Tag: nabi muhammad

  • Sukses Dunia-Akhirat dengan Menghargai Waktu



    Jakarta

    Waktu merupakan harta yang paling berharga bagi umat manusia dalam menjalankan kehidupannya di dunia. Orang yang bisa mengendalikan waktu akan sukses di dunia dan selamat di akhirat.

    Hal tersebut diungkapkan Habib Husein Ja’far dalam detikKultum detikcom, Sabtu (25/3/2023).

    Habib Ja’far menyebut, saking berharganya waktu, peradaban-peradaban besar di muka bumi memiliki semboyan atas waktu. Misalnya orang Arab jahiliyah yang kerap berperang, menyebut waktu itu seperti pedang.


    Begitu halnya dalam Islam. Allah SWT kerap bersumpah atas nama waktu dalam mengawali beberapa firman-Nya. Contohnya,

    وَالْفَجْرِۙ ١

    Artinya: “Demi waktu fajar, (QS Al Fajr: 1)

    وَالْعَصْرِۙ ١

    Artinya: “Demi masa.” (QS Al Asr: 1)

    “Karena pentingnya waktu, maka kemudian Allah dan Nabi Muhammad mencoba secara praktis mendidik kita agar mengendalikan waktu,” terang Habib Ja’far.

    “Sebab, orang yang sukses adalah orang yang berhasil mengendalikan waktu dan orang yang gagal adalah orang yang dikendalikan oleh waktu. Sukses di dunia maupun di akhirat,” imbuhnya.

    Allah SWT juga telah menentukan segala sesuatu memiliki waktunya sendiri, salah satunya salat. Sebagaimana Dia berfirman dalam surah An Nisa ayat 103,

    اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

    Artinya: “Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”

    Lantas, apa hikmah di balik ketentuan Allah SWT atas waktu tersebut? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Sukses Dunia-Akhirat dengan Menghargai Waktu tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Generasi Muslim Harus Jadi Pembaca dan Pengamal



    Jakarta

    Membaca adalah salah satu ibadah dalam Islam. Perintah membaca merupakan wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

    Hal tersebut diungkapkan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Rabu (29/3/2023). Habib Ja’far menjelaskan, aktivitas membaca di sini meliputi berbagai hal.

    “Apa yang perlu dibaca? Segala hal. Buku, alam semesta, bahkan diri kita sendiri diwajibkan bagi kita untuk membacanya,” kata Habib Ja’far.


    Habib Ja’far menjelaskan lebih lanjut, perkara terpenting dalam hal ini adalah membaca atas nama Allah SWT. Sebab, semakin dalam kita membaca, semakin dalam pula kita tunduk pasrah terhadap Allah SWT.

    Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al ‘Alaq ayat 1,

    اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١

    Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”

    Membaca menjadi perkara yang penting dalam Islam agar kita mengetahui sesuatu yang tidak pernah diketahui sebelumnya. “Karena ketika kita belum tahu, kita tentu tidak akan menghindari sesuatu yang buruk atau menjalankan sesuatu yang baik,” ujar Habib Ja’far.

    Setelah membaca, kata Habib Ja’far, kita harus mengamalkannya. Sebab, dalam Islam membaca saja tidak cukup tanpa dilengkapi dengan mengamalkan atas apa yang telah kita baca. Demikian halnya jika hanya mengamalkan tanpa membaca, itu bisa menjadi perkara yang menyesatkan.

    Habib Ja’far memberikan contoh perjuangan para ulama yang membaca dengan keterbatasannya kala itu. Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Generasi Muslim Harusnya Jadi Pembaca dan Pengamal tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Salahkan Keadaan, tapi Diri Kita Sendiri



    Jakarta

    Tak sedikit dari kita mungkin masih ada yang menyalahkan keadaan ketika hal itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menurut Habib Ja’far, yang seharusnya disalahkan adalah diri kita sendiri.

    Hal tersebut diungkapkan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Jumat (31/3/2023). Habib mengawalinya dengan memberikan contoh orang yang berbuat maksiat saat bulan Ramadan menyebut itu bisa terjadi karena godaan setan. Padahal, menurut Habib, argumen tersebut hanyalah alibi.

