Tag: rasulullah saw

  • Hadits Para Nabi Masih Hidup di Alam Kubur, Apa Maksudnya?



    Jakarta

    Salah satu riwayat shahih menyebutkan bahwa para nabi masih hidup di dalam kubur mereka. Para Nabi tersebut disebutkan sedang dalam keadaan mengerjakan salat.

    Hadits yang menjelaskan hal itu bersumber dari sahabat Anas bin Malik RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW. Berikut bacaan hadits yang kemudian dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah,

    الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون


    Artinya: “Para nabi itu hidup di dalam kubur mereka dalam keadaan mengerjakan salat.” (HR Abu Ya’ala dalam Kitab Masma’u Al Zawa’id)

    Dalam riwayat lain juga disebutkan hal serupa sebagaimana Nabi Musa AS pernah disaksikan oleh Rasulullah SAW sedang mengerjakan salat dalam kuburnya. Dari sahabat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda,

    مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ

    Artinya: “Aku melewati Musa AS pada malam Isra di samping bukit pasir yang berwarna merah dalam keadaan berdiri mengerjakan salat dalam kuburnya.” (HR Muslim)

    Berkenaan dengan amalan yang dilakukan para nabi tersebut, Anas bin Malik RA juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW yang pernah berkata pada sahabatnya, “Para nabi tidak dibiarkan di dalam kubur mereka setelah empat puluh hari, tetapi mereka bersembah sujud di hadapan Allah SWT hingga saat sangkakala ditiup (pada hari kiamat).”

    Al Baihaqi berpendapat seperti diterjemahkan A. Shihabuddin dalam buku Membongkar Kejumudan bahwa hadits-hadits di atas bersanad shahih. Ia berkata bahwa kehidupan para nabi setelah wafat memang sudah banyak diberitakan oleh hadits shahih.

    Selain itu, Ibnu Taimiyah menambahkan, Nabi Musa AS yang dilihat Rasulullah SAW mengamalkan salat di dalam kubur dan saat melewati lapisan langit ketika Isra Mi’raj bukanlah suatu fakta yang bertentangan. Sebab, sosok yang dilihat Rasulullah SAW itu adalah roh dari Nabi Musa AS yang disetarakan dengan keadaan malaikat.

    “Roh itu kondisinya sama halnya dengan malaikat yang dalam sekejap dapat naik dan turun, kondisi roh itu tidaklah sama dengan kondisi badan,” terang Ibnu Taimiyah.

    Senada dengan itu, dalam buku Tanya Jawab Islam yang disusun oleh Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah KTB (PISS-KTB) menjelaskan, roh yang mendominasi keadaan para nabi di alam kubur sebagaimana jasad yang mendominasi saat dalam keadaan hidup di dunia. Mereka dapat berpindah dengan cepat seperti kasus Nabi Musa AS yang dilihat oleh Rasulullah SAW.

    Lebih lanjut, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam buku Ibrahim menjelaskan, sudah sepatutnya bagi muslim cukup mengimani sabda Rasulullah SAW dalam hadits tersebut tanpa mempertanyakan caranya. Namun, keimanan tersebut perlu diiringi dengan keyakinan bahwa kehidupan para nabi yang dimaksud adalah kehidupan alam barzakh bukan alam dunia.

    Sebab itu pula, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menegaskan, tidak dibenarkan bila muslim meminta bantuan atau segala bentuk permintaan apapun kepada para nabi tersebut di dalam kubur. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Yunus ayat 106,

    وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ

    Artinya: “Janganlah engkau sembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu, sebab jika engkau lakukan (yang demikian itu), sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”

    (rah/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Bacaan Doa Buka Puasa Ganti Bulan Ramadan, Arab, Latin dan Artinya



    Yogyakarta

    Salah satu sunnah saat berpuasa yaitu menyegerakan berbuka dengan membaca doa buka puasa. Waktu berbuka menjadi waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa.

    Bahkan, Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk membaca doa ketika berbuka puasa, baik dengan doa buka puasa maupun doa-doa lainnya.

    ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل والمظلوم


    Artinya: “Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berdoa, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi.” (HR Tirmidzi).

    Selain itu, dijelaskan oleh Ustaz Arifin Ibnu Jumani dalam buku Magnet Rezeki Keluarga, bahwasannya Rasulullah SAW pun menganjurkan umat muslim untuk menyegerakan waktu berbuka. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits berikut:

    عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَلُوا الْفِطْرَ

    Artinya: Sahl bin Said menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Saat melakukan puasa ganti bulan Ramadan atau puasa qadha, umat muslim juga dianjurkan membaca doa saat berbuka. Bacaan doa buka puasa ganti bulan Ramadan sama seperti bacaan doa buka puasa yang lainnya, berikut bacaannya:

    Bacaan Doa Buka Puasa Ganti Bulan Ramadan

    Dikutip dari buku Doa dan Zikir Makbul karya Abu Hurairah Abdul Salam, ada dua bacaan doa buka puasa ganti bulan Ramadan yang bisa diamalkan.

