Tag Archives: penurunan

Harga Bitcoin Diramal Terbang Tinggi di Kuartal IV, Ini Pemicunya


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) melemah tajam. Berdasarkan laporan ketenagakerjaan ADP, tercatat penurunan 32.000 lapangan kerja pada September, terendah sejak Maret 2023.

Hal ini dianggap dapat memperbesar keyakinan pasar terkait langkah Federal Reserve System atau The Fed untuk memangkas suku bunga pada Oktober. Berdasarkan data Polymarket, ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga hanya tersisa 6%. Banyak analis yang memperkirakan pemangkasan sebesar 25 basis poin (bps) akan terjadi pada Oktober dan kembali di Desember.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga ini memicu arus modal masuk ke aset alternatif seperti emas dan kripto. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, BTC menguat 9,77% ke harga US$ 120.309,39 atau sekitar Rp 1,99 miliar (asumsi kurs Rp 16.610) pada perdagangan sepekan terakhir.


Tokocrypto menilai, capaian ini memperpanjang tren positif BTC. Koin kripto ini mengakhiri perdagangan di kuartal III dengan kenaikan sekitar 5% di kisaran US$ 114.000. Secara historis, kuartal IV cenderung menghasilkan reli besar, dengan rata-rata menguat lebih dari 50% seperti yang terjadi pada 2015, 2016, 2023, dan 2024.

Berdasarkan data Tokocrypto, kenaikan harga rata-rata BTC sebesar 21,8% bulan Oktober 2015. Jika tren historis ini kembali berulang, BTC berpeluang menembus level US$ 150.000 atau sekitar Rp 2,49 miliar sebelum pergantian tahun.

Prospek ini ditopang arus masuk modal institusional dan meningkatnya partisipasi investor ritel. Kedua faktor ini dinilai kerap menjadi pemicu lonjakan harga besar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan secara teknikal grafik harian BTC membentuk pola double bottom di kisaran US$ 113.000 dengan menembus batas atas atau neckline di US$ 117.300. Jika breakout terkonfirmasi, target kenaikan menuju US$ 127.500 terbuka. Selain itu, pola segitiga simetris memberi proyeksi target lebih tinggi hingga US$ 137.000, yang berdekatan dengan level Fibonacci extension di US$ 134.700.

“Data on-chain dari Glassnode menunjukkan BTC masih berada di bawah zona panas, dengan level resistensi kritis di US$122.000 dan US$138.000. Artinya, ruang reli masih terbuka sebelum potensi koreksi besar terjadi,” jelas Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (3/10/2025).

Berdasarkan data Coinglass, terang Fyqie, transaksi berjangka BTC tercatat hampir mencapai US$ 100 miliar per hari, atau naik lebih dari 18%. Institusi besar juga terpantau aktif. Sementara BlackRock mentransfer BTC lebih dari US$ 130 juta ke Coinbase.

Aksi ini menambah keyakinan arus dana institusional akan terus mendukung reli BTC di kuartal terakhir tahun ini. Fyqieh menilai kombinasi faktor teknikal, fundamental, dan historis menempatkan BTC pada momentum yang positif.

“Data tenaga kerja yang lemah memperbesar peluang pemangkasan suku bunga The Fed, dan itu menjadi katalis utama lonjakan harga Bitcoin. Selama BTC mampu bertahan di atas US$118.000, target ke US$122.000 hingga US$137.000 realistis dicapai dalam waktu dekat,” tuturnya.

Di sisi lain, penutupan pemerintahan AS setelah hasil Kongres yang gagal mengesahkan anggaran mendorong investor beralih ke aset safe haven. Harga emas melonjak ke rekor di atas US$ 3.900 per ons, sementara BTC diuntungkan sebagai aset lindung nilai.

Dengan kombinasi data makro yang melemah, peluang pemangkasan suku bunga, faktor musiman bullish, dan dukungan investor institusional, BTC akan berada dalam posisi yang sangat kuat di kuartal IV 2025.

