Tag: neraka

  • Ada 4 Golongan Orang yang Dirindukan Surga, Ini Amalannya


    Jakarta

    Surga adalah tempat yang penuh keindahan dan kebahagiaan abadi, menjadi balasan bagi mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Menurut sebuah hadits, surga merindukan empat golongan orang di dunia.

    Empat golongan yang dirindukan surga ini adalah mereka yang memiliki amal dan keutamaan luar biasa. Siapakah empat orang yang dirindukan surga? Apa yang membuat mereka begitu mulia hingga dirindukan oleh tempat termulia ini? Berikut penjelasannya.

    4 Golongan Orang yang Dirindukan Surga

    Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA menyebutkan ada empat golongan yang dirindukan surga. Beliau SAW bersabda,


    الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ

    Artinya: “Surga merindukan empat golongan: orang yang membaca Al-Qur’an, menjaga lisan (ucapan), memberi makan orang lapar, dan puasa di bulan Ramadan.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

    Hadits tersebut juga terdapat dalam buku What Is Next? karangan Mukhammad Yusuf dengan redaksi berikut,

    Rasulullah SAW bersabda, “Surga sangat rindu terhadap empat golongan, yaitu: Pembaca Al-Qur’an, pemelihara lisan dari ungkapan keji dan mungkar, pemberi makan orang yang lapar, serta mereka yang ahli puasa di bulan Ramadan.” (HR Abu Daud)

    Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa empat orang yang dirindukan surga adalah pembaca Al-Qur’an, menjaga lisan, pemberi makanan dan orang yang berpuasa pada bulan Ramadan. Berikut penjelasannya.

    1. Pembaca Al-Qur’an

    Membaca Al-Qur’an tidak hanya membawa pahala besar, tetapi juga berbagai keutamaan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT di balik setiap huruf dan ayatnya. Dalam Al-Qur’an, tersimpan rahmat, petunjuk, dan hikmah dari Allah SWT untuk dijadikan pedoman kehidupan dunia dan akhirat.

    Allah SWT berfirman dalam surah Fathir ayat 29-30,

    اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ ٢٩ لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ ٣٠

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi. (Demikian itu) agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

    Keutamaan membaca Al-Qur’an tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca semata. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya mengajarkan dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pembaca Al-Qur’an termasuk empat orang yang dirindukan surga.

    2. Menjaga Lisan

    Menjaga lisan adalah salah satu karakter penting yang harus dimiliki setiap muslim. Dalam kehidupan sehari-hari, lisan memiliki pengaruh besar terhadap orang lain dan diri sendiri. Allah SWT minta hamba-Nya menjaga lisan, sebagaimana Dia berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 70,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ٧٠

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

    Adapun dalam hadits dikatakan, satu kalimat buruk yang tidak dipikirkan dampaknya bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka jahanam.

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka jahanam.” (HR Al-Bukhari)

    Peringatan ini menunjukkan bahwa lisan tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga alat yang dapat menentukan nasib seseorang di akhirat. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa seorang muslim yang tidak menjaga lisannya hingga mengganggu orang lain, belum sempurna keislamannya.

    3. Pemberi Makanan

    Memberi makanan kepada orang yang kelaparan adalah salah satu ciri akhlak mulia seorang muslim. Perbuatan ini tidak hanya mencerminkan kepedulian sosial, tetapi juga mendatangkan kemuliaan yang sebanding dengan keadaan mereka di akhirat kelak.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat satu kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya. Abu Malikal-Asy’ari berkata, ‘Bagi siapakah kamar ini wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Untuk yang baik perkataannya, suka memberikan makanan, dan senantiasa bangun di malam hari pada saat manusia tertidur.” (HR Ath-Thabrani)

    Allah SWT juga memberikan janji balasan kepada mereka yang telah memberikan makanan bagi yang kelaparan seperti orang miskin, kelaparan dan tawanan perang. Sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-Insan ayat 8-12,

    وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا ٨ اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا ٩ اِنَّا نَخَافُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا ١٠ فَوَقٰىهُمُ اللّٰهُ شَرَّ ذٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقّٰىهُمْ نَضْرَةً وَّسُرُوْرًاۚ ١١ وَجَزٰىهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًاۙ ١٢

    Artinya: “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. (Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” Maka, Allah melindungi mereka dari keburukan hari itu dan memberikan keceriaan dan kegembiraan kepada mereka. Dia memberikan balasan kepada mereka atas kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutra.”

    Keutamaan ini menjadi bukti bahwa setiap tindakan memberi makanan yang dilakukan dengan niat tulus akan menjadi salah satu sebab seorang muslim dirindukan oleh surga.

