Tag: puasa

  • Doa Buka Puasa Rajab Arab, Latin dan Artinya Sesuai Sunnah


    Jakarta

    Umat Islam yang tengah menjalankan puasa Rajab bisa membaca doa buka puasa Rajab setelah tiba waktu Maghrib. Sebab, doanya orang yang puasa ketika berbuka itu mustajab.

    Disebutkan dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah karya Raghib As-Sirjani yang diterjemahkan Andi Muhammad Syahrir, keutamaan doanya orang berpuasa ketika berbuka disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al Ashr RA, ia mengatakan mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    إِنَّ لِلصَّابِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ


    Artinya: “Sesungguhnya bagi orang yang berbuka puasa ketika ia berbuka: doa yang tidak akan ditolak.” (HR Ibnu Majah dalam kitab Ash-Shiyam. Al-Bushiri mengatakan sanadnya shahih dan Ibnu Asakir menyatakan hadits ini hasan)

    Imam Ahmad dan lainnya turut mengeluarkan hadits yang menyebut doanya orang yang berpuasa tidak akan tertolak. Rasulullah SAW bersabda,

    ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزْنِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

    Artinya: “Ada tiga orang yang tidak ditolak doanya: imam yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doa orang dizalimi, Allah akan mengangkatnya di atas awan, dan membukakan untuknya pintu-pintu langit dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu walaupun setelah saat ini’.”

    Hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, At-Tirmidzi dalam kitab Ad-Da’wat dan ia mengatakan hadits ini hasan, Ibnu Hibban dalam bab Shiyam, Al Baihaqi dalam kitab Al-Kubra dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah.

    Doa Buka Puasa Rajab

    Imam an-Nawawi dalam kitab Al Adzkar yang diterjemahkan Ulin Nuha memaparkan sejumlah doa buka puasa yang dibaca Rasulullah SAW. Berikut bacaan doa buka puasa Rasulullah SAW:

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

    Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

    Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.” (HR Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud)

    Dalam Sunan Abu Dawud juga terdapat hadits dari Muadz bin Zuhrah yang mengatakan bahwa Nabi SAW jika telah berbuka puasa beliau membaca doa:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

    Allahumma laka shumtu a ‘alaa rezekika afthartu

    Artinya: “Ya Allah, untukmu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka.”

    Selain itu, Imam an-Nawawi juga meriwayatkan doa buka puasa dalam kitab Ibnu Sunni, dari Ibnu Abbas RA, “Jika Rasulullah SAW berbuka puasa beliau membaca:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Allaahumma laka shumnaa wa ‘ala rezekika aftharnaa fataqabbal minnaa innak antas samii’ul ‘aliim

    Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kami berpuasa dan atas rezeki-Mu kami telah berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Dalam kitab Ibnu Sunni juga terdapat bacaan doa buka puasa versi lainnya yang berasal dari riwayat Muadz bin Zuhraj, berikut bacaannya,

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصَمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

    Alhamdulillaahil ladzii a’aani fashamtu wa razaqanii fa afthartu

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa dan telah memberikan rezeki kepadaku sehingga aku dapat berbuka.”

    Sejumlah doa buka puasa di atas tidak spesifik untuk puasa Rajab saja melainkan doa buka puasa secara umum yang bisa dibaca baik dalam puasa wajib maupun sunnah.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Hadits tentang Puasa Ayyamul Bidh dan Keutamaannya


    Jakarta

    Puasa Ayyamul Bidh merupakan salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan. Hal ini dijelaskan dalam sejumlah hadits puasa Ayyamul Bidh.

    Merujuk pada buku Sukseskan Bisnismu dengan 21 Amalan Sunah yang Terbukti Dahsyat karya Ahmad Jarifin, puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu puasa sunnah yang dikerjakan Rasulullah SAW pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan kamariah. Tanggal tersebut bertepatan dengan waktu rembulan bersinar sempurna.

    Terdapat beberapa hadits puasa Ayyamul Bidh. Hadits-hadits ini berisi anjuran untuk tidak meninggalkan puasa Ayyamul Bidh hingga keutamaan bagi yang menjalankannya.


    Hadits Puasa Ayyamul Bidh

    Menukil Syarah Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan Misbah, berikut beberapa hadits puasa Ayyamul Bidh.

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Pertama

    أَوْصَانِي خَلِيْلِيْ ﷺ بِثَلَاثٍ صِيَامُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوَتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan salat Witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Kedua

    أَوْصَانِي حَبِيبِيِّ ﷺ بِثَلَاثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَاعِشْتُ : بِصِيَامٍ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَبِأَنْ لَا أَنَامَ حَتَّى أُوَتِرَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku agar tidak sekali-kali meninggalkan tiga hal selama hidupku, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, salat Dhuha, dan supaya aku tidak tidur sebelum mengerjakan salat Witir. (HR Muslim)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Ketiga

    صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

    Artinya: “Puasa tiga hari setiap bulan itu seperti puasa sepanjang tahun.” (Muttafaq ‘alaih)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Keempat

    أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَقُلْتُ: مِنْ أَيِّ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ الشَّهْرِ يَصُومُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Artinya: “Apakah Rasulullah SAW biasa berpuasa tiga hari setiap bulan? Aisyah menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Pada tanggal berapa beliau berpuasa?’ Aisyah menjawab, ‘Beliau tidak menaruh perhatian pada tanggal berapa beliau berpuasa dari satu bulan’.” (HR Muslim)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Kelima

    إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثًا، فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.

