Tag: rasulullah saw

  • Isi Khutbah Terakhir Rasulullah, Tekankan Bahwa Setiap Muslim Bersaudara



    Jakarta

    Banyak pesan yang telah disampaikan Rasulullah SAW dalam khutbahnya. Salah satunya yakni menekankan bahwa setiap muslim bersaudara, pesan ini disampaikan saat khutbah terakhir Rasulullah SAW sebelum wafat.

    Sebagai utusan Allah dalam menyampaikan ajaran dan menyempurnakan akidah manusia, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah terakhirnya ketika menjalani ibadah haji. Sebelum wafat pada usia 63 tahun, Rasulullah SAW menjalani ibadah haji yang kemudian dikenal sebagai Haji Wada atau haji perpisahan.

    Disampaikan di Padang Arafah

    Mengutip buku Khutbah Nabi: Terlengkap dan Terpilih oleh Muhammad Khalil Khathib, dikisahkan setelah Rasulullah SAW berwukuf di Arafah dan memperlihatkan cara ibadah haji, beliau memanggil seluruh umat muslim dari atas untanya agar mereka berkumpul di sekelilingnya. Seruan beliau diulangi oleh Rabi’ah ibn Umayyah ibn Ghalaf dengan sangat keras.


    Dengan tenang, di atas gunung Jabal Rahmah yang tingginya 200 kaki atau sekitar 61 meter, Rasulullah SAW duduk di atas punggung unta betina yang bernama al-Qushwa. Di atas punggung unta ini Rasullullah SAW menyampaikan pidatonya yang dikenal dengan Khutbah al-Wada’. Dinamakan demikian karena pidato tersebut merupakan pidatonya yang terakhir atau perpisahan.

    Saat itu beliau menyampaikan apa yang diketahuinya pada kurang lebih 140.000 kaum muslim di Padang Arafah. Khutbah ini disampaikan pada tanggal 9 Zulhijah tahun 10 Kalender Hijriyah atau bertepatan 6 Maret 632 Masehi. Di uranah lembah Gunung Arafah.

    Dalam sebuah riwayat dari Abdurrahman ibn Mu’adz al-Taimi, ia berkata, “Rasulullah SAW menyampaikan pidato kepada kami di Mina, pendengaran kami seakan dibuka sehingga kami mendengarkan apapun yang beliau katakan, padahal kami masih berada di dalam rumah.”

    Isi Khutbah Terakhir Rasulullah

    Apabila dikompilasi, khutbah Rasulullah berkaitan dengan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, persaudaraan sesama muslim, penghapusan riba, larangan menzalimi, penghapusan dosa-dosa masa lalu, relasi suami istri, relasi antarmanusia, pegangan atau sumber utama Islam berupa Al Qur’an dan sunnah, juga tentang warisan.

    Pesan khutbah terakhir Rasulullah SAW diriwayatkan Jarir RA:

    “Sungguh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda padanya, pada Haji Wada’ (Haji perpisahan/haji Nabi SAW yang terakhir). Simaklah dengan baik wahai orang-orang, lalu beliau bersabda: “Jangan kalian kembali kepada kekufuran setelah aku wafat, saling bunuh dan memerangi satu sama lain,” (Shahih Bukhari).

    Setelah memuji dan bersyukur kepada Allah SWT, Rasulullah SAW kemudian mengatakan:

    “Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengar teliti kata-kata ku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini,”

    “Wahai manusia sebagaimana kamu menganggap bulan ini, dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah yang suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak, janganlah kamu sakiti siapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu, dan Dia pasti akan membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang,”

    “Berwaspadalah terhadap Syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya tidak mengikuti dalam perkara-perkara kecil,”

    “Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai hak di atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina,”

    “Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kata ku ini, sembahlah Allah dirikanlah sembahyang lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan dan tunaikan zakat dan harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ‘ibadah haji’ sekiranya kamu mampu. Ketahuilah setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan beramal saleh,”

    “Ingatlah, bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan di atas apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu, awaslah agar jangan sekali-kali kamu terluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku,”

    “Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi dan Rasul yang akan datang selepas ku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kata ku yang telah aku sampaikan kepada kamu,

    “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al Qur’an dan sunnahku,”

    Bukti Cinta Rasulullah Pada Umatnya

    Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu Salamah, di hari-hari sakitnya, Nabi Muhammad berwasiat tentang sholat dan menjaga budak. Menurutnya, beliau terus-terusan mengucapkan hal ini hingga lisannya tidak lagi fasih.

    Dalam buku Samudra Keteladanan Muhammad oleh Nurul H. Maarif dijelaskan bahwa Beliau juga sering sekali menyebut umatnya. Beliau mengkhawatirkan azab bagi umatnya, yang menjadikannya terus menangis.

    Bahkan, dalam riwayat Imam Muslim, Jabir bin Abdullah al-Anshari menyatakan dirinya mendengar Nabi Muhammad menyampaikan tiga pesan, yakni tiga hari sebelum wafatnya.

    عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما : أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل موته بثلاثة أيام، يقول: «لا يَمُوتَنَّ أحدُكم إلا وهو يُحسنُ الظَّنَّ بالله عز وجل

    Artinya: Janganlah seseorang dari kalian meninggal dunia kecuali berbaik sangka pada Allah. (HR Muslim, dan lain-lain).

    Itulah beberapa wasiat terakhir seorang pemimpin agung yang begitu mencintai umatnya dengan tulus. Dalam khutbah terakhir Rasulullah, beliau mencoba menyampaikan, menegaskan, sekaligus mengingatkan umatnya akan tantangan zaman selepas ditinggalkan olehnya. Seluruh pikiran, waktu, dan tenaganya tercurah untuk umatnya. Bahkan hingga hembusan nafas terakhirnya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Contoh Ceramah Menyambut Bulan Ramadan, Penuh Makna dan Hikmah



    Jakarta

    Ramadan menjadi momen di mana umat Islam meningkatkan pengetahuan mereka terkait agama. Sehingga tak sedikit dari mereka ingin mendengar ceramah dan pidato yang disampaikan para pemangku keagamaan.

