Tag: persegi

  • Batu Bata Belum Tentu Lebih Bagus dari Hebel, Ini Kelebihan dan Kekurangannya


    Jakarta

    Fondasi yang kuat ditentukan pada material yang digunakan. Biasanya untuk pembangunan rumah banyak yang menggunakan hebel atau batu bata sebagai material utama fondasi rumah. Lantas, di antara keduanya mana yang lebih baik?

    Sebelum mengetahui kelebihan dan kekurangan, lebih baik kenali dahulu apa itu hebel dan batu bata.

    Hebel

    Truk bermuatan hebel yang terguling di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur sudah dievakuasi. Lalu lintas yang sempat macet sudah kembali normal.TIlustrasi hebel. Foto: Lamhot Aritonang

    Dilansir laman Loftybuildinggroup, bata hebel atau bata ringan merupakan beton ringan aerasi (Autoclaved Aerated Concrete). Material ini terbuat dari pasir, semen, kapur, dan gypsum. Hebel umumnya tersedia dalam bentuk balok. Warna dari hebel sendiri adalah putih ke abu-abuan. Ukuran dari hebel jauh lebih besar dan panjang. Namun, material ini jauh lebih ringan.


    Batu Bata

    Tembok Batu Bata dengan Pola English BondTembok Batu Bata dengan Pola English Bond Foto: Getty Images/Jose Pouwels

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), batu bata adalah tanah liat yang diaduk sampai halus, kemudian dicetak, dikeringkan, lalu dibakar. Biasanya dipakai untuk membuat dinding dan sebagainya. Bentuknya persegi panjang berwarna coklat kemerahan.

    Kelebihan dan Kekurangan Hebel dan Batu Bata

    Menurut Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama, Panggah Nuzhulrizki, masing-masing material ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, hingga saat ini banyak yang masing memakai keduanya.

    Untuk lebih jelasnya berikut kelebihan dan kekurangan hebel dan bata merah.

    Kelebihan Hebel

    – Harga yang lebih terjangkau jika dibeli satuan

    – Memiliki ketahanannya cukup baik

    – Lebih ringan daripada batu bata

    Kekurangan Hebel

    – Ukurannya yang lebih besar dari batu bata.

    Kelebihan Batu Bata

    – Mudah ditemukan di toko-toko bangunan

    – Ukuran lebih kecil

    Kekurangan Batu Bata

    – Materialnya murah menyerap air sehingga mudah membuat dinding lembab dan berjamur

    – Harganya lebih mahal daripada hebel

    – Lebih berat dari hebel

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Makin Marak Rumah Kecil di Perkotaan, Apa Keuntungan dan Tantangannya?



    Jakarta

    Saat ini semakin banyak ditemukan rumah kecil dan rumah compact di perkotaan atau pinggiran kota. Rumah-rumah tersebut memiliki fasad yang kecil sekitar 1,5-6 meter, tidak memiliki carport, atau halaman depan yang cukup untuk parkir kendaraan.

    Menurut Arsitek Denny Setiawan fenomena ini terjadi karena harga lahan yang semakin mahal sehingga mempengaruhi harga jual rumah. Di sisi lain, daya beli masyarakat semakin menurun sehingga tidak mampu untuk membeli rumah yang terlalu mahal karena penghasilan bulanan yang terbatas dan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Selain itu, saat ini ketersediaan lahan untuk membangun rumah tapak di perkotaan juga semakin terbatas. Oleh karena itu, banyak rumah yang akhirnya dibangun di tanah yang kecil dan terbatas. Pemilik rumah menyiasati luas tanah yang terbatas tersebut dengan menambah lantai ke atas.


    “Untuk mereka yang tetap mau tinggal di Ibu Kota, ada beberapa konsep hunian. Yang pertama adalah compact house. Jadi kecil rumahnya, segala sesuatunya ada. Atau yang kedua adalah konsep single building, multi dwelling. Jadi dalam satu tanah, bisa ada 3 atau 4 keluarga yang bisa tinggal di situ. Banyak tuh kalau di Jepang, di Korea,” kata Denny memberikan contoh, saat dihubungi detikProperti Selasa (27/5/2025).

