Tag: rumah kebanjiran

  • Kompleks Perumahan Banjir hingga Rugi Harta Benda, Bisa Gugat Pengembang?



    Jakarta

    Sebelum membeli rumah di komplek perumahan, sebaiknya kamu mencari tahu secara mendalam lingkungan dan kondisi sekitar. Hal ini bertujuan agar kamu tidak merugi di kemudian hari atau terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya terjadi banjir.

    Namun, kalau sudah terlanjur beli dan tinggal di komplek perumahan yang terus menerus banjir, apa bisa selaku pembeli menggugat pengembang? Berikut penjelasannya.

    Peristiwa banjir tentunya sangat merugikan karena dampaknya akan langsung terasa, seperti aktivitas terhambat, kerugian harta benda, hingga masalah kesehatan.


    Dalam ulasan yang dikutip dari Hukum Online, Senin (13/5/2024), sebenarnya sudah ada aturan hukum yang mengatur soal tanggung jawab pengembang perumahan.

    Agar tidak terjadi banjir di komplek perumahan, pihak pengembang wajib menyediakan drainase/saluran pembuangan air hujan. Ada pula beberapa standar yang perlu dipenuhi oleh pengembang sebelum membangun perumahan, berikut diuraikan standar prasarananya.

    Standar prasarana yang perlu dipenuhi oleh pengembang, minimal meliputi:
    1. Jaringan jalan
    2. Saluran pembuangan air hujan atau drainase
    3. Penyediaan air minum
    4. Saluran pembuangan air limbah atau sanitasi
    5. Tempat pembuangan sampah

    Berdasarkan ketentuan tersebut, disimpulkan bahwa drainase atau saluran pembuangan air hujan adalah salah satu prasarana yang perlu disiapkan dan dipastikan oleh pengembang sebelum membangun suatu perumahan.

    Adapun pemasaran lewat sistem Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) cuma bisa dilaksanakan setelah persyaratan terpenuhi. Misal terbangunnya prasarana, sarana, dan utilitas umum seperti drainase/saluran pembuangan air hujan.

    Wajib hukumnya pelaku pemasaran memberi informasi yang jelas, sebenar-benarnya, dan menjamin kepastian tentang kondisi fisik dan perencanaan yang ada terhadap masyarakat saat melaksanakan pemasaran. Dikarenakan informasi ini adalah hal yang diperjanjikan di PPJB.

    Jika ternyata didapati tidak adanya drainase/saluran pembuangan air hujan yang disediakan oleh pengembang, dan menyebabkan kebanjiran di perumahan tersebut. Maka sebagai pembeli, kamu bisa menggugat pengembang atas perbuatan melawan hukum.

    Sebagai konsumen, kamu bisa menggugat pengembang lewat pengadilan atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Jangan lupa untuk terlebih dahulu mempelajari dan mengumpulkan bukti kesalahan pengembang.

    Perlu dicatat, sebelum melakukan penggugatan kamu harus memastikan kalau banjir tersebut adalah murni kesalahan pengembang. Mengingat bahwa banjir juga termasuk peristiwa alam.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Lakukan 5 Hal Ini Jika Rumah Kebanjiran!



    Jakarta

    Hujan besar dengan durasi yang cukup lama beberapa hari kemarin membuat beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya terendam banjir. Kondisi ini juga melanda di beberapa wilayah perumahan.

    Jika rumah terendam banjir ada baiknya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun sebelum meninggalkan rumah untuk mengungsi sebaiknya pastikan rumah dan listrik dalam keadaan aman dengan cara berikut. Berikut ini tipsnya.

    1. Matikan Listrik di Rumah

    Saat air sudah masuk ke dalam rumah, langsung matikan listrik melalui Meter Circuit Breaker (MCB) karena ditakutkan ada stopkontak terjadi korsleting listrik.


    Mengutip dari situs Perusahaan Listrik Negara (PLN), peralatan listrik yang masih tersambung dengan stopkontak dan alat elektronik sebaiknya dinaikkan ke tempat yang lebih aman. Selain itu, cabut barang elektronik yang masih tersambung ke listrik.

