Tag: rasulullah saw

  • Jangan Mudah Terkecoh oleh Penampilan Orang



    Jakarta

    Sebagai seorang manusia, sudah sepantasnya kita tidak menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Jumat (31/3/2023) mencontohkan sebuah kisah menarik yang didasarkan dari hadits shahih mengenai Abu Hurairah dan seorang pencuri.

    Suatu hari, Abu Hurairah selaku penjaga Baitul Mal dipanggil oleh Rasulullah SAW. Beliau mengingatkan Abu Hurairah untuk lebih berhati-hati nanti malam karena sepertinya akan ada pencuri.

    Benar saja, seusai tengah malam Abu Hurairah memergoki seorang pemuda yang ingin mencuri harta kekayaan di Baitul Mal. Tertangkap basah, sang pemuda mengaku dirinya bukan pencuri, melainkan terpaksa melakukan hal tersebut karena anaknya menderita sakit keras dan sang istri kelaparan.


    Merasa kasihan, dilepaskanlah pencuri tersebut asalkan ia berjanji akan mencari nafkah yang halal. Ketika ditanya oleh Rasulullah keesokan harinya, Abu Hurairah menjelaskan keadaan sang pencuri.

    Rasulullah kembali memperingatkan Abu Hurairah untuk berhati-hati di malam berikutnya. Benar saja, pencuri tersebut datang kembali.

    Kali ini, pencuri tersebut beralasan anaknya telah pingsan. Kemudian ia mengatakan jika Abu Hurairah bersikeras menangkapnya maka anak dan istrinya akan mati karena ia tidak bisa mencari nafkah.

    Kembali merasa iba, lagi-lagi Abu Hurairah melepaskan pencuri tersebut asalkan ia berjanji tidak mencuri lagi. Keesokan malamnya, pencuri itu kembali datang dan tertangkap basah oleh Abu Hurairah.

    Si pencuri mengaku bersalah, namun ia ingin memberi hadiah sebagai tanda terimakasih kepada Abu Hurairah yang telah melepaskannya dua hari berturut-turut.

    “‘Saya akan mengajarkan kamu wirid, kalau kamu belajar dan baca wirid ini, kamu tidak akan diganggu iblis, setan akan lari terbirit-birit, ‘ Abu Hurairah mau,” ujar Prof Nasaruddin menceritakan.

    Setelahnya, Abu Hurairah kembali melepaskan si pencuri dengan syarat ia harus bersumpah tidak akan datang lagi untuk mencuri. Pergilah si pencuri tersebut.

    Esoknya, Rasulullah bertanya kepada Abu Hurairah akan keberadaan pencuri tersebut. Betapa terkejutnya beliau ketika tahu bahwa pencuri yang ia lepaskan ternyata adalah iblis.

    “Rasulullah bilang, ‘tahu tidak siapa yang kamu tangkap tiga malam berturut-turut? Itu adalah iblis,’” lanjut Prof Nasaruddin mengisahkan.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Jangan Terkecoh oleh Penampilan Orang dapat disaksikan DI SINI.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Amal Kebaikan Menghapus Dosa di Masa Lampau



    Jakarta

    Allah SWT amat menyukai hamba-Nya yang bertobat. Tobat nasuha berarti upaya meninggalkan perbuatan dosa dan diiringi keinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi.

    Dalam surat At Tahrim ayat 8, Allah SWT berfirman:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ


    Arab latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ tụbū ilallāhi taubatan naṣụḥā, ‘asā rabbukum ay yukaffira ‘angkum sayyi`ātikum wa yudkhilakum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru yauma lā yukhzillāhun-nabiyya wallażīna āmanụ ma’ah, nụruhum yas’ā baina aidīhim wa bi`aimānihim yaqụlụna rabbanā atmim lanā nụranā wagfir lanā, innaka ‘alā kulli syai`ing qadīr

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Allah SWT adalah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, segala dosa yang dikerjakan akan diampuni jika manusia benar-benar bertobat. Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Sabtu (1/4/2023) mengatakan bahwa amal kebaikan yang kita perbuat bisa menjadi penghapus dosa di masa lalu.