    Adapun tujuan ceramah yang diperdengarkan ini sebagaimana mengutip detikEdu, untuk memberi nasihat serta petunjuk keagamaan kepada kaum muslim. Selain itu, pidato yang dimaksud juga supaya mendorong mereka berbuat tindakan yang mengarah pada kebajikan.

    Berikut pidato singkat tentang Ramadan yang bisa disampaikan, yang dinukil dari buku Majalis Syahri Ramadhan karya Syekh Muhammad bin Shalih Utsaimin, dan buku Islam Rahmat Bagi Alam Semesta susunan Tim Penceramah JIC.


    Contoh Pidato Singkat tentang Bulan Ramadan

    1.Keutamaan Bulan Ramadhan

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk-Nya. Penguasa alam semesta. Karunia-Nya tak terhingga.

    Shalawat dan salam teruntuk junjungan mulia, Muhammad SAW. Semoga kita dapat mengikuti sunahnya.

    Saudara-saudaraku, kini kita dinaungi bulan yang mulia, musim yang agung, yang di dalamnya Allah SWT melipatgandakan pahala dan memperbanyak pemberian, serta membukakan pintu-pintu kebaikan bagi semua orang yang menginginkannya.

    Bulan ini adalah bulan yang penuh kebaikan dan berkah, bulan pemberian dan kasih sayang, bulan yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai bukti mengenai bimbingan serta sebagai pembeda antara yang salah dan yang benar. Juga bulan yang diliputi rahmat, ampunan, dan keselamatan dari siksa neraka.

    Disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasul SAW pernah bersabda, “Bila bulan Ramadhan datang maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, serta diikatlah setan-setan.”

    Dibukanya pintu-pintu surga pada bulan ini disebabkan banyaknya amal sholeh yang dikerjakan orang, sekaligus untuk menggemarkan orang-orang beramal. Sedangkan ditutupnya pintu-pintu neraka dikarenakan sedikitnya kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang beriman.

    Adapun diikatnya setan-setan memiliki pengertian bahwa mereka tidak dapat mengganggu orang-orang yang baik itu sebagaimana yang dapat mereka lakukan pada bulan lain.

    Imam Ahmad meriwayatkan suatu hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: “Di dalam bulan Ramadan umatku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada umat-umat sebelumnya:

    (1) Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak kesturi. (2) Para malaikat selalu memintakan ampunan untuk mereka hingga mereka berbuka. (3) Setiap hari Allah SWT menghias surga-Nya sambil berkata, ‘Hamba-hamba-Ku yang sholeh ingin melepas beban dan penderitaannya dan mereka rindu untuk memasukimu.’

    (4) Pada bulan ini diikatlah setan-setan yang durhaka sehingga mereka tidak leluasa mencapai apa yang dapat dicapainya pada bulan lain. (5) Mereka diampuni oleh Allah SWT pada malam yang terakhir dari bulan itu.

    Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah itu malam Lailatul-Qadar?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, karena orang yang bekerja itu akan dipenuhi upahnya manakala sudah menyelesaikan pekerjaannya.”

    Saudara-saudaraku, inilah lima perkara yang Allah SWT simpan dan anugerahkan khusus hanya untuk kalian, bukan diperuntukkan bagi umat yang lain, karena DIa hendak menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian.

    Nah, berapa banyak nikmat Allah SWT yang telah diberikan untuk kalian? Dia berfirman: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…. (Ali Imran: 110)”

    Pertama, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak kesturi. Padahal, bau yang keluar dari mulut ketika perut dalam keadaan kosong merupakan bau yang tidak disenangi orang. Namun di sisi-Nya hal ini lebih harum dibandingkan parfum jenis apa pun.

    Sebab bau tersebut timbul dari ketaatan beribadah kepada-Nya. Segala sesuatu yang timbul dari beribadah dan sikap menaati Allah disukai oleh-Nya dan akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih mulia. Tidakkah Anda lihat orang yang mati

    Kedua, para malaikat memintakan ampun bagi mereka hingga mereka berbuka, sedangkan malaikat adalah hamba-hamba Allah SWT yang dimuliakan di sisi-Nya, yang tidak pernah melanggar perintah-Nya, dan selalu melaksanakan apa pun yang diperintahkan-Nya.

    Maka sudah sewajarnyalah kalau Allah SWT mengabulkan permohonan mereka untuk orang-orang yang berpuasa itu, yang memang sudah diizinkan oleh-Nya.

    Ketiga, Allah SWT menghiasi surga-Nya setiap hari sambil berkata: “Hamba-hamba-Ku yang sholeh ingin melepaskan beban dan penderitaannya dan mereka sangat ingin memasukimu.” Allah SWT menghiasi surga-Nya setiap hari merupakan persiapan untuk menyambut para hamba-Nya yang baik dan untuk menambah semangat mereka agar semakin berkeinginan untuk masuk ke dalamnya.

    Keempat, Setan-setan diikat dengan rantai dan belenggu sehingga mereka tidak dapat menyesatkan hamba-hamba Allah yang sholeh dari kebenaran. Hal ini termasuk pertolongan Allah SWT kepada mereka (hamba-hamba yang sholeh) dengan cara menahan musuh-musuh mereka yang senantiasa mengajak para pengikutnya menuju neraka.

    Oleh karena itu, bisa didapati orang-orang yang sholeh pada bulan Ramadan ini lebih bersemangat untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemunkaran dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

    Kelima, Allah SWT mengampuni seluruh dosa umat Nabi SAW pada akhir bulan ini apabila mereka melaksanakan apa-apa yang seharusnya mereka laksanakan pada bulan yang penuh berkah ini, baik berupa puasa maupun shalawat sebagai suatu keutamaan dari-Nya.

