Tag Archives: pasar kripto

Harga Bitcoin Anjlok Kena Imbas Kebijakan Trump, Saatnya Beli?


Jakarta

Harga bitcoin mengalami penurunan usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif terhadap produk China. Harga bitcoin sempat merosot hingga US$ 105.000 dalam satu jam, sebelum kembali di atas US$ 111.000.

Data dari CoinGlass menunjukkan dalam waktu kurang dari satu jam, lebih dari US$ 8 miliar posisi long terlikuidasi, termasuk bitcoin senilai US$ 1,83 miliar dan ethereum US$ 1,68 miliar. Kapitalisasi pasar kripto menyusut sekitar 13% menjadi US$ 3,78 triliun.

Koreksi bitcoin menunjukkan, aset digital bereaksi terhadap ketegangan geopolitik dan sentimen risiko global.


“Bitcoin sering disebut sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan moneter, tetapi dalam kondisi ekstrem, ia bergerak layaknya aset berisiko tinggi. Pasar global yang terguncang, likuiditas tipis, dan aksi jual berantai pada posisi leverage memicu penurunan cepat yang kemudian diikuti aksi beli algoritmik,” kata Vice President Indodax, Antony Kusuma dalam keterangannya, Minggu (!2/10/2025).

Ia menambahkan, situasi ini memperlihatkan pentingnya pemahaman konteks makro bagi investor kripto. “Para investor harus melihat lebih dari sekadar harga saat ini. Koreksi ini bukan pertanda fundamental bitcoin melemah, melainkan reaksi pasar terhadap eskalasi ketegangan dagang dan risiko makro. Mereka yang mampu menjaga perspektif jangka panjang dapat memanfaatkan momen volatilitas ini untuk membangun posisi strategis,” ujar Antony.

Antony menekankan, meskipun pasar bergejolak, skenario jangka menengah tetap positif bagi bitcoin. Menurutnya, masih ada peluang bitcoin menguat.

“Jika ketegangan AS-China mereda atau pembicaraan baru muncul, Bitcoin bisa berkonsolidasi di kisaran US$ 112.000-118.000. Namun jika isu perdagangan terus mendominasi, harga bisa bergerak di antara US$ 105.000-120.000. Penurunan di bawah US$ 105.000 membuka peluang bagi pembeli jangka panjang,” paparnya.

Ia menambahkan, volatilitas global juga menjadi momentum bagi investor untuk menegakkan disiplin dan strategi portofolio yang matang. “Pasar yang sehat tidak hanya naik, tetapi mampu bertahan dalam gejolak. Mereka yang memahami mekanisme likuidasi, level support psikologis, dan perilaku pasar global akan menemukan peluang yang tersembunyi saat sebagian pelaku investasi kripto panik,” terang Antony.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin cs Rontok Usai Terbang Tinggi


Jakarta

Aset digital kripto kembali mengalami tekanan hebat beberapa hari terakhir. Bahkan, koin kripto dengan kapitalisasi terbesar seperti Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level US$ 109.200-an usai diramal menguat hingga US$ 130.000 beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, BTC sempat menyentuh level US$ 109.219 atau sekitar Rp 1,80 miliar (asumsi kurs Rp 16.564) pada perdagangan Sabtu (11/10/2025). Kemudian hari ini, Senin (13/10/2025) BTC melemah 7,06% pada perdagangan sepekan terakhir ke harga US$ 115.123 atau sekitar Rp 1,90 miliar.

Pelemahan juga diikuti oleh koin kripto Ethereum (ETH) yang turun sejak perdagangan Sabtu. ETH sempat terperosok ke harga US$ 3.504 per koin sebelum akhirnya menguat ke harga US$ 4.171 pada perdagangan Senin. ETH tercatat melemah hingga 8,72% pada perdagangan sepekan terakhir.


Nasib serupa juga dialami koin Solana (SOL) yang jatuh lebih dalam pada perdagangan sepekan terakhir, yakni sebesar 16.07% ke harga US$ 196,68 per koin. SOL juga sempat jatuh ke level terendah di harga US$ 173,94 per koin pada perdagangan Minggu (12/10).

Namun begitu, koin BNB tercatat menjadi satu-satunya yang masih menguat di perdagangan sepekan terakhir kendati sempat ambur pada perdagangan Sabtu ke harga US$ 1.043. Pada perdagangan hari ini, BNB tercatat di level US$ 1.339 dengan penguatan sebesar 9,72% di perdagangan sepekan terakhir.