    Lantas, dengan semakin maraknya luas rumah yang kecil, sebenarnya apa keuntungan dan kerugiannya?

    Denny mengatakan dengan tetap tinggal di dekat kota, meskipun dengan kondisi rumah yang kecil, masyarakat dapat memangkas waktu tempuh ke tempat kerja dan tetap mendapatkan fasilitas transportasi umum.

    Selain itu, dengan tinggal di rumah yang kecil, mereka bisa mendapatkan tempat tinggal dengan harga yang murah. Rumah tersebut juga bisa bertambah luas apabila ditambah lantai ke atas. Jenis rumah seperti ini disebut pula dengan rumah tumbuh. Keuntungan lainnya adalah bisa menerapkan hidup minimalis atau saat ini disebut dengan frugal living.

    Di balik kemudahan yang didapatkan, Denny mengingatkan tinggal di rumah yang sempit juga ada aspek ketidaklayakannya.

    Pertama adalah rumah tersebut kurang mendapat pencahayaan, terutama untuk rumah yang lokasinya berdempetan dengan bangunan lain atau yang berada di gang kecil.

    Rumah yang kurang mendapat pencahayaan bisa berpengaruh pada kualitas udara, pertumbuhan jamur, dan gangguan kesehatan penghuninya.

    “Dengan lahan terbatas, rumah tidak mempunyai pengudaraan dan pencahayaan yang baik. Jadi dibutuhkan desain yang baik untuk memastikan semua ruangan bisa mendapatkan pengudaraan dan pencahayaan,” terangnya.

    Kedua adalah keterbatasan ruang gerak. Denny mengingatkan luas ruang gerak untuk satu orang yang ideal adalah 3×3 meter atau 9 meter persegi.

    “Berapa sih ukuran Yang ideal untuk satu keluarga? Satu orang manusia Itu 3×3 meter, jadi kalau anggota keluarganya ada empat atau lima, ya tinggal kamu kalikan,” jelas Denny.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Begini Isi Rumah Subsidi Jika Luasnya Hanya 18 Meter, Nggak Ada Kamar!



    Jakarta

    Pemerintah berencana memperkecil batas luas minimal rumah subsidi dari yang semula 21 meter persegi menjadi 18 meter persegi. Kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan sehingga belum diterapkan.

    Jika melihat ukuran rumah subsidi yang saat ini berlaku yakni seluas 21-36 meter persegi, di dalamnya terdapat 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu, dapur yang berbagi dengan halaman belakang yang terbuka untuk area jemuran, dan terdapat halaman depan yang cukup untuk parkir mobil dan motor.

    Lantas, apabila rumah tipe 18 tersedia nantinya, kira-kira seperti apa ya isinya?


    Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembangan dan Pemasaran Rumah Nasional (Asprumnas) Muhammad Syawali Pratna rumah tipe 18 mirip dengan ukuran apartemen studio tanpa kamar tidur. Namun, tetap bisa memiliki kamar mandi, dapur, ruang jemur, dan halaman karena luas tanahnya lebih luas dari luas bangunan.

    “Jadi nggak ada kamar. Contoh aja kayak apartemen yang luasnya 18 meter persegi, disebut dengan studio,” kata Syawali saat dihubungi detikProperti, Selasa (3/6/2025).

    Satu-satunya ruangan di dalam rumah tersebut adalah kamar mandi. Luasnya juga tidak begitu besar hanya sekitar 1,2×1,5 meter. Kemudian dapur akan berada di belakang berbagi ruang dengan area jemuran.

    Ia menyebut sebenarnya rumah ini masih layak untuk ditempati, tetapi hanya untuk 2 orang dewasa, jika menghitung dari luas ruang ideal per individu, 9 meter persegi. Namun, apabila keluarga tersebut memiliki anak, rumah tipe 18 kurang ideal. Sebab, jika rumah dilebarkan ke samping hingga menutupi seluruh lahan yang tersedia, tetap tidak cukup. Sebab, batas minimal lahan paling kecil adalah 25 meter persegi.

    “Kalaupun dikembangin ke samping, anaknya kenanya cuma 25 meter. Nggak bisa, kan? Di situ aja 18 meter persegi itu, Koefisien Dasar Bangunan (KDB) udah lewat, ya? Jadi tidak manusiawi (ditempati) kalau misalnya udah punya anak,” ujarnya.

