Tag: musibah

  • Nasihat Orang Bijak



    Jakarta

    Orang bijak ditanya, “Apa yang paling dekat?”

    Jawabnya, “Ajal.”
    Ditanya lagi, “Apa yang paling jauh?”
    Dijawab, “Angan-angan.”
    Kematian pasti datang, keyakinan akan datangnya ajal menjadikan seseorang berhati-hati dalam menjalani kehidupan, ia selalu taat atas perintah Tuhan dan selalu berupaya menjauhi yang dilarang.

    Aisyah ra. bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah kelak pada hari kiamat kami akan dikumpulkan dengan para syuhada?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, yaitu orang-orang yang mengingat kematian dalam sehari-semalam sebanyak dua puluh kali.” ( HR. as-Syaukani ).


    Menurut Imam Ghazali manfaat mengingat kematian :
    * Akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang serba menipu
    * Akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    * Mengosongkan hati dari hal-hal keduniawian dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk kematian
    * Mengingat kematian akan membantu seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menjauhi larangan Allah SWT

    Orang yang selalu mengingat kematian, In-Syaa’Allah akan terhindar dari perbuatan maksiat seperti korupsi memperkaya diri dengan hidup bermewah-mewahan. Dia sadar semua itu adalah tipuan setan karena kenikmatan dunia sifatnya fana.

    Adapun angan-angan adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Panjang angan, disebut juga thulul amal, adalah banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia. Disebutkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, ” Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari).

    Panjang angan-angan ini betul-betul berdampak buruk karena akan merusak hati, dan Sang Baginda Muhammad SAW. mengingatkan bahwa hati orang yang sudah tua akan seperti anak saat cinta dunia dan panjang angan-angan. Betapa beratnya ujian bagi orang yang sudah tua, semestinya mengumpulkan bekal perjalanan kekalnya masih bersikap ( hatinya ) seperti anak muda karena cintanya pada dunia.

    Oleh sebab itu, selalu mengingat mati agar nantinya engkau pada hari kiamat dapat bersama-sama ( kumpul ) dengan para syuhada. Juga janganlah membuang-buang waktu dengan panjang angan karena ini perbuatan sia-sia.

    Pada zaman dahulu, ada orang bijak yang biasa berkeliling kota setiap tahun. Ia mengajarkan enam kalimat berikut ini :
    1. Barangsiapa tidak memiliki ilmu, ia akan terhina di dunia dan di akhirat.
    2. Barangsiapa tidak memiliki sifat sabar, maka ia tak akan selamat dalam beragama.
    3. Orang bodoh amalnya sia-sia.
    4. Orang yang tidak bertakwa, tiada kemuliaan di mata Allah SWT.
    5. Barangsiapa tiada memiliki kedermawanan, maka ia tidak akan mempunyai bagian apa-apa dari hartanya.
    6. Barangsiapa tidak takwa, tiada daya di hadapan-Nya.

    Perbuatan yang bermanfaat bisa diketahui dari hasil yang diraih dan berguna untuk sesama, maka muncullah kesucian jiwa dan pelaksanaannya bersih dari cela. Tahukah bahwa perbuatan yang bermanfaat dalam memperoleh kenikmatan agung dan abadi hendaknya berdasarkan ilmu. Karena ilmu itu yang pertama dan perbuatan itu yang kedua. Semua perbuatan yang berlandaskan ilmu akan sangat berguna dan berbeda dengan perbuatan dengan sedikit atau tanpa ilmu. Ibadah akan sah setelah mengetahui Dzat yang disembah. Beribadah dengan tidak tahu siapa yang disembah tentu pelaksanaannya tidak akan khusyu.’ Oleh karena itu, orang bodoh maka amalnya akan sia-sia.

    Orang yang sabar akan terhindar dari kesalahan yang bersumber dari sikap emosional. Orang sabar akan memperoleh manfaat seperti, gugurnya dosa-dosa yang ada dalam dirinya, keutamaan sabar adalah diberikan kemenangan oleh Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa, sabar dapat mendatangkan kemenangan yang diimpikan umat Muslim.

    Adapun hikmah utama dari sikap sabar adalah lebih mudah untuk melihat sisi baik dari sebuah kejadian. Mereka akan lebih bersyukur dengan apa yang terjadi. Jadi bersyukur tidak hanya saat berhasil tapi juga ketika mengalami kegagalan. Saat kegagalan, itu sebetulnya pilihan-Nya maka yakinlah bahwa pilihan-Nya lebih baik dari pilihanmu ( hamba ).

    Sedangkan seorang yang mempunyai sifat kedermawanan, maka Allah SWT. akan selamatkan dari berbagai bencana dan musibah. Rasulullah SAW “Orang yang dermawan itu dekat dengan-Nya. Dekat dengan syurga, dekat dengan manusia dan jauh dari api neraka dan orang yang bakhil jauh dengan-Nya, jauh dengan syurga, jauh dengan manusia dan dekat dengan api neraka”.

    Terakhir nasihat di atas adalah ketakwaan, ini pamungkas karena orang yang takwa adalah orang yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Syekh Abdul al-Jailani dalam bukunya FUTUHAL GHAIB mengatakan tiga hal yang wajib diperhatikan seorang mukmin dalam keadaan apa pun, yaitu melaksanakan perintah dan menghindari larangan-Nya, dan ridha atas segala ketetapan-Nya.

    Semoga kita semua terhindar dari perbuatan maksiat dan selalu taat menjalankan perintah-Nya.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Tiga Macam Kesabaran



    Jakarta

    Sufyan ats-Tsauri mengatakan bahwa ada tiga jenis kesabaran yaitu : Tidak menceritakan musibah, jangan mengumbar kesakitanmu, dan jangan menganggap dirimu suci. Ingatlah bahwa sabar adalah tindakan menahan diri dari hal-hal yang ingin dilakukan, menahan diri dari emosi, dan bertahan serta tidak mengeluh pada saat sulit atau sedang mengalami musibah.

    Tidak Menceritakan Musibah

    Musibah yang terjadi ada yang menyikapinya sebagai keburukan, dan ada juga yang menganggap itu merupakan sebuah teguran untuk menjadi lebih baik. Lalu, berikut ini tuntunan terbaik dalam menyikapi segala musibah yang terjadi, yaitu :


    1. Ridha terhadap ketentuan-Nya. Setiap Muslim wajib beriman bahwa musibah apapun itu seperti kecelakaan pesawat, gempa bumi, banjir, wabah penyakit telah ditetapkan Allah SWT. dalam Lauhul Mahfuzh. Sesuai kewajiban menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridha). Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Hadid ayat 22 yang terjemahannya, “Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.”

    Makna ayat di atas adalah : Usai menjelaskan karunia-Nya kepada orang memohon ampunan, Allah SWT. menerangkan bahwa semua yang terjadi di alam ini merupakan ketetapan-Nya yang tertulis di Lauh Mahfuz. Setiap bencana yang menimpa di bumi, seperti gempa, banjir, erupsi, dan lainnya, dan demikian pula bencana yang menimpa dirimu sendiri, seperti sakit, kecelakaan, dan lainnya, semuanya telah tertulis dalam Kitab yang disebut Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu, yaitu semua yang terjadi, sangat mudah bagi Allah SWT.

