Tag: rasulullah saw

  • Doa Pembuka Majelis Sesuai Sunnah Versi Singkat dan Panjang


    Jakarta

    Doa pembuka majelis adalah bacaan yang bisa diamalkan muslim ketika hendak mengikuti suatu pertemuan atau yang juga disebut sebagai majelis. Doa ini dapat diamalkan agar perkumpulan yang dilakukan dapat bermanfaat dan diridai oleh Allah SWT.

    Menurut Abdul Hamid dalam buku Memaknai Kehidupan, secara bahasa, majelis berasal dari bahasa Arab majlis yang artinya tempat duduk. Namun, dalam konteks ini yang dimaksud majelis ialah majelis ilmu atau majelis taklim.

    Majelis juga disebut sebagai acara Islam yang mana menjadi ajang bertemunya orang-orang dengan tujuan tertentu. Sejak zaman Rasulullah SAW berbagai kegiatan majelis ilmu telah digelar.


    Dikutip dari Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah, disunnahkan untuk memulai suatu majelis dengan membacakan khutbatul hajah, yang selalu dibacakan oleh Rasulullah SAW sebelum memberikan khutbah, ceramah, baik itu dalam acara pernikahan, muhadharah (ceramah), atau pertemuan lainnya. Sunnah ini juga diikuti oleh para sahabat beliau.

    Doa pembuka majelis sendiri dapat ditemukan dalam surah Al-A’raf ayat 43, sebagaimana dikutip dalam buku Doa Para Nabi dan Rasul karya Nurul Huda.

    Doa Pembuka Majelis Singkat: Arab, Latin, dan Artinya

    … الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَننَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِهْتَدِى لَوْلَا أَنْ هَدَيْنَا اللَّهُ …

    Arab latin: “Alḥamdu lillāhil-lażī hadānā lihāżā, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh”

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk,”

    Selain itu, ada juga doa pembuka majelis versi lainnya yang lebih panjang, berikut bunyinya,

    Doa Pembuka Majelis Versi Panjang: Arab, Latin, dan Artinya

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . أَمَّا بَعْدُ

    Arab Latin: “Innal hamdalillaah, nahmaduhuu, wa nasta’iinuhu, wa nastagh-firuh. Wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyi-aati a’maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudh-lil falaa haadiya lah. Wa asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ammaa ba’du.”

    Artinya: “Segala puji hanya kepada Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,”

    Selain adanya doa pembuka majelis, terdapat juga doa penutup majelis yang mengharap ampunan-Nya akan kekhilafan yang mungkin saja kita lakukan secara sengaja atau tidak disengaja selama ikut majelis.

    Berikut ini adalah bacaan doa penutup majelis seperti dikutip dari buku Zikir Doa Pembuka Pintu Rahmat tulisan Gus Arifin.

    Doa Penutup Majelis dengan Arab, Latin, dan Artinya

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

    Arab Latin: “Subhanakallâhuma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illà anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.”

    Artinya: “Maha Suci Engkau, Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertobat kepada-Mu.

    Demikian penjelasan kali ini mengenai doa pembuka majelis sekaligus penutupnya. Jangan sampai lupa untuk diamalkan ya, detikers!

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Wasiat Jibril yang Selalu Disampaikan ke Rasulullah



    Jakarta

    Malaikat Jibril selalu berwasiat kepada Rasulullah SAW tentang amal perbuatan yang bisa dikerjakan. Menurut sebuah riwayat, setidaknya ada tujuh wasiat Jibril yang disampaikan kepada Rasulullah SAW.

    Wasiat Jibril ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari RA sebagaimana dinukil Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Jawi dalam Nashaihul ‘Ibad Syarh Al-Munabbihaat ‘Alal Isti’daad Li Yaumil Ma’aad.

    Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


    1. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai aku mengira kalau tetangga itu akan dijadikan sebagai ahli waris.

    2. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memperlakukan istri sebaik mungkin sampai aku mengira kalau istri itu haram diceraikan.

    3. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar sebaik mungkin dalam memperlakukan para budak sampai aku mengira suatu waktu nanti mereka harus dimerdekakan.

    4. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar aku melakukan siwak (gosok gigi) sampai aku mengira kalau bersiwak itu wajib.

    5. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk melakukan salat berjamaah sampai aku mengira Allah tidak akan menerima salat, kecuali dengan berjamaah.

    6. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk mengerjakan salat Tahajud sampai aku mengira tidak ada tidur pada waktu malam.

