunjukkan kafein dapat memicu tubuh melepaskan neurotransmiter, seperti epinefrin, yang membantu tubuh memproses lemak.

    Namun, efek ini bisa bervariasi berdasarkan beberapa faktor. Misalnya, salah satu studi menemukan kafein lebih aktif meeningkatkan pembakaran lemak selama berolahraga pada individu dengan gaya hidup kurang aktif (sedentary) dibandingkan atlet terlatih.

    6.⁠ ⁠Sering-sering Berdiri

    Duduk dalam jangka waktu yang lama membuat tubuh membakar lebih sedikit kalori, sehingga menyebabkan penambahan berat badan.

    Sebuah tinjauan pada 2018 menemukan berdiri dapat menurunkan risiko kardiometabolik, berat badan, lemak tubuh, lingkar pinggang, tekanan darah sistolik dan diastolik, trigliserida, dan kolesterol total.

    Lebih lanjut, berjalan kaki dapat menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan resistensi insulin.

    Cobalah untuk berdiri dan berjalan kaki di sela-sela pekerjaan guna mengurangi waktu yang dihabiskan untuk duduk.

    (ath/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Terungkap! Sel Lemak Punya ‘Memori’ yang Bikin Berat Badan Selalu Naik Lagi


    Jakarta

    Sekali menggendut, rasanya susah sekali untuk mempertahankan berat badan ideal. Baru kurus sebentar setelah diet ketat, kemasukan cokelat dubai secuil saja tiba-tiba sudah gendut lagi.

    Sebuah penelitian terbaru di jurnal Nature menjelaskan hal ini. Berat badan naik lagi setelah sempat kurus erat kaitannya dengan modifikasi kimia pada DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), atau penanda epigenetik, yang mungkin membuat sel-sel mempertahankan memori tentang status berat badan terakhirnya.

    Dikutip dari Livescience, DNA memang akan tetap sama sepanjang hayat. Namun cara tubuh membaca kode DNA bersifat dinamis, dipengaruhi oleh modifikasi epigenetik. Modifikasi tersebut mengubah fungsi sel karena cara mereka membaca DNA juga berubah.


    Dalam sebuah eksperimen, para ilmuwan mengamati sekelompok tikus yang diberi diet tinggi lemak selama beberapa waktu sebelum dikembalikan ke diet normalnya. Secara metabolik, tikus-tikus ini tidak berbeda dengan tikus lain yang tidak diberi diet tinggi lemak.

    Namun ketika diperiksa sel-sel lemaknya, tikus-tikus yang sempat gemuk tersebut ternyata masih membawa perubahan epigentik yang didapat ketika berat badannya meningkat. Untuk memastikan mekanisme serupa juga terjadi pada manusia, para ilmuwan membandingkannya dengan pasien operasi bariatrik, operasi yang biasanya dilakukan pada obesitas ekstrem.

    “Di sana, mereka menemukan pola aktivitas gen yang menunjukkan perubahan epigenetik memang terjadi dan bertahan setelah berat badan turun,” kata Laura Hinte, mahasiswa doktoral ETH Zurich, yang juga co-author dalam penelitian tersebut.

    NEXT: Menjelaskan kenapa susah kurus jika sudah pernah gemuk

    Pengamatan lebih dekat pada sel-sel lemak tikus makin memperkuat adanya ‘memori’ tentang kegemukan. Sel-sel yang diambil dari tikus dengan diet glukosa dan palmitate, yang tinggi gula, membesar lebih cepat dibanding sel-sel lemak dari tikus normal. Tikus yang sempat gemuk juga lebih mudah mengalami kenaikan berat badan saat diberi diet tinggi kalori.

    Penelitian ini memang tidak membuktikan bahwa perubahan epigenetik secara langsung berhubungan dengan ‘rebound’ atau kenaikan kembali berat badan. Namun diyakini, temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme tersebut mungkin berperan dalam interaksi kompleks yang mendorong obesitas.

    (up/up)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Rekomendasi Jam Makan Malam Buat yang Lagi Diet, Pejuang Body Goals Merapat


    Jakarta

    Waktu makan malam menjadi salah satu faktor yang sering dibahas oleh mereka yang sedang diet. Tapi sebenarnya, makan malam jam 7 atau jam 9, mana yang lebih efektif untuk menurunkan berat badan?

