Tag Archives: microstrategy

Ini Alasan Mengapa Supply yang Terbatas Bisa Pengaruhi Harga Bitcoin


Jakarta

Bitcoin dikenal sebagai salah satu aset digital paling revolusioner dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu karakteristik uniknya adalah supply atau pasokan yang terbatas, yaitu hanya 21 juta koin yang dapat ditambang.

Berbeda dengan mata uang tradisional yang bisa dicetak atau diatur oleh bank sentral, jumlah Bitcoin yang tersedia tidak akan pernah melebihi batas tersebut. Hal ini membawa dampak signifikan terhadap harga bitcoin, dan berikut ini pembahasan yang akan mengupas mengapa supply yang terbatas bisa memengaruhi harga Bitcoin secara signifikan.

Konsep Supply dan Demand dalam Ekonomi

Untuk memahami bagaimana supply Bitcoin yang terbatas memengaruhi harganya, kita perlu melihat pada konsep dasar ekonomi, yaitu supply (penawaran) dan demand (permintaan). Ketika penawaran suatu barang terbatas sementara permintaan terhadap barang tersebut tetap bahkan meningkat, harga akan cenderung naik. Ini berlaku di pasar apapun, termasuk pasar cryptocurrency seperti Bitcoin.


Dalam kasus Bitcoin, dengan supply yang terbatas dan semakin banyak orang yang ingin memilikinya, mekanisme ini mulai berlaku. Jika permintaan terus bertambah tetapi ketersediaan Bitcoin tetap stagnan atau bahkan menurun, harga secara alami akan terdorong naik.

Bitcoin, Aset dengan Supply Terbatas

Bitcoin didesain dengan jumlah maksimum yang sudah ditentukan dari awal. Sejak pertama kali diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009, aturan utama Bitcoin adalah bahwa hanya akan ada 21 juta Bitcoin yang dapat ditambang. Saat ini, lebih dari 19 juta Bitcoin sudah beredar di pasar, dan setiap empat tahun sekali, jumlah Bitcoin yang ditambang melalui proses yang disebut halving akan semakin berkurang.

Halving adalah mekanisme pengurangan reward untuk penambang yang terjadi setiap 210.000 blok atau kira-kira setiap empat tahun. Artinya, semakin sedikit Bitcoin yang akan diterbitkan di masa depan, sehingga proses ini secara bertahap memperketat penawaran Bitcoin yang baru.

Pengaruh Halving pada Supply dan Harga

Setiap kali terjadi halving, jumlah Bitcoin baru yang bisa ditambang per blok berkurang setengahnya. Misalnya, pada awalnya, penambang menerima 50 Bitcoin per blok. Namun, setelah beberapa kali halving, reward saat ini hanya sebesar 6,25 Bitcoin per blok.

Penurunan pasokan Bitcoin yang masuk ke pasar ini menciptakan ketidakseimbangan antara supply dan demand. Sebagai contoh, ketika halving terakhir terjadi pada tahun 2020, harga Bitcoin melonjak dalam waktu beberapa bulan setelahnya. Mengapa demikian? Karena meskipun penawaran baru Bitcoin berkurang, permintaan dari investor dan pengguna tetap ada, bahkan cenderung meningkat seiring dengan adopsi yang lebih luas.

Inilah mengapa banyak analis pasar berpendapat bahwa setiap kali terjadi halving, harga Bitcoin akan mengalami kenaikan jangka panjang, meskipun mungkin tidak langsung terlihat. Seiring waktu, dengan semakin sedikit Bitcoin yang tersedia untuk ditambang, nilai Bitcoin yang sudah ada menjadi semakin berharga.

Bitcoin sebagai “Emas Digital”

Banyak orang menyebut Bitcoin sebagai “emas digital” karena karakternya yang mirip dengan emas dalam hal kelangkaan. Sama seperti emas yang terbatas di bumi, Bitcoin pun memiliki jumlah yang terbatas. Kelangkaan inilah yang menciptakan nilai bagi kedua aset tersebut.

