Tag: pengeringan

  • Penyebab Pintu Kayu Seret dan Cara Perbaikinya



    Jakarta

    Kebanyakan rumah di Indonesia menggunakan pintu berbahan dasar kayu. Pintu kayu memang menjadi andalan, tetapi terkadang timbul masalah seperti susah dibuka alias seret.

    Masalah ini bisa mengganggu kenyamanan penghuni rumah karena butuh usaha lebih buat buka pintu. Selain susah dibuka, gesekan antara pintu dengan lantai dapat merusak lantai.

    Kira-kira apa penyebab pintu kayu seret dan susah dibuka ya? Berikut ini penyebab dan cara perbaiki pintu kayu seret.


    Penyebab Pintu Kayu Seret

    Dikutip dari Homes and Gardens, penyebab utama pintu kayu seret adalah tingkat kelembapan yang tinggi. Kondisi ini membuat pintu kayu memuai, sehingga pergerakan pintu tidak mulus ketika dibuka.

    Selain itu, Tukang kayu dan pemilik Timber Shelves Justin Brown mengatakan pintu kayu bisa memuai dan menyusut karena adanya perubahan suhu panas dan dingin.

    “Pintu kayu dapat memuai dan menyusut seiring dengan musim lembap atau setelah terjadi perubahan suhu yang signifikan sehingga menyebabkan kelembapan tinggi. Kayu secara alami menyerap kelembapan di udara sehingga pergerakan dan pembengkakan berpotensi menyebabkan seret,” kata Justin dilansir dari Homes and Gardens.

    Namun, ada beberapa jenis kayu yang minim risiko untuk memuai, di antaranya kayu jati, kamper, dan meranti. Perlu diingat juga kalau harga ketiga jenis kayu itu cukup mahal.

    Kemudian, faktor lainnya adalah proses pengeringan atau oven kayu yang kurang maksimal. Untuk mengatasi masalah ini, pintu kayu bisa melalui proses oven lagi.

    Cara ini sebenarnya jarang dilakukan karena prosesnya cukup panjang. Prosesnya mulai dari pencopotan pintu hingga pengecatan ulang.

    Jika kondisi pintu baik-baik saja, kemungkinan pintu seret disebabkan oleh keramik. Keramik lantai yang tidak rata atau terangkat bisa menyebabkan pintu rumah menjadi seret.

    Cara Memperbaiki Pintu Kayu Seret

    Kalau pintu kayu kamu seret, coba perbaiki dengan cara berikut ini.

    1. Cek Pintu dan Kusen

    Pertama, kamu harus mencari mencari penyebab pintu menjadi seret. Faktor yang pertama bisa disebabkan karena bagian kusen pintu sudah kotor.

    Kemungkinan ada sisa cat, tumpukan debu, atau kotoran yang menempel di sekitar kusen pintu dapat menyebabkan pintu menjadi seret. Jadi, cobalah bersihkan dulu kusen pintu sampai tidak ada kotoran.

    Lalu, periksa juga permukaan pintu yang bergesekkan dengan lantai. Pintu yang sulit dibuka akan menimbulkan tanda-tanda seperti permukaan keramik lantai tergores, cat memudar, atau sekrup pada engsel pintu kendor.

    2. Kencangkan Engsel

    Pintu kayu seret bisa disebabkan oleh sekrup yang longgar. Kamu bisa memperbaikinya dengan mengencangkan engsel pintu.

    Jika sekrup berputar namun tidak kencang, cobalah ganti sekrup tersebut dengan ukuran yang lebih besar untuk mengencangkannya. Selain itu, mengatur posisi pelatnya juga dapat membantu mengatasi pintu yang mengalami seret.

    3. Pangkas Sedikit di Bagian Bawah Pintu

    Jika pintu masih seret setelah engsel dikencangkan, kemungkinan pintu kayu memuai karena kelembapan akibat perubahan suhu. Kamu bisa memangkas sedikit bagian bawah pintu dengan teknik serut, setelah itu dilanjutkan dengan mengamplasnya agar terlihat rapi.

