Tag: nabi muhammad saw

  • Menjadi Orang Biasa



    Jakarta

    Menjelang kontestasi pilkada serentak yang diselenggarakan pada akhir bulan Nopember 2024, kondisi jagad politik riuh dan suhu meningkat di seluruh wilayah negeri. Pada bulan Desember 2024, sudah diketahui hasilnya ada yang mendapat amanah dan ada yang belum beruntung. Di sinilah mereka yang belum beruntung menjadi orang biasa yang berbaur dan bermasyarakat. Bagi yang beruntung mendapat amanah ( ujian ) bisa tetap menjadi orang biasa atau malah menjadi orang yang tidak biasa.

    Tentang amanah ini jika peserta kontestasi orang yang beriman maka ia akan selalu ingat pada surah ali-Imran ayat 26, yang intinya adalah derajat manusia yang dimuliakan maupun dihinakan itu merupakan hak kewenangan-Nya. Menang dan kalah itu merupakan ketetapan-Nya, maka ingatlah bahwa pilihan Allah SWT. itu pasti terbaik dari pilihanmu ( keinginanmu ).

    Penulis pertama kali menerima buku karya Sudirman Said yang berjudul “Bergerak dengan Kewajaran” dan saat membuka daftar isi, langsung tertuju pada bab ‘Menjadi Orang Biasa.’ Menurut penulis buku tersebut definisi orang biasa adalah : Orang yang tidak melanggar apalagi mencuri hak orang lain ( hak liyan ). Orang biasa taat aturan dan selalu mengenal kata “cukup” dan “secukupnya” tidak lebay dan karena itulah ia bahagia.


    Sedangkan orang tak biasa, jauh dari kata “cukup” karena selalu merasa dahaga, lapar, sehingga mengambil, menumpuk. Secara sadar ia mengambil hak milik orang lain ( liyan ). Ia dikendalikan oleh sesuatu yang bukan dari dirinya dan tidak merdeka.

    Ini merupakan pilihan bagi yang memperoleh amanah dalam kontestasi pilkada. Oleh karena itu, jika pilihanmu menjadi orang biasa maka engkau akan menjadi sosok pemimpin yang adil. Kehidupanmu akan bersahaja dengan selimut “sederhana.” Menjadi pemimpin yang adil itu merupakan perintah dari ajaran Islam. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah an-Nahl ayat 90 yang terjemahannya, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”

    Ayat ini mengiringinya dengan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur’an bagi mereka. Adapun petunjuknya adalah perintah untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Allah SWT. menyatakan, “Sesungguhnya Allah selalu menyuruh semua hamba-Nya untuk berlaku adil dalam ucapan, sikap, tindakan, dan perbuatan mereka, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, dan Dia juga memerintahkan mereka berbuat kebajikan, yakni perbuatan yang melebihi perbuatan adil; memberi bantuan apa pun yang mampu diberikan, baik materi maupun nonmateri secara tulus dan ikhlas, kepada kerabat, yakni keluarga dekat, keluarga jauh, bahkan siapa pun. Dan selain itu, Dia melarang semua hamba-Nya melakukan perbuatan keji yang tercela dalam pandangan agama, seperti berzina dan membunuh; melakukan kemungkaran yaitu hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam adat kebiasaan dan agama; dan melakukan permusuhan dengan sesama yang diakibatkan penzaliman dan penganiayaan. Melalui perintah dan larangan ini Dia memberi pengajaran dan tuntunan kepadamu tentang hal-hal yang terkait dengan kebajikan dan kemungkaran agar kamu dapat mengambil pelajaran yang berharga.”

    Pemimpin yang adil dan demokratis haruslah seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Iman dan takwa menjadi landasan utama yang mendorong seorang pemimpin untuk selalu bertindak sesuai dengan ajaran Islam. Dari Abi Hurairah, Nabi Muhammad Saw. telah bersabda, “Wahai Abu Hurairah, adil sesaat itu lebih utama dari pada ibadah enam puluh tahun. Yaitu bangun pada malamnya dan puasa pada siang harinya. Wahai Abu Hurairah, menyeleweng sesaat dalam memutuskan perkara itu lebih berat dan lebih besar dosanya di sisi Allah Azza wa Jalla dari pada kemaksiatan enam puluh tahun.” (HR. Al Ashbihani)

    Orang biasa, tidak hidup dalam kemewahan karena falsafah “cukup” telah melandasinya. Ia sebagai pemimpin negeri akan berusaha untuk melunasi utang negara, tentu ia tahu dan mengerti mana yang boleh dan yang tidak. Sumber-sumber kekayaan dan pendapatan negara akan diefektifkan dengan prinsip keadilan. Pajak sebagai salah satu instrumen pendapatan, tentu kebijakannya memperhatikan unsur keadilan ( terhadap rakyat biasa dan rakyat yang kaya ). Sumber-sumber alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak hendaknya negara hadir untuk menguasainya. Tambang contohnya bisa diterapkan pola bagi hasil seperti gas dan minyak bumi. Tarif barang masuk diterapkan untuk melindungi industri dalam negeri dan tarif ini akan menjadi pendapatan negara.

    Tabiat orang tak biasa hendaknya mulai dikurangi atau sekalian ditinggalkan. Tabiat ini menimbulkan ketimpangan dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomi, hal ini berakibat pada kecemburuan dan berujung pada konflik. Sumber yang mendorong orang melakukan korupsi adalah kebutuhan hidup yang berlebihan. Ali bin Abi Thalib berkata, “Dengan sedikit kebutuhan maka engkau akan selamat.”

    Namun kita tidak pungkiri bahwa godaan dan pesona dunia menggoyahkan keimanan, khususnya kekuasaan. Kenapa ? Kekuasaan inilah yang mendatangkan / menjadi sumber kenikmatan dunia. Orang berebut dengan mengeluarkan korbanan yang sangat besar untuk menggapainya dan hal itu kadang menjadi taruhan kehormatan. Engkau lupa bahwa kehormatan/kemulianmu tidak bisa kenakan baju kemewahan, ketenaran dan kuasa karena Allah SWT. hanya melihat ketakwaan hambanya.