Namun, perbedaan utama antara Bitcoin dan emas adalah bahwa supply Bitcoin sudah pasti, sementara jumlah emas yang ada di dunia mungkin akan terus bertambah seiring ditemukannya tambang-tambang baru. Ini membuat Bitcoin semakin langka seiring berjalannya waktu, sehingga memengaruhi persepsi nilai di kalangan investor.

Mengapa Investor Tertarik dengan Supply yang Terbatas?

Investasi pada aset yang langka atau memiliki keterbatasan supply biasanya lebih menarik bagi para investor. Mereka melihat potensi kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan di masa depan. Karena Bitcoin memiliki batasan supply yang jelas dan tak dapat diubah, banyak investor yakin bahwa harga Bitcoin akan terus naik seiring dengan meningkatnya permintaan global, terutama ketika adopsi institusional dan pemerintah semakin meluas.

Selain itu, karena Bitcoin tidak diatur oleh entitas sentral atau pemerintah, hal ini menambah daya tariknya sebagai aset yang tidak rentan terhadap inflasi. Dengan supply yang terbatas, investor merasa lebih aman menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk Bitcoin daripada uang fiat yang dapat dengan mudah dicetak dan mengakibatkan inflasi.

Faktor-Faktor Lain yang Memengaruhi Harga Bitcoin

Tentu saja, supply bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga Bitcoin. Ada beberapa faktor lain yang juga harus dipertimbangkan:

1. Adopsi Institusional

Ketika perusahaan besar seperti Tesla, MicroStrategy, atau institusi keuangan lainnya membeli Bitcoin dalam jumlah besar, hal ini dapat meningkatkan permintaan, yang pada akhirnya mendorong harga naik.

2. Peraturan Pemerintah

Kebijakan regulasi di berbagai negara juga memiliki dampak besar terhadap harga Bitcoin. Ketika regulasi yang mendukung cryptocurrency diberlakukan, hal ini sering kali menyebabkan kenaikan harga, sebaliknya kebijakan yang membatasi dapat menurunkan harga.

3. Sentimen Pasar

Pergerakan harga Bitcoin juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Berita tentang peretasan, penipuan, atau kemajuan teknologi blockchain dapat memengaruhi harga dalam jangka pendek.

Supply Terbatas, Potensi Besar

Jadi, mengapa supply Bitcoin yang terbatas bisa memengaruhi harganya? Jawabannya terletak pada prinsip ekonomi dasar. Ketika supply terbatas dan demand terus tumbuh, harga akan naik.

Dengan hanya 21 juta Bitcoin yang pernah ada, supply terbatas ini memberikan Bitcoin karakteristik yang mirip dengan aset langka lainnya, seperti emas. Namun, dengan teknologi yang mendasarinya dan potensi untuk adopsi global yang terus meningkat, Bitcoin memiliki potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar di masa depan.

Jika Anda tertarik untuk mulai berinvestasi dalam Bitcoin atau ingin menjelajahi dunia cryptocurrency lebih dalam, platform Tokocrypto adalah tempat yang tepat untuk memulai. Tokocrypto menawarkan cara yang mudah dan aman untuk membeli, menjual, dan menyimpan Bitcoin serta berbagai altcoin lainnya. Sebagai salah satu platform cryptocurrency terkemuka di Indonesia, Tokocrypto membantu Anda memasuki dunia investasi digital dengan lebih siap.

(Content Promotion/TKO)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Cetak Rekor Lagi, Diprediksi Bisa Tembus Rp 1,5 M


Jakarta

Harga mata uang kripto, Bitcoin, tembus di atas US$ 89.000 atau Rp 1,39 miliar (kurs Rp 15.700) usai kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS). Harga Bitcoin diperkirakan terus naik hingga US$ 100.000 atau Rp 1,57 miliar.

Dikutip dari CNBC, Senin (12/11/2024), Coin Metrics melaporkan nilai kripto sempat naik hingga 12% ke posisi US$ 89.174. Bahkan belum lama ini, mencapai titik tertinggi baru di US$ 89.623.