    Apabila terjadi banjir dan belum sempat mematikan listrik, kamu bisa melaporkan melalui PLN Mobile, Contact Center PLN 123 atau hubungi kantor PLN terdekat.

    2. Pakai Lampu Darurat

    Selama listrik mati, otomatis rumah dalam keadaan gelap atau kurang pencahayaan, kamu bisa menerangi rumah dengan cahaya dari senter, ponsel, atau lampu darurat yang tersedia di rumah. Hindari menggunakan lilin karena permukaan rumah yang tidak stabil akibat pergerakan air.

    Jika perlu keluar saat banjir atau berjalan di dalam rumah bisa gunakan alat untuk memandu jalan seperti kayu panjang, tiang payung, sapu, dan atau barang panjang lainnya agar tidak tersandung atau terperosok di lubang.

    3. Taruh Perabotan di Tempat Tinggi

    Pindahkan perabotan yang ringan dan kecil ke atas dan kering agar tidak terendam banjir terutama yang berbahan kain atau besi yang mudah berkarat dan timbul jamur. Untuk barang-barang berharga, simpan ke tempat yang kering dan aman sehingga saat meninggalkan rumah tidak ada barang yang hilang dan rusak.

    4. Jangan Tutup Saluran Air

    Biarkan saluran air tetap terbuka untuk mempercepat air surut. Namun, tetap gunakan semacam penyaring agar hewan seperti ular tidak keluar dari lubang di dalam rumah.

    5. Kunci Rumah

    Saat listrik dimatikan tidak ada barang elektronik yang berfungsi termasuk alat keamanan di rumah seperti smart door atau CCTV. Dengan demikian kamu perlu menggunakan sistem keamanan manual. Sebelum meninggalkan rumah untuk mengungsi pastikan sudah mengunci pintu, jendela, pagar, menutup gorden, dan akses lainnya agar tetap aman.

    Itulah tips supaya rumah dan listrik aman saat terjadi banjir. Semoga bermanfaat!

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Lakukan 5 Hal Ini saat Rumah Kebanjiran!


    Jakarta

    Hujan besar yang berkepanjangan dapat menimbulkan banjir. Banjir ini pun bisa mengalir deras masuk rumah sampai seisi ruangan beserta benda-benda di dalam terendam air.

    Jika rumah terendam banjir sebaiknya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebelum mengungsi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar rumah lebih aman.

    Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan ketika rumah kebanjiran.


    Tips Hadapi Rumah Kebanjiran

    Inilah beberapa langah menghadapi kondisi banjir di rumah.

    1. Matikan Listrik di Rumah

    Saat air sudah masuk ke dalam rumah, segera matikan listrik melalui Meter Circuit Breaker (MCB). Air yang masuk rumah dikhawatirkan mengenai stopkontak, sehingga dapat terjadi korsleting listrik.

    Dilansir dari situs Perusahaan Listrik Negara (PLN), peralatan listrik yang masih tersambung dengan stopkontak dan alat elektronik sebaiknya dinaikkan ke tempat yang lebih aman. Selain itu, cabut barang elektronik yang masih tersambung ke listrik.

    Apabila terjadi banjir dan belum sempat mematikan listrik, kamu bisa melaporkan melalui PLN Mobile, Contact Center PLN 123 atau hubungi kantor PLN terdekat.

    2. Pakai Lampu Darurat

    Selama listrik mati, rumah dalam keadaan gelap atau kurang pencahayaan. Kamu dapat menerangi rumah dengan cahaya dari senter, ponsel, atau lampu darurat yang tersedia di rumah. Hindari menggunakan lilin karena permukaan rumah yang tidak stabil akibat pergerakan air.

    Jika perlu keluar saat banjir atau berjalan di dalam rumah bisa gunakan alat untuk memandu jalan seperti kayu panjang, tiang payung, sapu, dan atau barang panjang lainnya agar tidak tersandung atau terperosok di lubang.