    “Ada sebuah kisah yang sangat menarik dari sebuah hadits,” ujarnya.

    Prof Nasaruddin mengisahkan tentang seorang penjahat yang sudah jadi buronan internasional. Saking jahatnya, orang tersebut bahkan dijatuhkan hukuman in absentia, siapa saja yang bertemu dengannya diizinkan untuk membunuh sang penjahat.

    Secara tiba-tiba, penjahat itu muncul di majelis Rasulullah. Para sahabat dan orang yang menghadiri majelis refleks mengeluarkan pedang dari sarungnya, mereka berbondong-bondong ingin menghunuskan benda tajam tersebut kepada pemuda itu.

    Sebagai seorang rasul utusan Allah, Nabi Muhammad SAW meminta orang-orang untuk tenang dan membiarkan si penjahat untuk berbicara. Betapa terkejutnya, ia mengungkap maksud kedatangannya ke majelis Rasulullah untuk menyerahkan diri.

    Penjahat tersebut menyadari ajalnya sudah dekat, sebab dimana pun ia berada semua orang berlomba-lomba untuk membunuhnya. Jadi, sebelum ia meninggal pemuda itu ingin menghibahkan amal kebajikan yang pernah dilakukannya di masa lampau.

    “‘Saya kesini untuk menghibahkan amal kebajikan saya tanpa pamrih. Percuma menempel kebajikan itu padaku, karena aku adalah orang jahat, kebaikan itu akan saya hibahkan kepada yang kau tunjuk,’ Bingung sahabat-sahabat, orang seperti itu harus diapakan?” ujar Prof Nasaruddin mengisahkan.

    Bersamaan dengan itu, turunlah surat Hud ayat 114, berikut bunyinya:

    وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

    Arab latin: Wa aqimiṣ-ṣalāta ṭarafayin-nahāri wa zulafam minal-laīl, innal-ḥasanāti yuż-hibnas-sayyi`āt, żālika żikrā liż-żākirīn

    Artinya: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat,”

    Dengan turunnya ayat tersebut, muncullah pengampunan. Semua orang yang menghadiri majelis Rasulullah SAW sangat terkesan.

    Dengan demikian, melalui kisah tersebut Prof Nasaruddin mengimbau agar kita mengakui kesalahan dan berlaku jujur dengan menyerahkan diri secara total. Niscaya Allah SWT juga akan memberi pengampunan, bukan hanya penghargaan dari hakim saja.

    “Mari kita meniru pemuda yang sangat gentleman ini, jangan kita sibuk menyembunyikan diri,” katanya.

    Selanjutnya, Prof Nasaruddin juga memaparkan sejumlah hal tentang tobat nasuha dari kacamata Imam Al-Ghazali. Simak pembahasan lengkap detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Amal Kebaikan Menghapus Dosa Masa Lalu

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Tarawih di Masjid Vs di Rumah, Baik Mana?



    Jakarta

    Salat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang dikerjakan pada malam Ramadan. Ibadah ini bisa dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah. Mana yang lebih baik di antara keduanya?

    Menurut Habib Ja’far, hal tersebut tergantung pada kondisi masing-masing. Secara umum, laki-laki lebih baik salat berjamaah di masjid dan perempuan salat di rumah. Hal ini berlaku untuk salat fardhu maupun salat sunnah seperti salat Tarawih.

    “Untuk salat sunnah begitu juga bagi laki-laki sebaiknya dilakukan di masjid, tapi bagi perempuan sebaiknya di rumah. Termasuk di dalamnya adalah salat Tarawih,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Selasa (4/4/2023).


    Habib Ja’far menjelaskan, salat Tarawih lebih baik dikerjakan secara berjamaah di masjid karena termasuk salat sunnah yang disunnahkan untuk berjamaah. Seperti halnya salat Id dan salat istisqa.

    Meski demikian, laki-laki tetap boleh salat di rumah jika memang secara kemaslahatan lebih baik dilakukan di rumah. “Contohnya istri kita sedang butuh kita untuk menjadi imam salat karena dia sekaligus mau belajar salat Tarawih dengan baik, mau sekalian lanjut belajar mengkaji al quran dan lain sebagainya,” ujar Habib Ja’far.