Ether naik lebih dari 7% menjadi US$ 3.371,79 setelah kenaikan 30% dalam seminggu terakhir. Token keuangan terdesentralisasi yang terkait dengan Cardano naik 4,7%. Dogecoin terus naik, naik hampir 24%.


Dalam sesi perdagangan reguler pada Senin, Coinbase ditutup naik 19,8%, sementara MicroStrategy naik lebih dari 25,7%. Kedua saham tersebut lebih tinggi dalam perdagangan yang diperpanjang.

Kepala Keuangan dan Pasar di platform investasi Hargreaves Lansdown, Susannah Streeter, mencatat bahwa kenaikan kripto terjadi di tengah euforia pasar yang dipicu oleh kemenangan Trump minggu lalu.

“Janjinya untuk berinvestasi penuh pada kripto telah membawa Bitcoin ke rekor baru,” kata Streeter.

Selama kampanye, Trump memberikan banyak janji kepada industri kripto, termasuk menjadikan AS sebagai Ibu Kota Kripto. Ia juga bersikeras bahwa semua Bitcoin harus ditambang di negara tersebut.

Dia juga berjanji untuk melengserkan Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS Gary Gensler, yang telah melakukan pendekatan agresif terhadap kripto. Langkah ini dijanjikannya meskipun presiden tidak memiliki kewenangan untuk melakukannya.

Beberapa analis memperkirakan kripto terus meningkat. Disebut-sebut nilai Bitcoin dapat melesat hingga US$ 100.000 pada akhir tahun, menandai tonggak sejarah baru.

“Sebagian alasannya (kenaikan nilai kripto) adalah karena sifat pemerintahan Trump yang ramah terhadap kripto, yang diharapkan oleh para investor akan menghasilkan kejelasan regulasi di AS,” katanya.

Simak juga video: Elon Musk Dinyatakan Tak Bersalah Atas Tudingan Manipulasi Dogecoin

[Gambas:Video 20detik]

(shc/ara)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Tembus Rp 1,7 M, Donald Trump Biang Keroknya!


Jakarta

Aset kripto Bitcoin terus mengalami peningkatan, bahkan Bitcoin sempat menyentuh harga US$ 107 ribu atau sekitar Rp 1,7 miliar (kurs Rp 15.925) pada perdagangan hari Senin kemarin. Hal ini merupakan respons pasar terhadap langkah yang bakal diambil Donald Trump ketika resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Trump menegaskan dia berencana membuat cadangan strategis Bitcoin yang dibuat menyerupai cadangan minyak strategis di AS. Hal ini memicu antusiasme investor kripto.

Dilansir dari Reuters, Selasa (17/12/2024), sentimen investor juga terangkat oleh masuknya MicroStrategy ke dalam indeks Nasdaq 100. MicroStrategy selama ini dikenal sebagai perusahaan yang cukup banyak memiliki cadangan Bitcoin.


Dengan masuk indeks Nasdaq 100, artinya perusahaan itu kemungkinan akan menghasilkan lebih banyak arus modal yang bisa berubah menjadi pembeli Bitcoin.

Analis Pasar dari IG Analyst, Tony Sycamore menyebut Bitcoin masih bisa terbang ke level US$ 110 ribu dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang.

“Angka berikutnya yang akan dicari pasar adalah US$ 110 ribu. Penurunan yang ditunggu banyak orang ternyata tidak terjadi, karena sekarang kita punya berita baik,” sebut Tony.

Investor telah bertaruh bahwa pemerintahan Donald Trump yang akan datang akan membawa lingkungan regulasi yang lebih bersahabat buat aset kripto. Ini meningkatkan sentimen yang baik di seputar mata uang alternatif tersebut. Bitcoin saja sudah naik sekitar 150% nilainya pada tahun 2024.

Trump sendiri sudah menegaskan dia ingin agar Amerika Serikat menjadi yang terdepan dalam urusan regulasi kripto.

“Kami akan melakukan sesuatu yang hebat dengan kripto. Kami ingin menjadi yang terdepan,” kata Trump.