    4. Berpuasa pada Bulan Ramadan

    Berpuasa di bulan Ramadan adalah kewajiban yang harus dijalankan setiap muslim yang telah baligh. Bulan suci ini menyimpan kemuliaan yang begitu besar, sehingga menjadi salah satu momen yang dirindukan oleh umat Islam setiap tahunnya. Tidak hanya itu, menjaga puasa selama Ramadan dengan keikhlasan dan penuh keimanan menjadi salah satu sebab seorang Muslim dirindukan oleh surga.

    Rasulullah SAW menyampaikan keutamaan puasa Ramadan dalam hadits, “Siapa saja yang melaksanakan qiyam Ramadan atas dasar keimanan dan semata-mata karena Allah, maka akan diampuni dosanya-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih)

    Empat golongan ini adalah teladan bagi umat Islam dalam menjaga hubungan dengan Allah SWT dan berbuat kebaikan kepada sesama. Mereka mengabdikan hidupnya untuk amal yang membawa kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Puasa 87 Hari Lagi, Baca Doa Ini agar Dipanjangkan Umur sampai Bulan Ramadan


    Jakarta

    Puasa Ramadan 1446 H/2025 M akan tiba sekitar tiga bulan lagi. Menyambut datangnya waktu istimewa tersebut, umat Islam bisa memanjatkan doa agar dipanjangkan umur sampai bulan Ramadan.

    Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Hijriah. Bulan ini memiliki banyak keistimewaan di atas bulan-bulan lainnya.

    Keistimewaan bulan Ramadan dijelaskan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadits. Dalam surah Al Baqarah ayat 185 dikatakan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an dan bulan wajib berpuasa. Allah SWT berfirman,


    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥

    Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

    Ramadan juga menjadi bulan yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Qadr ayat 1-3,

    اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”

    Kemudian dalam hadits dikatakan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup pada Ramadan. Rasulullah SAW bersabda,

    إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَ سُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

    Artinya: “Apabila Ramadan telah masuk, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup serta setan-setan dibelenggu.” (Muttafaq ‘Alaih)

    Menurut kalender Hijriah Indonesia 2025 terbitan Kementerian Agama RI, 1 Ramadan 1446 H jatuh pada 1 Maret 2025. Jika dihitung mundur, Ramadan 2025 tinggal 87 hari lagi. Meski demikian, penetapan awal Ramadan masih menunggu hasil sidang isbat yang digelar pada 29 Sya’ban.

    Umat Islam bisa memanjatkan doa agar dipertemukan bulan Ramadan. Mengingat bertemu bulan Ramadan adalah suatu nikmat. Imam an-Nawawi dalam kitab Al Adzkar mengatakan, siapa pun yang mendapatkan nikmat atau dihindarkan dari kemurkaan Allah SWT dianjurkan bersujud syukur kepada Allah SWT atau memuji Allah SWT atas pemberian-Nya.

    Doa agar Dipanjangkan Umur sampai Bulan Ramadan

    Ada sebuah hadits yang menyebut Rasulullah SAW memanjatkan doa agar dipertemukan dengan bulan Ramadan. Doa ini beliau baca saat memasuki bulan Rajab. Berikut bacaannya:

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

    Allahumma barik lanaa fi rojab wa sya’baan wa ballighnaa ramadhaan

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami dengan hadirnya bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami dengan bulan Ramadan.”

    Doa tersebut terdapat dalam hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnad, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Imam an-Nawawi dalam Al Adzkar.

    Dalam hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad dari jalur Anas RA dan lainnya, Rasulullah SAW juga pernah memanjatkan doa untuk pelayannya, Anas, agar panjang umur dan banyak harta. Berikut bacaan doanya:

    اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَأَطِلْ حَيَاتَهُ وَاغْفِرْ لَهُ

    Allahumma aktsir malahu wa waladahu wa athil hayaatahu waghfirlahu

    Artinya: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkanlah umurnya dan ampunilah dia.”

    Silaturahmi Memperpanjang Umur

    Selain berdoa, ada amalan lain yang bisa memperpanjang umur. Masih dalam Al Adab Al Mufrad, Imam Bukhari mengeluarkan hadits bahwa silaturahmi memperpanjang umur. Diriwayatkan dari Anas ibnu Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

    Artinya: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menjalin silaturahmi.” (Shahih dalam kitab Shahih Abu Daud)

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Mencari Barang Hilang dan Etika ketika Menemukannya


    Jakarta

    Doa mencari barang hilang bisa dibaca muslim agar diberi kemudahan menemukannya. Meski begitu, doa tetap harus diiringi dengan ikhtiar dan usaha.

    Dalam Islam, Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Dia berfirman dalam surah Gafir ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠


    Artinya: “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Menukil dari buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW karya Fuad Abdurahman, Zaid bin Khalid Al-Juhani mengatakan bahwa Nabi SAW pernah ditanya tentang luqathah (barang temuan) berupa emas atau perak.