    “Bulan Ramadan argumen pembelaan itu biasanya disebut alibi ya, pembelaan yang mengada-ngada, bukan kebenaran (tapi) itu pembenaran. Itu dikritik oleh Allah melalui Nabi Muhammad yang mengatakan di bulan Ramadan itu salah satu keberkahannya adalah setan diiket,” ujar Habib Ja’far.


    “Jadi, kalau di bulan Ramadan lo masih melakukan maksiat berarti bukan karena keadaan, bukan karena diganggu setan, tapi karena emang gua dan lo itu setannya. Itu the real kesurupan tu itu, bulan Ramadan masih maksiat,” imbuhnya.

    Habib Ja’far menjelaskan, hal tersebut lantaran terdapat nafsu dalam diri yang tidak bisa kita kontrol. Sebab, kata Habib Ja’far, Allah SWT memberikan kedaulatan kepada setiap manusia untuk memilih keadaannya, yakni bermaksiat atau ibadah.

    Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    Artinya: “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Karena hal itulah, kata Habib Ja’far, kita tidak bisa menyalahkan keadaan. Namun, dalam hal ini, yang bisa disalahkan adalah diri kita sendiri, mengapa bisa terbawa keadaan.

    Menurutnya, orang yang bisa mengendalikan keadaan adalah orang yang beruntung. Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Jangan Salahkan Keadaan, tapi Diri Kita Sendiri tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Setiap Keburukan Pasti Ada Kebaikannya



    Jakarta

    Kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang berpotensi ada pada setiap diri manusia. Menurut Habib Ja’far, di balik suatu keburukan pasti ada kebaikannya.

    Hal tersebut diungkapkan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Kamis (6/4/2023). Habib mengawalinya dengan mengatakan bahwa identitas umat Islam sebagaimana dibawakan Rasulullah SAW adalah selalu melihat kebaikan dan buta akan keburukan.

    “Salah satu identitas umat Islam yang diproklamirkan oleh Nabi Muhammad itu adalah dia selalu melihat kebaikan dan buta akan keburukan. Sehingga dia selalu mengikuti jalan kebaikan dan tidak pernah ke-distract sama jalan keburukan,” ucap Habib Ja’far.


    Habib Ja’far menjelaskan, seorang muslim sudah sepatutnya mencari hikmah di balik setiap keburukan. Sebab, kata Nabi SAW, pelajaran yang baik (al-hikmah) merupakan harta karun umat Islam yang harus kita cari.

    Faktanya, kata Habib Ja’far, tidak ada manusia yang sepenuhnya buruk. Sebab, Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Hijr ayat 29,

    فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

    Artinya: “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud.”

    Habib Ja’far menjelaskan, maksud roh dalam ayat tersebut adalah fitrah yang mana Nabi SAW katakan itu adalah suatu kesucian yang ada pada setiap manusia. Fitrah akan terus ada dan umat Islam sebaiknya melihat orang lain dengan fitrah tersebut.

    “Nah, kita sebaiknya berfokus kepada fitrah itu sebagai kebaikan dalam melihat manusia lain. Sehingga kita selalu optimis untuk bisa membuat dia menjadi baik dan lebih baik,” ujar Habib Ja’far.

    Allah SWT juga telah memerintahkan kepada umat manusia agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Dia berfirman,

    ۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar: 53)

    Bagaimana caranya melihat kebaikan dalam suatu keburukan? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Setiap Keburukan Pasti Ada Kebaikannya tonton DI SINI.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Rajin Ibadah kok Masalah Datang Bertubi-tubi?



    Jakarta

    Setiap orang pasti memiliki permasalahan dalam hidupnya, baik itu kecil maupun besar. Terkadang masalah justru datang bertubi-tubi meskipun kita rajin beribadah.

    Menurut Habib Ja’far, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan permasalahan tak kunjung usai meskipun kita telah rajin beribadah kepada Allah SWT. Pertama, kata Habib, masalah tersebut adalah cara Allah SWT untuk meningkatkan kualitas hidup kita.

    “Kadang Allah kasih masalah untuk menyadarkan kita dari kesalahan kita justru atau meningkatkan kualitas kita agar lebih tinggi lagi dalam kebahagiaannya di dunia atau dalam keselamatannya di akhirat. Maka, Allah kasih masalah sebagai apa? Sebagai ujian,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Sabtu (8/4/2023).