    Begitu juga dengan perempuan. Jika baginya memang ada kemaslahatan ketika dilakukan di masjid dan telah mendapatkan izin dari walinya, maka baik baginya mengerjakan salat Tarawih berjamaah di masjid.

    Namun, jika justru ke masjid menimbulkan mudharat, maka kata Habib, perempuan tetap lebih baik salat Tarawih di rumah.

    “Menghindari kemudharatan itu jauh lebih utama daripada mencari kemanfaatan. Begitu dalam filsafat hukum Islam atau ushul fiqih. Hindari dulu mudharatnya jangan sibuk nyari manfaat ” terangnya.

    Habib Ja’far kemudian menukil sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW salat Tarawih di masjid hanya dua hari pertama di bulan Ramadan. Selanjutnya beliau memilih salat di rumah. Sebab, beliau khawatir salat Tarawih akan diwajibkan bagi umat Islam.

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Tarawih di Masjid Vs di Rumah, Baik Mana? tonton DI SINI.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Orang Tua Adalah Karamah Utama, Kita Wajib Berbakti



    Jakarta

    Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak. Menurut Habib Ja’far, orang tua adalah karamah yang pertama dan utama.

    “Begitu seorang lahir maka keramat (karamah) yang pertama dan utama bagi dia adalah kedua orang tuanya,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Rabu (5/4/2023).

    Di antara ayah dan ibu, sebagaimana sabda nabi, ibu adalah sosok pertama yang wajib kita hormati. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan yang paling baik dariku?”


    Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Bapakmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Habib Ja’far menjelaskan, tingginya kedudukan seorang ibu lantaran ibu telah memberikan dirinya untuk mengandung anak selama 9 bulan, ibu telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya, dan ibu telah mengikhlaskan dirinya untuk menyusui buah hatinya selama kurang lebih 2 tahun.

    Habib menjelaskan lebih lanjut bahwasanya orang tua adalah karamah yang utama. Sehingga, jangan sampai kita meminta doa kepada para guru hingga ulama, tapi justru lupa meminta doa kepada kedua orang tua.

    “Jangan kita meminta doa pada para guru, para ulama, para habib, para kiai, kita berdoa ke makam wali ini makam wali itu, tapi kita lupa meminta doa kepada kedua orang tua kita,” jelas Habib Ja’far.

    Adapun, di antara kewajiban seorang anak terhadap orang tua adalah berbakti kepadanya. Menurut Habib Ja’far, konteks berbakti berbeda dengan taat. Ia mengatakan, ketaatan yang sifatnya mutlak hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

    Sedangkan ketaatan kepada orang tua sifatnya terbatas, yakni selama berada di jalan yang benar dan tidak taat ketika diminta dalam hal kemaksiatan.

    Kewajiban berbakti kepada orang tua sendiri termaktub dalam surah Al Isra ayat 23. Allah SWT berfirman,

    ۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣

    Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Orang Tua Adalah Karamah Utama, Kita Wajib Berbakti tonton DI SINI.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Silaturahmi di Bulan Ramadan



    Jakarta

    Banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan menjalin tali silaturahmi. Adiwarman A. Karim menjelaskan dalil dalam Al-Qur’an dan hadits tentang keutamaan serta manfaat silaturahmi.

    Salah satu manfaat silaturahmi adalah memperpanjang umur serta melancarkan rezeki. Hal tersebut diungkapkan Adiwarman A. Karim selaku Praktisi Ekonomi Syariah dalam Mutiara Ramadan detikcom, Rabu (5/4/2023).

    “Silaturahim banyak jenisnya, apalagi di bulan Ramadan. Kita harus banyak silaturahim,” kata Adiwarman.


    Manfaat silaturahim ini diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits,

    “Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR. Al-Bazzar, Hakim).

    Lebih lanjut, Adiwarman juga menyebutkan silaturahim banyak jenisnya. “Yang penting jalani silaturahim. Bagaimana bisnis bisa maju kalau nggak silaturahim, bener nggak? Bagaimana orang bisa ingat kita, bagaimana orang bisa kenal kita kalau nggak silaturahim?” ujarnya.