    Rasulullah SAW menjawab, “Kenalilah ikatan dan kantongnya (ciri-cirinya), lalu umumkan selama setahun. Jika tidak ada pemilik yang datang mengambilnya, pergunakanlah, tetapi statusnya sebagai barang titipan. Jika sewaktu-waktu pemiliknya datang mencarinya, berikanlah kepadanya.”

    Lalu seseorang bertanya tentang penemuan unta. Rasulullah SAW berkata, “Mengapa kau peduli dengan unta itu? Biarkan saja, karena unta itu punya kaki dan kantong air. Ia bisa mendatangi air dan makan pepohonan hingga si pemilik menemukannya.”

    Lalu, seorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang penemuan kambing. Rasulullah SAW menjawab, “Kambing itu untukmu (jika tidak diketahui siapa pemiliknya setelah diumumkan setahun) atau untuk saudaramu yang kekurangan atau untuk serigala (jika tidak kau ambil).”

    Di lain kesempatan, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menyembunyikan barang temuan milik orang lain maka ia sesat selama ia tidak mengumumkannya.”

    Doa Mencari Barang yang Hilang

    1. Doa Mencari Barang Hilang Versi Pertama

    Mengutip dari buku Dahsyatnya Doa Para Nabi: Mengungkap Rahasia Kemustajaban Doa Para Nabi dan Keutamaannya untuk Diamalkan susunan Syamsuddin Noor, berikut bacaan doa mencari barang hilang yang bisa diamalkan ketika barang dicuri atau terkena tipu.

    اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

    Arab latin: Allażīna iżā aṣābat-hum muṣībah, qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ụn.

    Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).”

    2. Doa Mencari Barang Hilang Versi Kedua

    اللهم يارب الضالة وياهاديا من الضلالة رد ضالتي

    Arab latin: Allahumma ya robbana dhoollati wa yaa haadiyan minadh dholaalati rudda dhoollatii.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan dari sesuatu yang hilang, ya Tuhan yang memberikan petunjuk dari kesesatan, kembalikanlah barangku yang hilang.”

    3. Doa Mencari Barang Hilang Versi Ketiga

    اَللّٰهُمَّ يَا جَامِعَ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيْهِ، اِجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ ضَالَّتِيْ فِيْ خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ

    Arab latin: Allahumma ya jami’an nasi liyaumin la raiba fih baini wa baina dlallati fi khairin wa ‘afiyah

    Artinya: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhan yang mengumpulkan semua manusia di hari yang tiada ragu lagi padanya. Pertemukan aku dan barangku yang hilang dengan kebaikan dari afiyah.”

    Etika Menemukan Barang Hilang dalam Islam

    Masih dari sumber yang sama, ada sejumlah etika yang perlu dipahami muslim ketika menemukan barang hilang. Jika barang tersebut bersifat tahan lama seperti emas maka simpan dan umumkan kepada khalayak umum selama setahun.

    Namun, apabila barang yang hilang tidak tahan lama contohnya seperti makanan dan minuman, diperbolehkan untuk memakannya. Tapi, jika pemiliknya mengetahui dan mencari barang tersebut maka wajib diganti.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Nabi Muhammad Ketika Mengalami Kesulitan


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah teladan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menghadapi kesulitan dan ujian. Ketika Rasulullah SAW mengalami tantangan berat, beliau senantiasa bersandar kepada Allah SWT melalui doa.

    Doa menjadi salah satu cara untuk memohon pertolongan, kekuatan, dan ketenangan hati. Berikut beberapa doa yang dilafalkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi kesulitan.

    Doa Rasulullah SAW Ketika Mengalami Kesulitan

    Doa ini diajarkan Rasulullah SAW untuk menguatkan hati dan memohon pertolongan Allah SWT dalam situasi yang sulit. Doa ini disebut sebagai doa qurb.


    Menukil buku Syamsuddin Noor yang berjudul Dahsyatnya Doa Para Nabi, berikut bacaan doa qurb lengkap dengan arab, latin dan terjemahannya.

    **لَا إِلَهَ إِلََا اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاْ إِلَهَ إِلََا اللهُ رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيْمِ، لاْ إِلَهَ إِلََا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ العَرْشِ الْكَرِيْمِ**

    Bacaan latin: Laa ilaaha illallahul ‘adzhiimul haliim, laa ilaaha illallaahu rabbil ‘arsyil ‘adzhiim, laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim.

    Artinya: “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai Arsy yang agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Tuhan Arsy yang mulia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Doa Nabi Muhammad SAW saat Menghadapi Masalah Hidup

    Selain doa qurb, ada banyak lagi doa-doa indah yang bisa kita panjatkan saat menghadapi kesulitan. Salah satunya adalah doa sapu jagat yang sangat populer.

