Tag Archives: rezeki

Kisah Imam Az-Zahidi, Sengaja Berdiam Diri di Gua untuk Buktikan Rezeki Allah SWT



Jakarta

Setiap makhluk hidup telah diatur masing-masing rezekinya oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’an sendiri, manusia diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal seperti dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 168,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Arab latin: Yā ayyuhan-nāsu kulụ mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyibaw wa lā tattabi’ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn


Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu,”

Rezeki tidak hanya sebatas materi dan finansial, melainkan juga nikmat sehat, berkah umur, mudah jodoh, serta terhindar dari segala marabahaya. Irwan Kurniawan dalam bukunya yang bertajuk Mengetuk Pintu Rezeki mengatakann ada dua macam rezeki yang diberikan kepada manusia, yaitu rezeki lahiriah dan batiniah.

Rezeki lahiriah berkaitan dengan badan (berupa materi) seperti kesehatan. Sementara itu, rezeki batiniah erat kaitannya dengan hati seperti kebahagiaan dan pengetahuan.

Berkaitan dengan rezeki, ada sebuah kisah mengenai sosok lelaki yang ingin menguji rezeki dari Allah. Dirinya berdiam diri di dalam gua namun nyatanya Allah mengirimkan rezeki lewat berbagai cara yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Dikisahkan oleh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir melalui Durratu an-ashihin Fi al-Wa’d wa al Irsyad bahwa pria yang bernama Imam az-Zahidi ingin menguatkan keyakinannya terkait rezeki yang Allah SWT jamin. Lelaki itu lalu pergi ke sebuah gua yang terletak di gunung dan duduk di dalamnya.

“Aku hendak menyaksikan, bagaimana caranya Tuhan hendak memberiku rezeki di tempat ini?” kata Imam az-Zahidi.

Tak disangka-sangka, tibalah rombongan pendaki yang telah melakukan perjalanan jauh menyusuri daerah tempat Imam az-Zahidi bernaung. Di saat yang bersamaan, hujan turun dan menyebabkan para pendaki mberteduh di dalam gua tersebut.

Pendaki-pendaki itu menemukan Imam az-Zahidi yang tengah berdiam diri di dalam gua, salah satu di antara mereka lalu memanggilnya, “Wahai hamba Allah!”

Seruan dari pendaki itu tidak dihiraukan oleh Imam az-Zahidi. Karenanya, mereka mengira Imam az-Zahidi tengah kedinginan dan tak mampu berbicara.

Setelahnya, kelompok pendaki itu menyakalan api unggun untuk menghangatkan suasana sambil kembali mencoba berbicara kepada Imam az-Zahidi. Sayangnya, ia masih tetap diam tidak menjawab para pendaki.

“Jangan-jangan orang ini kelaparan sampai tidak bisa diajak bicara!” ujar mereka.

Akhirnya, para pendaki itu menyediakan makanan yang mereka bawa kepada Imam az-Zahidi dan mengisyaratkannya untuk segera memakannya. Lagi-lagi, Imam az-Zahidi tidak berkutik.

Melihat hal itu, sekumpulan pendaki mengira Imam az-Zahidi sudah terlalu lama tinggal di dalam gua sampai tidak mendapat makanan sedikit pun. Akhirnya, dibuatkannya susu panas untuk diminum.

Alih-alih menerima susu yang diberikan, Imam az-Zahidi lagi-lagi tidak merespons. Ia tidak membuka mulutnya atau menoleh sedikit pun kepada para pendaki yang telah berbaik hati itu.

Sekelompok pendaki itu lalu berujar, “Jangan-jangan giginya sudah linu susah untuk digerakkan, karena sudah lama tidak makan dan saking kelaparan,”

Akhirnya, salah dua di antar pendaki itu membantu untuk membuka mulut Imam az-Zahidi untuk menyuapkannya makanannya. Tak disangka, dia justru malah tertawa lepas.

“Apakah kamu gila?” kata pendaki tersebut.

Imam az-Zahidi menjawab, “Tidak, akan tetapi aku hendak ingin menguji Tuhanku, bagaimana caranya Tuhan memberikan rezeki yang telah dijamin untukku. Sekarang aku mengerti bahwa Dia akan mengaruniakan rezeki kepada hamba-Nya dalam segala hal, bagaimanapun keadaan hamba-Nya, dimanapun keberadaan hamba-Nya,”

Doa agar Diberi Kelancaran Rezeki

Berkaitan dengan rezeki, ada sebuah doa yang bisa dipanjatkan agar diberi kelancaran rezeki. Berikut bacaannya sebagaimana dikutip dari Kumpulan Doa Pembuka Rezeki karya Ust. Fayumi Al-Maliki.

اللَّهُمَّ يَاغَنِيُّ يَا حَمِيْدُ يَا مُبْدِعُ يَا مُعِيْدُ يَا رَحِيْمُ يَاوَدُودُ أَغْنِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Arab latin: Allaahumma inni as’aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’bin wa laa masyaqqatin wa laa dhairin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar melimpahkan rezeki untukku berupa rezeki yang halal, luas, dan tanpa susah payah, tanpa memberatkan, tanpa membahayakan, dan tanpa meletihkan dalam memperolehnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu,”

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Kisah 3 Orang Bani Israil Diuji Allah dengan Penyakit dan Harta



Jakarta

Ada berbagai ujian dan cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Tujuannya untuk melihat kadar keimanan ketika berada di titik terendah dan ketika berada di titik tertingginya.

