Tag: nabi muhammad saw

  • Apa Substansi dan Strategi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah?


    Jakarta

    Rasulullah SAW berdakwah di tengah-tengah masyarakat Makkah yang penuh dengan kemaksiatan dan kesesatan. Tak jarang pula beliau mendapat ancaman pembunuhan. Lalu apa substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW?

    Pada dasarnya, substansi atau isi dan strategi dakwah Rasulullah SAW ketika diutus Allah SWT bertujuan untuk menolong umat manusia agar kembali ke jalan yang benar. Untuk itu, diperlukan strategi dakwah yang tepat agar substansi dakwah tersebut tersampaikan.

    Substansi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah

    Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam Kelas X oleh Bachrul Ilmy, Rasulullah SAW diutus Allah SWT untuk meluruskan dan mengajak masyarakat Makkah yang saat itu dipenuhi dengan kemaksiatan dan kejahatan yang keji ke jalan yang benar.


    Masyarakat Makkah kala itu gemar untuk melakukan pesta pora sambil menyembah berhala yang berada di dekat Ka’bah. Mereka memuja Hubal si dewa laki-laki yang paling ditakuti, serta Lata, Uzza, dan Manatta sebagai dewa perempuan yang disenangi.

    Kekejaman masyarakat Makkah kala itu adalah mereka gemar mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka. Maka peperangan antar suku, perampokan, atau perampasan harta benda bukanlah hal yang tidak asing bagi mereka.

    Allah SWT mengutus Rasulullah SAW untuk berdakwah dan membawa kebenaran serta cahaya dari gelapnya Makkah kala itu dengan agama Islam dengan substansi dakwah Rasulullah SAW sebagai berikut:

    1. Memurnikan Akidah

    Dakwah Nabi SAW kepada masyarakat Arab kala itu bertujuan untuk memurnikan akidah, yaitu ajaran Nabi Ibrahim AS yang telah diselewengkan oleh mereka. Beliau menumpaskan penyembahan berhala serta mengajak kembali kepada ketauhidan.

    Akhirnya setelah kurang lebih berdakwah selama 23 tahun, Nabi SAW bisa menaklukkan kembali kota Makkah dan menghancurkan berhala dengan gerakan “Fathu Makkah” atau “Penaklukan Kota Makkah.”

    2. Menambah Kemuliaan Akhlak

    Substansi dakwah Rasulullah SAW yang kedua adalah untuk menanamkan kemuliaan akhlak. Artinya, beliau datang untuk memperbaiki serta menyempurnakan akhlak masyarakat Arab dan manusia seluruhnya saat itu hingga sekarang.

    Beliau memperbaiki moral mereka yang rusak yang bahkan tega mengubur hidup-hidup anak perempuan yang lahir di antara mereka lantaran malu kalau mereka tidak bisa berperang.

    3. Membebaskan Kaum yang Tertindas

    Penguasa Arab saat itu gemar untuk menindas orang-orang lemah dan yang mereka anggap rendah derajatnya. Bahkan mereka diperjualbelikan layaknya benda. Sehingga Rasulullah SAW datang untuk membebaskan tirani dan penindasan terhadap budak dan orang-orang lemah tersebut.

    4. Membangun Kebudayaan yang Beradab

    Rasulullah SAW juga diutus untuk membangun budaya yang lebih beradab dan lebih baik, yaitu budaya yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman yang mulia.

    Strategi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah

    Setelah Rasulullah SAW mendapatkan wahyu pertamanya, Allah SWT memerintahkan beliau untuk berdakwah untuk memperbaiki moral dan akidah masyarakat Arab, khususnya Makkah.

    Awalnya Nabi Muhammad SAW hanya berdakwah kepada orang-orang terdekat sehingga kala itu pengikutnya hanya sedikit. Namun, semakin lama semakin bertambah pengikut beliau yang mana hal itu membuat para kafir dan pembesar Arab geram sampai ingin membunuh beliau. Untuk itu, ada dua strategi dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW:

    1. Dakwah Sembunyi-sembunyi

    Pada awal periode dakwah Rasulullah SAW, beliau belum memiliki banyak pengikut. Setelah menerima wahyu pertama, beliau belum berdakwah kepada banyak orang melainkan hanya keluarga dan kerabat dekat.

    Pada wahyu yang kedua, barulah Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk menyampaikan pada umatnya dan masyarakat Arab yang penuh kemusyrikan. Wahyu yang kedua adalah Al-Qur’an surah Al-Muddassir ayat 1-7 yang bunyinya,

    يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ -١

    1. Wahai orang yang berkemul (berselimut)!

    قُمْ فَاَنْذِرْۖ – ٢

    2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

    وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ – ٣

    3. dan agungkanlah Tuhanmu,

    وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ – ٤

    4. dan bersihkanlah pakaianmu,

    وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ – ٥

    5. dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji,

    وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ – ٦

    6. dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

    وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ – ٧

    7. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.

    Setelah perintah ini turun, barulah Rasulullah SAW melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi kepada umatnya. Dakwah ini dilakukan selama tiga tahun lamanya dan disertai dengan banyak cobaan dan cercaan dari banyak orang.

    2. Dakwah Terang-terangan

    Dakwah secara terang-terangan dilakukan Rasulullah SAW setelah pengikutnya semakin banyak. Allah SWT memerintahkan beliau untuk berdakwah secara terang-terangan melalui sabdanya Al-Qur’an surah Al-Hijr ayat 94 yang bunyinya,

    فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

    Artinya: Maka, sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.

    Setelah mendapat wahyu tersebut, Rasulullah SAW mulai menerangkan ajaran Islam secara terang-terangan. Menurut buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh H. Fida’ Abdilah, dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan memperoleh banyak kecaman dan reaksi buruk dari para pembesar Quraisy.

    Bahkan paman Nabi SAW sendiri juga menentang ajaran yang dibawa oleh keponakannya itu. Kisahnya tersebut bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-Lahab.

    Namun, para muslimin saat itu tidak pernah gentar maupun takut dengan segala ancaman dan sikap jahat dari pembesar Quraisy. Keberanian mereka bahkan semakin besar setelah Umar bin Khattab, sang penentang dakwah Nabi SAW, mengakui keislamannya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Tokoh Quraisy yang Menentang Dakwah Rasulullah di Bukit Shafa


    Jakarta

    Dakwah Rasulullah SAW dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari dakwah secara sembunyi-sembunyi, sampai dengan dakwah secara terang-terangan. Sejumlah tokoh Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW ketika beliau mengumpulkan mereka.

    Dalam melaksanakan dakwahnya, beliau selalu mendapat banyak cobaan. Seperti dihina, diejek, ditentang, dan bahkan hendak dibunuh. Namun, Allah SWT selalu menyertai hamba yang paling dicintai-Nya tersebut sehingga beliau bisa menegakkan kebenaran dan memberantas kemaksiatan.

    Orang-orang yang menentang dakwah Rasulullah SAW, salah satunya adalah kaum kafir Quraisy. Bahkan paman Nabi SAW sendiri juga termasuk di dalamnya.


    Tokoh Quraisy yang Menentang Dakwah Nabi Muhammad

    Setelah berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama kurang lebih tiga tahun, Nabi Muhammad SAW akhirnya mendapat perintah dari Allah SWT untuk melakukan dakwahnya secara terang-terangan, jelas buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang ditulis oleh Ahmad Taufik dan Iim Halimah.