    Ya Allah, Engkau yang menjadi sandaran kami, mohon berilah petunjuk dan cahaya-Mu agar kami dan para pemimpin istiqomah memilih untuk menjadi orang biasa. Bukalah hijab golongan orang yang tidak biasa agar mereka kembali ke jalan-Mu.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Kultum tentang Isra Miraj Singkat Beserta Dalilnya


    Jakarta

    Kultum tentang Isra Miraj bisa dijadikan referensi jelang peringatan peristiwa bersejarah dalam Islam tersebut. Kultum bisa disampaikan ketika khutbah Jumat atau acara-acara lainnya jelang Isra Miraj.

    Menukil dari buku 52 Kultum Favorit untuk Muslimah oleh Zakiah Nur Jannah dan Noor Hafid, kultum merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit. Biasanya, kultum banyak dilakukan dalam kegiatan dakwah atau ceramah yang relatif singkat.

    Berikut beberapa kultum tentang Isra Miraj sebagaimana merujuk pada sumber yang sama, laman Kementerian Agama, dan buku Kitab Kultum Kuliah Tujuh Menit karya A R Shohibul Ulum.


    Kumpulan Kultum tentang Isra Miraj

    1. Kultum tentang Isra Miraj Versi Pertama

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Kita sebagai umat Islam memiliki kekayaan spiritual yang luar biasa dalam peristiwa Isra Miraj. Ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan ke langit ketujuh, kita diajarkan untuk menyadari keagungan dan kebesaran Allah SWT. Isra Miraj mengajarkan kepada kita betapa besar dan luar biasanya kekuasaan-Nya. Dari peristiwa ini, kita dapat belajar untuk selalu merenungkan kebesaran Allah dalam segala hal yang kita lakukan. Mari kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita, serta selalu mengingat dan mengagungkan Allah swt dalam setiap langkah hidup kita.

    Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari peristiwa Isra Miraj ini untuk meningkatkan keimanan dan kualitas hidup kita. Amin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    2. Kultum tentang Isra Miraj Versi Kedua

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Alhamdulillah, pada hari ini kita bisa bersama sama hadir dalam majlis yang mulia ini untuk memperingati suatu peristiwa yang sangat bersejarah, yaitu Isra dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW. Tema yang akan saya sampaikan dalam acara peringatan Isra dan Mi’raj ini adalah: Isra dan Mi’raj dalam perspektif keimanan dan ilmu pengetahuan.

    Kisah Isra dan Mi’raj merupakan kisah yang sangat inspiratif sepanjang masa, sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW sampai saat ini. Selain inspiratif, kisah Isra dan Mi’raj juga merupakan “tantangan” bagi para Ahli Tafsir maupun Ilmuwan, utamanya dalam usaha untuk mengerti dan menyingkap fakta fakta ilmiah dibalik fenomena Isra dan Mi’raj itu.

    Peristiwa Isra terekam di dalam Kitab Suci AI-Qur’an, yaitu pada surat Al-Isra ayat 1:

    سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

    Artinya: “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

    Sedangkan peristiwa Miraj terekam dalam surah An-Najm ayat 13-18:

    وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18

    Artinya: “Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat fibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat fibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

    Hadirin yang berbahagia,

    Peristiwa Isra dan Mi’raj yang berlangsung pada diri junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW 15 abad yang lalu, telah memperkuat keimanan Rasulullah SAW maupun kita semua umat Islam, akan ke-Maha-Kuasaan Allah SWT.

    Apapun yang dikehendaki-Nya, bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi; karena memang ilmu Allah sangat luas dibanding kekuatan nalar manusia untuk memahaminya. Bandingan ilmu Allah dengan ilmu yang telah dikuasai oleh peradaban manusia sampai saat ini, hanya seperti perbandingan samudera dengan setetes air di ujung jari.

    Namun demikian, peristiwa Isra dan Mi’raj memberikan tantangan sekaligus inspirasi kepada para ilmuwan, untuk melakukan “penalaran/pemahaman” tentang peristiwa itu. Khazanah ilmu pengetahuan telah terakumulasi begitu banyak, tidak ada salahnya para ilmuwan menambah dan memperkuat keimanannya dengan mencoba menalar secara saintifik semua fenomena-fenomena alam ciptaan Allah SWT ini, termasuk fenomena-fenomena yang ada di balik Peristiwa Isra-Miraj ini.

    Akhir kata mohon maaf jika ada kesalahan dan tutur kata yang salah dan tidak menjadi perkenan hadirin.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    3. Kultum tentang Isra Miraj Versi Ketiga

    Alhamdulillah, pada kesempatan yang penuh berkah ini, kita akan mengulas tentang peristiwa Isra Miraj, suatu mukjizat besar yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam yang penuh berkah, di mana Rasulullah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit ketujuh. Ini adalah hadiah dari Allah untuk menghibur hati Rasul-Nya yang sedang dilanda kesedihan setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib.

    Isra Miraj terbagi menjadi dua peristiwa utama, yaitu Isra (perjalanan malam) dan Miraj (kenaikan). Isra melibatkan perjalanan fisik Rasulullah dari Makkah ke Yerusalem, sementara Miraj adalah kenaikan beliau melewati langit-langit menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa ini menjadi dasar dari kewajiban sholat lima waktu bagi umat Islam.

    Kita juga dapat merasakan hikmah dari Isra Miraj ini. Pertama, kemukjizatan yang terjadi menunjukkan kuasa Allah atas waktu, mengingat Rasulullah melakukan perjalanan hingga ke hari kiamat. Kedua, pentingnya peran masjid sebagai tempat ibadah dan aktivitas spiritual. Isra Miraj menegaskan bahwa masjid bukan hanya tempat, tetapi ruh dan pusat aktivitas umat Islam. Ketiga, peristiwa ini memberi pengertian bahwa kehidupan umat Islam yang beriman seringkali dinistakan oleh mereka yang tidak percaya.

    Selain itu, kita bisa mengambil hikmah bahwa dalam menghadapi kesulitan hidup, melakukan “safar” atau jalan-jalan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad dapat membantu menemukan ide-ide luar biasa. Safar yang dimaksud di sini adalah perjalanan kepada hal-hal yang baik.

