Tag: pengeroposan

  • 6 Biang Kerok Fasad Rumah Bisa Kusam dan Rusak!


    Jakarta

    Fasad adalah bagian terluar rumah atau wajah dari bangunan yang terlihat dari luar. Tentu, bagian ini harus terlihat bagus dan terawat.

    Namun, bagian ini juga rentan rusak, kusam, atau bahkan berjamur. Risiko-risiko seperti itu mungkin saja terjadi mengingat fasad sering terpapar sinar matahari, lembap karena air hujan, dan lain sebagainya. Ternyata, selain hal-hal itu, ada hal lain yang bisa menyebabkan fasad rumah cepat rusak, kusam, dan berjamur. Melansir dari Building Transformation, berikut di antaranya.

    1. Susunan Fondasi Yang Rusak

    Celah pada fondasi dapat menjadi akses air masuk ke dalam susunan fondasi rumah. Perlu diingat, dalam fondasi rumah, tidak hanya terdiri dari batu, ada pula besi yang rentan terkena air karena dapat menyebabkan korosi. Apabila ada celah di antara fondasi, air dapat mudah masuk ke bagian dalam. Air tersebut juga bisa menyebabkan bocor atau rembesan. Seiring waktu akan muncul jamur dan bekas jalan air yang dapat merusak tampilan fasad rumah.


    2. Batu yang Dicat

    Batu bata yang dicat bisa menyebabkan material ini tidak dapat bernapas dan mencegah keluarnya air di dinding. Alhasil karena terlalu sering terjadi pengendapan air, jamur dengan mudah tumbuh sehingga lapisan cat akan berubah warna dan jadi lebih kusam. Selain itu, bentuk fasad juga bisa berubah karena pengeroposan pada batu bata.

    3. Talang Air Rusak

    Biasanya pada bagian fasad akan dilengkapi dengan talang air sehingga jalan keluarnya air lebih rapi. Apabila fasad tidak memiliki talang air atau jalur tersebut rusak, air akan jatuh ke bawah tanpa arah. Bahkan bisa saja, air justru menggenang di atas fasad rumah. Lembap dapat menyebabkan pertumbuhan jamur, air yang mengalir pada fasad rumah secara terus menerus juga akan meninggalkan bekas sehingga tampilan rumah jadi kusam dan bernoda.

    4. Tidak Dilapisi Cat Anti Bocor

    Biasanya untuk bagian outdoor, cat yang digunakan berbeda dan ditambah pelindung yakni lapisan anti bocor. Cat ini dapat mencegah kemungkinan rusak dan menyebabkan masalah serius pada fasad, pondasi, bahkan struktur bangunan. Tanpa ada lapisan cat anti bocor, warna dari fasad akan cepat berubah dan berubah jadi kusam.

    5. Meletakkan Tanaman Rambat di Fasad

    Bagi kamu yang meletakkan tumbuhan rambat di rumah, perlu berhati-hati karena akar yang menempel dapat merusak cat dinding. Selain itu, air yang mengenai cat saat menyiram juga dapat menodai fasad. Lebih baik tambahkan media rambatan di depan dinding fasad rumah agar lebih aman.

    6. Asap dan Polusi

    Rumah yang berada di dekat jalan raya atau lokasi proyek lebih mudah kotor karena debu atau kotoran kecil yang melayang dan menempel di fasad rumah. Kondisi fasad yang kusam karena asap, debu, atau polisi bisa saja dibersihkan hanya dengan air, tetapi jika terdapat noda yang cukup tebal, memerlukan pelindung anti air.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Mau Beli Rumah Tua? Jangan Lupa Periksa 7 Bagian Ini


    Jakarta

    Saat hendak membeli rumah tua, hal pertama yang kita lihat adalah kondisinya. Sebab, kualitas rumah bisa menurun seiring waktu meskipun memakai material terbaik, bisa jadi banyak ditemukan cacat.