    Musibah yang menimpa para hamba merupakan sesuatu yang sudah tertulis, jadi kita hadapi dengan sikap ridha karena kita wajib memgimani atas kehendak-Nya. Jadi musibah apa pun, betapa pun beratnya tetap mesti tersimpan dengan baik dan tidak untuk diceritakan. Kita kadang menemukan seseorang yang mengeluh karena ada anggota keluarga yang sakit dengan meminta bantuan biaya pengobatan.

    2. Hikmah di balik musibah. Seorang muslim yang mengetahui hikmah (rahasia) dibalik musibah, akan memiliki ketangguhan mental yang sempurna. Hikmah musibah antara lain diampuninya dosa-dosa. Sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Ikhtiar. Yang dimaksud ikhtiar, ialah tetap melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi, seorang Muslim tidak boleh diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu bantuan datang. Olehnya itu, beriman kepada ketentuan Allah SWT. tidaklah berarti kita hanya diam termenung meratapi nasib, tanpa berupaya mengubah apa yang ada pada diri kita.

    Tidak mengumbar kesakitan

    Orang yang mengumbar kesakitan itu jauh dari sikap sabar. Keluh kesah itu dilarang dalam ajaran Islam sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Ma’arij ayat 19 dan 20 yang artinya, ” Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” Dan selanjutnya, ” Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.”

    Makna kedua ayat diatas adalah : Dijelaskan bahwa manusia memiliki sifat suka berkeluh kesah dan kikir. Namun, sifat ini dapat diubah jika menuruti petunjuk Tuhan yang dinyatakan-Nya dalam ayat 22 sampai 24 surah ini. Manusia yang tidak mempedulikan petunjuk Tuhan dan seruan rasul adalah orang yang sesat.

    Manusia bisa sesat dari jalan Allah SWT. karena sifatnya yang tergesa-gesa, gelisah, dan kikir. Hal ini bukanlah ketentuan dari Allah SWT. terhadapnya, tetapi mereka menjadi mukmin atau menjadi kafir karena usaha dan pilihan mereka sendiri. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surah at-Taqabun ayat 2 yang terjemahannya, “Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan ada yang mukmin. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

    Sikap berkeluh kesah di dalam ajaran Islam jelas tidak dituntun, jadi kesabaran dalam menghadapi ujian Allah SWT. adalah keharusan karena kita mengimani terhadap ketentuan-Nya.

    Jangan menganggap dirimu suci

    Seseorang yang menganggap dirinya suci itu laksana seseorang yang menganggap diri sudah pandai, sehingga ia tidak menambah ilmunya.
    Adapun adab seorang muslim itu tidak merasa dirinya paling baik dari saudaranya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah an-Najm ayat 32 yang terjemahannya, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

    Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Si’di menerangkan bahwa terlarangnya orang- orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji- memuji dirinya sendiri. (Tafsir Karimir Rahman). Sikap itu yang dilarang oleh-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 80 yang terjemahannya, “Dan mereka berkata, kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.”

    Inilah kesombongan orang-orang yang menganggap dirinya suci. Semoga Allah SWT. selalu membimbing kita untuk bersabar dengan tidak menceritakan musibah, tidak mengeluh dan tidak menganggap diri suci.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Qunut Nazilah dan Tata Cara Pengerjaannya


    Jakarta

    Doa qunut nazilah dibaca ketika ada musibah atau bencana, hal ini dijelaskan oleh ulama Hanafi, Syafi’i dan Hanabilah. Namun, mazhab Hanafi menilai doa tersebut dapat dibaca pada salat-salat jahriyyah yaitu salat Subuh, Maghrib, dan Isya.

    Mengutip buku Bimbingan Praktikum Ibadah tulisan Prof Dr H Abudin Nata MA, secara harfiah qunut artinya ‘sedang’, sedangkan nazilah artinya ‘yang turun’. Secara umum, pengertian qunut nazilah ialah dibaca guna memperoleh perlindungan dari bencana.

    Prof Wahbah Az-Zuhaili dalam Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu menjelaskan bahwa doa qunut nazilah dibaca secara jahar atau mengeraskan suara. Disebut qunut nazilah yang artinya bencana atau musibah yang melanda kaum muslimin.


    Bencana itu bisa berupa ketakutan, paceklik, wabah penyakit, dan lain sebagainya. Hukum pembacaan doa qunut nazilah adalah sunnah sebagaimana hadits shahih yang berbunyi:

    “Sungguh Nabi SAW membaca doa qunut (nazilah) selama sebulan karena (tragedi) terbunuhnya para qurra’ (ahli Al-Qur’an) radhiyallahu ‘anhum,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bacaan Doa Qunut Nazilah

    Merujuk pada buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2, redaksi qunut nazilah tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Diriwayatkan Umar RA, ketika melakukan doa qunut ia membaca:

    اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَات بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْ عَلَى عَدُوّكَ وَعَدُوِّهِمْ اللَّهُمْ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمْ خَالِفٌ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ

    Arab latin: Allahummaghfirlil mu’miniina wal mu’minati, wal muslimiina wal muslimaati, wal alifa bayna quluubihim, wa ashlih dzaat baynihim, wanshur alaa a’uduwka wa aduwwihim lahumul an kafarati ah lil kitaabi ladziina yukadzibuuna rasulaka, wa yuqaa tiluuna aw liyaa aka. allahumma khoolifun bayna kalimatihim, wa zalzil aqdaa mahum, wa anzil bihim ba’salkaldzii laa yurdun anilqowmil mujrimiina. bismillahirrahmanirrahiiim. allahumma innanasta’iinuka.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosa orang mukmin, dan mukminat, muslimin, dan muslimat, satu- kaniah hati-hati mereka, damaikanlah di antara mereka. Tolonglah mereka untuk mengalahkan musuhmu, dan musuh mereka. Ya Allah timpakanlah laknat kepada orang kafir ahli kitab yang telah mendustakan para utusan-Mu, dan memerangi para wali-Mu. Ya Allah, gagapkanlah ucapan mereka, pecah belahkan kekuatan mereka, dan timpakan siksa-Mu yang tidak mungkin mampu dicegah mereka. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, dan Penyayang. Ya Allah sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu.”

    Dalam buku Fiqh Wabah oleh LPBKI MUI Pusat, ada juga doa qunut nazilah versi lainnya yang bisa diamalkan.

    اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرِّمَا قَضَيْتَ فَا نَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا
    قَضَيْتَ وَأَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ اللَّهُمُ ادْفَع عَنَّا وَعَنِ المُسْلِمِينَ العَلاءَ وَالبَلاءَ وَالْوَباءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَة وَالشَّدَائِدَ الْمِهَنَ وَالْفِتْنَ وَالسُّوءَ وَالزِّنَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ
    وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Arab latin: Allaahummahdii fiiman hadaiyt wa ‘aafinaa fiiman ‘aafaiyt wa tawallani fiiman tawallaiyt wa baarikli fiimaa a’thoiyt Wa qini syarro maa qodloiyt. Fainnaka taqdlii walaa yuqdloo ‘alaiyk wa innahu laa yadzillu man waalayt wa laa ya’izzu man ‘aadaiyt. Tabaarokta robbanaa wa ta’aalaiyt. Fa lakal hamdu ‘alaa maa qodloiyt. Astaghfiruka wa natuubu ilaiyk. Allaahummadfa’ ‘annal gholaa’a wal balaa’a wal wabaa’ wal fahsyaa’a wal munkar. Was suyuufal mukhtalifata wasy syadaaida wal mihan. Maa zhoharo minhaa wa maa bathon. Mim balainaa hadzaa khoosshoh wa min buldaanil muslimiina ‘aammatan innaka ‘alaa kulli syaiin qadiir. Wa shallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin nabiyyil ummiyyi wa’alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.

    Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin.”

    “Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena sesungguhnya Engkau-lah yang menentukan dan tidak ada yang menghukum (menentukan) atas Engkau. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan.”

    “Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Berkahlah Engkau dan Maha Luhurlah Engkau. Segala puji bagi-Mu atas yang telah Engkau pastikan. Aku mohon ampun dan tobat kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.”

    Tata Cara Mengerjakan Qunut Nazilah

    Mengacu pada sumber yang sama, qunut nazilah dapat dilakukan setiap salat fardhu pada rakaat terakhir sehabis rukuk. Doa qunut dibaca pelan (sirr) jika pada waktu Zuhur dan Ashar, namun apabila ketika Subuh, Magrib dan Isya dalam salat berjamaah maka harus dibaca dengan keras.

    Bagi imam salat yang membaca doa qunut nazilah dapat mengubah kata ganti sendiri menjadi kata ganti sendiri menjadi kata ganti untuk orang banyak. Sementara makmum cukup mengaminkannya.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Tolak Bala di Bulan Safar, Bisa untuk Rebo Wekasan


    Jakarta

    Doa tolak bala di bulan Safar dapat diamalkan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar mendapat perlindungan diri dari segala bahaya, bencana alam, hingga segala bala. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan muslim untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat,

    عَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

    Artinya: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya qadha serta kesenangan musuh atas musibah yang menimpa kalian.” (HR Bukhari)


    Di samping itu, firman Allah SWT dalam Al-Qur’an juga menganjurkan muslim untuk memohon pertolongan melalui doa. Salah satunya yang termaktub dalam surah Gafir ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

    Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    3 Pilihan Doa Tolak Bala di Bulan Safar dan Artinya

    1. Doa Tolak Bala Versi Pertama

    Ustman bin Affan RA pernah mendengar Rasulullah SAW menganjurkan bacaan doa tolak bala berikut.

    بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Bacaan latin: Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i, wa huwassamii’ul ‘aliim

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang dengan sebab nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan (mendatangkan mudharat). Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

    2. Doa Tolak Bala Versi Kedua

    Dinukil dari laman Kemenag Kanwil Surabaya, doa tolak bala lainnya yang dapat dipanjatkan adalah sebagai berikut,

    اللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَسِرِّ الْفَاتِحَةِ يَا فَارِجَ الْهَمِّ وَيَاكَاشِفَ الْغَمِّ، يَامَنْ لِعِبَادِهِ يَغْفِرُوَيَرْحَمُ، يَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَا اَللّٰهُ، وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحْمٰنُ وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحِيْمُ

    Bacaan latin: Allohumma bihaqqil fatihah, wasirril fatihah, yaa faarijal hamma, wa yaa kasyifal ghomma, yaa man li ibaadihi yaghfiru wa yarham, yaa dafi’al bala-i yaa allah, wa yaa dafi’al bala-i ya rohman, wa yaa dafi’al bala-i yaa rohiim.

    Artinya: “Ya Allah, dengan kebenaran Al-Fatihah dan rahasia Al-Fatihah, Wahai sang pembedah kegelisahan. Wahai Sang Penyingkap Kebingugnan. Wahai Dzat yang mengampuni dan mengasihi para hamba-Nya, Wahai Sang Penolak Bala, Ya Allah. Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai Sang Penolak Bala, Tuhan Yang Maha Penyayang,”

    3. Doa Tolak Bala Versi Ketiga

    Ada juga doa tolak bala yang sering kita dengar dibaca usai salat berjamaah. Doa tersebut berbunyi,

    اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ القُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ العَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الجَنَّةِ اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَاوَعَذَابَ الآخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

    Bacaan latin: Allāhummaftah lanā abwābal khair, wa abwābal barakah, wa abwāban ni’mah, wa abwābar rizqi, wa abwābal quwwah, wa abwābas shihhah, wa abwābas salāmah, wa wa abwābal ‘āfiyah, wa abwābal jannah. Allāhumma ‘āfinā min kulli balā’id duniyā wa ‘adzābil ākhirah, washrif ‘annā bi haqqil Qur’ānil ‘azhīm wa nabiiyikal karīm syarrad duniyā wa ‘adzābal ākhirah. Ghafarallāhu lanā wa lahum bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūn, wa salāmun ‘alal mursalīn, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

    Artinya: “Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak Al Quran yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai, zat yang maha pengasih. Maha suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”

    Doa tolak bala di bulan Safar ini dapat diamalkan dalam tradisi Rebo Wekasan. Dikutip dari buku Kitab Doa-Doa Tolak Bala oleh Siti Nur Aidah, tradisi tersebut berkembang di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura pada Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.

    Masyarakat setempat meyakini, tradisi Rebo Wekasan dapat menolak bala atau bencana yang ada di daerah mereka. Bahkan, pendapat Syekh Abdul Hamid Kudus dalam kitab Kanzun Najah was Surur tentang adanya musibah dan kesialan pada hari Rabu terakhir bulan Safar menjadi dasar dilakukannya ritual Rebo Wekasan.

    Meski tidak ada dalam tuntunan sunnah, tradisi tersebut juga dapat dijadikan momen untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Khususnya dalam hal memohon perlindungan kepada-Nya.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah Arab dan Fadilatnya


    Jakarta

    Bacaan la haula wala quwwata illa billah disebut juga dengan kalimat thayyibah hauqalah. Kalimat ini adalah salah satu jawaban atas panggilan azan yang paling beda dan juga menjadi bacaan zikir yang penuh keutamaan.

    Disebutkan dalam buku Akidah Akhlak karya Fida’ Abdilah dan Yusak Burhanudin, bacaan la haula wala quwwata illa billah dibaca ketika seseorang ditimpa cobaan yang berat. Dengan mengucapkan bacaan ini, diharapkan dapat memberikan kekuatan baik secara lahiriyah maupun batiniyah karena diri ini hanya bertawakal atau berserah diri kepada Allah SWT saja.

    Dalam kitab al-Wasith fi Fiqh al-Ibadaat karya Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas yang diterjemahkan Kamran As’at Irsyady dkk, zikir la haula wala quwwata illa billah merupakan ekspresi kepasrahan kepada Allah SWT. Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, kalimat tesebut menjadi harta simpanan surga.