    Untuk memiliki kamar tidur, menurut Syawali luas minimal rumah tersebut adalah 21 meter persegi. Luas kamarnya pun hanya sekitar 2,5 x 2,5, 6 meter. Selain kamar, masih ada ruang tersisa di rumah tersebut untuk membuat ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, ruang jemur, tempat memasak nasi, dan setrika.

    Senada, Arsitek Denny Setiawan mengatakan tipe rumah 18 mirip dengan luas apartemen studio.

    “Rasanya dengan 18 meter persegi, jadi kayak kecil banget ya. Karena itu mungkin seukuran apartemen studio ya. Apartemen studio pun (ada) 21 sampai 29 meter persegi,” kata Denny.

    Luas yang terbatas itu, dipastikan tidak bisa untuk membuat kamar tidur yang tertutup dan ruang keluarga atau ruang tamu.

    Kemudian, untuk dapur, kata Denny, masih memungkinkan untuk dibuat semi outdoor di belakang berbagi ruang dengan ruang jemur pakaian. Ruang belakang ini ia sarankan untuk memiliki ventilasi yang cukup untuk pencahayaan dan sirkulasi ke dalam rumah.

    Kamar mandi akan menjadi satu-satunya ruang di dalam rumah tersebut. Namun, luasnya pun tidak begitu lebar yakni sekitar 1×2 meter saja. Di mana di dalamnya hanya terdiri dari kloset, shower, dan ember.

    Denny menyampaikan pemerintah perlu membuat desain bangunan yang lebih kreatif dan berbeda dari rumah subsidi biasa. Sebab, tinggal di rumah kecil juga memiliki banyak tantangan, bukan sekadar pertimbangan layak atau tidak.

    “Ini bukan cuma masalah mengecilkan luasan, tapi membuat luasannya jadi efektif. Hunian itu memang boleh mengecil, tapi secara kualitas, dia tidak boleh tereduksi karena memang pemerintah perlu menjamin bahwa hunian yang ditempati setiap warga negaranya itu adalah hunian yang layak,” tutur Denny.

    Denny mengatakan ukuran rumah 18 meter persegi bukan bentuk hunian yang baru. Di Jepang banyak ditemukan rumah-rumah tipe 18 karena negara tersebut juga mengalami masalah yang sama yakni keterbatasan lahan. Di sana rumah tipe 18 seperti ini dibuat menjadi compact house.

    Namun, rumah-rumah tersebut bentuknya adalah apartemen yang jumlah lantainya pendek yakni satu gedung sekitar 4 keluarga yang mengisi tiap lantai.

    “Jepang juga menghadapi masalah yang sama bahwa lahan itu sudah sempit dan mereka harus berpikir kreatif tentang bagaimana menyiasati mahalnya harga bangunan. Mereka punya konsep namanya compact house,” ujarnya.

    Sebelumnya diberitakan, Kementerian PKP berencana memperkecil luas bangunan rumah subsidi dari yang semula 21-36 meter persegi menjadi 18-36 meter persegi. Begitu pula dengan luas tanah dari 60-200 meter persegi menjadi 25-200 meter persegi.

    Rencana tersebut tertera dalam draf aturan terbaru Keputusan Menteri PKP Nomor/KPTS/M/2025. Dalam draf yang beredar tersebut belum terdapat nomor keputusan yang dimasukkan. Aturan tersebut akan memuat aturan mengenai Batasan Luas Lahan, Luas Lantai, dan Batasan Harga Jual Rumah dalam Pelaksanaan Kredit/Pembiayaan Perumahan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, serta Besaran Subsidi Bantuan Uang Muka Perumahan.

    Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) menilai, luas lahan rumah subsidi 18 meter persegi sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Ia meyakini rumah subsidi dengan desain yang baik bisa dibangun bertingkat dan sesuai kebutuhan konsumen walaupun lahannya terbatas.