“Sejarah menunjukkan bahwa ketika September ditutup positif, kuartal keempat hampir selalu diikuti reli besar. Jika pola itu berulang, Bitcoin bisa mendekati US$ 150.000 sebelum akhir tahun, terutama dengan dukungan arus dana institusional,” tutupnya.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Investor Kripto Naik Jadi 18,08 Juta, tapi Nilai Transaksi Malah Anjlok


Jakarta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan jumlah investor kripto pada Agustus 2025 mengalami naik menjadi 18,08 juta konsumen. Namun nilai transaksi justru mengalami penurunan 14,5%

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Hasan Fawzi mengatakan, jumlah konsumen kripto naik 9,57% dibandingkan dengan bulan Juli 2025 yang tercatat sebanyak 16,5 juta.

“Per Agustus 2025 jumlah konsumen berada dalam tren peningkatan yaitu mencapai angka 18,08 juta konsumen atau meningkat sebesar 9,57% jika dibandingkan posisi bulan Juli 2025 yang tercatat sebanyak 16,5 juta konsumen,” kata Hasan, dalam Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) September 2025, Kamis (9/10/2025).


Sedangkan dari sisi nilai transaksi aset kripto sendiri justru mengalami penurunan. Data terakhir per September 2025, angkanya mencapai 38,64 triliun atau turun 14,53% dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai Rp 45,21 triliun.

“Sehingga total nilai transaksi aset kripto sepanjang 2025 telah mencapai angka Rp 360,3 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen dan juga kondisi pasar aset kripto nasional tetap terjaga dengan baik,” ujarnya.

Sejak penerbitan POJK nomor 3 tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan pada Februari 2024 lalu, hingga bulan September 2025 OJK telah menerima 253 kali permintaan konsultasi dari calon peserta sandbox OJK.

Kemudian saat ini telah terdapat 8 peserta sandbox yang terdiri dari 6 penyelenggara, dengan model bisnis aset keuangan digital dan aset kripto, serta ada 1 peserta dengan model bisnis sebagai pendukung pasar. Lalu juga terdapat 1 peserta dengan model bisnis tokenisasi emas yang telah mendapatkan status lulus dicoba dari sandbox OJK tersebut.

“Data per Agustus tahun 2025, penyelenggara ITSK yang terdaftar di OJK telah berhasil menjalin 1.187 kemitraan dengan lembaga jasa keuangan dari berbagai sektor,” ujar Hasan.

Penyelenggara ITSK dengan jenis Penyedia Agregasi Jasa Keuangan (PAJK) berhasil menyelesaikan transaksi yang telah disetujui oleh mitranya senilai Rp 2,15 triliun selama Agustus 2025. Lalu telah mencapai total nilai 17,23 triliun rupiah YtD.

“Dengan jumlah pengguna PAJK ini tercatat terus mengalami peningkatan tercatat sebanyak 14,65 juta pengguna yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia,” kata dia.

Selain itu, jumlah permintaan data score credit atau total inquiry atau hit data yang diterima oleh penyelenggara ITSK dengan jenis Pemerintah Kredit Alternatif (PKA) selama Agustus 2025 tercatat mencapai 18,64 juta permintaan data. Ini berarti telah mencapai total inquiry data scoring sebanyak 123,82 YtD.

“Hal ini tentu menunjukkan bahwa kehadiran dari layanan penyelenggara ITSK baik PAJK maupun PKA ini telah berkontribusi secara signifikan dalam peningkatan kegiatan dan pendalaman pasar di sektor jasa keuangan kita, serta di sisi lain terus meningkatkan inklusi pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan,” ujar Hasan.

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Bisa Tembus Rp 2,15 Miliar


Jakarta

Pergerakan harga Bitcoin (BTC) terpantau terus menguat. Beberapa waktu lalu, salah satu aset kripto ini sempat menembus level tertinggi mingguan di harga US$ 126.198 atau sekitar Rp 2,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.588) sebelum akhirnya turun di level US$ 121.382 atau sekitar Rp 2,01 miliar per hari ini, Jumat (10/10/2025).

Berdasarkan analisis Tokocrypto, BTC masih memiliki potensi penguatan atau bullish dengan area support berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%. Sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi sinyal potensi kenaikan ke level US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,15 miliar.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. Adapun saat ini, ia menilai dinamika pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat.


“Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/10/2025).