    Artinya: “Apabila kau berpuasa tiga hari dalam suatu bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR At-Tirmidzi)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Keenam

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ أَيَّامِ الْبِيضِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ.

    Artinya: “Rasulullah SAW menyuruh kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh yakni tanggal 13, 14, dan 15.” (HR Abu Dawud)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Ketujuh

    كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ رَوَاهُ النَّسَائِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

    Artinya: “Rasulullah SAW tidak pernah berbuka (selalu berpuasa) pada Ayyamul Bidh, baik beliau berada di rumah maupun sedang bepergian.” (HR An-Nasa’i)

    Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

    Puasa Ayyamul Bidh memiliki sejumlah keutamaan. Merujuk pada sumber sebelumnya, berikut beberapa keutamaan puasa Ayyamul Bidh.

    Puasa Ayyamul Bidh seperti Puasa Sepanjang Masa

    Meskipun hanya melaksanakan puasa selama tiga hari dalam satu bulan, pahala puasa Ayyamul Bidh seperti puasa sepanjang masa. Bahkan, nilainya sama dengan setiap hari seorang muslim berpuasa sepanjang hidupnya.

    Melaksanakan Wasiat Rasulullah SAW

    Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk dan anjuran menuju kebaikan untuk para umatnya. Salah satu petunjuk itu adalah melaksanakan puasa tiga hari dalam satu bulan, yaitu puasa Ayyamul Bidh.

    Mengikuti Kebiasaan Rasulullah SAW

    Tidak hanya memberikan saran kepada para sahabatnya untuk melaksanakan puasa tiga hari dalam satu bulan, Rasulullah SAW juga menjalankannya sepanjang hidupnya. Sebagai umatnya, setiap muslim juga hendaknya mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketentuan Fidyah dalam Islam, Bagaimana Cara Membayarnya?


    Jakarta

    Ramadhan tinggal menghitung bulan. Pada bulan yang mulia itu, seluruh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa.

    Dalil puasa Ramadhan disebutkan dalam surah Al Baqarah ayat 183,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

    Meski termasuk ibadah wajib, ada sejumlah golongan yang dikecualikan dan boleh membayar fidyah. Dalam Islam, fidyah adalah pengganti atau tebusan yang membebaskan seorang mukallaf dari perkara hukum yang berlaku padanya seperti disebutkan dalam buku Kupas Tuntas Fidyah susunan Sutomo Abu Nashr Lc.

    Terkait fidyah termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 184 yang berbunyi,

    وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

    Artinya: “…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin…”

    Ketentuan Membayar Fidyah

    1. Bisa Dibayar dengan Makanan Pokok

    Mengacu pada sumber yang sama, para ulama sepakat bahwa fidyah dapat dibayarkan dengan makanan pokok. Imam Malik dan Imam As-Syafi’i menyebut ketentuan fidyah yang harus dibayar sebesar 1 mud gandum atau sama dengan 0,75 kilogram. Setara telapak tangan yang ditengadahkan saat berdoa.

    Adapun, mazhab Hanafi berpandangan fidyah yang dikeluarkan ialah sebesar 2 mud atau 1/2 sha’ gandum setara dengan 1,5 kg. Biasanya aturan ini digunakan untuk kaum muslimin yang membayar fidyah beras.

    2. Besaran Fidyah dalam Bentuk Uang

    Fidyah dengan uang ini didasarkan dari pendapat mazhab Hanafi. Pembayaran fidyah dengan uang harus sebanding dengan harga makanan pokok yang dikonsumsi.

    Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Terjemah Fiqhul Islam wa Adillatuhu mengatakan bahwa menurut mazhab Hanafi, pemberian makanan untuk fakir miskin adalah memenuhi kebutuhan mereka. Tujuan tersebut bisa tercapai dengan membayar qimah atau nominal harta yang sebanding dengan makanan.

    Merujuk pada SK Ketua BAZNAS Nomor 7 Tahun 2023 mengenai Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, nilai fidyah dalam bentuk uang setara dengan Rp 60.000/hari/jiwa.

    3. Golongan yang Boleh Membayar Fidyah

    Mengutip Kitab Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq, ada empat golongan yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa tetapi wajib membayar fidyah, yakni memberi makan orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya.

    Yang termasuk golongan ini adalah orang tua renta, perempuan yang lemah, orang sakit menahun yang sulit harapan sembuhnya, dan para pekerja berat. Ibnu Abbas RA mengatakan,

    “Orang tua diperbolehkan untuk berbuka. Sebagai gantinya, ia memberikan makanan kepada satu orang miskin untuk setiap harinya. Ia tidak wajib mengqadhanya.” (HR Daruquthni dalam Sunan Daruquthni dan Hakim dalam Mustadrak Hakim. Keduanya mengatakan hadits ini memiliki sanad yang shahih)

    Adapun, yang dimaksud perempuan lemah ialah ibu hamil dan menyusui. Dikhawatirkan kondisi mereka atau anaknya akan terdampak bila berpuasa.