Salah satu kisahnya menceritakan tiga orang Bani Israil dalam keadaan miskin dan mengidap penyakit. Allah SWT kemudian memberikan mereka rezeki berlimpah dan lalu mengujinya di kemudian hari.

Kisah ini dikutip dari buku Kisah Karomah Para Wali Allah: Sejak Zaman Ibrahim Alaihissalam hingga 1344 Hijriyah yang ditulis Abul Fida’ Abdurraqib bin Ali Al-Ibi, Imam Al-Bukhari RA berkata, “Kami mendapatkan riwayat dari Ahmad bin Ishaq, dari Amr bin Ashim, dari Hammam, dan Ishaq bin Abdullah, dari Abdurrahman bin Abu Umarah, dari Abu Hurairah, sesungguhnya ia mendengar Nabi SAW bersabda:


Ada tiga orang Bani Israil: yang seorang kulitnya belang-belang, yang satunya botak, dan yang satunya lagi buta. Allah SWT ingin menguji mereka. Allah mengirim malaikat mendatangi orang yang berpenyakit belang, lalu bertanya, “Apa yang paling kamu sukai?”

Ia menjawab, “Warna yang bagus, kulit yang indah, dan hilangnya penyakit yang membuat orang jijik padaku.”

Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka hilanglah penyakit dan ia diberi kulit yang indah dan sehat.

Malaikat bertanya lagi, “Berupa apa harta yang paling kamu senangi?” Orang itu menjawab, “Unta.”

Maka, ia diberi unta yang hampir melahirkan. Malaikat berkata, “Semoga Allah memberkahinya untukmu.”

Kemudian, malaikat mendatangi orang yang botak, lalu bertanya,

“Apa yang paling kamu sukai?'”

Orang itu berkata, “Rambut yang indah dan hilangnya penyakit yang membuat jijik orang kepadaku.”

Malaikat mengusapnya, maka hilanglah penyakitnya dan ia diberi rambut yang indah.

Malaikat bertanya lagi, Berupa apa harta yang paling kamu sukai?” Ia menjawab, “Sapi.”

Maka, ia diberi sapi yang sedang hamil. Malaikat berkata, “Semoga Allah memberkahinya untukmu.”

Kemudian, giliran malaikat mendatangi orang yang buta, lalu bertanya, “Apa yang paling kamu sukai?”

Ia menjawab, “Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku bisa melihat orang-orang.”

Malaikat tadi mengusapnya, maka Allah mengembalikan penglihatannya lagi.

Malaikat itu bertanya lagi, “Berupa apa harta yang paling kamu sukai?” Ia menjawab, “Kambing.”

Maka, ia diberi kambing yang beranak. Selanjutnya, semua binatang yang diberikan tadi beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit belang bisa mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah, dan yang asalnya buta mempunyai kambing satu lembah.

Pada suatu ketika malaikat tadi mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti dulu, lalu berkata, “Saya orang miskin, telah putus tali peganganku dalam perjalanan. Maka, pada hari ini tiada lagi yang dapat mencukupiku, kecuali Allah, lalu Anda. Demi Zat yang telah mengaruniai Anda warna kulit yang indah dan harta benda, saya minta unta untuk mencukupi kebutuhan saya dalam perjalanan.”

Orang itu berkata, “Hak-hak yang harus ku penuhi juga banyak.”

Maka, malaikat berkata kepadanya, “Saya seperti mengenal Anda. Bukankah Anda dulu berpenyakit belang yang menjijikkan orang-orang? Yang dulu fakir, lalu diberi harta oleh Allah?”

Orang itu berkata, “Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun.”

Malaikat berkata, “Kalau Anda berdusta, semoga Allah menjadikan Anda seperti dulu lagi”.

Setelah itu, malaikat mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dulu, lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi.

Maka, malaikat berkata, “Jika Anda berdusta, semoga Allah menjadikan Anda seperti dulu lagi”.

Sesudah itu, malaikat mendatangi orang yang dulu buta dalam bentuk dan cara seperti dulu, lalu berkata, “Saya orang miskin yang mengembara.Telah putus tali peganganku dalam perjalanan. Maka, pada hari ini tiada lagi yang dapat mencukupiku, kecuali Allah, lalu Anda. Demi Zat yang telah memulihkan penglihatan Anda, saya minta kambing untuk mencukupi kebutuhan saya dalam perjalanan.”

Orang itu berkata, “Dulu saya buta, lalu Allah memulihkan penglihatan saya. Ambillah apa yang Anda sukai. Demi Allah, pada hari ini saya tidak akan menyusahkan Anda dengan sesuatu yang Anda ambil karena Allah.”

Maka, malaikat berkata, “Tahan saja harta Anda. Kalian hanya diuji, dan Anda telah diridhai Allah, sedangkan kedua teman Anda dibenci.”

Wallahu a’lam

(dvs/kri)



Sumber : www.detik.com