    Itulah penyebab dan cara memperbaiki pintu kayu seret. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Penyebab Pakaian Masih Bau Meski Sudah Dicuci


    Jakarta

    Mencuci pakaian perlu dilakukan agar pakaian setelah digunakan seharian kembali bersih dan wangi. Mencuci pakaian bisa menggunakan tangan secara manual atau menggunakan mesin cuci supaya lebih praktis dan efisien.

    Ketika mencuci pakaian, terkadang ada saja masalah yang muncul, salah satunya adalah pakaian masih bau bahkan setelah dicuci. Padahal, kita mengharapkan pakaian yang bersih, lembut, dan wangi setelah dicuci. Kenapa ya hal itu bisa terjadi?

    Melansir dari situs Cleanipedia, pakaian masih bau setelah dicuci dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini.


    1. Mesin Cuci Kotor

    Mesin cuci merupakan salah satu tempat yang bisa menampung atau menggenangkan air. Hal itu membuat mesin cuci dapat dengan mudah timbul bakteri atau jamur yang bisa menyumbat filter. Air yang tergenang atau air sisa ini dapat menimbulkan bau. Maka dari itu perlu membersihkan mesin cuci secara menyeluruh untuk hasil cucian yang lebih baik.

    2. Terlalu Banyak Detergen

    Mungkin selama ini kita berpikir menggunakan lebih banyak detergen membuat pakaian menjadi lebih bersih. Namun, detergen yang berlebihan dalam mesin cuci justru tidak akan terbilas dengan baik dan terperangkap dalam bahan pakaian. Pertumbuhan jamur dan kelembapan berlebih pada detergen yang terperangkap itu juga bisa menimbulkan bau.

    Oleh karena itu, sebaiknya cek ukuran yang tepat penggunaan detergen pada kemasan. Penghuni rumah juga bisa pertimbangkan memakai detergen beraroma agar pakaian lebih segar.

    3. Terlalu Banyak Pakaian

    Pakaian juga butuh ruang untuk bergerak guna mengoptimalkan proses mencuci di dalam mesin cuci. Jika terlalu banyak pakaian, maka pakaian itu tidak bisa dibersihkan dengan benar. Untuk itu, sebaiknya jangan memasukkan pakaian sebanyak mungkin ke dalam mesin cuci.

    4. Terlalu Lama di Mesin Cuci

    Semakin lama mencuci dalam mesin cuci bukan tambah bersih justru bisa membuat pakaian bau. Coba atur waktu agar tidak terlalu lama mencuci pakaian dalam mesin cuci.

    5. Kesalahan Menjemur

    Proses menjemur yang tidak benar membuat pakaian yang telah dicuci justru jadi bau. Pakaian harus benar-benar kering saat dijemur untuk memastikan tidak ada kelembapan di dalamnya. Jika cuaca sedang hujan dan pakaian tidak kering secara optimal, juga bisa menyebabkan bau. Untuk itu, perhatikan proses penjemuran pakaian.

    6. Proses Pengeringan Tidak Tepat

    Jika punya pengering mesin cuci, pastikan pakaian benar-benar kering sebelum menjemurnya. Saat menggunakan mesin pengering, jangan memasukkan pakaian terlalu banyak karena bisa menambah beban.

    7. Tidak Gantung Pakaian

    Ternyata, pakaian kita juga membutuhkan udara atau sirkulasi yang baik agar tidak menimbulkan bau. Jika pakaian sudah kering, maka lebih baik digantung daripada dilipat untuk memberi ruang bagi udara. Selain itu, beri jarak juga antara pakaian agar mencegah pakaian berbau.

    Itu dia beberapa faktor yang bisa menyebabkan pakaian masih bau bahkan setelah dicuci. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Ngecat Dinding Saat Hujan Berapa Lama Keringnya? Ini Kata Produsen



    Jakarta

    Ketika mengecat dinding yang harus dipastikan adalah setiap lapisan yang telah menempel di dinding benar-benar kering. Namun, jika mengecat saat hujan, kira-kira hasilnya akan lembap atau tetap bisa kering ya?