    Cara mengecek kondisi rumah tersebut tidak hanya dengan melihat, calon pembeli harus memeriksa beberapa tempat di dalam rumah tersebut. Untuk mempermudah ketika pengecekan, dilansir This Old House, berikut bagian rumah tua yang harus diperhatikan.

    1. Fondasi

    Hal pertama yang harus dicek dan ditanyakan adalah mengenai fondasi rumah. Seperti namanya bagian ini adalah pondasi atau bagian yang menopang rumah tetap berdiri tegak. Saat rumah sudah berdiri cukup lama, banyak masalah yang terjadi pada fondasi adalah keretakan, fondasi yang sudah lapuk, fondasi yang miring karena pergerakan tanah, pintu dan jendela sulit dibuka dan ditutup, permukaan lantai tidak rata, hingga kerusakan saluran air.


    Secara kasat mata biasanya akan sulit menilai fondasi tersebut masih layak atau tidak. Sebaiknya minta bantuan profesional untuk memperbaikinya.

    2. Atap

    Bagian kedua yang tidak kalah penting adalah mengecek atap. Rumah yang baru selesai dibangun saja sering ditemukan kebocoran apalagi yang sudah berdiri lama. Untuk mengetahui ada kebocoran atau tidak, bisa bertanya dengan pemilik sebelumnya atau penjual. Selain itu, cek plafonnya apakah baru atau sudah lama. Atap yang bocor biasanya menyebabkan plafon berjamur, lapuk, dan berlubang. Apabila menemukan tanda-tanda tersebut, atap dan plafon harus segera diganti karena dapat berpengaruh pada kesehatan penghuni.

    3. Pipa Saluran Air

    Rumah harus dialiri dengan air. Oleh karena itu, calon pembeli harus mengecek kondisi pipa saluran air karena di rumah tua kemungkinan sudah usang dan banyak sumbatan. Tanda ada masalah pada pipa saluran air adalah warna air tidak jernih, air yang keluar sedikit, air berbau, keluar lumut atau kotoran padat, hingga air lama penuh saat diisi.

    4. Instalasi Listrik

    Selain air, listrik juga sangat dibutuhkan di rumah. Rumah yang sudah berdiri puluhan tahun biasanya memiliki saluran listrik yang sudah tua. Hal ini cukup berisiko apalagi tidak pernah diperiksa karena bisa saja ada kabel yang sudah rusak dan bisa menimbulkan kebakaran. Untuk mengecek instalasi listrik, bisa memanggil PLN. Apabila disarankan untuk diganti, ikuti saja karena berarti ada instalasi yang sudah tak layak.

    Tanda-tanda masalah saluran listrik di antaranya muncul aroma terbakar, lampu berkedip, dan saklar yang bergetar.

    5. Pintu dan Jendela

    Seperti yang disebut tadi, masalah pada pintu dan jendela juga bisa menunjukkan masalah pada fondasi rumah. Selain itu, pintu dan jendela di rumah tua juga bisa jadi sudah berkarat atau mengalami pengeroposan karena dimakan rayap. Ada pula jendela yang sudah sulit ditutup dan dibuka. Semua itu harus diperiksa secara detail karena keduanya akan komponen utama keamanan rumah.

    Cari ciri-ciri gangguan pada pintu dan jendela, seperti kondensasi atau kabut pada kaca, serangga mati, kesulitan membuka dan menutup, kayu yang melengkung, dan lainnya.

    6. Saluran Pembuangan

    Saluran pembuangan adalah pipa atau akses keluarnya air ke tempat pembuangan akhir seperti septic tank dan selokan. Lokasinya cukup banyak di rumah, ada di kamar mandi, wastafel, talang air, hingga area laundry. Pastikan pada bagian ini tidak ada saluran pembuangan yang mampet. Ciri-ciri masalah pada saluran pembuangan antara lain ada aroma tidak sedap, saluran mampet, hingga beberapa titik penyerapan yang lambat.

