Tag: pandemi

  • Tips Menentukan Posisi Lampu yang Sesuai di Tiap Ruangan, Nggak Melulu di Plafon



    Jakarta

    Pencahayaan bisa mengubah tampilan dan suasana di rumah. Bahkan jika di rumah kamu perabotannya sederhana dan tidak terlihat mewah, kamu bisa menambahkan beberapa pencahayaan agar tampilannya lebih elegan dan nyaman dilihat.

    Cara mengubah tampilan ruangan lewat pencahayaan adalah dengan menempatkan lampu di titik tertentu, bukan hanya di tengah plafon. Selain itu, bisa pula memainkan tingkat keterangan lampu hingga warna lampu. Bahkan, sebenarnya setiap ruangan seharusnya memakai jenis lampu yang tingkat pencahayaan berbeda-beda lho. Dengan begitu kamu nyaman saat beraktivitas di ruangan tersebut dan tidak mengganggu penglihatan.

    Dikutip dari laman HGTV, Sabtu (2/11/2024) berikut cara memilih lampu yang sesuai untuk setiap ruangan di dalam rumah.


    Kamar Tidur

    Saat berada di kamar tidur, kamu memerlukan pencahayaan yang lembut sehingga membantu tubuh untuk beristirahat. Daripada di atas plafon, kamu bisa memasang lampu di kedua sisi kasur dengan lampu berdiri, lampu meja, ataupun lampu tembok yang rendah.

    Posisi yang dekat dengan tempat tidur juga membantu kamu saat akan membaca buku sebelum tidur. Kamu bisa juga memasang penerangan sekitar lemari pakaian baik di luar atau di dalamnya.

    Ruang Keluarga

    Saat ini banyak sekali inovasi tata pencahayaan di ruang keluarga. Saat dilihat, memang ruangan tersebut terang tetapi bukan dari satu lampu di atas, melainkan lampu yang menyebar di beberapa titik.

    Hal ini untuk menghindari terciptanya bayangan sehingga kamu bisa membaca buku, nonton TV, atau beraktivitas bersama dengan pencahayaan maksimal. Biasanya lampu ini lokasinya di sela-sela plafon, di dekat tangga, di dinding, atau lampu downlight di plafon yang jumlahnya lebih dari satu. Bisa juga kamu meletakkan lampu-lampu di dekat barang seperti rak buku, lukisan, hingga tanaman.

    Ruang Kerja

    Setelah pandemi, banyak keluarga akhirnya membuat ruang kerja di rumah karena lebih sering work from home. Cara menentukan pencahayaan yang tepat cukup mudah yakni tentukan dahulu pusat kegiatan kamu yang dirasa butuh pencahayaan maksimal.

    Daripada mengandalkan lampu di atas kepala, kamu bisa menambahkan lampu meja, lampu tiang, atau cove lighting ataupun lampu dinding yang memancarkan cahaya ke arah langit-langit.

    Dapur

    Pemasangan lampu di tengah plafon baru tepat jika berada di dapur. Sebab, dapur ruangannya jauh lebih kecil dan membutuhkan pencahayaan yang cukup terang. Maka dari itu, kamu sering melihat jika wastafel biasanya ditempatkan dekat jendela karena untuk mendapatkan pencahayaan alami.

    Selain memasang lampu utama di tengah plafon, menempatkan pencahayaan di bawah kabinet juga bagus untuk menerangi permukaan countertop. Lalu, kamu dapat menggunakan cove lighting sepanjang dua sisi tembok yang berhadapan untuk menciptakan ambient jika ingin menghindari lampu downlight atau gantung.

    Kamar Mandi

    Kamar mandi juga bisa memakai lampu plafon. Selain itu, kamu juga bisa menambahkan lampu di sekitar cermin agar penerangannya bagus dan muka terlihat lebih jelas.

    Ruang Makan

    Ruang makan sebaiknya memasang lampu gantung atau plafon tepat di atasnya. Lampu yang agak redup bisa menjadi pilihan untuk menciptakan atmosfer tenang saat makan.