    Hikmah terakhir yang patut diambil adalah pentingnya iman sebagai modal utama dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana Rasulullah yang mempercayai mukjizat ini, kita pun perlu memperkuat iman sebagai dasar utama hidup dalam naungan Islam.

    Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah Isra Miraj ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    4. Kultum tentang Isra Miraj Versi Keempat

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita semua. Marilah kita mengingat kembali salah satu peristiwa luar biasa dalam sejarah agama kita, yakni Isra Miraj, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan ini, Nabi kita mendapat banyak pengajaran dan tuntunan yang menjadi pedoman bagi umat manusia. Isra Miraj mengajarkan kepada kita pentingnya keimanan, ketabahan dalam menghadapi cobaan, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama. Mari kita ambil pelajaran dari peristiwa ini untuk memperkuat iman dan meningkatkan kualitas hidup kita sehari-hari.

    Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    5. Kultum tentang Isra Miraj Versi Kelima

    Seandainya seorang muslim memahami secara hakiki peristiwa diterimanya wahyu salat, pastilah tak ada seorang pun dari umat Islam yang meremehkan dan melalaikan bahkan meninggalkan salat. Allah mengistimewakan dan meninggikan kedudukan syariat ini, karena itulah, Nabi SAW menerimanya dengan cara yang berbeda. Langsung berjumpa dengan-Nya tanpa perantara.

    Wahyu ini tidak diterima di bumi sebagaimana syariat lainnya. Syariat ini pula satu-satunya syariat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta keringanan dalam penunaiannya. Awalnya diwajibkan 50 waktu dalam sehari.

    Mengapa Nabi SAW menerimanya dengan cara yang berbeda. Langsung berjumpa dengan Allah SWT tanpa perantara malaikat Jibril?

    Bagi umat Islam yang mentadabburi perjalanan Isra Miraj, mereka sadar semua kejadiannya dan tahapan peristiwanya adalah sebuah pengantar untuk berjumpa suatu yang lebih dahsyat lagi, yaitu perjumpaan Rasulullah SAW dengan Rabbnya. Terjadilah dialog yang begitu agung hingga beliau menerima perintah kewajiban salat untuk diri beliau dan umatnya. Inilah puncak perjalanan Isra Mi’raj.

    Allah Ta’ala, dengan kasih sayang-Nya menganugerahkan kepada hamba-hambaNya yang beriman sesuatu yang dapat menghubungkan mereka dengan Rabb mereka. Rasulullah SAW Mi’raj dengan ruh dan fisik beliau.

    Dengan keadaan itulah beliau berdialog dengan Allah Ta’ala. Kemudian Allah SWT menyediakan bagi umat Islam sesuatu yang mampu membuat mereka bermunajat, dekat, tersambung, dan berdialog dengan Rabb mereka, yaitu ibadah salat. Inilah makna bahasa dari kata salat. Salat adalah alat penyambung yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabbnya.

    Semoga setiap orang muslim merenungkan dan memahami secara hakiki peristiwa diterimanya wahyu salat, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang meremehkan dan melalaikan salat. Aamiin.

    6. Kultum tentang Isra Miraj Versi Keenam

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Pertama-tama, mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, utusan Allah yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

    Hadirian yang berbahagia,

    Hari ini, kita akan membahas sebuah peristiwa luar biasa, sebuah peristiwa yang penuh hikmah dan keajaiban, yaitu Isra Miraj.

    Peristiwa ini terjadi pada suatu malam, di mana Rasulullah Muhammad SAW diangkat oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan dari sana beliau melanjutkan perjalanan ke langit.

    Tema Isra Miraj adalah tema yang begitu memukau dan penuh dengan pelajaran berharga bagi umat Islam. Allah SWT sendiri mencatat peristiwa ini dalam Al-Quran, di Surat Al-Isra ayat 1:

    سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

    Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    Bapak ibu yang saya hormati,

    Ayat ini menyiratkan keagungan dan kebesaran Allah, yang memilih hamba-Nya, Nabi Muhammad SAW, untuk mengalami perjalanan spiritual yang tiada tandingnya.

    Dalam Isra Miraj, Rasulullah tidak hanya diberikan kesempatan untuk menghadap Allah, tetapi juga diperlihatkan berbagai mukjizat dan tanda-tanda kebesaran-Nya.

    Perjalanan Isra Miraj mengajarkan kita tentang kekuasaan Allah yang tak terhingga, kebesaran-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ini menjadi pengingat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan Dia Maha Mengetahui serta Maha Melihat segala sesuatu.

    Sebagai umat Islam, kita dapat mengambil banyak pelajaran dari Isra Miraj. Antara lain, menguatkan iman kita kepada Allah, mengingatkan kita akan pentingnya menjalankan perintah-Nya, serta merenungkan makna hidup yang sejati.

    Semoga ceramah singkat ini dapat memberikan pemahaman dan inspirasi bagi kita semua. Mari kita terus mendalami ajaran Islam, menjalankan perintah-Nya, dan mengharapkan ampunan serta rahmat-Nya.

    Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    7. Kultum tentang Isra Miraj Versi Ketujuh

    Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan anugerah terindah kepada Rasulullah SAW melalui perintah sholat lima waktu dalam perjalanan Isra Miraj. Momentum ini mengajarkan kita untuk merefleksi kembali sejarah, merenungi pesan, dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai peringatan bagi umat Islam.

    Dalam perjalanan Isra Miraj, Rasulullah SAW menyaksikan berbagai gambaran kehidupan umatnya di masa depan. Wabah-wabah seperti kurangnya sedekah, meninggalkan kewajiban sholat, hingga kecenderungan mengonsumsi hasil riba menjadi sorotan dalam visualisasi yang diperlihatkan Allah SWT.

    Ini adalah peringatan bagi kita untuk menjaga kewajiban sholat, mengeluarkan sedekah, dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang dilarang. Refleksi ini diharapkan dapat membantu umat Islam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

    Mari jadikan peristiwa Isra Miraj sebagai landasan untuk meningkatkan ketaqwaan, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menyadari pentingnya menjaga nilai-nilai agama. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini dan menjadi umat yang taat serta bermanfaat bagi sesama.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kota Kuno Dumat al-Jandal Jadi Saksi Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad



    Jakarta

    Sebuah kota kuno di jantung Al-Jouf, Arab Saudi menjadi saksi penting perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW dan perjuangan kaum muslimin. Kota itu bernama Dumat al-Jandal atau dulunya disebut Adumato.