    Dalam hal ini Allah SWT menyempurnakan pahala mereka setelah mereka usai melaksanakan amalan-amalan, karena sebagaimana orang yang bekerja, tentulah akan disempurnakan upahnya setelah pekerjaannya selesai.

    Saudara-saudaraku, datangnya bulan suci Ramadan merupakan nikmat yang paling besar bagi orang yang mendapatinya dan menunaikan hak-haknya dengan kembali kepada Rabb-nya; lepas dari kemaksiatan menuju kepada ketaatan, terhindar dari kelalaian menuju kepada dzikir, dan yang jauh dari-Nya kini kembali mendekat kepada-Nya.

    Demikianlah, keutamaan dari bulan Ramadan ini, semoga menjadi motivasi bagi kita agar bisa menjalankan puasa beserta amal sholeh lainnya yang mendatangkan kebaikan.

    Allahumma ainna ‘ala dzikrika wasyukrika wahusni ibadatika. Aamiin ya rabbal alamin.
    Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

    Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

    2. Hikmah Puasa Ramadan

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk-Nya. Penguasa alam semesta. Karunia-Nya tak terhingga.

    Shalawat dan salam teruntuk junjungan mulia, Muhammad SAW. Semoga kita dapat mengikuti sunahnya.

    Seluruh perintah Allah SWT kepada umat manusia untuk beribadah memiliki tujuan “tazkiyah al-nafs” (membersihkan jiwa). Ini penting kita pahami agar puasa Ramadhan yang kita jalani, bermakna di dalam diri kita.

    Saudara kita kaum muslimin di penjuru dunia dilanda banyak musibah, ditandai dengan kurang bersatunya umat Islam (internal), sampai konspirasi global untuk menuduh umat Islam sebagai umat yang tidak beradab (eksternal); sebutan teroris selalu dialamatkan kepada umat Islam.

    Ramadan merupakan “syahr al-tarbiyah” untuk membentuk manusia yang bertakwa. Puasa bulan Ramadan mengandung beberapa hikmah. Hikmah yang pertama adalah kehidupan akhirat.

    Puasa di bulan Ramadan pada dasarnya adalah membangun obsesi terbesar untuk kehidupan akhirat, tidak lagi terjebak dengan kepentingan dunia, sekalipun dunia merupakan “mazra’at al-akhirah”, ladang untuk menuju akhirat.

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 269: “Barang siapa yang diberikan hikmah dari Allah, maka sesungguhnya mereka diberikan oleh Allah sesuatu kebaikan yang banyak.”

    Sebenarnya banyak kesempatan bagi kaum muslimin untuk memperbaiki diri, tetapi sebagian mereka terperangkap dalam obsesi-obsesi dunianya. Seseorang yang diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki diri dan negerinya melalui jabatan yang dimilikinya, justru membuat ia terlena dengan kehidupan dunia dan lupa dengan kehidupan akhirat.

    Seseorang yang diberi kemudahan oleh Allah SWT berupa ilmu, seharusnya dapat memberikan pelita, pencerahan kepada masyarakat. Akan tetapi tidak sedikit orang yang berilmu tenggelam dalam kesombongan intelektualitasnya, bahkan berani mempermainkan Al-Qur’an dan Hadits demi membangun popularitas.

    Pada bulan Ramadan ini, seharusnya kepentingan akhirat dijadikan sebagai obsesi yang paling besar dalam kehidupan, bukan kepentingan dunia.

    Kita harus meninggalkan yang haram, syubhat, semata-mata demi menuju kehidupan akhirat. Karena itu kaki dan badan kita tidak akan merasa berat menghujam bumi ketika dipanggil untuk berjihad di jalan Allah SWT.

    Kaum muslimin pernah di tegur oleh Allah SWT, karena sebagian dari mereka enggan berjihad di jalan-Nya, disebabkan tarik menarik dengan kepentingan dunia. Allah SWT mengingatkan kaum muslimin bahwa dunia dan isinya adalah “qalil” (sedikit) bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

    Hikmah yang kedua adalah “Bina-u al-hasasiyyati al-ijti- ma’iyyah”, membangun sensitivitas sosial, membangun kepekaan sosial. Di bulan Ramadan ini, kita dididik oleh Allah SWT untuk menghidupkan “al-‘amal al-jama’i”, menghidupkan amal, kerja secara kolektif dan berjamaah. Bila suatu pekerjaan hanya dilakukan oleh individu-individu, maka kita tidak mungkin dapat menyelesaikan permasalahan dunia, khususnya di negeri kita ini.

    Terjadinya kerusakan, di bidang ekonomi, budaya maupun politik, ditambah dengan kemerosotan akhlak dan sedikitnya pemahaman akidah terhadap agama, membuat masyarakat kita cenderung melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan nilai- nilai negatif dalam lingkungan masyarakat ataupun negara. Persoalan besar ini hanya dapat diatasi dengan kebersamaan.

    Seorang penyair mengatakan “Kapan sebuah bangunan itu akan tegak berdiri jika kamu sendirian membangun sementara orang lainnya merobohkannya”. Demikian juga dengan pentingnya peran ulama untuk mengingatkan dan sekaligus bekerja sama dengan para pejabat, umara, membangun negeri ke arah yang lebih baik.

    Pada zaman Rasulullah SAW, kemaksiatan hanya dilakukan oleh individu, tetapi sekarang hal itu dilakukan secara sistematis dan terlembaga. Mereka melakukan beramai-ramai dan tidak merasa malu melakukannya. Ini disebabkan karena tidak ada kebersamaan.

    Bulan Ramadan mendidik kita untuk bersama-sama dalam beribadah, bersama-sama dalam kegiatan yang islami, tidak membiarkan kemaksiatan.