    Habib Ja’far menjelaskan, datangnya permasalahan yang tak kunjung usai tersebut bisa jadi adalah bentuk kecintaan Allah SWT kepada hamba-Nya. Contohnya adalah Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan berbagai ujian ketika menyebarkan Islam, sebab beliau adalah nabi paling dicintai Allah SWT di antara para nabi dan rasul lainnya.

    “Oleh karena itu, masalah itu bisa jadi benar, dia tidak salah, untuk membenarkan kita dari kesalahan atau untuk meningkatkan kualitas kebenaran kita menjadi lebih baik,” jelas Habib Ja’far.

    Kemungkinan kedua, masalah yang datang bertubi-tubi padahal kita rajin beribadah terjadi karena kita menganggap ibadah itu sebatas hubungan kita kepada Allah SWT (hablumminallah). Padahal, hubungan antar sesama manusia (habluminannas) atau yang sering disebut usaha kita juga termasuk ibadah.

    Allah SWT berfirman dalam surah At Taubah ayat 105,

    وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

    Sehingga, kata Habib Ja’far, bisa jadi masalah tidak kunjung selesai karena pola pikir kita tentang ibadah itu sempit, seolah-olah hanya berupa ritual kepada Allah SWT seperti salat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.

    Ketiga, permasalahan merupakan cara Allah SWT untuk menguatkan mental, fisik, dan segala sesuatu dari kita. Mengapa demikian? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Rajin Ibadah kok Masalah Datang Bertubi-tubi? tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tingkat Ketebalan Alam Ghaib Seseorang



    Jakarta

    Mempelajari alam ghaib bukan hal yang mudah. Terlebih, alam ghaib tidak dapat dijangkau oleh panca indera, sehingga dibutuhkan hati dan pikiran yang tenang untuk memahami hal tersebut.

    Berkenaan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Selasa (11/4/2023) membahas tentang alam ghaib. Dia menilai, definisi alam ghaib bagi setiap individu berbeda.

    “Definisinya sangat relatif bagi setiap orang. Ada yang alam ghaibnya sangat tebal, ada yang alam ghaibnya sangat transparan,” urainya.


    Tingkat ketebalan alam ghaib itu menunjukkan bahwa diri kita masih perlu pembersihan. Orang yang batinnya suci seperti wali atau nabi umumnya alam ghaibnya sudah sangat transparan.

    Sebaliknya, mereka yang alam ghaibnya masih tebal harus memperbaiki kualitas spiritualnya. Bulan suci Ramadan menjadi momentum untuk membersihkan diri agar mendapat pandangan batin yang tajam.

    “Orang yang diberikan ketajaman batin itu bisa menembus alam ghaib, conntohnya sebelum ada musibah, ada mimpi yang datang di tengah malam. Ada orang yang seperti itu,” kata Prof Nasaruddin menjelaskan.

    Dia menegaskan, masing-masing orang alam ghaibnya tidak sama. Dalam sebuah hadits, ada istilah yang menyebut seseorang mampu meminjam mata Tuhan untuk melihat dan telinga Tuhan untuk mendengar.

    Contoh nyata dari istilah tersebut ialah Nabi Muhammad SAW. Menurut penuturan Prof Nasaruddin, Rasulullah mampu melihat masa depan dan masa silam, hal ini tentu menunjukkan tingkat ketebalan alam ghaib beliau yang sudah transparan.

    “Tapi nanti kalau kita sudah berada di alam barzah, kita sudah bukan lagi berada di alam ghaib karena kita menjadi bagian dari ghaib itu sendiri,” urainya.

    Pun, ketika kita berada di alam barzah kita masih akan mengalami alam ghaib berikutnya, yaitu surga dan neraka. Dengan demikian, Prof Nasaruddin mengimbau kaum muslimin untuk mengevaluasi perjalanan hidup, apakah semakin hari semakin transparan alam ghaib kita atau sebaliknya.

