Tag: pola makan

  • Mati-matian Diet Tapi Berat Badan Nggak Turun? Bisa Jadi Ini Penyebabnya


    Jakarta

    Proses penurunan berat badan yang baik harus dimulai dengan pola makan yang tepat dan aktivitas fisik yang rutin. Namun, dalam beberapa kasus proses penurunan berat badan mungkin tidak berjalan dengan lancar dan menemui beberapa kendala.

    Berikut ini adalah beberapa kesalahan diet yang mungkin dilakukan sehingga berat badan susah turun dikutip dari Eat This:

    1. Kurang Makan Lemak

    Selama diet, lemak kerap menjadi zat makanan yang kerap dihindari. Banyak yang menganggap bahwa lemak dapat meningkatkan berat badan hingga berisiko menyebabkan obesitas. Padahal beberapa jenis lemak sebenarnya justru dapat membantu proses penurunan berat badan. Salah satu contoh sumber lemak sehat yang bisa dikonsumsi adalah buah alpukat.


    Lemak merupakan makronutrien yang membantu tubuh untuk merasa kenyang, memberi nutrisi yang sangat dibutuhkan, bahkan membantu menurunkan risiko kolesterol jahat. Selain pada alpukat, lemak tak jenuh tunggal yang sehat juga dapat ditemukan dari minyak zaitun, almond, dan selai kacang.

    2. Kurang Makan Karbo

    Sama seperti lemak, karbohidrat juga menjadi salah satu zat makanan yang paling sering dihindari ketika proses diet. Walaupun memang karbohidrat olahan seperti gula dan roti putih dapat meningkatkan perubahan berat badan, karbohidrat kompleks sebenarnya justru sangat dibutuhkan dalam proses penurunan berat badan.

    Beberapa jenis makanan mengandung karbohidrat kompleks meliputi buncis, oat, kentang, ubi jalar, hingga kacang-kacangan. Menurut ahli kebugaran Jim White, RD, ACSM, mengurangi karbohidrat terlalu rendah justru mempersulit proses penurunan berat badan..

    “Mengurangi karbohidrat sangat memengaruhi tingkat energi dan mereka akhirnya menginginkan lebih banyak karbohidrat. Selain itu, mereka tidak punya banyak energi untuk berolahraga, sehingga sering kali mereka melewatkan latihan,” kata White.

    3. Terlalu Banyak Protein

    Protein memang sangat dibutuhkan dalam proses penurunan berat badan. Protein dapat membantu pembangunan otot tanpa lemak yang membakar kalori saat istirahat dan dapat membantu penurunan berat badan, namun perlu diingat bahwa porsi yang sedang tetap diutamakan.

    “Makan terlalu banyak protein, orang tidak menyadarinya, masih mengandung kalori dan masih bisa berkontribusi terhadap lemak tubuh jika dikonsumsi berlebihan,” kata White.

    Jika rutin berolahraga, jumlah protein yang disarankan untuk dikonsumsi adalah 1,2-1,7 gram protein per kilogram berat badan.

    4. Diet Terlalu Ketat

    Sebagian orang berasumsi adalah membatasi kalori sebanyak mungkin dapat menjadi senjata utama dalam proses penurunan berat badan yang lebih cepat. Nyatanya, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychosomatic Medicine menemukan orang yang melakukan diet rendah kalori secara ketat tidak mengalami penurunan berat badan secara jangka panjang.

    Kondisi tersebut rupanya disebabkan oleh produksi hormon stres kortisol yang berlebihan. Ketika tubuh melepaskan terlalu banyak kortisol, kondisi tersebut akan memberikan sinyal pada tubuh untuk menimbun lemak lebih, terutama di perut.

    “Ketika Anda tidak mengonsumsi cukup kalori, metabolisme Anda akan melambat, Anda tidak memiliki cukup energi untuk berolahraga, dan Anda cenderung makan berlebihan,” kata White.

    5. Makan Banyak Usai Olahraga

    Olahraga memang membantu proses penurunan berat badan, namun perlu diingat bukan berarti usai olahraga bisa sembarangan makan, lho. Olahraga memang membakar kalori, namun tak jarang orang terlalu melebih-lebihkan jumlah kalori yang dibakar dalam sesi berolahraga.