Ia menjelaskan, harga BTC naik 0,64% dalam 24 jam terakhir pada 9 Oktober 2025, menjadi sekitar US$ 122.273 atau sekitar Rp 2,0 miliar, melanjutkan tren positif mingguan sebesar +3,07% dan bulanan +9,22%.

Penguatan harga BTC ini didorong peningkatan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, meningkatnya permintaan institusional melalui ETF, dan kekuatan teknikal harga di atas level support. Berdasarkan risalah rapat FOMC yang dirilis beberapa waktu lalu, tercermin sinyal dovish dari para pejabat The Fed.

Sebagian besar peserta menilai pelonggaran kebijakan moneter tepat dilakukan untuk sisa tahun ini. Data CME FedWatch menunjukkan adanya peluang 92,5% pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29 Oktober.

Investor menilai pelonggaran moneter ini akan melemahkan daya tarik dolar AS dan mendorong minat pada aset langka seperti BTC. Fyqieh menyebut, kebijakan ekspansif Amerika Serikat (AS), termasuk injeksi dana US$ 2,5 triliun melalui program Reverse Repo, menjadi sinyal bullish BTC.

“Kebijakan moneter longgar mengurangi daya tarik aset berbasis fiat dan memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS. Seperti tahun 2020-2021, penurunan imbal hasil riil biasanya diikuti lonjakan permintaan kripto, khususnya BTC,” jelasnya.

Sementara adopsi BTC bagi investor institusi juga turut meningkat. Berdasarkan data Bitwise, total inflow mencapai US$ 22,5 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga US$ 30 miliar pada akhir tahun.

Fyqieh memperkirakan arus masuk ETF akan mencetak rekor baru di kuartal IV karena meningkatnya perhatian investor ritel dan institusi terhadap BTC. Namun, ia tetap memperingatkan risiko eksternal.

“Kunci penggerak Bitcoin ke depan ada pada keseimbangan antara kebijakan The Fed dan kekuatan inflow ETF. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, arus masuk ETF harus tetap kuat agar tren bullish tidak kehilangan momentum,” tutupnya.

Lihat juga Video: Mengenal El Salvador, Negara yang Cuan Banget Lewat Bitcoin

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Gara-gara Trump, Aset Kripto Terjun Bebas & Bitcoin Melorot 14%


Jakarta

Aset kripto mengalami penurunan terbesar pada perdagangan Jumat lalu. Investor kini bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dan penurunan lebih lanjut pada aset Bitcoin dan Ether.

Dilansir dari Reuters, Selasa (14/10/2025), pelaku pasar mengatakan sektor kripto pada hari Jumat mengalami likuidasi atau penjualan lebih dari US$ 19 miliar, karena aksi jual panik dan likuiditas yang rendah. Pada akhirnya hal ini memicu fluktuasi tajam aset-aset kripto.

Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Jumat malam mengumumkan tarif 100% untuk impor barang dari China dan mengancam kontrol ekspor pada perangkat lunak penting.


Para analis kripto mengatakan ini adalah penurunan terbesar dalam periode 24 jam dalam sejarah perdagangan kripto. Sembilan kali lebih besar dari kejatuhan kripto Februari 2025 dan 19 kali lebih besar dari kejatuhan Maret 2020, serta hancurnya bursa FTX pada November 2022.

Bitcoin jatuh hingga ke level terendah US$ 104.782,88 selama periode 10-11 Oktober, turun lebih dari 14% dari level tertingginya di US$ 122.574,46 pada hari Jumat.

Harga terakhir naik 0,6% ke US$ 115.718,13. Padahal, mata uang kripto terbesar di dunia ini mencapai rekor tertinggi di atas US$ 126.000 pada 6 Oktober.

Sementara itu, aset Ether, mata uang digital terbesar kedua setelah Bitcoin turun 12,2% ke level terendah US$ 3.436,29 pada hari Jumat. Harga terakhir diperdagangkan di US$ 4.254, naik 2,4% pada hari yang sama.

Trump sendiri nampan melunakkan pernyataannya terhadap China di akhir pekan. Hal itu membantu pemulihan kripto. Sementara itu, China pada hari Minggu menyalahkan AS atas eskalasi tersebut, tetapi tidak mengambil tindakan pencegahan lebih lanjut.