    Rasulullah SAW bersabda, “Lā haula walā quwwata illā billah adalah salah satu harta simpanan surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah Arab, Latin, dan Artinya

    لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Latin: Lā haula walā quwwata illā billah

    Artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT.”

    Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah sebagai Jawaban Azan

    Selain diucapkan sebagai zikir mengingat kekuasaan Allah SWT dan menandakan tawakal seorang muslim terhadap kekuatan-Nya, bacaan la haula wala quwwata illa billah juga dibaca untuk menjawab panggilan azan.

    Rasulullah SAW bersabda,

    إِذَا سَمِعْتُمُ النَّدَاءَ فَقُوْلُوا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

    Artinya: “Apabila kalian mendengar azan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muazin.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Saat azan dikumandangkan oleh muazin, maka seorang muslim yang mendengarnya hendaknya menjawab panggilan-panggilan itu sesuai apa yang diucapkan oleh muazin kecuali untuk lafaz hayya ‘alal falah dan hayya ‘alal falah maka seorang muslim bisa mengucapkan la haula wala quwwata illa billah.

    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Muslim,

    إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ : اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ؛ ثُمَّ قَالَ : حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ ثُمَّ قَالَ : اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا الله، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

    Artinya: Apabila muazin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka hendaklah kalian yang mendengar menjawab, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muazin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dijawab, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muazin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.” Saat muazin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka maka dijawab “La haula wala quwata illa billah” Saat muazin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka maka dijawab “La haula wala quwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka dijawab, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Dan muazin berkata, “Laa Ilaaha illallah”, maka dijawab, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga. (HR Muslim)

    Hadits tersebut mengatakan bahwa bacaan la haula wala quwata illa billah merupakan jawaban atas panggilan azan hayya ‘alash-shalah dan hayya ‘alal falah.

    Ahmad Sarwat dalam Ensiklopedia Fikih Indonesia 3: Shalat menjelaskan, bacaan la haula wala quwata illa billah juga diucapkan saat mendengar ikamah. Seluruh mazhab, kecuali Mazhab Hanafi, berpendapat bahwa orang yang mendengar ikamah juga disunahkan untuk menjawabnya sebagaimana ketika mendengar azan.

    Sama ketika mendengar panggilan azan, saat dibacakan lafaz hayya ‘alash-shalah dan hayya ‘alal falah, muslim yang mendengarnya juga dituntunkan untuk membaca hauqalah atau bacaan la haula wala quwata illa billah.

    Sementara itu, jika muazin membaca qaq qamatish-shalah, maka jawabannya adalah aqamahllahu wa adaamaha yang artinya “semoga Allah menegakkannya dan melanggengkannya.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa saat Terjadi Bencana Alam, Yuk Baca agar Dilindungi Allah SWT


    Jakarta

    Tidak ada yang tahu kapan bencana alam akan terjadi. Ketika tertimpa ataupun menyaksikan bencana, usahakan untuk selalu mengingat Allah SWT dengan berdoa kepada-Nya.

    Bencana alam merupakan bentuk ujian Allah SWT kepada hamba-Nya. Melalui bencana alam seperti gunung meletus, banjir, tanah longsor atau bahkan tsunami, Allah SWT ingin melihat sejauh mana kesabaran hamba-Nya.

    Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah Ayat 155 dan 156, Allah SWT berfirman tentang adanya bencana dan musibah yang menimpa manusia,


    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

    Surat Al-Baqarah Ayat 156

    ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

    Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

    Di balik hadirnya bencana ini, tentu Allah SWT sudah menakar sesuai kemampuan hamba-Nya. Jadi setiap ujian yang diberikan, tentu sudah sesuai dengan batas kemampuan setiap orang.

    Sebagai makhluk yang tidak berdaya tanpa kekuatan dan perlindungan dari Allah SWT, kita wajib memohon pertolongan saat dilanda bencana. Berdoa bisa menjadi cara untuk meminta pertolongan Allah SWT serta memohon agar diberi kesabaran, juga kekuatan.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

    “Berlindunglah kalian kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya qadha serta kesenangan musuh atas musibah yang menimpa kalian.” (HR. Bukhari)

    Dalam hadits lain, dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah seorang muslim ditimpa sesuatu seperti kelelahan, penyakit (yang tetap), kekhawatiran (terhadap sesuatu yang kemungkinan akan menyakitinya), kesedihan, gangguan, dan duka cita karena suatu kejadian, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari no. 5642; Muslim no. 2572).

    Doa saat Terjadi Bencana

    Merangkum buku Setiap Saat Bersama Allah yang ditulis oleh Islah Gusmian, berikut adalah bacaan doa yang dapat dibaca saat melihat orang tertimpa bencana:

    الـحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّـا ابْتَلاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً

    Arab-latin: Alhamdulillahilladzi afani mimmabtalaka bihi wafadhalani ‘ala katsirin mimman khalaqa tafdhila

    Artinya: Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kami dari bencana yang menimpa ini, dan mengutamakan kami melebihi orang-orang dengan kelebihan yang nyata (HR Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, “Kitab Al-Da’awat”, nomor: 3353).

    Adapun selain doa, terdapat juga ucapan yang dapat dilakukan sebagaimana yang Rasulullah lakukan. Saat mendengar musibah menimpa seseorang, Rasulullah SAW menganjurkan untuk senantiasa mengucapkan:

    مِنْهَا خَيْرًا لَهُمْ فْ وَأَخْلِمُصِيبَتِهِمْ، فِي أجرْهُم اللَّهُمَّ رَاجِعُونَ، إِلَيْهِ وَإِنَّا لِلَّهِ إِنَّا

    Arab-latin: Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allahumma ajirhum fii mushibatihim, wa akhlif lahum khoiron minha

    Artinya: Sesungguhnya kita milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah mereka pahala dalam musibah mereka dan berilah ganti yang lebih baik.

    Doa Memohon Perlindungan dari Bencana

    Doa bisa diamalkan kapan saja, termasuk ketika memohon perlindungan dari bencana. Amalkan doa ini seraya berpasrah kepada Allah SWT dan yakin bahwa hanya Allah SWT satu-satunya yang Maha Kuasa atas segala kejadian.

    Berikut beberapa bacaan doa yang bisa dibaca untuk memohon perlindungan dari datangnya bencana:

    1. Doa agar terhindar dari bencana

    Dalam Hadits Abu Daud dan Tirmidzi dari Ustman bin Affan radhiyallahu’anhu, dirinya pernah mendengar Rasulullah SAW memanjatkan doa agar terhindar dari bahaya. Berikut bacaan doanya:

    بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Arab Latin: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang dengan sebab nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan (mendatangkan mudharat). Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).”

    2. Doa memohon perlindungan

    اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ

    Arab Latin: Allahumma inni a-‘udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, janganlah sampai aku tersesat atau disesatkan (syaitan atau orang jahat), tergelincir atau digelincirkan orang lain, menganiaya atau dianiaya orang lain, dan berbuat bodoh atau dibodohi orang lain.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi).