Ketika ditanya apakah ia berencana untuk membangun cadangan kripto yang mirip dengan cadangan minyak. Dia mengatakan hal itu bisa saja terjadi.

Menurut data CoinGecko, pemerintah di seluruh dunia memegang sekitar 2,2% dari total pasokan Bitcoin per Juli. Amerika Serikat memiliki hampir 200.000 bitcoin yang bernilai lebih dari US$ 20 miliar saat ini. China, Inggris, Bhutan, dan El Salvador juga menjadi negara-negara lain dengan jumlah bitcoin yang signifikan.

Simak juga Video ‘Ancaman Trump ke Hamas: Bebaskan Sandera atau Kekacauan akan Terjadi’:

[Gambas:Video 20detik]

(hal/kil)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Cetak Rekor Lagi Nih!


Jakarta

Bitcoin (BTC) mencatatkan rekor tertinggi di atas $107.000 atau sekitar Rp1,7 miliar hari ini. Kenaikan tersebut dipacu oleh perdagangan whale dan bergabungnya MicroStrategy ke dalam indeks Nasdaq 100 sebagai industri teknologi yang memperkuat sentimen bullish.

Selain itu, data makroekonomi AS yang positif terkait kenaikan inflasi sebesar 2,7% juga disinyalir memperkuat sentimen. Begitu juga dengan analisis on-chain yang menunjukkan cadangan devisa Bitcoin di bursa yang terus menurun. Hal ini mencerminkan tekanan jual yang rendah dan minat yang meningkat terhadap aset crypto.

CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menyatakan bahwa pencapaian Bitcoin ini mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan pasar terhadap aset digital di tengah dukungan dari pemain institusional besar seperti MicroStrategy.


“Masuknya MicroStrategy ke Nasdaq 100 memberikan validasi tambahan terhadap peran Bitcoin sebagai aset investasi yang semakin diterima secara global,” ungkap Oscar dalam keterangannya, Selasa (17/12/2024).

Faktor lainnya yang mendukung kenaikan Bitcoin, kata Oscar, kemungkinan Trump akan mengeluarkan perintah eksekutif pada hari pertamanya menjabat di tanggal 20 Januari 2025 yang diyakini akan menetapkan Bitcoin sebagai aset cadangan nasional.

Dengan kondisi makroekonomi yang mendukung dan partisipasi institusional yang semakin meningkat, kenaikan harga Bitcoin diperkirakan akan berlanjut dalam waktu dekat.

Ia juga menyebut, lonjakan harga Bitcoin juga didorong oleh penurunan tekanan jual di pasar. “Analisis on-chain menunjukkan cadangan devisa Bitcoin di bursa terus menurun. Hal ini menandakan banyak investor yang memilih menyimpan aset mereka, yang menjadi pendorong utama dalam reli harga saat ini,” jelas Oscar.

“Inflasi yang terkendali dan kebijakan moneter yang stabil memberikan pondasi bagi Bitcoin untuk terus menarik minat dari berbagai kalangan, termasuk investor institusional,” tambahnya.

Adapun kenaikan harga Bitcoin didukung oleh Fear and Greed Index yang mencapai 80 dari 100, mencerminkan dominasi sentimen ‘greed’ untuk jangka pendek. Sentimen tersebut diyakini mendorong aksi beli spekulatif dan meningkatkan volatilitas pasar.

Kendati begitu, investor tetap diminta berhati-hati dan mempertimbangkan risiko volatilitas sebelum berinvestasi. Menurut Oscar, indikator Fear and Greed Index yang berada di angka 80 menunjukkan dominasi sentimen optimisme.

“Namun, sentimen ini harus diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat volatilitas pasar kripto yang tinggi dapat membawa risiko bagi investor,” jelasnya.

Oscar juga menegaskan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi. Dengan kondisi pasar yang positif dan dukungan dari berbagai faktor, Oscar optimis bahwa tren bullish ini akan terus berlanjut dan tetap perlu menerapkan manajemen risiko yang baik dalam menghadapi dinamika pasar kripto.