Diketahui sebelumnya, pergerakan harga BTC sempat menunjukan optimisme dengan menembus level tertinggi sepanjang sejarah di level US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.

“Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Gara-gara Trump, Aset Kripto Terjun Bebas & Bitcoin Melorot 14%


Jakarta

Aset kripto mengalami penurunan terbesar pada perdagangan Jumat lalu. Investor kini bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dan penurunan lebih lanjut pada aset Bitcoin dan Ether.

Dilansir dari Reuters, Selasa (14/10/2025), pelaku pasar mengatakan sektor kripto pada hari Jumat mengalami likuidasi atau penjualan lebih dari US$ 19 miliar, karena aksi jual panik dan likuiditas yang rendah. Pada akhirnya hal ini memicu fluktuasi tajam aset-aset kripto.

Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Jumat malam mengumumkan tarif 100% untuk impor barang dari China dan mengancam kontrol ekspor pada perangkat lunak penting.


Para analis kripto mengatakan ini adalah penurunan terbesar dalam periode 24 jam dalam sejarah perdagangan kripto. Sembilan kali lebih besar dari kejatuhan kripto Februari 2025 dan 19 kali lebih besar dari kejatuhan Maret 2020, serta hancurnya bursa FTX pada November 2022.

Bitcoin jatuh hingga ke level terendah US$ 104.782,88 selama periode 10-11 Oktober, turun lebih dari 14% dari level tertingginya di US$ 122.574,46 pada hari Jumat.

Harga terakhir naik 0,6% ke US$ 115.718,13. Padahal, mata uang kripto terbesar di dunia ini mencapai rekor tertinggi di atas US$ 126.000 pada 6 Oktober.

Sementara itu, aset Ether, mata uang digital terbesar kedua setelah Bitcoin turun 12,2% ke level terendah US$ 3.436,29 pada hari Jumat. Harga terakhir diperdagangkan di US$ 4.254, naik 2,4% pada hari yang sama.

Trump sendiri nampan melunakkan pernyataannya terhadap China di akhir pekan. Hal itu membantu pemulihan kripto. Sementara itu, China pada hari Minggu menyalahkan AS atas eskalasi tersebut, tetapi tidak mengambil tindakan pencegahan lebih lanjut.

“Jumat lalu, volatilitas melonjak secara signifikan, tidak hanya untuk obligasi berjangka pendek, tetapi juga untuk obligasi berjangka panjang. Sentimen seputar volatilitas berjangka pendek adalah semakin banyak orang khawatir tentang penurunan harga,” kata Sean Dawson, kepala riset di Derive.xyz di Canberra.

Lihat juga Video: Nilai Transaksi Kripto September 2025 Turun 14,53 Persen

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Shutdown Pemerintah AS Berakhir, Bitcoin Masih Terkapar di Zona Merah


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan hebat pada perdagangan beberapa pekan belakangan. Hari ini, BTC masih menunjukkan koreksi tajam meski sinyal perbaikan makroekonomi global terlihat seiring penandatanganan rancangan undang-undang yang mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat (AS).

Namun, kabar tersebut nampaknya belum menjadi sentimen kuat untuk kembalinya euforia BTC. Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga BTC masih bergerak di zona merah yakni sebesar US$ 99.707 atau sekitar Rp 1,66 miliar (asumsi kurs Rp 16.706).

Angka tersebut melemah 11.84% sepanjang perdagangan sebulan terakhir. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai pergerakan harga BTC masih belum mencerminkan perubahan tren yang solid.

“Sentimen global memang mulai pulih setelah shutdown AS berakhir, tapi kekuatan fundamental Bitcoin belum cukup kuat untuk menembus resistensi di atas US$ 106.000 atau sekitar Rp 1,77 miliar,” jelas Fyqieh dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (14/11/2025).


Fyqieh menilai, berakhirnya shutdown AS membuat sejumlah lembaga seperti SEC dan CFTC kembali beroperasi. Hal ini mengindikasikan proses persetujuan ETF spot BTC bisa kembali berjalan. Namun, efeknya tidak akan langsung terasa.

“Investor masih menunggu kepastian dari SEC soal ETF kripto dan arah kebijakan fiskal AS ke depan. Dengan DXY (Indeks Dolar AS) yang terus menguat, banyak pelaku pasar justru memilih menahan posisi di aset berisiko seperti Bitcoin,” jelasnya.