    Dikutip dari Times of India, pemilihan waktu makan malam memang tidak akan membantu membakar lemak tubuh, namun ini dapat membantu tubuh untuk memproses makanan, menyimpan lemak, dan mengelola rasa lapar.

    Tubuh memiliki jadwal internal yang dikenal sebagai ‘ritme sirkadian’. Jadwal ini mengatur banyak hal, mulai dari tidur, tingkat energi, hormon, metabolisme, dan pencernaan.


    Saat seseorang makan malam terlalu larut, ini sama saja mereka meminta tubuh untuk lembur, sehingga metabolisme bisa saja terganggu dan membuat berat badan justru susah turun.

    Hal ini membuat makan jam 7 malam dinilai lebih baik bagi mereka yang sedang berjuang menurunkan berat badan. Pasalnya, tubuh masih memiliki waktu yang cukup untuk mencerna makanan sebelum tidur.

    Sebuah studi yang terbit di tahun 2020 di The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menunjukkan bahwa orang yang makan malam pukul 10 malam memiliki kadar gula lebih buruk dan membakar lebih sedikit lemak, daripada mereka yang makan pukul 6 sore.

    Makan tidak terlalu larut, seperti jam 7 malam juga bisa menghindari kembung, serta menurunkan keinginan untuk makan di tengah malam. Selain itu, ini juga secara alami telah menciptakan ‘puasa’ malam yang lebih lama, sehingga bagus dalam memanfaatkan simpanan lemak.

    Lalu, apa yang terjadi jika makan terlalu larut, seperti pukul 9 malam?

    Makan terlalu malam dapat mengganggu metabolisme. Terlebih jika seseorang memilih untuk langsung tidur setelah makan. Ini berarti tidak memberikan jeda kepada tubuh untuk mencerna makanan, sehingga berpengaruh pada penambahan berat badan.

    Namun, jika terpaksa harus makan pukul 9 malam, maka pilihlah jenis makanan yang tidak terlalu ‘berat’ tapi tetap mengenyangkan. Hindari makanan berminyak atau yang manis-manis.

    Berjalan kaki sebentar setelah makan terlalu larut juga bisa membuat perbedaan pada sistem pencernaan dan kadar gula darah.

    (dpy/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Teh Hijau Vs Kopi Tanpa Gula, Lebih Ampuh Mana Turunkan BB? Ini Kata Studi

    Jakarta

    Jika ingin menurunkan berat badan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah pola makan, termasuk mengganti pilihan makanan dan minuman. Bagi yang gemar mengonsumsi teh atau kopi, ahli gizi sering merekomendasikan teh hijau dan kopi hitam sebagai alternatif yang lebih sehat.

    Keduanya dikenal dapat membantu proses penurunan berat badan sekaligus berperan sebagai katalis pembakaran lemak. Namun, di antara keduanya, mana yang lebih efektif untuk menurunkan berat badan? Dikutip dari Times of India, begini penjelasannya.

    1. Teh Hijau

    Teh ini telah lama digunakan untuk menurunkan berat badan. Sebuah studi yang dipublikasikan di British Journal of Nutrition, menemukan, konsumsi teh hijau secara rutin dapat memberikan efek positif terhadap berat badan. Dalam meta-analisis terhadap 22 uji coba acak, peneliti mencatat konsumsi teh hijau menghasilkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 1,23 kg dibandingkan dengan plasebo.


    Kandungan epigallocatechin gallate (EGCG) dalam teh hijau terbukti efektif dalam mengurangi lemak tubuh, rasio pinggang-pinggul, lingkar pinggang, serta indeks massa tubuh (IMT).

    Tak hanya itu, mereka yang sudah memulai perjalanan menurunkan berat badan, teh hijau dapat membantu mempertahankan hasil yang telah dicapai.

    Menurut studi yang dipublikasikan di Obesity Research, teh hijau terbukti mampu meningkatkan metabolisme dan oksidasi lemak selama fase pemeliharaan, sehingga mendukung kestabilan berat badan dalam jangka panjang.