    3. Doa memohon keselamatan

    اَللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَدَنِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى سَمْعِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَصَرِ

    Arab Latin: Allahumma afini fi badani allahumma afini fi sam’i allahumma afini fi bashari la ilaha illa anta.

    Artinya : “Ya Allah, sehatkanlah badan ku. Ya Allah sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah sehatkanlah penglihatanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau”.

    4. Doa berlindung dari takdir buruk

    اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.

    Arab latin: Allahumma innii a-‘uudzubika min jahdil balaa-i, wa darakisy syaqaa-i, wa suu-il qadhaa-i, wa syamaatatil a’daa-i

    Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala (bencana), hinanya kesengsaraan, keburukan qadha’ (takdir), dan kegembiraan para musuh.” (HR Bukhari dan Muslim).

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Selamat Dunia Akhirat, Amalkan untuk Memperoleh Perlindungan


    Jakarta

    Doa selamat dunia akhirat merupakan sebuah permohonan untuk mendapatkan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam doa ini, seseorang meminta perlindungan Allah SWT dari segala marabahaya, siksaan, dan bencana dalam dunia dan akhirat.

    Doa selamat dunia akhirat ini biasanya diamalkan oleh umat Islam setelah salat atau saat acara keagamaan seperti pengajian. Berikut kumpulan doa selamat dunia akhirat yang dapat diamalkan oleh umat Islam.

    Kumpulan Doa Selamat Dunia Akhirat

    Berikut adalah kumpulan doa selamat dunia akhirat yang dirangkum dari berbagai sumber.


    1. Doa Selamat Dunia Akhirat Pertama

    Doa selamat dunia akhirat yang pertama ini merupakan doa singkat yang sudah dikenal secara umum oleh umat Islam. Doa ini dikutip dari buku Al-Ma`Tsurat Terlengkap karya Imam Hassan Al-Banna. Berikut bacaannya:

    رَبَّنَا ءَائِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab Latin: Rabbana aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa bannaar.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

    2. Doa Selamat Dunia Akhirat Kedua

    Mengutip buku The Ultimate Power of Shalat Hajat karya Ibnu Thahir, berikut adalah bacaan doa selamat dunia akhirat kedua yang cukup panjang:

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي العِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ، رَبَّنَا لأَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab Latin: Allahumma innnaa nas’aluka salaamatan fiid diini, wa ‘aafiyatan fil jasadi, wa ziyaadatan fil ‘ilmi, wa barakatan fir rizqi, wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal mauti. Allahumma hawwin ‘alaynaa fii sakaraatil mauti, wa najata minan naari wal ‘afwa ‘indal hisaab. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa mil ladunka rahmatan innaka antal wahhaab. Rabbanaa aatina fid duniyaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban naar.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan dalam urusan agama, kesehatan badan, tambahan ilmu, berkah dalam rezeki, pertaubatan sebelum mati, rahmat saat mati, dan ampunan setelah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami saat menjalani sakaratul maut, selamatkanlah kami dari siksaan api neraka, dan maafkanlah kami pada waktu dihisab. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menggeser hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan berilah rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jagalah kami dari siksa api neraka.”

    3. Doa Memohon Keselamatan dan Kemudahan dalam Urusan

    Berikut adalah bacaan doa untuk memohon keselamatan dan keringanan kepada Allah SWT saat menghadapi beratnya beban hidup, yang juga dikutip dari buku Al-Ma`Tsurat Terlengkap.

    رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

    Arab Latin: Rabbanaa laa tu’aa-khidznnaa in nasiya aw akhthanaa, Rabbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa isran kamaa hamaltahu ‘alal ladziina min qablinnaa, Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa taaqata lanaa bih. Wa’fu ‘annaa waghfir lanaa warhamnaa, anta maulaanaa faanshur naa ‘alal qawmil kaafiriin.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau-lah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

    4. Doa Memohon Ampunan untuk Orang Tua

    Menukil kembali pada buku The Ultimate Power of Salat Hajat, berikut adalah bacaan doa yang dapat dipanjatkan agar diberikan kebaikan dan ampunan Allah SWT untuk kedua orang tua.

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

    Arab Latin: Rabbighfir lii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiiraa.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku, dan kasihanilah mereka karena telah mendidikku pada waktu masih kecil.”

    5. Doa Tolak Bala atau Bencana

    Berikut adalah bacaan doa yang dapat diamalkan untuk melindungi diri dari bahaya, bencana, dan segala bala, yang dikutip dari buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit karya Hamdan Hamedan.

    اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    Arab Latin: Allaahummadfa’ ‘annal ghalaa-a, wal balaa-a, wal wabaa-a, wal fahsyaa-a, wal munkara, was-suyuufal mukhtalifata, wasy-syadaa-ida, wal mihana maa zhahara minhaa, wa maa baathana min baladinaa haadzaaa khaassatan, wa min buldaanil muslimiina ‘aammatan. Innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.

    Artinya: “Ya Allah, hindarkanlah kami dari malapetaka, bala dan bencana, kekejian dan kemungkaran, sengketa yang beraneka, kekejaman dan peperangan, yang tampak dan tersembunyi dalam negara kami khususnya, dan dalam negara kaum muslimin umumnya. Sesungguhnya Engkau Ya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

    6. Doa Perlindungan dari Akhlak, Amal, Nafsu, dan Penyakit yang Buruk

    Berikut bacaan doa yang dapat diamalkan agar dijauhkan dari segala perbuatan dan penyakit buruk, yang dirujuk dari sumber sebelumnya.

    اللَّهُمَّ جَنَّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ.

    Arab Latin: Allaahumma jannibnii munkaraatil akhlaaqi, wal a’maali, wal ahwaa-i, wal adwaa’.

    Artinya: “Ya Allah jauhkanlah diriku dari kejelekan akhlak, amal, hawa nafsu, dan penyakit.”

    7. Doa Perlindungan dari Kecelakaan dan Kematian yang Buruk

    Masih merujuk pada sumber yang sama, inilah bacaan doa agar dilindungi dari musibah atau kecelakaan yang buruk di dunia.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي
    سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ لَدِيعًا. أَمَوْتَ لَدِيفًا

    Arab Latin: Allaahumma innii a-‘uudzu bika minat-taraddii, wal hadmi, wal gharaqi, wal hariiqi, wa a-‘uudzu bika an yatakhabbathonisy-syaithaanu ‘indal mauti, wa a-‘uudzu bika an amuuta fii sabiilika mudbiran, wa a-‘uudzu bika an amuuta ladiighaa.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (terjatuh), kehancuran (tertimpa sesuatu), tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari disesatkan setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat.”

    Itulah kumpulan doa-doa selamat dunia akhirat yang dapat diamalkan. Dengan memanjatkan doa-doa ini, semoga kita semua dapat memperoleh perlindungan dan kebaikan dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Benteng Perlindungan oleh Allah SWT


    Jakarta

    Musibah adalah ujian atau cobaan yang seringkali datang tanpa terduga dalam kehidupan setiap individu. Baik itu berupa kehilangan, kesedihan, penyakit, atau berbagai masalah lainnya, musibah bisa membuat kita merasa lemah dan putus asa.