    3. Taruh Perabotan di Tempat Tinggi

    Pindahkan perabotan yang ringan dan kecil ke tempat yang lebih tinggi dan kering agar tidak terendam banjir. Hal ini terutama benda berbahan kain atau besi yang mudah berkarat dan timbul jamur. Untuk barang-barang berharga, simpan ke tempat yang kering dan aman, sehingga saat meninggalkan rumah tidak ada barang yang hilang dan rusak.

    4. Jangan Tutup Saluran Air

    Biarkan saluran air tetap terbuka untuk mempercepat air surut. Namun, tetap gunakan semacam penyaring agar hewan seperti ular tidak keluar dari lubang di dalam rumah.

    5. Kunci Rumah

    Saat listrik dimatikan tidak ada barang elektronik yang berfungsi termasuk alat keamanan di rumah seperti smart door atau CCTV. Dengan demikian kamu perlu menggunakan sistem keamanan manual. Sebelum meninggalkan rumah untuk mengungsi pastikan sudah mengunci pintu, jendela, pagar, menutup gorden, dan akses lainnya agar tetap aman.

    Itulah tips agar rumah aman saat terjadi banjir. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Rumah Kebanjiran? Ini Cara Mengeringkan Dinding Agar Bebas Jamur



    Jakarta

    Rumah kebanjiran memang jadi ‘PR’ bagi penghuninya karena harus segera dibersihkan setelah surut. Sebab, seisi rumah baru saja terendam air kotor, lalu dindingnya pun menjadi basah dan lembap.

    Kamu juga perlu cepat mengeringkan dinding yang basah untuk mencegah pertumbuhan jamur dan kerusakan struktural pada rumah. Semakin cepat kamu mengeringkan rumah, semakin rendah kemungkinan kerusakan akibat kelembapan.

    Sebelum membersihkan atau mengeringkan rumah setelah banjir, pastikan untuk memperhatikan aspek keselamatan. Jika ketinggian air mencapai stopkontak atau peralatan elektronik, pastikan listrik mati untuk menghindari sengatan listrik.


    Kamu bisa menguji peralatan listrik dengan jasa teknisi listrik. Jangan lakukan perbaikan listrik sendiri.

    Lalu, gunakan alat pelindung seperti sarung tangan, masker, dan sepatu bot untuk melindungi diri dari kontaminan air banjir.

    Lantas, bagaimana cara mengeringkan dinding yang basah setelah banjir? Simak tipsnya berikut ini.

    Tips Keringkan Dinding Basah Usai Banjir

    Inilah cara mengeringkan dinding basah akibat banjir, dikutip dari Rainbow Restoration.

    1. Hilangkan Air dan Lembap

    Gunakan pompa bah, penyedot debu basah/kering, atau pel untuk menghilangkan genangan air sebanyak mungkin di dalam rumah.

    2. Sirkulasi Udara

    Bukalah jendela dan pintu sebagai ventilasi dan meningkatkan sirkulasi udara. Cara ini akan membantu menghilangkan kelembapan dari bangunan.

    3. Pakai Alat

    Kamu bisa memanfaatkan alat-alat buat mengeringkan dinding, seperti dehumidifiers, kipas, dan blower karpet untuk mengeringkan dan mengurangi kelembapan di dalam rumah.

    Arahkan kipas ke dinding untuk mempercepat proses pengeringan. Lalu, tempatkan dehumidifier di ruangan sempat terkena banjir. Untuk area yang lebih luas, gunakan penggerak udara komersial untuk meniupkan udara pada dinding dan lantai.

    4. Cek Pertumbuhan Jamur

    Setelah dinding kering, periksa kalau ada tanda-tanda pertumbuhan jamur. Gunakan produk pembersih jamur bila perlu.

    Namun, sebaiknya menggunakan jasa profesional untuk hal ini. Jamur dapat menyebabkan dan memperburuk masalah kesehatan seperti asma dan alergi.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Rumah Bisa Jadi Sarang Tikus Usai Banjir, Cegah dengan 4 Cara Ini!