    Manfaat silaturahmi yang kedua adalah mendapatkan pahala yang besar. Disebutkan Rasulullah SAW bahwa pahala menjalin silaturahmi lebih besar daripada membebaskan seorang budak.

    Dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 10, Allah berfirman tentang balasan kebaikan bagi orang-orang yang berbuat baik.

    قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

    Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

    “Dengan silaturahim kita memasukkan rasa bahagia kepada hati orang lain. Ini amalan yang paling cepat sampai kepada Allah SWT,” sambung Adiwarman.

    Manfaat apalagi yang bisa didapatkan dengan silaturahmi? Yuk Simak video selengkapnya di Mutiara Ramadan: Jenis-jenis Silaturahmi dan Manfaatnya di Bulan Ramadan tonton DI SINI.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Setiap Keburukan Pasti Ada Kebaikannya



    Jakarta

    Kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang berpotensi ada pada setiap diri manusia. Menurut Habib Ja’far, di balik suatu keburukan pasti ada kebaikannya.

    Hal tersebut diungkapkan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Kamis (6/4/2023). Habib mengawalinya dengan mengatakan bahwa identitas umat Islam sebagaimana dibawakan Rasulullah SAW adalah selalu melihat kebaikan dan buta akan keburukan.

    “Salah satu identitas umat Islam yang diproklamirkan oleh Nabi Muhammad itu adalah dia selalu melihat kebaikan dan buta akan keburukan. Sehingga dia selalu mengikuti jalan kebaikan dan tidak pernah ke-distract sama jalan keburukan,” ucap Habib Ja’far.


    Habib Ja’far menjelaskan, seorang muslim sudah sepatutnya mencari hikmah di balik setiap keburukan. Sebab, kata Nabi SAW, pelajaran yang baik (al-hikmah) merupakan harta karun umat Islam yang harus kita cari.

    Faktanya, kata Habib Ja’far, tidak ada manusia yang sepenuhnya buruk. Sebab, Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Hijr ayat 29,

    فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

    Artinya: “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud.”

    Habib Ja’far menjelaskan, maksud roh dalam ayat tersebut adalah fitrah yang mana Nabi SAW katakan itu adalah suatu kesucian yang ada pada setiap manusia. Fitrah akan terus ada dan umat Islam sebaiknya melihat orang lain dengan fitrah tersebut.

    “Nah, kita sebaiknya berfokus kepada fitrah itu sebagai kebaikan dalam melihat manusia lain. Sehingga kita selalu optimis untuk bisa membuat dia menjadi baik dan lebih baik,” ujar Habib Ja’far.

    Allah SWT juga telah memerintahkan kepada umat manusia agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Dia berfirman,

    ۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar: 53)

    Bagaimana caranya melihat kebaikan dalam suatu keburukan? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Setiap Keburukan Pasti Ada Kebaikannya tonton DI SINI.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Mutiara Ramadan Adiwarman A. Karim: Perbuatan yang Membawa Keberkahan



    Jakarta

    Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang akan melimpahkan keberkahan bagi hambanya yang melakukan amal kebaikan. Perbuatan yang membawa keberkahan ini dapat dirasakan manfaatnya di dunia maupun di akhirat.

    Adiwarman A. Karim selaku Praktisi Ekonomi Syariah dalam Mutiara Ramadan detikcom, Kamis (6/4/2023) menjelaskan perbuatan yang membawa keberkahan.

    “Keberkahan Allah dilimpahkan kepada kita semua. Urusan rezeki mau kaya mau miskin, Allah yang mengatur,” ujarnya.


    Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang doa yang diajarkan Rasulullah SAW sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki sekaligus doa memohon perlindungan.

    “Rasulullah ajarkan doa yang di Indonesia salah kaprah jadi doa mau makan padahal ini doa cari rezeki,” ujar Adiwarman.

    اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    “Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar.”

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

    Makna keberkahan juga dibahas oleh Adiwarman. Ia menyebutkan dalam ajaran Islam keberkahan memiliki empat makna.