    Seorang arkeolog Saudi, Hussain Al-Khalifah, mengatakan peradaban dan kerajaan telah berkembang di Dumat al-Jandal selama ribuan tahun. Wilayah ini diyakini telah dihuni sekitar milenium kedua sebelum masehi.

    “Saat itu sedang musim hujan dengan sungai dan hutan, kemudian berubah menjadi sabana, kemudian memasuki musim dengan sedikit hujan, kemudian pemukiman berpindah ke lokasi lain di dekatnya seperti situs Al-Jamal dan situs Al-Rajajil,” jelas Hussain dilansir Arab News.


    “Setelah itu, Jazirah Arab berubah menjadi gurun seperti yang kita lihat saat ini. Pada zaman dahulu, manusia berpindah ke tempat-tempat yang memiliki tanah dan sumber air yang subur. Oleh karena itu, Dumat Al-Jandal merupakan salah satu kota tertua yang dihuni sekitar milenium kedua SM,” lanjut arkeolog dengan pengalaman lebih dari 30 tahun itu.

    Dumat al-Jandal, kata Hussain, merupakan salah satu titik penting di jalur perdagangan bagi orang-orang yang datang dari selatan Jazirah Arab. Hal tersebut menjadikan wilayah ini kuat dan kaya.

    Ada beberapa kerajaan dan kekaisaran yang mencoba menguasai Dumat al-Jandal. Salah satunya bangsa Asyur. Akan tetapi, pada waktu yang sama muncul Kerajaan Qedar Arab yang tidak hanya menghalau bangsa Asyur tapi juga memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga mencapai Palestina.

    Dumat al-Jandal sudah ada jauh sebelum era Islam. Pada saat Islam datang, wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Diceritakan dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb karya Abu Bakar Jabir al-Jaziri yang diterjemahkan Iman Firdaus, pada tahun kelima Hijriah, Nabi Muhammad SAW mendengar berita sejumlah musyrikin di Dumat al-Jandal melakukan pencurian, perampokan, dan sering mengganggu kafilah di sana.

    Nabi SAW lantas ingin memberi pelajaran kepada mereka agar daerah itu jauh dari kejahatan dan kezaliman. Selain itu, beliau ingin menggentarkan bangsa Romawi dan penduduk sekitarnya supaya tidak berpikir memerangi beliau dan tak lupa beliau juga ingin berdakwah di sana.

    Rasulullah SAW bertolak ke Dumat al-Jandal bersama seribu pasukan. Setibanya di negeri tersebut, beliau tak menemukan siapa-siapa. Ternyata para musyrikin itu telah kabur dan bercerai-berai karena ketakutan saat mendengar kabar Nabi Muhammad SAW menuju ke sana.

    Nabi Muhammad SAW menginap di Dumat al-Jandal selama beberapa hari. Beliau mengutus pasukannya ke berbagai tempat untuk mencari kaum musyrikin. Namun, nihil. Pasukan Nabi SAW hanya menemukan beberapa ekor unta dan kambing.

    Rasulullah SAW dan kaum muslimin akhirnya kembali ke Madinah tanpa peperangan.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Arab Saudi Luncurkan Program Baru Umrah Tanpa Perantara



    Jakarta

    Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi meluncurkan program baru umrah ‘langsung’ tanpa perantara. Program ini memungkinkan perusahaan melayani jemaah secara langsung dengan layanan berkualitas tinggi.

    Program baru ini diumumkan sejak Selasa, 20 Agustus 2024 dalam pertemuan pihak Kementerian Haji dan Umrah oleh Menteri Tawfiq bin Fawzan Al-Rabiah dengan para organisasi umrah. Pertemuan ini sejalan dengan strategi kementerian dalam memberdayakan sektor swasta untuk menawarkan layanan umrah sepanjang tahun.

    Dilansir Arab News (26/8/2024), program ini tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan warga asing ke Arab Saudi. Khususnya kunjungan para peziarah ke situs-situs bersejarah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.


    Tujuan ini sejalan juga dengan komitmen Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk meningkatkan jumlah jemaah umrah setiap tahunnya sesuai dengan Visi Saudi 2030.

    Di samping itu, pertemuan tersebut juga membahas arahan strategis untuk musim umrah 1446 H dibahas. Fokusnya untuk memastikan pengalaman yang lancar bagi jemaah dengan menjamin layanan berkualitas dan efisien.

    Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi memproyeksikan akan menerima 15 juta jemaah umrah di Tanah Suci pada pelaksanaan mendatang. Pakistan, Mesir dan Indonesia disebut sebagai negara yang akan menyumbang jemaah terbanyak.

    Pihak Kerajaan mulai merencanakan penyambutan jemaah umrah mendatang seperti dilaporkan Gulf News, Minggu (11/8/2024).

    Saudi sebelumnya mencatat rekor jemaah umrah dari luar negeri pada 2023. Total ada 13,55 juta orang berbondong-bondong untuk menunaikan sunnah Rasul itu. Jumlah ini meningkat 58 persen dari rekor sebelumnya pada 2019.

    Adapun musim baru umrah sudah dimulai sejak 7 Juli 2024 yang ditandai dengan dimulainya Tahun Baru Islam. Visa umrah sudah mulai diterbitkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sejak 20 Juni 2024 lalu.

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Apa Itu Haji Ifrad, Dalil, Tata Cara, Waktu dan Perbedaan dengan Jenis Haji Lainnya


    Jakarta

    Bagi umat Islam, melaksanakan ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi mereka yang mampu. Haji Ifrad adalah salah satu dari tiga jenis haji yang dikenal dalam ajaran Islam, selain Haji Tamattu’ dan Haji Qiran.

    Haji Ifrad merupakan salah satu jenis ibadah haji di mana seseorang melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu, dan umrah dilakukan secara terpisah setelahnya di luar musim haji. Dengan kata lain, dalam Haji Ifrad, umrah tidak dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan haji.