“Jumat lalu, volatilitas melonjak secara signifikan, tidak hanya untuk obligasi berjangka pendek, tetapi juga untuk obligasi berjangka panjang. Sentimen seputar volatilitas berjangka pendek adalah semakin banyak orang khawatir tentang penurunan harga,” kata Sean Dawson, kepala riset di Derive.xyz di Canberra.

Lihat juga Video: Nilai Transaksi Kripto September 2025 Turun 14,53 Persen

(kil/kil)



Sumber : finance.detik.com

Begini Cara Membaca Grafik TOTAL2 sebagai Barometer Sentimen Altseason


Jakarta

TOTAL2 merupakan grafik harga altcoin yang sering kali terlewat. Padahal, grafik merupakan cerminan paling akurat struktur pasar altcoin.

Grafik ini dapat membantumu memprediksi altseason. Dalam artikel ini, akan dibahas apa itu TOTAL2, korelasi TOTAL2 dengan altseason, dan waktu terbaik untuk menganalisisnya.

Apa Itu TOTAL2?


Grafik TOTAL2Foto: TradingView

Kapitalisasi pasar (market cap) merupakan indikator penting untuk melihat seberapa besar nilai suatu aset di pasar. Trader sering menggunakan data ini untuk membandingkan potensi aset crypto dan melihat apakah nilai aset di pasar saat ini tergolong realistis, undervalued, atau justru overvalued.

TOTAL2 adalah indeks gabungan dari total kapitalisasi pasar seluruh altcoin tanpa memasukkan Bitcoin. Indeks ini tersedia di platform charting seperti TradingView. Melalui grafik TOTAL2, kamu bisa menganalisis siklus pasar dan memperkirakan potensi arah pasar altcoin dengan lebih akurat.

Terdapat 3 indeks kapitalisasi pasar gabungan crypto yang umum digunakan yaitu TOTAL, TOTAL2, dan TOTAL3. Berikut perbandingannya:

● TOTAL: Indeks gabungan kapitalisasi pasar crypto keseluruhan.

● TOTAL2: Indeks kapitalisasi pasar altcoin yang digabung mulai dari Ethereum sampai ke altcoin lainnya.

● TOTAL3: Indeks kapitalisasi pasar crypto tanpa Bitcoin dan Ethereum.

Secara spesifik TOTAL2 memisahkan Bitcoin karena dominasi pasar yang cukup signifikan. Dengan begitu, TOTAL2 dapat memberikan perspektif yang lebih jelas mengenai pasar altcoin secara keseluruhan.

Grafik TOTAL2 dan Altseason

Bitcoin halving menjadi salah satu katalis utama yang sering memicu awal dari bull market di pasar crypto. Setelah setiap halving, arus likuiditas mulai bergeser dari Bitcoin menuju altcoin. Biasanya, aliran likuiditas baru yang masuk ke pasar mengalir altcoin sehingga memunculkan fase yang dikenal sebagai altseason. Dalam periode tersebut altcoin mengalami rally signifikan.

Grafik TOTAL2Foto: TradingView

Pasca Bitcoin halving ketiga, $SOL mengalami rally signifikan sepanjang 2021 (dari $20 hingga $258). Pergerakan tersebut juga tercermin pada grafik TOTAL2, yang menunjukkan lonjakan signifikan pada kapitalisasi pasar altcoin secara keseluruhan.

Dengan memahami korelasi antara halving, TOTAL2, dan altseason, kamu dapat memprediksi potensi pergerakan besar di pasar crypto, baik menjelang puncak maupun pada awal fase bull market.

Waktu Terbaik untuk Mengamati TOTAL2

1. Ketika Bitcoin Mengalami Koreksi

Saat Bitcoin mengalami koreksi, sebagian besar altcoin biasanya ikut terdampak. Jika penurunan TOTAL2 lebih tajam dibanding Bitcoin, hal ini bisa menandakan melemahnya kepercayaan pasar terhadap altcoin atau terjadinya rotasi uang kembali ke Bitcoin. Sebaliknya, jika grafik TOTAL2 justru naik atau lebih stabil meskipun Bitcoin turun, terdapat potensi besar terjadi altseason.