    1. Siapa yang melakukan perbuatan ia bahagia
    2. Membawa kebahagiaan bagi orang sekitar
    3. Merasa mendapat manfaat dari perbuatan
    4. Orang sekitar mendapat manfaat dari perbuatan kita

    Hal ini juga turut dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 60

    هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

    Artinya: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

    “Terus buat kebaikan karena kita mengharapkan berkahnya Allah. Di bulan Ramadan banyak keberkahan. Dalam sahur ada berkahnya. Keberkahan ini yang harus kita cari,” jelas Adiwarman.

    Perbuatan apa lagi yang membawa keberkahan dan manfaat bagi seorang muslim? Simak video selengkapnya di Mutiara Ramadan: Bentuk Perbuatan yang Membawa Keberkahan tonton videonya DI SINI.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Rahasia Gapai Malam Lailatul Qadar



    Jakarta

    Lailatul Qadar merupakan malam yang istimewa bagi seluruh umat Islam. Sebab, muslim dianjurkan menghidupkan Lailatul Qadar dengan berbagai ibadah dan amalan, seperti mendirikan salat, dzikir, hingga membaca Al-Qur’an.

    Malam Lailatul Qadar hanya diberikan kepada umat Rasulullah SAW. Saking mulianya malam tersebut, para nabi bahkan ingin hidup kembali meski tidak membawa ajarannya agar dapat berjumpa dengan Lailatul Qadar.

    “Sekarang kita sudah jadi umatnya Rasulullah, alangkah ruginya kita tidak melakukan amal-amal di bulan Ramadan. Syukur-syukur pas beribadah turun Lailatul Qadar, itulah yang diharapkan sebetulnya ‘kan,” ujar Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Jumat (7/4/2023).


    Walau begitu, Prof Nasaruddin mengingatkan agar kita tidak melakukan ibadah hanya semata-mata menginginkan Lailatul Qadarnya. Sebab, menurutnya, Lailatul Qadar adalah makhluk, jadi yang harus kita kejar adalah penciptanya yaitu Allah SWT.

    “Ramadan itu istimewa, tapi jangan cari Ramadannya. Jadikanlah Ramadan sepanjang masa, jadikan Lailatul Qadar sepanjang masa buat kita,” lanjutnya.

    Dalam surah Al An’am ayat 162, dijelaskan bahwa ibadah, hidup, dan mati kita hanya untuk Allah SWT.

    قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Arab latin: Qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn

    Artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,”

    Prof Nasaruddin mengimbau kaum muslim untuk lebih gencar mengencangkan ibadahnya. Kemudian menurutnya tahun ini kita harus menjemput Lailatul Qadar dengan cara yang berbeda, jangan karena prediksi Lailatul Qadar di malam ganjil, kita justru malas-malasan di malam genap.

    “Jangan membedakan malam ganjil dan malam genap, pokoknya cover semua bulan Ramadan. Pasti ketemu juga Lailatul Qadar,” paparnya.

    Menurut penuturan Prof Nasaruddin, para ulama tafsir menafsirkan Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari beribu-ribu bulan, bukan hanya seribu. Karenanya, ia mengimbau umat Islam untuk melakukan salat sepanjang malam, i’tikaf, merenung, dan banyak berdoa kepada Allah SWT.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Malam Lailatul Qadar bisa disaksikan DI SINI.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara agar Jodoh di Dunia dan Akhirat



    Jakarta

    Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan agar menjadi jodoh di dunia dan akhirat. Habib Ja’far membagikan tips untuk mendapatkannya.

    Menurut Habib Ja’far, jodoh akan membuat kehidupan menjadi sakinah, yakni merasakan kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, dan lain sebagainya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Ar Rum ayat 21,

    وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ


    Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

    Melalui jodoh, kata Habib Ja’far, seseorang menjadi relatif sempurna karena baik laki-laki maupun perempuan keduanya saling melengkapi.

    “Dengan jodoh ia menjadi relatif sempurna karena lelaki dan perempuan itu adalah semacam dua sosok yang saling melengkapi. Perempuan itu mewakili sifat feminim atau jamaliyahnya Allah dan laki-laki itu mewakili sifat maskulin atau jalaliahnya Allah,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Minggu (9/4/2023).