    Dakwah secara terang-terangan ini dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah turun firman Allah SWT dalam surah Al-Hijr ayat 94 yang bunyinya:

    فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

    Artinya: “Maka, sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

    Dengan ayat ini, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang sudah masuk Islam mempersiapkan diri untuk melakukan dakwah mereka terhadap kaum Quraisy secara terang-terangan.

    Salah satu cara yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk berdakwah secara terang-terangan adalah dengan mengundang tokoh-tokoh penting kafir Quraisy di Bukit Shafa. Namun dakwah itu mendapatkan banyak kecaman dan tentangan dari mereka.

    Tokoh Quraisy yang menentang keras dakwah Nabi Muhammad SAW ketika beliau mengumpulkan kaum Quraisy yaitu Abu Lahab, Abu Jahal, dan Umar bin Khattab.

    Ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyampaikan pidato tentang ajaran Islam kepada kaum Quraisy itu, Rasulullah SAW malah mendapat perlakuan kasar dan hinaan dari mereka. Bahkan paman Rasulullah SAW yang bernama Abu Lahab, menentang keras dakwah tersebut, seperti dikatakan dalam buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam oleh Imam Subchi.

    Abu lahab berkata, “Celakalah engkau wahai Muhammad untuk selama-lamanya, untuk inikah engkau mengumpulkan kami semua di sini?”

    Setelah Abu Lahab berkata seperti itu, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Lahab ayat 1-5, yang artinya:

    “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.”

    Ejekan dan hinaan yang keras dari pamannya sendiri tersebut tidak lantas membuat semangat dakwah Nabi Muhammad SAW surut dan bahkan hilang. Hal ini malah membuat Nabi Muhammad SAW lebih gigih, semangat, dan gencar untuk melakukan dakwahnya. Seruan beliau untuk melawan kemusyrikan dan kejahatan terus bergema di pelosok Kota Makkah.

    Akhirnya, sedikit demi sedikit orang-orang mulai mau menerima Islam. Terbukti dengan beberapa orang dari golongan lemah seperti budak, orang-orang miskin akhirnya mengakui keislamannya. Tulis sumber sebelumnya.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sang Rasul



    Jakarta

    Siang itu, di tahun-tahun pertama hijrah. Nyaris 1445 tahun yang lalu. Seorang lelaki melangkah cepat. Ia tidak sedang mengejar sesuatu. Memang begitu cara dia berjalan. Matahari mengejarnya. Menciptakan bayangan yang enggan bersicepat dengannya. Makhluk luar angkasa itu berdiameter 200 kali bumi. Sayapnya mengepak. Berkirim panas hidrogen. Bereaksi secara termonuklir menjadi gas helium. Berjarak 150 juta km. dari bumi.

    Panasnya membuat kulit melepuh. Teriknya memaksa siapa pun mencari tempat berlindung. Di negeri itu, tidak mudah ditemukan tumbuhan dan pepohonan. Apalagi yang rindang untuk berteduh. Suhu siang hari bisa tembus 38 derajat celcius. Malam bisa turun menukik hingga 15 derajat celcius. Keadaan alam memaksa manusia bersiasat. Mencari jalan keluar dari kondisi yang menyebabkan hidup tidak mudah. Membuat darah tiada henti mendidih.

    Lelaki itu bermandikan matahari. Tiba di sebuah rumah sangat sederhana, ia berucap salam. Lalu masuk. Seorang perempuan mengambil tikar terbuat dari kulit yang dia gulung. Alas duduk yang biasa bersandar di tembok. Ia menghamparkannya. Menyilakan sang tamu. Tamu melempar senyum. Dan, seperti di siang-siang lainnya, lelaki berbadan tegap itu menikmati “qailulah”–tidur sebentar menjelang matahari tiba di tengah horison.


    Lelehan Keringat

    Hanya beberapa kejab, badan materi lelaki itu terlelap. Tenang dalam dekapan alam mikrokosmos. Suhu di luar rumah yang naik meningkat, membuat pori-pori tubuhnya merekah. Dari lubang-lubang super halus di kulit, perlahan peluh metes. Tuan rumah, perempuan itu, bersegera mengambil botol berleher kecil dan bermulut lebar. Sembari mengatur langkahnya agar tidak mengganggu tidur sang tamu, ia mulai menampung lelehan keringat.

    Saat terjaga dari tidur siangnya, lelaki itu bertanya. “Apa yang kamu lakukan ?” “Wahai Rasulallah. Keringatmu akan kujadikan minyak wangi. Aku berharap keberkahan untuk anak-anakku,” ujar perempuan itu. Lelaki yang disapa Rasulullah menjawab, “Engkau benar,” katanya sambil mendoakan kebaikan untuk keluarga Ummu Sulaim. Kini kita tahu, lelaki mulia itu adalah Sang Rasul dan perempuan itu adalah Ummu Sulaim ; ibunda sahabat Nabi, Anas bin Malik ra.

    Adakah riwayat yang bisa dipahami bahwa manusia agung ini melarang Ummu Sulaim melakukan itu ? Kita belum menemukannya. Yang bisa kita pahami adalah Sang Rasul justeru membiarkan Ummu Sulaim. Bahkan membenarkannya. “Maadzaa Shona’ti–apa yang kamu perbuat,” tanya Nabi. Setelah mendengar jawaban Ummu Sulaim, Nabi berucap, “Ashobti–Kamu benar,” jawab Nabi, yang hari ini umat Islam sedunia, bersuka cita atas maulidnya.

    Berebut Ludah

    Alkisah. Pada tahun keenam hijrah, umat Islam berkonfrontasi dengan kaum musyrik. Kurang lebih 1400 kaum muslimin mendirikan kemah di Hudaibiyah, daerah sekitar Mekkah. Nabi berencana melaksanakan ibadah haji. Kaum musyrik menolak. Mereka berkirim utusan. Urwah As Tsaqafi, seorang utusan, pulang bukan saja membawa traktat perjanjian tapi juga menyimpan kesan mendalam dan memesona. Kepada para petinggi kaum Qurays ia berucap :

    “Saya berkali-kali menjadi utusan kepada raja-raja. Saya pernah diutus menemui kisra, kaesar, najasyi. Demi Allah, umat Islam itu luar biasa. Saya belum pernah melihat para senopati memuliakan rajanya seperti para sahabat memuliakan Muhammad, nabi mereka. Setiap kali dia meludah, ludah itu pasti jatuh ke tangan salah seorang di antara mereka lalu orang itu mengusapkan ludah ke wajah dan kulitnya,” kata Urwah. Orang-orang kafir takjub.

    “Demi Allah, bila Muhammad memberi suatu perintah kepada mereka, maka mereka akan bergegas melaksanakan perintahnya,” lanjut Urwah. Sejumlah petinggi Mekkah mulai gentar. Hati mereka bergetar. “Dan bila dia hendak berwudhu’, para sahabatnya hampir berkelahi hanya karena saling berebut sisa air wudhu’ Nabi mereka. Jika hendak berbicara, mereka senantiasa merendahkan suara mereka di hadapan Muhammad,” jelas Urwah bersemangat.