    Sebagai tambahan, kamu bisa menggunakan cove lighting di dua sisi ruangan yang berhadapan ataupun dua lampu dinding di samping furnitur yang menempel dinding.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Ingat! Barang Ini Sebaiknya Tak Ada di Kamar, Bisa Ganggu Ketenangan


    Jakarta

    Kamar tidur adalah ruangan yang cukup private. Ruangan ini didesain sesuai kebutuhan dan keinginan penghuninya. Meskipun tidak ada aturan mengenai apa yang harus ada di kamar, tetapi ada beberapa barang yang sebaiknya tidak berada di dalam kamar.

    Dilansir The Spruce, beberapa barang dinilai tidak cocok berada di kamar karena dapat mempengaruhi suasana di dalamnya. Menurut Laura W Jenkins, sebaiknya menyimpan benda-benda yang bisa membuatmu rileks di kamar tidur, seperti buku dan foto keluarga.

    Lantas, barang apa saja yang sebaiknya dijauhkan dari kamar? Berikut daftarnya.


    1. Barang Elektronik

    Menurut desainer interior Laura W Jenkins di kamar tidur seharusnya tidak ada barang elektronik yang dapat mendistraksi seperti hal-hal yang berbau hiburan. Sebab, menurutnya kamar tidur adalah ruangan untuk penghuninya istirahat.

    Barang elektronik seperti kipas angin, AC, atau alat kebersihan adalah pengecualian karena barang-barang tersebut dapat membuat penghuninya lebih nyaman ketika tidur.

    Selain barang elektronik seperti TV, laptop, konsol game, atau speaker dikeluarkan, ia juga menyarankan untuk menggunakan warna cat yang menenangkan seperti warna bumi atau earth tone.

    2. Baju Tak Terpakai dan Peralatan Gym

    Mengurangi barang-barang tak terpakai adalah keharusan yang perlu diterapkan pada semua ruangan. Desainer Jean Parker mengatakan apabila di kamar banyak baju tidak terpakai atau sudah tidak muat, sebaiknya segera dikeluarkan untuk didaur ulang, dijual, atau diberikan kepada orang lain.

    Ruang yang sedikit barang tidak akan mengganggu pergerakan dan pandangan. Dengan begitu penghuninya bisa mendapatkan ruang lebih untuk mengisi kembali energi yang habis setelah seharian di luar rumah.

    Lalu, ia menyarankan agar di dalam kamar tidak ada barang besar dan berbahaya di dalam kamar, seperti peralatan gym. Sebab, peralatan tersebut berbahaya, ketika tersandung atau terjadi gempa bumi.

    “Kamar tidurmu bukanlah tempat gym, jadi saya akan menahan diri untuk menempatkan alat-alat olahraga di sana,” ujarnya dikutip dari The Spruce.

    3. Peralatan Kantor

    Setelah pandemi, banyak orang yang menggunakan kamar tidurnya sebagai ruang kerja. Alhasil kamu bisa seharian berada di ruangan tersebut. Apabila kamu tidak memiliki ruang lain untuk dijadikan ruang kantor, Desainer Amity Worrel meminta agar menggunakan meja yang kecil dan santai sebagai meja kerjamu di rumah. Dengan begitu itu tidak akan mengingatkanmu akan pekerjaan.

    “Saat membuat tempat yang seharusnya membuat rileks dan menjadi pelarian dari pekerjaan, sangat penting untuk mempertimbangkan apa yang harus ada di kamar atau tidak,” paparnya.

    4. Jangan Terlalu Banyak Rak Terbuka

    Memiliki banyak ruang penyimpanan sebenarnya memudahkan penghuni untuk menyimpan barang dan ruangan pun terlihat lebih rapi. Namun, sebenarnya yang lebih baik lagi adalah mengurangi barang di kamar sehingga rak juga bisa berkurang.

    Selain itu, jangan terlalu banyak memakai rak terbuka karena bisa menjadi tempat untuk menumpuk barang dan sarang debu. Menurut desainer Abbie Naber, apabila terdapat rak terbuka di dalam kamar sebaiknya diisi dengan benda-benda yang bisa membuat penghuninya tersenyum dan diisi seminimal mungkin.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Resep Diet Tanpa Menyiksa Chicco Jericho, Masih Doyan Makan Nasi


    Jakarta

    Chicco Jerikho menjadi salah satu aktor nasional yang dikenal dengan tubuh fitnya. Selain kerap berolahraga, pria 40 tahun itu juga menjaga pola makan.