    2. Kopi Tanpa Gula

    Penelitian menyatakan, tingkat metabolisme yang tinggi sebesar 3 hingga 11 persen, dapat menyebabkan menekan rasa lapar dan secara keseluruhan mengurangi asupan kalori. Sebuah studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan konsumsi empat cangkir kopi hitam atau kopi tanpa gula per hari dapat mengurangi lemak tubuh hingga sekitar 4 persen.

    Sementara itu, menurut jurnal yang dipublikasikan di Critical Reviews in Food Science and Nutrition, kopi juga berkontribusi pada peningkatan metabolisme serta penurunan IMT dan lemak tubuh.

    Kopi tanpa gula juga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Peningkatan konsumsi satu kopi tanpa gula dikaitkan dengan penurunan berat badan sekitar 0,12 kg.

    Meskipun teh hijau dan kopi hitam terbukti sangat efektif dalam menurunkan berat badan, teh hijau memiliki lebih banyak manfaat dalam hal kesehatan secara keseluruhan, khususnya antioksidan dan penurunan berat badan.

    (suc/suc)



    Sumber : health.detik.com

  • Teh Hijau Vs Kopi Tanpa Gula, Lebih Ampuh Mana Turunkan BB? Ini Kata Studi

    Jakarta

    Jika ingin menurunkan berat badan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah pola makan, termasuk mengganti pilihan makanan dan minuman. Bagi yang gemar mengonsumsi teh atau kopi, ahli gizi sering merekomendasikan teh hijau dan kopi hitam sebagai alternatif yang lebih sehat.

    Keduanya dikenal dapat membantu proses penurunan berat badan sekaligus berperan sebagai katalis pembakaran lemak. Namun, di antara keduanya, mana yang lebih efektif untuk menurunkan berat badan? Dikutip dari Times of India, begini penjelasannya.

    1. Teh Hijau

    Teh ini telah lama digunakan untuk menurunkan berat badan. Sebuah studi yang dipublikasikan di British Journal of Nutrition, menemukan, konsumsi teh hijau secara rutin dapat memberikan efek positif terhadap berat badan. Dalam meta-analisis terhadap 22 uji coba acak, peneliti mencatat konsumsi teh hijau menghasilkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 1,23 kg dibandingkan dengan plasebo.


    Kandungan epigallocatechin gallate (EGCG) dalam teh hijau terbukti efektif dalam mengurangi lemak tubuh, rasio pinggang-pinggul, lingkar pinggang, serta indeks massa tubuh (IMT).

    Tak hanya itu, mereka yang sudah memulai perjalanan menurunkan berat badan, teh hijau dapat membantu mempertahankan hasil yang telah dicapai.

    Menurut studi yang dipublikasikan di Obesity Research, teh hijau terbukti mampu meningkatkan metabolisme dan oksidasi lemak selama fase pemeliharaan, sehingga mendukung kestabilan berat badan dalam jangka panjang.

    2. Kopi Tanpa Gula

    Penelitian menyatakan, tingkat metabolisme yang tinggi sebesar 3 hingga 11 persen, dapat menyebabkan menekan rasa lapar dan secara keseluruhan mengurangi asupan kalori. Sebuah studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan konsumsi empat cangkir kopi hitam atau kopi tanpa gula per hari dapat mengurangi lemak tubuh hingga sekitar 4 persen.

    Sementara itu, menurut jurnal yang dipublikasikan di Critical Reviews in Food Science and Nutrition, kopi juga berkontribusi pada peningkatan metabolisme serta penurunan IMT dan lemak tubuh.

    Kopi tanpa gula juga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Peningkatan konsumsi satu kopi tanpa gula dikaitkan dengan penurunan berat badan sekitar 0,12 kg.

    Meskipun teh hijau dan kopi hitam terbukti sangat efektif dalam menurunkan berat badan, teh hijau memiliki lebih banyak manfaat dalam hal kesehatan secara keseluruhan, khususnya antioksidan dan penurunan berat badan.

    (suc/suc)



    Sumber : health.detik.com

  • 6 Jenis Ikan yang Cocok untuk Diet, Kaya Protein dan Rendah Lemak

    Jakarta

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang menjadi ‘sahabat’ para pejuang diet. Pasalnya, mengonsumsi daging ikan dapat mendukung program diet dan mempercepat penurunan berat badan.