2. Ketika Portofolio Didominasi Altcoin

Jika sebagian besar aset dalam portofoliomu adalah altcoin, kamu perlu memperhatikan TOTAL2. Melalui grafik ini, kamu dapat mengenali perubahan tren di pasar altcoin mulai dari fase koreksi, konsolidasi, hingga potensi tren naik.

Ingat! meskipun altcoin memiliki potensi memberikan keuntungan lebih tinggi, risikonya pun lebih tinggi dibanding Bitcoin.

Cara Membeli Aset Crypto di Pintu

Kamu pun bisa membeli aset crypto di Pintu dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

1. Masuk ke homepage aplikasi Pintu.

2. Masuk ke laman Market, cari aset crypto seperti BTC, ETH, SOL, atau XRP.

3. Di halaman token, kamu bisa melihat grafik pergerakan harga aset dalam jangka waktu 24 jam, 1 minggu, 1 bulan, hingga 1 tahun.

4. Setelah berada di halaman token, klik Buy atau Beli dan masukkan nominal.

5. Klik Lanjutkan.

6. Anda sudah berhasil membeli aset crypto!

Keamanan kamu sebagai pengguna Pintu terjamin, karena Pintu diawasi oleh OJK dan CFX. Selain trading, Pintu juga memungkinkan kamu untuk belajar lebih banyak tentang kripto melalui berbagai artikel di Pintu Academy, diperbarui setiap minggu!

Tonton juga video “Nilai Transaksi Kripto September 2025 Turun 14,53 Persen” di sini:

(anl/ega)



Sumber : finance.detik.com

Ray Dalio Bikin Harga Bitcoin Betah di Zona Merah, Kenapa?


Jakarta

Konglomerat asal Amerika Serikat (AS), Ray Dalio, disebut memicu kecemasan terhadap investor kripto. Kecemasan itu bermula dari sebuah wawancara Ray Dalio yang menyebut Bitcoin (BTC) tidak akan menjadi mata uang cadangan karena mudah diretas oleh komputasi kuantum.

Hal ini kemudian memicu kepanikan investor yang melakukan aksi jual besar-besaran mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 21,72 triliun (kurs Rp 16.710). Alhasil, harga BTC anjlok pada perdagangan hari ini, Jumat (21/11).

Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga BTC berada di level US$ 85.970,36 atau sekitar Rp 1,43 miliar, melemah sekitar 11,72% pada perdagangan sepekan terakhir. Angka tersebut turut merosot dari hari sebelumya, Kamis (20/11), di mana BTC berada di level US$ 87.000 atau sekitar Rp 1,45 miliar.


Berdasarkan analisis Tokorypto, penurunan tajam harga BTC memicu gelombang likuidasi lebih dari US$ 220 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun untuk posisi long. Selain itu, kondisi ini mendorong volatilitas pasar yang telah meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Namun begitu, sejumlah analis pasar menilai kekhawatiran Ray Dalio terlalu berlebihan dan dianggap mengesampingkan kriptografi Bitcoin yang berbasis SHA-256. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai narasi quantum panic Ray Dalio bersifat psikologis daripada teknis.

“Risiko komputasi kuantum terhadap Bitcoin masih berada pada level teoretis dan belum mendesak. Justru, jika benar-benar ada terobosan yang mampu mendekripsi Bitcoin, maka sistem perbankan global yang menggunakan RSA akan jauh lebih rentan. Jadi, kepanikan ini lebih dipicu persepsi, bukan realita teknologinya,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/11/2025).

Selain itu, tekanan terhadap BTC juga muncul kala Owen Gunden menjual seluruh kepemilikan asetnya sebanyak 11.000 coin. Aksi ini dianggap sebagai kapitulasi besar yang menambah suplai di pasar, memperkuat tekanan jual, dan membuat harga BTC menjauh dari level US$ 90.000.

Meski begitu, aksi jual bersih ini tidak cukup menjadi indikator arah pasar BTC. Menurut Fyqieh, masih banyak investor jangka panjang mengambil keputusan berdasarkan portofolio individual, bukan kondisi fundamental Bitcoin.