“Jangan hanya terpaku pada Bitcoin. Ada banyak aset digital lain yang memiliki potensi besar, dan memahami fundamentalnya adalah kunci untuk mengambil keputusan investasi yang tepat,” tutupnya.

Simak juga Video ‘Sebelum Trading Kripto Pahami Bisnis Modelnya Dulu’:

[Gambas:Video 20detik]

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Tembus Rekor Bertubi-tubi


Jakarta

Bitcoin (BTC) sempat mencapai mencatatkan all time high (ATH) atau rekor tertinggi dengan menembus level psikologis US$ 107.000 menjelang akhir tahun 2024. Meski sempat beberapa kali anjlok, diproyeksikan kenaikan nilainya sepanjang 2024 mencapai 150%.

Dalam catatan detikcom, sepanjang tahun 2024 nilai Bitcoin terus berfluktuasi, namun cenderung menguat. Pada 1 Januari 2024, Bitcoin naik lebih dari 6% hingga tembus US$ 45.000. Angka tersebut merupakan level tertingginya sejak awal April 2022 silam.

Penyebab dari kenaikan ini besar kemungkinan karena didorong ekspektasi disetujuinya peraturan dana yang diperdagangkan di bursa (Exchange-Traded Fund/ETF) bitcoin spot pertama di Amerika Serikat (AS).


Tak cukup sampai di situ, pada 12 Maret Bitcoin pun mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa atau new all time high (ATH) ke posisi US$ 72.800. Pasar aset kripto menghijau sepanjang kuartal I 2024. Sentimen positif diyakini akan berlanjut hingga kuartal II-2024 dengan proyeksi nilai kapitalisasi mencapai US$ 3 triliun.

CEO Bittime Ryan Lymn mengatakan pasar kripto bakal tetap bullish karena investor global terus menambah kepemilikan ETF Bitcoin menjelang moment halving Bitcoin yang sangat dinantikan pada pertengahan April tahun ini. Pada saat yang sama, regulasi aset digital global menjadi lebih fokus ke investor kripto.

“Rentang waktu tiga bulan dari Februari hingga April secara historis merupakan periode yang kuat untuk harga Bitcoin, dan investor optimis reli kripto di awal tahun 2024 dapat berlanjut hingga kuartal II,” ungkap Ryan dalam keterangannya, Rabu (3/4/2024).

Sempat Jatuh ke Level US$ 54.000

Namun pada Agustus lalu, harga Bitcoin sempat anjlok ke posisi US$ 54.000, level terendahnya sejak Februari. Meski demikian, harganya masih mencatatkan kenaikan hampir 23% tahun ini.

Kondisi ini disebabkan karena investor berbondong-bondong menjual aset berisiko seperti bitcoin dan ether. Data CoinGecko menunjukkan, Bitcoin turun hingga 11% dan ether turun 21% dalam waktu 24 jam. Hal ini membuat nilai keseluruhan mata uang kripto anjlok sekitar US$ 270 miliar.

Bitcoin Bangkit

Lebih lanjut, harga Bitcoin pun perlahan-lahan mulai bangkit kembali hingga akhirnya pada bulan Oktober 2024, Bitcoin tembus US$ 70.000 atau Rp 1,09 miliar (kurs Rp 15.700) untuk pertama kalinya sejak Juni 2024. Bahkan menjelang akhir bulan, nilainya merangkak naik hingga mendekati level all-time high mencapai US$ 72.785.

Kondisi ini didorong sentimen positif dari investor menyambut pemilihan umum Amerika Serikat (AS) dan data ekonomi yang akan mempengaruhi keputusan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) berikutnya.

Efek Trump Bikin Bitcoin Melejit

Bitcoin pun kembali mencapai posisi tertinggi sepanjang sejarah atau all time high pada 6 November. Harga Bitcoin sempat tercatat berada di US$ 75.100 atau sekitar Rp 1,18 miliar (kurs Rp 15.800). Tak butuh waktu lama hingga nilainya kembali mencatatkan rekor, pada 10 November harga Bitcoin tembus US$ 76.000.