    7. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar senantiasa berdzikir kepada Allah sampai aku mengira tidak ada ucapan yang bermanfaat, kecuali dzikir kepada Allah.

    Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan riwayat wasiat Jibril agar berbuat baik kepada tetangga dalam Shahih-nya. Muslim mengeluarkannya dalam Bab Al-Birr wa Ash-Shilah. Hadits tersebut dinilai shahih.

    Dari hasil wasiat tersebut, Rasulullah SAW mensyariatkan beberapa sunnah kepada umatnya, sebagaimana diterangkan dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah karya Raghib As-Sirjani. Salah satunya adalah sunnah berbagi makanan kepada tetangganya.

    “Sunnah ini bukan bermaksud menyeru seseorang membuat makanan khusus untuk tetangganya, namun memberi hadiah makanan yang dikonsumsi oleh tuan rumah sendiri, dan tentu tidak mengapa menambah sedikit kuantitas makanan agar dapat menyisihkan kepada tetangga sebagai pemberian atau hadiah,” jelas akademisi Islam berkebangsaan Mesir tersebut.

    Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW secara khusus berpesan kepada kaum wanita, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa beliau SAW bersabda,

    “Wahai wanita-wanita kaum muslimin, janganlah seseorang meremehkan tetangganya walaupun hanya dengan memberi sedikit daging kambing.” (HR Bukhari dalam Kitab Al-Adab dan Muslim dalam Kitab Az-Zakat)

    Selain wasiat untuk berbuat baik kepada tetangga dan enam wasiat seperti disebutkan dalam hadits di atas, Malaikat Jibril juga memberikan wasiat lainnya kepada Rasulullah SAW. Dalam hadits yang dikeluarkan Thabrani dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    أتاني جبريلُ ، فقال : يا محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به ، واعلمْ أنَّ شرَفَ المؤمنِ قيامُه بالَّليلِ ، وعِزَّه استغناؤه عن الناسِ

    Artinya: “Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepadaku seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malam dan kehormatannya adalah rasa kecukupan dari manusia.”

    Dalam Tasliyat Ahlul Masha’ib karya Muhammad Al-Manjai Al-Hanbali terdapat hadits serupa dengan redaksi,

    “Jibril berkata, ‘Hiduplah semaumu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayat. Cintailah siapa saja yang engkau mau karena sesungguhnya engkau akan meninggalkannya. Dan, berbuatlah semaumu karena sesungguhnya engkau akan menghadap-Nya.” (HR Abu Dawud)

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Mengirim Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal


    Jakarta

    Doa dari keluarga atau kerabat untuk orang yang sudah meninggal akan bermanfaat baginya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al Khudri, Rasulullah SAW bersabda,

    “Pada hari kiamat seseorang diikuti kebaikan sebesar gunung, lalu ia bertanya, “Dari mana aku memperoleh semua ini? Dikatakan kepadanya, “Dari istighfar anakmu untukmu.” (HR Thabrani)

    Penyebutan anak dalam hadits di atas, tidak terbatas pada seorang anak dari orang yang sudah meninggal dunia saja. Namun, semua orang muslim dibolehkan saling mendoakan sebagaimana telah Allah SWT firmankan dalam surah Al Hasyr ayat 10,


    وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

    Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

    Cara Mengirim Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal

    Dalam praktiknya, salah satu cara mengirim doa bagi orang yang sudah meninggal dunia di Indonesia dapat dilakukan dengan tahlilan. Dijelaskan dalam buku Bimbingan Praktikum Ibadah oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, dalam acara tahlilan, keluarga dari orang yang meninggal dunia melakukan tahap persiapan seperti penentuan hari, tanggal, tempat, dan tamu yang akan diundang.

    Nama-nama almarhum atau almarhumah yang akan didoakan ditetapkan. Hidangan yang akan disiapkan dan bingkisan atau buah tangan untuk menghormati para tamu juga disusun dalam tahap persiapan ini.

    Selanjutnya pada tahap pelaksanaan, seorang ustaz yang dipilih akan memimpin tahlilan dengan membaca doa sambil menyebut nama orang yang sudah meninggal dunia serta bacaan surah pendek seperti surah Al Falaq dan surah An Nas. Berikut bacaan lengkap yang dapat dilafalkan.

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وبركاته … أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ .

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh… Astaghfirullahal ‘adzim (3×)

    إلَى حَضْرَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

    Ila hadratin nabiyyina Muhammadin syai’un lillāhi lahumud fâtihah

    ثم إلى أزواح أبي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَّ شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

    Tsumma ila arwahi abi bakrim, wa ‘imar, wa ‘utsman, wa ‘ali, syain lillahi lahumul fatihah

    ثم إلى أرواح …. شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَة

    Tsumma ila arwahi wa arwahi …. (disebutkan nama-nama almarhum dan almarhumah yang akan dikirimi doa), syai’un lillähi laharal fatihah

    لا إله إلا الله والله أكبر …. قُلْ هُوَ الله أحدٌ : اللَّهُ الصَّمَدُ : لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولد الله وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    La ilaha illallahu wallahu akbar … gulhurullah ahad … allahush shamad, lam yalid wa lam yalad, walam yakun lahu kufuwan ahad… (2x)

    لا إله إلا الله والله أكبر … قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ اللَّهِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ إِلَّا وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ الثقافاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا

    La ilaha illallahu wallahu akbar… qul ‘audzu birabbil falaq, min syarri ma khalaq wa min syarri ghasiqin idza waqab, wa min syarrin naffâtsäti fil uqadi, wa min syarri hasidin idza hasad (2x)

    لا إله إلا الله والله أكبر … قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ان من الجنَّةِ والنَّاسِ

    La ilaha illallahu wallahu akbar… qul ‘aūdzu birabbinnâs malikinnnås ilahinnas min syarril waswasil khannas, alladzi yuwaswisu fi sudurinnas minal jinnati wannās… (2x)

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

    La ilaha illallahu wallahu akbar

    Deretan Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal

    Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa setelah seseorang meninggal, semua amal perbuatannya telah terputus, kecuali tiga hal yakni sedekah yang terus memberi manfaat, ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, dan anak saleh yang mendoakannya. Dikutip dari Buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 dan Kitab Al-Adzkar oleh Imam an-Nawawi, berikut adalah beberapa doa untuk orang yang sudah meninggal.

    1. Doa untuk Orang Meninggal Versi Pertama

    السَّلَامُ علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ

    Arab latin: Assalaamu ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamullahu almustaqdimiina minna wal musta’khiriina wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun

    Artinya: “Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang Mukminin dan Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami insya Allah benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim, dari Aisyah)

    2. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kedua

    السَّلَامُ عَلَيْكُم دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

    Arab Latin: “Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’miniin wa innaa in syaa’allaahu bikum laahiquun”

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada kalian, wahai penghuni kuburan dari kaum mukmin, dan insya Allah kami akan menyusul kalian.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah)

    3. Doa untuk Orang Meninggal Versi Ketiga

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَاعْقِبَنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةٍ

    Arab Latin: “Allâhummaghfir lî wa lahu wa a’qibnî minhu ‘uqbâ hasanah.”

    Artinya: “Duhai Tuhan, ampunilah aku dan dia (orang yang meninggal) dan balaslah aku darinya dengan balasan yang baik.” (HR Ahmad, Musnad Ahmad dalam Kitab Baqi Musnad Al- Anshar)

    4. Doa untuk Orang Meninggal Versi Keempat

    Menurut buku Doa Ketika Kematian Tiba tulisan Islah Gusmian, ketika Abu Salamah meninggal dunia, istrinya, Ummu Salamah, mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk memberitahukan tentang kematian suaminya. Kemudian Rasulullah SAW meminta Ummu Salamah untuk berdoa dengan kalimat berikut,

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَأَفْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

    Arab Latin: “Allahummagh firli Abu Salamah, warfa’ darajatahu fil-mahdiyyin, wakhluhhu fi ‘aqibihi fil-ghabirin, wagfir lana wa lahu ya Rabbal’alamin, wa afsih lahu fi qabrihi, wa nawwir lahu fih.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah dia dengan yang lebih baik di antara orang-orang yang telah pergi, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan berikanlah cahaya di dalamnya.”

    Oleh karena itu, doa untuk orang yang meninggal, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, merupakan permohonan pengampunan dan ampunan kepada Allah untuk orang yang telah meninggal, termasuk saudara, orang tua, teman, atau tetangga kita. Dengan mendoakan mereka, kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan memberikan keberkahan bagi mereka di kehidupan setelah mati.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Urutan Doa Ziarah Kubur dengan Bacaan Arab, Latin, dan Artinya


    Jakarta

    Ziarah kubur adalah salah satu bentuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Ada sejumlah urutan doa ziarah kubur yang bisa diamalkan muslim.