    Karena itu, mereka akhirnya memberikan ‘hadiah’ pada diri sendiri untuk bisa makan secara lebih bebas. Jika ingin mengisi ‘bahan bakar’ usai berolahraga, ada baiknya untuk tetap memperhatikan kalori dan kandungan dari makanan atau camilan yang dikonsumsi.

    (avk/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Dokter Gizi Beberkan Kesalahan saat Diet Ketat, Bisa Berujung Masuk IGD


    Jakarta

    Memiliki berat badan ideal menjadi mimpi banyak orang. Sejumlah cara bahkan dilakukan demi diet agar memiliki bentuk tubuh impian.

    Hanya saja diet tak melulu soal mengurangi porsi makan. Pada orang dengan kondisi tertentu, terlalu mengatur pola makan dengan ketat bisa berujung fatal.

    “Ada juga yang beranggapan kalau niat kurangin makan, pasti bisa turun berat badannya. Lalu apa dampak dari stigma kalo makan pasti turun? Ada yang puasa, nggak makan,” kata spesialis gizi klinik dr Gaga Irawan Nugraha, SpGK(K) kepada media di Jakarta Selatan, Jumat (1/3/2024).


    “Intermittent fasting sampai masuk emergency karena maag-nya kambuh,” sambungnya.

    Dia menambahkan masalah obesitas tak bisa ditangani hanya dengan diet dan olahraga. Beberapa hal yang juga penting dilakukan pengidap obesitas adalah memperhatikan faktor pemicu mereka mengalami kegemukan.

    Obesitas menurutnya juga dipengaruhi faktor lingkungan. Jika seseorang berada di lingkungan yang gemar menyantap makanan cepat saji, misalnya, maka akan sulit untuk mengatur dan menetapkan pola makan yang baik.

    Di sisi lain, otak juga memainkan peran penting dalam mengatur nafsu makan dan metabolisme tubuh. Kemampuan untuk mengeksekusi keinginan makan atau tidak, keinginan untuk olahraga atau tidak merupakan salah satu peran otak bagi tubuh manusia.

    “Kan yang membuat seseorang menolak tawaran makan atau minum itu otak. Yang menyebutkan ‘nggak’ itu kan yang nyuruh otak. Termasuk ketersediaan bahwa saya ingin bangun pagi untuk berolahraga walau semalam bedagang, itu semua kan ada peran dari otak,” tandasnya.

    (Haifa Nur Raidah/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Cerita Diet Tya Ariestya, Sempat Obesitas Tingkat 1 kini Sukses Turun 26 Kg


    Jakarta

    Aktris Tya Ariestya sempat mencuri perhatian usai melakukan program diet yang membuatnya berhasil memangkas 26 kg. Perjalanan dietnya itu dimulai setelah dia disebut mengalami obesitas tingkat 1.

    “Memutuskan diet karena aku sudah obesitas tingkat satu, terus memang aku harus turunin BB (berat badan) karena waktu itu rencananya mau program hamil lagi,” kata Tya saat dijumpai detikcom di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, ditulis Sabtu (10/2/2024).

    Pesinetron berusia 37 tahun ini mulai menjalani diet di tahun 2021 dengan bantuan ahli gizi untuk mengatur asupan makannya. Saat itu berat badannya berada di angka 75 kg setelah melahirkan anak keduanya.


    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penentuan obesitas ditegakkan berdasanan anamnesis dan pemeriksaan antropometri. Penentuan obesitas biasanya melihat body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh (IMT).

    Klasifikasi obesitas tingkat 1 untuk orang Asia menurut WHO yakni jika IMT berada di angka 25-29,9. Namun perlu dicatat bahwa IMT untuk mengukur derajat obesitas tidak dapat dilakukan pada wanita hamil dan binaragawan.

    Setelah satu tahun mengatur pola makan dan olahraga, Tya berhasil turun 26 kg. Menurutnya, kunci agar diet berhasil adalah defisit kalori dan konsisten melakukan aktivitas fisik.

    “Jadi sekarang posisinya sudah mempertahankan. Agar berat badannya nggak balik, olahraga pasti ya. Sekarang harus di maintenance olahraga. Makan tidak boleh terlalu banyak manis-manis,” tandasnya.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com