    Apa Itu Haji Ifrad

    Dalam buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umrah yang disusun oleh Ahmad Sarwat, dijelaskan bahwa ifrad berasal dari kata mashdar dengan akar kata ‘afrada’, yang artinya memisahkan sesuatu sehingga menjadi sendiri-sendiri, atau memisahkan sesuatu yang sebelumnya digabungkan.


    Secara harfiah, ifrad memiliki makna yang berlawanan dengan qiran, yaitu menggabungkan.

    Dalam konteks ibadah haji, ifrad merujuk pada pemisahan antara ibadah haji dan umrah. Dengan demikian, pelaksanaan haji tidak dilakukan bersamaan dengan umrah.

    Orang yang melaksanakan haji ifrad hanya menunaikan ibadah haji tanpa melakukan umrah. Namun, mereka tetap diperbolehkan melakukan umrah, tetapi setelah seluruh rangkaian haji selesai.

    Haji Ifrad adalah satu-satunya jenis haji yang tidak mengharuskan jemaah membayar denda berupa penyembelihan kambing sebagai dam. Berbeda dengan Haji Tamattu’ dan Qiran, yang mewajibkan jemaah untuk membayar dam.

    Dalil Pelaksanaan Haji Ifrad

    Haji Ifrad dilaksanakan berdasarkan dalil dari hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah memisahkan antara ibadah haji dan umrah saat menunaikan haji.

    Dasar pelaksanaan Haji Ifrad bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA. Dia berkata,

    “Kami keluar bersama Rasulullah SAW pada tahun ketika beliau melaksanakan haji Wada’. Di antara kami ada yang berihram untuk umrah, berihram untuk umrah dan haji (haji qiran), dan ada pula yang berihram untuk melaksanakan haji saja. Sementara Rasulullah berihram untuk haji. Adapun yang berihram untuk haji atau yang berihram dengan menggabungkan antara haji dan umrah, maka mereka tidak bertahallul hingga pada hari Nahar (tanggal 10 Zulhijah).” (HR Bukhari dan Muslim).

    Tata Cara dan Rangkaian Haji Ifrad

    Kembali mengacu pada buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umrah yang disusun oleh Ahmad Sarwat, tata cara pelaksanaan Haji Ifrad adalah dengan menunaikan ibadah haji terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan haji, jamaah kemudian mengenakan ihram untuk umrah dan melaksanakan rangkaian amalan umrah.

    Secara ringkas, urutan pelaksanaan Haji Ifrad adalah menyelesaikan haji terlebih dahulu, kemudian melanjutkan dengan umrah. Menurut buku Fiqh As-Sunnah Jilid 3 karya Sayyid Sabiq, terjemahan Khairul Amru Harahap dan kawan-kawan, mereka yang menunaikan Haji Ifrad melafalkan talbiyah dengan lafaz sebagai berikut:

    Labbaika bi-hajjin

    Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu untuk haji.”

    Secara lebih rinci berikut ini adalah tata cara dan rangkaian kegiatan haji Ifrad:

    1. Ihram di miqat untuk haji
    2. Tawaf qudum
    3. Sa’i haji
    4. Tanggal 8 Dzulhijjah, masih keadaan ihram
    5. Tanggal 9 Dzulhijjah, wukuf di Arafah
    6. Tanggal 10 Dzulhijjah, mabit di Muzdalifah
    7. Lempar jumrah Aqabah
    8. Tahalul Awal
    9. Tawaf Ifadhah
    10. Tahalul Tsani
    11. Mabit di Mina
    12. Tanggal 11 Dzulhijjah, melempar tiga jumrah
    13. Tanggal 12 Dzulhijjah, melempar tiga jumrah
    14. Meninggalkan Mina untuk Nafar Awal
    15. Tanggal 13 Dzulhijjah, melempar tiga jumrah
    16. Meninggalkan Mina untuk Nafar Tsani

    Waktu Pelaksanaan Haji Ifrad

    Dikutip dari buku Tuntunan Lengkap Wajib & Sunnah Haji dan Umrah karya H. Halik Lubis, berikut ini adalah waktu pelaksanaan Haji Ifrad:

    8 Zulhijah – Mekah (pagi)

    Berangkat menuju Mina bila melakukan sunah Tarwiyah atau menuju Arafah setelah meninggalkan sunah Tarwiyah.

    8 Zulhijah – Mina (siang-malam)

    Bermalam/mabit di Mina sebelum berangkat ke Arafah seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

    9 Zulhijah – Mina (pagi)

    Berangkat menuju Arafah setelah matahari terbit atau setelah melakukan salat Subuh.

    9 Zulhijah – Arafah (siang-sore)

    Sembari menunggu wukuf pada tengah hari, jangan lupa berdoa, berzikir, dan bertasbih. Selanjutnya meng-qashar salat Dzuhur dan Ashar. Kedua salat ini dilakukan pada waktu Dzuhur. Setelah salat selesai, berlanjut dengan wukuf dan berdoa, berzikir, dan bertalbiah, dilakukan terus menerus hingga waktu Maghrib tiba.

    9 Zulhijah – Arafah (sore-malam)

    Setelah matahari terbenam, dilanjutkan menuju Muzdalifah. Melakukan salat Maghrib di Muzdalifah dengan jamak salah Isya seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

    9 Zulhijah – Muzdalifah (malam)

    Menjamak takhir Maghrib dan Isya. Bermalam sebentar hingga lewat tengah malam sembari mengumpulkan 7 kerikil yang bertujuan untuk melempar jumrah aqabah.

    10 Zulhijah – Mina

    Melontarkan jumrah aqabah sebanyak 7 kali, melakukan tahalul awal, kemudian melanjutkan tawaf ifadah, sa’i, dan sunah melakukan tahallul qubra dengan cara mencukur rambut kepala. Jemaah harus sudah tiba di Mina sebelum waktu Magrib kemudian bermalam di Mina hingga tengah malam.

    11 Zulhijah – Mina

    Melontarkan jumrah Ula, wusta, dan Aqabah sebanyak 7 kali. Kemudian bermalam di Mina paling tidak sebelum Maghrib hingga tengah malam.

    12 Zulhijah – Mina

    Melontar jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah masing-masing 7 kali saat waktu subuh. Nafar awal, kembali ke Mekah sebelum Maghrib tiba. Hingga akhirnya dilanjutkan melakukan tawaf ifadah dan sa’i setelah tahallul qubra bagi yang belum melakukan.