    Dikutip dari buku Menelisik Hakikat Silaturahim tulisan Prof Dr KH Nasaruddin Umar, dijelaskan bahwa walaupun seseorang telah meninggal dunia, itu bukanlah penghalang untuk tetap menjalin silaturahmi. Mengunjungi makam orang tua yang telah wafat dan mendoakan mereka adalah salah satu cara untuk bersilaturahmi dengan mereka.

    Doa yang kita panjatkan akan memberikan manfaat bagi mereka di akhirat. Rasulullah SAW bahkan telah memerintahkan umatnya untuk menziarahi kerabat yang telah meninggal dunia dengan mendatangi makam mereka.


    قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِهِ فَرُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكَّرُ الْآخِرَةَ

    Artinya: “Aku telah melarang kalian ziarah kubur, dan telah diizinkan bagi Muhammad untuk menziarahi makam ibunya, maka kalian berziarahlah ke kubur, karena ziarah kubur mengingatkan pada akhirat.” (HR Tirmidzi)

    Urutan Doa Ziarah Kubur

    1. Membaca salam

    السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

    Arab Latin: “Assalamu’alaìkum dara qaumìn mu’mìnîn wa atakum ma tu’adun ghadan mu’ajjalun, wa ìnna ìnsya-Allahu bìkum lahìqun”

    Artinya : “Assalamuallaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Allah yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian.”

    2. Membaca istighfar

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    Arab Latin: “Astaghfirullah Hal Adzim Alladzi La ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu Wa atubu Ilaihi”

    Artinya : “Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”

    3. Membaca surat Al Fatihah

    4. Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas

    5. Membaca kalimat tahlil

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ

    Arab Latin: “Laailaaha Illallah”

    Artinya : “Tiada Tuhan selain Allah.”

    6. Membaca doa ziarah kubur

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ

    الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

    Arab Latin: “Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì.

    Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì.”

    Artinya: “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.”

    “Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR Muslim)

    Doa Ziarah Kubur Pendek

    Dikutip dari buku Pintar Doa untuk Anak karya Abu Ezza menjelaskan mengenai doa dan adab saat ziarah kubur, terdapat doa ziarah kubur pendek sebagai berikut.

    السَّلامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيار منَ الْمُؤْمِنِينَ والمُسلمين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون تَسْأَلُ الله لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِية

    Arab Latin: “Assalaamu’alaikum ahlad diyaari minal mu’miniina wal muslimiin, wa innaa in syaa allaahu bikum laahiquun, nas’alullaaha lanaa wa lakumul’aafiyah”

    Artinya: “Keselamatan semoga tetap tercurahkan kepada para penghuni kubur dari golongan orang-orang mukmin dan orang-orang muslim, dan sesungguhnya Insya Allah kami akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kamu dan untuk kalian semua.” (HR Ibnu Majah)

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa sesudah Makan dan Artinya, Lengkap dengan Adabnya


    Jakarta

    Berdoa atas sesuatu, khususnya, kenikmatan menyantap makanan adalah bentuk syukur kita atas karunia Allah SWT. Bacaan lengkap doa sesudah makan dan artinya dapat disimak pada ulasan berikut.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yakni surah Al Baqarah ayat 172,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya.”

    Dalam hadits dari Mu’adz bin Anas RA juga disebutkan keutamaan membaca doa sesudah makan. Rasulullah SAW bersabda, mereka yang mengamalkan doa tersebut akan diampuni dosanya yang lalu.

    “Siapa yang makan suatu makanan kemudian berdoa: اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلً مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dengan makanan ini dan menjadikannya rezeki untukku, tanpa daya dan kekuatan dariku). Maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)

    Selain doa tersebut, ada doa lainnya yang dapat diamalkan muslim bersumber dari Kitab Super Lengkap Panduan Belajar Shalat Doa & Zikir tulisan Ustaz A Shilihin As Suhaili. Berikut bacaannya.

    Doa sesudah Makan dan Artinya

    الْحَمْدُ للهِ الَّذِئ أَطْعَمَنَا وَسَقَنَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ

    Arab Latin: “Alhamdulillaahil ladzi ath’amanaa wa saqoona wa ja’alanaa muslimiina,”

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan makan dan minum kepada kami, serta menjadikan kami dari golongan orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

    Doa di atas diabadikan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya yang diriwayatkan dari Abu Sa’id. Dengan doa tersebut, diharapkan rezeki senantiasa ditambah dan dibukakan kembali celah-celah sumber rezekinya.

    Setelah membaca doa tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan untuk bersyukur atas nikmat makanan yang dia peroleh. Rasa syukur ini membuat seseorang tidak menganggap bahwa apa yang ia makan adalah atas usaha dirinya sendiri, melainkan pemberian Allah SWT.