    Dalam buku Al-Adzkar karya Imam Nawawi, kita juga menemukan doa-doa lainnya yang bisa menenangkan hati dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

    Tak hanya doa qurb, masih ada sejumlah doa yang bisa dilafalkan ketika seseorang mengalami masalah hidup dan kesulitan. Berikut bacaannya yang dikutip dari Al-Adzkar: Buku Induk Doa dan Zikir karya Imam Nawawi.

    1. Doa Sapu Jagat

    رَبّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَة وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab latin: Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah. Wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar

    Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (Riwayat dari Anas bin Malik, HR Bukhari & Muslim).

    2. Doa Menghadapi Kesulitan

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الكَرِيمُ العَظِيمُ، سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ الْعَظِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Arab latin: Laa ilaaha illallaahul kariimul ‘adzhiim, subhaanahu tabaarakallaahu rabbul ‘arsyil ‘adzhiim, Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin

    Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, Maha Suci Dia, maha Berkah Allah, Rabb Arasy yang Agung, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,” (Riwayat dari Ali bin Abi Thalib, HR Nasa’i & Ibnu Sinni).

    3. Doa ketika Diterpa Permasalahan

    يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

    Arab latin: Yaa hayu yaa qayyuumu birahmatika astaghiits

    Artinya: “Wahai Yang Hidup Abadi, wahai yang mengurus makhluk-Nya secara terus menerus, aku memohon pertolongan dengan rahmat-Mu,” (Riwayat dari Anas bin Malik, HR Tirmidzi).

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah Orang Miskin Masuk Surga Lebih Dulu dari Orang Kaya?


    Jakarta

    Setiap orang berkesempatan besar untuk masuk ke surga. Dengan rajin beribadah, beramal, dan melakukan kebaikan maka bisa meraih banyak pahala, sehingga memiliki bekal saat di akhirat kelak.

    Namun, Allah SWT ternyata memberikan keutamaan bagi orang miskin atas orang kaya. Disebutkan dalam suatu hadits jika orang miskin akan masuk surga lebih dahulu daripada orang kaya.

    Orang Miskin Masuk Surga Lebih Dulu dari Orang Kaya

    Dalam catatan detikHikmah, hadits yang mengungkapkan hal tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA. Hadits ini dipaparkan Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim dan diterjemahkan oleh Ali Nurdin.


    Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW bersabda,

    “Orang-orang muslim yang fakir lebih dahulu masuk surga daripada orang-orang kaya dengan rentang waktu setengah hari, yaitu setara dengan lima ratus tahun kehidupan dunia.”

    Penerjemah membahasakan orang miskin yang dikatakan Rasulullah SAW dalam hadits itu adalah orang-orang muslim yang fakir.

    Rentang waktu masuknya orang miskin dan orang kaya ke surga dapat berbeda-beda. Ada suatu riwayat yang menyebut jarak keduanya selama 40 musim gugur.

    Sebagaimana kata Abdullah bin Umar RA yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, orang-orang Muhajirin yang fakir mendahului orang-orang kaya pada hari kiamat, yaitu masuk ke surga, sejauh empat puluh musim gugur.” (HR Ahmad)

    At Tirmidzi dan Ibnu Majah turut meriwayatkan hadits serupa dengan redaksi yang panjang. Hadits tersebut juga memiliki jalur dari Abu Hurairah RA dan At Tirmidzi mengatakannya sebagai hasan shahih.

    Kenapa Orang Miskin bisa Masuk Surga Lebih Dahulu?

    Mungkin detikers bertanya-tanya, kenapa orang miskin bisa masuk surga lebih dulu? Imam Ibnu Katsir memaparkan hadits yang berisi alasan orang miskin dapat masuk surga lebih dahulu daripada orang kaya.

    Hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad yang jalurnya sampai pada Ibnu Abbas RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Dua orang mukmin bertemu di pintu surga. Keduanya mukmin kaya dan mukmin fakir saat di dunia. Lantas mukmin fakir dimasukkan ke surga sementara mukmin kaya ditahan sesuai kehendak Allah lalu dimasukkan ke surga. Lantas orang fakir bertemu dengan orang kaya itu dan bertanya, ‘Wahai saudaraku, apa yang membuatmu tertahan? Demi Allah, engkau tertahan sehingga aku mengkhawatirkanmu’.

    Orang kaya itu menjawab, ‘Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tertahan setelahmu dengan penahanan yang mengerikan dan tidak disukai. Aku sampai kepadamu dengan kondisi bercucuran keringat sehingga jika ada seribu unta yang seluruhnya makan tumbuhan masam lalu minum keringat itu, niscaya unta-unta itu keluar dari keringat tersebut dalam keadaan kenyang’.”