Dolar AS yang menguat biasanya menekan minat terhadap aset alternatif seperti kripto. Hal ini tercermin dari inflow ke ETF BTC senilai US$ 524 juta belum mampu mendongkrak harga secara signifikan.

Meskipun berakhirnya shutdown AS membawa kabar baik bagi stabilitas ekonomi global, Fyqieh menilai investor kripto untuk tidak cepat optimistis. Pasalnya, euforia berakhirnya shutdown belum cukup untuk menghidupkan kembali pasar BTC. Perlu katalis kuat, baik dari sisi makro maupun dari industri kripto.

“Selama Bitcoin gagal menembus area US$ 106.000-US$ 108.000 dengan volume kuat, arah jangka pendek masih sideways to bearish. Area support kuat saat ini ada di kisaran US$ 98.000, sementara target kenaikan baru bisa terbuka jika BTC menutup harian di atas US$ 110.000,” pungkasnya.

(ara/ara)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Terjun Bebas Usai Shutdown AS Berakhir, Kok Bisa?


Jakarta

Pasar aset kripto kembali bergerak melemah setelah harga Bitcoin (BTC) turun ke bawah level support di kisaran US$ 96.000. Hal ini terjadi saat shutdown atau penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) berakhir.

Presiden AS Donald Trump telah menandatangani rancangan anggaran yang mengakhiri shutdown selama 43 hari pada Rabu malam (13/11) waktu setempat. Penandatanganan ini mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah AS dan memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026.

Dengan beroperasinya pemerintah secara penuh, lembaga-lembaga yang memegang peran penting dalam ekosistem kripto, termasuk Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), dapat melanjutkan agenda regulasinya.


Kondisi pasca shutdown kali ini berbeda. Meski pemerintah AS telah kembali beroperasi, reaksi pasar kripto relatif datar, bahkan Bitcoin masih berada di bawah tekanan.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa fluktuasi harga saat ini harus dilihat sebagai konsolidasi pasar menuju fase pematangan. Selebihnya, ketidakpastian kebijakan suku bunga masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga Bitcoin.

“Kebijakan suku bunga The Fed memiliki imbas terhadap pergerakan harga Bitcoin. Selain itu, selama arah kebijakan masih belum pasti, volatilitas pasar akan tetap tinggi karena investor cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali masuk,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (14/11/2025).

Ia menambahkan bahwa sinyal pemangkasan suku bunga di bulan Desember nantinya bisa menjadi titik balik penting, sebab perubahan arah kebijakan moneter berpotensi membuka ruang pemulihan harga di pasar kripto global.

Selain itu, di tengah tekanan jangka pendek ini, Antony menegaskan bahwa pergerakan harga yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital di era ketidakpastian global.

“Penurunan harga Bitcoin di bawah US$ 100.000 dipengaruhi oleh beberapa faktor makro yang bersifat eksternal. Dengan berakhirnya shutdown dan operasional regulator kembali berjalan, pasar memiliki ruang untuk menata ulang arah dalam beberapa minggu ke depan,” jelas Antony.

Ia menjelaskan bahwa volatilitas saat ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Antony menyebut seluruh investor bisa tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko.

“Koreksi semacam ini adalah bagian dari mekanisme pasar, dan setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” tambahnya.

Ia menjelaskan, Shutdown yang berkepanjangan menyebabkan gangguan pada proses pengumpulan data ekonomi penting, termasuk Consumer Price Index (CPI) dan laporan pekerjaan (nonfarm payrolls) untuk bulan Oktober 2025 yang seharusnya dirilis pada bulan November 2025.

Terkait sentimen inflasi, data terakhir menunjukkan adanya tekanan harga yang masih membayangi. Tingkat inflasi tahunan di AS naik menjadi 3% pada September 2025, tertinggi sejak Januari, dari 2,9% pada Agustus, meskipun angka ini sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,1%.

Data CPI terakhir ini masih menjadi acuan utama bagi The Fed karena perilisan data terbaru yang tertunda akibat shutdown. Adapun dengan kembalinya regulator utama seperti SEC dan CFTC bekerja penuh, perhatian pasar mulai bergeser dari urusan politik ke arah kejelasan regulasi kripto yang lebih terarah,

Misalnya, proses persetujuan ETF Kripto dan lanjutan pembahasan regulasi stablecoin. Kondisi ini bisa menjadi pondasi penting bagi perkembangan industri kripto dalam jangka panjang, meskipun tekanan inflasi masih perlu dicermati.