Kemenangan Donald Trump di dalam Pilpres AS menjadi faktor pendorong penguatan kripto. Sebab sebelumnya, Trump telah mendeklarasikan dukungannya terhadap aset digital. Ia bahkan telah berjanji untuk menjadikan AS sebagai ‘ibu kota kripto dunia’.

Tidak cukup sekali-dua kali kemenangan Trump membuat harga Bitcoin tembus rekor, pada 11 November harganya kembali mencapai ATH di level US$ 80.000 atau Rp 1,25 miliar (kurs Rp 15.619). Lalu pada 12 November, Bitcoin kembali pecah rekor ke level US$ 89.000 atau Rp 1,39 miliar (kurs Rp 15.700).

Hampir setiap hari usai kemenangan Trump, harga Bitcoin mencatatkan rekor baru. Pada 28 November, nilainya kembali mencatatkan rekor baru dengan harga US$ 99.000 atau lebih dari Rp 1,5 miliar. Sejak diumumkan pada 6 November 2024, harga Bitcoin telah melonjak lebih dari 40%.

Semakin ngegas, memasuki bulan Desember, harga Bitcoin akhirnya tembus ke level US$ 103.587 atau setara Rp 1,64 miliar. Janji Trump untuk mendorong regulasi yang ramah kripto dan menjadikan Bitcoin sebagai cadangan aset nasional memicu optimisme di pasar.

“Sejarah menunjukkan bahwa periode akhir tahun sering kali didorong oleh optimisme yang lebih besar dan ini terlihat jelas di pasar kripto. Dengan peningkatan volume perdagangan dan sentimen positif menjelang tahun baru, kami bisa melihat momentum ini berlanjut hingga 2025,” ujar CEO Indodax Oscar Darmawan dalam keterangan resmi, Jumat (6/12/2024).

Setelah konsisten mencatatkan tren peningkatan, pada 10 Desember lalu harga Bitcoin sempat anjlok 5% menjadi US$ 95.519. Berdasarkan Indeks CoinDesk20, penurunan juga terjadi di beberapa aset kripto. Bahkan penurunan 20% untuk Cardano (ADA), Avalanche (AVAX), dan XRP (XRP).

Tembus Level US$ 107.000

Akhirnya, pada 17 Desember Bitcoin kembali menciptakan All Time High anyar di level US$ 107.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar (kurs Rp 15.925). Selain Trump, kenaikan tersebut dipacu oleh perdagangan whale dan bergabungnya MicroStrategy ke dalam indeks Nasdaq 100 sebagai industri teknologi yang memperkuat sentimen bullish.

Dengan masuk indeks Nasdaq 100, artinya perusahaan itu kemungkinan akan menghasilkan lebih banyak arus modal yang bisa berubah menjadi pembeli Bitcoin. Analis Pasar dari IG Analyst, Tony Sycamore menyebut Bitcoin masih bisa terbang ke level US$ 110 ribu dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang.

Investor telah bertaruh bahwa pemerintahan Donald Trump yang akan datang akan membawa lingkungan regulasi yang lebih bersahabat buat aset kripto. Ini meningkatkan sentimen yang baik di seputar mata uang alternatif tersebut. Bitcoin saja sudah naik sekitar 150% nilainya pada tahun 2024.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bukan Cuma El Salvador, Korporasi Dunia Kini Koleksi Bitcoin


Jakarta

Bitcoin kini mulai diadopsi secara lebih luas oleh perusahaan global dan sejumlah negara, tak lagi dipandang sekadar sebagai aset spekulatif. Tren ini mencerminkan pergeseran peran kripto menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang untuk menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

“Jika dulu Bitcoin dianggap sebagai aset digital berisiko tinggi, kini ia sudah masuk ke dalam neraca keuangan perusahaan global bahkan dipertimbangkan sebagai cadangan negara,” kata pakar digital Anthony Leong pada keterangannya, (22/6/2025).