    Dalam Islam, Allah mengajarkan kepada umat-Nya untuk menghadapi musibah dengan sabar dan tawakal, serta senantiasa berdoa kepada-Nya. Doa ketika tertimpa musibah sangat penting sebagai bentuk pengharapan dan permohonan kepada Allah untuk memberikan kekuatan, ketenangan, dan solusi dalam menghadapi ujian hidup.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:


    “Berdoa itu termasuk ibadah.” (HR. Abu Dawud no. 1479, Tirmidzi no. 2969, lbnu Majah no. 3828, dan Ahmad no. 18532. Hadits ini sahih.)

    Doa-doa ketika Tertimpa Musibah

    Mengutip buku Doa Menghadapi Musibah karya Arif Munandar Riswanto (2007) dan beberapa sumber lainnya, berikut adalah beberapa doa yang dapat dibaca ketika tertimpa musibah:

    1. Doa Umum untuk Musibah

    Salah satu doa yang sering diajarkan dalam menghadapi musibah adalah:

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

    Artinya: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 156)

    Doa ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari ketentuan Allah dan kita harus siap menerimanya.

    2. Doa untuk Memohon Kesabaran

    Ketika menghadapi musibah, kita sering merasa kesulitan untuk bersabar. Maka, kita bisa berdoa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Musa.

    Doa ini ada di dalam Al-Qur’an surah Taha ayat 25-28:

    رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى وَٱحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى

    Rabbisyraḥ lī ṣadrī wa yassir lī amrī waḥlul ‘uqdatam mil lisānī yafqahụ qaulī

    Artinya: Musa berkata: “Ya Rab-ku, lapangkanlah dadaku, dan ringankanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”

    3. Doa untuk Memohon Kebaikan

    Kita juga bisa berdoa untuk memohon kebaikan dalam situasi sulit. Doa ini termaktub dalam surah Al-Qasas ayat 24:

    رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

    Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr.

    Artinya: Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.

    4. Doa Memohon Ampunan

    Musibah sering kali juga menjadi pengingat untuk kita bertaubat dan meminta ampun kepada Allah. Doa Nabi Yunus dapat diamalkan untuk memohon petunjuk ketika menghadapi kesulitan.

    Selain itu, doa ini juga bisa dibaca saat seseorang memiliki kebutuhan atau hajat tertentu. Doa ini termaktub dalam surah Al-Anbiya ayat 87.

    لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

    Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minaz-zaalimiin

    Artinya: “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”

    5. Doa Nabi Ayub

    Nabi Ayub adalah contoh yang baik dalam menghadapi musibah. Kita bisa mengikuti doanya ketika dia diuji dengan penyakit dan kehilangan.

    رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

    Artinya: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)

    (hnh/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 22 Kondisi Mengucapkan Innalillahiwainnailaihirojiun, Tak Hanya Kabar Kematian


    Jakarta

    Innalillahiwainnailaihirojiun adalah kalimat yang sering kita dengar ketika ada kabar duka atau musibah yang menimpa seseorang.

    Kalimat ini mengandung makna yang dalam dan berfungsi sebagai bentuk pengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya.

    Mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiun adalah salah satu wujud keikhlasan dan penerimaan kita atas ketetapan Allah SWT, serta mengajarkan kita untuk tetap tegar dan berlapang dada dalam menghadapi ujian hidup.


    Pengucapan innalillahiwainnailaihirojiun dikenal sebagai kalimat tarji’. Dikutip dari buku Akidah Akhlak tulisan Fida’ Abdillah dkk., secara bahasa kalimat ini memiliki arti pengembalian segala sesuatu kepada Sang Pencipta. Ucapan ini mengandung makna bahwa setiap makhluk hidup diciptakan oleh Allah SWT dan suatu saat akan kembali kepada-Nya.

    Pengucapan kalimat ini tidak hanya merupakan bentuk ungkapan belasungkawa, tetapi juga menjadi simbol keimanan seorang Muslim dalam menghadapi musibah, bahwa apa pun yang terjadi adalah ketetapan dari Allah SWT.

    Simak lebih lanjut mengenai penggunaan bacaan innalillahiwainnailaihirojiun beserta kondisi-kondisi yang dianjurkan membaca kalimat tarji tersebut.

    Landasan Dalil Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun

    Landasan dari kalimat innalillahiwainnailaihirojiun tercantum dalam ayat Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah ayat 156 sebagai reaksi seorang Muslim saat mengalami musibah:

    اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

    Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).”

    Ayat ini memberikan pedoman bahwa saat ditimpa musibah, seorang Muslim hendaknya mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya. Sikap seperti ini membawa ketenangan dalam hati, menguatkan rasa tawakal, dan menanamkan keyakinan bahwa setiap cobaan merupakan ujian yang datang dari Sang Pencipta. Bagi umat Islam, kalimat tarji’ ini bukan hanya ucapan, melainkan pengingat yang kuat akan kuasa Allah SWT dalam kehidupan dan kematian.

    Bacaan Innalillahiwainnailaihirojiun: Tulisan Arab, Latin, dan Artinya

    Berikut ini adalah bacaan lengkap innalillahiwainnailaihirojiun dalam tulisan Arab, latin, dan terjemahannya.

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali.”

    Kapan Dianjurkan Membaca Innalillahiwainnailaihirojiun?

    Ucapan innalillahiwainnailaihirojiun biasanya diucapkan saat mendengar kabar kematian. Namun sejatinya, kalimat ini juga bisa diucapkan saat mendengar atau menghadapi musibah lainnya.

    Berikut adalah beberapa contoh keadaan yang dianjurkan untuk mengucapkan kalimat tarji innalillahiwainnailaihirojiun.

    1. Mendengar Kabar Kematian

    Saat mendengar kabar kematian seseorang dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali.”

    2. Terkena Musibah

    Saat terkena musibah atau cobaan berat dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, Allahumma inni a’udzu bika min al-jubni, wa a’udzu bika an uradda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatid dunya, wa a’udzu bika min ‘adzabil qabr.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan, kepikunan, musibah dunia, dan siksa kubur.”

    3. Tersandung di Jalan

    Saat tersandung atau mengalami kejadian kecil yang mengejutkan dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنَ الشُّرُورِ الَّتِي لَا تُرَى، وَأَبْعِدْنِي عَنْ كُلِّ سُوءٍ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, Allāhumma ihfaẓnī mina ash-shurūri allati lā turā, wa ab’idnī ‘an kulli sū’in.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah lindungilah aku dari keburukan yang tak terlihat dan jauhkanlah aku dari segala bahaya.”