(ily/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Anjlok Usai Trump Ancam Mitra Dagang Rusia


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) sempat terkoreksi dan menyentuh level US$ 89.000 yang merupakan level terendah dalam tujuh bulan terakhir pada Selasa (18/11). Penurunan ini terjadi karena arus keluar dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS), serta kekhawatiran investor terhadap rencana tarif Presiden AS Donald Trump sebesar 500% kepada negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Rusia.

Selama empat hari berturut-turut, ETF Bitcoin di AS mencatat arus keluar dari total kepemilikan 441.000 BTC menjadi sekitar 271.000 BTC. Puncaknya, terjadi redemption lebih dari US$ 800 juta dalam satu hari. Situasi ini menambah tekanan jual, terutama setelah harga Bitcoin gagal bertahan di atas area US$ 92.000 dan turun melewati batas psikologis US$ 90.000.

Meski begitu, pelemahan ini tidak disebabkan oleh penurunan fundamental aset kripto. Pada Rabu (19/11) Bitcoin mulai menunjukkan tanda penguatan seiring ekspektasi likuiditas yang membaik di AS, terutama setelah The Fed berencana menghentikan penurunan neracanya dan membuka opsi operasi repo yang bisa menambah cadangan dana ke sistem keuangan.


Namun, tekanan makro masih menahan langkah Bitcoin untuk naik lebih jauh. Sentimen pasar tetap rapuh akibat inflasi yang belum jinak, sektor properti dan otomotif yang melemah, serta ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 10 Desember 2025 mendatang.

Vice President Indodax, Antony Kusuma menekankan bahwa kondisi pasar seperti ini merupakan bagian dari dinamika alami siklus kripto. Ia mengatakan kondisi ini pun bersifat sementara.

“Pergerakan harga yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan sentimen global dalam jangka pendek. Fundamental aset digital tetap kuat, dan di situasi seperti ini penting bagi investor untuk mengambil keputusan secara tenang dan terukur,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).

Antony melanjutkan bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah pandangan jangka panjang para pelaku pasar berpengalaman. Ia juga yakin aset digital tetap kuat, meskipun harga sedang berada dalam tekanan.

“Bagi investor jangka panjang, momen seperti ini sering dianggap sebagai peluang untuk menambah posisi secara bertahap,” tambah Antony.

Di tengah volatilitas yang meningkat, pihaknya mengimbau seluruh investor untuk tetap mengutamakan manajemen risiko dan tidak melakukan keputusan emosional. Koreksi seperti ini dinilai wajar terjadi setelah Bitcoin sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa pada awal Oktober 2025 lalu.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin berada pada level US$ 92.381 pada pukul 11.00. Bitcoin mulai menguat sebanyak 0,67%.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Ray Dalio Bikin Harga Bitcoin Betah di Zona Merah, Kenapa?


Jakarta

Konglomerat asal Amerika Serikat (AS), Ray Dalio, disebut memicu kecemasan terhadap investor kripto. Kecemasan itu bermula dari sebuah wawancara Ray Dalio yang menyebut Bitcoin (BTC) tidak akan menjadi mata uang cadangan karena mudah diretas oleh komputasi kuantum.

Hal ini kemudian memicu kepanikan investor yang melakukan aksi jual besar-besaran mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 21,72 triliun (kurs Rp 16.710). Alhasil, harga BTC anjlok pada perdagangan hari ini, Jumat (21/11).

Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga BTC berada di level US$ 85.970,36 atau sekitar Rp 1,43 miliar, melemah sekitar 11,72% pada perdagangan sepekan terakhir. Angka tersebut turut merosot dari hari sebelumya, Kamis (20/11), di mana BTC berada di level US$ 87.000 atau sekitar Rp 1,45 miliar.


Berdasarkan analisis Tokorypto, penurunan tajam harga BTC memicu gelombang likuidasi lebih dari US$ 220 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun untuk posisi long. Selain itu, kondisi ini mendorong volatilitas pasar yang telah meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Namun begitu, sejumlah analis pasar menilai kekhawatiran Ray Dalio terlalu berlebihan dan dianggap mengesampingkan kriptografi Bitcoin yang berbasis SHA-256. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai narasi quantum panic Ray Dalio bersifat psikologis daripada teknis.