    Dalam Atsar dikatakan “Jikalau ada seseorang melihat kemungkaran, melihat kemaksiatan, dia adalah setan yang bisu. Dan sekalipun bisu, setan pasti bermitra dengan setan yang lainnya, saling memberikan bisikan untuk memerangi Islam ajaran Rasulullah, baik itu setan manusia maupun setan jin.”

    Hikmah yang ketiga adalah melatih kesabaran. Pada bulan Ramadhan kita menahan diri untuk makan dan minum dari mulai terbit fajar sampai waktu Maghrib.

    Seandainya seorang muslim dan rakyat Indonesia pada umumnya mampu menahan diri dari perbuatan haram, syubhat, bahkan mubah, niscaya akan terjadi perubahan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Perubahan menuju perbaikan yang maksimal tidak dapat diharapkan hanya dari seorang presiden atau pemerintah, tetapi harus dimulai dari setiap muslim, mulai dari para penguasa dan pemerintahannya. Sehingga, dapat membuat suatu keputusan yang mempersempit ruang lingkup kemaksiatan, lebih mudah berbuat kebaikan.

    Itulah tiga hikmah yang bisa kita petik dari puasa Ramadhan. Marilah kita jadikan bulan Ramadhan sebagai madrasah, sebagai pusat pendidikan, agar dapat membangun obsesi terbesar kita untuk kehidupan di akhirat nanti.

    Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Klik halaman selanjutnya untuk contoh ceramah lainnya.

    3. Islamisasi Diri di Bulan Ramadan

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk-Nya. Penguasa alam semesta. Karunia-Nya tak terhingga.

    Shalawat dan salam teruntuk junjungan mulia, Muhammad SAW. Semoga kita dapat mengikuti sunahnya.

    Kita memasuki bulan Ramadan, satu-satunya bulan yang dilimpahi Allah SWT dengan nikmat kepada hamba-Nya, bulan diturunkannya kitab suci al-Qur’an tanpa kebatilan di dalamnya, dari Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.

    “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-pen- jelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. al-Baqarah, 2:185)

    Syekh Mahmud Syaltut menyebut bulan Ramadan dengan “Syahir al-Qur’an (bulan al-Qur’an). Beliau juga menyebutnya dengan “Syahr al-Tashfiyah al-Ruhiyyah” (bulan pembersihan ruhani), karena Allah SWT mewajibkan umat Islam berpuasa untuk membersihkan jiwa.

    Di bulan suci ini, kita mendapat kesempatan dan peluang untuk islamisasi diri. Sebagaimana kita ketahui bahwa Islam, menurut ajaran Rasulullah SAW mempunyai lima pilar, syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.

    Syahadat adalah persaksian atau pernyataan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT, “Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah”. Syahadat kita baca setiap melakukan tahiyyat dalam salat.

    Pilar Islam kedua adalah sholat. Kita diwajibkan mendirikan sholat lima kali dalam sehari. Di samping itu, kita dianjurkan melaksanakan sholat-sholat sunnah, bahkan dianjurkan memperbanyak sholat malam, seperti tarawih dan witir.

    Sebagai wahana islamisasi diri, kita melaksanakan sholat tarawih dengan 8 rakaat, 20 rakaat, bahkan 36 rakaat (menurut Imam Malik ibn Anas di kota Madinah).

    Mengapa orang-orang Madinah melakukan sholat tarawih sampai 36 rakaat? Orang Madinah merasa iri dengan orang Makkah yang melakukan sholat tarawih sampai 20 rakaat, setiap 4 rakaat mereka berhenti untuk melakukan tawaf (keliling Kakbah), mereka sholat tarawih 20 rakaat ditambah 4 kali tawaf.

    Orang Madinah iri kepada orang Mekah yang tentu mendapat pahala lebih banyak. Karena tidak ada Kakbah, mereka menggantinya dengan menambah rakaat sholat, setiap satu tawaf diganti dengan 4 rakaat, menjadi 16 rakaat, dan ditambah dengan jumlah rakaat sholat tarawih menjadi 36 rakaat.

    Keadaan ini berlangsung sampai munculnya Imam Malik di sana. Maka menurut Imam Malik, sholat tarawih itu terdiri dari 36 rakaat.

    Kita meningkatkan keislaman kita dengan memperbanyak sholat sunnah di bulan Ramadan, menurut kemampuan dan kemauan kita masing-masing.

    Bahkan ada yang melaksanakan tarawih 20 rakaat dengan membaca satu Juz al-Qur’an setiap malam sampai selesai 30 juz (satu al-Qur’an) dalam satu bulan, seperti di Masjid PTIQ, masjid UIN Syarif Hidayatullah dan masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah.

    Pilar Islam ketiga adalah zakat. Mengeluarkan infak ada yang wajib dan ada yang sunnah, keduanya mendapatkan pahala. Infak wajib ada dua macam, yaitu zakat fitrah dan zakat mal (harta).

    Zakat fitrah adalah zakat diri sendiri, zakat jiwa. Setiap muslim wajib membayar zakat fitrah. Sedangkan zakat mal diwajibkan bagi orang mempunyai harta mencapai nisab (batas wajib zakat mal).

    Dalam rangka islamisasi diri, kita melaksanakan zakat pada bulan Ramadan agar mendapatkan pahala yang berlipat ganda, baik infak wajib maupun infak sunnah yang disebut shadaqah (sedekah).

    Jadi di samping kita membayar zakat, kita juga dianjurkan mengeluarkan shadaqah yang diberikan kepada mustahiq (orang yang berhak menerima) seperti orang miskin, orang banyak hutang, mualaf dan fisabilillah.

    Pilar Islam keempat adalah puasa di bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadan ini kita diwajibkan melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.