    Menurut Ketua Tim Bekasi PT ICI Paints Indonesia (Dulux) Rahman Wijaya tidak ada masalah mengecat ketika hujan atau di tengah musim hujan yang lembap. Cat tetap bisa kering.

    “Nggak harus, nggak harus panas yang penting tahu antara pengeringan awalnya dengan lamanya maksimal 2 jam bisa harusnya top coat (pengecatan bagian atas),” kata Rahman saat ditemui detikcom di Indonesia Building Technology (IndoBuildTech) Expo 2025, ICE BSD City, pada Jumat (4/7/2025) lalu.


    Rahman mengatakan idealnya satu lapisan cat dapat kering dalam 1-2 jam. Apabila udara tengah lembap minimal 2 jam untuk kering.

    Hasil akhir cat bukan hanya dipengaruhi pada suhu udara di sekitarnya, melainkan kualitas cat yang digunakan dan teknik pengecatannya.

    Salah satu cara agar kualitas cat tetap bagus dan tahan lama meskipun dicat saat hujan adalah dengan memakai cat dasar. Hal ini merupakan senjata utama saat mengecat dinding. Rahman menjelaskan cat dasar atau cat primer merupakan jenis cat yang berbeda dengan bagian luar yang biasa terlihat pada dinding. Bagian yang terlihat paling atas pada dinding merupakan top coat.

    Cat dasar merupakan fondasi utama untuk melindungi bagian atas atau permukaan tetap terlihat bagus dan tidak gampang rusak.

    “Yang kedua itu (cat dasar) dia untuk menahan garam alkali. Kenapa? bidang tembok itu kan semen acian. Acian itu kan dari semen dan mengandung panas, biasanya sehari dua hari akan timbul garam alkali. Gunanya cat dasar itu untuk menahan garam alkali keluar ke top coat-nya. Jadi hasil top coat-nya bisa jadi maksimal,” jelas Rahman.

    Cat dasar biasanya berwarna putih. Rahman menjelaskan untuk produk Duluxe terdapat 2 warna cat dasar bagian dalam atau interior berwarna putih dan bagian luar atau exterior berwarna cat dasarnya berwarna abu-abu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Tempati Ruangan yang Habis Dicat, Bisa Bahaya!


    Jakarta

    Saat mengecat dinding, setiap prosesnya memerlukan waktu, mulai dari menunggu lapisan mengering hingga baunya benar-benar hilang.

    Beberapa orang mungkin bisa menunggu lapisan cat mengering. Sebab, hanya membutuhkan waktu tunggu 1-2 jam hingga harus dicat kembali dengan lapisan baru. Namun, untuk menunggu bau cat benar-benar hilang, beberapa orang memilih untuk menyampingkan perihal tersebut.

    Ada yang beralasan ruangan tersebut perlu segera dipakai karena tidak ada ruangan pengganti. Ada pula yang menganggap peringatan tersebut tidak berbahaya karena akibatnya tidak terasa langsung.


    Senyawa Berbahaya pada Cat Dinding

    Dilansir How Stuff Works, VOC (Volatile organic compounds) merupakan senyawa organik yang mudah menguap setelah cat dinding diaplikasikan. Fungsi dari senyawa ini adalah membuat cat lebih tahan lama dan bahan kimia yang membuat dinding basah menjadi kering. Seperti pengertiannya, VOC ini bentuknya adalah uap.

    Menurut Healthline, beberapa contoh VOC di antaranya adalah toluene, xilena, aseton, metilen klorida, formaldehida, hingga benzene.

    Paparan VOC terkadang dapat menimbulkan efek kesehatan jangka pendek atau jangka panjang. Untuk jangka pendek seperti pusing, sesak napas, mata, hidung, atau tenggorokan perih, dan mual. Sementara untuk jangka panjang bisa merusak sistem saraf, hati, ginjal. Dampak yang ditimbulkan pada tubuh seseorang tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing individu.

    Lama Ruangan Harus Dibiarkan Kosong Setelah Pengecatan

    Menurut kontraktor Wildan ruangan yang baru saja dicat sebaiknya ditinggalkan selama 2-3 hari. Kondisi ruangan tersebut sebaiknya dibuka atau minimal memiliki ventilasi agar uap tersebut bisa keluar, bukan terperangkap di dalam ruangan.