“Risiko komputasi kuantum terhadap Bitcoin masih berada pada level teoretis dan belum mendesak. Justru, jika benar-benar ada terobosan yang mampu mendekripsi Bitcoin, maka sistem perbankan global yang menggunakan RSA akan jauh lebih rentan. Jadi, kepanikan ini lebih dipicu persepsi, bukan realita teknologinya,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/11/2025).

Selain itu, tekanan terhadap BTC juga muncul kala Owen Gunden menjual seluruh kepemilikan asetnya sebanyak 11.000 coin. Aksi ini dianggap sebagai kapitulasi besar yang menambah suplai di pasar, memperkuat tekanan jual, dan membuat harga BTC menjauh dari level US$ 90.000.

Meski begitu, aksi jual bersih ini tidak cukup menjadi indikator arah pasar BTC. Menurut Fyqieh, masih banyak investor jangka panjang mengambil keputusan berdasarkan portofolio individual, bukan kondisi fundamental Bitcoin.

Ia tak menampik adanya panic selling dan ketidakpastian pasar menyebabkan lebih dari 222.000 pedagang terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Data Coinglass menunjukkan likuidasi long mencapai lebih dari US$ 264 juta hanya dalam satu jam di awal sesi AS.

“Namun benar bahwa suplai tambahan dalam kondisi pasar rapuh dapat mempercepat koreksi,” jelasnya.

Bitcoin Loyo

Berdasarkan laporan CryptoQuant, BTC memasuki fase paling bearish dalam siklus bull 2023-2025. Indeks Bull Score bahkan turun ke level 20/100 dengan harga BTC kini berada di bawah MA 365 hari. Meski begitu, Fyqieh menilai hal tersebut merupakan kondisi wajar.

“Penurunan hingga 25-30% adalah hal yang wajar dalam market bullish. Bahkan dalam bearish sekalipun, Bitcoin sering membentuk rebound kuat. Level teknikal seperti area US$ 84.000 hingga US$ 90.000 menjadi penting untuk memantau potensi pembalikan,” jelasnya.

Mengutip dari Data Santiment, mayoritas trader ritel BTC mulai memprediksi harga akan turun ke bawah US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,17 miliar. Menurutnya, kondisi ini biasanya menandai pergerakan pasar yang berlawanan. Indeks Fear and Greed juga turun ke level ekstrem 15/100, kondisi yang secara historis sering diikuti pemulihan signifikan dalam beberapa bulan berikutnya.

Kondisi panic selling, kekhawatiran komputasi kuantum, aksi jual whale, dan dinamika ETF menciptakan badai volatilitas yang belum mereda. Fyqieh menilai, harga BTC akan ditentukan oleh dukungan institusional mampu menstabilkan harga atau pasar masih akan mencari titik dasar baru.

Pasalnya, ETF Bitcoin di AS masih mencatat arus masuk sebesar US$ 75 juta dan mengakhiri tren arus keluar selama lima hari berturut-turut. BlackRock IBIT menjadi pendorong utama arus masuk tersebut.

“Volatilitas seperti ini adalah bagian dari karakter Bitcoin. Investor jangka panjang tidak fokus pada gejolak harian, tetapi pada struktur jangka panjang yang masih solid. Yang penting adalah manajemen risiko, bukan mengejar harga,” pungkasnya.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ara/ara)



Sumber : finance.detik.com

Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok!


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) sempat terkoreksi dan menyentuh level US$ 89.000 yang mencatat level terendah dalam tujuh bulan terakhir pada Selasa (18/11/2025).

Ini terjadi di tengah kombinasi tekanan teknis, arus keluar dari ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya kekhawatiran pasar terkait rencana tarif baru pemerintahan AS.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma menilai pelemahan ini tidak disebabkan oleh penurunan fundamental aset kripto. Ia menekankan bahwa kondisi pasar seperti ini merupakan bagian dari dinamika alami siklus kripto.


“Pergerakan harga yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan sentimen global dalam jangka pendek. Fundamental aset digital tetap kuat, dan di situasi seperti ini penting bagi investor untuk mengambil keputusan secara tenang dan terukur,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (22/11/2025).

Selama empat hari berturut-turut, ETF Bitcoin di AS mencatat arus keluar dari total kepemilikan 441.000 BTC menjadi sekitar 271.000 BTC.

