Tag: plesteran

  • Kenali 4 Perbedaan Plesteran dan Acian yang Melapisi Dinding Rumah


    Jakarta

    Dinding merupakan salah satu bagian utama dari sebuah rumah. Saat membangun dinding, umumnya akan dilapisi dengan plesteran dan acian.

    Meski sama-sama melapisi tembok, keduanya memiliki perbedaan dari penggunaan hingga tampilan. Nah, biar kamu nggak bingung dan tertukar antara kedua tahap tersebut, simak perbedaan plesteran dan acian yang dikutip dari SEIV Paint, Minggu (23/6/2024).

    Sebelum membahas perbedaan, ada baiknya kamu mengenal lebih lanjut tentang plesteran dan acian.


    Apa itu Plesteran?

    Plesteran adalah campuran bahan yang digunakan untuk memberi lapisan pada dinding baik itu dari batu bata, batu atau kalau pada zaman sekarang ada yang dikenal dengan istilah bata ringan.

    Apa itu Acian?

    Sedangkan acian merupakan bahan yang digunakan untuk memberi lapisan pada plesteran agar lebih halus. Jadi ada plesteran yang diberi acian dan ada pula plesteran tanpa acian. Campuran bahan untuk plesteran itu adalah semen, pasir dan air sedangkan campuran untuk acian adalah semen dan air.

    Berikut perbedaan antara plesteran dan acian pada bangunan rumah.

    Perbedaan Plesteran dan Acian

    1. Komposisi

    Bahan untuk membuat campuran plesteran biasanya terdiri dari pasir, semen dan air. Bahan lainnya seperti kapur atau serta juga dapat ditambahkan tergantung pada kebutuhan dan jenis plesteran yang digunakan.

    Bahan untuk membuat campuran acian terdiri dari semen dan air. Namun demikian, dalam proporsi yang berbeda dibandingkan dengan plesteran. Acian cenderung memiliki lebih banyak air untuk meningkatkan kekuatan dari acian tersebut.

    2. Ketebalan

    Lapisan plesteran biasanya lebih tebal, berkisar antara 20 hingga 25 milimeter (mm) atau bahkan bisa lebih tebal tergantung kebutuhan pada konstruksi bangunan rumah.

    Sementara, lapisan acian biasanya lebih tipis, berkisar antara 5 hingga 15 milimeter (mm), tergantung pada jenis acian dan permukaan dinding yang ingin dilapisi acian.

    3. Kegunaan

    Plesteran bertujuan untuk menutupi konstruksi bangunan (bata, batako dan lain-lain) dengan menciptakan permukaan yang rata dan rapi dan dapat dilakukan penghalusan untuk tahapan selanjutnya yaitu pengecatan.

    Semetara itu, acian dilakukan untuk melindungi konstruksi bangunan yang membuat dinding menjadi halus dan rata, merupakan tahap akhir pembuatan konstruksi bangunan rumah.

    4. Tampilan Akhir

    Plesteran biasanya memiliki tampilan akhir yang bertekstur, tergantung keinginan pemilik bangunan. Teksturnya bisa punya tampilan kasar, berkerut bahkan halus.

    Sebaliknya, acian biasanya memiliki tampilan akhir yang halus dan rata pada konstruksi bangunan rumah.

    Jadi itu tadi perbedaan mengenai plesteran dan acian. Semoga bermanfaat!

    (dhw/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Membuat Lantai Semen Ekspos, Lengkap Langkah-langkahnya



    Jakarta

    Lantai semen ekspos merupakan ciri khas rumah bergaya industrial memberikan kesan estetik meski tampak belum selesai atau unfinished look. Jenis lantai satu ini memang bisa menjadi opsi menguntungkan buat pemilik rumah, lho.

    Sebab, lantai semen ekspos mempunyai daya tahan yang cukup lama dibanding dengan lantai lainnya. Lalu, harga pemasangan lantai ini juga lebih menghemat biaya dibandingkan pasang keramik.

    Lantas, bagaimana cara membuat lantai semen ekspos ya? Yuk, simak penjelasan berikut ini menurut ahlinya.


    Menurut CEO SobatBangun, Taufiq Hidayat hal pertama yang harus dilakukan itu melakukan pemerataan tanah. Selanjutnya baru dicor menggunakan beton.

    “Jadi kalau yang umum biasanya tanah diratain dulu, tanah itu harus rata dan padat. Syarat wajibnya itu, tanah harus padat dan rata,” katanya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    Setelah tanah padat, selanjutnya dicor dengan beton. Tujuannya agar lantai rata. Adapun campuran pada beton ini ada pasir, batu kerikil, dan semen.

    Batu kerikil itu berfungsi agar lantai rumah semakin keras. Setelah dicor beton, barulah lantai diaci dengan menggunaka campuran semen dan air.

    “Setelah itu baru bisa difinish, difinishnya bisa diaci, diaci dikasih semen lagi, laburan semen dan air aja nggak usah pake pasir, nah itu baru digosok sampai beberapa kali supaya dapat hasil yang bagus,” tuturnya.

    Taufiq juga menambahkan ada baiknya jika menggunakan lantai jenis ini dilakukan leveling atau perbedaan tinggi lantai. Hal ini untuk mencegah adanya air tergenang di lantai tersebut.