Ia tak menampik adanya panic selling dan ketidakpastian pasar menyebabkan lebih dari 222.000 pedagang terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Data Coinglass menunjukkan likuidasi long mencapai lebih dari US$ 264 juta hanya dalam satu jam di awal sesi AS.

“Namun benar bahwa suplai tambahan dalam kondisi pasar rapuh dapat mempercepat koreksi,” jelasnya.

Bitcoin Loyo

Berdasarkan laporan CryptoQuant, BTC memasuki fase paling bearish dalam siklus bull 2023-2025. Indeks Bull Score bahkan turun ke level 20/100 dengan harga BTC kini berada di bawah MA 365 hari. Meski begitu, Fyqieh menilai hal tersebut merupakan kondisi wajar.

“Penurunan hingga 25-30% adalah hal yang wajar dalam market bullish. Bahkan dalam bearish sekalipun, Bitcoin sering membentuk rebound kuat. Level teknikal seperti area US$ 84.000 hingga US$ 90.000 menjadi penting untuk memantau potensi pembalikan,” jelasnya.

Mengutip dari Data Santiment, mayoritas trader ritel BTC mulai memprediksi harga akan turun ke bawah US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,17 miliar. Menurutnya, kondisi ini biasanya menandai pergerakan pasar yang berlawanan. Indeks Fear and Greed juga turun ke level ekstrem 15/100, kondisi yang secara historis sering diikuti pemulihan signifikan dalam beberapa bulan berikutnya.

Kondisi panic selling, kekhawatiran komputasi kuantum, aksi jual whale, dan dinamika ETF menciptakan badai volatilitas yang belum mereda. Fyqieh menilai, harga BTC akan ditentukan oleh dukungan institusional mampu menstabilkan harga atau pasar masih akan mencari titik dasar baru.

Pasalnya, ETF Bitcoin di AS masih mencatat arus masuk sebesar US$ 75 juta dan mengakhiri tren arus keluar selama lima hari berturut-turut. BlackRock IBIT menjadi pendorong utama arus masuk tersebut.

“Volatilitas seperti ini adalah bagian dari karakter Bitcoin. Investor jangka panjang tidak fokus pada gejolak harian, tetapi pada struktur jangka panjang yang masih solid. Yang penting adalah manajemen risiko, bukan mengejar harga,” pungkasnya.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ara/ara)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Mulai Bangkit, Ini Pemicunya


Jakarta

Harga bitcoin (BTC) kembali naik dan menembus level US$ 92.000 pada Selasa malam hingga Rabu pagi waktu Indonesia. Hal ini didorong penguatan minat institusi keuangan global terhadap aset digital, serta pemulihan sentimen pasar setelah penurunan tajam akhir pekan lalu.

Lonjakan harga bitcoin ini tejadi setelah sebelumnya mengalami tekanan pasar yang memicu likuidasi lebih dari US$ 250 juta pada pekan lalu. Beberapa keputusan strategis dari institusi besar menjadi katalis penting dalam penguatan harga bitcoin kali ini.

“Penerimaan institusi besar menjadi faktor utama dalam kenaikan bitcoin. Langkah Goldman Sachs, Vanguard, hingga Bank of America membuka akses lebih luas terhadap produk berbasis bitcoin telah meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset kripto,” kata Vice President Indodax Antony Kusuma, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (4/12/2025).


Adapun keputusan strategis yang dimaksud antara lain kabar Goldman Sachs akan mengakuisisi Innovator Capital Management dalam kesepakatan senilai sekitar US$ 2 miliar. Innovator menerbitkan ETF yang memungkinkan investor tradisional mendapatkan akses bitcoin melalui instrumen yang terkelola dan sesuai aturan pasar. Akuisisi ini memperkuat posisi Goldman dalam ekosistem ETF, khususnya ketika permintaan produk terkait bitcoin terus meningkat.

Di saat yang sama, Vanguard yang selama bertahun-tahun menolak aset digital, resmi membuka akses perdagangan ETF Bitcoin di platformnya. Keputusan ini memberi puluhan juta klien mereka berkesempatan untuk mendapatkan eksposur terhadap bitcoin melalui instrumen yang diatur.

Langkah ini menyusul perubahan kebijakan Bank of America yang mulai memperbolehkan 15.000 penasihat keuangannya memberikan rekomendasi alokasi bitcoin sebesar 1-4% kepada nasabah mereka.