    “Sekarang saya mau lihat desain-desainnya. Bisa buat tingkat nggak? Soalnya tanahnya kan mahal. Masa kita kalah dari masalah? Kalau tanahnya mahal, selama ini ruang bisa dibangun tingkat jadi kita jangan mau kalah dari masalah? Desain-desain rumahnya dari dulu gitu-gitu aja. Kita bikin desain yang bagus. Nanti tunggu kejutannya. Saya akan expose desain-desain rumah yang bagus,” katanya seperti yang dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (3/6/2025).

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Segini Ukuran dan Material Lantai yang Pas buat Garasi


    Jakarta

    Adanya garasi diperlukan agar kendaraan yang dimiliki pemilik rumah lebih aman dan tak pusing mencari tempat parkir. Nah untuk membuat garasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

    Ukuran garasi yang dibangun sebenarnya bisa menyesuaikan luas tanah yang dimiliki pemilik rumah. Kalau tanah yang dimiliki tidak terlalu luas, pemilik rumah bisa membangun carport saja.

    Biasanya berapa sih ukuran garasi di rumah?


    Pada 2024, arsitek Denny Setiawan sempat mengatakan tidak ada rumus pasti untuk ukuran garasi. Namun, biasanya ukuran garasi yang ia gunakan untuk sebuah mobil biasanya dibangun dengan standard ukuran 3 x 6 meter atau 18 meter persegi. Apabila jumlah mobil lebih dari satu, berlaku kelipatannya.

    “Ukuran standar garasi adalah 3m x 6m untuk 1 mobil. Bila 2 mobil bisa dikalikan 2,” terang Denny kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Denny memperkirakan total biaya yang diperlukan untuk membangun sebuah garasi itu kurang lebih mirip dengan biaya untuk bangun rumah. Ia mencontohkan, biaya bangun sebuah rumah di Jakarta adalah sekitar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per meter persegi. Maka dari itu, untuk membangun sebuah garasi berukuran standar 1 mobil atau 18 meter persegi akan membutuhkan biaya sekitar Rp 126 juta.

    “Kalau biayanya bangun garasi, anggarannya kurang bisa saya prediksi. Tapi kalau kita bicara membangun sebuah bangunan, kalau di Jakarta ini kira-kira 6 sampai 7 juta per meter persegi. Jadi garasi itu kalau satu mobil kita kira 18 meter persegi, lalu dikali 7 juta. Kira-kira segitu biayanya untuk mobil,” kata Denny.

    Walau demikian, biaya tersebut akan berbeda setiap daerahnya.

    Material Lantai yang Cocok untuk Garasi

    Denny menyarankan untuk menggunakan lantai yang bertekstur dan tahan gores untuk lantai garasi, contohnya seperti batu alam atau andesit, granit bertekstur, dan granit bakar. Berikut ini penjelasannya.

    Lantai Batu Alam (Andesit)

    Denny menilai material lantai terbaik untuk garasi adalah andesit. Hal itu karena batu andesit memiliki sifat permukaan yang kesat dan bertekstur.

    “Beberapa pilihan yang bisa dipakai misalnya, yang paling murah itu batu alam atau andesit. Itu bisa dipakai untuk lantai garasi, selain karena kesat, kalau tergores juga tidak akan terlalu kelihatan karena dia juga bertekstur,” kata Denny.

    Tekstur pada lantai garasi sangat penting apalagi jika garasi dibuat miring. Tekstur tersebut akan membantu gaya gesek ban mobil agar tidak mudah tergelincir.

    Lantai Granit Bertekstur

    Jenis bahan lantai yang kedua adalah lantai granit atau keramik granit (granit tiles). Denny menyarankan untuk menggunakan bahan lantai granit yang memiliki permukaan bertekstur.

    “Yang kedua adalah granit tiles. Granit tiles ini pilihannya banyak sekali, dari mulai yang bertekstur hingga yang di polish. Cuma untuk garasi, tentu harus pakai material yang bertekstur,” tuturnya.

    Lantai Granit Bakar

    Selanjutnya ada lantai granit bakar. Menurut Denny, granit bakar ini salah satu yang paling mahal yang digunakan untuk lantai garasi.

    “Yang paling mahal ada namanya granit bakar, karena granit bakar punya lebar yang cukup besar. Banyak garasi yang pakai granit bakar 1 kali 2 meter,” ujarnya.