Ia merujuk pada langkah Metaplanet, perusahaan pengembang hotel asal Jepang, yang pada awal tahun ini mengumumkan rencana akumulasi hingga 210.000 BTC atau setara dengan lebih dari US$22 miliar. Menariknya, harga saham Metaplanet melonjak lebih dari 8.000 persen dalam dua tahun terakhir sejak mengadopsi strategi treasury berbasis Bitcoin.


“Ini sinyal keras bahwa Bitcoin sedang naik kelas menjadi cadangan strategis untuk menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi,” tambahnya.

Lebih dari 130 perusahaan publik global kini menyimpan Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan mereka, termasuk nama-nama besar seperti MicroStrategy, Tesla, Galaxy Digital, dan Block Inc. Menurut Anthony, akumulasi ini bukan lagi langkah individual atau iseng, melainkan keputusan finansial yang berbasis analisis risiko dan prospek jangka panjang.

Dalam pengamatan Anthony, sinyal adopsi juga datang dari sektor keuangan konvensional. Salah satu contoh penting adalah BBVA Switzerland, yang baru-baru ini merekomendasikan klien kaya mereka untuk mengalokasikan 3% hingga 7% dari portofolio investasi ke aset kripto, terutama Bitcoin dan Ethereum.

“Ketika bank konservatif seperti BBVA sudah mulai bicara strategi kripto, kita sedang menyaksikan revolusi keuangan yang pelan tapi pasti,” ujarnya.

Di balik fenomena Bitcoin, Anthony juga menekankan bahwa kekuatan utama justru terletak pada teknologi blockchain yang menopang aset digital ini. Menurutnya, blockchain menghadirkan sistem pencatatan yang terdesentralisasi, transparan, dan tahan manipulasi, yang secara fundamental mengubah cara dunia memahami kepercayaan dalam transaksi digital.

“Dengan blockchain, kita bisa membangun sistem keuangan yang tidak bergantung pada otoritas tunggal, namun tetap aman dan akuntabel. Ini landasan dari ekonomi digital masa depan,” jelasnya.

Anthony menilai keunggulan ini menjadikan Bitcoin tidak hanya bernilai karena kelangkaannya, tetapi juga karena fondasi teknologinya yang kokoh dan terus berkembang. Tak hanya swasta, beberapa negara kini juga telah masuk ke ekosistem Bitcoin.

El Salvador menjadi negara pertama yang menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi. Sementara itu, Amerika Serikat, meskipun tidak mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran sah, kini tercatat menyimpan lebih dari 200.000 BTC hasil dari penyitaan hukum, menjadikannya salah satu pemegang institusional Bitcoin terbesar di dunia.

“Langkah El Salvador mungkin dianggap ekstrem, tapi jangan lupa Amerika Serikat diam-diam memegang Bitcoin dari proses hukum. Ini bukan kebetulan ini strategi,” jelas Anthony yang juga Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Bidang Sinergitas BUMN, Danantara dan BUMD.

Meski begitu, Anthony mengingatkan bahwa risiko tetap ada. Volatilitas harga, ketidakpastian regulasi, serta keterbatasan edukasi publik menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Namun, ia menegaskan bahwa bagi pelaku ekonomi yang memiliki pemahaman dan strategi, Bitcoin kini bukan sekadar opsi melainkan bagian dari diversifikasi yang rasional.

“Bitcoin tidak cocok untuk semua orang. Tapi untuk yang punya pemahaman dan strategi, ia bukan lagi alternatif ia jadi keharusan,” tegas Anthony.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan stabil di atas level US$105.000 meski dunia menghadapi ketegangan geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter. Beberapa analis menyebut BTC sebagai “safe haven digital” karena mulai menunjukkan daya tahan seperti emas dalam kondisi ketidakpastian global.

(fdl/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Apa itu Tokenized Stock? Panduan Lengkap Investasi Saham Digital


Jakarta

Tokenisasi telah menjadi salah satu topik paling populer di industri kripto sejak 2023. Aset dunia nyata yang ditokenisasi seperti properti, real estate, dan surat obligasi.