    Dalam Ramadan terdapat tiga tingkatan puasa. Pertama, “shaum al-‘awwam”, puasa umum atau puasa yang paling ringan. Kedua “shaum al-khushush”, puasa anggota badan, mata, mulut, hidung, telinga, tangan, dan kaki, puasa dari perbuatan yang tercela. Ketiga, “shaum khushush al- khushush”, puasa hati, dengan tidak sedikitpun memikirkan perbuatan yang tidak baik. Ini yang paling berat.

    Menurut Syaikh al-Azhar, puasa Ramadan merupakan ibadah yang tujuannya sama dengan tujuan al-Qur’an, membina akal dan jiwa manusia serta mengatur kehidupan. Puasa ternyata menyatukan umat Islam, dalam hal waktu istirahat, waktu kerja, waktu makan dan minum, waktu sahur, waktu berbuka puasa dan waktu sholat yang dikerjakan bersama-sama, berjamaah.

    Puasa juga membasahi mulut umat Islam dengan ucapan tasbih, mensucikan Allah SWT, menjaga diri dari ucapan yang kurang baik, dan menanamkan jiwa kesabaran dan ketabahan dalam hidup manusia.

    Oleh karena itu, kita berusaha meningkatkan keislaman kita dengan menjalankan puasa sebaik-baiknya. Jika kita bisa melakukan puasa kelas berat, “shaum khusus al-khusus”, memperbanyak rakaat dalam sholat tarawih dan witir, akan diampuni dosa-dosa kita sampai bersih, seperti bayi yang baru lahir dan tidak berdosa.

    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan puasa Ramadan dan mensunahkan salat di waktu malamnya. Maka barang siapa melakukan puasa dan sholat malamnya dengan benar- benar beriman dan keikhlasan semata-mata karena Allah SWT, maka akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika dilahirkan ibunya.”

    Pilar Islam kelima adalah haji ke Baitullah di Makkah al-Mukarramah. Haji ada dua macam, haji besar dan haji kecil. Haji besar hanya bisa dijalankan pada bulan Dzulhijjah, bulan haji.

    Pada bulan Ramadan ini, orang dapat melakukan islamisasi diri melalui umrah. Pada bulan Ramadhan, umat Islam sedunia berbondong-bondong menjalankan umrah, terutama pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW menyatakan bahwa umrah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan nilainya sama dengan haji.

    Demikian lima cara Islamisasi diri yang diambil dari lima pilar atau lima rukun Islam, semoha kita senantiasa dapat melaksanakannya di bulan Ramadan. Mohon maaf atas kata yang kurang berkenan, Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Penyembah Api dari Keturunan Qabil



    Jakarta

    Allah SWT mengutus Nabi Idris AS kepada suatu kaum agar menyembah Allah SWT. Kaum Nabi Idris AS saat itu diketahui mulai menyembah api.

    Menurut Imam Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa sebagaimana diterjemahkan Dudi Rosyadi, sejumlah ulama ahli nasab menyebut bahwa Nabi Idris AS termasuk dalam silsilah nasab Rasulullah SAW. Ia adalah manusia pertama yang diberikan tanggung jawab kenabian setelah Nabi Adam AS dan Syits AS.

    Kaum Nabi Idris Adalah Keturunan Qabil

    Melansir dari buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi karya Rizem Aizid, Nabi Idris AS ditugaskan oleh Allah SWT untuk memberi peringatan kepada bani Qabil. Kaum Nabi Idris AS adalah keturunan Qabil, putra dari Nabi Adam AS yang melakukan pembunuhan pertama.


    Nama Nabi Idris AS disebutkan sebanyak dua kali di dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,

    وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِدْرِيْسَۖ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا ۙ ٥٦ وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا ٥٧

    Artinya: “Ceritakanlah (Nabi Muhammad kisah) Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang sangat benar dan membenarkan lagi seorang nabi. Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam: 56-57)

    وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِدْرِيْسَ وَذَا الْكِفْلِۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيْنَ ۙ ٨٥ وَاَدْخَلْنٰهُمْ فِيْ رَحْمَتِنَاۗ اِنَّهُمْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ٨٦

    Artinya: “(Ingatlah pula) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang sabar. Kami memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang saleh.” (QS Anbiya: 85-86)

    Masih dalam buku yang sama dijelaskan bahwa Nabi Idris AS diangkat menjadi seorang nabi pada usia 40 tahun. Ia hidup ketika orang-orang mulai menyembah api.

    Semasa hidupnya Nabi Idris AS membagi waktunya menjadi 2 dalam seminggu, yakni selama 3 hari ia akan mengajarkan kepada kaumnya. Adapun, 4 hari berikutnya ia akan mencurahkan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT.

    Mukjizat Nabi Idris AS saat Dakwah pada Kaumnya

    Eka Satria dalam bukunya Mengenal Mukjizat 25 Nabi menjelaskan bahwa Nabi Idris AS memiliki mukjizat yang luar biasa dari Allah SWT. Ia dianugerahi kekuatan yang luar biasa oleh Allah SWT dengan kekuatannya tersebut ia memerangi bani Qabil yang ingkar kepada ajaran Allah SWT.

    Dari mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Idris AS tersebut, ia diberi gelar Asad al-Usud yang memiliki arti “singa segala singa”. Selain dianugerahi kekuatan yang luar biasa, Nabi Idris AS juga diberi mukjizat kepandaian dalam ilmu pengetahuan. Ia seorang yang pandai dalam menulis, membaca, menghitung, dan menguasai ilmu pengetahuan lainnya.

