Tag: risiko penyakit

  • Christina Aguilera Sukses Pangkas BB hingga 19 Kg, Ini Diet yang Dijalani


    Jakarta

    Penyanyi Christina Aguilera membuat penggemarnya terkejut dengan penampilan terbarunya. Ia berhasil menurunkan sekitar 19 kg dan membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.

    Sejak 2013, Christina membatasi asupan makanan hariannya menjadi 1.600 kalori. Selain itu, ia rutin mengikuti program olahraga yang berat dan menjalani ‘diet pelangi’.

    Dikutip dari Express UK, banyak penggemar yang sangat terkesan dengan penampilan Christina sekarang. Mereka mengatakan penyanyi 43 tahun itu terlihat 21 tahun lebih muda.


    Namun, pola makan ‘diet pelangi’ yang dijalani Christina tidak semudah itu. Diet ini berfokus besar pada makanan nabati dan warnanya.

    Selama menjalani diet pelangi, Christina mengkonsumsi makanan berdasarkan warna tertentu setiap hari. Selain penurunan berat badan, dengan mengontrol porsi dan lebih banyak mengkonsumsi buah serta sayur, diharapkan bisa membuat penampilan awet muda.

    Diet ini mencakup berbagai buah dan sayuran berwarna-warni yang mengandung nutrisi, antioksidan, dan fitokimia. Manfaatnya bergantung pada variasi yang dipilih, tetapi bisa juga disederhanakan berdasarkan kelompok warnanya.

    Misalnya, makanan berwarna merah seperti tomat, jeruk bali, dan semangka bersifat antiradang dan dapat mengurangi risiko penyakit jantung serta kanker tertentu. Makanan berwarna putih, seperti bawang, kentang, dan jamur.

    Kelompok kuning dan oranye bisa berupa nanas, pisang, wortel, dan jeruk. Ini memiliki khasiat yang serupa, tetapi lebih berfokus pada kesehatan mata.

    Sayuran hijau seperti selada, brokoli, dan bayam mengandung antioksidan. Sementara makanan berwarna biru dan ungu, seperti blueberry dan blackberry, berpotensi meningkatkan fungsi otak dan menurunkan risiko gangguan neurologis tertentu.

    Meski begitu, Christina masih menyukai pilihan makanan sehat seperti salad ayam dengan banyak sayuran, ikan dengan nasi dan sayuran, serta camilan bergizi seperti seledri dan selai kacang.

    Namun, jika ia ingin mengkonsumsi makanan manis, masih diperbolehkan asal porsinya tidak berlebihan. Di samping dietnya, Christina juga sangat aktif dan suka berolahraga termasuk yoga, tinju, latihan kekuatan, dan latihan kardio.

    (sao/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Rahasia yang Bikin Warga Jepang Tetap Langsing Meski Doyan Makan Nasi

    Jakarta

    Nasi menjadi makanan yang dikonsumsi sehari-hari di Jepang, misalnya dalam bentuk sushi dan onigiri. Selain itu, nasi juga kerap dikombinasikan dengan sup, hidangan utama, dan beberapa lauk.

    Meski memakan nasi setiap hari, sebagian orang Jepang dapat menjaga tubuhnya agar tetap proporsional. Bahkan, terlihat tanpa adanya lemak di perut. Bagaimana caranya?

    Banyak ahli percaya hal tersebut terjadi karena filosofi Hara Hachi Bu yang diterapkan oleh orang Jepang. Dikutip dari Women’s Health, Hara Hachi Bu menerapkan kebiasaan makan sampai 80 persen merasa kenyang.


    Ahli diet Kouka Webb menjelaskan konsep ini sudah diterapkan masyarakat Jepang sejak lebih dari 300 tahun lalu. Konsep ini serupa dengan mindful eating, yang memperhatikan menu makanan yang dikonsumsi.

    Jika hal itu diterapkan dengan baik, seseorang akan bisa merasa kenyang dan cukup dengan porsi yang dikonsumsi.

    Webb mengungkapkan Hara Hachi Bu ini dapat membantu mengontrol berat badan. Namun, konsep ini bukanlah diet.

    “Ini mendorong seseorang untuk makan dengan penuh kesadaran dan kontrol porsi, tanpa perlu menghitung kalori yang ketat atau menghilangkan makanan tertentu,” jelasnya.

    Hara Hachi Bu disebut bisa lebih berkelanjutan dan menyehatkan. Kebiasaan ini dinilai mampu mempertahankan 1.900 kalori saja yang masuk ke dalam tubuh dalam sehari.