    Sementara itu, terkait orang yang sakit menahun dan sulit diharapkan kesembuhannya maka ia dia dihukumi seperti orang tua yang renta. Oleh sebab itu, wajib baginya membayar fidyah sebagaimana merujuk pada pendapat ulama Syafi’iyyah.

    Mengenai pekerja berat ini merujuk pada pekerja yang melakukan pekerjaan berat dan bila tidak bekerja maka tidak akan mendapat penghasilan. Artinya, pekerjaan berat itu menjadi satu-satunya mata pencaharian mereka.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Bulan Syaban untuk Meminta Umur Sampai pada Ramadhan


    Jakarta

    Bulan Syaban adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriah karena berdekatan dengan bulan suci Ramadhan. Rasulullah SAW bahkan pernah mengajarkan doa bulan Syaban menjelang Ramadhan sebagai amalan untuk menyambutnya.

    Kemuliaan tentang bulan Syaban ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya. Rasulullah SAW bersabda,

    ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ


    Artinya: “Bulan Syaban–bulan antara Rajab dan Ramadhan–adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR Nasa’i)

    Di samping itu, sejumlah hadits menjelaskan, bulan Syaban adalah waktu yang mulia untuk berpuasa sunnah menjelang Ramadhan. Keterangan ini didasarkan dari Anas ibn Malik saat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang puasa yang paling utama. Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Puasa Syaban sebagai penghormatan untuk menyambut puasa Ramadhan.” (HR Tirmidzi)

    Untuk itu, alangkah baiknya bila muslim dapat menyambut bulan Syaban dengan membaca doa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dari riwayat Anas bin Malik RA, berikut bacaan doanya.

    Doa Bulan Syaban Menjelang Ramadhan

    أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان

    Bacaan latin: Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana wa balighna ramadhana

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadhan.”

    Bacaan doa di bulan Syaban diambil dari dalam hadist termaktub dalam Kitab Mishkat Al Masabih oleh al-Imam al-Baghawi terjemahan Yunus Ali Al-Muhdhor. Berikut haditsnya,

    عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ» قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ: «لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ أَغَرُّ وَيَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمٌ أَزْهَرُ»

    Artinya: Anas mengatakan saat Rajab datang Rasulullah SAW berkata, “Ya Allah SWT berkahilan kami di Rajab dan Syaban serta bawalah kami hingga Ramadhan.” Dia juga mengutip Rasulullah SAW saat mengatakan, “Kamis malam adalah saat yang sangat terang dan Jumat adalah hari yang bersinar.”

    Sheikh Ibnu Rajab berpendapat riwayat ini menganjurkan muslim untuk memohon panjang umur dengan niat untuk menambah kebaikan dan beramal saleh di masa mendatang.

    Dikutip dari buku Ringkasan Shahih Muslim susunan Zaki Al-din ‘abd Al-azhim Al-mundziri, selain memanjatkan doa, bulan Syaban juga dapat diisi dengan mengqadha puasa Ramadhan sebelumnya yang ditinggalkan karena uzur tertentu. Istri Rasulullah SAW, Aisyah RA, bahkan diketahui pernah mengganti puasa pada bulan Syaban.

    Berikut bunyi haditsnya dari riwayat Abu Salamah RA dalam Kitab Puasa,

    سَمِعْتُ عَائِشَةَ رضي اللهُ عَنْهَا تَقُولُ : كَانَ يَكُونُ عَلَى الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا اسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ ، الشَّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Artinya: Saya mendengar Aisyah berkata, “Puasa wajib yang saya tinggalkan pada bulan Ramadhan pernah tidak bisa saya ganti, kecuali pada bulan Syaban karena sibuk melayani Rasulullah SAW.” (HR Muslim)

    Hari-hari terakhir Sya’ban 1445 H bertepatan dengan 10-11 Maret 2024 (29-30 Sya’ban) sebagaimana dikutip dari Kalender Hijriah Indonesia 2024 susunan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag. Hal ini dapat dijadikan acuan sebagai batas waktu untuk melunasi utang puasa Ramadhan.

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sahur Penuh Berkah yang Dibaca Rasulullah


    Jakarta

    Sahur atau makan dan minum sebelum puasa adalah hal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Berikut merupakan doa sahur serta amalan yang bisa dilakukan pada waktu tersebut.

    Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan karya Abu Maryam Kautsar Amru, sahur atau “As-Sahuur” berarti “makanan atau minuman yang dimakan pada waktu makan sahur sebelum Subuh”. Hukum dari makan sahur adalah sunnah muakkad atau sunnah yang dikuatkan.

    Keutamaan Sahur

    Sahur memiliki sejumlah keutamaan. Berikut beberapa di antaranya sebagaimana disebutkan dalam hadits.