    Alih-alih spesifik menghindari konsumsi makanan tertentu, Chicco memilih untuk mengatur porsi dan gizi seimbang setiap makan. Menurut Chicco, cara ini lebih efektif untuk memastikan kebutuhan gizi dalam tubuh.

    “Kalau makanan yang diutamakan itu pastinya aku melihat nutrisinya seperti apa, makronya seperti apa. Gitu proteinnya, fiber, karbonya, dan itu harus seimbang gizinya,” kata Chicco ketika ditemui di wondr Jakarta Running Festival 2024 di Istora Senayan, Sabtu (12/10/2024).


    “Jadi kita nggak makan hanya sebagai untuk mengenyangkan aja. Makan yang penting kenyang. Jadi kita makan itu harus bisa tetap memenuhi kebutuhan nutrisi,” sambungnya.

    Tidak perlu menyiksa, ia menekankan ‘menikmati’ makanan tetap menjadi faktor yang harus diutamakan. Masyarakat menurutnya bisa mencari makanan yang lezat, tetapi juga sehat.

    Oleh karena itu, meski diet, Chicco tetap mengonsumsi nasi putih dan tidak menghindarinya.

    “Kalau nasi, ya kita orang Indonesia terbiasa makan nasi, kalau nggak makan nasi kayaknya belum makan gitu. Masih makan nasi gitu,” sambungnya.

    Chicco Jerikho mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tubuh adalah sebuah keharusan. Berolahraga rutin dan menjaga pola makan menjadi langkah yang harus dibiasakan sedini mungkin.

    “Setelah pandemi ini banyak banget virus-virus yang kayak sedikit kita lengah aja, kecapekan, bisa batuk, flu, demam, tiba sakit ini, sakit itu. Nah, salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan berolahraga,” ujar Chicco.

    “Berolahraga bisa di mana saja, bisa lari. Apapun jenisnya apapun di manapun. Salah satu yang paling simpel lari,” tandasnya.

    (avk/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Cerita Diet Pria Turun 57 Kg, Begini Triknya yang Bisa Ditiru


    Jakarta

    Seorang pria asal Jerman yang tinggal di Shanghai, China bernama Thomas Derksen (36) menceritakan pengalamannya sukses menurunkan 57 kg berat badan menjadi 83 kg dalam 5 tahun. Ia mengaku berhasil menurunkan berat badannya tanpa obat dan tanpa diet ketat.

    Ia mengalami masalah berat badan sejak sekolah dasar. Ia sempat mencoba beberapa kali diet ketat dan berhasil turun, tapi akhirnya berat badannya justru naik lagi dan semakin parah. Bobot terberatnya pernah mencapai 140 kg.

    Semasa sekolah, ia sering diejek oleh teman-temannya dan Derksen menyebut itu pengalaman yang menyakitkan. Bahkan ketika sudah dewasa, dirinya masih sering menerima komentar dan saran yang tidak diminta untuk menurunkan berat badan.


    Sampai pada tahun 2020 di masa pandemi, isolasi mandiri membuatnya lebih banyak merenung soal berat badan dan kesehatan. Ini juga didorong komplikasi medis yang ia alami akibat berat badan berlebih.

    “Aku mulai menurunkan berat badan saat COVID melanda. Aku tahu harus menurunkan berat badan dan bahwa gaya hidupku tidak sehat. Aku punya masalah hati berlemak, nyeri dada, dan sendi yang sakit,” katas Derksen dikutip dari SCMP, Jumat (1/8/2025).

    Semenjak itu, Derksen jadi sering jalan-jalan, berolahraga, hingga pergi ke gym. Ia melakukan latihan kekuatan tiga kali seminggu dan kardio dua kali seminggu.

    Derksen juga selalu memilih jalan kaki jika pergi ke tempat yang jaraknya kurang dari 5 km. Menurutnya, jalan kaki adalah aktivitas fisik terbaik.

