Tag: quraish

  • Ini 3 Doa Nabi Sulaiman AS yang Tercantum dalam Al-Qur’an, Mustajab!


    Jakarta

    Nabi Sulaiman AS merupakan salah satu nabi yang dianugerahi nikmat besar oleh Allah SWT. Selain dikenal sebagai seorang nabi, beliau juga seorang raja dengan kerajaan besar dan kekayaan yang melimpah.

    Allah SWT juga memberikan mukjizat-mukjizat luar biasa kepada Nabi Sulaiman AS, seperti kemampuan berbicara dengan binatang, menundukkan jin, dan menguasai angin.

    Segala nikmat yang dimiliki Nabi Sulaiman AS ini tidak lepas dari doa-doa yang selalu beliau panjatkan kepada Allah SWT. Doa-doa ini selalu mustajab, hingga diabadikan dalam Al-Qur’an. Berikut beberapa doa Nabi Sulaiman AS yang juga bisa dipanjatkan oleh setiap muslim.


    Doa Nabi Sulaiman AS

    Berikut adalah 3 doa Nabi Sulaiman AS yang selalu dikabulkan Allah SWT serta diabadikan dalam Al-Qur’an.

    1. Doa Nabi Sulaiman AS Memohon Kekayaan

    Dikutip dari buku Doa dalam Al-Quran dan Sunnah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab, Nabi Sulaiman AS memohon kepada Allah SWT agar diberikan kerajaan besar yang tidak dimiliki oleh siapa pun sebelumnya dengan membaca doa berikut.

    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

    Arab latin: Rabbighfir lî wa hab lî mulkal lâ yambaghî li’aḫadim mim ba’dî, innaka antal-wahhâb

    Artinya: “Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

    Doa Nabi Sulaiman AS memohon kekayaan ini diabadikan dalam surah Shad ayat 35.

    2. Doa Nabi Sulaiman AS agar Selalu Bersyukur

    Nabi Sulaiman AS juga berdoa ketika menyadari betapa banyak anugerah Allah SWT kepada beliau, di antaranya adalah kemampuan memahami bahasa semut. Nabi Sulaiman AS berdoa:

    رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

    Arab latin: Rabbi auzi’nî an asykura ni’matakallatî an’amta ‘alayya wa ‘alâ wâlidayya wa an a’mala shâliḫan tardlâhu wa adkhilnî biraḫmatika fî ‘ibâdikash-shâliḫîn

    Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

    Doa Nabi Sulaiman AS agar selalu bersyukur ini diabadikan dalam surah An-Naml ayat 19.

    3. Doa Nabi Sulaiman AS untuk Meluluhkan Hati Seseorang

    Nabi Sulaiman AS mengirim surat kepada Ratu Balqis yang berisi seruan untuk taat kepada Allah SWT, taat kepada rasul-Nya, kembali kepada-Nya, serta tunduk untuk bergabung dalam kekuasaan rasul-Nya. Dalam surat itu, terdapat sebuah doa yang terkandung dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 30-31. Berikut bacaan doa nya:

    بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيۡمِۙ اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَىَّ وَاۡتُوۡنِىۡ مُسۡلِمِيۡنَ

    Arab latin: Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm. allâ ta’lû ‘alayya wa’tûnî muslimîn

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri!”

    Itulah beberapa doa Nabi Sulaiman AS yang beliau panjatkan. Doa-doa tersebut tidak hanya khusus bagi Nabi Sulaiman AS, tetapi juga dapat menjadi amalan bagi setiap muslim.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ayah Nabi Muhammad Bernama Abdullah, Ini Kisah Hidup dan Wafatnya


    Jakarta

    Ayah Nabi Muhammad SAW bernama Abdullah bin Abdul Muthalib. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam.

    Sayangnya, Nabi Muhammad SAW tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Sebab, Abdullah wafat saat Nabi SAW masih dalam kandungan. Nabi Muhammad SAW tumbuh besar tanpa didampingi oleh ayah kandungnya.

    Kisah Ayah Nabi Muhammad yang Hampir Dikorbankan

    Dalam buku Kisah Keluarga Rasulullah SAW untuk Anak karya Nurul Idun dkk, diceritakan bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Muhammad SAW, dikenal sebagai sosok yang jujur dan saleh sejak kecil.


    Sebagai putra dari Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy yang sangat dihormati, Abdullah juga dikenal mahir memainkan pedang, berburu, dan berniaga. Kehidupan Abdullah mulai menarik perhatian publik ketika ayahnya, Abdul Muthalib, membuat nazar kepada Allah SWT.

    Abdul Muthalib berjanji jika Allah SWT memberinya banyak anak yang kelak akan menjadi penjaganya, ia akan mengorbankan salah satu di antaranya. Nazar ini akhirnya jatuh kepada Abdullah, yang kemudian menjadi pusat perhatian masyarakat Makkah.

    Banyak penduduk menentang eksekusi nazar tersebut, karena Abdullah dikenal memiliki nasab yang mulia, dan kekhawatiran muncul jika hal ini akan menjadi contoh buruk bagi generasi berikutnya.

    Merangkum dari buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim, para pembesar Quraisy kemudian berusaha mencari solusi agar Abdullah tidak dikorbankan.

    Mereka mendatangi seorang peramal untuk mencari jalan keluar. Sang peramal menyarankan agar diundi antara Abdullah dan unta. Setiap kali nama Abdullah terpilih, maka sepuluh unta harus disembelih sebagai gantinya.

    Setelah sepuluh kali nama Abdullah terpilih dalam undian, akhirnya pada undian ke sebelas nama unta yang keluar, dan dengan demikian Abdullah terbebas dari nazar. Abdul Muthalib kemudian menyembelih 100 ekor unta sebagai ganti pengorbanan anaknya, dan dagingnya dibagikan kepada penduduk Makkah sebagai bentuk rasa syukur.

    Abdullah pun tumbuh dewasa dan kelak menjadi ayah dari Nabi Muhammad SAW, sosok yang sangat dihormati dan dicintai oleh umat Islam di seluruh dunia.

    Meninggalnya Abdullah Ayah Nabi Muhammad

    Menurut buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim, ayah Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib, meninggal dalam perjalanan kafilah antara Makkah dan Madinah setelah jatuh sakit selama perjalanan tersebut.

    Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad: Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih susunan M. Quraish Shihab, disebutkan bahwa Abdullah wafat pada usia yang sangat muda, yaitu delapan belas tahun menurut riwayat yang paling populer. Namun, ada juga riwayat yang menyatakan usianya ketika wafat adalah dua puluh lima atau tiga puluh tahun.

    Meskipun meninggal di usia muda, Abdullah tetap merupakan sosok penting dalam sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.

    Beberapa pendapat mengatakan bahwa Abdullah wafat ketika usia kandungan Nabi Muhammad masih tiga bulan, sementara sumber lain menyebutkan enam bulan, sebagaimana dikemukakan dalam buku Jejak Intelektual Pendidikan Islam karya Zaitur Rahem dan Mengenal Mukjizat 25 Nabi karya Eka Satria P dan Arif Hidayah.

    Beberapa bulan setelah kematian Abdullah, pada 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah, Rasulullah SAW lahir, tepatnya pada hari Senin. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com