    1. Makanan yang Penuh Berkah

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Nabi SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Salman RA, Rasulullah SAW bersabda, “Berkah ada pada tiga hal: berjamaah, tsarid (roti remas yang direndam dalam kuah), dan makan sahur.” (HR ath-Thabarani)

    2. Mendapat Sholawat dan Pujian dari Allah serta Doa dari Malaikat

    Keutamaan tersebut disebutkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi SAW bersabda, “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)

    Amalan yang Bisa Dilakukan ketika Sahur

    Ada sejumlah amalan yang bisa dilakukan ketika sahur. Berikut di antaranya.

    1. Membaca Al-Qur’an

    Allah SWT berfirman,

    قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ ٢ نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ ٣ اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ ٤ اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا ٥ اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ ٦

    Artinya: “bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) seperduanya, kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu. Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sesungguhnya bangun malam itu lebih kuat (pengaruhnya terhadap jiwa) dan lebih mantap ucapannya.” (QS Al Muzzammil: 2-6)

    2. Sholat Malam

    Amalan lain yang bisa dilakukan pada waktu sahur adalah sholat malam. Salah satunya sholat Tahajud dan ditutup dengan Witir.

    3. Banyak Berdoa dan Mohon Ampun kepada Allah

    Saran untuk banyak berdoa dan beristighfar kepada Allah SWT pada waktu sahur disebutkan dalam sebuah hadits yang berasal dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,

    “Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang beristighfar meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Doa Sahur

    Rasulullah SAW mencontohkan sejumlah doa yang bisa dibaca ketika sahur. Dikutip dari kitab Al Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan Abu Firly Bassam Taqiy, ketika dalam perjalanan dan tiba waktu sahur, Rasulullah SAW mengucapkan doa berikut,

    سَمِعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ وَحُسْنِ بَلَائِهِ عَلَيْنَا، رَبَّنَا صَاحِبْنَا وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا، عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ

    Samma’a sami’un bihamdillah wa husni balaihi ‘alaina rabbana shohibna wa afdhil ‘alaina ‘aizan billahi minan nari.

    Artinya: “Semoga ada yang mendengar yang menyampaikan pujian kepada Allah, dan cobaan-Nya yang baik kepada kami. Wahai Tuhan kami, lindungilah kami dan berilah kami karunia dengan berlindung kepada Allah dari api neraka.” (HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dalam Al-Yaum wa Al-Lailah, dan Hakim dalam Al-Musadrak)

    Imam an-Nawawi menukil pendapat Al-Qadhi Iyadh dan penulis kitab Al-Mathali’, lafaz samma’a dalam doa tersebut maksudnya sebagai peringatan untuk berzikir dan berdoa pada waktu sahur.

    Rasulullah SAW juga pernah mengajarkan doa untuk dibaca pada pagi dan petang. Doa ini terdapat dalam kitab Sunan Abu Dawud dan Sunan Tirmidzi dari Abu Hurairah RA dan dinyatakan shahih. Berikut bacaannya,

    اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

    Artinya: “Ya Allah, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Yang Mengetahui, yang gaib dan alam nyata, wahai Rabb segala sesuatu dan Yang menguasainya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan kejahatan setan serta gangguannya.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sahur dan Buka Puasa Senin Kamis Sesuai Sunnah


    Jakarta

    Waktu sahur dan buka puasa termasuk waktu mustajab sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadits. Umat Islam bisa mengisi keutamaan waktu tersebut dengan membaca doa sahur dan buka puasa.

    Keutamaan waktu sahur disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Ia mengatakan Rasulullah SAW bersabda,

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ


    Artinya: “Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman: “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dikutip dari buku Puasa Ibadah Kaya Makna karya Budi Handrianto hukum sahur adalah sunnah. Namun, sahur dianjurkan oleh Nabi SAW karena memiliki banyak keberkahan. Diriwayatkan dalam suatu hadits yang berbunyi,

    “Bersahurlah kalian karena di dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Sunnah lain dalam berpuasa adalah menyegerakan berbuka. Hal ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Sahl bin Said, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَلُوا الْفِطْرَ

    Artinya: “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Sementara dalam hadits lain dikatakan, “Para sahabat Nabi Muhammad SAW itu adalah orang-orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat makan sahur.” (HR Baihaqi)

    Makna dari hadits di atas adalah untuk mengerjakan makan sahur dekat dengan waktu subuh agar memperlama rasa lapar muncul saat puasa dan agar tidak kembali tidur. Sementara itu, dianjurkan menyegerakan buka puasa sebab Allah SWT tidak menyukai menunda orang yang membatalkan puasa sampai tersiksa. Pada buka puasa juga terdapat banyak keberkahan di dalamnya.