    13 Zulhijah – Mina (pagi)

    Melontar jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah sebanyak 7 kali.

    13 Zulhijah – Mekah (siang-malam)

    Melakukan tawaf iafadah, sa’i, dan melakukan tahallul qubra bagi yang belum melaksanakannya. Setelah ini, ibadah haji pun selesai.

    Perbedaan Haji Ifrad dengan Haji Qiran dan Tamattu

    Menurut buku Fiqih Lima Mazhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali karya Mighniyah, Haji Ifrad adalah ibadah haji yang dilaksanakan secara terpisah dari umrah. Dalam praktiknya, Haji Ifrad dimulai dengan pelaksanaan haji terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan ibadah umrah setelahnya.

    Sementara itu, Haji qiran adalah ibadah haji dan umrah yang dilakukan secara bersamaan. Dalam haji qiran, jamaah berihram dengan niat umrah dan haji sekaligus.

    Jenis Haji yang terakhir, Haji Tamattu merupakan ibadah haji yang diawali dengan melakukan umrah terlebih dahulu.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saudi Minta Jemaah Umrah Jaga Jarak Selama di Masjidil Haram



    Jakarta

    Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan sejumlah imbauan bagi jemaah umrah. Pihaknya minta jemaah tidak berdesak-desakan dan menjaga jarak fisik saat melakukan ibadah di Masjidil Haram.

    Imbauan tersebut disampaikan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi baru-baru ini. Kementerian mengatakan menjaga jarak fisik memungkinkan menurunkan penularan penyakit menular dan infeksi saluran pernapasan.

    “Menghindari desak-desakan menjamin kita melaksanakan umrah dengan aman,” kata kementerian dalam unggahan X seperti dilansir dari Gulf News, Senin (23/9/2024).


    Kementerian sebelumnya berulang kali menganjurkan jemaah memakai masker di Masjidil Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah untuk melindungi diri dari infeksi virus dan pernapasan.

    Selain itu, jemaah juga dianjurkan minum air putih cukup, terutama saat cuaca panas, untuk menghindari dehidrasi.

    Kondisi cuaca di Tanah Suci belakangan ini cukup ekstrem. Otoritas setempat mengeluarkan peringatan badai petir yang melanda beberapa wilayah hingga Minggu kemarin. Badai petir sudah berlangsung sejak awal September ini.

    Diketahui, Arab Saudi telah membuka gerbang bagi jemaah umrah musim 1446 H sejak berakhirnya ibadah haji tahunan pada akhir Juni 2023. Menurut statistik Arab Saudi, sekitar 13,5 juta muslim menunaikan umrah pada tahun lalu.

    Gulf News turut melaporkan, Kerajaan Arab Saudi berencana menyambut 15 juta muslim untuk menunaikan umrah tahun depan. Sejumlah fasilitas diluncurkan untuk menarik kedatangan jemaah umrah dari berbagai negara.

    Pihak berwenang telah memperpanjang visa umrah dari 30 hari menjadi 90 hari. Pemegang visa tersebut diizinkan memasuki kerajaan melalui semua jalur darat, udara, dan laut serta berangkat dari bandara mana pun.

    Pemegang visa masuk selain umrah, seperti visa pribadi, kunjungan, dan wisata, juga diizinkan menunaikan ibadah haji kecil itu dan mengunjungi Raudhah, makam Nabi Muhammad SAW yang berada di Masjid Nabawi.

    Pendaftaran umrah dilakukan melalui aplikasi Nusuk.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Pengunjung di Raudhah Meningkat, Arab Saudi Terapkan Izin via Aplikasi Nusuk



    Jakarta

    Pemerintah Arab Saudi telah memberlakukan aturan baru bagi umat Islam yang ingin berkunjung ke Ar-Raudhah Asy-Syarifah. Mulai sekarang, setiap pengunjung diwajibkan untuk mendapatkan izin elektronik terlebih dahulu sebelum memasuki area makam Nabi Muhammad SAW.

    Melansir Gulf News, Jumat (15//11/2024), kebijakan ini bertujuan untuk mengatur jumlah pengunjung, menghindari kepadatan, dan menjaga ketertiban di sekitar makam Nabi. Dengan adanya izin elektronik, para jemaah dapat merencanakan kunjungan mereka dengan lebih baik dan memastikan mendapatkan kesempatan untuk berdoa di tempat yang sangat istimewa ini.

    “Hanya dengan izin, Anda memastikan mendapatkan kesempatan untuk melakukan salat di Ar-Raudhah Asy-Syarifah, menghindari kepadatan dan kemacetan, dan menjaga ketertiban,” kata Kementerian Haji dan Umrah Saudi dalam sebuah postingan di X.


    Untuk memudahkan proses perizinan, pemerintah Saudi telah menyediakan aplikasi Nusuk. Aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk mengurus izin kunjungan ke Ar-Raudhah Asy-Syarifah, tetapi juga untuk keperluan umrah atau ziarah kecil di Masjidil Haram, Makkah. Dengan satu aplikasi, para jemaah dapat mengatur seluruh rangkaian ibadah mereka dengan lebih praktis.

    Selain mengatur izin kunjungan, pemerintah Saudi juga terus berupaya meningkatkan fasilitas dan keamanan di sekitar Ar-Raudhah Asy-Syarifah.

    Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengganti penghalang kayu yang mengelilingi Ruang Suci dengan penghalang kuningan berlapis emas. Penghalang baru ini tidak hanya lebih kokoh dan tahan lama, tetapi juga memiliki desain yang lebih estetik dan sesuai dengan arsitektur Masjid Nabawi.

    Seperti diketahui, popularitas Ar-Raudhah Asy-Syarifah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data resmi menunjukkan bahwa lebih dari 10 juta umat Islam telah mengunjungi tempat suci ini.

    Tahun 2024, pengunjung Raudhah meningkat 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah pengunjung ini menunjukkan betapa pentingnya tempat ini bagi umat Islam di seluruh dunia.