Di samping itu, Antony menambahkan, pemulihan harga bitcoin kali ini juga dipengaruhi oleh dinamika pasar jangka pendek. Setelah terkoreksi ke area US$ 83.800-84.000 dan memicu likuidasi besar, pasar langsung menunjukkan minat beli yang kuat.

“Volume perdagangan global meningkat signifikan dalam 24 jam. Rebound ini menunjukkan respons cepat pasar terhadap level support yang cukup kuat,” jelasnya.

Sentimen makro turut memberi warna pada pergerakan harga. Berakhirnya program Quantitative Tightening (QT) pada Senin (1/12) oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi salah satu katalis utama yang memperkuat likuiditas pasar.

The Fed menutup QT dengan menyuntikkan sekitar US$ 13,5 miliar melalui operasi repo harian, salah satu injeksi likuiditas terbesar sejak masa pandemi. Peningkatan likuiditas ini biasanya mendukung aset berisiko, termasuk kripto, karena tekanan kebijakan moneter mulai mereda.

Di samping itu, saat ini pasar global tengah menanti keputusan The Fed pada pertemuan 9-10 Desember 2025 terkait kebijakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar secara historis menjadi pendorong utama minat terhadap aset berisiko termasuk bitcoin.

Meskipun volatilitas masih tinggi, Antony mengatakan, perkembangan terbaru menunjukkan adopsi institusional yang semakin kuat. Langkah institusi besar masuk ke aset digital memberikan sinyal positif mengenai penerimaan jangka panjang terhadap bitcoin.

“Namun investor kripto tetap perlu berhati-hati, tidak FOMO, serta menggunakan strategi investasi jangka panjang seperti dollar-cost averaging (DCA) dan manajemen risiko yang disiplin,” kata Antony.

Simak Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Transaksi Kripto Tembus Rp 482 Triliun


Jakarta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp 482,23 triliun. Capaian ini mencerminkan tingkat aktivitas perdagangan aset kripto yang tetap aktif di tengah dinamika pasar global sepanjang tahun lalu.

Selain dari sisi nilai transaksi, OJK juga melaporkan adanya pertumbuhan jumlah investor aset kripto di Indonesia sepanjang 2025. Di mana hingga November 2025, jumlah investor aset digital ini mencapai 19,56 juta orang, meningkat dibandingkan periode Oktober 2025 yang berada di angka 19,08 juta investor.

Sementara itu, nilai transaksi aset kripto pada Desember 2025 tercatat sebesar Rp 32,68 triliun, atau turun sekitar 12,22% dibandingkan November 2025. Kondisi ini menunjukkan bagaimana pasar kripto pada 2025 kemarin berjalan secara normal.


Vice President INDODAX Antony Kusuma menilai fluktuasi transaksi aset kripto merupakan bagian dari siklus pasar yang sangat dipengaruhi perubahan sentimen global dan kondisi makroekonomi.

Artinya penurunan transaksi di akhir tahun dapat menjadi tanda pasar aset digital dalam negeri yang sehat dan peka akan kondisi global.

“Sepanjang 2025, aktivitas perdagangan aset kripto masih berlangsung aktif. Naik turunnya transaksi setiap periode merupakan respons yang wajar terhadap perubahan sentimen dan kebijakan ekonomi global, sehingga mencerminkan pasar yang bergerak secara sehat,” kata Antony dalam keterangan resminya, Selasa (13/1/2026).

Di luar itu, sepanjang 2025 OJK juga sudah menerbitkan sejumlah kebijakan baru untuk memperkuat tata kelola dan manajemen risiko di sektor aset keuangan digital.

Kebijakan tersebut antara lain mencakup Peraturan OJK Nomor 30 Tahun 2025 tentang penerapan tata kelola dan manajemen risiko bagi penyelenggara inovasi teknologi sektor keuangan, serta Surat Edaran OJK Nomor 34/SEOJK.07/2025 terkait rencana bisnis penyelenggara perdagangan aset keuangan digital.

“Selain itu, OJK juga menerbitkan daftar whitelist bagi pedagang aset keuangan digital yang telah berizin dan terdaftar, termasuk INDODAX, sebagai upaya memastikan ekosistem yang lebih aman dan terpercaya bagi investor,” tutupnya.