    Waktu buka puasa juga memiliki keutamaan. Dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah karya Raghib As-Sirjani yang diterjemahkan Andi Muhammad Syahrir terdapat hadits yang menjelaskan keutamaan ini. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al Ashr RA, ia mengatakan mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    إِنَّ لِلصَّابِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

    Artinya: “Sesungguhnya bagi orang yang berbuka puasa ketika ia berbuka: doa yang tidak akan ditolak.” (HR Ibnu Majah dalam kitab Ash-Shiyam. Al-Bushiri mengatakan sanadnya shahih dan Ibnu Asakir menyatakan hadits ini hasan)

    Umat Islam bisa membaca doa ketika sahur dan buka puasa, baik dalam puasa wajib maupun puasa sunnah seperti puasa Senin dan Kamis. Berikut bacaan doanya.

    Bacaan Doa Sahur Puasa Senin Kamis

    سَمِعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ وَحُسْنِ بَلَائِهِ عَلَيْنَا، رَبَّنَا صَاحِبْنَا وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا، عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ

    Samma’a sami’un bihamdillah wa husni balaihi ‘alaina rabbana shohibna wa afdhil ‘alaina ‘aizan billahi minan nari.

    Artinya: “Semoga ada yang mendengar yang menyampaikan pujian kepada Allah, dan cobaan-Nya yang baik kepada kami. Wahai Tuhan kami, lindungilah kami dan berilah kami karunia dengan berlindung kepada Allah dari api neraka.” (HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dalam Al-Yaum wa Al-Lailah, dan Hakim dalam Al-Musadrak)

    Bacaan doa sahur tersebut terdapat dalam kitab Al Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan Abu Firly Bassam Taqiy. Dikatakan, ketika dalam perjalanan dan tiba waktu sahur, Rasulullah SAW mengucapkan doa tersebut.

    Bisa juga membaca doa sahur dengan bacaan istighfar. Berikut bacaannya:

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أَتُوبُ إِلَيْه

    Astaghfirullahal’adzim, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih.

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.”

    Adapun, umat Islam bisa membaca niat sahur puasa dengan bacaan berikut.

    Niat Sahur Puasa Senin:

    نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillâhi ta’aalaa

    Artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Senin karena Allah Ta’aalaa.”

    Niat Sahur Puasa Kamis:

    نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الخَمِيْسِ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma yaumil khamîsi lillâhi ta’âlâ

    Artinya: “Aku berniat puasa sunah hari Kamis karena Allah Ta’aalaa.”

    Niat Sahur Qadha Ramadhan:

    Adapun, bagi umat Islam yang ingin melakukan puasa qadha Ramadhan bersamaan dengan puasa Senin Kamis bisa membaca doa berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta’âlâ.

    Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah Ta’aalaa.”

    Bacaan Doa Buka Puasa

    Ketika memasuki waktu berbuka, umat Islam bisa mengawalinya dengan membaca doa buka puasa. Berikut bacaannya.

    Doa buka puasa versi pertama

    Di dalam buku Doa-doa Mustajab karya KH. Sulaeman Bin Muhammad Bahri, berikut doa buka puasa berdasarkan hadits riwayat Abu Daud.

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

    Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

    Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”

    Doa berbuka puasa versi kedua

    Termaktub dalam kitab Sunan Abu Dawud yang turut dinukil Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar.

    اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa’ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin

    Artinya:” Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Buka Puasa Ramadan Selain Allahumma Lakasumtu Sesuai Sunah


    Jakarta

    Doa buka puasa dengan lafaz awal allahumma lakasumtu adalah bacaan yang populer di kalangan muslim Indonesia. Namun, masih ada sejumlah doa lain yang bisa dibaca sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

    Anjuran membaca doa buka puasa bersandar pada sejumlah hadits. Salah satunya hadits yang berisi keutamaan waktu berbuka puasa. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash RA. Ia mengatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, bagi orang yang berpuasa, pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak.” (HR Ibnu Majah)

    Abdullah bin ‘Amr RA sendiri biasa mengumpulkan anak-anaknya ketika akan berbuka puasa dan mengajaknya berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana diceritakan Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fi Rihabis Sunnah yang diterjemahkan Muhamad Yasir. Imam Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman turut mengeluarkan riwayat mengenai hal ini.


    Doa Abdullah bin ‘Amr RA ini disebutkan dalam sejumlah kitab hadits dan dinukil oleh para ulama. Salah satunya dalam kitab Ash-Shiyam karya Ibnu Majah. Doa ini juga dinukil Raghib As-Sirjani dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa thuruq wa Amaliyah yang diterjemahkan Andi Muhamad Syahrir.

    Bacaan Doa Buka Puasa Ramadan

    Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar yang diterjemahkan Ulin Nuha menyebutkan sejumlah riwayat tentang bacaan doa buka puasa yang dipanjatkan Rasulullah SAW. Berikut di antaranya.

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

    Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

    Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.” (HR Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud)

    Dalam Sunan Abu Dawud juga terdapat hadits dari Muadz bin Zuhrah yang mengatakan bahwa jika telah berbuka puasa, Nabi SAW membaca doa buka puasa berikut ini:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

    Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rezekika afthartu

    Artinya: “Ya Allah, untukmu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka.”

