Tag: pergerakan tanah

  • Pengertian soal Tanah Bergerak dan Faktor Pemicunya


    Jakarta

    Bencana alam tanah bergerak tengah melanda beberapa daerah di Indonesia seperti Jombang dan Bandung Barat dalam seminggu terakhir ini. Pergerakan tanah ini membuat apa pun yang berada di atasnya akan bergeser.

    Pergerakan tanah ini tentu berdampak buruk pada bangunan dan infrastruktur yang beberapa di antaranya tidak dirancang tahan akan fenomena tanah bergerak ini. Alhasil bangunan seperti rumah akan retak hingga roboh dalam sekejap karena fondasinya yang tidak kuat menahan pergerakan tanah.

    Dalam sepekan terakhir, ada dua lokasi di Indonesia yang mengalami pergerakan tanah. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di daerah terdampak, sebanyak 28 rumah warga rusak parah di Bandung Barat dan 12 rumah terdampak di Jombang, imbas dari bencana tanah bergerak ini.


    Semua rumah yang terdampak diminta oleh BNPB untuk tidak ditinggali sementara waktu karena terlalu berbahaya bagi keselamatan penghuninya jika nantinya ada pergerakkan tanah berikutnya.

    Sebenarnya apa itu tanah bergerak yang terjadi di Bandung Barat dan Jombang?

    Meskipun terlihat seperti tanah longsor, ternyata tanah bergerak menurut BPBD Kabupaten Bogor adalah perpindahan massa tanah atau batu yang bergerak ke arah tegak, mendatar, atau miring dari kedudukan semula.

    Pergerakan tanah ini ada yang terlihat seperti longsor, ada pula yang bergerak perlahan seperti merayap. Dengan demikian tanah longsor adalah salah satu fenomena dari tanah bergerak.

    Pemicu dari pergerakan tanah ini adalah gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan sehingga terjadilah longsor. Gaya penahan di sini bisa berupa batuan penyangga atau kepadatan tanah itu sendiri.

    Sedangkan besarnya gaya pendorong ditentukan dengan kemiringan permukaan tanah, beban yang diterima tanah dari air, getaran, atau kemampuan batu menyangga tanah tersebut.

    Tanah bergerak tidak akan langsung terjadi jika tidak disebabkan pula oleh faktor eksternal lainnya. Mengutip dari detikNews pada Jumat (8/3/2024), berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan tanah bergerak.

    Gempa Bumi

    Bencana alam satu ini memang ditandai dengan membuat permukaan bergetar. Jika tingkat getarannya cukup keras, perabotan, bangunan, jalan, hingga jembatan bisa rusak dan roboh. Indonesia yang terletak di area pertemuan lempengan dunia sudah sering mengalami gempa bumi.

    Erosi dan Curah Hujan Tinggi

    Bencana tanah bergerak di Jombang salah satu penyebabnya adalah dari curah hujan yang deras. Selain itu kemiringan tanah di Desa Sambirejo juga menyebabkan yang diperkirakan 45 derajat membuat gaya pendorong pada lereng tersebut lebih besar daripada faktor penahannya sehingga erosi tanah mudah terjadi.

    Tanah Jenuh Air

    Jenis tanah juga bisa menyebabkan pergerakan tanah. Ciri-cirinya adalah tanah tersebut yang suka menyerap air seperti tanah liat. Jenis tanah satu ini cukup berbahaya saat hujan deras dan berada di ketinggian tertentu.

    Saat tanah tersebut terus menerus terkena air nantinya daya untuk menopang pergerakan tidak bisa lagi menahan. Alhasil retakan dengan cepat muncul di permukaan dan jika pergerakan tanah terjadi seperti longsor, bangunan di atasnya juga akan terdampak.

    Aktivitas Manusia

    Tidak bisa dipungkiri aktivitas manusia juga dapat berdampak pada kualitas tanah. Membangun bangunan berbobot berat, pengeboran, atau penggunaan lahan tanpa adanya perbaikan setelahnya dapat menghilangkan daya penahan pada tanah membuat rrosi tanah mudah terjadi, ditambah dengan curah hujan yang tinggi.

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Waspada! Ini Tanda-Tanda dan Langkah Antisipasi Bencana Tanah Bergerak


    Jakarta

    Bencana tanah bergerak menjadi ancaman baru bagi bangunan yang berdiri di lereng atau bukit di tengah musim hujan. Seperti halnya yang terjadi di Jombang dan Bandung Barat minggu ini beberapa rumah warga rusak berat karena pergerakan tanah.

    Ratusan warga dari 2 wilayah terdampak tersebut terpaksa meninggalkan rumahnya karena tidak memungkinkan lagi untuk dihuni.

    Fenomena tanah bergerak ini mirip dengan tanah longsor. Menurut BPBD Kabupaten Bogor, fenomena tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batu pada arah tegak, mendatar, atau miring dari kedudukan semula.


    Pemicu dari pergerakan tanah ini adalah gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan sehingga terjadilah longsor.

    Menurut situs United States Geological Survey Amerika cara mengetahui atau mewaspadai lahan yang rawan terjadi pergerakan tanah bisa ditandai dengan melihat fenomena berikut.