    “Mereka akan selalu menjatuhkan pandangan di hadapan Muhammad, sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi mereka.” Sebagaimana dicatat sejarah, meski ada butir-butir Perjanjian Hudaibiyah yang dinilai merugikan umat Islam, tapi di tahun berikutnya, Nabi SAW berhasil menunaikan ibadah haji. Tahun itu kaum Qurays takluk dan Mekkah kembali ke tangan Nabi Muhammad dan umat Islam. Tahun yang jadi isyarat akan segera sempurnanya risalah dan nubuwah Sang Rasul.

    Kultus vs Cinta

    Dua kisah penuh magi di atas, dapat kita baca dari laporan perawi hadits kenamaan, Bukhari-Muslim. Statusnya sahih. Dapat dijadikan sandaran dalam berhukum, beribadah dan bermuamalah. Andaikata Ummu Sulaim mengisahkan pengalamannya kepada kita saat ini, akan ada umat Islam masa kini yang menyebut itu tindakan kultus individu. Sebuah istilah yang tidak jelas batasan dan maksudnya selain untuk memukul.

    Jika saja Urwah bin Mas’ud As Tsaqafi menuturkan kesan pertemuan dengan Nabi itu saat ini, hampir pasti akan ada yang menilai itu berlebihan. Bukan saja berlebihan, tapi mereka akan menggunakan frasa yang sangat menyakitkan ; bid’ah. Malah kelompok tertentu menyebutnya syirik. Karena musyrik maka berkonsekuensi pada maksiat. Karena maksiat, pelakunya mendapat dosa. Karena dosa, maka pertanggungjawabannya di neraka.

    Mayoritas umat Islam yang bersuka cita dengan datangnya maulid nabi, akan suka rela menyebut prilaku Ummu Sulaim dan para sahabat lain di Hudaibiyah, dengan sebutan ekspresi cinta. Karena cinta kepada Sang Rasul, maka mereka akan cinta pada apa saja yang datang darinya, hatta ludah sekalipun. Karena cinta mereka kepada Sang Rasul, sisa air wudhu manusia agung itu pun jadi rebutan. Atas nama cinta, mereka dengan suka cita menyimpan rambut Sang Nabi.

    Salah seorang jenderal terbesar dan panglima perang paling legendaris dalam Islam, Khalid bin Walid, berbisik kepada Hamam, budaknya yang paling setia. Di atas ranjang kematiannya, setelah mendapat surat dari Khalifah Umar bin Khattab, Khalid minta Hamam mengambilkan tutup kepala yang biasa ia kenakan dalam setiap peperangan. Ada selembar rambut di salah satu sisinya. “Ini rambut Sang Nabi,” katanya bangga.

    Atsar Cinta

    Ludah, rambut, air wudhu, Hudaibiyah, tempat, tahun, hari, adalah atsar. Atsar adalah waktu, tempat dan permbuatan yang berkait dengan seseorang yang dicinta. Saat Majnun melewati rumah Layla, ia diam tercekat. Ia pandangi rumah Layla dengan larik-larik cinta yang dapat menembus dinding. Dengan kekuatan cinta, ia berkirim hasrat kepada Layla. Ia mencium dinding. Bukan dinding itu yang dia maksud tapi Layla yang ada di balik dinding. Itulah ekspresi cinta.

    Seorang kawan di pagi yang lembut, memasuki kamar anaknya. Ia terhenti di pintu. Dua bola matanya menyapu bersih semua sudut kamar. Anaknya pergi ke negeri jauh, bahkan melintasi ruang waktu. Perlahan ia duduk di kursi, tempat biasa anaknya mengulang pelajaran. Dia ambil buku harian. Lalu beringsut ke atas tempat tidur. Dia peluk bantal dan guling. Ia cium. Ada aroma anaknya di situ. Air mata pun jatuh. Amboi, dia “bertemu” anaknya !

    Pasangan suami isteri, kawan liputan saya, kehilangan seorang anaknya akibat kecelakaan. Tidak mudah bagi orang tua manapun melupakan anaknya dan kejadian itu. Demikian pilu, semua atsar terkait anaknya, ia kenang lagi. Ia kunjungi tempat-tempat biasa si anak latihan bola, latihan renang dan tentu saja teman-teman sekolahnya. Ketika pulang, ia bongkar lemari. Ia basahi baju seragam yang terakhir dipakai anaknya, dengan air mata. Air mata cinta !

    Bisa jadi anak-anak masa kini akan menyebut mereka di atas adalah para bucin alias budak cinta. Tapi, bagi cinta, semua perkara hidup jadi nisbi. Semua urusan berhenti di kata cinta. Ketika mendefinisikan cinta, Imam Ghazali menulis, “Cinta adalah tujuan puncak dari seluruh maqam tertinggi. Tiada lagi maqam lebih tinggi selain sebagai buah dari cinta. Rindu, uns, mesra, taubat, ridha, sabar, zuhud adalah buah cinta. Cinta kepada-Nya.”

    Para “tokoh” di balik kisah cinta di atas, tidak sedang berlaku syirik apalagi menyekutukan Tuhan. Lihatlah bagaimana bangsa-bangsa besar di dunia menegakkan patung-patung raksasa sebagai ekspresi cinta dan cara mereka mengenang jasa para pahlawan. Saksikan di banyak negara bagaimana bangsa-bangsa mengenang pendiri bangsa dengan menjadikannya nama jalan, gedung, stadion atau apapun. Itulah cinta !

    Maka, selama cinta masih tertanam dalam, tertancap kuat, berkembang pesat, siapa pun akat sulit melarang umat Islam memeringati maulid Nabi, isra dan mi’raj, nuzulul qur’an, tahun baru hijriah, barzanjian, diba’an, manaqiban, ziarah kubur Nabi, sahabat, tabiin, ulama, para wali, dan guru-guru. Apalagi di musim haji dan umroh. Para penggila cinta, tanpa kuatir akan kesehatan, tanpa peduli umur, hingga mengabaikan pekerjaan, akan senang menjawab panggilan Sang Rasul. Labbayka Ya Rasulallah !

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sulitnya Perjuangan Nabi Muhammad saat Dakwah di Makkah



    Jakarta

    Perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah tidak pernah luput dari berbagai penolakan dari kaum kafir. Mereka tak segan untuk mengejek, menyiksa, dan bahkan berusaha membunuh umat Islam dan Nabi Muhammad SAW.

    Penentangan yang dibarengi dengan kekerasan lebih banyak terjadi ketika dakwah Nabi Muhammad SAW dilakukan secara terang-terangan atas perintah Allah SWT, sebagaimana diceritakan dalam buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam karya Murodi.

    Saat itu kafir Quraisy menganggap ajaran yang dibawa oleh Nabi muhamamd SAW tidak ada dasarnya dan tidak jelas karena mereka pikir apa yang mereka kerjakan adalah peninggalan dari nenek moyang dan tidak boleh ditinggalkan. Sehingga mereka tidak peduli dan berusaha menentangnya habis-habisan agar beliau berhenti berdakwah.


    Perjuangan Nabi Muhammad SAW menghadapi halangan orang-orang kafir sangatlah berat. Penentangan itu datang dari dengan berbagai macam bentuk dan metode.

    Abu Lahab adalah salah satu tokoh Quraisy yang selalu menghalangi dan menentang dakwah Nabi Muhammad SAW dengan cara menebarkan fitnah, menebar terror, mengejek, dan selalu menghalangi beliau.