Simak juga Video OJK Catat Jumlah Investor Kripto RI Tembus Angka 13,71 Juta

(igo/hns)



Sumber : finance.detik.com

Transaksi Rontok Jadi Rp 482 T, Mayoritas Bursa Kripto RI Gigit Jari


Jakarta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 482,23 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut turun dibandingkan tahun 2024, yakni sebesar Rp 650 triliun.

“Nilai transaksi sepanjang tahun lalu sampai akhir Desember 2025 tercatat di angka Rp 482,23 triliun. Trennya mengalami penurunan,” ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto, Hasan Fawzi, dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI di Kompleks DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).

Hasan mengatakan, penurunan transaksi sejalan dengan kerugian yang dialami bursa kripto. Ia mengatakan, 72% dari 29 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) atau bursa kripto menelan kerugian sepanjang 2025.


Hasan mengatakan, kerugian yang dialami perusahaan kripto domestik terjadi lantaran investor lebih memilih bursa global. Kondisi ini menjadi catatan bagi otoritas untuk memperkuat penetrasi industri kripto domestik.

“Dari data yang ada memang ditengarai atau terindikasi sebagian besar atau mayoritas transaksi konsumen lokal atau domestik masih disalurkan atau dilakukan tanpa melalui ekosistem domestik dan masih dilakukan melalui, katakan lah para pedagang dan bursa-bursa di regional dan global,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengatakan kontribusi kripto terhadap pajak meningkat pada 2025 menjadi Rp 719,61 miliar. Sebelumnya, kontribusi industri kripto terhadap pajak sebesar Rp 620,40 miliar.

“Kontribusi pajak perdagangan kripto sekalipun transaksinya lebih tinggi Rp 650 triliun (2024) angkanya adalah Rp 620,4 miliar (kontribusi pajak). Tapi kita lihat 2025, sekalipun transaksinya lebih rendah dengan besaran komponen pengenaan pajak yang sama, kontribusi pajaknya jauh lebih tinggi,” pungkasnya.

Simak juga Video ‘Belajar dari Gegernya Dugaan Penipuan Trading Timothy Ronald, Kita Bisa Apa?’:

(ahi/ara)



Sumber : finance.detik.com

Pajak Kripto Tembus Rp 719 M hingga November 2025


Jakarta

Kontribusi pajak dari transaksi aset kripto hingga November 2025 telah mencapai Rp 719,61 miliar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat transaksi itu mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari total pajak kripto, sekitar 50% di antaranya disumbang platform jual beli aset kripto Indodax. Perusahaan itu mencatat total setoran pajak sebesar Rp 376,12 miliar hingga November 2025.

CEO Indodax William Sutanto menyampaikan capaian tersebut mencerminkan komitmen Indodax sebagai pemimpin pasar yang memenuhi kewajiban perpajakan serta menjalankan aktivitas usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


“Kontribusi pajak yang dibayarkan INDODAX hingga November 2025 mencerminkan komitmen kami dalam menjalankan kewajiban sebagai pelaku industri aset kripto yang patuh terhadap regulasi. Kami melihat kepatuhan sebagai bagian penting dari keberlanjutan ekosistem aset kripto di Indonesia,” ujar William Sutanto dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

Selain itu, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, OJK memaparkan bahwa nilai transaksi aset kripto sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp 482,23 triliun, lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai lebih dari Rp 650 triliun.

Meski demikian, jumlah konsumen aset kripto justru terus meningkat dan hingga akhir Desember 2025 tercatat mencapai 20,19 juta konsumen, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia muda.

Menanggapi tren tersebut, William menilai peningkatan jumlah konsumen di tengah penurunan nilai transaksi mencerminkan fase pendewasaan industri aset kripto.

“Kami melihat pertumbuhan jumlah konsumen sebagai sinyal bahwa pemahaman masyarakat terhadap aset kripto semakin matang. Aktivitas tidak lagi semata didorong oleh volume transaksi, tetapi juga oleh kesadaran terhadap risiko, kepatuhan, dan penggunaan yang lebih terukur,” tutur William.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com