    Dalam kitab Ibnu Sunni juga terdapat bacaan doa buka puasa. Doa ini berasal dari riwayat Ibnu Abbas RA, berikut bacaannya:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Allaahumma laka shumnaa wa ‘ala rezekika aftharnaa fataqabbal minnaa innak antas samii’ul ‘aliim

    Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kami berpuasa dan atas rezeki-Mu kami telah berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Ada juga bacaan doa yang dipanjatkan beberapa menit menjelang buka puasa. Doa ini biasanya dipanjatkan pada waktu mustajab. Berikut bacaannya:

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْئٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

    Allahumma inni as’aluka birahmatika allati wasi’at kulla sya’i an taghfira lii

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku.” (HR Ibnu Majah. Al-Bushiri mengatakan sanadnya shahih. Ibnu Asakir meng-hasankan hadits ini dalam Mu’jam Asy-Syuyukh)

    Doa buka puasa Ramadan tersebut dibaca ketika masuk waktu buka puasa. detikers bisa melihat jadwal buka puasa Ramadan 2024 lengkap semua wilayah di Indonesia melalui laman detikHikmah atau klik di sini Jadwal Buka Puasa.

    Jadwal Buka Puasa Hari Ini

    Wilayah DKI Jakarta pada hari ini, Selasa (12/3/2024), akan memasuki waktu buka puasa pada pukul 18:10 WIB. Berikut jadwal salat selengkapnya.

    • Imsak: 04:33
    • Subuh: 04:43
    • Dzuhur: 12:06
    • Ashar: 15:11
    • Maghrib: 18:10 (Waktu buka puasa)
    • Isya: 19:19

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Doa Buka Puasa, Salah Satu Waktu Mustajab untuk Berdoa


    Jakarta

    Doa buka puasa memiliki arti yang baik dan penuh makna. Arti doa buka puasa menunjukkan ungkapan syukur dan terima kasih atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

    Momen buka puasa menjadi satu hal yang dinanti setiap muslim yang menjalani puasa. Bukan hanya bisa melepaskan haus dan lapar, buka puasa menjadi waktu mustajab untuk berdoa.

    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadist berikut, Rasulullah SAW bersabda,


    ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ

    Artinya: “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: seorang pemimpin yang adil, seorang yang berpuasa saat berbuka dan doa orang yang terzalimi, doanya diangkat di atas awan dan pintu-pintu langit dibukakan.” (HR Tirmidzi no. 2449)

    Arti Doa Buka Puasa

    Setiap doa hendaknya memiliki makna yang baik dan berisi pengharapan kepada Allah SWT. Melansir laman MUI (7/3/2024) berikut beberapa doa buka puasa yang bisa dipanjatkan.

    Doa-doa buka puasa ini tercatat dalam kitab al-Adzkar karya Imam al-Nawawi (w. 676 H.).

    1. Doa Buka Puasa Versi 1

    Doa ini berasal dari riwayat Abu Dawud dari sahabat Ibnu Umar RA, bahwa Rasulullah SAW ketika berbuka puasa berdoa dengan membaca:

    ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

    Latin: Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah

    Artinya: “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.” (HR Abu Dawud no. 2010)

    2. Doa Buka Puasa Versi 2

    Masih riwayat Abu Dawud dari Mu’adz bin Zahrah, ia bercerita bahwa Rasulullah SAW pernah berdoa saat berbuka puasa dengan bacaan sebagai berikut:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

    Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu

    Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR Abu Dawud no. 2011)

    Doa ini populer di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Biasanya doa ditambahkan dengan kalimat berikut,

    اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Latin: Allahummalakasumtu wabika aamantu wa’alarizqika afthortu birohmatikaya ar-hamarrahimin

    Artinya: “Ya Allah Dzat yang Maha Pemurah dari segalanya, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki dan kasih sayang-Mu aku berbuka.”

    3. Doa Buka Puasa Versi 3

    Doa ini berasal dari riwayat Ibnu Sunni dari Mu’adz bin Zahrah:

    الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ

    Latin: Alhamdulillahilladzi a’aananii fashamtu, wa razaqanii faafthartu

    Artinya:” Segala puji bagi Allah yang menolongku maka aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.” (HR Ibnu Sunni)

    4. Doa Buka Puasa Versi 4

    Masih berdasarkan riwayat dari Ibnu Sunni, dari sahabat Ibnu Abbas:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنا، وَعلى رِزْقِكَ أَفْطَرْنا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

    Latin: Allahumma shumnaa, wa ‘alaa rizqika aftharnaa, fataqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim

    Artinya: “Ya Allah, karena Kamu kami berpuasa, dan dengan rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (HR Ibnu Sunni)

    5. Doa Buka Puasa Versi 5

    Doa buka puasa ini berdasarkan riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Sunni, dari Ibnu Umar yang berdoa:

    اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

    Latin: Allahumma inni asaluka birahmatikallatii wasi’at kulla syaiin antaghfira lii

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”

    Doa buka puasa bisa dibaca saat hendak membatalkan puasa karena telah tergelincirnya matahari. Ada juga yang berpendapat doa buka puasa khususnya dari riwayat Abu Dawud dibaca setelah membatalkan puasa karena arti doa itu “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.”