    Senada, Profesional Kontraktor PT Gaharu Kontruksindo Utama Panggah Nuzhul Rizki juga menuturkan tanah yang digunakan untuk membuat lantai semen ekspos harus dipadatkan terlebih dahulu. Ia pun menjabarkan proses pembuatan lantai semen ekspos, yaitu:

    1. Padatkan tanah
    Ketika dipadatkan, pastikan ketebalannya sekitar 3-5 cm menggunakan pasir.

    2. Beton lantai

    Tanah yang sudah padat kemudian dibeton. Adapun tebal cor beton berkisar 6-9 cm.

    3. Plester semen

    Untuk plester semen, gunakan pasir extra beton untuk plester acian lantai. Lalu, gunakan kawat ayam untuk dipasang di atas lantai. Maka hasil plesteran dipastikan rata.

    4. Mengaci semen

    Untuk mengaci semen dapat menggunakan semen biasa/semen acian instan/semen acian portland. Lalu gunakan lem sebagai bahan campuran acian. Selanjutnya, lantai acian sudah siap digunakan.

    Itulah cara membuat lantai semen ekspos. Semoga bermanfaat!

    Mau tahu berapa cicilan rumah impian kamu? Cek simulasi hitungannya di kalkulator KPR.

    Nah kalau mau pindah KPR, cek simulasi hitungannya di kalkulator Take Over KPR.

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Antara Semen, Beton, dan Mortar


    Jakarta

    Dalam membangun sebuah rumah atau gedung, dibutuhkan bahan bangunan untuk memperkuat pondasi bangunan tersebut. Setidaknya ada tiga macam bahan bangunan yang umum digunakan, yakni semen, beton, dan mortar. Apa bedanya?

    Meski sama-sama bahan bangunan, tetapi ketiganya memiliki perbedaan. Dilansir situs Toyo Mortar, hal ini dapat diketahui dari segi campuran dan proporsi bentuk untuk menghasilkan massa sebagai pengikat.

    Agar tidak salah dalam membedakan antara semen, beton, dan mortar, simak penjelasannya dalam artikel ini.


    Semen

    Semen adalah sebuah bahan campuran yang terikat dan berfungsi untuk menahan bahan-bahan lain. Sebab, semen tidak dapat bekerja sendirian untuk memperkuat pondasi bangunan.

    Ada sejumlah bahan lain yang digunakan untuk campuran semen, yaitu batu kapur, kalsium, silikon, besi, dan aluminium. Ini yang akan menentukan hasil akhir dan setidaknya harus dipanaskan dalam klin besar sekitar 2.700 derajat Fahrenheit (1.482 derajat Celcius) untuk menghasilkan produk yang dikenal sebagai klinker.

    Sebagai informasi, klinker memiliki bentuk seperti kelereng dan digiling hingga menjadi bubuk. Lalu, bubuk itu ditambahkan dengan gipsum untuk menghasilkan tepung abu-abu yang disebut dengan semen.

    Ketika semen bercampur dengan air, terjadi reaksi kimia yang dapat mengubahnya menjadi keras. Ada berbagai jenis semen yang diproduksi saat ini, tapi umumnya semen yang paling sering digunakan adalah semen Portland.

    Beton

    Beton merupakan bahan banguan yang terdiri dari campuran semen, air, dan bahan agregat. Perbedaan antara semen dengan beton terletak pada bahan agregat, yakni pasir atau kerikil.

    Semen yang dipakai pada massa beton setidaknya memiliki total bentuk sekitar 10-15 persen, tetapi proporsi ini bervariasi tergantung jenis beton yang dibuat.

    Agregat ini membentuk sekitar 60-80 persen campuran beton, tergantung dalam beberapa kasus. Agregat berperan pada massa beton dan ditahan dengan reaksi aktif dari air dan semen.

    Proporsi dalam campuran agregat, semen, dan air ini akan menentukan hasil pengerasan beton tersebut. Namun tergantung juga pada kekuatan, ketahanan dalam pembukuan dan pencairan, kemampuan kerja, serta waktu.

    Perlu diingat, rasio air dan semen yang rendah akan menghasilkan campuran yang lebih tipis. Hal ini akan menyulitkan untuk dipakai sebagai elemen pengikat.

    Agar beton berperan menjadi struktural yang dapat menahan proyek struktural, maka beton sering diperkuat dengan rebar baja karena tanah di bawahnya mengendap. Rebar baja ini lebih baik digunakan untuk mendukung balok, dinding, dan pondasi bangunan lainnya.

    Mortar

    Sementara itu, mortar biasanya dipakai sebagai penyimpan bahan bangunan batu bata atau batu bersama yang merupakan kombinasi campuran dari semen tebal, air, dan pasir. Air tersebut dipakai untuk menahan campuran serta menghidrasi semen.

    Dibandingkan beton, rasio air pada semen lebih tinggi agar elemen pengikatnya dapat terbentuk. Substansi yang digunakan lebih tebal dan ideal sebagai perekat bahan bangunan, seperti batu bata.

    Selain menjadi perekat antara batu bata, mortar juga berfungsi untuk menutup permukaan yang tidak rata. Hal ini membuat pengerjaan konstruksi dinding terlihat lebih rapi.

    Mortar juga digunakan untuk proses plesteran tembok agar permukaannya menjadi rata. Lalu, mortar juga berfungsi sebagai plesteran pada saat akan memasang keramik, baik itu di lantai maupun di tembok.

    Itu dia perbedaan antara semen, beton, dan mortar. Semoga dapat membantu detikers!

    (ilf/fds)



    Sumber : www.detik.com