    Nabi Idris AS juga menjadi orang pertama di dunia yang mengetahui berbagai ilmu pengetahuan. Berikut ini beberapa ilmu pengetahuan dunia yang diketahui Nabi Idris AS yaitu:

    • Ia adalah orang pertama di dunia yang pandai menulis dengan pena.
    • Ia adalah orang pertama di dunia yang pandai membaca.
    • Ia adalah orang pertama di dunia yang mengetahui ilmu perbintangan.
    • Ia adalah orang pertama di dunia yang pandai dalam berhitung.
    • Ia adalah orang pertama di dunia yang tangkas dalam berkuda.
    • Ia adalah orang pertama di dunia yang pandai menjahit.

    Nasihat Bijak Nabi Idris AS

    Rizem Aizid dari buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi juga memaparkan mengenai nasihat dan ajaran Nabi Idris AS. Berikut ini beberapa nasihat dan untaian kata mutiara Nabi Idris AS:

    • Kesabaran yang disertai iman kepada Allah SWT akan membawa kemenangan.
    • Orang yang bahagia adalah orang yang waspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal salehnya.
    • Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah SWT dan berdoa maka ikhlaskanlah niatmu. Demikian pula untuk puasa dan salatmu.
    • Janganlah bersumpah palsu, dan janganlah menutup-nutupi sumpah palsu supaya kamu tidak ikut berdosa.
    • Taatlah kepada rajamu, dan tunduklah kepada pembesarmu serta penuhilah selalu mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah SWT.
    • Janganlah iri hati kepada orang yang baik nasibnya, karena ia tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya.
    • Barang siapa melampaui kesederhanaan, maka tidak ada suatu pun yang akan memuaskannya.
    • Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya, seseorang tidak dapat bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat yang diperolehnya itu.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sahur Ditemani Kajian Habib Husein Ja’far Hanya di detikKultum



    Jakarta

    Sedikit lagi kita akan segera memasuki bulan suci Ramadan 1444 H. Sepanjang Ramadan, Allah SWT melimpahkan banyak pahala dan kebaikan, khususnya bagi umat Islam yang mengerjakan amalan-amalan baik itu sunnah maupun wajib.

    Tak tanggung-tanggung, Allah SWT bahkan mengganjar amal kebaikan yang dikerjakan oleh muslim hingga tujuh ratus kali lipat. Ini sesuai dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, berikut bunyi sabda Rasulullah SAW:

    “Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali puasa. Sebab pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku,” (HR Muslim).


    Sebagai bulan yang penuh kemuliaan, sudah semestinya kaum muslim mengisi Ramadan dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti menyaksikan kajian dan ceramah. Kali ini, detikKultum menghadirkan Habib Husein Ja’far untuk menemani waktu sahur detikers selama bulan Ramadan 1444 H.

    Nantinya, detikers akan mendapat banyak ilmu bermanfaat untuk menjalani ibadah puasa yang lebih berkah. Rasanya rugi bila tidak menyaksikan tausiyah yang disampaikan Habib Husein Ja’far, terlebih kajian tersebut ditayangkan pada waktu sahur, cocok sebagai pembuka hari.

    Tayang setiap hari pukul 04.00 WIB di detikHikmah, jangan lupa saksikan detikKultum bersama Habib Husein Ja’far selama bulan Ramadan ya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah, Termasuk Bangun Masjid



    Jakarta

    Periode dakwah Rasulullah SAW terbagi menjadi dua periode yakni Makkah dan Madinah. Selama di Madinah, ada strategi dakwah yang dilancarkan Rasulullah SAW.

    Sejatinya, Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Madinah dilandasi dengan beberapa alasan. Salah satunya adalah bahwa penduduk Madinah lebih terbuka terhadap Islam.

    Namun, dengan keterbukaan ini tidak serta-merta membuat dakwah Rasulullah SAW berjalan mudah yang membuat Rasulullah SAW harus melancarkan sejumlah strategi. Dikutip melalui buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas X karya Abu Achmadi dan Sungars berikut ini merupakan strategi dakwah Rasulullah di Madinah.


    4 Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah

    1. Mempersatukan Dua Umat

    Mempersatukan dua umat yang penting pada awal masa hijrah yaitu Kaum Muhajirin dengan Kaum Anshar. Hal ini dilakukan agar kedua umat ini dapat terikat dengan kuat dan tidak ada unsur kesukuan kecuali atas nama Islam semata.

    2. Mengembangkan Pendidikan

    Mengembangkan pendidikan dan akar dakwah. Dalam melakukan strategi dakwah, Rasulullah SAW membutuhkan orang-orang yang juga pandai membaca dan menulis.

    Selain itu, diperlukan pemahaman juga oleh orang-orang tersebut akan agama Islam itu sendiri. Oleh karena itu, dibuatlah beberapa rincian dalam strategi ini, yaitu:

    • Menggunakan orang-orang yang pandai membaca dan menulis. hal ini dilakukan untuk produksi dan penyebaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan cepat.
    • Menyebarkan Islam yang dilandasi ajaran dunia seperti hukum, ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan yang berlandaskan ayat-ayat Al-Qur’an
    • Rasulullah menjadi suri tauladan dengan menjadi Al-Qur’an berjalan. Artinya, setiap pelajaran langsung dapat diambil dari perilaku dan keteladanan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Hal ini membuat dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW dapat masuk ke hati masyarakat nonmuslim dengan cepat dan damai.

    3. Membangun Masjid

    Masjid menjadi objek vital bagi penyebaran islam oleh Rasulullah SAW. Hal inilah yang juga menjadi perhatian baginya saat berdakwah di Madinah.

    Rasulullah SAW mendirikan masjid di atas tanah tempat penjemuran kurma milik Sahal bin Suhail bin Amr. Tujuan membangun masjid ini adalah sebagai tempat ibadah, pendidikan, berunding, konsultasi masyarakat, dan pembahasan strategi dakwah.

    4. Bangun Kekuatan Politik

    Rasulullah SAW berani dan bisa menyatukan golongan Yahudi dari berbagai bani, yaitu Bani Qainuqa, bani Quraidah, dan Bani Nadir. Rasulullah SAW membentuk perjanjian yang membuat kerukunan dan fungsi masyarakat Madinah secara umum tetap berjalan.