    Selain doa sesudah makan, muslim sebaiknya juga jangan melupakan untuk membaca doa sebelum makan. Masih dikutip dari buku yang sama, berikut ini adalah doa sebelum makan.

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَافِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab Latin: “Allahumma baarik lanaa fii maa rozaqta- naa wa qinaa ‘adzaabannaari,”

    Artinya: “Wahai Tuhanku berkahilah rizqi yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Adab sesudah Makan

    Sesudah makan dan mengucapkan doa penutup makanan, kita diajarkan untuk tidak segera meninggalkan tempat begitu saja setelah hidangan habis. Dalam riwayat dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menyampaikan,

    “Jika seseorang tidur dengan masih terdapat sisa makanan di tangannya dan ia terganggu oleh suatu hal, maka ia sebaiknya tidak menyalahkan orang lain. Lebih baik ia menyalahkan dirinya sendiri.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Selaras dengan apa yang dijelaskan dalam buku 100 Doa Harian untuk Anak tulisan Nurul Ihsan, selain nasihat dari Rasulullah di atas, terdapat beberapa adab setelah makan yang perlu diingat.

    • Mengucapkan hamdalah (pujian kepada Allah) sebagai ungkapan rasa syukur
    • Mengucapkan rasa syukur dan berdoa kepada Allah atas nikmat makanan yang telah diberikan
    • Mencuci tangan setelah makan
    • Merapikan dan membersihkan peralatan serta sisa makanan yang tersisa
    • Tidak segera melakukan aktivitas seperti tidur, mandi, atau bekerja setelah makan

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan sesudah Sholat Dhuha untuk Memohon Rezeki


    Jakarta

    Sholat dhuha adalah sholat sunnah yang bisa dilaksanakan setiap waktu dhuha. Selain dari sholat dhuha itu sendiri, ternyata terdapat bacaan sesudah sholat yang bisa diamalkan.

    Secara umum, tujuan utama dari sholat ini adalah untuk berdoa mendapatkan rezeki dari Allah SWT sekaligus sebagai amalan pembuka hari. Menurut buku Keberkahan Sholat Dhuha: Memperoleh Rezeki Sepanjang Hari dan Doa-Doa untuk Membuka Rezeki oleh Ustadz Arif Rahman, ada beberapa hadits Rasulullah SAW yang menyinggung mengenai keutamaan sholat dhuha.

    Salah satu hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan sholat dhuha berbunyi, “Siapa pun yang menunaikan sholat dhuha sebanyak 12 rakaat, Allah akan menganugerahinya sebuah istana di surga.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)


    Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang dengan tekun melaksanakan sholat dhuha, dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah, bahkan jika dosa-dosanya sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

    Bacaan sesudah Sholat Dhuha dan Artinya

    Setelah menyelesaikan sholat dhuha, alangkah baiknya bila dilanjutkan dengan memperbanyak amalan sholeh, seperti mengingat Allah (dzikir), mengucapkan pujian (tahmid), atau memanjatkan permohonan kepada Allah SWT melalui doa.

    Dikutip dari buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah tulisan Ustadz Arif Rahman, berikut bacaan doa sholat dhuha yang bisa diamalkan muslim beserta artinya.

    اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ

    Arab Latin: “Allahumma innad-duhaa’a duhaa’uka wal bahaa’a bahaa’uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal ‘ismata ‘ismatuka.”

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu.”

    Kemudian lanjutkan dengan doa berikut untuk mengharapkan rezeki yang halal dan berkah,

    اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

    Allaahumma in kaana rizqii fis-samaa’i fa anzilhu, wa in kaana fil ardi fa akhrijhu, wa in kaana mu’assiran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa tahhirhu wa in kaana ba’iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa’ika wa bahaa’ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita ‘ibaadakash-shalihiin.

    Artinya: “Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Rasulullah Tobat 100 Kali Sehari, Begini Istighfar yang Beliau Baca


    Jakarta

    Rasulullah SAW memiliki sifat maksum atau terhindar dari perbuatan dosa. Meski demikian, beliau tetap bertobat dan meminta ampun kepada Allah SWT setiap harinya.

    Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan dalam kitab At-Taubah Wa al-Inabah, Rasulullah SAW bertobat dan meminta ampun sebanyak 70 atau 100 kali sehari. Dalam hadits beliau bersabda,

    “Hai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”


    Sementara itu, dalam hadits lain sebagaimana dinukil Ibnu Jauzi dalam kitab Al Wafa, Ibnu Umar RA pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Wahai manusia bertobatlah kepada Tuhanmu, karena saya bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR Abu Ashim dan Az-Zabidi)

    Bacaan Istighfar Rasulullah

    Dalam Sunan Abi Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah melalui hadits yang berasal dari Ibnu Umar RA dikatakan, setiap harinya Rasulullah SAW bertobat dan membaca istighfar berikut sebanyak 100 kali,

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    Arab latin: Raabbighfir lii watub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim

    Artinya: “Ya Allah Tuhanku, ampunilah aku dan berikanlah tobat atasku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengasih.”

    Imam at-Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan. Hadits tersebut turut diriwayatkan Al-Qurthubi, Asy-Suyuthi, dan Abu Nu’aim.

    Sa’id bin Abi Burdah turut meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya yang mengatakan, “Kami kedatangan Rasulullah ketika kami sedang duduk-duduk. Beliau langsung bersabda, ‘Aku tidak pernah bangun pagi kecuali aku beristighfar seratus kali.” (HR Muslim, As-Suyuthi)

    Tobatnya Umat Islam Lebih Cepat Diterima dan Mudah Dilakukan

    Tobatnya umat Nabi Muhammad SAW lebih sempurna dari umat-umat yang lain, lebih cepat diterima, dan lebih mudah dilakukan, sebagaimana dikatakan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Jami’ as-Sirah.

    Diketahui, tobatnya umat nabi terdahulu dilakukan dengan proses yang sulit. Contohnya tobat yang dilakukan sekelompok orang dari bani Israil yang menyembah sapi dilakukan dengan cara dibunuh saudaranya yang tidak ikut melakukan dosa itu.

    “Apabila demikian halnya umat bani Israil, maka umat Islam–karena karamah yang dianugerahkan Allah–diperintahkan bertobat dengan cara menyesali dan berhenti melakukan perbuatan dosa yang pernah dilakukannya,” jelas Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa agar Hujan Deras, Mencontoh Rasulullah SAW di Masa Kekeringan


    Jakarta

    Doa agar hujan deras bisa diamalkan bila hujan tak kunjung turun. Bacaan doanya dapat mencontoh dari Rasulullah SAW yang beberapa kali mengamalkannya.

    Dikutip dari buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit karya H. Hamdan Hamedan, dikisahkan dalam sebuah hadits, ada sekelompok orang yang datang sambil menangis kepada Rasulullah SAW. Mereka meminta beliau berkenan berdoa agar turun hujan.

    Setelahnya, Rasulullah SAW melafalkan sebuah doa dan hujan pun turun. Berikut ini adalah bacaan doa agar hujan deras yang dicontoh Rasulullah SAW.


    3 Versi Bacaan Doa agar Hujan Deras

    • Doa agar Hujan Deras Versi Pertama

    Menurut buku 5 Shalat Pembangun Jiwa karya Nasrudin Abd Rohim, terdapat beberapa doa yang dapat dipanjatkan untuk memohon turunnya hujan deras kepada Allah SWT. Salah satu doa tersebut adalah sebagai berikut,

    اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا سرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

    Arab Latin: Allahummasqinaa ghoitsan mughiitsan mariyyan sarii’an naafi’an ghoiro dhoorrin, ‘aajilan ghoiro aajilin

    Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah kepada kami hujan yang deras, yang membawa berkah, yang menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang datang dengan cepat dan tidak ditunda-tunda.”

    • Doa agar Hujan Deras Versi Kedua

    Selain itu, ada juga doa lain yang mengacu pada hadits Rasulullah SAW.

    اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

    Arab Latin: Allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa

    “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

    • Doa agar Hujan Deras Versi Ketiga

    اللهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

    Bacaan latin: Allahummasqi ‘ibaadaka wa bahaa-imika wansyur rohmataka wa ahyi baladakal mayyit

    Artinya: “Ya Allah, berilah hujan kepada hamba-hambaMu, hewan ternak, berilah rahmatMu dengan merata, dan suburkan bumiMu yang tandus,”

    Menurut Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang dikutip dari buku Syama’il Rasulullah tulisan Ahmad Mustafa Mutawalli, Hadi Rahman, dan Muflih Kamil, ada beberapa cara yang dilakukan beliau dalam melafalkan doa meminta hujan. Berikut ini 5 cara yang dilakukan Rasulullah SAW dalam meminta hujan.