    1. Doa Buka Puasa Versi Pertama

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

    Latin: Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in sya Allah.

    Artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insyaAllah.”

    2. Doa Buka Puasa Versi Kedua

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَي رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

    Latin: Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘ala rizqika afthortu bi rahmatika ya arhamar rahimin.

    Artinya: “Ya Allah, hanya kepada-Mu hamba berpuasa, hanya kepada-Mu hamba percaya, dan hanya dengan rezeki dari-Mu hamba berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.”

    Tata Cara Melaksanakan Puasa Qadha Ganti Bulan Ramadan

    Berdasarkan buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-Hari dari Kandungan hingga Kematian yang ditulis oleh Dr. Muh. Hambali, berikut ini adalah beberapa tata cara melaksanakan puasa qadha ganti bulan Ramadan.

    · Membaca niat puasa qadha di dalam hati dengan bacaan sebagai berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

    Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa-i fardhi ramadhaana lillahi ta’aalaa.

    Artinya: “Saya niat berpuasa pada esok hari untuk mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

    · Mempercepat waktu qadha, yaitu menyegerakan mengganti puasa bulan Ramadan yang dilakukan setelah bulan Ramadan sampai akhir bulan Sya’ban.

    · Diperbolehkan mengganti puasa bulan Ramadan dengan cara berturut-turut maupun secara terpisah.

    · Apabila seseorang tidak mengganti puasanya hingga masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya, padahal ia dalam keadaan mampu dan sempat, maka ia akan berdosa.

    · Orang yang meninggal dunia dan belum sempat mengganti hutang puasanya di bulan Ramadan, padahal ia mampu, maka ahli warisnya wajib membayar tunggakan itu.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Berbuka Puasa Ramadan Sendiri dan Bersama, Ini Bacaannya



    Jakarta

    Membaca doa berbuka puasa adalah adab sunnah dalam berbuka puasa. Belum lagi, berbuka puasa termasuk dari salah satu waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,

    ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

    Artinya: “Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi,” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).


    Dilansir dari buku Puasa Ibadah Kaya Makna karangan Dr. H. Miftah Faridl bahwa jelang berbuka, kita tetap diharapkan untuk dapat mengendalikan diri. Begitu adzan magrib berkumandang, kita telah diperbolehkan untuk berbuka dan menyantap apa saja kesukaan kita.

    Namun, buku tersebut mengingatkan agar muslim tidak lupa berdoa serta mengucapkan rasa syukur atas kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita. Sebagaimana sebuah hadits yang dibahas dalam buku ini bahwa orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, salah satunya ketika tengah berbuka.

    Dilansir melalui buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki karya KH. Sulaeman bin Muhammad Bahri, doa berbuka puasa adalah sebagai berikut.

    Doa Berbuka Puasa Ramadan

    ذَهَبَ الظُّلْماً وَابْتَلتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتِ الْأَحْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

    Arab Latin: Dzahabazhzhamaa’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatil ajru insyaa allaahu ta’aalaa.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi pertolongan kepadaku hingga aku dapat berpuasa dan memberikan rizki hingga aku dapat berbuka.”

    Doa Berbuka Puasa Ramadan Bersama

    أَفْطَرَ عندَكُمُ الصَّالِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ المَلائِكَةُ

    Bacaan latin: Afthara ‘indakumush shaaimuuna wa akala tha’aamakumul abraaru washallat ‘alaikumul malaaikatu.

    Artinya: “Berbukalah orang-orang yang berpuasa di tempat saudara ini dan makanlah makanan yang disuguhkan oleh orang-orang yang berbakti, dan para malaikat mendoakan saudara agar mendapat rahmat.”

    Waktu Doa Berbuka Puasa

    Mengutip Maryam Kinanti N dalam bukunya yang berjudul Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, dan Thibbun Nabawi, terdapat beberapa perbedaan di kalangan ulama terkait waktu membaca doa berbuka puasa. Sejumlah pendapat dari ulama menyatakan bahwa doa berbuka puasa dibaca setelah seseorang berbuka atau pertama kali membatalkan puasa dengan air, kurma, atau semacamnya.