    Banyak cara yang kaum kafir Quraisy lakukan untuk menghentikan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah, termasuk percobaan pembunuhan.

    Salah satu percobaan yang dilakukan pimpinan Quraisy adalah tawaran kepada Abu Thalib untuk mengganti Nabi Muhammad SAW dengan seorang pemuda tampan bernama Amrah Ibn al-Walid al-Mughirah yang usianya sama dengan beliau agar bisa membunuh keponakannya.

    Abu Thalib lantas menjawabnya dengan suara keras dan lantang, “Hai orang kasar! silakan dan berbuatlah sesukamu, aku tidak takut.” Kemudian Abu Thalib mengundang keluarga Bani Hasyim agar mau membantu melindungi Nabi Muhammad SAW.

    Percobaan selanjutnya adalah mengutus Uthbah bin Rabi’ah untuk membujuk Nabi Muhammad SAW untuk menghentikan perjuangan dakwahnya. Ia menawari Rasulullah SAW apa pun, termasuk menjadikan beliau menjadi raja agar mau berhenti menyebarkan Islam.

    Tentu saja itu tidak akan membuat perjuangan Nabi Muhammad SAW terhenti. Beliau menjawabnya dengan membacakan surah Fussilat ayat 13 yang berbunyi,

    فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَقُلْ اَنْذَرْتُكُمْ صٰعِقَةً مِّثْلَ صٰعِقَةِ عَادٍ وَّثَمُوْدَ

    Artinya: Jika mereka berpaling, katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu (azab berupa) petir seperti petir yang menimpa (kaum) ‘Ad dan (kaum) Samud.”

    Perjuangan Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sampai di sana. Kaum kafir tetap menentang dan berusaha menghentikan dakwah beliau. Penyiksaan yang tak manusiawi terhadap mukminin tidak bisa lagi dihindarkan.

    Di antara sahabat nabi yang mendapat siksaan dari kafir Quraisy adalah Bilal bin Rabbah yang dengan kejamnya dijemur di terik matahari dan di atasnya ditimpa dengan batu besar.

    Ibunda Yasir yang bernama Sumaiyah dibunuh oleh Abu Jahal dengan tusukan tombak secara sadis hingga dirinya wafat. Sahabat-sahabat lain yang mendapat siksaan adalah Amr bin Yasir, Ummu Ubais, Zinnirah, Abu Fukaihah, Al-Nadyah, Amr bin Furairah, dan Hamamah. Mereka mendapat siksaan berupa pukulan, cambukan, dan tidak diberi makan dan minum.

    Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah menghadapi penentangan kaum kafir terus berlanjut hingga mereka berbondong-bondong memboikot Rasulullah SAW dan seluruh pengikutnya.

    Boikot itu di antaranya berisi tentang larangan menikahi orang-orang Islam, larangan jual beli dengan orang Islam, larangan berkomunikasi dengan orang Islam, dan perintah menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada kaum kafir agar bisa dibunuh.

    Selama kurang lebih tiga tahun, pemboikotan yang menyengsarakan umat Islam itu akhirnya berhenti ketika para pemimpin Quraisy yang masih memiliki hati nurani dan ada hubungan kekeluargaan dengan Bani Hasyim dan Bani Muthalib merobek piagam tersebut.

    Setelah kondisi umat Islam perlahan pulih, perjuangan Nabi Muhammad SAW untuk mendakwahkan agama Islam akhirnya berlanjut dengan memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Rasulullah SAW tetap tinggal di Makkah untuk mengatur strategi agar bisa pindah ke tempat lain untuk mengembangkan dakwahnya.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Lima Hal Bagi Pemimpin



    Jakarta

    Menurut Imam Syafi’i ada lima hal ( karakter ) bagi seorang pemimpin yaitu, bicaranya jujur, pandai menyimpan rahasia, menepati janji, mengawali dalam nasihat, dan menjalankan amanah. Ini karakter pemimpin yang ideal, namun dalam kehidupan nyata seorang pemimpin untuk berbicara jujur saja sangatlah berat apalagi bisa menepati janji yang kadang diobral saat melakukan kampanye. Oleh karena itu, wahai pemimpin negeri maupun rakyat pemilih, selalu berzikirlah untuk mengingat Allah SWT. agar diberi bimbingan untuk menjalankan amanah menuju negeri yang aman, tenteram, damai dan harmonis, yang di dalamnya ada rasa saling menghormati dan saling membantu.

    Jujur dalam Bicara. Secara umum, jujur adalah sebuah sifat yang membutuhkan kesesuaian antara perkataan yang diucapkan serta perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Itu artinya, seseorang kemudian dapat dikatakan jujur jika ia mengucapkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi dan disertai dengan tindakan yang seharusnya. Pemimpin merupakan panutan masyarakat, kejujuran adalah keharusan karena dampak dari kejujurannya akan membawa atmosfir yang baik dalam kehidupan masyarakat.

    Karena begitu pentingnya sikap jujur ini sampai Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur`an surah at-Taubah ayat 119 yang artinya, “bahwa Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dan bertaqwa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya kemudian Allah perintahkan agar berteman bergaul dan bersama orang-orang yang jujur”
    Adapun makna ayat ini adalah Allah SWT. berfirman kepada orang-orang beriman agar bertakwa kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa jujur dalam janji, perkataan, dan perbuatan mereka.


    Menepati Janji. Dalam Islam, sifat jujur dan menepati janji adalah hal yang harus dipupuk dalam diri. Jika berani mengucap janji, maka harus berani pula untuk menepati dan melaksanakannya sesuai kesepakatan. Sebaliknya, jika mengingkari janji, maka ada konsekuensi yang harus diterima.
    Pada masa-masa kampanye biasanya sebagian para calon “memberikan banyak janji” maka pada saatnya hendaknya dipenuhi, jika tidak realisasi maka jatuhlah reputasinya. Sebaiknya para calon pemimpin tidak mengumbar janji, hal ini sama dengan mengumbar hutang.

    Adapun perintah Allah SWT. agar setiap orang yang telah berjanji harus memenuhinya, sebagaimana dalam firman-Nya surah an-Nahl ayat 91 yang artinya, “Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah, setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

    Pandai Menyimpan Rahasia. Menyembunyikan rahasia merupakan perintah dalam ajaran Islam. Rahasia adalah penting, jika terbuka maka bisa terjadi keretakan dalam rumah tangga dan dalam sekala besar ( negara ) bisa terjadi peperangan karena bocornya rahasia negara kepada negara lainnya. Sebagaimana dalam firman-Nya surah at-Tahrim ayat 3 yang artinya, “Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Lalu dia menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan peristiwa itu kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, “Siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui, Mahateliti.”

    Pemimpin hendaknya bisa menyimpan rahasia khususnya rahasia negara. Kebijakan yang akan dijalankan tidaklah boleh bocor atau sengaja dibocorkan untuk kepentingan suatu kelompok. Adapun kerahasiaan paling sensitif tentang pertahanan. Oleh sebab itu, pemimpin harus teguh dalam menyimpan kerahasiaan negara.

    Amanah dan Bernasihat. Seorang pemimpin yang amanah adalah seseorang yang jujur dan terbuka dalam segala hal. Mereka tidak menyembunyikan informasi penting dari publik dan selalu memegang prinsip kejujuran dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Pemimpin yang amanah selalu bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang mereka ambil. Memangku jabatan sebagai pimpinan, berarti ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Pada hakikatnya, dalam Islam kepemimpinan adalah amanat, kepercayaan dari Allah SWT. yang diberikan kepada hamba-Nya untuk membawa kebaikan, hidup sejahtera dan keberkahan.