    • Saat sedang khutbah di atas mimbar pada hari Jumat
    • Menjadwalkan suatu hari khusus agar orang-orang keluar bersama ke tempat sholat. Beliau keluar ketika matahari terbit dengan merendahkan diri, khusyuk, berwasilah, dan dalam keadaan tunduk
    • Membaca doa meminta hujan di atas mimbar Madinah pada hari selain Jumat. Tidak diketahui bahwa saat itu beliau melakukan sholat
    • Membaca doa Istisqa dengan posisi duduk di dalam masjid seraya mengangkat tangan
    • Berdoa meminta hujan di Ahjar Zait yang berdekatan dengan Dzuwara. Tepatnya di luar pintu masjid yang sekarang dikenal dengan nama Babussalam (kira-kira seukuran lemparan batu balok ke kanan dari luar masjid)

    Ketentuan mengamalkan doa agar hujan deras menurut Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf dalam bukunya yang bertajuk Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat, dianjurkan untuk dibaca sebanyak-banyaknya setelah melaksanakan sholat Istisqa atau sholat meminta hujan. Doa agar hujan deras juga dibaca pada saat waktu-waktu mustajab doa.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Dua Perkara yang Paling Disukai Nabi Muhammad



    Jakarta

    Ada sejumlah perkara yang disukai Nabi Muhammad SAW. Perkara ini termasuk amalan yang dilakukan setiap harinya.

    Dalam Maadza Yuhibbu an Nabi Muhammad SAW wa Maadza Yukrihu karya Adnan Tharsyah, terdapat sebuah hadits yang menyebut dua perkara yang paling disukai Nabi Muhammad SAW. Diceritakan dari Hamnah binti Jahsyin bahwasanya dia mengalami istihadhah pada masa Rasulullah SAW.

    Dia pun mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Sesungguhnya aku mengalami istihadhah dengan keluar darah sangat banyak sekali. Beliau berkata, “Balutlah dengan kapas.” Dia berkata, “Masih saja keluar dengan banyak sekali, bagaikan mengalirnya air.” Beliau bersabda,


    “Balutlah dengan kain dan haidlah di setiap bulan dalam Ilmu Allah selama enam atau tujuh hari, setelah itu mandilah (hadas). Dan, kamu bisa salat dan puasa selama dua puluh tiga hari atau dua puluh empat hari. Kerjakanlah salat Zuhur di akhir waktu dan salat Ashar di awal waktu dengan sekali mandi. Kerjakanlah salat Maghrib di akhir waktu dan salat Isya di awal dengan satu kali mandi. Dan, ini adalah dua perkara yang lebih aku cintai.” (HR Ibnu Majah)

    Dalam Syarh Syama’il An-Nabi li Abi Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi yang disyarah oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr juga terdapat perkara yang paling disukai Rasulullah SAW. Perkara ini berkaitan dengan amal kebaikan.

    Dari Abu Shalih, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah RA dan Ummu Salamah RA, ‘Amal apakah yang paling disukai Rasulullah SAW?’ Keduanya menjawab, ‘Amal yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.’” (HR At-Tirmidzi dalam Jami’-nya)

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Rasulullah datang ke rumahnya saat ada seorang wanita di rumahnya. Beliau bertanya, “Siapa orang ini?” Ia menjawab, “Fulanah (seraya menceritakan salat orang tersebut).”

    Beliau bersabda, “Kamu harus mengerjakan sesuatu yang kamu anggap sanggup. Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kamu sendiri yang bosan.”

    Dan amal saleh yang paling beliau sukai adalah yang selalu dikerjakan oleh pelakunya secara kontinu atau berkesinambungan. Amal perbuatan yang paling disukai Rasulullah SAW tersebut juga adalah yang paling disukai Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda,

    أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

    Artinya: “Sesungguhnya amall kebajikan yang paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.” (HR Muslim)

    Dalam riwayat lain, Aisyah RA pernah ditanya tentang amal perbuatan yang disukai Rasulullah SAW, ia pun menjawab,

    أَيُّ الْعَمَلِ كَانَ أَحَبَّ إِلَى النَّبِيد ؟ قَالَتْ : الدَّائم

    Artinya: “Amal kebajikan yang dilakukan secara kontinu.” (HR Bukhari)

    Aisyah RA juga mengatakan,

    كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ

    Artinya: “Rasulullah SAW apabila melakukan suatu perbuatan, beliau selalu tetap mengerjakannya secara kontinu.” (HR Muslim)

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China, Benarkah Ada?


    Jakarta

    Salah satu hadits populer yang kerap digunakan oleh para khatib dan da’i adalah hadits yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Benarkah ada hadits yang demikian?