    Jakarta

    Rumah setelah terendam banjir tak hanya kotor dan lembap, tetapi juga rawan dimasuki tikus. Luapan air membuat tikus keluar dari tempat persembunyian dan mencari tempat yang lebih aman.

    Penghuni rumah harus waspada tikus bersembunyi di garasi, dapur, ataupun lantai atas. Lalu, hewan pengerat ini bisa memanjat rumah dan bersarang di lantai atas atau loteng.

    Dilansir dari Viking Pest Control, tanda-tanda ada tikus di antaranya terdapat kotoran tikus berwarna hitam di sekitar rumah, terutama dekat tempat penyimpanan makanan. Lalu, ada air kencing tikus berwarna kuning berceceran. Kemudian, bekas gigitan pada furniture atau pakaian bisa jadi tanda ada tikus di rumah.


    Lantas, bagaimana mengatasi tikus yang suka masuk rumah saat hujan? Simak tipsnya berikut ini.

    Cara Atasi Tikus Masuk Rumah Usai Banjir

    Inilah beberapa langkah yang dapat kamu lakukan untuk membasmi tikus setelah banjir seperti yang dikutip dari Better Pest Control.

    1. Perbaiki Kerusakan Bangunan

    Setelah banjir surut, penghuni rumah perlu memeriksa kerusakan atau bukaan di sekitar rumah. Segera perbaikan kerusakan seperti retak atau lubang agar tidak ada celah buat tikus masuk rumah.

    2. Bersihkan Rumah

    Tikus tertarik pada sampah, sisa makanan, dan piring kotor. Oleh karena itu, kamu harus memastikan rumah bersih secara menyeluruh setelah banjir.

    3. Usir Tikus Pakai Bahan Alami

    Kamu bisa mencegah tikus masuk rumah menggunakan bahan alami. Bahan ini mengeluarkan aroma yang dibenci tikus, sehingga tidak betah di dalam rumah. Berikut bahan-bahan yang bisa kamu gunakan.

    • Minyak Pepermin: Taruh kapas yang sudah dibasahi minyak di sekitar titik masuk, lemari, ventilasi udara, dan jendela.
    • Cabai rawit, cengkeh, dan daun mint: Simpan cabai rawit, cengkeh, dan daun mint dalam kantong kain kasa. Letakkan kantong ini di tempat yang rawan dilewati atau ditempati tikus.
    • Kamper: Taruh kamper di lemari, laci, dan dekat furniture lainnya untuk mengusir tikus.

    4. Rapikan Pekarangan

    Tikus bisa bersembunyi di rerumputan, gulma, dan pohon di pekarangan rumah. Hewan pengerat ini juga bisa bersembunyi di furnitur yang tidak terpakai, gudang, ruang penyimpanan, dan bagian luar rumah lainnya.

    Oleh karena itu, rapikan pekarangan dengan memotong rumput. Pangkas cabang-cabang pohon yang bisa jadi akses tikus melompat ke halaman rumahmu. Lalu, tutup bukaan yang bisa jadi celah tikus masuk.

    Singkirkan barang-barang yang tidak terpakai dan tidak terpakai lagi tempat hama dapat bersembunyi.

    Itulah beberapa cara mengatasi tikus masuk rumah sehabis banjir.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Meninggikan Rumah Bisa Jadi Solusi Hadapi Banjir, tapi Jangan Asal!



    Jakarta

    Mempunyai rumah di kawasan rawan banjir bisa membuat penghuni waswas ketika turun hujan deras. Nah, salah satu solusi efektif melindungi rumah dari banjir adalah meninggikan bangunan.

    Daripada khawatir rumah beserta harta benda terendam banjir, kamu bisa meninggikan rumah untuk menghindari air masuk. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan kalau ingin meninggikan rumah. Misalnya, apakah fondasi rumah perlu dibongkar untuk meninggikan rumah?

    Menurut CEO SobatBangun Taufiq Hidayat, menentukan fondasi dibongkar atau tidak saat meninggikan rumah tergantung dari ketinggian air banjir. Untuk itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat atau mencari tahu ketinggian air banjir di kawasan tersebut. Setelah itu, kamu baru bisa menentukan desain elevasi lantai rumah.