    Pendapat ini dilandaskan dari kata kerja yang tertera dalam doa berbuka puasa yang berbentuk lampau (fi’il madhy). Seperti dalam lafadz kedua yang artinya, “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”

    Sementara itu, sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa doa berbuka puasa diucapkan sebelum berbuka puasa dan sebagian yang lain tidak menetapkan waktu yang tepat untuk membacanya.

    Itulah pembahasan kali ini mengenai doa berbuka puasa. Semoga membantu mempersiapkan kita dalam menjalani ibadah puasa Ramadan.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Sholat Witir Lengkap Sesuai Sunnah



    Jakarta

    Sholat Witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari yang umumnya sebagai penutup qiyamul lail. Umat Islam bisa melanjutkan ibadah ini dengan membaca doa setelah sholat Witir.

    Dalil pelaksanaan sholat Witir bersandar pada hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA. Ia berkata,

    أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ


    Artinya: “Rasulullah mewasiatkan kepadaku tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan selama hidupku, yaitu sholat Dhuha, berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, dan sholat Witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Jumlah rakaat sholat Witir paling sedikit satu rakaat. Menurut sebuah hadits yang berasal dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menjadikan sholat Witir sebagai penutup rangkaian sholat malam. Beliau SAW bersabda,

    اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

    Artinya: “Jadikan sholat malammu yang terakhir adalah sholat Witir.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri dalam Kitab al-Fiqhu al-Madzahib al-Arba’ah, al-Juz’ al-Awwal, Kitab ash-Shalah, sholat Witir memiliki dua waktu dalam pengerjaannya, yakni waktu ikhtiyari (waktu pilihan, luas) dan waktu dharuri (waktu darurat atau sempit).

    Waktu ikhtiyari adalah setelah sholat Isya tepatnya setelah hilangnya mega merah hingga terbit fajar. Adapun, waktu dharuri adalah setelah terbit fajar hingga sempurnanya sholat Subuh. Mengerjakan sholat Witir pada waktu dharuri ini makruh hukumnya apabila tanpa ada suatu uzur.

    Bagi orang yang mengerjakan sholat Witir pada permulaan malam kemudian bangun di akhir malam dan sholat sunnah, ia tidak perlu lagi mengerjakan sholat Witir, sebagaimana dijelaskan Hasan Ayub dalam Kitab Fikih Ibadah-nya.

    Selanjutnya, umat Islam menutupnya dengan membaca doa setelah sholat Witir sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadits. Merangkum detikHikmah, berikut bacaan selengkapnya.

    Doa setelah Sholat Witir Arab, Latin, dan Artinya

    سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ , سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ , سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ

    Subhaanal malikil qudduus, Subhaanal malikil qudduus, Subhaanal malikil qudduus

    Artinya: “Mahasuci Allah Raja Yang Maha Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Maha Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Mahasuci.” (Nabi mengangkat dan memanjangkan suaranya pada ucapan yang ketiga).” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

    Selain itu, ada versi lain bacaan doa setelah sholat Witir yang bersandar pada riwayat para penyusun Kitab Sunan. Berikut bacaannya,

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

    Allahumma innii a’uudzu biridhooka min sakhothika, wa bimu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’uudzubika minka laa uhshii tsanaaan ‘alaika’, anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu, dan berlindung kepada-MU dari siksaan-Mu. Aku tidaklah mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau menyanjung atau memuji diri-Mu sendiri.” (HR Ash-Haabus Sunan, Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

    Sementara itu, menurut Kitab Majmu’ Syarif, doa setelah sholat Witir adalah sebagai berikut,

    Subbuuhun qudduusur rabbunaa warabbul malaa’ikati war ruuh. Subhaanallaahi walhamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil azhiim

    Artinya: “Mahasuci dan Mahakudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Roh. Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar. Dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Malaikat Jibril yang Diaminkan Nabi Muhammad



    Jakarta

    Malaikat Jibril pernah memanjatkan doa yang diaminkan Nabi Muhammad SAW. Salah satunya tentang celakanya seorang muslim yang menjumpai bulan Ramadan, namun ia tidak mendapat ampunan dari Allah SWT.

    Doa Malaikat Jibril ini disebutkan dalam sebuah riwayat yang turut dinukil M.A. Fadlan Fatazka dalam buku Jamuan Ramadhan.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata saat Nabi Muhammad SAW pernah naik mimbar kemudian berkata, “Amin, Amin, Amin.”


    Ditanyakan kepadanya, “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?”

    Beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku, dia berkata, “Barang siapa yang mendapati bulan Ramadan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan ‘Amin’ maka aku pun mengucapkan Amin…” (HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad dan Al-Baihaqi). Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim.