Puncaknya, terjadi redemption lebih dari US$ 800 juta dalam satu hari. Situasi ini menambah tekanan jual, terutama setelah harga Bitcoin gagal bertahan di atas area US$ 92.000 dan turun melewati batas psikologis US$ 90.000.

Sentimen pasar kian tertekan oleh rencana tarif hingga 500% yang diajukan Presiden Donald Trump kepada negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Rusia. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar global, terutama pada aset berisiko seperti kripto. Sejumlah altcoin besar turut terkoreksi, sementara indeks Fear & Greed merosot ke zona “extreme fear”.

Per hari Rabu (19/11) Bitcoin mulai menunjukkan tanda penguatan seiring ekspektasi likuiditas yang membaik di Amerika Serikat, terutama setelah The Fed berencana menghentikan penurunan neracanya dan membuka opsi operasi repo yang bisa menambah cadangan dana ke sistem keuangan.

Namun, tekanan makro masih menahan langkah Bitcoin untuk naik lebih jauh. Sentimen pasar tetap rapuh akibat inflasi yang belum jinak, sektor properti dan otomotif yang melemah, serta ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 10 Desember 2025 mendatang.

Di saat bersamaan, regulator AS ikut menjadi perhatian setelah SEC tidak lagi menempatkan aset kripto sebagai fokus utama dalam prioritas pemeriksaan 2026. Fokus lembaga tersebut kini bergeser ke kewajiban fidusia, keamanan siber, privasi data, serta risiko teknologi seperti AI.

Meski begitu, SEC menegaskan bahwa aset kripto tetap bisa masuk dalam pemeriksaan jika dinilai memiliki tingkat risiko yang tinggi, sehingga pengawasan terhadap industri ini belum benar-benar hilang.

Di sisi lain, koreksi ini tidak menandai dimulainya tren bearish baru. Tekanan saat ini lebih disebabkan oleh likuiditas pasar yang mengetat, rotasi antar investor besar, serta pelemahan sentimen akibat ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed.

Penundaan rilis data ekonomi penting seperti CPI dan laporan tenaga kerja Oktober 2025 akibat shutdown AS juga menjadi salah satu faktor yang menahan kepercayaan investor jangka pendek. Antony juga menegaskan bahwa tekanan harga yang tajam seperti ini kerap terjadi ketika pasar sedang menyesuaikan diri dengan kondisi global.

“Kami memahami koreksi cepat bisa membuat banyak investor merasa cemas. Namun fase seperti ini biasanya bersifat sementara dan pasar akan kembali bergerak lebih rasional setelah volatilitas mereda,” jelasnya.

Ia melanjutkan bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah pandangan jangka panjang para pelaku pasar berpengalaman. Menurutnya bagi investor jangka panjang, momen seperti ini sering dianggap sebagai peluang untuk menambah posisi secara bertahap.

Ia menegaskan bahwa keyakinan terhadap aset digital tetap kuat, meskipun harga sedang berada dalam tekanan. Di tengah volatilitas yang meningkat, Indodax mengimbau seluruh investor untuk tetap mengutamakan manajemen risiko dan tidak melakukan keputusan emosional.

Koreksi seperti ini dinilai wajar terjadi setelah Bitcoin sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa pada awal Oktober 2025 lalu. Indodax akan terus memantau kondisi pasar secara real-time dan memastikan seluruh operasional perdagangan berjalan stabil untuk melindungi kepentingan pengguna.

(ily/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Makin Anjlok, Ini Biang Keroknya


Jakarta

Pasar aset kripto kembali melemah setelah harga bitcoin (BTC) dan ether turun tajam sepanjang perdagangan Senin (1/12) kemarin. Penurunan nilai dua aset kripto paling berharga diakibatkan gelombang aksi jual dari para investor, turut memicu pelemahan harga aset-aset kripto lainnya.

Melansir CNBC, Selasa (2/12/2025), hingga pukul 16:19 ET (23.00 WIB) Senin kemarin harga bitcoin berada di level US$ 85.894,03, atau turun 6%. Sementara aset kripto ether juga tercatat turun hingga 8,4% dan berada di level US$ 2.776,39.

Selain itu, ada juga aset kripto Solana yang jatuh lebih dari 9%, dan terakhir terlihat di bawah US$ 125. Sementara untuk aset kripto lainnya banyak yang berada di zona merah selama perdagangan kemarin.