    Mengenai hadits ini, Syaikh Ahmad Syakir menilai isnad-nya mengandung persoalan (bermasalah).

    Mayoritas Penghuni Surga Adalah Orang Fakir

    Tak hanya didahulukan masuk ke dalam surga, mayoritas penghuni surga nantinya juga dihuni oleh orang miskin. Hal itu disebutkan dalam kitab Ash Shahihain dari hadits Abu Utsman an-Nahdi dari Usamah bin Zaid, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku berdiri di pintu surga. Ternyata, mayoritas orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Selanjutnya, aku berdiri di pintu neraka. Ternyata, mayoritas orang yang memasukinya adalah perempuan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam Shahih Bukhari juga terdapat riwayat serupa dari jalur Maslamah bin Zarir, dari Abu Raja’, dari Imran bin Hushain. Abdurrazzaq turut meriwayatkan hadits itu dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Abu Raja’, dari Imran bin Milhan, dari Imran bin Hushain, bahwa pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku memandang ke surga, ternyata aku lihat mayoritas penghuninya orang-orang fakir. Aku memandang ke neraka, ternyata mayoritas penghuninya perempuan.” (HR Bukhari)

    Demikian penjelasan mengenai mengapa orang miskin masuk surga lebih dulu daripada orang kaya. Wallahu A’lam Bishawab.

    (ilf/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Gambaran Jembatan Shirath di Atas Neraka Menurut Hadits



    Jakarta

    Terdapat sebuah jembatan bernama shirath yang dibentangkan di atas neraka. Jembatan ini harus dilalui oleh orang-orang beriman ataupun orang-orang berdosa dari kalangan umat Nabi Muhammad SAW.

    Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW menyebutkan jembatan shirath lebih tipis dari sehelai rambut dan setajam pedang.

    Ibnu Mas’ud RA menggambarkan shirath sebagai jalan yang lurus melintasi neraka, berbentuk seperti pedang yang tajam, licin, dan dapat mematahkan. Di atasnya terdapat besi-besi tajam dari neraka yang mencakar dan mencengkeram siapa saja yang dikehendaki. Cara orang-orang melintasi jembatan ini pun beragam, ada yang secepat kilat, angin, kuda, berjalan, hingga merangkak. (HR Thabrani dan Baihaqi)


    Aisyah RA juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang jembatan yang lebih tipis dari rambut dan setajam pedang, dengan besi dan pagar runcing di atasnya. Semua orang harus melewati jembatan ini, ada yang bergerak secepat kilat, kedipan mata, angin, atau kuda. Para malaikat berdoa, “Ya Allah, selamatkan!” Sebagian orang berhasil melintasinya, sebagian lagi dikoyak atau terjatuh ke dalam neraka. (HR Ahmad)

    Dalam riwayat lain dari Ubaid bin Umair, Rasulullah SAW menyebut shirath sebagai jembatan di atas neraka yang setajam pedang dengan besi dan pagar runcing di kedua sisinya. Besi-besi ini dapat mengoyak tubuh manusia. Rasulullah SAW bersumpah bahwa sejumlah besar manusia akan tersangkut oleh kait-kait besar tersebut, sementara malaikat terus berdoa agar orang-orang diselamatkan. (HR Baihaqi dan Ibnu Abi Ad-Dunya)

    Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah shirath dibentangkan di atas neraka, aku akan menjadi rasul pertama yang melintasinya, diikuti umatku. Pada saat itu, tidak seorang pun berbicara kecuali para rasul yang memanjatkan doa, ‘Ya Allah, selamatkan!’ Dalam neraka terdapat besi-besi runcing seperti duri As-Sa’dan, yang akan menyambar manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut buku Ensiklopedia Akhirat: Mizan, Catatan Amal, Shirath, dan Macam-macam Syafaat karya Mahir Ahmad Ash Syufiy, jembatan shirath ini membentang di berbagai sisi neraka. Ketika menyeberangi shirath, suasana sangat mencekam sehingga tidak ada yang berbicara, kecuali para rasul yang berdoa untuk keselamatan umat mereka. Hal ini menunjukkan kasih sayang para rasul kepada umatnya.

    Wallahu a’lam.

    (lus/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Keistimewaan Bulan Ramadhan Menurut Al-Qur’an dan Hadits


    Jakarta

    Keistimewaan bulan Ramadhan perlu diketahui muslim agar lebih giat mengerjakan amalan pada momen istimewa tersebut. Terlebih dalam waktu kurang dari dua pekan, umat Islam akan kembali bertemu bulan suci Ramadhan.