    “Dengan berfokus pada rasa, tekstur, dan aroma makanan, orang-orang bisa mendapatkan kepuasan lebih dari makanan mereka,” sambungnya.

    Hara Hachi Bu Jadi Rahasia Panjang Umur

    Selain mengelola berat badan, ternyata Hara Hachi Bu dipercaya menjadi resep seseorang agar bisa berumur panjang. Ahli diet Asako Miyashita membeberkan caranya.

    Hara Hachi Bu dapat membantu mengatasi masalah gastrointestinal atau sistem pencernaan, dan mendorong pola pikir yang lebih sehat. Tak hanya itu, Webb juga menyebut konsep makan ini mampu menurunkan risiko penyakit kronis, seperti kanker, stroke, dan penyakit jantung.

    (sao/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Diet Ini Bukan Cuma Bikin Kurus, Tapi Bisa Bantu Cegah 15 Juta Kematian Dini


    Jakarta

    Perubahan pola makan yang lebih sehat bisa mengurangi kematian dini dan memperlambat dampak perubahan iklim. Hal ini dilaporkan oleh Komisi EAT-Lancet 2025, sebuah koalisi pada ahli di bidang gizi, iklim ekonomi, kesehatan, dan pertanyaan dari lebih dari 35 negara.

    Dikutip dari laman ABC News, para peneliti mengatakan, jika orang-orang di seluruh dunia menerapkan Planetary Health Diet (PHD), hingga 15 juta kematian dini bisa dihindari setiap tahunnya. Komisi ini juga menemukan, mengubah pola makan masyarakat bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dari pertanian.

    “Sistem pangan merupakan kontributor utama dari banyak krisis yang kita hadapi saat ini, dan sekaligus, kunci untuk menyelesaikannya,” kata wakil ketua komis dan direktur nutrisi, kesehatan, dan ketahanan pangan di Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), Shakuntala Haraksingh Thilsted.


    “Bukti yang disajikan dalam laporan kami jelas: dunia harus bertindak berani dan adil untuk memastikan perbaikan berkelanjutan,” tambah Thisted.

    PHD merupakan menu berbasis tanaman yang mencakup 3-5 porsi biji-bijian utuh setiap hari, setidaknya lima porsi buah dan sayur dan porsi kacang-kacangan dan polong-polongan dalam satu hari.

    Pola makan ini tidak menganjurkan untuk tidak makan protein hewani sama sekali bagi orang-orang yang ingin mengkonsumsinya. Tetapi, dianjurkan untuk makan daging merah, unggas, ikan, telur, dan produk susu dalam jumlah sedang.

    Misalnya, direkomendasikan hanya satu porsi daging merah, dua porsi ikan, dan unggas, serta 3-4 telur per minggu. Komisi ini juga menganjurkan pembatasan keat terhadap gula tambahan, lemak jenuh, dan garam.

    “Planetary Health Diet bukanlah pendekatan yang sama untuk semua orang,” kata salah satu ketua komisi dan professor epidemiolog dan nutrisi di Harvard TH Chan School of Public Health, Walter C. WIllett.

    Pola makan ini memberi ruang untuk keragaman budaya dan preferensi individu, dengan tetap menyediakan pedoman yang jelas untuk mencapai kesehatan optimal dan keberlanjutan di seluruh dunia.

    Dikutip dari laman AP News, rekomendasi diet didasarkan pada data tentang risiko penyakit yang bisa dicegah, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Para peneliti mengatakan bahwa kesehatan manusia dan planet ini selaras.

    Laporan baru yang telah melalui peninjauan sejawat ini dibangun berdasarkan penelitian komisi di tahun 2019. Pada saat itu, direkomendasikan pengurangan konsumsi makanan, seperti daging merah dan gula hingga persen serta mengadopsi pola makan yang utamanya berbasis tumbuhan.

    Willet mengatakan, ketika komisi membandingkan diet PHD mereka dengan apa yang biasanya dimakan orang di setiap negara, mereka memperkirakan, dunia akan melihat pengurangan 27 persen kematian dini, jika orang-orang mengadopsi rekomendasi PHD.

    “Kami memiliki banyak sekali literatur baru yang menunjukkan manfaat kesehatan yang sangat besar,” tambah Willett.

    Mengenai perubahan iklim, para peneliti menyimpulkan perubahan pola makan dunia saja bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dari pertanian sebesar 15%, karena produksi daging, terutama daging merah membutuhkan pelepasan banyak gas yang menyebabkan pemanasan global. Peningkatan produktivitas makanan, pengurangan limbah makanan, dan perbaikan lainnya bisa meningkatkan angka tersebut hingga 20 persen.

    (elk/elk)



    Sumber : health.detik.com