    Hadits tersebut diketahui bersumber dari Anas bin Malik RA. Hadits tersebut juga termaktub dalam tulisan Ibnu ‘Addi dalam Al Kamil, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan, Al Khathib dalam Tarikh Baghdadh, Al Baihaqiy dalam Al Madkhal, dan Ibnu Abdil Barr dalam Al Jami’.

    Berikut bunyi hadits yang dimaksud,


    أُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ يا الْصِيْنِ

    Artinya: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.”

    Sementara, dikutip dari Hadits Tarbawi oleh Abu Ubaidah, hadits tersebut merupakan potongan dari hadits lengkap yang berbunyi,

    أُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ يا الْصِيْنِ فَإِنَّ الْعِلْمَ فَرِضَة عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَضَعُ أَجْنَحَتِهَا لِطَلِبِ رِضَا عًا بِمَا يَطْلُبُ

    Artinya: “Carilah ilmu sekalipun di negeri China, karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim laki-laki dan perempuan. Dan sesungguhnya para malaikat menaungkan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu karena ridha terhadap amal perbuatannya.”

    Dikutip dari Abdul Bakir, S.Ag dalam buku 150 Hadits Dha’if yang Sering Dijadikan Dalil, hadits ini disebut sebagai hadits dhaif jiddan atau lemah sekali. Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman mengatakan bahwa hadits tersebut populer matannya namun bersanad lemah.

    “Telah diriwayatkan dari beberapa jalan namun seluruhnya dhaif,” demikian jelasnya.

    Senada dengan itu, Ibnu Adi’ menambahkan, ia tidak tahu ada yang meriwayatkannya selain al-Hasan bin Athiyyah dari Abu Atikah dari Anas.

    Al-Bazzar juga mengatakan Abu Atikah adalah sosok yang tidak dikenal, dan tidak diketahui dari mana dia berasal. Untuk itu disebutkan, hadits ini tidak memiliki asal atau la ashla lahu.

    Al Bukhari bahkan mengatakan bahwa Abu Atikah adalah munkar al hadits. Sependapat dengan Ibnu Hibban dalam Al Majruhin yang mengatakan bahwa Abu Atikah adalah munkar al hadits jiddan.

    As-Suyuti dalam Al-La’all’ Al-Mashnu’ah menyebutkan dua jalur lain bagi hadits ini dengan tujuan menguatkan. Ternyata, hasil kedua jalur tersebut sama dhaifnya bahkan lebih parah.

    Jalur yang pertama, terdapat seorang pendusta, yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-‘Asqalaniy. Jalur kedua, terdapat yang suka memalsukan hadits, Al-Juwaibariy.

    Dengan demikian, As Suyuti mengatakan bawa hadits ini bathil, tidak boleh diamalkan, tidak boleh dijadikan hujjah dan tidak boleh diyakini sebagai sabda Rasulullah SAW.

    Ada beberapa hadits lainnya yang menyebutkan anjuran bagi muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu. Hal ini mengindikasikan, ilmu dalam pandangan Islam dianggap sebagai sebuah kebutuhan untuk mengetahui kebenaran dan ditempatkan pada posisi yang tinggi. Berikut di antaranya:

    وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    1. Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

    مَنْخَرَجَفِىطَلَبُالْعِلْمِفَهُوَفِىسَبِيْلِاللهِحَتَّىيَرْجِعَ

    2. Artinya: “Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang,” (HR Tirmidzi)

    إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    3. Artinya: “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim)

    طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

    4. Artinya: “Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim, dan siapa yang menanamkan ilmu kepada yang tidak layak seperti yang meletakkan kalung permata, mutiara, dan emas di sekitar leher hewan.” (HR Ibnu Majah)

    العلم قبل القول و العمل

    5. Artinya: “Berilmulah sebelum kamu berbicara, beramal, atau beraktivitas.” (HR Bukhari).

    مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

    6. Artinya: “Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu,” (HR Ahmad).

    مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    7. Artinya: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya dapat memperoleh keridaan Allah SWT, (tetapi) ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat nanti.” (HR Abu Daud)

    Berdasarkan hadits menuntut ilmu yang telah dipaparkan di atas, Syekh Al-Zarjuni dalam kitabnya Ta’limul Muta’allim menekankan niat dalam menuntut ilmu itu harus didasari keikhlasan. Sebab, menuntut ilmu dilakukan semata-mata untuk mencari rida Allah SWT dan kehidupan akhirat.

    (rah/nwk)



    Sumber : www.detik.com