    Menukil dari buku Fikih Puasa tulisan Ali Musthafa Siregar, Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Selain itu, Ramadhan juga termasuk bulan yang diberkahi karena Allah SWT mengkhususkan momen tersebut bagi umat Rasulullah SAW untuk mengerjakan amalan dengan ganjaran pahala yang luar biasa dahsyatnya dan tidak dapat ditemui pada bulan-bulan lain.

    Berikut beberapa keistimewaan bulan Ramadhan yang bisa dipahami muslim.


    Keistimewaan Bulan Ramadhan bagi Muslim

    1. Diampuni Dosanya yang Lalu

    Keistimewaan bulan Ramadhan bagi muslim yang pertama adalah dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah SWT. Berikut bunyi haditsnya yang dikutip dari kitab Sunan Ibnu Majah susunan Imam Al Hafizh Abi Abdillah Muhammad ibn Yazid al-Qazwini yang diterjemahkan Abdul Hayyie al Kattani dkk.

    “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan (penuh) keimanan dan mengharapkan pahala maka semua dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih)

    2. Setan dan Jin Dibelenggu

    Bulan Ramadhan adalah waktu dibelenggunya para setan dan jin. Selain itu, pintu-pintu neraka ditutup oleh Allah SWT dan tidak ada satu pun yang dibiarkan terbuka.

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Jika datang malam pertama dari bulan Ramadhan maka setan-setan dan jin akan diikat, pintu-pintu nerakan akan ditutup dan tidak ada satu pun pintu yang (dibiarkan) terbuka. Kemudian, pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang tertutup. Lalu ada seseorang yang menyeru,

    ‘Orang-orang yang menginginkan kebaikan, mendekatlah! Orang-orang yang menginginkan keburukan, menjauhlah! Cepat!’ Dan Allah (banyak) membebaskan orang dari api neraka. Semua itu dilakukan pada setiap malam (bulan Ramadhan).” (Shahih: At-Ta’liiq ar-Raghiib, 2/68)

    3. Adanya Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

    Keistimewaan Ramadhan lainnya bagi muslim yaitu keberadaan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya,

    “Bulan ini telah mendatangi kalian, dalam bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak bisa mendapatkan kebaikan (pada malam itu) maka ia tidak akan mendapatkan kebaikan seluruhnya dan tidak ada seorang pun yang tercegah untuk mendapatkan kebaikannya, kecuali orang-orang tertentu.” (Hasan Shahih)

    4. Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

    Mengutip dari buku Seri Fiqih Kehidupan oleh Ahmad Sarwat, Ramadhan adalah bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 185,

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

    Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

    5. Momen Mustajab untuk Berdoa

    Keistimewaan bulan Ramadhan lainnya adalah menjadi waktu mustajab untuk berdoa karena banyak muslim yang berpuasa. Keutamaan ini disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah RA yang berkata Nabi SAW bersabda,

    “Tiga orang yang doanya tidak akan ditolak: orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (HR Ahmad)

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Malaikat Malik Bertemu Rasulullah SAW Tanpa Tersenyum



    Jakarta

    Malaikat Malik merupakan malaikat yang bertugas menjaga pintu neraka. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa Malaikat Malik bermuka masam ketika bertemu Rasulullah SAW.

    Pertemuan tersebut terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Isra Mi’raj. Imam Al-Qusyairi dalam Kitab al-Mi’raj, menceritakan mengenai kisah Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan suci tersebut.

    Saat melakukan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW diajak oleh Malaikat Jibril untuk menaiki Buraq. Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW melihat malaikat yang banyak sekali jumlahnya. Beliau melihat tangga yang menjulang dari Bayt al-Muqaddas ke langit dunia.


    Kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan perjalanan hingga sampai ke langit dunia yang disebut al-raqi. Ketika memasukinya, semua malaikat senantiasa tersenyum gembira. Sampai akhirnya Rasulullah SAW bertemu dengan satu malaikat yang juga menyambutnya seperti yang lainnya, tetapi tanpa tersenyum dan tidak tampak kegembiraan di wajahnya.

    Malaikat Jibril lalu berkata tentangnya, “Seandainya dia tersenyum selain kepada selainmu, tentu dia akan tersenyum padamu.”

    Akan tetapi dia tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, dia adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sama sekali, mukanya selalu masam, cemberut, marah, dan menyeramkan karena begitu marahnya kepada para penghuni neraka sebagaimana Tuhan marah kepada mereka.

    Lalu, Rasulullah SAW bertanya, “Hai Jibril, maukah kamu menyuruhnya untuk menunjukkan neraka kepadaku?”

    Jibril menjawab, “Ya.” Lalu Jibril berkata, “Hai Malik, Muhammad Rasul Allah ingin melihat neraka.”

    Malaikat Malik lalu membukakan penutup neraka dan terlihatlah neraka yang bergolak dan mendidih, sangat hitam, berasap, dan apinya juga hitam pekat.