    “Karenanya ketika mereka saling melengkapi maka itu akan menjadi jalan yang begitu lapang dan begitu cepat menuju Allah,” imbuhnya.

    Jodoh di dunia bisa saja menjadi jodoh kelak di akhirat. Habib Ja’far mencontohkan suatu kisah dari salah satu istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah.

    Ummu Salamah merupakan seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Untuk mengangkat derajatnya, Rasulullah SAW pun menikahinya.

    Pada suatu ketika, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW perkara jodoh di akhirat. “Nabi, kelak di akhirat, saya ini akan berjodoh dengan suami saya yang lalu atau denganmu yang merupakan suamiku saat ini?” tanya Ummu Salamah.

    Kemudian, Rasulullah SAW menjawab, “Kamu akan berjodoh di akhirat dengan yang terbaik akhlaknya.”

    Dari kisah tersebut, terang Habib Ja’far, ada dua hal yang bisa kita petik. Pertama, tentang kerendahan hati Rasulullah SAW. Beliau adalah orang yang terbaik akhlaknya, namun tidak secara langsung mengatakan bahwa jodoh Ummu Salamah kelak di akhirat adalah beliau.

    Kedua, kata Habib Ja’far, agar pasangan kita di dunia kelak menjadi jodoh di akhirat, maka sebaiknya kita memilih pasangan yang baik akhlaknya.

    Lantas, bagaimana cara mengupayakan agar jodoh kita di dunia kelak juga menjadi jodoh kita di akhirat? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Cara agar Jodoh di Dunia dan Akhirat tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ada Dua Tingkatan Ikhlas dalam Beribadah, Apa Saja?



    Jakarta

    Sikap ikhlas diartikan sebagai kesungguhan dan ketaatan semata-mata karena Allah SWT. Tidak semua orang memiliki perilaku ikhlas, sebab ada sejumlah perkara yang membuat seseorang untuk bersikap ikhlas.

    Dalam Islam sendiri, ikhlas dibagi ke dalam dua tingkatan, yaitu mukhlis dan mukhlas. Menurut penuturan Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Senin (10/4/2023), mukhlas menjadi tingkatan yang paling tinggi.

    Saking tingginya peringkat mukhlas, sampai-sampai iblis bersumpah enggan menggoda anak cucu Adam yang telah sampai ke dalam tingkatan tersebut. Sementara itu, mukhlis berada di bawah mukhlas.


    Makna dari mukhlis sendiri ialah seseorang yang ikhlas melakukan ketaatan kepada Allah, namun masih gemar menerima pujian dari orang lain atas tindakannya. Ia masih menikmati pujian-pujian hingga menampilkan kebaikan-kebaikan yang telah dikerjakannya.

    “Masih terbetik dalam dirinya sebuah kebanggaan tersendiri kalau dipuji orang lain, itu mukhlis. Orang mukhlis itu belum bebas (dari) iblis,” kata Prof Nasaruddin.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, lain halnya dengan mukhlas yang menjalani keikhlasan sebagai kebiasaannya. Muslim dengan tingkatan mukhlas tidak akan mempedulikan pujian yang akan didapat.

    “Kalau mukhlas itu tanpa nama. Kita kan kalau tanpa nama uang recehan, tapi kalau uang gede itu kartu nama,” seloroh Prof Nasaruddin.

    Rasulullah SAW sendiri mengatakan bahwa orang yang termasuk ke dalam tingkatan mukhlas akan menyumbang dengan tangan kanannya tanpa diketahui oleh tangan kirinya. Bahkan, apabila seseorang masih memamerkan bantuan yang ia berikan untuk disampaikan kepada orang lain, hal tersebut diibaratkan sebagai pembawa ember bocor ke surga.

    “Jadi jangan membawa ember bocor. Maka itu usahakan sembunyikan seluruh amal kebajikan,” lanjut Prof Nasaruddin.

    Dia juga mengimbau kaum muslimin untuk merahasiakan kebajikan yang dikerjakan. Sebab, semakin kita merahasiakan kebajikan yang dilakukan maka semakin besar pula pahalanya di mata Allah SWT.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Tingkatan Ikhlas Beribadah kepada Allah SWT dapat disaksikan DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com