    Itulah ukuran dan material lantai yang pas untuk garasi.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Rumus Menghitung Kebutuhan Batu Bata untuk Bangun Rumah Tanpa Borongan


    Jakarta

    Batu bata merupakan salah satu komponen utama untuk membangun rumah. Sebab, batu bata dipakai untuk membangun dinding dan fondasi utama rumah.

    Ketika membeli batu bata, kita perlu tahu jumlahnya karena material satu ini dijual satuan. Lantas, bagaimana cara mengetahui jumlah batu bata yang akan dipakai?

    Menurut Kontraktor dari Rebwild Construction Wildan, untuk mengetahui jumlah batu bata yang dibutuhkan adalah dengan dihitung per meter persegi (m2). Cara menghitung luas dinding yang akan dibuat adalah dengan menghitung panjang dan lebarnya.


    Luas = Panjang x Lebar

    Sebagai contoh ketika ingin membangun ruangan seluas 9 meter persegi (3×3 meter). Begini cara hitung kebutuhan batu batanya.

    1. Hitung Luas Pintu dan Jendela

    Saat hendak membangun ruangan pasti ada bagian dinding yang dibiarkan bolong untuk dibuat pintu dan jendela. Nah, hitung dahulu luas tersebut. Sebagai contoh, anggap ukuran pintu yang akan dibuat adalah 1,98 m2 (0,9 x 2,2 meter). Kemudian ukuran jendela adalah 2,16 m2 (1,2 x 1,8 meter)

    Apabila ditotal, luas dinding yang akan dibiarkan kosong tanpa bata adalah 4,14 m2.

    2. Hitung Luas Dinding

    Saat menghitung luas dinding, dibutuhkan informasi mengenai ukuran ruangan 3×3 meter, banyak dinding yang akan dibangun 4 sisi, dan tinggi dinding 4 sisi. Maka, apabila dihitung sebagai berikut:

    Luas Dinding = Panjang x Lebar
    Luas= 3 x 4 = 12 m2

    Luas tersebut kemudian dikalikan dengan 4 sisi dinding yang akan dibangun.

    Ukuran dinding yang akan dibangun= 12 x 4 = 48 m2

    Selanjutnya, luas dinding dikurangi dengan luas area terbuka.

    Maka, luas dinding yang akan dibuat 48 – 4,14 m2 = 43,86 m2 atau dibulatkan 44 m2.

    3. Hitung Kebutuhan Bata Per Meter

    Saat hendak menghitung jumlah bata per meter, cari tahu dahulu ukuran batu bata yang akan dipakai. Sebagai contoh batu bata yang akan dipakai berukuran 20 x 5 cm. Kemudian ketebalan spesi mortar atau campuran semen sebagai bahan pengikat adalah 2 cm.

    Keduanya harus dihitung untuk mengetahui luas bata yang akan dipakai, begini caranya:

    Luas batu bata (20 + 2 cm) x (5 + 2 cm) = 22 x 7 = 154 cm2 atau 0,0154 m2

    Jumlah Bata = 1 meter : luas batu bata
    Jumlah Bata = 1 : 0,0154 = 64,5 atau 65 buah per meter.

    4. Hitung Jumlah Bata yang Dibutuhkan Sesuai Luas Area Pembangunan

    Setelah mendapat serangkaian angka, untuk mengetahui jumlah bata yang diperlukan untuk membangun dinding di ruangan seluas 9 meter persegi, sebagai berikut.

    Jumlah Bata = Luas Dinding x Kebutuhan Bata Per Meter
    Jumlah Bata = 44 x 65 = 2.860 batu bata

    Dapat disimpulkan untuk membangun ruangan seluas 9 meter persegi dibutuhkan sekitar 2.860 buah batu bata.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Mau Buat Kolam Renang di Rumah? Segini Perkiraannya Untuk Ukuran 3×5 Meter



    Jakarta

    Kolam renang merupakan salah satu fasilitas yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana olahraga dan rekreasi di rumah. Penghuni rumah tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk datang ke kolam renang umum jika di rumah bisa membuatnya.

    Banyak orang berfikir membuat kolam renang harus memiliki lahan yang cukup. Menurut arsitek Denny Setiawan tidak ada ukuran khusus untuk luas kolam renang. Namun, batas minimum luasnya adalah 2,4 meter persegi yang dinilai cukup untuk meluruskan kaki dan berendam.