    Taufiq menuturkan fondasi rumah tidak selalu harus dibongkar ketika ditinggikan. Apabila jarak antara plafon dengan lantai cukup tinggi, kamu tidak perlu membongkar fondasi rumah.

    “Misalnya tinggi plafon rumah 4 meter, kalau naiknya (lantai) cuma 80 cm, itu atap nggak perlu dibongkar juga, itu lebih cepat (selesai meninggikan rumah),” ujar Taufiq kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

    Berbeda halnya kalau jarak antara plafon dengan lantai cukup dekat. Kondisi tersebut mengharuskan fondasi rumah dibongkar.

    “Misalnya (lantai rumah) ditinggiin 1 meter, berartikan mesti diurug 1 meter, lantainya berubah naik 1 meter, itu harus diurug, dipasang keramik lagi. Selama dipasang keramik kan ada plafon, tinggi plafon yang misalnya 3 meter jadi sisa 2 meter, mentok nanti kepalanya. Ya mesti ditinggiin juga plafonnya,” tuturnya.

    “Kalau plafon ditinggikan, itu cukup nggak keadaan atap, kuda-kuda rumahnya? Kalau misalnya nggak cukup, ya mesti dibongkar atasnya, dimodifikasi,” tambahnya.

    Selain bagian dalam rumah, Taufiq menyebut bagian garasi juga perlu diperhatikan. Menurutnya, garasi juga perlu ikut ditinggikan agar mobil tidak terkena banjir. Namun, perlu dilihat juga apakah carport tersebut bisa ditinggikan atau tidak.

    “Memungkinkan nggak carport-nya ditinggiin? Kalau kondisi jalannya tetap kan malah susah masuk mobilnya, karena curam (jalan dari garasi ke jalan depan rumah),” ucapnya.

    Taufiq kembali menegaskan sebelum meninggikan rumah, sebaiknya mencatat ketinggian air banjir yang masuk ke dalam rumah. Setelahnya, baru merencanakan desain elevasi rumahnya.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Perbaiki Cat Dinding Kotor-Mengelupas gegara Banjir



    Jakarta

    Ketika rumah terendam banjir, tak hanya benda di dalamnya yang bisa rusak tetapi juga bangunannya. Salah satunya cat dinding menjadi kotor atau terkelupas karena terkena air banjir.

    CEO SobatBangun Taufiq Hidayat mengatakan ada beberapa faktor untuk menentukan kondisi cat dinding setelah banjir. Rendaman air banjir biasanya bisa membuat cat menjadi kotor, pudar, mengelupas, ataupun menggelembung.

    Lantas, bagaimana cara memperbaiki cat dinding yang terdampak banjir? Simak tipsnya berikut ini.


    “Kalau ngeliat banjir cuma 3 jam udah surut, cuma menyebabkan dinding itu kotor ada lumpur. Bisa disiram air dan disikat. Jika masih bagus, yaudah dampak dari banjir tidak terlalu berpengaruh ke dinding dan kondisi catnya,” ujar Taufiq kepada detikProperti, Rabu (5/3/2025).

    Jika cat dinding mengelupas, menggelembung, ataupun pudar, Taufiq menyarankan untuk melakukan pengecatan ulang. Langkah pertama adalah membiarkan dinding kering dari bekas air banjir terlebih dahulu.

    Kamu bisa membiarkan dinding kering dengan sendirinya. Untuk mempercepat proses pengeringan, kamu dapat menggunakan kipas angin ataupun blower panas.

    Setelah kering, bersihkan cat lama menggunakan mengamplas atau mengerik menggunakan sendok besi. Jika dinding tidak rata atau ada retak setelah diamplas, segera perbaiki permukaan dinding agar mulus kembali.

    “Mesti diperbaiki dulu dindingnya. Kalau dicat gitu nggak akan menutupi kalau ada dinding yang retak, rontok plesteran, aciannya gompal-gompal itu diperbaiki,” katanya.