    Di samping seorang pemimpin mengawali sesuatu dengan nasihat. Dalam memberikan nasihat, sebaiknya dengan bertutur lemah lembut seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. dengan memperhatikan waktu dan kondisi yang ada. Beliau sangat memperhatikan kondisi audiens yang akan diberikan nasihat, memberikan rentang waktu yang tepat agar pendengar tidak merasa terbebani dengan nasihat yang baru.m

    Semoga Allah SWT. memberikan cahaya-Nya agar para pemimpin negeri dapat menjalan lima karakter di atas.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW, Berisi Pesan untuk Umat Islam



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah terakhir di Arafah pada 632 Masehi. Khutbah dilakukan ketika Nabi Muhammad SAW menjalani ibadah haji pertama dan terakhir yang dikenal dengan haji wada atau haji perpisahan.

    Nabi Muhammad SAW mengerjakan ibadah haji satu kali dalam seumur hidupnya. Tiga bulan setelah ibadah haji ini, beliau wafat di usianya yang 63 tahun.

    Mengutip buku Khutbah Nabi: Terlengkap dan Terpilih karya Muhammad Khalil Khathib, sebelum wafat, Rasulullah SAW telah banyak menunjukkan tanda bahwa dirinya menyampaikan tanda perpisahan. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,


    “Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman-Nya, pastilah akan datang suatu hari pada salah seorang di antara kalian, dan pada hari itu orang tersebut tidak dapat melihat diriku, sehingga seandainya ia melihat diriku pastilah akan lebih ia sukai melebihi kesukaannya kepada keluarga dan harta yang miliknya.” (HR Bukhari Muslim)

    Dari ucapan ini, orang-orang menakwilkan bahwa dengan ucapannya itu, Rasulullah SAW sedang mengabarkan berita kematian beliau dengan memberitahukan kepada para sahabat tentang apa yang akan terjadi setelah beliau wafat. Yaitu kabar ketika muncul begitu banyak orang amat mendambakan perjumpaan dengan Rasulullah SAW di saat beliau sudah tiada, karena sebelumnya mereka dapat menyaksikan sebagian keberkahan Rasulullah SAW.

    Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW

    Melansir laman Kementerian Agama (Kemenag), Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji bersama para sahabat dan sekitar 114.000 umat Islam. Setelah melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan umat Islam di Arafah.

    Beliau melakukan seruan dari atas punggung untanya yang bernama al-Qushwa. Di atas punggung unta inilah Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah terakhirnya.

    Prof. Osman Raliby dalam tulisannya di Majalah Suara Masjid mengatakan khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW berisi pesan untuk seluruh umat Islam.

    “Segala puji adalah bagi Allah. Kita memuja dan memuji Dia dan memohon pertolongan kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung pada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita dan dari segala perbuatan yang buruk. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka takkan ada siapapun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tak ada siapa pun yang dapat menunjukkan jalan baginya.

    Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Maha Esa Ia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku naik saksi, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

    Wahai manusia, dengarkanlah pesanku baik-baik.

    Aku akan menyampaikan kepadamu satu keterangan (sebagai wasiat), karena sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku akan bertemu lagi dengan kamu sesudah tahun ini di tempat aku berdiri (sekarang) ini.

    Wahai manusia, Sesungguhnya darahmu (jiwamu), harta bendamu dan kehormatanmu adalah suci dan haram (dilarang diganggu), sebagaimana suci dan haramnya bulan ini (bulan haji), sampai kamu kelak menghadap Tuhan. Sungguh kamu pasti akan menemui (menghadap) Tuhan, di mana Ia pasti akan menanyakan tentang segala amal perbuatanmu.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!)

    Maka barangsiapa ada amanat di tangannya, hendaklah disampaikannya kepada orang yang memberikan amanat itu kepadanya.

    Ingatlah, tak seorang pun yang melakukan tindak pidana melainkan ia sendiri yang bertanggungjawab atasnya. Tidak ada anak bertanggungjawab terhadap tindak pidana ayahnya, pun juga tidak seorang ayah bertanggungjawab terhadap tindak pidana anaknya.

    Wahai manusia, dengarkanlah kata-kataku ini dan pahamkan semuanya.

    Sesungguhnya seorang muslim dan muslim lainnya adalah umat yang bersaudara. Tidak ada sesuatu yang halal bagi seorang muslim dari saudaranya melainkan apa yang telah direlakan kepadanya. Maka janganlah kamu menzalimi dirimu sendiri.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!).”

    Khutbah Wada’ mendeklarasikan prinsip-prinsip Islam tentang persamaan hak dan martabat manusia tanpa memandang ras, suku bangsa dan warna kulit. Pada bagian lain khutbah yang monumental itu ditekankan beberapa hal, yaitu:

    “Sesungguhnya riba sudah dihapuskan. Tapi kamu akan memperoleh modal saham kamu. Maka janganlah kamu berlaku zalim agar kamu pun tidak dizalimi orang.

    Wahai segenap manusia! Sesungguhnya Tuhanmu adalah Esa (Satu), dan nenek moyangmu adalah satu. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab melainkan dengan takwa itulah. Dan jika seorang budak hitam Abyssinia sekalipun menjadi pemimpinmu, dengarkanlah dia dan patuhlah padanya selama ia tetap menegakkan Kitabullah.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!).

    Wahai manusia, takutlah kepada Allah. Kerjakanlah shalat yang lima waktu, lakukanlah puasa, berhajilah ke Baitullah dan tunaikanlah zakat hartamu dengan sukarela serta patuhlah atas apa yang aku perintahkan. Kamu pasti kelak akan bertemu dengan Tuhanmu, dan Ia pasti akan menanyakan kepadamu tentang segala perbuatanmu.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!)

    Sesungguhnya zaman itu beredar, musim berganti.

    Wahai segenap manusia! Sesungguhnya setan itu sudah putus harapan akan (terus) disembah-sembah di negerimu ini. Akan tetapi sesungguhnya dia puas dengan ditaati dalam hal-hal selain daripada itu (disembah), yakni dalam perbuatan-perbuatan yang kamu (sebenarnya) benci, maka waspadalah terhadap tipu daya (setan) yang akan merugikan agamamu.”

    “Camkanlah perkataanku ini, wahai manusia! Sesungguhnya telah kusampaikan kepadamu, dan sesungguhnya aku sudah meninggalkan untuk kamu sekalian sesuatu, yang bila kamu berpegang teguh kepadanya, pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni sesuatu yang terang dan nyata, Kitabullah (Al Quran) dan Sunnah Nabi-Nya.”

    Rasulullah menutup Khutbah Wada’ dengan pernyataan dan pertanggungjawaban terbuka kepada Allah SWT,

    “Wahai Tuhanku! Persaksikanlah, persaksikanlah wahai Tuhanku.

    Maka hendaklah yang telah menyaksikan di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga barang siapa yang menyampaikan akan lebih mendalam memperhatikannya daripada sebagian yang mendengarkannya. Mudah-mudahan bercucuranlah rahmat Allah dan berkat-Nya atas kamu sekalian!”