    “Biasanya 2-3 hari bau catnya sudah hilang. Amannya semingguan,” ujarnya kepada detikcom, Rabu, (9/7/2025).

    Ketika proses pengecatan agar tidak terasa pusing, ruangan tersebut harus memiliki ventilasi atau setidaknya terdapat kipas angin agar udara di dalam ruangan tersebut bergerak.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah Mengecat Dinding di Musim Hujan Bikin Hasilnya Jelek?


    Jakarta

    Salah satu kunci agar hasil cat dinding bagus adalah menunggu hingga setiap lapisan benar-benar kering. Menimpa lapisan cat yang belum benar-benar kering justru merusak lapisan barunya karena cat akan sulit menempel.

    Salah satu faktor cat dapat mengering adalah formula dari cat tersebut, panas, dan sirkulasi udara di sekitarnya. Lantas, apabila mengecat di musim hujan yang lembap, apakah akan lebih sulit dan berpengaruh ke kualitas hasilnya?

    Menurut manajer konstruksi di ASAP Restoration LLC, Brandon Walker, udara yang terlalu lembap dapat menyebabkan pengeringan jauh lebih lama. Hal ini dapat memengaruhi kualitas cat, seperti cat yang diaplikasikan lebih tebal dapat menyebar atau ‘mengalir’ ke area lain karena tidak menempel.


    “Kelembapan tinggi juga dapat menyebabkan hasil akhir yang tidak merata. Jika beberapa bagian dikerjakan pada waktu yang berbeda dalam satu hari, dapat memengaruhi kualitas hasil akhir,” katanya seperti yang dikutip pada Selasa (9/9/2025).

    Ia mengatakan hasil akhir yang kurang memuaskan seperti itu bisa diperbaiki, tetapi setelah lapisan pertama benar-benar kering.

    Mengecat asal-asalan di saat musim hujan yang benar-benar lembap juga memberikan celah pertumbuhan jamur. Bentuk jamur yang sering ditemui pada dinding seperti noda berwarna yang bentuknya abstrak. Apabila disentuh, biasanya tidak memiliki tekstur, masih sama seperti dinding pada umumnya. Lama kelamaan juga akan muncul jalur air pada dinding.

    Pertimbangan Saat Mengecat Rumah di Musim Hujan

    Dilansir dari The Spruce, berikut beberapa faktor yang perlu diperhatikan saat mengecat rumah di musim hujan.

    1. Kelembapan

    Pertama-tama adalah mengukur kelembapan udara apakah memungkinkan untuk mengecat. Sebab, udara lembap dapat membuat cat kering lebih lama dibandingkan saat cuaca cerah. Pemilik rumah dan tukang juga harus sabar menunggu hingga setiap lapisan benar-benar kering.

    2. Kondisi Permukaan

    Hampir semua masalah pada dinding disebabkan oleh garam alkali. Kemunculannya biasanya dikarenakan kondisi dinding yang lembap. Cara mengatasinya bukan dengan mengecat ulang, melainkan memperbaiki hingga ke bagian acian.

    Jika terkena hujan, permukaan yang belum kering akan membentuk garis-garis akibat cat yang luntur. Cara mengatasinya adalah menunggu hingga cat benar-benar kering, lalu mengikis garis-garis cat yang luntur tersebut dengan pisau. Area yang terkena hujan mungkin memerlukan pengamplasan ringan sebelum dicat ulang.

    3. Suhu

    Suhu juga memainkan peran penting dalam proses pengeringan cat. Semakin rendah suhu, semakin lama cat akan mengering. Pastikan untuk memeriksa rekomendasi suhu minimum pada label cat yang kamu gunakan.