    (hnh/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kode Warna di Setiap Akses Pintu Keluar Masjid Nabawi, Bantu Navigasi Jemaah


    Madinah

    Masjid Nabawi memiliki 69 gerbang yang masing-masing diberi warna dan angka untuk memudahkan pergerakan para jemaah yang mengunjunginya.

    Mengutip Gulf News (23/11/2024) Otoritas Umum untuk Perawatan Dua Masjid Suci di Arab Saudi menjelaskan bahwa setiap pintu keluar diberi warna khusus untuk membantu jemaah menavigasi masjid dan dengan mudah mencapai akomodasi mereka setelah melakukan salat dan berziarah ke makam Rasulullah.

    Sebagai upaya tambahan untuk membantu jemaah agar fokus pada ibadah mereka, pihak berwenang telah mendirikan pusat penitipan anak di halaman masjid. Pusat ini beroperasi setiap hari dari pukul 5 pagi hingga 11 malam waktu Arab Saudi di bawah pengawasan spesialis.


    “Pusat Keramahtamahan Anak-anak di halaman Masjid Nabawi menyediakan tempat yang aman dan menghibur dengan konten budaya, yang memungkinkan orang tua menikmati saat-saat beribadah dengan tenang,” Tawfik Rabiah selaku Menteri Haji Saudi dalam pernyataannya di X.

    Dalam laman Himpuh dijelaskan beberapa warna dan kode gerbang di pintu Masjid Nabawi:

    1. Gerbang Warna Ungu (309)

    Gate atau pintu ini terletak di arah timur laut, di sebelah kanan hadapan imam. Ini adalah satu-satunya gerbang yang berwarna ungu dan dekat dengan Masjid Ghamamah dan Masjid Abu Bakar.

    2. Gerbang Warna Orange (310-326)

    Gerbang ini terletak di sisi timur, di samping kanan masjid. Gerbang ini mengarah ke Pasar Bilal dan Taman Saqifah Bani Saidah

    3. Gerbang Warna Merah (328-338)

    Gerbang ini terletak di sisi selatan, tepat di bagian belakang masjid, mengarah ke pertokoan, pusat perbelanjaan, dan perhotelan. Banyak di antaranya sering diinapi oleh jemaah asal Indonesia.

    4. Gerbang Warna Biru (340-364)

    Berlokasi di sisi barat, di sebelah kiri imam. Gerbang ini berdekatan dengan area pemakaman Baqi’ atau Jannatul Baqi’, tempat para jemaah bisa berziarah ke makam keluarga dan sahabat Nabi Muhammad SAW.

    Area ini juga biasanya dijadikan tempat berkumpul jemaah Indonesia yang akan memasuki Raudhah dengan tasreh yang sudah disediakan Petugas Haji seksus Nabawi.

    5. Gerbang Warna Hijau (301-308, 365-369)

    Terletak di sisi utara, dekat dengan makam Rasulullah SAW. Gerbang ini sering digunakan oleh jemaah yang ingin berziarah ke makam Nabi SAW.

    Pada tahun 2023, lebih dari 280 juta muslim beribadah di Masjid Nabawi, yang merupakan tempat Al Rawda Al Sherifa (Raudhah), tempat makam Nabi Muhammad SAW.

    Setelah melaksanakan umrah, atau ziarah kecil, di Masjidil Haram di Makkah, banyak jemaah melanjutkan perjalanan mereka ke Madinah untuk beribadah di Masjid Nabawi.

    Menurut data Saudi terkini, lebih dari 10 juta Muslim telah beribadah di Al Rawda Al Sherifa (Raudhah) sepanjang tahun ini, menandai peningkatan sebesar 26% dibandingkan tahun lalu.

    (lus/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Tiba di Kampung Halaman Lengkap dengan Artinya



    Jakarta

    Sudah menjadi salah satu tradisi, apabila menjelang Lebaran tiba maka para muslim akan berbondong-bondong untuk mudik. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menganjurkan untuk membaca doa ketika tiba di kampung halaman.

    Menurut Nasaruddin Umar dalam buku Kontemplasi Ramadan, mudik bagaikan sebuah kelengkapan pada Hari Raya Idul Fitri. Tujuan utama mudik ialah untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak keluarga yang berada di kampung halaman.

    Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa yang mudik ke kampung halaman untuk berziarah ke makam orang tua. Mudik ke kampung halaman ini diwarnai dengan kegiatan silaturahmi atau semacam reuni dengan keluarga terdekat dan teman-teman sepermainan di masa kecil.


    Sesampainya di kampung halaman sebagai umat Islam kita dianjurkan untuk membaca doa tiba di kampung halaman. Doa ini termuat dalam hadits tentang safar.

    Doa Tiba di Kampung Halaman

    Merujuk pada buku Doa & Dzikir Umrah Amisya: Kumpulan Doa dan Dzikir Ibadah Umrah berikut bacaan doa tiba di kampung halaman:

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَصَرَنِي بِقَضَاءِ نُسُكِي وَحَفَظَنِيْ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ حَتَّى أعُوْدَ إِلَى أَهْلِ . اَللهُمَّ بَارِكْ فِي حَيَاتِي بَعْدَ الْعُمْرَةِ وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ.

    Arab latin: Alhamdulillaahil ladzzii nasharanii bi qadhaa’I nusukii wa hafadzanii min wa’tsaa’is safari hattaa a’uuda ilaa ahlii. Allaahummaa baarik fii hayaatii ba’dal umrati waj’alnii minash shaalihiin

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku untuk melaksanakan ibadah dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi. Ya Allah, berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan umrah dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang saleh.”

    Umat Islam juga dianjurkan untuk membaca doa begitu mulai memasuki kampung halaman. Mengutip Kitab Al-Fiqhu al-Islamiyyuu wa Adilatuhu karya Wahbah az-Zuhaili doa ketika melihat perbatasan kampung halaman,

    باسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا

    Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a’ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon Engkau memberiku kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya; dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini, kejahatan penduduknya, serta kejahatan apa pun yang ada di dalamnya.”

    Sementara itu Ali Manshur di dalam buku Untaian Mutiara Doa Solusi Problematika Umat: Bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, menjelaskan hadits yang terkait dengan kembali bepergian dan melihat kampung halaman. Hadits ini dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya.

    وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ يَحْيَ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ: قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكِ: أَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ أَنَا وَأَبُوْ طَلْحَةَ وَصَفِيَّةُ رَدِيْفَتُهُ عَلَى نَاقَتِهِ، حَتَّى إِذَا كُنَّا بِظَهْرِ الْمَدِينَةِ، قَالَ: «آيبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ». فَلَمْ يَزَلْ ذَالِكَ حَتَّى قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ.

    Artinya: “Dan Zuhair bin Harb telah menceritakan padaku: Ismail bin Ulayyah telah menceritakan kepada kami: Dari Yahya bin Ishaq, ia berkata: Anas bin Malik berkata: Kami bersama Nabi Muhammad SAW, sata dan Abu Thalhah dan Shafiyyah menunggang untanya, sehingga ketika kami melihat Madinah, beliau berdoa: “Kami kembali dengan bertaubat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami.” Maka demikian itu berlangsung sampai kami memasuki Madinah.”

    Di dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi menjelaskan mengenai kewajiban sebagai seorang muslim untuk berdoa dan berzikir kepada Allah SWT.

    Hal ini diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, dari Abdullah bin Busr RA seorang sahabat dari Nabi Muhammad SAW dia mengatakan bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aturan-aturan Islam telah banyak bagiku. Karena itu, beritahukan kepadaku sesuatu yang bisa menjadi peganganku,” Beliau berkata, “Hendaknya lidahmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah SWT.”

    Bukan hanya itu, diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, dari Abu Sa’id Al Khudri RA, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Manakah ibadah yang paling utama derajatnya di sisi Allah SWT pada hari kiamat?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah SWT.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah SAW, bagaimana dengan orang yang berperang di jalan Allah SWT?” Beliau menjawab, “Kalaulah dia menebas dengan pedangnya terhadap orang-orang kafir dan musyrik hingga pedang tersebut patah dan dilumuri darah, maka orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah SWT lebih utama derajatnya dibandingkan dengannya.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Hanya 1 dari 73 Golongan Umat Nabi yang Selamat?


    Jakarta

    Umat Nabi Muhammad SAW dalam sebuah riwayat dikatakan akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya satu di antaranya yang disebut selamat. Mengapa demikian?

    Mengutip dari arsip detikHikmah, terbaginya umat Islam ke dalam 73 golongan ini termaktub dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi yang bunyinya:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: افْتَرَقَ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثَ وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة ، قالوا : ومَن هم يا رسول الله ؟ قال : هم الذي أنا عليه وأصحابي


    Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan.”

    Para sahabat bertanya, “Siapakah satu golongan itu?”

    Rasulullah SAW menjawab, “(Yaitu) siapa saja yang berada di atas apa (ajaran) yang diriku dan (juga) para sahabatku pernah berpegang pada (ajaran) itu.” (HR At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih)

    Diterangkan dalam buku Syaikh Abdul Qadir Jailani: Guru Para Pencari Tuhan karya Abdul Razzaq Al-Kailani, 73 golongan umat Islam tersebut berasal dari 10 golongan, yaitu Ahlu Sunnah, Khawarij, Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah, Musyabbihah, Jahmiyyah, Dhirariyah, Najjariyyah, dan Kilabiyah.

    Ahlu Sunnah hanya terdiri dari satu golongan. Khawarij ada 10 golongan, Mu’tazilah 6 golongan, Murji’ah 12 golongan, Syi’ah 32 golongan. Sementara Jahmiyyah, Najjariyyah, Dhirariyah, dan Kilabiyah memiliki satu kelompok saja. Sedangkan Musyabbihah memiliki 3 golongan.

    Hanya 1 Golongan yang Selamat karena Mengikuti Al Jamaah

    Menurut para ulama, golongan yang dimaksud akan selamat dari neraka pada hadits tersebut ialah golongan ahlu sunnah wal jamaah. Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Abbas RA berkata:

    “Pada hari yang waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ (QS Ali Imran: 106). Adapun orang yang putih wajahnya, mereka adalah ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlul bid’ah dan sesat.”

    Menambahkan dari buku Mengungkap Kebenaran Aqidah Asy’ariyyah karya Kholilurrohman, ahlu sunnah wal jamaah yang dikatakan sebagai satu golongan umat nabi yang selamat masuk surga ialah kelompok mayoritas dari umat Islam.

    Berdasarkan catatan sejarah, kalangan umat Islam sejak abad permulaan, terutama pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA hingga saat ini, terdapat banyak golongan (firqah) dalam masalah akidah. Sering kali, paham terkait akidah satu sama lain pun sangat berbeda, bahkan saling bertentangan.

    “Karenanya, Rasulullah sendiri sebagaimana dalam hadits di atas telah menyebutkan bahwa umatnya ini akan terpecah-belah hingga 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah, dengan berbagai hikmah terkandung di dalamnya, walaupun kita tidak mengetahui secara pasti akan hikmah-hikmah di balik itu,” jelas Kholilurrohman dalam bukunya.

    Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam kitab Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah menyampaikan dua pendapat yang salah satunya berlawanan. Ia menyatakan, umat Islam dari 73 golongan itu akan selamat kecuali satu yang masuk neraka, yaitu kaum kafir zindiq atau kaum yang tidak percaya adanya Nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW telah menjelaskan jalan menuju keselamatan yang dapat ditempuh umat Islam agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW berwasiat kepada umatnya,

    أوميكم باصحابي ثم الذين يلونهم هم الذين يلونهب ووقه عليكم بالخفاقة وياكم والقرفة قران الشيطان مع الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاثْنَيْنِ أبْعَد فَمَنْ أَرَادَ بحبوحة الجنّة فليلزم الجماعة. رواه الترمذي وَقَالَ حِسَنُ صحيح، وصححه الحاكم

    Artinya: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka”. Dan termasuk dalam rangkaian hadits ini: “Hendaklah kalian berpegang kepada mayoritas (al-Jama’ah) dan jauhilah perpecahan, karena setan akan menyertai orang yang menyendiri. Dia (Setan) dari dua orang akan lebih jauh. Maka barangsiapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh kepada (keyakinan) al-Jama’ah”. (HR. at-Tirmidzi. la berkata hadits ini hasan shahih dan dishahihkan pula oleh Imam Al-Hakim)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com