    Masih di dalam buku yang sama, ada juga hadits lain yang senada yaitu Nabi SAW naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, Amin, Amin.”

    Para sahabat bertanya, “Kenapa engkau berkata ‘Amin, Amin, Amin, Ya Rasulullah?”

    Nabi SAW menjawab, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata, ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau Namun dia tidak bersholawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadan tetapi keluar dari bulan Ramadan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’ maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’.” (HR Al-Bazzar, Hakim, dan Bukhari)

    Makna hadits tersebut turut dijelaskan secara detail dalam buku Di Bawah Bimbingan Ilahi: Mengungkap Makna di Balik Kisah karya Sholihin dan 30 Khutbah Penggetar Hati Jilid 1 karya Bagus.

    Pertama, mengenai sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Model manusia merugi menurut hadits tersebut ialah orang yang apabila disebut nama beliau di sisinya, namun tidak bersholawat atas beliau. Pasalnya, bersholawat atas Rasulullah SAW merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah SWT.

    Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Ahzab ayat 56,

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

    Terkait hal tersebut, Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa memohonkan sholawat atasku sekali, Allah SWT bersholawat atasnya sepuluh kali.” (HR Muslim)

    Kedua, datangnya bulan Ramadan harus kita sikap sebagai bulan berlimpahnya pahala dan kebaikan. Sekecil apapun kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT karena melimpah ruahnya pahala dan balasan.

    Ketiga, besarnya peran dan keberadaan orang tua terhadap anak diibaratkan sebagai kunci untuk memasuki surga Allah SWT. Menurut penjelasan dalam buku tersebut, jika ingin masuk surga maka buatlah orang tua tersenyum bahagia.

    Adapun, jika orang tua bersedih dan duka karena ulah anaknya, itu pertanda anak tersebut telah jauh dari ridha Allah SWT. Allah SWT baru akan ridha jika orang tua ridha dan Allah SWT akan murka manakala orang tuanya juga tidak ridha terhadapnya.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Masuk Masjid Arab dan Artinya Sesuai Sunnah



    Jakarta

    Sebagai umat Islam ketika hendak melakukan sesuatu kita juga dianjurkan untuk berdoa terlebih dahulu, begitu pula saat hendak masuk masjid. Berikut bacaan doa masuk masjid lengkap dengan artinya.

    Masjid merupakan tempat suci yang berfungsi untuk melakukan berbagai kegiatan spiritual dan ibadah seperti salat, iktikaf, zikir, dan sebagainya.

    Thoriq Aziz Jayana dalam buku Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati menukil sebuah riwayat mengenai kisah Rasulullah SAW saat hendak memasuki masjid. Ketika masuk masjid, kita harus berakhlak dan menggunakan adab-adab yang baik, sebagaimana sabda dari Rasulullah SAW,


    “Apabila kamu hendak masuk masjid, jika kamu melihat kotoran atau najis pada kedua sandalmu, bersihkanlah terlebih dahulu” (HR Abu Dawud)

    Bukan hanya itu saja, dalam hadits lain juga disebutkan,

    “Rasulullah SAW memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, membersihkan dan diharumkannya. (HR Ahmad)

    Menurut sejumlah riwayat, Rasulullah SAW juga membaca doa ketika masuk masjid. Berikut bacaan selengkapnya.

    Doa Masuk Masjid

    Mengutip Kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, berikut bacaan doa masuk masjid sesuai sunnah,

    أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ؛ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

    A’uudzu billaahil ‘adzhiimi wa biwajhihil kariimi wa sulthaanihil qadiimi minasy syaithaanir rajiim, alhamdulillah, Allahumma shalli wa sallim ‘ala muhaammadin wa ‘ala aali muhammadin, Allahummaghfir lii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatik.

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, kepada Zat-Nya Yang Maha Mulia dan kepada kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu dari setan yang terkutuk. Segala puji bagi Allah. Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku semua pintu rahmat-Mu.”

    Setelah membaca doa masuk masjid kemudian membaca basmalah dan melangkahkan kaki kanan pada saat masuk.

    Imam an-Nawawi juga menukil riwayat dalam Kitab Ibnu Sunni dari Anas RA, dia berkata bahwa jika Rasulullah SAW memasuki masjid, beliau membaca: Bismillah, Allaahumma shalli ‘ala Muhammad

    dan ketika keluar masjid Rasulullah SAW membaca: Bismillaahi allaahumma shalli ‘ala Muhammad.

    Selain kedua lafaz tersebut, Rasulullah SAW juga membaca doa dengan lafaz yang lebih singkat sebagaimana diriwayatkan dalam Kitab Ibnu Sunni dari Abdullah bin Hasan, dari ibunya, dari neneknya.