    Saat diet, seseorang tetap membutuhkan asupan protein hewani. Namun, makanan berprotein seperti daging ayam atau sapi cenderung mengandung lemak tinggi, sehingga berpotensi merusak keseimbangan asupan nutrisi.

    Di sisi lain, ikan menawarkan kandungan protein hewani yang serupa, tapi dengan lemak yang lebih rendah. Kombinasi inilah yang membuat daging ikan menjadi pilihan favorit untuk menurunkan berat badan.


    Ikan juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral, khususnya asam lemak omega-3, yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    Lantas, apa saja jenis ikan yang paling cocok dikonsumsi saat sedang diet? Dikutip dari Eat This dan Eating Well, berikut daftarnya.

    1. Salmon

    Salmon adalah salah satu jenis ikan yang tinggi protein dan rendah lemak. Sekitar 100 gram daging ikan salmon mengandung 23 gram protein dan 6 gram lemak.

    Pakar nutrisi dari New York University, Lisa R Young PhD, RDN mengatakan kandungan asam lemak omega-3 pada ikan salmon dapat memberikan energi sehingga jantung, paru-paru, otak, dan sistem imun tubuh bekerja dengan efisien.

    “Ini penting bagi seseorang yang ingin menurunkan berat badan, khususnya karena asam lemak (omega-3) tersebut dapat meningkatkan metabolisme,” ujarnya dikutip dari Eat This, Selasa (23/7/2024).

    2. Tuna

    Tuna memiliki daging yang cukup tebal, sehingga menjadikannya alternatif yang cukup mengenyangkan saat sedang diet. Seperti halnya salmon, tuna juga rendah lemak, tinggi protein, dan kaya akan asam lemak omega-3.

    Ahli nutrisi sekaligus pendiri dari Savvy Stummy, Paulina Lee, MSHS, RD, LD mengungkapkan tuna juga mengandung selenium yang bermanfaat untuk kelenjar tiroid.

    “Karena kelenjar tiroid bertanggung jawab atas metabolisme, mengonsumsi makanan yang kaya akan selenium dapat membantu (menurunkan berat badan),” tuturnya.

    3. Sarden

    Sarden adalah makanan yang cukup praktis karena tersedia dalam bentuk kalengan. Young mengatakan sarden mengandung zat besi, vitamin D, dan asam lemak omega-3 yang tinggi. Ketiga nutrisi tersebut sangat dibutuhkan dalam proses menurunkan berat badan.

    Tak hanya itu, sarden juga bermanfaat untuk kesehatan tulang dan jantung.

    “Ikan ini akan membuat Anda merasa puas dan kenyang, sehingga Anda akan makan lebih sedikit,” kata Young.

    4. Kod

    Kod atau bakalau juga termasuk jenis ikan yang cocok dikonsumsi saat diet. Pasalnya, ikan kod mengandung beragam vitamin dan mineral yang dapat menunjang penurunan berat badan.

    Lee juga mengatakan ikan kod memiliki kandungan protein tinggi, serta rendah lemak dan kalori.

    “Kod juga kaya akan vitamin B yang dibutuhkan tubuh untuk mengelola stres, membangun neurotransmiter, memetabolisme nutrisi, melepaskan energi dari makan, dan masih banyak lagi,” imbuhnya.

    5. Makarel

    Ikan makarel memiliki hampir semua nutrisi yang dibutuhkan untuk menunjang penurunan berat badan. Dalam 100 gram makarel dapat mengandung 16 gram protein dan 2.000 mg asam lemak omega-3.

    Namun, berhati-hati saat memilih makarel untuk dikonsumsi. Sebab, beberapa jenis ikan makarel mengandung merkuri yang bisa menyebabkan kerusakan otak dan paru-paru.

    6. Flounder

    Flounder atau ikan gepeng juga menjadi salah satu jenis ikan yang direkomendasikan untuk diet. Young mengatakan flounder cocok diolah dengan cara dikukus, ditumis, atau dibakar.

    Selain punya rasa yang lezat, ikan flounder rendah akan lemak dan kalori.

    “Pola makan yang fokus pada konsumsi makan rendah lemak jenuh dan tinggi lemak tidak jenuh terbukti dapat membantu obesitas di area perut. Ini membuat flounder menjadi pilihan yang baik untuk menurunkan berat badan,” pungkas Young.

    (ath/kna)



    Sumber : health.detik.com