    Setelah mengucapkan khutbah perpisahan, beliau turun dari untanya Alqashwa. Usai menunaikan salat Zuhur dan Ashar yang dijama’ secara berjamaah, Rasulullah menuju suatu tempat yang bernama Sakhrat. Di sana disampaikannya ayat Al-Quran yang baru saja diwahyukan Allah untuk penghabisan kali sebagai penutup risalah kenabian yakni surat Al Maidah ayat 3,

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا۟ بِٱلْأَزْلَٰمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Muhammad Dakwah di Makkah dan Madinah 23 Tahun, Terapkan Banyak Strategi


    Jakarta

    Dakwah Nabi Muhammad SAW adalah perjalanan penuh makna yang mengubah sejarah umat manusia. Nabi Muhammad SAW berdakwah di Makkah dan Madinah, totalnya selama 23 tahun. Ini dibagi dalam dua waktu berbeda.

    Perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW bukanlah hal yang singkat dan mudah. Banyak peristiwa penting terjadi selama periode tersebut, yang menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam hingga hari ini.

    Periode dakwah Nabi Muhammad SAW terbagi menjadi dua, periode Makkah dan Madinah. Berikut penjelasan lengkapnya.


    Periode Dakwah Nabi Muhammad di Makkah

    Periode ini menjadi tahap awal dalam perjalanan dakwah yang penuh dengan tantangan dan ujian. Dijelaskan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam karya H. Fida’ Abdilah, Yusak Burhanudin, periode dakwah di Makkah dimulai setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang kedua, yaitu surah Al-Muddassir ayat 1-7:

    يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ ١ قُمْ فَاَنْذِرْۖ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ ٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ ٥ وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ ٦ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ ٧

    Artinya: “Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan! Tuhanmu, agungkanlah! Pakaianmu, bersihkanlah! Segala (perbuatan) yang keji, tinggalkanlah! Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! Karena Tuhanmu, bersabarlah!”

    Ayat ini menandai dimulainya tugas Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam, mengingatkan seluruh umat manusia untuk menyembah dan mengesakan Allah SWT. Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya di Makkah yang berlangsung selama 13 tahun.

    Menurut riwayat Ibnu Abbas RA sebagaimana terdapat dalam Ringkasan Shahih Muslim yang disusun Al-Albani, Nabi Muhammad SAW dakwah di Makkah selama 13 tahun. Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah tinggal di Makkah selama 13 tahun sejak beliau menerima wahyu, dan tinggal di Madinah selama 10 tahun. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.” (HR Muslim)

    Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah

    Dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah bukanlah perjalanan yang mudah. Berbagai rintangan dan tantangan dari kaum Quraisy menjadi bagian dari perjuangan tersebut. Namun, di balik segala kesulitan itu, Nabi Muhammad SAW memiliki strategi dakwah yang luar biasa. Seperti apa strategi yang beliau terapkan selama berdakwah di Makkah?

    Dakwah Nabi Muhammad secara Sembunyi-sembunyi

    Dikutip dari sumber sebelumnya, pada masa-masa awal dakwahnya, Nabi Muhammad SAW menyebarkan ajaran Islam secara diam-diam dan beribadah di lokasi-lokasi tersembunyi agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy.

    Periode dakwah tersebut berlangsung selama tiga tahun. Hal ini dilakukan karena jumlah pengikut Islam saat itu masih sedikit. Selain itu, beliau belum memiliki kekuatan yang cukup besar untuk tampil di tengah masyarakat yang mayoritasnya adalah penyembah berhala dan penganut tradisi nenek moyang yang jauh dari konsep ketauhidan.

    Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya dengan menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang terdekatnya, seperti keluarga dan sahabat. Istri beliau, Khadijah, menjadi orang pertama yang menerima ajakan tersebut. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW menyebarkan dakwahnya kepada kerabat dekat, para pemuda yang merasa resah dengan situasi masyarakat Makkah, serta mereka yang miskin dan tertindas.

    Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan tujuan mencari sosok-sosok yang mau mendukung perjuangannya. Mereka inilah yang dipersiapkan untuk menjadi penyebar ajaran Islam bersama Nabi Muhammad SAW. Akhirnya, mereka menjadi pendukung setia dalam misi dakwah beliau.

    Dakwah Nabi Muhammad secara Terang-terangan

    Langkah awal Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah secara terang-terangan dimulai dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga besarnya, yaitu keturunan Abdul Muthalib bin Abdi Manaf. Sebanyak 45 orang hadir memenuhi undangan tersebut, namun mereka meninggalkan tempat sebelum Nabi Muhammad SAW sempat berbicara.

    Dalam pertemuan selanjutnya, Nabi Muhammad SAW berhasil menyampaikan ajaran Islam, namun seluruh paman dan saudara yang hadir menolak. Hanya Abu Thalib yang menunjukkan dukungan terhadap upaya dakwah Nabi Muhammad SAW, meskipun ia tetap teguh pada keyakinan nenek moyangnya.

    Untuk ketiga kalinya, Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah secara terbuka. Kali ini, beliau memilih Bukit Shafa sebagai tempatnya. Di hadapan penduduk Makkah yang berkumpul, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT, yang diberi tugas untuk memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia. Beliau mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah SWT, serta menjelaskan tentang kehidupan akhirat, surga, dan neraka.

    Dakwah yang dilakukan secara terang-terangan oleh Nabi Muhammad SAW membuat ajaran Islam mulai dikenal luas dan menjadi bahan pembicaraan di seluruh penjuru Makkah, terutama di kalangan suku Quraisy yang banyak menentang. Para penentang ini menggunakan berbagai cara untuk menghentikan penyebaran dakwah tersebut. Keberanian kaum muslimin untuk menyebarkan ajaran Islam secara terang-terangan semakin bertambah kuat setelah Umar bin Khattab memeluk Islam.

    Sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu penentang utama dakwah Nabi Muhammad SAW. Meski menghadapi berbagai ancaman, Nabi Muhammad SAW dan para pengikut setianya tidak gentar. Perlahan namun pasti, dakwah Islam terus berlanjut.

    Periode Dakwah Nabi Muhammad di Madinah

    Setelah menghadapi berbagai tantangan di Makkah, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Perpindahan ini bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi juga awal dari fase baru dalam dakwah beliau. Lantas, bagaimana periode dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah dan apa saja perubahan yang terjadi?

    Perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan dakwah di Madinah bukanlah hal yang mudah. Selama masa hijrah di tempat baru ini, berbagai fitnah dan tantangan kerap menghadang upaya beliau dalam menyebarkan ajaran Islam.

    Mengacu sumber yang sama, sikap antipati dari kaum Yahudi, kebencian kaum munafik, serta permusuhan dari kaum Quraisy sering kali memicu konflik yang kemudian berkembang menjadi peperangan di tengah masyarakat Madinah.

    Rasulullah SAW berhasil mengatasi berbagai tantangan selama menyebarkan dakwah di kota yang dahulu dikenal sebagai Yatsrib itu. Akhirnya, beliau sukses menaklukkan Madinah dan memasukkannya ke dalam wilayah kekuasaan Islam.

    Sebagian besar penduduk Madinah adalah para pendatang yang menetap di wilayah tersebut. Mereka terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni Arab dan Yahudi. Bangsa Arab berasal dari wilayah selatan, sementara kaum Yahudi datang dari arah utara.