    Rasulullah SAW menganjurkan untuk menyegerakan waktu berbuka puasa bagi muslim yang menjalaninya.

    Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka.” (HR Ahmad)

    Dalam buku Syarah Hadits Pilihan Bukhari-Muslim oleh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam, dijelaskan makna hadits tersebut, waktu terbenamnya matahari sebagai tanda berbuka bagi orang yang berpuasa, maka beliau memerintahkannya untuk segera berbuka pada awal waktu dan mengabarkan, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka.” Dengan begitu umat muslim tetap memelihara As-Sunnah.

    Lebih lanjut dijelaskan, ketika seorang muslim mengakhirkan waktu berbuka maka itu merupakan bukti hilangnya kebaikan dari mereka, karena mereka meninggalkan sunah, yang faedah agamanya juga kembali kepada diri mereka sendiri, yaitu mengikuti sunah. Di samping itu terdapat faedah keduniaan, yaitu menjaga fisik orang yang berpuasa agar tetap kuat dengan makanan dan minuman.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Niat Puasa Ramadan 1 Hari dan Sebulan Penuh


    Jakarta

    Doa atau niat puasa Ramadan wajib dibaca sebelum melakukan puasa. Jika lupa membacanya, puasa yang diamalkan dihukumi tidak sah.

    Menurut buku 10 Malam Akhir Ramadhan karya Shabri Shaleh Anwar, ada sebuah hadits yang menerangkan ketidaksahannya berpuasa tanpa membaca niat puasa Ramadan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tidak niat berpuasa sebelum Fajar, maka tidak ada puasa baginya (tidak sah).” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)

    Adapun hadits lainnya yang senada dengan hadits diatas, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu puasa bagi orang yang tidak meniatkannya dari malam hari.” (Shahih: Al Irwa’, Shahih Abu Daud).


    Lalu, bagaimana bacaan doa niat puasa dan kapan harus dibaca? Berikut penjelasannya.

    Doa Niat Puasa Ramadan 1 Hari dan Sebulan

    Dikutip dari buku Ramadhan dan Pembangkit Esensi Insan: Pengajian 30 Malam Ramadhan karya Shabri Shaleh Anwar, terdapat dua versi niat puasa yang pertama bisa dibaca harian atau sebulan.

    Berniat tiap malam sebelum puasa Ramadan dipedomani oleh Imam Syafi’i. Menurutnya, niat puasa perlu diamalkan pada tiap-tiap malam. Bacaan niat ini dapat dibaca dan diulang setiap hari dalam rentang waktu Magrib sampai sebelum waktu Subuh.

    Sementara itu, Imam Hanafi berpendapat, “Sah niat Ramadan dan tiap-tiap puasa yang diwajibkan dengan berniat pada siang harinya.”

    1. Bacan Niat Puasa Ramadan Harian

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.

    Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”

    2. Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh

    Niat ini dapat dibaca satu kali untuk sebulan penuh sebab puasa Ramadan itu merupakan satu kesatuan ibadah, hal ini berdasarkan pendapat Imam Maliki dan Ahmad. Kedua mazhab tersebut berpendapat, niat puasa Ramadan sudah sah dan cukup dilakukan satu kali untuk sebulan, jika berniat akan berpuasa sebulan lamanya.

    Adapun bacaan niat untuk sebulan penuh sebagai berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.

    Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.”

    Waktu Membaca Niat Puasa Ramadan

    Dikutip dari buku Inilah Alasan Rasulullah SAW Menganjurkan Puasa Sunah karya H. AmIrulloh Syarbini dan Hj. Iis Nur’aeni Afgandi. Menurut Mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap hari pada malam hari mulai dari waktu Maghrib sampai sebelum fajar. Apabila tidak dikerjakan maka puasa yang dijalankan tidak akan sah.

    Berikut tata cara membaca niat puasa Ramadan.

    1. Mulai dibaca setelah Magrib hingga waktu Subuh

    Niat puasa Ramadan harus diamalkan pada rentang waktu tersebut. Jika tidak, puasa dianggap tidak sah sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang telah dibahas di awal.

    2. Dibaca dengan Lisan dan Dalam Hati

    Niat puasa Ramadhan dianggap sah saat dilafalkan dalam hati, Namun, hukumnya sunnah jika diucapkan dengan lisan. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab I’anatu Thalibin oleh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho terjemahan M Syihabuddin Dimyath.

    “Niat itu dengan hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya. Tetapi mengucapkan niat itu disunahkan,” demikian keterangannya.

    Keutamaan Puasa Ramadan

    Adapun berbagai keutamaan dari puasa Ramadan yang muslim perlu tahu, seperti yang dikutip dari buku 9 Kenikmatan Bulan Ramadhan karya Dr H Abdur Rokhim SQ MA, berikut penjelasannya.