    Kemudian, pastikan permukaan dinding sudah bersih dari debu sebelum mulai mengecat. Langkah ini penting agar cat benar-benar menempel pada dinding, sehingga tidak mudah terkelupas.

    Sebagai langkah tambahan, Taufiq mengatakan dinding bisa dicat menggukan cat anti lembap atau anti jamur. Mengingat, dinding yang terkena banjir bisa lembap dan ditumbuhi jamur.

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Catat! Ini 4 Hal yang Perlu Kamu Cek Setelah Rumah Kebanjiran


    Jakarta

    Banjir yang menggenangi rumah tentu membuat resah penghuninya. Tak cuma membasahi seisi rumah, banjir juga berpotensi merusak struktur bangunan.

    Rumah yang terendam terlalu lama atau terkena arus air yang kencang bisa berdampak pada tampilan maupun konstruksi bangunan. Oleh karna itu, kamu perlu memeriksa kondisi rumah setelah banjir surut.

    Lantas, apa saya yang perlu dicek setelah banjir? Simak penjelasannya berikut ini.


    4 Hal Ini Perlu Diperiksa Setelah Rumah Kebanjiran

    Inilah beberapa hal yang perlu kamu periksa di rumah setelah banjir surut.

    1. Cat Dinding

    CEO SobatBangun Taufiq pemilik rumah bisa mengecek kondisi cat dinding dengan melihat dan menilai langsung fisik dinding secara langsung. Jika dinding kotor terkena air kotor maupun lumpur, cukup dibersihkan dengan cara disiram dan disikat.

    “Kalau ngeliat banjir cuma 3 jam udah surut cuma menyebabkan dinding itu kotor, ada lumpur disiram air, disikat, (hasilnya) masih bagus, yaudah dampak dari banjir tidak terlalu berpengaruh ke dinding dan kondisi catnya,” ujar Taufiq kepada detikProperti, Rabu (5/3/2025).

    Apabila cat dinding terlihat memudar atau mengelupas, kamu bisa melakukan pengecatan ulang. Namun, pastikan dinding sudah benar-benar kering dari bekas air banjir sebelum diamplas dan dicat ulang.

    2. Struktur Rumah

    Menurut Taufiq, rumah yang hanya terpapar air tidak akan merusak struktur bangunan. Namun, banjir dengan arus air yang kencang bisa menggeser struktur bangunan. Jika benar ada pergeseran, maka perlu berkonsultasi dan melakukan perbaikan dengan bantuan insinyur atau arsitek.

    “Apakah banjir atau aliran bikin gaya dinamis terhadap struktur, misalnya banjir ada aliran sungai, air bah bikin dinding bergerak itu perlu dicek,” ucapnya.

    3. Rangka Atap

    Selain itu, ia mengingatkan agar mengecek struktur atap kalau banjir sampai merendam atap. Sebab, rangka atap dari baja atau baja ringan berpotensi berkarat akibat paparan air yang terlalu lama.

    “Atapnya baja ringan waktu terendam bikin baja ringan lapisan permukaannya rangka baja itu menimbulkan karat. Kalau iya mesti ada treatment dicat,” ungkapnya.

    Taufiq menambahkan banjir yang menimbulkan gaya dinamis dapat menggerakkan struktur atap. Oleh karena itu, kamu perlu memperhatikan kalau ada pergeseran. Kamu bisa meminta bantuan dari ahli seperti tukang, insinyur, atau arsitek

    4. Instalasi Listrik

    Bukan cuma struktur bangunan, Taufiq mengatakan struktur mekanik, listrik, dan instalasi miniature circuit breaker (MCB) juga perlu dilihat lagi. Komponen seperti terminal, saklar, dan kabel tidak boleh dalam keadaan basah ketika listrik dinyalakan.

    Kamu bisa membiarkannya kering sendiri atau keringkan secara manual saat listrik masih dimatikan. Jika ingin lebih aman kamu bisa meminta bantuan kepada teknisi listrik.