    Demikian faktor-faktor yang perlu kamu pertimbangkan saat ingin mengecat rumah di musim hujan. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, kamu bisa memutuskan apakah aman untuk melanjutkan proyek mengecat rumah saat hujan datang. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Agar Tidak Mudah Berkarat, Begini Cara Tepat Merawat Alat Dapur Stainless Steel


    Jakarta

    Alat-alat dapur berbahan stainless steel (baja tahan karat) digunakan karena terkenal dengan keawetannya. Ketahanannya terhadap karat dan korosi, membuat alat-alat dapur dengan bahan ini banyak dimiliki karena tidak mudah penyok dan tergores, serta dapat menjadi investasi alat rumah tangga dalam jangka panjang.

    Stainless steel tidak reaktif terhadap makanan, termasuk makanan yang mengandung asam tinggi. Sehingga ketika memasak menggunakan alat berbahan ini, juga tidak akan mengubah rasa makanan. Pembersihan alat dengan bahan ini juga sangatlah mudah, mengingat permukaan alatnya yang halus dan tidak berpori.

    Di sisi lain, tanpa perawatan yang tepat, peralatan dengan bahan ini tetap bisa mengalami kerusakan. Sekalipun alat tersebut dirancang dengan bahan yang tahan karat. Dilansir dari situs Unified Alloys, berikut beberapa penyebab stainless steel menjadi mudah berkarat.


    Penyebab Alat Berbahan Stainless Steel Mudah Berkarat

    Stainless steel dapat berkarat apabila lapisan pelindung pada kromium oksida dari korosi mulai rusak atau hilang. Lapisan ini berfungsi sebagai perisai pasif yang mencegah oksidasi logam di bawahnya. Jika lapisan tersebut terganggu, baja tahan karat akan kehilangan perlindungannya dan mulai membentuk karat.

    Beberapa faktor yang dapat merusak lapisan pelindung dan menyebabkan karat, antara lain sebagai berikut.

    1. Lingkungan kaya klorida, seperti paparan garam atau bahan pembersih dan sabun cuci dengan bahan tertentu.
    2. Kerusakan fisik, misalnya goresan, penyok, atau benturan dan gesekan dari benda tajam.
    3. Paparan suhu tinggi, seperti saat proses pengelasan pada proses produksi ataupun penggunaan alat dengan suhu panas yang sangat tinggi.
    4. Paparan bahan kimia agresif, yang merusak permukaan logam.
    5. Terkontaminasi besi bebas, yang merupakan akibat proses pemesinan, pembersihan, ataupun penyimpanan yang tidak tepat.
    6. Kekurangan oksigen yang menghambat terbentuknya kembali lapisan pelindung kromium oksida.

    Tips Merawat Alat Dapur dengan Bahan Stainless Steel

    Berdasarkan penyebab di atas, ini beberapa cara yang dapat dilakukan agar alat dapur dengan bahan stainless steel tetap awet, bersih, dan tahan karat.

    1. Bersihkan Secara Rutin dengan Alat yang Tepat

    Membersihkan alat dapur secara rutin sangat penting untuk mencegah penumpukan kotoran yang dapat menyebabkan karat.

    Menurut informasi yang didapatkan melalui situs Unified Alloys, penggunaan kain lembut atau spons non-abrasif dengan air hangat dan sabun cuci piring yang ringan akan lebih efektif dan aman dibandingkan menggunakan sikat kawat atau bahan abrasif lainnya yang bisa merusak lapisan pelindung stainless steel.

    2. Keringkan Segera Setelah Dicuci

    Setelah mencuci, lakukan pengeringan alat secara rutin dengan menggunakan kain microfiber ataupun kain lembut. Air yang menggenang di dalam alat berbahan stainless steel dapat meningkatkan risiko karat. Dengan ini, pengeringan yang dilakukan dengan segera sangat penting untuk menjaga kondisi alat dapur agar tetap optimal.

    3. Gunakan Pembersih Khusus Stainless Steel

    Untuk mengembalikan alat dapur agar berkilau, serta menghilangkan noda yang membandel, bisa dengan menggunakan pembersih khusus stainless steel. Produk pembersih khusus yang dibuat ini, dirancang dengan bahan non-klorin agar tidak merusak lapisan pelindung dan memberikan perlindungan tambahan.