    7. Bahan Beracun

    Bangunan rumah tua kemungkinan mengandung bahan-bahan berbahaya, terutama yang dibangun sebelum tahun 1980. Salah satu kandungan berbahaya di rumah tua adalah timbal pada cat yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Untuk mengetahuinya, ajak ahli untuk mengeceknya.

    Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli rumah tua. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Panci Kosong di Antara Jeritan Anak-anak Gaza yang Terancam Malnutrisi



    Jakarta

    Di bawah teriknya matahari Gaza di Palestina, panci-panci itu terangkat tinggi dalam keadaan kosong. Tak jarang terjadi benturan antar panci yang menimbulkan bunyi nyaring, beradu dengan suara jeritan anak-anak Gaza si pembawa panci.

    Miris. Anak-anak si pembawa panci itu harus berdesak-desakan dengan orang-orang dewasa. Mereka berteriak, menjerit dan ada yang meringis menahan sakit karena tergencet badannya. Semua mereka lakukan demi seporsi makanan. Krisis kelaparan di Gaza kian memprihatinkan.

    Fotografer Reuters Khamis Al-Rifi memotret suasana terkini krisis kelaparan di Gaza pada Senin (28/7/2025) kemarin. Dia memotret warga Palestina berebut makanan dari dapur amal di Gaza City.


    Palestinians wait to receive food from a charity kitchen, amid a hunger crisis, in Gaza City, July 28, 2025. REUTERS/Khamis Al-RifiPalestinians wait to receive food from a charity kitchen, amid a hunger crisis, in Gaza City, July 28, 2025. REUTERS/Khamis Al-Rifi Foto: REUTERS/Khamis Al-Rifi

    Dapur-dapur umum dan dapur amal diserbu oleh warga. Mereka bergegas datang dan berebut makanan bukan hanya karena rasa lapar, tapi juga rasa takut tak akan kebagian.

    Tak jarang anak-anak terjepit di antara tubuh-tubuh dewasa, sebagian menangis ketakutan. Ibu-ibu menjerit sambil mengangkat tangan tinggi, berharap relawan menyadari mereka sudah dua hari tak makan. Tidak ada antrean tertib, hanya dorongan, desakan, dan harapan yang nyaris putus.

    Sayangnya dapur dapur amal tak bisa diandalkan untuk menjadi satu-satunya tempat bertahan hidup. Sebab makanan yang tersedia tak cukup untuk memenuhi semua perut yang kelaparan di Gaza.

    Hari-hari ini kondisi Gaza kian memburuk. Gaza dilanda kelumpuhan total: toko-toko tutup, pasar kosong, dan bahan makanan langka.

    Krisis pangan di Gaza makin memburuk dan berdampak pada seluruh kelompok usia. Di Kamp Pengungsi Nuseirat, Deir al-Balah, Gaza seperti dikutip dari detikHealth, Hamza Mishmish, 25 tahun, mengalami malnutrisi parah dan pengeroposan tulang.

    Hidaya, ibu Palestina berusia 31 tahun, duduk bersama putranya yang sakit, Mohammed al-Mutawaq, di dalam tenda mereka di Kamp Pengungsi Al-Shati, Gaza City, Jumat (25/7/2025). Balita 18 bulan itu menunjukkan tanda-tanda malnutrisi di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk.

    Wakil koordinator medis untuk Medecins Sans Frontieres (Dokter Lintas Batas), Dr Mohammed Abu Mughaisib, mengungkapkan kondisi mengerikan tentang bagaimana kelaparan melumpuhkan tubuh manusia, mulai dari rasa lapar awal hingga kerusakan organ-organ vital.

    “Dalam enam hingga 24 jam pertama tanpa makanan, tubuh mulai membakar cadangan glikogennya. Ini adalah gula tersimpan yang berfungsi sebagai bahan bakar darurat,” jelas Dr Abu Mughaisib yang dikutip detikHealth dari NDTV World, Senin (28/7/2025).

    (erd/inf)



    Sumber : www.detik.com