Salah satu produk terbaru yang masuk ke sektor ini adalah tokenized stocks (saham yang ditokenisasi). Tokenized stocks seperti Tesla, Robinhood, Apple, dan lainnya bisa menjembatani kesenjangan antara pasar kripto dan TradFi (Traditional Finance).


Apa itu Tokenized Stocks?

Tokenized US Stocks di Aplikasi PintuTokenized US Stocks di Aplikasi Pintu Foto: Pintu

Tokenized stocks adalah representasi digital saham perusahaan di blockchain. Setiap token dipatok pada nilai saham perusahaan yang diperdagangkan secara publik, dijamin 1:1 dengan aset yang dikelola oleh kustodian berlisensi.

Selain itu, tokenized stocks tidak dibatasi oleh berbagai keterbatasan perdagangan saham tradisional. Kamu bisa membeli tokenized stocks 24/7 dengan penyelesaian instan tanpa harus keluar dari dompet atau bursa kripto.

Selain itu, kamu bisa memperdagangkan saham tanpa harus membeli per lembar saham. Contohnya, setiap saham Tesla senilai US$ 339,24 per 14 Agustus 2025. Alih-alih membeli seluruh saham, kamu bisa membeli aset saham TeslaX hanya dengan US$ 100. Ini membuka peluang baru bagi investor ritel untuk memiliki sebagian saham perusahaan besar.

Risiko dan Manfaat Membeli Tokenized Stocks

Manfaat Membeli Tokenized Stocks

1. 24 jam: Tokenized stocks tersedia untuk diperdagangkan 24/7 tanpa terbatas jam dan hari kerja.

2. Fraksional: Kamu bisa membeli tokenized stocks dalam jumlah kecil atau besar, tanpa terikat harga per saham. Misalnya, membeli TSLAx hanya US$ 100, bukan harga penuh per lembar saham.

3. Penyelesaian Instan: Berbeda dengan perdagangan saham TradFi, proses jual beli bisa terjadi instan berkat likuiditas konstan dan sifat perdagangan crypto.

4. Global: Saham Amerika Serikat (AS) sangat terbatas untuk diperdagangkan di beberapa negara. Tokenized stocks seperti xStocks memungkinkan siapa saja di dunia untuk mengakses perdagangan dan kepemilikan saham AS tanpa ribet regulasi.

Risiko Tokenized Stocks

1. Likuiditas: Pasar tokenized stocks saat ini masih terbatas likuiditasnya. Ini bisa menyebabkan slippage lebih tinggi dan rentang bid-ask lebih lebar, terutama untuk pembelian jumlah besar. Namun, ini akan membaik seiring meningkatnya likuiditas dan volume.

2. Risiko Regulasi: Tokenized stocks adalah kelas aset baru. Perubahan regulasi di masa depan bisa memengaruhi cara platform beroperasi dan aset yang bisa diperdagangkan.

Tokenized Stocks vs Saham Tradisional

PintuFoto: Pintu

Cara Membeli Tokenized US Stocks di Aplikasi Pintu

Kamu bisa mulai berinvestasi di tokenized stocks seperti Tesla, Nvidia, Apple, dan Microstrategy langsung di aplikasi Pintu, langkah-langkahnya sangat sederhana:

1. Buka aplikasi Pintu.

2. Masuk ke bagian Market dan cari saham yang ingin dibeli (TSLAx, AAPLx, NVDAx, MSTRx).

3. Masukkan jumlah yang ingin kamu beli setelah login.

4. Kamu bisa mengikuti langkah yang sama untuk membeli tokenized stocks lainnya di aplikasi Pintu.

Keamanan kamu sebagai pengguna Pintu terjamin, karena Pintu diawasi oleh OJK dan CFX. Selain trading, Pintu juga memungkinkan investor belajar lebih banyak tentang kripto melalui berbagai artikel di Pintu Academy, diperbarui setiap minggu!

(hnu/ega)



Sumber : finance.detik.com