    Dikatakan, ketika memasuki masjid Rasulullah SAW bertahmid kemudian membaca doa masuk masjid sebagai berikut,

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَافْتَحْ لِي أَبْوابَ رَحْمَتِكَ

    Allaahummagh fir lii waftahlii abwaaba rahmatik

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, bukakanlah untukku semua pintu rahmat-Mu.”

    Doa Perjalanan Menuju Masjid

    Dalam buku Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati karya Thoriq Aziz Jayana juga terdapat doa ketika keluar rumah menuju masjid. Berikut bacaannya,

    بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Bismillahi tawakaltu ‘alallahi laa hawla wa laa quwwata illa billahi

    Artinya: “Dengan nama Allah SWT aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali Allah SWT.”

    Ketika berada dalam perjalanan menuju masjid, kita dapat membaca doa,

    اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِى لِسَانِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا، وَمِنْ تَحْتِي نُورًا، اللهم أعطنى نُورً

    Allahummaj’al fiy qolbiy, wa fiy lisaaniy nuuran, waj’al-niy fiy sam’iy nuuran, waj’alniy fiy bashoriy nuuran waj’alniy min khalfiy nuuran wa min amaamiy nuuran, waj’alniy min fauqiy nuuran, wa min tahtiy nuuran, Allahumma a’thiniy nuuran

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, dan dalam lisanku cahaya. Jadikanlah dalam pendengaranku cahaya, dan jadikanlah dalam penglihatanku cahaya. Jadikanlah cahaya dari belakangku, dan dari depanku cahaya. Ya Allah berilah aku cahaya.”

    Adab saat Pergi ke Masjid

    Masih di dalam buku yang sama dijelaskan mengenai adab saat pergi ke masjid, di antaranya:

    • Hadirkan dalam hati tentang rasa bahwa sedang menghadiri seruan Allah SWT dan senantiasa penuh harapan dengan panggilan itu. Hadirkan rasa hubb (cinta) yang tiada tara, bahwa Allah SWT satu-satunya yang berhak mendapatkan cinta.
    • Berjalanlah ke masjid tanpa tergesa-gesa.
    • Pastikan berangkat ke masjid sudah dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar.
    • Pakailah pakaian yang sopan, bersih dan suci, karena kita akan bertamu ke rumah Allah SWT.
    • Jangan bertelanjang baik keseluruhan tubuh maupun sebagian tubuh.
    • Disunnahkan untuk memakai wangi-wangian (minyak wangi). Namun bagi wanita, disunahkan tidak memakai wangi-wangian dan jangan berdandan yang mencolok.
    • Sepanjang perjalanan perbanyaklah berzikir dan bersholawat.
    • Saat sampai masjid, masuklah dengan keadaan tenang, dan dahulukan kaki kanan.

    Selain itu, disunnahkan membaca doa masuk masjid sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sholat Tahajud: Arab, Latin dan Artinya



    Jakarta

    Sholat tahajud menjadi salah satu amalan sholat malam yang dianjurkan Rasulullah SAW. Usai mendirikan sholat tahajud, sempatkan diri untuk membaca doa yang diajarkan Rasulullah SAW.

    Sholat tahajud merupakan amalan yang dapat ditunaikan sebagai ungkapan rasa syukur, mempertebal keimanan ataupun sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Anjuran sholat tahajud bahkan disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra Ayat 79


    وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

    Artinya: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

    Doa Sholat Tahajud

    Dalam Kitab Super Lengkap Panduan Belajar Shalat, Doa & Zikir oleh Ustaz A Solihin As Suhaili, dijelaskan doa yang bisa dibaca usai sholat tahajud. Doa ini rutin dibaca Rasulullah SAW.

    اَللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَالِكُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ

    اَللّٰهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

    Arab latin: Allahumma lakal hamdu Anta qayyimus sawamati wal ardhi wa man fihinn. Wa lakal hamdu anta malikus samawati wal ardhi wa man fihin. Wa lakal hamdu anta nurussamawati wal ardhi wa man fahihin wa lakal hamdu antal haqq wa wa’dukal haq, wa liqauka haqq, wa qauluka haq, wal jannatu haqq, wan naru haqq, wannabiyyuna haqq, Muhammadun shallalahu ‘alahi wa sallama haqq, wassa’atu haqq.

    Allahuma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khashamtu wa ilaikan hakamtu, faghfirli, ma qaddamtu, wama akkhartu, wama asrartu, wama a’lantu, wama anta a’lamu bihi minni, antal muqaddimu wa antal muakhiru, la ilaha illa anta, wala hawla wala quwwata illa billah.