    Bagi detikers yang tertarik untuk membuat kolam renang, tetapi belum tahu biaya yang dibutuhkan, begini simulasi perhitungannya untuk kolam renang ukuran 3×5 meter dengan kedalaman 2 meter.


    Biaya Material

    Hal pertama yang harus disiapkan adalah biaya material. Berikut rinciannya.

    Semen: Rp 57.000 per sak. Jumlah kebutuhan 50 sak. Total biaya: Rp 2.850.000

    Pasir: 1 truk, total biaya sekitar Rp 2.200.000. Sebagai informasi, harga pasir di setiap kota berbeda, tergantung jenis dan wilayahnya.

    Biaya konstruksi lainnya (besi, kerikil untuk campuran beton, dsb): Rp 5.000.000

    Umumnya kolam renang memakai penutup dari material keramik yang permukaannya lebar atau yang keramik mozaik yang kecil-kecil. Menimbang luas kolam renang yang hanya 3×5 meter, lebih baik menggunakan keramik mozaik.

    Dalam satu dus ada keramik mozaik ukuran 30×30 dengan total satu meter persegi, harganya sekitar Rp 199.000.

    Nah, untuk menghitung kebutuhan keramik kolam renang ukuran 3×5 dengan kedalaman 2 meter yaitu:

    Panjang x tinggi x 2 = 5x2x2 = 20 m2

    Lebar x tinggi x 2 = 3x2x2 = 12 m2

    Panjang x lebar = 5×3 = 15 m2

    Totalnya: 47 m2

    Untuk membeli keramik untuk kebutuhan 47 m2 dibutuhkan sebanyak 47 dus. Maka: Rp 199.000 x 47 = Rp 9.353.000

    Pipa air 1 set: Rp 10.000.000

    Pompa air: 20.000.000

    Tangga kolam renang: Rp 1.500.000 per buah.

    Total biaya material: Rp 40.853.000

    Biaya Tukang

    Saat membuat kolam renang, tentu kita membutuhkan tukang. Mereka akan bertanggung jawab mengeruk tanah, memastikan keamanan dan kepadatan tanahnya, meratakan tanah, membuat kolam renang, finishing, pemasangan pompa air, hingga pengisian air. Jumlah tukang yang dibutuhkan untuk ukuran kolam renang tersebut adalah 4 tukang dengan estimasi pengerjaan 3 bulan atau 120 hari.

    Upah tukang untuk membuat kolam renang pribadi berukuran 3x5x2 meter adalah Rp 200 ribu. Maka, untuk pengerjaan 3 bulan, berikut biaya tukang yang harus disiapkan.

    4 x 120 x Rp 200.000 = Rp 96.000.000

    Biaya Pengisian Air Kolam

    Pengisian kolam renang juga membutuhkan biaya. Hal ini dikarenakan volume air yang dibutuhkan besar dan terdapat biaya listrik untuk pompanya. Sebagai informasi, air yang dibutuhkan untuk mengisi kolam per m3 yaitu 1.000 liter. Berikut biaya yang dibutuhkan untuk mengisi kolam renang bervolume 30 m3.

    30 x 1.000 liter: 30.000 liter

    Bila membeli air sendiri lewat perusahaan air tangki, harganya rata-rata sekitar Rp 800.000 per 8.000 liter. Karena volume air kolam renang 30.000 liter, maka dibutuhkan 4 truk tangki. Jadi biayanya Rp 800 ribu x 4 = Rp 3.200.000.

    Total Biaya Pembuatan Kolam Renang

    Apabila ditotal, kisaran biaya pembuatan kolam renang ukuran 3x5x2 meter:

    Rp 40.853.000 + Rp 96.000.000 + Rp 3.200.000 = Rp 140.053.000.