    4. Lindungi Alat dengan Pelapis Khusus

    Selain pembersihan, penggunaan pelapis pelindung seperti Protect Clear juga dapat membantu mencegah noda air dan karat pada permukaan stainless steel. Pelapis pelindung juga akan menjaga tampilan alat dapur agar tetap baru dan meminimalkan kerusakan akibat kelembapan.

    5. Hindari Bahan Kimia Keras

    Bahan kimia keras seperti pemutih atau pembersih dengan kandungan klorin dapat merusak lapisan pelindung stainless steel. Dilansir dari situs Unified Alloys, menyatakan bahwa dengan menghindari bahan kimia abrasif adalah langkah penting untuk mencegah kerusakan dan menjaga daya tahan stainless steel.

    6. Lakukan Perawatan Rutin

    Perawatan rutin dan pemeriksaan berkala, dapat membantu untuk mengetahui kerusakan atau goresan pada permukaan stainless steel yang dapat menjadi titik masuk kelembapan. Jika ditemukan goresan atau karat awal, segera lakukan pembersihan dan pelapisan tambahan jika dibutuhkan. Perawatan yang proaktif dapat memperpanjang usia alat dapur berbahan stainless steel.

    Itulah penyebab alat dapur berbahan stainless steel mudah berkarat dan cara merawatnya. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Begini Cara Cepat Keringkan Pakaian Saat Musim Hujan


    Jakarta

    Belakangan ini sejumlah daerah di Indonesia diguyur hujan lebat. Hal tersebut bisa membuat pakaian di rumah semakin lama kering.

    Untuk mengeringkan pakaian tentu perlu sinar matahari dan angin. Tapi saat hujan turun, tidak mungkin ada sinar matahari yang bisa membantu mengeringkan pakaian.

    Lalu, bagaimana caranya mengeringkan pakaian saat musim hujan?


    1. Maksimalkan Putaran Mesin Pengering

    Dilansir dari Lifestyle Clotheslines, langkah pertama yang bisa dilakukan untuk memastikan pakaian kering lebih cepat adalah dengan memaksimalkan putaran mesin pengering pakaian. Proses ini akan membantu menghilangkan sebanyak mungkin air dari pakaian sebelum kamu menjemurnya.

    Dikutip dari Homes & Gardens, untuk memaksimalkan putaran mesin pengering, pastikan beberapa hal berikut ini.

    – Jangan menambahkan pakaian basah ketika mesin pengering sedang bekerja

    – Jangan masukkan pakaian basah ke dalam mesin pengering hingga overload

    – Bersihkan ventilasi mesin pengering

    – Jangan mengeringkan pakaian dengan benda lain atau dengan bahan berbeda

    – Segera keluarkan pakaian yang sudah dikeringkan, jika tidak maka pakaian akan lembab dan bergumal

    2. Gunakan Kipas dan Sirkulasi Udara

    Pada cuaca yang lembap, penggunaan kipas, air purifier, atau jendela terbuka bisa membantu menghilangkan kelembaban dan mempercepat proses pengeringan. Jika memungkinkan, gunakan perabot-perabot tersebut yang hemat energi agar tidak boros listrik.

    “Pastikan setel kipas dengan kekuatan rendah agar pakaian tidak ‘beterbangan’,” kata professional cleaning expert di Letti & Co, Bret Jackson, dikutip dari Homes & Gardens.

    3. Jangan Sampai Pakaian Menyentuh Lantai

    Menurut professional cleaning expert di Letti & Co, Bret Jackson, ketika menjemur pakaian basah jangan sampai menyentuh lantai karena akan menciptakan kelembaban dan membuat pakaian lebih lama keringnya. Ia menyarankan untuk menjemur pakaian di dekat jendela atau pintu agar terkena sirkulasi udara.

    “Jika kamu tidak memiliki tali untuk menjemur pakaian, kamu bisa menggantung pakaian di kursi atau di rak pengering,” tuturnya.

    Itulah beberapa tips ampuh mengeringkan pakaian dengan cepat dan efisien di musim hujan. Mengeringkan pakaian di musim hujan memang bisa menjadi tantangan, tetapi dengan tips-tips di atas, penghuni rumah bisa mengatasi masalah ini dengan lebih mudah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com