    Alih-alih diet ketat, Derksen justru makan 3-4 kali sehari tapi dengan porsi yang lebih kecil. Ia pernah mencoba intermittent fasting, tapi memutuskan berhenti karena menurutnya terlalu berat. Derksen bahkan bisa makan bebas seperti kentang dan hamburger sesekali.

    “Aku tidak pernah berkata pada diriku, ‘Kamu tidak boleh makan ini atau itu’. Sebaliknya, aku bilang, ‘Kamu boleh makan apa pun, tapi 80 persen waktunya harus makan sehat’. Pergeseran itu membuatku merasa jadi pelaku aktif, bukan pasif,” katanya.

    Dulu, ia menganggap makanan sebagai hiburan dan harus enak. Derksen kini lebih sering memasak sendiri dengan bahan sehat dan sederhana.

    Derksen tidak mempertimbangkan obat GLP-1 karena ia menyadari bahwa pola makannya selama ini bukan disebabkan oleh rasa lapar, melainkan oleh faktor emosional seperti stres atau kebosanan. Baginya, menekan nafsu makan saja tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan.

    (avk/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Mantan Model Fashion Dunia Ini Kini Hanya Tampil dengan Jilbab Syar’i



    Jakarta

    Dunia mode sering kali identik dengan gemerlap, popularitas, dan pencapaian karir yang tinggi. Namun, di balik semua itu, tidak sedikit pelaku industri yang akhirnya memilih mundur demi mencari ketenangan dan menjalani hidup yang lebih sesuai dengan nilai pribadi. Salah satu sosok yang membuat keputusan berani itu adalah Halima Aden, model internasional yang pernah menjadi ikon bagi perempuan Muslim di industri fashion dunia.

    Halima Aden, mantan model internasional berdarah Somalia, kini memutuskan untuk meninggalkan dunia fashion dan memilih hidup yang lebih sesuai dengan nilai-nilai agamanya. Keputusan ini ia ambil pada tahun 2020, setelah merasa bahwa karirnya tidak lagi sejalan dengan prinsip dan identitasnya sebagai seorang Muslimah.

    Aden dikenal sebagai model berhijab pertama yang tampil di sampul Vogue Arabia pada tahun 2017. Kehadirannya di dunia mode saat itu membawa harapan bagi banyak perempuan Muslim yang merasa belum terwakili.


    Namun, seiring waktu, Aden mulai merasa bahwa cara hijabnya ditampilkan dalam pemotretan tidak mencerminkan ajaran yang ia yakini.

    “Saya tidak lagi merasa bisa mewakili hijab dengan benar,” ujar Aden, dikutip dari Vogue British.

    Kesibukan yang sangat padat juga membuat Aden merasa lelah secara mental. Ia bercerita bahwa dalam satu bulan di tahun 2019, ia harus melakukan 45 penerbangan tanpa waktu istirahat bersama keluarga.

    Saat pandemi datang dan semua aktivitas terhenti, Aden mulai merenung. Ia merasa bahwa selama ini ia belum menunjukkan hijab dengan cara yang tepat. Ia juga mengakui pernah ikut terlibat dalam gaya hijab yang terlalu eksperimental.

    “Tidak ada yang memaksa saya pakai celana jeans di kepala, itu keputusan saya sendiri,” katanya.

    Selain alasan pribadi dan keagamaan, Aden juga menyoroti kondisi kerja model yang kurang memadai, seperti minimnya ruang ganti tertutup untuk menjaga privasi. Pengalamannya sebagai mantan pengungsi membuatnya ingin semua model diperlakukan dengan layak.

    Kini, Halima Aden lebih fokus pada berbagai kegiatan yang sesuai dengan nilai hidupnya. Ia terlibat dalam proyek busana Muslim, menulis buku anak, dan aktif dalam kampanye kesehatan mental. Meski sudah tidak aktif di dunia fashion seperti dulu, Aden tetap menginspirasi banyak orang lewat pilihannya untuk hidup lebih bermakna dan sesuai keyakinan.

    Dengan hijab syar’i dan prinsip yang teguh, Halima Aden tetap memberi pengaruh besar, meski bukan lagi lewat catwalk, melainkan lewat keteladanan.

    (inf/lus)



    Sumber : www.detik.com