    Itulah kisaran biaya pembuatan kolam renang ukuran 3×5 meter dengan kedalaman 2 meter. Besar biaya tersebut tidak bisa dijadikan patokan untuk semua pembuatan kolam renang karena harga material bisa meningkat dari waktu ke waktu, biaya upah juga bisa disesuaikan dengan desain, waktu pengerjaan, dan kerumitannya, serta biaya pengisian air bisa berbeda di masin-masing wilayah. Simulasi ini diharapkan bisa menjadi panduan dasar untuk memperkirakan agar mendapat gambaran besar biaya yang perlu disiapkan. Bisa jadi saat detikers membuat kolam renang, biayanya jauh lebih murah dan mahal. Semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Segini Ukuran Minimal Kolam Renang yang Ideal di Rumah Menurut Arsitek



    Jakarta

    Punya lahan yang luas di rumah terkadang bingung bagaimana cara memanfaatkannya. Jika detikers mengalami hal yang sama, coba bikin kolam renang untuk sarana olahraga dan rekreasi di rumah.

    Anggapan bahwa membangun kolam renang harus punya lahan luas itu nggak benar adanya. Lahan yang luas hanya dibutuhkan jika detikers mau buat kolam renang berstandar internasional yang biasa dipakai untuk olimpiade. Umumnya luasnya 25-50 meter persegi.

    Ada pun kolam renang di rumah yang hanya untuk dipakai pribadi, menurut arsitek sekaligus dosen Binus University Denny Setiawan tidak ada ketentuan ukuran khusus. Pemilik rumah dibebaskan menentukan luasnya yang disesuaikan dengan lahan, fungsi, dan konsep rumah.


    “Di rumah tinggal tidak ada batasan minimum atau maksimum. Berbeda kalau misalnya kita bicara kolam renang sebagai sport itu kita butuh minimal 25 meter,” kata Denny saat dihubungi detikProperti, Selasa (3/6/2025).

    Meskipun tidak ada ketentuan luas maksimal, Denny mengatakan kolam renang minimal bisa untuk meluruskan kaki dan berendam. Luas minimal yang cukup untuk ketentuan tersebut adalah 2,4 meter persegi. Oleh karena itu, saat ini banyak kolam renang mungil yang hanya muat untuk berendam.

    “Tapi ada batas minimum lebar kolam renang yang ideal yaitu adalah 2,4 meter. Ya, karena tepak atau depak manusia itu lebarnya kurang lebih adalah sekitar 1,6 meter, 80 cm ke kiri, 80 cm ke kanan. Nah, dengan 2,4 meter artinya kita bisa punya space di kiri dan kanan masih bisa sekitar 30-30 itu masih ideal untuk kolam renang,” jelasnya.

    Lalu, Denny sangat menyarankan memiliki kolam renang pribadi di rumah. Manfaatnya sangat banyak terutama bagi kesehatan.

    Kolam renang memberikan kita sarana untuk berolahraga yang baik untuk kesehatan jantung, paru-paru, dan sendi. Selain itu, memiliki kolam renang pribadi di rumah juga tidak perlu khawatir akan kebersihannya karena yang menggunakannya adalah keluarga sendiri.

    Lalu, memiliki kolam renang juga bagus untuk ketenangan. Denny mengatakan riak air, terutama yang tersorot cahaya dapat membuat seseorang lebih rileks.
    Selain itu, keberadaan kolam renang pada sebuah hunian juga bisa menambah nilai pada properti tersebut.

    “Pada praktiknya di beberapa vila, memang seringkali arsitek, desainer, atau pemilik kemudian itu berusaha untuk mendapatkan atau memiliki kolam renang. Kalau kolam renang itu efeknya luar biasa terhadap kualitas estetika ruang,” ujarnya.

    Kolam renang di rumah juga bisa membuat rumah jadi lebih sejuk karena uap air yang dihasilkan dapat terserap oleh udara panas dan membuat sekitarnya lembap.

    Cara perawatan kolam renang, kata Denny, tidaklah sulit. Kolam renang cukup dikuras 3 bulan sekali. Dengan catatan, kolam renang tersebut memiliki filter air untuk memastikan airnya selalu bersih dan tidak berjamur. Filter tersebut minimal bekerja 6 jam dalam sehari.

    “Nggak harus setiap hari. Tapi perlu dirawat dan dipastikan filter bekerja minimal 6 jam sehari. Boleh dimatiin, tapi sehari paling nggak itu 6 jam. Kalau nggak dia akan berjamur,” terangnya.

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com