    Dalam surat Qaf ayat 22, Allah SWT berfirman:

    لَّقَدْ كُنتَ فِى غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ ٱلْيَوْمَ حَدِيدٌ

    Arab latin: Laqad kunta fī gaflatim min hāżā fa kasyafnā ‘angka giṭā`aka fa baṣarukal-yauma ḥadīd

    Artinya: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam,”

    “Mari para pemirsa kita bermohon kepada Allah SWT semoga pandangan batin kita semakin dipertajam, terutama di bulan suci Ramadan ini,” pungkasnya.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Alam Ghaib dapat disaksikan DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Habib Ja’far: Allah Adalah Penjaga Terbaik



    Jakarta

    Allah SWT adalah sebaik-baiknya penjaga. Habib Ja’far menyebut, penjagaan Allah SWT ini disertai dengan kecintaan-Nya kepada hamba-Nya melebihi kecintaan seorang hamba terhadap dirinya sendiri.

    Hal tersebut diungkapkan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Rabu (12/4/2023). Habib menyandarkan hal itu pada firman Allah SWT dalam surah Yusuf ayat 64,

    قَالَ هَلْ اٰمَنُكُمْ عَلَيْهِ اِلَّا كَمَآ اَمِنْتُكُمْ عَلٰٓى اَخِيْهِ مِنْ قَبْلُۗ فَاللّٰهُ خَيْرٌ حٰفِظًا وَّهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ


    Artinya: “Dia (Ya’qub) berkata, “Bagaimana aku akan memercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti halnya dahulu aku telah memercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu? Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

    Habib Ja’far menjelaskan bahwa Allah SWT begitu dekat dengan kita, hamba-Nya. Kedekatan ini mencakup pemeliharaan, pengawasan, dan sebagainya.

    “Bukan berarti kedekatan itu yang bersifat tempat, tapi kedekatan itu dalam sifat pemeliharaan, penjagaan, pengawasan, dan lain sebagainya yang menurut sebagian ulama diwakili oleh para malaikat,” ujar Habib Ja’far.

    Sebagaimana Allah SWT berfirman,

    وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ١٦

    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaf: 16)

    Salah satu kisah yang menunjukkan betapa dekatnya Allah SWT kepada hamba-Nya dalam penjagaan adalah saat Abu Bakar Ash Shiddiq RA menemani hijrah Nabi Muhammad SAW dalam kejaran kaum kafir Quraisy. Habib Ja’far menceritakan, kala itu keduanya bersembunyi di Gua Tsur.

    Abu Bakar Ash Shiddiq lantas bertanya kepada Nabi SAW, apakah musuhnya akan menemukan mereka. Lalu, Nabi SAW bersabda,

    لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

    Artinya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

    Kisah ini Allah SWT abadikan dalam surah At Taubah ayat 40. Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Allah Adalah Penjaga Terbaik tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Dahsyatnya Keutamaan Sholawat



    Jakarta

    Sholawat merupakan wujud cinta seorang muslim kepada Rasulullah SAW. Melalui sholawat, umat Islam memberi pujian sekaligus doa kepada nabi yang bernilai pahala.

    Dalam detikKultum detikcom pada Kamis (13/4/2023), Prof Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa orang yang rajin bersholawat akan diberi syafaat oleh Nabi Muhammad SAW kelak.

    “Jadi jangan memandang enteng sholawat nabi. Sholawat itu adalah bentuk komunikasi batin dengan Rasulullah SAW,” katanya menjelaskan.


    Pada sebuah hadits, disebutkan juga bahwa keutamaan bersholawat, yaitu:

    “Barang siapa yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya 10 kali,” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

    “Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca sholawat kepadaku,” (HR Tirmidzi).

    Lebih lanjut Prof Nasaruddin menjelaskan, ketika kiamat dan Matahari hanya beberapa jengkal di atas kepala maka tidak ada yang bisa membantu manusia selain nabi. Bagaimana cara mendapatkan bantuannya? Yakni dengan rajin bersholawat dan membiasakan diri untuk melantunkan sholawat nabi.

    Ruhnya Rasulullah tidak pernah mati, dia tahu. Dia (Nabi Muhammad SAW) tergetar hatinya manakala ada yang menyebutkan namanya (bersholawat),” bebernya.

    Dalam surat Al Ahzab ayat 56 disebutkan bahwa yang bersholawat tidak hanya manusia, bahkan para malaikat sekalipun. Allah SWT berfirman:

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    Arab latin: Innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ ‘alaihi wa sallimụ taslīma

    Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya,”

    Di Indonesia sendiri, lantunan sholawat berkisar hingga 100 lebih. Saking banyaknya, jumlah sholawat ini melebihi yang ada di Timur Tengah.