    Artinya: “Ya Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji Bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya.

    Bagi-Mu segala puji Engkau (Allah) benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para nabi adalah benar, Muhammad adalah benar, hari kiamat adalah benar.

    Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, Kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu), aku menjatuhkan hukum.

    Ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Engkau.”

    Pada dasarnya sholat malam, termasuk sholat tahajud boleh dikerjakan pada awal malam yaitu setelah salat isya, atau pertengahan atau akhir malam sesuai dengan kesanggupan dan kondisi setiap muslim. Akan tetapi yang lebih utama adalah dilakukan pada
    sepertiga akhir malam.

    Manfaatkan momen ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Niatkan secara ikhlas semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah SWT.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Perjalanan Jauh Naik Mobil agar Selamat sampai Tujuan



    Jakarta

    Lebaran 2023 akan tiba kurang dari tiga pekan lagi. Bagi umat Islam yang hendak mudik, bisa membaca doa perjalanan jauh agar selamat sampai tujuan.

    Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar menukil sebuah riwayat dari Abdullah bin Sarjis RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW meminta perlindungan kepada Allah SWT dari beratnya perjalanan hingga buruknya pandangan ketika menempuh perjalanan jauh.

    “Jika Rasulullah SAW melakukan perjalanan beliau meminta perlindungan dari beratnya perjalanan, buruknya tempat kembali dan kebengkokan setelah lurus, doanya orang-orang yang dizalimi, serta buruknya pandangan ada pandangan dan harta.” (HR Muslim dalam Shahih-nya)


    Dalil berdoa ketika melakukan perjalanan jauh juga bersandar pada firman Allah SWT,

    وَالَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الْفُلْكِ وَالْاَنْعَامِ مَا تَرْكَبُوْنَۙ لِتَسْتَوٗا عَلٰى ظُهُوْرِهٖ ثُمَّ تَذْكُرُوْا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ اِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُوْلُوْا سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَۙ

    Artinya: “(Dialah) yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan dan menjadikan kapal laut untukmu serta hewan ternak untuk kamu tunggangi. Agar kamu dapat duduk di atas punggungnya. Kemudian jika kamu sudah duduk (di atas punggung)-nya, kamu akan mengingat nikmat Tuhanmu dan mengucapkan, “Maha Suci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS Az-Zukhruf: 12-13)

    Doa Perjalanan Jauh Arab, Latin, dan Artinya

    Ketika perjalanan jauh naik kendaraan Rasulullah SAW membaca takbir sebanyak tiga kali, kemudian membaca doa berikut:

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab latin: Subhaanalladzii sakhkhara lana hadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun

    Artinya: “Mahasuci Engkau, sungguh aku benar-benar telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”

    Kemudian membaca:

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ في سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اللَّهُمَّ هَوَ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَأَطُو عَنَا يُعْدَهُ

    Arab latin: Allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal birra wattak-waa, wa minal amali maa tardlaa, allaahuma hawwin ‘alainaa safaranaa haazaa wa athwi ‘anna bu’dahu

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami, perjalanan yang dalam kebaikan dan ketakwaan, dan termasuk amal yang engkau ridhai, ya Allah permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah atas kami yang jauh.”

    Lalu membaca:

    اللَّهُمَّ أَنتَ الصَّاحِبُ في السَّفَرِ وَالخَلِيفَةُ في أأَهْلِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ وَكَابَةِ المَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Allaahumma anta shaahibu fis safari wal khalifatu fii ahlii, allaahumma innii a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabbatil mandhari wa suual munqalabi fil maali wal ahli

    Artinya: “Ya Allah, Engkau menyertai dan pengganti keluarga dalam perjalanan, ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan ini dan buruknya pemandangan serta jeleknya tempat kembali pada keluarga dan hamba yang aku tinggalkan.”

    Doa tersebut diriwayatkan dalam Kitab Sahih Muslim pada Kitab al-Manasik, dari Abdullah bin Umar RA.

    Dalam riwayat lain yang termuat dalam Kitab Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dengan sanad yang sahih, dari Ali bin Rabi’ah, sahabat Ali bin Abi Thalib membaca basmalah ketika naik kendaraan. Lalu, ketika telah duduk, dia membaca:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab latin: Alhamdulillaahilladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang menundukkan semua ini kepada kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    Kemudian dia membaca takbir sebanyak tiga kali, dan membaca:

    سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ

    Arab latin: Subhaanala innii dhalamtu nafsii fagfirlii fa innahuu laa yaghfirudh dhunuuba illaa anta

    Artinya: “Mahasuci Engkau, sungguh aku benar-benar telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan mengampuni dosa-dosaku kecuali engkau.”