    Ada yang meronta-ronta dan menggelegak hampir pecah lantaran marah. Begitulah gambaran neraka.

    Sebelum bertemu dengan Malaikat Malik dan saat menaiki tangga di sebelah kanan Rasulullah SAW ada 400 ribu malaikat, di sebelah kirinya juga ada 400 ribu malaikat, di depannya 1000 malaikat dan di belakangnya juga 1000 malaikat.

    Setiap malaikat mempunyai dua sayap berwarna hijau. Kemudian, Malaikat Jibril membimbing Nabi Muhammad SAW menaiki tangga. Pada setiap tangga ada satu malaikat yang bermahkotakan cahaya dengan dua sayap berwarna hijau.

    Setiap malaikat itu disertai lima ratus malaikat lainnya. Semuanya berkata, “Selamat datang bagimu wahai Muhammad.”

    Ada pendapat yang menyebut, jarak antar anak tangga sejauh perjalanan selama 40 tahun lamanya dan begitu seterusnya hingga terdapat 55 anak tangga.

    Nabi Muhammad SAW kemudian melihat malaikat di udara yang jumlahnya tidak terhingga bertanya kepada Malaikat Jibril tentang mereka. Lalu Malaikat Jibril menjawab, “Mereka adalah para malaikat yang layang-layang di udara sejak langit dan bumi diciptakan.”

    Kepala malaikat yang melayang di udara itu berada di bawah sayapnya. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat tubuhnya masing-masing, karena mereka demikian takut kepada Allah SWT. Mereka selalu membaca tasbih dan menangis, namun tidak diketahui ke mana jatuhnya air mata mereka.

    Kisah Malaikat Malik bertemu Rasulullah SAW turut diceritakan oleh Nur Syam dalam buku Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal.

    Dijelaskan bahwa Malaikat Malik yang bertugas menjaga neraka, digambarkan tidak pernah tertawa, bahkan juga ketika bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga Nabi SAW pun bertanya kepada Malaikat Jibril.

    Lalu Malaikat Jibril menjawab, kalau Malaikat Malik tertawa maka hawa panas neraka akan berkurang sehingga membuat senang orang-orang yang di neraka.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bukannya Syahid, Sahabat Nabi yang Ikut Perang Uhud Ini Jadi Ahli Neraka



    Jakarta

    Perang Uhud adalah salah satu perang besar yang pernah dipimpin oleh Rasulullah SAW. Ada salah satu sahabat nabi yang masuk neraka karena sengaja bunuh diri saat Perang Uhud berkecamuk.

    Perang Uhud merupakan perang yang dilatarbelakangi oleh rasa dendam dari kaum kafir Quraisy yang tidak menerima kekalahannya pada saat Perang Badar, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah. Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Syawal dan merupakan perang yang besar.

    Kisah Sahabat Nabi yang Masuk Neraka saat Perang Uhud

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah bercerita kepadanya, “Telah datang kepada kami seorang lelaki yang tak kami ketahui siapa ia, tetapi ada yang mengatakan bahwa namanya Quzman. Jika nama orang ini disebut, Rasulullah SAW bersabda: ‘Dia pasti termasuk penghuni neraka.’


    Sewaktu meletusnya Perang Uhud, Quzman terlibat penuh membantu kaum muslimin, ia bahkan berhasil membunuh tujuh atau delapan orang musyrik karena keberaniannya memang tidak dapat diragukan.

    Namun, ia terluka parah sehingga berhenti bertempur dan dibawa ke perkampungan Bani Zhafar. Kaum Muslimin berkata kepadanya, ‘Demi Allah, hari ini engkau telah membuktikan keberanianmu. Karena itu, bergembiralah menyambut surga!’

    Saat lukanya kian parah, ia mengambil anak panah dari selongsongnya lalu memakainya untuk bunuh diri. (HR at-Thabari)

    Kisah Quzman ini turut diceritakan oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1. Quzman yang terluka menjadi tidak sabar untuk segera mati karena tidak tahan dengan rasa sakit yang menimpanya. Dia pun menusukkan pedang ke dadanya hingga menembus punggungnya.

    Setelah itu, sahabat kembali kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang membuatmu berkata seperti itu?” Sahabat tersebut menjawab, “Sungguh, orang yang telah engkau sebutkan itu, dia benar-benar akan menjadi penghuni neraka. Baru saja ia terluka, tetapi ia tidak sabar ingin segera mati, lalu dia bunuh diri.” (Muttafaq Alaih diriwayatkan Bukhari dan Muslim dan hadits Sahl bin Sa’ad)

    Umar Sulaiman al-Asyqar dalam Al Jannah wan Naar menjelaskan bahwa pelaku bunuh diri merupakan salah satu golongan yang akan dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda,

    “Barang siapa bunuh diri dengan besi, maka besi itu ia pegang dan ia tusukkan pada perutnya di neraka, terus-menerus dan selamanya. Barang siapa bunuh diri dengan racun, maka racun itu ia bawa dan ia minum di neraka Jahannam, terus-menerus dan selamanya. Barang siapa bunuh diri dengan terjun dari atas gunung, maka ia terjun di neraka, terus-menerus dan selamanya.”

    Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda,

    الَّذِي يَخْتَقُ نَفْسَهُ يَخْنَقُهَا فِي النَّارِ، وَالَّذِى يَطْعَنُهَا يَطْعَنُهَا فِي النَّارِ

    Artinya: “Orang yang mencekik dirinya sendiri akan mencekik dirinya sendiri di neraka. Dan, orang yang menusuk dirinya sendiri akan menusuk dirinya sendiri di neraka.” (Shahih al-Jami)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Juhainah, Sosok yang Membuat Semua Penghuni Neraka Menangis



    Jakarta

    Ketika malaikat memanggil nama Juhainah, semua penghuni neraka menangis. Juhainah adalah orang terakhir yang keluar dari neraka dan paling akhir pula masuk ke surga.

    Seluruh penduduk neraka akan menangis karena Juhainah telah dipanggil masuk ke surga terakhir kalinya sekaligus menjadi pertanda bahwa mereka yang tersisa akan kekal di dalam neraka.

    Tidak ada harapan lagi bagi penduduk neraka setelah Juhainah dipanggil oleh malaikat. Kisah Juhainah ini telah diterangkan dalam hadits yang dinukil dari Kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim oleh Ibnu Katsir.


    Ad-Daruquthni meriwayatkan dalam kitabnya, “Para perawi dari Malik dan al-Khathib al-Baghdadi dari Abdul Malik bin Hakam, Malik menuturkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    ‘Sesungguhnya, orang yang terakhir masuk surga adalah seorang lelaki dari suku Juhainah bernama Juhainah.’ Penghuni surga lalu berkata, ‘Juhainah memiliki kabar yang yakin. Tanyakanlah kepadanya, apakah masih ada yang tersisa dari para makhluk?’”

    Namun, riwayat tersebut dikatakan tidak sah disandangkan kepada Imam Malik sebab tidak diketahui para perawinya. Demikian pula as-Suhaili menyebutkan hadits tersebut dalam kitabnya dan tidak menganggapnya lemah.

    Justru pendapat lain yang disebutkan dari as-Suhaili, bahwa orang yang terakhir keluar dari neraka tersebut bernama Hanad.

    Dikisahkan dalam riwayat, bahwa penduduk neraka akan menangis karena Juhainah telah dipanggil masuk ke surga. Hal itu menjadi pertanda bahwa penduduk neraka yang tersisa akan kekal di dalamnya dan tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk berpindah menuju surga.

    Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam Kitab At-Tadzkirah Jilid 2 turut menerangkan orang orang yang terakhir keluar dari neraka sekaligus terkahir masuk surga.

    Menurut hadits riwayat Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya aku benar-benar tahu penghuni neraka yang terakhir kali keluar darinya, dan penghuni neraka yang terakhir kali masuk surga, yaitu seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan merangkak. Maka Allah Ta’ala berkata, “Pergilah dan masuk ke surga.”

    Orang itu pun datang ke surga, tetapi terbayang olehnya bahwa surga telah penuh. Maka ia berkata, “Ya Tuhanku, hamba dapati surga telah penuh.” Allah SWT berkata lagi, “Pergilah dan masuk ke surga.”

    Ia pun datang ke surga dan terbayang lagi bahwa surga telah penuh, maka ia balik serata berkata, “Ya Tuhanku, hamba dapati surga telah penuh.”

    Maka, (sekali lagi) Allah SWT berkata, “Pergilah dan masuk ke surga. Sesungguhnya kamu akan memperoleh sepuluh kali lipat dunia.”

    Kemudian orang itu berkata, “Apakah Engkau mengejekku?” Atau, “Engkau menertawakan hamba, padahal Engkau Raja?”

    Abdullah bin Mas’ud RA menambahkan dengan berkata, “Saya sungguh-sungguh melihat Rasulullah SAW tertawa sampai tampak gigi-gigi gerahamnya, beliau bersabda,

    “Mengenai orang itu dikatakan, ‘Itulah ahli surga yang paling rendah derajatnya.’” (HR Muslim)

    Itulah kisah Juhainah, seseorang yang membuat semua penghuni neraka menangis tatkala malaikat memanggil namanya. Sebab, ia menjadi sosok terakhir yang dikeluarkan dari neraka dan tak ada lagi penghuni lain yang keluar setelahnya.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com