    Sebagai informasi tambahan, berikut adalah inti dari isi perjanjian yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

    a. Kaum Yahudi bersama muslim wajib turut serta dalam peperangan untuk mempertahankan Madinah.

    b. Kaum Yahudi dari Bani Auf diperlakukan sama adilnya dengan muslim.

    c. Kaum Yahudi tetap dengan agama Yahudi mereka dan demikian pula dengan kaum muslim, artinya bisa hidup berdampingan tanpa saling merusuh satu dengan lain.

    d. Semua kaum Yahudi yang berasal dari semua suku serta kabilah di Madinah diperlakukan sama dengan kaum Yahudi Bani Auf.

    e. Kaum Yahudi dan muslim harus senantiasa saling berbuat kebajikan dan saling mengingatkan ketika terjadi penganiayaan atau kezaliman, sama seperti peradaban yang baik pada umumnya,

    f. Semua penduduk Madinah akan dijamin bersama keselamatannya, hal ini mendapat pengecualian bagi orang yang berbuat jahat.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Jemput Ramadan dengan Persiapan yang Matang



    Jakarta

    Ramadan merupakan bulan suci yang paling dinantikan oleh seluruh umat Islam. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, pahala yang didapatkan seorang muslim pada bulan Ramadan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

    Ketika bulan Ramadan tiba, kita harus menjemputnya dengan baik. Saking mulianya Ramadan, para nabi bahkan merasa iri terhadap Nabi Muhammad SAW.

    Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa ada sebuah hadits yang menyebutkan jika nabi-nabi sebelum Muhammad diberi kesempatan hidup kembali, maka mereka ingin menjadi umat Rasulullah karena terdapat bulan penuh ampunan, yaitu Ramadan.


    Sebagai umat Rasulullah SAW, rasanya sayang apabila kita tidak bersungguh-sungguh untuk memanfaatkan bulan Ramadan. Terlebih pada bulan tersebut ada malam lailatul qadar, sebuah malam yang lebih istimewa dari seribu bulan.

    “Angka yang paling tinggi pada saat turunnya Al-Qur’an adalah seribu. Seandainya ada angka triliun, mungkin ayat itu berbunyi malam lailatul qadar lebih mulia daripada satu triliun tahun,” tutur Prof Nasaruddin dalam detikKultum detikcom, Kamis (23/3/2023).

    Ia menjelaskan, pada bulan Ramadan hampir semua peristiwa-peristiwa penting terjadi di bulan tersebut, seperti pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang ditandai dengan nuzulul Qur’an. Bahkan, dari segi sejarah pun banyak momen-momen yang terjadi di bulan Ramadan.

    “Kita bisa lihat dalam sejarah, Perang Badar terjadi dahsyat sekali dan dimenangkan Rasulullah pada bulan suci Ramadan,” tambah Prof Nasaruddin.

    Tak hanya itu, peristiwa kemerdekaan Indonesia juga berlangsung ketika bulan suci, tepatnya pada tanggal 9 Ramadan. Kemenangan kerajaan-kerajaan lokal di Indonesia juga banyak ditaklukan di bulan Ramadan.

    “Contohnya kerajaan Bone di Indonesia bagian timur, kerajaan besar, itu ditaklukan terakhir pada bulan suci Ramadan,” paparnya.

    Menurut Prof Nasaruddin, bulan Ramadan menentukan warna sejarah Islam. Karenanya, ia mengajak seluruh umat Islam untuk lebih melakukan persiapan yang matang dalam menyambut bulan suci.

    Apalagi, di tahun ini kita bisa beribadah dengan maksimal karena pandemi COVID-19 telah usai. Untuk itu, Prof Nasaruddin mengimbau kaum muslimin untuk lebih memakmurkan masjid di bulan suci Ramadan 2023.

    “Mari kita menjadikan bulan suci Ramadan ini bulan penyelamat, saya sungguh sangat yakin bapak ibu sekalian sudah siap menjalani Ramadan tahun ini. Tidak ada Covid-19 yang menghalangi seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

    Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Menjemput Ramadan DI SINI.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Habib Ja’far: Ramadan Adalah Bulannya Sedekah



    Jakarta

    Ramadan merupakan bulan yang baik untuk memperbanyak amal ibadah. Salah satunya dengan bersedekah.

    Habib Ja’far menyebut, Ramadan adalah bulannya sedekah. Sebab, Rasulullah SAW paling banyak bersedekah pada bulan tersebut, bahkan dikatakan sedekah beliau sampai berkali-kali lipat.

    “Di bulan Ramadan diceritakan oleh Sayyidah Aisyah kedermawanan Nabi Muhammad itu berkali-kali lipat lebih tinggi lagi. Lebih sering sedekah, lebih banyak lagi karena bulan Ramadan itu adalah bulannya sedekah,” ucap Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Jumat (24/3/2023).


    Habib Ja’far menjelaskan, sedekah tidak harus berupa harta. Ia mencontohkan, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

    تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

    Artinya: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR At-Tirmidzi)

    “Membahagiakan orang lain dengan cara-cara yang baik itu adalah sedekah. Jadi, segala hal menjadi sedekah jikalau diberikan kepada orang lain dengan tujuan baik, cara yang baik, dan niat yang baik,” jelasnya.

    Oleh karena itu, kata Habib Ja’far, sedekah harus menjadi identitas utama di bulan Ramadan karena begitu dahsyatnya pahala sedekah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

    Artinya: “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR Ahmad)

    Ia menjelaskan lebih lanjut, sedekah merupakan satu dari tiga identitas orang bertakwa. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

    الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

    Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134)

    Dalam hal ini, sedekah tidak harus menunggu kaya. Mengapa? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Ramadan Adalah Bulannya Sedekah tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Tingkatan Iman Seorang Muslim, Kamu yang Mana?