    Doa Perjalanan Jauh Mustajab

    Dalam Kitab Mausu’ah Al-Huquq Al-Islamiyah karya Syaikh Sa’ad Yusuf Mahmud Abu Aziz dikatakan, doa yang dipanjatkan ketika melakukan perjalanan jauh termasuk doa mustajab.

    Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa salah satu yang menyebabkan terkabulnya doa seseorang ialah melakukan perjalanan jauh.

    Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda, “Tiga doa yang pasti akan dikabulkan: doa orang teraniaya, doa orang yang selalu bepergian, dan orang tua kepada anaknya.” (HR Abu Dawud dan lainnya)

    Dijelaskan lebih lanjut, perjalanan panjang membuat semakin dekat kepada dikabulkannya doa karena merupakan tempat tercapainya kesedihan jiwa dan keterasingan dari Tanah Air, serta menanggung kesulitan. Kesedihan inilah yang merupakan salah satu penyebab dikabulkannya doa.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Memotong Ayam Menurut Islam dan Tata Cara Menyembelihnya



    Jakarta

    Doa memotong ayam penting dibaca oleh umat Islam yang ingin menyembelihnya untuk menjaga kehalalan hewan tersebut. Jika proses penyembelihan ayam tidak sesuai dengan syariat Islam, maka daging ayam haram hukumnya.

    Sementara itu, orang yang menyembelih ayam harus beragama Islam dan sudah baligh, tidak sedang dipengaruhi alkohol, dan tidak memiliki gangguan mental. Adapun doa memotong ayam menurut Islam dan tata cara menyembelihnya yang baik dan benar yaitu sebagai berikut.

    Doa Memotong Ayam Menurut Islam

    Hukum islam mewajibkan umatnya untuk melantunkan doa memotong ayam sebelum hewan tersebut disembelih dan diolah. Perlu diperhatikan bahwa ayam yang sebelumnya sudah mati atau telah menjadi bangkai haram hukumnya untuk dikonsumsi.

    Berikut doa memotong ayam sesuai dengan syariat Islam dalam tulisan Arab dan latin beserta artinya.


    1. Membaca Basmalah

    Pertama-tama, awali doa memotong ayam dengan membaca basmalah:

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

    Bismillahir rahmanir rahim

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,”

    2. Membaca Doa Menyembelih

    Kedua, baca doa memotong ayam seperti berikut ini:

    بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

    Bismillaahi wallahu akbar Allahumma inna hadza minka wa laka

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, sesungguhnya (sembelihan) ini dari-Mu dan untuk-Mu.”

    Cara Menyembelih Ayam

    Dikutip dari laman resmi UHAMKA, berikut tata cara menyembelih ayam menurut syariat islam.

    1. Siapkan alat penyembelihan yang sudah tajam dan bersih, berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Rafi’ bin Khadij. Ia berkata:

    يَا رَسُوْلُ اللهِ اِنَّا لاَقُوْا العَدُوَ غَدًا وَلَيْسَ مَعَنَا مُدًى قاَلَ ماَ اَنْهَرَ الدَمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ لَيْسَ السِنَ وَالظُفْرَ وَسَأُحَدِثُكَ أَماَ السِنُ فَعَظْمٌ وَاَمَا الظُفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ [رواه أحمد والبيهقي]

    Artinya: “Ya Rasulullah sesungguhnya kami besok akan berhadapan dengan musuh dan kami tidak mempunyai pisau (untuk sembelih). Maka Nabi saw bersabda: Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan disebutkan atasnya nama Allah, makanlah (sembelihan tersebut) apabila yang dipakai untuk penyembelihan itu bukan dengan gigi dan kuku. Dan saya akan menerangkan itu kepadamu. Adapun gigi itu adalah tulang dan adapun kuku itu adalah pisau menurut kaum Habasyah.” [HR. Ahmad dan al-Baihaqi]

    2. Dilanjutkan dengan menyebutkan nama Allah atau membaca basmalah, berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-An’am (6):121.

    وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ [الأنعام (6): 121]

    Artinya: “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-arang yang musyrik.”

    3. Ikat kaki hewan, kemudian dibaringkan di atas lambung sebelah kiri, dan hadapkan leher hewan yang akan disembelih ke arah kiblat.

    4. Memotong tenggorokan dan dua urat leher dalam satu gerakan.

    5. Setelah hewan benar-benar mati, baru boleh dibersihkan terlebih dahulu, dan dikuliti.

    Syarat Menyembelih Ayam

    Adapun syarat menyembelih ayam sebelum melantunkan doa memotong ayam sebagai berikut.