    1. Diampuni Dosa-dosa yang Lalu

    Keutamaan puasa yang pertama ialah diampuni segala dosa yang telah diperbuat, Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan dilandasi iman dan ikhlas mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang lalu,” (HR Al-Bukhari)

    2. Pahala dari Allah SWT

    Keutamaan puasa Ramadan berikutnya ialah pahala langsung oleh Allah SWT. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Setiap amal ibnu Adam (manusia) dilipatgandakan, kebaikan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman: ‘kecuali puasa, sesungguhnya puasa milikku, dan saya akan membalasnya. Ia (orang puasa) meninggalkan syahwat dan makan karena-Ku’.” (HR Imam Muslim)

    3. Diampuni Segala Dosa

    Keutamaan puasa Ramadan lainnya yaitu sebagai penebus dosa sampai datangnya Ramadan berikutnya, hal ini dijelaskan pada hadits yang berbunyi, “Jarak antara salat lima waktu, salat Jumat dengan Jumat berikutnya dan puasa Ramadan dengan Ramadan berikutnya merupakan penebus dosa-­dosa yang ada di antaranya, apabila tidak melakukan dosa besar.” (HR Muslim)

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Buka Puasa Ramadan: Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Doa buka puasa Ramadan bisa dipanjatkan saat azan Magrib. Ada beberapa doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

    Menurut Abu Aunillah Al-Baijury dalam Buku Pintar Agama Islam, puasa adalah rukun Islam ketiga. Puasa diartikan sebagai menahan diri dari makan, minum, nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

    Dalil hukum menjalankan ibadah puasa terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi sebagai berikut,


    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Arab-Latin: Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus-siyamu kama kutiba ‘alalladzina mingqablikum la’allakum tattaqụn

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

    Setiap muslim yang berpuasa memiliki kesempatan untuk mendapatkan pahala, bahkan saat berbuka puasa, sesuai yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits. Dalam riwayat Tirmidzi, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bagi orang yang berpuasa ketika sedang berbuka, doanya tidak akan ditolak.”

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW menganjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Waktu buka puasa jatuh saat matahari terbenam. Rasulullah SAW bersabda,

    إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا، وَجَاءَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

    Artinya: “Jika telah terbenam matahari dari sini dan malam telah tiba, orang yang berpuasa telah berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya)

    Doa Buka Puasa

    Mengutip buku Ramadan Bersama Rasul: Panduan Ibadah di Bulan Suci Ramadan oleh Alvian Iqbal Zahasfan, berikut beberapa doa buka puasa Ramadan yang bisa dibaca.

    Doa Buka Puasa 1

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

    Bacaan latin: Dzahabadh dhoma-u wabtalatil uruqu watsabatal ajru insyaallah.

    Artinya: “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala insyaallah.” (HR Abu Dawud)

    Doa Buka Puasa 2

    اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

    Bacaan latin: Allaahumma lakasumtu wa’alaa rizqika afthortu

    Artinya: “Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka (puasa).” (HR Abu Dawud)

    Doa Buka Puasa 3

    الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ

    Bacaan latin: Alhamdulillahilladzi a’aananii fashamtu, wa razaqanii faafthartu

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang menolongku maka aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.” (HR Ibnu Sunni)

    Doa Buka Puasa 4

    اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

    Bacaan latin: Allahumma inni asaluka birahmatikallatii wasi’at kulla syaiin antaghfira lii

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Sunni)

    Doa Buka Puasa 5

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Bacaan latin: Allaahumma laka shumnaa wa ‘ala rezekika aftharnaa fataqabbal minnaa innak antas samii’ul ‘aliim

    Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kami berpuasa dan atas rezeki-Mu kami telah berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Bacaan doa buka puasa di atas terdapat dalam kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan Ulin Nuha. Imam an-Nawawi menukilnya dari kitab Ibnu Sunni.

    Cara Berbuka Puasa Ala Rasulullah SAW

    Dalam bukunya yang berjudul Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah: Rekomendasi Rasulullah, Amirulloh Syarbini & Sumantri Jamhari menyebutkan beberapa cara Rasulullah SAW ketika berbuka puasa. Begini urutannya:

    1. Menyegerakan Berbuka Puasa

    Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad, Rasulullah SAW bersabda,

    لا يَزَالُ النَّاسُ بِغَيْرِ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

    Artinya: “Manusia selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Darami, Malik, Baihaqi, Ahmad dan Tirmidzi)

    2. Berdoa sebelum Berbuka Puasa

    Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak; 1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, 2) pemimpin yang adil, 3) dan orang yang terdzalimi.” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Tirmidzi)

    3. Buka Puasa dengan Kurma atau Air Putih

    Rasulullah SAW menganjurkan untuk berbuka puasa dengan menyantap kurma. Jika tidak tersedia buah tersebut, beliau akan meneguk air putih.

    Hal itu berdasarkan riwayat Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa kurma yang masih basah sebelum salat (Magrib). Jika tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan meminum air.” (HR Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi & Hakim)

    Mengapa Rasulullah SAW memilih kurma sebagai santapan berbuka puasa? Ternyata ada dalil yang menjelaskan hal itu.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah dalam kitabnya Bulugh al-Maram, menyebutkan sebuah hadits yang artinya: Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamar (kurma kering). Sebab, kurma mendatangkan berkah. Jika tidak ada kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu menyucikan.”

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com