    Jakarta

    Iman merupakan kepercayaan bagi pemeluk agama Islam. Pengertian iman juga dijelaskan dalam sebuah hadits dari Umar bin Khatthab RA, ia berkata Rasulullah SAW didatangi oleh malaikat Jibril. Beliau bertanya kepada Rasulullah,

    “Beritahukanlah kepadaku apa itu iman,” Rasulullah menjawab, “Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk,” (HR Muslim).

    Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa iman memiliki tiga tingkatan, yaitu Ahlul Tho’a, Ahlul Ibadah, dan Ahlullah. Lebih lanjut, ia menerangkan makna masing-masing dari tingkatan tersebut.


    “Ahlul Tho’a adalah menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun sebatas formalitas,” ujarnya dalam detikKultum detikcom, Sabtu (25/3/2023).

    Muslim yang memiliki tingkatan iman Ahlul Tho’a menjalankan ibadah secara terpaksa. Semua dilakukan hanya semata-mata takut terjerumus ke dalam neraka tanpa memaknai tiap-tiap ibadah yang dikerjakan.

    Lain halnya dengan Ahlul Ibadah yang beribadah kepada Allah karena cinta. Segala sesuatu ia kerjakan karena mencintai ibadah.

    “Tapi kalau meningkat lagi, ada yang disebut Ahlul Ibadah. Menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah karena cinta. Kenapa kamu berpuasa? Karena aku mencintai puasa,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

    Naik satu tingkat lagi, yakni Ahlullah. Tingkatan iman yang paling tinggi tersebut melakukan ibadah kepada Allah karena semata-mata untuk mengharapkan keridhaan-Nya.

    Lantas, apa saja ciri-ciri dan contoh nyata dari pemilik masing-masing tingkatan iman? Selengkapnya saksikan detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Tiga Tingkatan Iman DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Rahasiakan Kebaikanmu Seolah Itu Aibmu



    Jakarta

    Ramadan menjadi bulan untuk memperbanyak amal kebaikan. Termasuk, mengajarkan bagaimana sikap kita atas kebaikan yang telah kita lakukan.

    Habib Ja’far mengatakan, puasa Ramadan mengajarkan kepada umat Islam untuk merahasiakan kebaikan. Puasa merupakan ibadah yang sifatnya rahasia atau sirriyah, hanya hamba tersebut dan Tuhan yang mengetahuinya.

    “Intinya puasa mengajarkan kepada kita untuk rahasiakan kebaikanmu. Jangankan kebaikan, aib aja dilarang bagi kita untuk mengumbarnya apalagi kebaikan,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Minggu (26/3/2023).


    “Begitu juga harta, itu bukan untuk di-flexing, tapi untuk didermakan kepada orang lain setelah kita menggunakannya untuk kebutuhan kita,” imbuhnya.

    Habib Ja’far menjelaskan, kebaikan yang tidak dirahasiakan berpotensi menghanguskan pahala bahkan menjadi kecelakaan bagi pelakunya lantaran riya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al Maun,

    فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ٥ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ٦ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ ٧

    Artinya: “Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.” (QS Al Maun: 4-7)

    Ada banyak kisah tentang bagaimana orang-orang alim merahasiakan kebaikannya. Salah satunya, seperti dicontohkan oleh Habib Ja’far, adalah cicit Rasulullah SAW yang bernama Sayyidina Ali Zainal Abidin.

    Semasa hidupnya, Sayyidina Ali Zainal Abidin membagikan sedekahnya untuk orang miskin pada malam hari saat semua penerimanya tidur. Amal kebaikan Sayyidina Ali Zainal Abidin tersebut baru diketahui orang-orang ketika ia wafat.

    Sebab, sejak saat itu, sedekah yang biasanya didapat pada waktu subuh sudah tidak ada lagi dan di punggung Sayyidina Ali Zainal Abidin terdapat bekas lebam akibat memikul sedekahnya untuk orang miskin di sekitarnya.

    Lantas, apakah kebaikan tidak boleh diperlihatkan sama sekali? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Rahasiakan Kebaikanmu Seolah Itu Aibmu tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Jauhi Ghuluw, Sikap Berlebihan dalam Beragama



    Jakarta

    Berlebih-lebihan dalam beragama disebut dengan ghuluw dan dilarang oleh Islam. Allah SWT bahkan tidak menyukai tindakan tersebut.

    Larangan sikap ghuluw ini tercantum dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh An Nasa’i dan Ibnu Majah.

    “Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian,” (HR An Nasa’i & Ibnu Majah).


    Dalam Al-Qur’an pun ghuluw tersemat pada surat An Nisa ayat 71, Allah SWT berfirman:

    يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ

    Artinya: “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar,”

    Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin mengatakan bahwa beribadah yang melampaui batas akan menyiksa diri seseorang.

    “Orang beribadah tapi melampaui batas, menyiksa diri,” katanya dalam detikKultum detikcom pada Minggu (25/3/2023).

    Prof Nasaruddin mencontohkan sifat ghuluw yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW, seperti tidak pernah makan siang karena berpuasa setiap hari, tidak pernah tidur malam karena selalu melaksanakan salat, serta tidak menggauli sang istri.

    Hal tersebut tentu dilarang. Memang sudah semestinya kita memberikan yang terbaik kepada Allah SWT, namun dalam batas-batas yang wajar. Jangan sampai terjadi pemaksaan dalam beribadah hingga melampaui batas.

    “Jadi mari kita beragama secara wajar,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

    Di akhir, ia mengimbau para umat muslim untuk tidak beribadah secara berlebihan. Sebab, hal itu dapat merusak badan hingga menzalimi diri sendiri.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Jangan Melampaui Batas dalam Beragama DI SINI.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com