    1. Pagar, tiang listrik, dan pepohonan yang mulai miring
    2. Terdapat retakan atau tanah yang mencuat di jalanan
    3. Tanah ambles dari fondasi rumah yang seharusnya
    4. Dasar jalan terlihat cekung
    5. Pintu dan jendela yang menempel karena kusen tidak tegak lurus.
    6. Suara gemuruh samar seperti retakan dari luar rumah atau permukaan tanah.

    Jika sudah melihat beberapa tanda tanah bergerak di sekitaran rumah, apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasinya? Simak beberapa cara menghindari rumah dari bencana tanah bergerak.

    Hindari Lahan yang Curam

    Sebagus apa pun konstruksi rumah apabila lahan di bawahnya terlalu berbahaya, rumah tidak dapat bertahan dari kerusakan saat terjadi pergerakan tanah. Sehingga hindari membangun rumah di dekat lereng yang curam, dekat tepi gunung, dekat saluran drainase, atau lembah erosi alami. Sebagai gantinya pilih permukaan yang landai saat membangun rumah.

    Hindari Lahan yang Pernah Terjadi Pergerakan Tanah

    Lahan yang pernah terjadi longsor, tanah bergerak, atau rawan erosi dapat terjadi lagi di kemudian hari. Sehingga sebelum membeli lahan atau membangun rumah di daerah tersebut sebaiknya cari tahu atau identifikasi mengenai spesifikasi tanah tersebut.

    Perhatikan jalur drainase air hujan di dekat rumah dan perhatikan tempat penampungan akhir air limpasan tersebut agar terbuang ke tempat yang tepat bukan menggenang di tanah.

    Gunakan Teknik Pemakuan Tanah

    Jika tidak bisa memilih kontur tanah yang landai, kamu perlu memakai konstruksi pemakuan tanah saat membangun rumah. Teknik ini menggunakan cara memasukkan beton besi tulangan ke dalam permukaan tanah secara miring lalu disemen untuk menjaga rumah tetap stabil.

    Apabila rumah kamu terdampak bencana tanah bergerak sebaiknya bergegas untuk keluar rumah untuk menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Jangan mencoba masuk kembali ke rumah apabila tidak mendapat izin dari pihak berwajib. Minta bantuan secepatnya kepada pemadam kebakaran atau badan penanggulangan bencana.

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Waspada! Dinding dan Plafon Retak Bisa Jadi Tanda Pergerakan Tanah



    Jakarta

    Dinding dan plafon retak kerap ditemukan di rumah. Kondisi ini sering kali membuat penghuni bertanya-tanya dan khawatir karena bisa dipicu oleh masalah serius, salah satunya pergerakan tanah.

    Biasanya, retakan pada area dinding dan plafon rumah terbilang tipis atau disebut juga retak rambut (hairline crack). Banyak orang yang menganggap kalau retakan tersebut muncul karena terjadi pergerakan tanah.

    Sebagai informasi, pergerakan tanah adalah perpindahan massa tanah atau batu yang bergerak ke arah tegak, mendatar, atau miring dari kedudukan semula. Pergerakan tanah ini ada yang terlihat seperti longsor, ada pula yang bergerak perlahan seperti merayap.


    Pemicu dari pergerakan tanah ini adalah gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan sehingga terjadilah longsor. Gaya penahan itu bisa berupa batuan penyangga atau kepadatan tanah itu sendiri.

    Sedangkan besarnya gaya pendorong ditentukan dengan kemiringan permukaan tanah, beban yang diterima tanah dari air, getaran, atau kemampuan batu menyangga tanah tersebut.

    Mengenai adanya retakan pada dinding dan plafon rumah, arsitek Denny Setiawan mengatakan jika tak sepenuhnya dipicu oleh pergerakan tanah. Ia mengatakan salah satu penyebab umum muncul retak rambut karena masalah muai susut.

    “Nggak selalu ya, ada beberapa pergerakan atau retakan gitu yang ahli sipil bisa mendiagnosa apakah ini ada masalah dengan strukturnya atau nggak. Tapi kebanyakan retak rambut yang terjadi itu bukan masalah pergerakan struktur, tapi juga itu masalah muai susut,” kata Denny saat dihubungi detikcom, Sabtu (21/6/2025).

    Denny menjelaskan, komposisi antara semen, pasir, dan air yang tidak tepat dapat menyebabkan dinding rumah kerap mengalami muai susut. Hal itulah yang menimbulkan adanya retak halus pada dinding hingga plafon rumah.

    Meski begitu, Denny mengatakan jika retakan di dinding dan plafon juga bisa disebabkan oleh pergerakan struktur. Adapun titik-titik retakan yang dipicu pergerakan tanah biasanya terdapat di simpul-simpul kolom dan balok.

    “Kalau orang awam menyebutnya tiang beton dan balok beton,” ungkapnya.

    Apabila terjadi retakan pada area tersebut, pemilik rumah harus waspada karena dapat memengaruhi struktur bangunan. Namun, untuk memastikan apa penyebab dari retak rambut tersebut sebaiknya harus diteliti lebih lanjut oleh tenaga ahli yang kompeten.

    “Walaupun harus diteliti lebih lanjut beneran apa nggak itu bagian (penyebab) dari pergerakan struktur,” papar Denny.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/das)



    Sumber : www.detik.com