Pendiri dan CIO Fedwatch Advisors, Ben Emons, mengatakan pasar kripto saat ini memang masih dalam kondisi rapuh usai aksi jual besar-besaran yang berlangsung selama beberapa pekan sejak awal Oktober kemarin.

Menurutnya keraguan pasar ini menjadi penting mengingat banyak investor kripto yang menggunakan leverage alias berutang untuk membeli aset investasi. Membuat mereka sangat rentan terhadap aksi jual besar-besaran, karena secara langsung akan menjatuhkan harga.

“Masih banyak leverage dalam Bitcoin di luar sana. Kita bisa memperkirakan akan ada lebih banyak likuidasi seperti ini jika harga bitcoin tidak turun dari titik terendahnya,” kata Emons.

“Itu adalah sesuatu yang perlu diperhitungkan ke depan, karena semakin banyak leverage yang digunakan di bidang ini” sambungnya.

Lebih lanjut, kekhawatiran ekonomi makro, termasuk ketidakpastian atas kemungkinan pemangkasan suku bunga AS, terus membebani pikiran investor. Alhasil mereka akan beralih ke investasi yang lebih aman, menjadikan nilai aset kripto semakin lemah imbas penurunan minat.

Simak juga Video: BNN Ungkap Sulitnya Lacak Transaksi Narkoba Lewat Bitcoin-Kripto

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Lompat ke Rp 1,5 M Usai AS Serang Venezuela


Jakarta

Harga bitcoin (BTC) menguat sejak konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memanas pada Sabtu (3/1/2026). Saat ini harga BTC sendiri ada di level US$ 92.328 atau sekitar Rp 1,5 miliar (asumsi kurs Rp 16.750).

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC menguat di 24 jam terakhir sebesar 0,8%. Kemudian sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga BTC bergerak menguat hingga 2,63%.

Founder dan CEO TRIV Gabriel Rey, menyebut kenaikan harga BTC di tengah memanasnya konflik AS-Venezuela merupakan hal yang wajar. Pasalnya, hal serupa juga terjadi kala memanasnya perang Iran-Israel beberapa bulan lalu.


“Kenaikan ini selalu terjadi ketika terjadi perang, mereka (investor) mencari aset yang dianggap aman untuk parkir uangnya. Ini sudah kejadian juga ketika kemarin Iran berperang dengan Israel, harga bitcoin naik juga,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Senin (5/1/2026).

Secara historis, terang Gabriel, masyarakat Venezuela juga cenderung mengalihkan asetnya ke BTC di tengah terkoreksinya mata uang lokal. Menurutnya, kondisi mencerminkan kepercayaan publik terhadap BTC. Ia bahkan menyebut, harga BTC masih dapat naik hingga US$ 95.000.

“Ketika terjadi devaluasi mata uang yang besar maka parkirnya kalau nggak ke emas, ya ke bitcoin untuk saat ini. Saya rasa untuk kita di atas US$ 90.000 sangat possible apalagi kita sempat turun US$ 80.000 dan cukup lama ranking di sini dan naik lagi ke US$ 90.000. Menurut saya kita akan sideways di sini antara US$ 90.000 sampai US$ 95.000 sampai terjadinya redcard oleh the Fed,” imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, mengatakan pergerakan positif harga BTC terjadi karena kembalinya optimisme pelaku pasar kripto. Hal ini terjadi karena siklus empat tahunan BTC yang berhasil dipatahkan pelaku pasar.

“Saat ini kelihatannya memang muncul kembali optimisme dari para pelaku pasar, yang mana ada banyak perkiraan bahwa siklus empat tahunan bitcoin telah patah. Sehingga, muncul optimisme akan adanya potensi perpanjangan tren naik,” ungkap Christopher.

Meski begitu, Christopher mengingatkan adanya ruang pelemahan harga BTC dalam waktu dekat. Pelemahan ini terjadi akibat dorongan aksi ambil untung di tengah meningkatnya harga BTC.

“Menurut saya, tren secara sepenuhnya belum patah, sehingga masih ada peluang terjadi pelemahan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Terlebih lagi apabila pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga ini untuk mengambil untung ataupun minimal meminimalisasi kerugian yang sudah mereka tahan untuk beberapa waktu ini,” pungkasnya.

Tonton juga video “Presiden Kuba Sebut 32 Rakyatnya Tewas Saat Maduro Ditangkap AS”

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com