    Itulah beberapa hal yang perlu kamu periksa setelah rumah terendam banjir. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Cara Amankan Rumah yang Rawan Banjir buat Cegah Kerusakan


    Jakarta

    Penghuni rumah di kawasan rawan banjir tentu akan was-was saat hujan deras melanda. Banjir adalah ancaman serius karena dapat menimbulkan kerusakan barang, bahkan bangunan rumah.

    Namun, pindah rumah bukanlah solusi yang mudah. Untuk itu, penghuni perlu bersiap menghadapi potensi banjir seperti menyediakan sumur resapan hingga bangunan rumah anti banjir.

    Lantas, apa saja yang bisa dilakukan untuk melindungi rumah dari banjir? Simak penjelasannya berikut ini.


    Cara Amankan Rumah yang Rawan Banjir

    Inilah cara mengamankan rumah yang rawan banjir, dikutip dari Archdaily.

    1. Amankan Perangkat Elektronik dan Perpipaan

    Penghuni perlu melindungi komponen elektronik atau servis dengan menempatkannya di atas permukaan air banjir. Perangkat ini seperti pemanas, peralatan pipa, perlengkapan pipa, meteran, sakelar, dan stopkontak.

    Jika sampai terendam air banjir, perangkat tersebut dapat mengalami kerusakan parah dan perlu diganti. Apalagi peralatan listrik dapat menjadi sumber risiko kebakaran jika terjadi korsleting.

    Untuk mengurangi risiko kerusakan akibat banjir, penghuni dapat memasang penutup kedap air, penghalang, lapisan pelindung, atau metode lain yang dapat melindungi bagian-bagian yang rentan.

    2. Gunakan Material Tahan Banjir

    Air banjir bias berupa genangan atau aliran. Aliran air yang kuat dapat menggeser dinding dan fondasi, sehingga rumah sebaiknya terbuat dari material yang tahan banjir setidaknya 72 jam.

    Material tahan banjir harus memiliki daya tahan yang tinggi dan mampu menahan kelembapan berlebih. Contoh bahan bangunannya antara lain beton, bata berlapis kaca, kayu lapis, ubin keramik, lem tahan air, hingga cat epoksi poliester.

    3. Gunakan Pelapis Sealant dan Veneer Tahan Air

    Pelapisan anti banjir yang jenisnya kering berfungsi untuk mencegah air banjir masuk ke dalam rumah. Jenis pelapisan ini mencakup pelapis, sealant, dan veneer kedap air.

    Veneer kedap air dapat terdiri dari lapisan batu bata yang didukung oleh membran kedap air. Membran tersebut menyegel dinding luar agar air tidak dapat menembus bangunan.

    Sementara dinding interior, arsitek sebaiknya memakai insulasi busa sel tertutup yang dapat dicuci di area yang mungkin terendam banjir.

    Pelapis dan sealant dapat diterapkan pada fondasi, dinding, jendela, dan pintu untuk mencegah masuknya air banjir melalui celah-celah. Pasalnya, bukaan biasanya tidak dirancang untuk kedap air atau mampu menahan tekanan dari banjir.

    4. Ratakan Rumput Pada Area Rumah

    Selain itu, penghuni dapat mengurangi kerusakan akibat banjir dengan meratakan halaman rumput. Jika halaman rumput miring ke arah rumah, air hujan akan terakumulasi di sekitar bangunan. Sebaliknya, halaman rumput dimiringkan ke arah luar membuat air mengalir menjauh dari rumah.

    Halaman rumput sebaiknya menggunakan tanah berat yang mengandung campuran tanah liat dan pasir. Dengan begitu, limpasan permukaan dapat mengalir ke tempat yang lebih sesuai, seperti selokan jalan.

    5. Meninggikan Bangunan

    Lebih lanjut, pemilik rumah dapat meninggikan stuktur rumah di atas permukaan banjir untuk mengurangi risiko kerusakan. Biasanya, arsitek membangun struktur di atas kolom atau panggung, fondasi dapat dinaikkan.

    Untuk itu, arsitek harus menganalisis iklim dan sejarah banjir di daerah tersebut untuk mendapatkan informasi lebih rinci tentang langkah-langkah yang perlu diambil.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com