    • Penyembelih beragama Islam.
    • Pastikan ayam yang disebelih dalam keadaan hidup dan sehat.
    • Alat penyembelih harus tajam dan juga bersih.
    • Penyembelihan dilakukan dengan ikhlas dan atas rasa syukur dari Allah SWT.

    Itulah doa memotong ayam, cara menyembelih, dan syaratnya dalam hukum Islam. Semoga artikel ini bisa membantu detikers yang sedang belajar kaidah Islam dalam penyembelihan ayam.

    (fds/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Nabi Yunus dan Kisahnya Kala Berada di dalam Perut Paus



    Jakarta

    Dalam Al-Qur’an diabadikan doa-doa mustajab yang pernah para nabi dan rasul lafalkan. Di antaranya ada yang paling dikenal yakni doa Nabi Yunus AS saat dirinya berada dalam kegelapan perut ikan paus.

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam buku Fiqih Doa & Dzikir 2, menyebut Yunus AS memanjatkan doa ini ketika beliau pergi dan keluar dari kaumnya yakni penduduk Ninawa, di wilayah Maushil, Irak.

    Sebelumnya, beliau telah berulang kali mengajak mereka kepada ketauhidan dan ajaran Allah SWT, tetapi mereka enggan menurutinya dan tetap memilih dalam kekufuran. Di saat beliau sudah tak tahan lagi dengan sikap kaumnya, Nabi Yunus meninggalkan mereka dengan amarah dan peringatan azab dari Allah SWT.


    Kemudian ia menumpang pada perahu yang dipenuhi orang dan barang-barang. Di saat perahu itu hampir tenggelam karena kelebihan muatan, para penumpang memutuskan untuk mengundi siapa yang harus dibuang di laut untuk meringankan beban kapal itu.

    Setelah beberapa kali terjadi undian, nama Yunus AS lah yang terpilih. Akhirnya ia menjatuhkan dirinya ke laut. Namun Allah SWT tak serta merta membiarkan hamba-Nya yang takwa itu tenggelam. Dia mengirim ikan besar (diduga paus) untuk menelan Nabi Yunus, tetapi tidak memakan dagingnya dan meremukkan tulangnya.

    Tertelanlah Nabi Yunus ke dalam perut ikan paus yang gelap gulita. Dalam kegelapan berlapis itu, beliau menyadari serta mengakui kesalahan yang telah diperbuat terhadap kaumnya.

    Lalu beliau segera bertaubat, dilanjut dengan bertasbih, bertahlil, beristighfar kepada-Nya seraya berdoa dengan bacaan yang diabadikan dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Anbiya 87.

    Allah SWT pun mendengar doa hamba-Nya itu. Kemudian Dia mengampuninya dan mengijabah doa itu dengan menyelamatkan Yunus AS keluar dari perut ikan paus tersebut.

    Doa Nabi Yunus AS: Arab, Latin, dan Arti

    Doa Yunus AS ini diketahui termuat dalam Surat Al-Anbiya ayat 87:

    لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    Latin: lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn

    Artinya: “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”

    Keutamaan Doa Nabi Yunus AS

    Syaikh Al-Badr dalam bukunya turut menjelaskan bahwa doa ini mengandung makna mulia, petunjuk agung, serta mengharuskan penerimaan akan pengabulan. Ibnu Al-Qayyim turut mengungkap isi sebenarnya dari doa Nabi Yunus ini,

    “Adapun doa dzunnun (Yunus AS), di dalamnya terdapat kesempurnaan tauhid dan pensucian terhadap Rabb. Pengakuan hamba akan kedzalimannya dan dosanya merupakan obat paling baik dalam menawar kesusahan, kegundahan, dan kegelisahan.”

    Menukil pendapat Ibnu Katsir dalam buku Fiqih Doa & Dzikir 2 menerangkan makna doa yang demikian membuat doa ini afdhal untuk dibaca pada kala tertimpa musibah, “Terutama apabila mereka berdoa dengan doa ini saat ditimpa cobaan. Sungguh telah datang anjuran memanjatkan doa ini dari penghulu para nabi.”

    Ya, memang Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya untuk memohon dengan doa Yunus AS. Lantaran doa ini akan menjadi perantara dikabulkannya keinginan seseorang. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqqash:

    “Doa dzunnun (Yunus AS) ketika berdoa kepada Rabbnya dan dia di perut ikan adalah, ‘tidak ada sembahan yang haq selain Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zhalim, (QS Al-Anbiya: 87)’, tidaklah seorang muslim berdoa dengannya pada sesuatu pun melainkan dikabulkan untuknya.” (HR Ahmad & Tirmidzi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com