    4. Kehilangan Barang atau Sesuatu

    Saat kehilangan barang atau sesuatu yang berharga, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ رَادَّ الضَّالَّةِ وَهَادِيَ الضَّالَّةِ تَهْدِي مِنَ الضَّلَالَةِ اُرْدُدْ عَلَيَّ ضَالَّتِي بِقُدْرَتِكَ وَسُلْطَانِكَ فَإِنَّهَا مِنْ عَطَائِكَ وَفَضْلِكَ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, Allahumma raddad dhaallati wa haadiyad dhaallati tahdii minad dhalaalati urdud ‘alayya dhaallatii bi qudratika wa sulthaanika fa innahaa min ‘athaa-ika wa fadhlika.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah Yang Maha Mengembalikan sesuatu yang hilang dan Penunjuk mereka yang tersesat, Engkau adalah Zat yang menunjukkan jalan keluar dari kesesatan, aku bermohon agar harta bendaku yang hilang dikembalikan kepadaku dengan ketetapan dan kekuasaan-Mu karena itu adalah dari pemberian dan anugerah-Mu kepadaku.”

    5. Ketika Sedang Sakit

    Saat sedang sakit, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ أعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُهُ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah a’uudzu bi ‘izzatillaahi wa qudroti min syarri maa ajiduhu.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, Aku berlindung dengan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya daripada kejelekan sesuatu yang telah aku rasakanya.”

    6. Terkena Musibah Banjir

    Saat terkena musibah banjir, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أَغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

    Arab lain: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, Allahumma inni a’udzu bimu’afaatika an u’aaqaba min niqmatika.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah aku berlindung dengan kebesaran-Mu dari kebinasaan dari bawahku.”

    7. Melihat Musibah Longsor atau Gempa Bumi

    Saat melihat musibah longsor atau gempa bumi, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْ تَزُولاً وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah Innal-lâha yumsikus-samâwâti wal-ardhi an tazûlan, Wa la’in zalatan in amsakahumâ min ahadin min ba’dihi.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang- pun yang dapat menahan kedua tangannya selain Allah.”

    8. Mendengar Berita Kebakaran

    Saat mendengar berita kebakaran, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar.”

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”

    9. Menjenguk Teman yang Sakit

    Saat menjenguk teman yang sakit, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ أَسْأَلُ اللهُ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يشفيك

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah as-alulloohal azhiima rabbal ‘arsyil adhiimi an yasyfiyaka.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah Aku mohon kepada Allah yang Mahaagung, Tuhan yang mempunyai singgasana yang agung, semoga Allah menyembuhkan engkau.”

    10. Mendoakan Orang yang Meninggal

    Saat mendoakan orang yang meninggal, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِـ … وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرٌ لَهُ فِيهِ.

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah, Alloohummaghfir li …… (sebutkan nama orang yang meninggal) warfa’ darojatahuu fil mahdiyyiin, wakhlufhu fii ‘aqibihii fil ghoobiriin, waghfir lanaa wa lahuu yaa robbal ‘aalamiin, wafsah lahuu fii qobrihii wa nawwir lahuu fiih.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, ampunilah …… (orang yang meninggal) dan angkatlah derajatnya di antara orang-orang yang mendapat petunjuk. Gantikanlah sesudahnya bagi mereka yang ditinggalkan, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan semesta alam. Lapangkanlah dia di kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.”

    11. Ucapan Belasungkawa kepada Keluarga yang Ditinggalkan

    Saat menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ إِنَّا لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرُ وَلْتَحْتَسِبْ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah, Innallaha må akhadza walahu mâ a’thả wa kullu syai-in ‘indahu bi ajalin musamman faltashbir waltahtasib

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah. Sesungguhnya Allah mempunyai hak untuk mengambil dan memberikan sesuatu, dan segala sesuatu yang berada di sisi-Nya ada batas waktu(ajal) yang telah ditentukan. Maka bersabarlah dan berharaplah pahala.”

    12. Mengharapkan Tempat Terbaik di Akhirat

    Saat mengharapkan tempat terbaik di akhirat bagi yang telah wafat, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ رَبِّ انْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah, Rabbi anzilnî munzalan mubarakan wa anta khair almunzilîn.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi. Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat.”

    13. Doa Menambahkan Ketabahan

    Saat memohon ketabahan dalam menghadapi ujian, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الْكَافِرِينَ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah, Rabbanaa afrigh ‘alaina shabraw wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qaumil kafirin.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

    14. Doa Menguatkan Keimanan

    Saat memohon agar keimanan semakin kuat, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah Qul allāhumma qinī sharra nafsī wa a’zim lī ‘alā arshadi amrī.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah jagalah aku dari keburukan jiwaku, dan berikanlah aku keteguhan hati untuk menentukan yang terbaik pada urusanku.”

    15. Memohon Ampunan dan Rahmat Dari Allah SWT

    Saat memohon ampunan dan rahmat dari Allah SWT, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah. Rabbana zhalamnâ anfusana wa in lam taghfir lanâ wa tarhamnâ lanakûnanna min al-khâsirîn.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

    16. Mendoakan Masuk Surga

    Saat mendoakan agar dapat masuk surga, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah. Allaahumma inaa nas-aluka ridhaaka wal jannata wa na’uudzubika min sakha- thika wan naari

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah sesungguhnya kami memohon ridha-Mu dan surga, dan kami berlindung dari murka-Mu dan neraka.”

    17. Melindungi dari Siksa Kubur

    Saat memohon perlindungan dari siksa kubur, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَاعْوذُ بِكَ أَنْ أَرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ( يَعْنِي فِتْنَةً الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah’, Allahumma inni a’udzu bika min al-bukhli wa a’udzu bika min al-jubni wa a’udzu bika an uradda ila ardzalil ‘umuri wa a’udzu bika min fitnatid-dunya (ya’ni fitnatad-dajjal) wa a’udzu bika min ‘adzabil-qabr.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu pula dari sifat pengecut. Aku berlindung kepada-Mu dari sisa umur yang sia-sia. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa dunia (yakni siksaannya Dajjal), dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.”

    18. Memberikan Kesabaran

    Saat memohon kesabaran, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي صَبُوْرًا وَاجْعَلْنِي شَكُورًا وَاجْعَلْنِي فِي عَيْنِي صَغِيرًا وَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ كَبِيرًا.

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah. Allaahummaj’alnii shabuuraa waj’alnii syakuraa waj’alnii fii ‘ainii shaghiraa wa fii a’yuniin naasi kabiiraa.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, jadikanlah aku golongan orang-orang yang sabar dan jadikanlah aku golongan orang- orang yang bersyukur. Serta, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku dan besar dalam pandangan manusia.”

    19. Agar Dosa Diampuni

    Saat memohon agar dosa diampuni, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah. Rabbanaa innanaa aamannaa faghfir lanaa dzunuubanaa wa qinaa ‘adzzaban naar.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

    20. Doa Kelapangan Kubur

    Saat mendoakan kelapangan kubur bagi yang telah wafat, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَا بِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوْرْ لَهُ فِيهِ وَاخْلُفْهُ فِي عَقْبِهِ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah, Allahummaghfir li abi salamata warfa’ darajatahu fil mahdiyyina wafsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu fihi wakhlufhu fi ‘aqbihi.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, ampunilah dosa Abu Salamah (ganti dengan nama mayat), semoga Engkau mengangkat derajatnya bersama orang-orang yang mendapat hidayah, lapangkanlah kuburnya, terangilah di dalamnya dan semoga Engkau menggantinya pada keturunannya.”