    “Umat yang paling rajin bersholawat ini kayaknya Indonesia nih. Ada 100 lantunan sholawat di Indonesia,” kata Prof Nasaruddin Umar.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Sholawat bisa disaksikan DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Seseorang Tergantung Siapa Circle-nya, Selektiflah!



    Jakarta

    Lingkaran pertemanan, atau yang dalam bahasa Inggris disebut circle, turut mempengaruhi kepribadian seseorang. Hal itu juga memungkinkan akan menentukan puncaknya agama.

    Hal tersebut dikatakan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Sabtu (15/4/2023). Habib menyebut, circle dapat menentukan berbagai hal. Mulai dari hobi, pekerjaan, kuliner yang disukai, nasib, hingga agama. Circle dalam hal ini bisa berupa teman atau lingkungan.

    “Dan puncaknya adalah apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad dalam riwayat Abu Hurairah, “Agama seseorang itu tergantung kepada teman dekatnya.” Maka selektiflah dalam memilih teman atau menentukan lingkungan di mana kita tinggal,” pinta Habib Ja’far.


    Habib Ja’far menerangkan hal ini dengan memberikan perumpamaan sebagaimana disebut dalam sabda Nabi SAW bahwasanya seseorang dengan temannya itu adalah seperti pandai besi dan penjual minyak wangi.

    Rasulullah SAW bersabda,

    مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

    Artinya: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut Habib Ja’far, perumpamaan dalam hadits tersebut mengajarkan kepada kita agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pertemanan supaya tidak membawa pengaruh buruk bagi kita.

    Di sisi lain, kata Habib Ja’far, hadits tersebut juga mengajarkan bahwa ketika kita memiliki keimanan yang kuat, ekonomi yang mapan, dan kesadaran yang tinggi, seharusnya kita juga berkumpul dengan orang-orang yang lemah ekonominya, lemah imannya, dan lemah kesadarannya.

    Mengapa demikian? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Seseorang Tergantung Siapa Circle-nya, Selektiflah! tonton DI SINI.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Maksiat Terasa Asik karena Fitnah Dajjal



    Jakarta

    Sering kali berbuat maksiat terasa lebih mudah daripada berada di jalan ketaatan. Menurut Habib Ja’far, hal itu lantaran adanya fitnah Dajjal.

    Habib Ja’far menjelaskan, sebenarnya maksiat itu tidak lebih mudah daripada taat. Ia menyebut, sesungguhnya yang terasa mudah adalah taat, terlebih Islam merupakan agama yang paling mudah di antara agama yang diturunkan Allah SWT sebelumnya.

    “Nah kata kuncinya itu di terasa. Jadi tidak sebenarnya maksiat itu lebih mudah atau lebih enak daripada taat. Sebenarnya yang enak, yang mudah itu adalah taat,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Selasa (18/4/2023).


    Habib Ja’far menceritakan, dalam agama sebelumnya, yakni agama Nabi Musa AS, saat kaum bani Israil menyembah patung yang mereka sebut Samiri, mereka harus bunuh diri atau dibunuh oleh saudaranya ketika melakukan pertobatan.

    Menurut riwayat Ibnu Abbas RA, akhirnya mereka yang wafat itu tercatat dalam keadaan syahid karena sudah bertobat. Adapun, yang masih hidup akan diampuni dosanya karena mereka telah berniat untuk tobat.

    Sebagaimana Allah SWT berfirman,

    وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ٥٤

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah: 54)

    Sementara itu, kata Habib Ja’far, jalan tobatnya umat Nabi Muhammad SAW itu mudah, yakni cukup dengan mengucap istighfar maka gugurlah dosa-dosa kita. Terlebih jika dilakukan pada bulan Ramadan ini.

    “Sekali istighfar semua dosa sebanyak apapun sebesar apapun hilang dengan satu kali istighfar asalkan memang tulus dan tidak mempermainkannya. Itu hilang semua dosa-dosa apapun dosa kita, meskipun dosa menyekutukan Allah atau syirik sekalipun. Apalagi di bulan yang penuh pengampunan seperti Ramadan saat itu,” ujar Habib Ja’far.

    Lantas, mengapa maksiat yang terasa asik disebabkan oleh fitnah Dajjal? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Maksiat Terasa Asik karena Fitnah Dajjal tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com