    Penduduk Arab mendominasi wilayah Madinah dan terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu bani Aus dan bani Khazraj. Meski berasal dari etnis yang sama, kedua kelompok ini kerap berselisih dan berperang demi memperebutkan kekuasaan di Madinah. Di sisi lain, kaum Yahudi dikenal karena sifat mereka yang arogan, menganggap diri mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan.

    Dua kelompok yang tinggal di Madinah ini terus bersaing demi pengaruh dan kekuasaan. Mereka bahkan kerap saling mengancam akan berperang dan berusaha mengusir satu sama lain dari wilayah Madinah.

    Kehadiran Rasulullah SAW di Madinah pada 12 Rabiul Awwal tahun pertama Hijriah menandai permulaan penyebaran dakwah Islam di Kota Madinah. Berdasarkan hadits sebelumnya juga dijelaskan, Rasulullah SAW berdakwah selama 10 tahun sepanjang masa kenabiannya hingga akhir hayatnya di Madinah.

    Strategi Dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah

    Hijrah ke Madinah menjadi titik balik bagi perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Situasi dan kondisi yang berbeda membuat Nabi Muhammad SAW perlu menerapkan pendekatan baru dalam menyebarkan ajaran Islam. Lalu, strategi apa saja yang digunakan Nabi Muhammad SAW dalam dakwahnya di Madinah?

    Menurut buku Pendidikan Agama Islam susunan Bachrul Ilmy, Rasulullah SAW memiliki empat substansi dakwah selama periode dakwah beliau di Madinah, di antaranya:

    1. Penguatan akidah, ibadah, dan muamalah bagi kaum muslim melalui masjid sebagai pusat kegiatan.
    2. Membangun ukhuwah (persaudaraan) antara kaum Muhajirin dan Anshar untuk menyatukan umat Islam.
    3. Melatih kader-kader perjuangan guna mempertahankan wilayah dan mendukung para juru dakwah.
    4. Merumuskan aturan pertahanan dan sosial untuk menjaga stabilitas di Madinah.

    Sedangkan strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah memiliki 5 strategi dakwah, berikut adalah strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah yang dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam yang ditulis oleh Elfa Tsuroyya:

    1. Mendirikan Masjid

    Langkah awal yang diambil oleh Rasulullah SAW adalah membangun sebuah masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Nabawi. Di tempat inilah beliau mulai menyebarkan dakwah dengan mengadakan sholat berjamaah, mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai ibadah mahdhah, muamalah, serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Akibatnya, area sekitar masjid pun menjadi semakin hidup dan ramai.

    2. Menyatukan Suku Aus dan Khazraj

    Dua suku yang sebelumnya sering berselisih ini akhirnya dipersatukan dan kemudian dikenal sebagai kaum Anshar, yang membantu Rasulullah SAW saat hijrah. Langkah ini diambil untuk memperkuat persatuan di antara mereka serta dengan suku-suku lainnya yang tinggal di Madinah.

    3. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar

    Rasulullah SAW menjalin ikatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dengan landasan agama yang menggantikan persaudaraan berdasarkan garis keturunan. Langkah ini menciptakan suasana yang lebih damai dan aman. Dengan menyatukan keduanya melalui keimanan, persatuan di antara mereka pun semakin kuat dan kokoh.

    4. Mengajarkan Nilai-nilai Moral

    Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada masyarakat tentang tata krama dalam mencintai sesama, menjalin persaudaraan, menjunjung tinggi keagungan, kemuliaan, serta pentingnya ibadah dan ketaatan.

    5. Membuat Tatanan Sosial Masyarakat

    Rasulullah SAW menyatukan kaum Yahudi yang terdiri dari bani Qainuqa, bani Nadhir, dan bani Quraizhah. Beliau kemudian merumuskan sebuah perjanjian yang melindungi hak-hak asasi manusia di Madinah, yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Amanah



    Jakarta

    Amanah mengandung makna bahwa sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain karena yakin dan percaya, bahwa di tangannya sesuatu yang diserahkan itu akan aman dan terpelihara dengan baik. Kepercayaan ini dapat berupa hal yang tidak terlihat, seperti jabatan ataupun benda yang terlihat, seperti misalnya harta. Menurut pakar tafsir Al-Razi, amanah terbagi menjadi tiga bentuk yakni amanah dengan Tuhan, amanah dengan sesama manusia, dan amanah dengan diri sendiri.

    Pada hari Senin tanggal 21 Oktober 2024, di negeri tercinta ini para pembantu Presiden ( Menteri, Wakil Menteri dan Pejabat setingkat Menteri ) mulai bekerja. Mereka ini telah memperoleh amanah untuk memimpin Kementerian dari Presiden. Inilah yang disebut Al-Razi sebagai amanah sesama manusia. Memegang amanah seperti memimpin Kementerian selalu melekat adanya tanggung jawab dan kekuasaan. Melaksanakan tujuan dari Kementerian akan efektif jika kekuasaan di jalankan dengan rasa keadilan dan tentu pelaksanaan tersebut harus dipertanggungjawabkan.

    Jadi, ingatlah selalu bagi yang menerima amanah bukan disikapi dengan bersenang-senang berkumpul dengan keluarga dan lain sebagainya, maka bersikaplah sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 156 yang terjemahannya, “yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).”


    Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. agar memberitahukan ciri-ciri orang-orang yang mendapat kabar gembira yaitu orang yang sabar, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ) (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Dengan begitu para penerima amanah akan selalu memgingat-Nya dan menunaikan tugasnya dengan bimbingan Allah SWT.

    Dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin Kementerian hendaknya selalu mengingat bahwa, kepemimpinan yang engkau jalankan merupakan / adalah keteladananmu. Kisah Umar bin Khathab mengirim surat kepada Abu Musa al-Asy’ari, tentang berbagai persoalan yang menyangkut kepemimpinan. Inilah isi suratnya :

    Sesungguhnya, manusia itu punya hak untuk berpaling dari penguasa mereka. Maka, aku mohon perlindungan kepada Allah dari yang demikian itu.

    Hindarilah sikap membabi buta dan dengki, mengikuti hawa nafsu dan sikap lebih mengutamakan dunia. Dan tegakkanlah hukum itu, walaupun hanya sesaat pada siang hari.

    Apabila menghadapi dua perkara, yang satu untuk Allah dan yang satunya lagi untuk dunia, maka utamakanlah bagianmu untuk akhirat daripada bagianmu untuk dunia. Sebab, dunia itu akan lenyap, sedangkan pahala akhirat adalah kekal selamanya. Takutlah engkau kepada Allah SWT. dan takut-takutilah orang-orang fasik. Jadikanlah tangan dan kaki mereka terbelenggu, agar tidak dapat mengadakan kegiatan kefasikan.

    Abadikanlah nikmat dengan bersyukur, abadikanlah ketaatan dengan berlemah lembut, abadikanlah kekuasaan dan kemenangan dengan bersikap tawadu’ serta cinta kepada sesama manusia.

    Tengoklah orang-orang muslim yang sakit, dan antarkan jenazahnya sampai ke kuburnya. Bukalah pintumu untuk mereka, dan urusi sendiri perkara mereka, karena engkau termasuk salah seorang dari mereka. Hanya saja Allah SWT. menjadikanmu orang paling berat tanggungannya.