    21. Mengharapkan Syafaat Nabi Muhammad SAW

    Saat mengharapkan syafaat Nabi Muhammad SAW, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ للَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَفَاعَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَاجْعَلْنِي مِنْ أُمَّتِهِ الَّذِينَ يَحْظَوْنَ بِحِمَايَتِهِ وَبَرَكَتِهِ.

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah, Allāhumma arzuqnī shafā’ata nabiyyika Muḥammadin ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam yawma al-qiyāmah, waj’alnī min ummatihi alladhīna yaḥẓawna biḥimāyatihi wa barakatihi.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah, anugerahkanlah aku syafaat Nabi-Mu, Muhammad SAW, di hari kiamat nanti, dan jadikanlah aku termasuk umat yang mendapat perlindungan dan keberkahan dari beliau.”

    22. Sebagai Bentuk Kepasrahan

    Saat mengungkapkan kepasrahan kepada Allah SWT, dapat membaca

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ يا ٱللَّٰهِ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلُّني أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوْتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسِ يَمُوتُوْنَ

    Arab latin: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, ya Allah, Allaahumma laka aslamtu, wabika aamantu, wa’alaika tawakkaltu, wailaika anabtu, wabika khashamtu. allaa- humma innni a’uudzubika bi’izzatika laa ilaaha illaa anta an tudlillanii, antal hayyulladzii laa yamuutu waljinnu wal insu yamuutuuna.

    Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita semua akan kembali. Ya Allah kepada-Mu-lah aku memasrah- kan diri, kepada-Mu aku beriman, dan juga kepada- Mu aku bertawakal serta kepada-Mu aku memohon perlindungan. Ya Allah…sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (janganlah Engkau) menyesatkan aku, sebab Engkau adalah Tuhan Yang Mahahidup yang tidak akan mati, sementara jin dan manusia akan mati binasa.”

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa Selamat dari Musibah, Bisa Diamalkan saat Ada Bencana


    Jakarta

    Ada doa selamat yang bisa diamalkan agar selamat dari musibah. Setiap muslim bisa mengamalkan doa selamat, tujuannya agar terlindung dari berbagai musibah sekaligus memohon perlindungan Allah SWT.

    Berdoa adalah sebuah ibadah sekaligus cara berkomunikasi seorang hamba kepada Allah SWT. Doa juga menjadi amalan yang diperintahkan Allah dan termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min ayat 60, Allah SWT berfirman,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


    Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

    Mengutip buku Doa Menghadapi Musibah karya Arif Munandar Riswanto, doa berasal dari bahasa Arab da’a yad’u da’wah du’a. Secara bahasa ia berarti memanggil, mengundang, memohon, dan meminta.

    Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Doa menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluk lemah yang selalu membutuhkan Allah, Dzat Yang Memiliki sifat Maha Segalanya.

    Doa Selamat dari Musibah

    Berikut beberapa doa selamat yang bisa dibaca ketika sedang tertimpa musibah.

    1. Doa ketika Tertimpa Musibah

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

    Arab-latin: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

    Artinya: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 156)

    2. Doa Selamat Kebaikan Dunia dan Akhirat

    رَبَّنَاا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
    Arab-latin: Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah, wa qinaa adzabannaari.

    Artinya: Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.

    3. Doa Selamat Dunia dan Akhirat

    اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

    Arab-latin: Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin wa afiyatan fil-jasadi wa ziyadatan fil-ilmi wa barakatan firrizqi, wa taubatan qablal-maut, wa rahmatan indal-maut, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahumma hawwin alaina fi sakaratil maut, wannajatan minannaari, wal afwa indah hisab.

    Artinya: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau akan keselamatan agama, kesehatan badan, tambahnya pengetahuan, berkahnya rezeki, mendapatkan tobat sebelum mati, mendapat rahmat ketika mati, mendapat ampunan sesudah mati. Dan ringankanlah kiranya dalam sakaratul maut, dan selamatkanlah kiranya dari siksa neraka dan dapatkan kami ampunan pada hari hisab (perhitungan).

    4. Doa Selamat dan Nikmat Dunia Akhirat

    اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَ قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَعِنْدَ الْحِسَابِ، رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ، رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab-latin: Allahumma innaa nas-aluka salaamatan fid diini wa ‘afiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wa barokatan fir rizqi wa taubatan qablal mauti wa rohmatan ‘indal mauti wa maghfirotan ba’dal mauti, allahummaa hawwin ‘alainaa fil sakaraatil mauti wannajaata minan naari wal ‘afwa ‘indal hisaabi, rabbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa mil ladunka rahma, innaka antal wahhaab, rabbanaa aatinaa fiddunnyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaa ban naar.

    Artinya: Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, dan kesejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rezeki, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami saat pencabutan nyawa selamat dari api neraka dan mendapat kemaafan ketika amal diperhitungkan. Ya Allah, janganlah Engkau goyahkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.

    5. Doa Selamat dan Tolak Bala

    اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ القُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ العَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الجَنَّةِ اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَا وَعَذَابَ الآخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

    Arab-latin: Allahummaftah lana abwabal khair, wa abwabal barakah, wa abwaban ni’mah, wa abwabar rizqi, wa abwabal quwwah, wa abwabas shihhah, wa abwabas salamah, wa abwabal ‘afiyah, wa abwabal jannah.
    Allahumma ‘afina min kulli bala’id dunya wa ‘adzabil akhirah, washrif ‘anna bi haqqil qur’anil ‘azhim wa nabiyyikal karim syarrad dunya wa ‘adzabal akhirah. Ghafarallahu lana wa lahum bi rahmatika ya arhamar rahimin. Subhana rabbika rabbil ;izzati ‘an ma yashifun, wa salamun a’alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

    Artinya: Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah dan pintu surga.

    Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hal Alquran yang agung dan derajat Nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai Dzat yang maha pengasih. Maha suci Tuhan, Tuhan keagungan dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada Rasul. Segala puji bagi Allah, semesta alam.

    Kedudukan Doa Bagi Muslim

    Mengutip Abdul Razzaq ibn Abdil Muhsin Al-Badr dalam Kitab Al-Dzikr wa Al-Du’a’fi Dhau’ A-Kitâb wa Al-Sunnah, jika melihat ke dalam Al-Quran dan Sunnah, kita akan mendapatkan kedudukan doa, sebagai berikut:

    1. Doa adalah sesuatu yang membedakan orang sombong dan tidak sombong. Allah SWT berfirman, Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscava akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (QS AI-Mu’min: 60).

    2. Allah SWT Maha dekat, dan karenanya Dia pasti akan mengabulkan setiap orang yang berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Dạn apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS Al-Baqarah [2]: 186).

    3. Doa adalah ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “Doa adalah ibadah. ” (HR A-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad).

    4. Doa adalah sesuatu yang mulia bagi Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah daripada doa. ” (HR Al-Hakim).

    5. Orang yang tidak pernah berdoa akan mengundang murka Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa tidak pernah berdoa kepada Allah, Dia akan marah kepadanya.” (HR Al-Tirmidzi dan Ibn Majah).

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com