    Ketahuilah, bahwa seorang pemimpin itu akan kembali kepada Allah SWT. Maka apabila pemimpin itu menyeleweng rakyatpun pasti menyeleweng. Sesungguhnya, orang yang paling celaka ialah orang yang menjadi sebab sengsaranya rakyat.

    Inti dari pesan seorang Amirul Mukminin tersebut meliputi :

    1. Tidak mengikuti hawa nafsu.
    2. Menegakkan hukum.
    3. Mengutamakan bagian untuk akhirat.
    4. Bersyukur dan tawadu.’
    5. Menengok orang yang sakit dan mengantarkan jenazah sampai ke kuburnya.
    6. Memberikan keteladanan.

    Penulis berpesan sebagai seorang pemimpin hendaklah memegang teguh tentang :

    1. Sabar. Seorang pemimpin yang mempunyai sikap sabar, tentu segala urusan akan diseleseikan dengan baik. Hal ini sesuai dengan perintah-Nya dalam surah an-Nahl ayat 127 yang terjemahannya, “Bersabarlah. Kesabaranmu itu tak lain adalah berkat pertolongan Allah.”
    2. Syukur. Seorang pemimpin yang bersyukur, maka ia tidak berpanjang angan-angan. Hal ini dapat menjadikan sia-sia. Dalam surah Ibrahim ayat 17, intinya adalah perintah bersyukur dan janganlah mengingkari nikmat dari-Nya.
    3. Tawakal. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah adalah menyerahkan seluruh perkara kepada Allah, bersandar pada kekuasaan-Nya dalam mengatur siklus alam semesta, mendahulukan perbuatan-Nya ketimbang perbuatan kita, dan mengitamakan kehendak-Nya diatas keinginan kita.

    Ketiga faktor inilah yang menjadikan seorang pemimpin berjiwa besar. Semoga Allah SWT. selalu membimbing dan memberikan cahaya-Nya agar para pembantu Presiden dapat menjalankan amanah dengan efektif.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nasihat Orang Bijak



    Jakarta

    Orang bijak ditanya, “Apa yang paling dekat?”

    Jawabnya, “Ajal.”
    Ditanya lagi, “Apa yang paling jauh?”
    Dijawab, “Angan-angan.”
    Kematian pasti datang, keyakinan akan datangnya ajal menjadikan seseorang berhati-hati dalam menjalani kehidupan, ia selalu taat atas perintah Tuhan dan selalu berupaya menjauhi yang dilarang.

    Aisyah ra. bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah kelak pada hari kiamat kami akan dikumpulkan dengan para syuhada?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, yaitu orang-orang yang mengingat kematian dalam sehari-semalam sebanyak dua puluh kali.” ( HR. as-Syaukani ).


    Menurut Imam Ghazali manfaat mengingat kematian :
    * Akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang serba menipu
    * Akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    * Mengosongkan hati dari hal-hal keduniawian dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk kematian
    * Mengingat kematian akan membantu seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menjauhi larangan Allah SWT

    Orang yang selalu mengingat kematian, In-Syaa’Allah akan terhindar dari perbuatan maksiat seperti korupsi memperkaya diri dengan hidup bermewah-mewahan. Dia sadar semua itu adalah tipuan setan karena kenikmatan dunia sifatnya fana.

    Adapun angan-angan adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Panjang angan, disebut juga thulul amal, adalah banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia. Disebutkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, ” Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari).

    Panjang angan-angan ini betul-betul berdampak buruk karena akan merusak hati, dan Sang Baginda Muhammad SAW. mengingatkan bahwa hati orang yang sudah tua akan seperti anak saat cinta dunia dan panjang angan-angan. Betapa beratnya ujian bagi orang yang sudah tua, semestinya mengumpulkan bekal perjalanan kekalnya masih bersikap ( hatinya ) seperti anak muda karena cintanya pada dunia.

    Oleh sebab itu, selalu mengingat mati agar nantinya engkau pada hari kiamat dapat bersama-sama ( kumpul ) dengan para syuhada. Juga janganlah membuang-buang waktu dengan panjang angan karena ini perbuatan sia-sia.

    Pada zaman dahulu, ada orang bijak yang biasa berkeliling kota setiap tahun. Ia mengajarkan enam kalimat berikut ini :
    1. Barangsiapa tidak memiliki ilmu, ia akan terhina di dunia dan di akhirat.
    2. Barangsiapa tidak memiliki sifat sabar, maka ia tak akan selamat dalam beragama.
    3. Orang bodoh amalnya sia-sia.
    4. Orang yang tidak bertakwa, tiada kemuliaan di mata Allah SWT.
    5. Barangsiapa tiada memiliki kedermawanan, maka ia tidak akan mempunyai bagian apa-apa dari hartanya.
    6. Barangsiapa tidak takwa, tiada daya di hadapan-Nya.

    Perbuatan yang bermanfaat bisa diketahui dari hasil yang diraih dan berguna untuk sesama, maka muncullah kesucian jiwa dan pelaksanaannya bersih dari cela. Tahukah bahwa perbuatan yang bermanfaat dalam memperoleh kenikmatan agung dan abadi hendaknya berdasarkan ilmu. Karena ilmu itu yang pertama dan perbuatan itu yang kedua. Semua perbuatan yang berlandaskan ilmu akan sangat berguna dan berbeda dengan perbuatan dengan sedikit atau tanpa ilmu. Ibadah akan sah setelah mengetahui Dzat yang disembah. Beribadah dengan tidak tahu siapa yang disembah tentu pelaksanaannya tidak akan khusyu.’ Oleh karena itu, orang bodoh maka amalnya akan sia-sia.

    Orang yang sabar akan terhindar dari kesalahan yang bersumber dari sikap emosional. Orang sabar akan memperoleh manfaat seperti, gugurnya dosa-dosa yang ada dalam dirinya, keutamaan sabar adalah diberikan kemenangan oleh Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa, sabar dapat mendatangkan kemenangan yang diimpikan umat Muslim.

    Adapun hikmah utama dari sikap sabar adalah lebih mudah untuk melihat sisi baik dari sebuah kejadian. Mereka akan lebih bersyukur dengan apa yang terjadi. Jadi bersyukur tidak hanya saat berhasil tapi juga ketika mengalami kegagalan. Saat kegagalan, itu sebetulnya pilihan-Nya maka yakinlah bahwa pilihan-Nya lebih baik dari pilihanmu ( hamba ).

    Sedangkan seorang yang mempunyai sifat kedermawanan, maka Allah SWT. akan selamatkan dari berbagai bencana dan musibah. Rasulullah SAW “Orang yang dermawan itu dekat dengan-Nya. Dekat dengan syurga, dekat dengan manusia dan jauh dari api neraka dan orang yang bakhil jauh dengan-Nya, jauh dengan syurga, jauh dengan manusia dan dekat dengan api neraka”.

    Terakhir nasihat di atas adalah ketakwaan, ini pamungkas karena orang yang takwa adalah orang yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Syekh Abdul al-Jailani dalam bukunya FUTUHAL GHAIB mengatakan tiga hal yang wajib diperhatikan seorang mukmin dalam keadaan apa pun, yaitu melaksanakan perintah dan menghindari larangan-Nya, dan ridha atas segala ketetapan-Nya.

    Semoga kita semua terhindar dari perbuatan maksiat dan selalu taat menjalankan perintah-Nya.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com