Tag: rumah

  • Ini Dia Tips Hilangkan Bau Habis Cat Rumah



    Jakarta

    Cat rumah digunakan untuk memperindah rumah dan memberikan suasana baru pada dinding kamu. Namun terkadang, setelah rumah selesai di-cat, ruangan akan menimbulkan bau yang cukup menyengat dan mengandung zat berbahaya jika terhirup cukup lama. Bagi sebagian orang, terkadang baunya dapat membuat orang pusing.

    Dikutip dari Rumah Artistik, Selasa (26/12/2023), ada beberapa cara untuk menghilangkan bau cat yang menyengat pada rumah kamu. Berikut ini detikProperti telah merangkum beberapa cara untuk meredam bau menyengat pada cat.

    Pertimbangkan Komposisi Cat

    Pertimbangkan untuk memilih komposisi cat yang memiliki kadar volatile organic compounds yang rendah. Meskipun memilih cat bukanlah hal yang sulit, tetapi dengan memilih komposisi yang tepat ini bisa mencegah kamu dari kandungan berbahaya yang dapat membuat kamu pusing hingga mual karena baunya yang menyengat.


    Alirkan Sirkulasi Udara

    Penyebab utama mengapa bau cat di rumah kamu tidak kunjung hilang, terjadi karena kurangnya sirkulasi udara. Oleh karena itu, bukalah jendela dan pintu kamu agar aliran angin masuk dan terkena sinar matahari. Jika kamu mengecat ruangan yang tidak memiliki jendela, kamu bisa menyalakan kipas angin atau AC.

    Buat Bahan Alami Peredam Bau

    Kamu bisa menggunakan bahan alami untuk menghilangkan bau menyengat cat, seperti kopi bubuk, cuka, garam, arang, apel, lemon, dan bawang merah. Kamu bisa menaruh pada wadah mangkok dan letakkan di dekat dinding.

    Untuk bahan alami seperti garam, lemon, dan bawang merah, kamu perlu menambahkan air secukupnya ke dalam wadah. Dengan cara tersebut, bau tajam pada cat sedikit demi sedikit berkurang dan menghilang.

    (zlf/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Penyebab Retak Rambut pada Dinding Rumah dan Cara Mengatasinya


    Jakarta

    Apakah dinding rumah detikers mengalami keretakan tipis yang hampir tak terlihat? Kalau iya, tembok rumahmu itu mengalami retak rambut.

    Sesuai sebutannya, retak rambut merupakan kondisi retak berukuran kecil di tembok dan bahkan kadang tidak terlihat dengan jelas. Kondisi retak seperti ini kerap terjadi pada dinding bangunan, salah satunya rumah.

    Namun, apa ya yang menyebabkan tembok mengalami keretakan rambut? Dan adakah cara untuk mengatasinya?


    Penyebab Retak Rambut pada Dinding Rumah

    Ada sejumlah hal yang menyebabkan tembok rumah mengalami retak rambut. Mengutip unggahan dari akun Instagram resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) @kemenpupr, berikut penyebab retak rambut di dinding:

    1. Plester

    Setelah pemasangan batu bata atau batako dalam tahap pembuatan dinding, selanjutnya masuk ke proses plester untuk melapisi tembok batu. Apabila lapisan plester yang dioleskan terlalu kering sampai tidak ada kelembapan meski sedikit, maka nantinya acian tidak bisa menempel dengan sempurna. Inilah yang akan membuat retak rambut pada dinding,

    2. Acian

    Sebelum mengaplikasikan cat dan setelah plester, tembok biasanya dioleskan acian. Nah, kalau kualitas dan komposisi bahan acian yang digunakan tidak tepat maka bisa meningkatkan potensi retak rambut pada tembok.

    Tak hanya itu, mengoleskan acian ketika plester belum kering juga dapat berpengaruh terhadap munculnya retak rambut.

    3. Cat

    Pemilihan cat rumah yang bagus tidak hanya mempengaruhi tampilan hunian, tapi juga kondisi tembok nantinya. Cat rumah yang berkualitas baik umumnya memiliki kekuatan lekat tinggi yang bisa mempengaruhi lapisan acian.

    Jika memilih kualitas cat yang buruk maka tingkat kelekatan terhadap aciannya rendah. Dengan begitu, potensi timbulnya keretakan rambut akan meningkat.

    Di sisi lain, penggunaan cat dinding yang berbeda pada setiap lapisannya juga dapat mengakibatkan retak rambut.

    4. Perubahan Cuaca

    Cuaca yang berubah bisa menyebabkan pemuaian dan penyusutan pada tembok. Dan inilah yang bisa menimbulkan retak rambut pada dinding.

    5. Permukaan Tanah

    Tinggi permukaan tanah dapat berubah seiring berjalannya waktu. Ini membuat tembok bergerak mengikuti ketinggian tanah dan keretakan rambut pun bisa muncul.

    Cara Mengatasi Retak Rambut pada Dinding Rumah

    Jika tembok rumah detikers mengalami retak rambut, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, yakni sebagai berikut:

    1. Kerik Lapisan Cat

    Jika retak rambut yang ada di tembok dalam kondisi ringan maka bisa mulai dengan mengerok lapisan cat yang menempel. Cat dapat dikerok menggunakan sekrap sampai terkelupas.

    2. Amplas Permukaan Dinding

    Selanjutnya, permukaan dinding dikerok catnya bisa dihaluskan sehingga menjadi rata menggunakan amplas. Amplas tembok sampai material pelapis dindingnya hilang.

    3. Isi Celah yang Retak

    Setelahnya, dinding dapat dibersihkan dari sisa pengerokan yang menempel. Kemudian, permukaan tembok yang terdapat celah retak atau terbentuk lubang bisa dilapisi dengan wall sealer. Tunggu wall sealer hingga kering untuk lanjut ke tahap berikutnya.

    4. Aplikasikan Cat Tembok

    Jika wall sealer telah kering, tembok bisa dicat kembali sesuai warna yang diinginkan. Aplikasikan cat dengan rapi dan pastikan wall sealer maupun noda bekas retakan lainnya tertutupi.

    Selain itu, retak rambut juga dapat diatasi dengan tindakan lain seperti perbaikan struktur bangunan jika penyebabnya adalah kegagalan struktur bangunan.

    Itu tadi deretan penyebab dan cara mengatasi retak rambut pada dinding. Jadi, detikers tidak perlu bingung lagi ya untuk menghilangkan keretakan rambut di dinding.

    (fds/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah Bilang ‘Pahit Pahit’ Bisa Usir Lebah dari Rumah? Ini Faktanya


    Jakarta

    Lebah adalah binatang yang menjengkelkan. Nah, ada banyak cara yang dilakukan untuk mengusir lebah, salah satu yang populer adalah dengan bilang ‘pahit! pahit! pahit!’.

    Konon, saat kita bilang ‘pahit-pahit’, atau pahit-pahit lebah akan menjauh dan pergi. Ternyata, hal itu adalah mitos belaka.

    Sebab, konon katanya lebah tidak memiliki indera pendengaran. Dilansir dari World Birds, Jumat (29/12/2023), lebah tidak memiliki telinga. Alih-alih mendengar suara, lebah merasakan getaran di udara melalui organ spesial pada antena dan kakinya untuk berkomunikasi antar-lebah.


    Sementara itu, dilansir dari detikEdu, lebah memiliki indera penciuman yang tajam sebab setiap lebah memiliki 170 reseptor bau. Hal ini berguna untuk berkomunikasi di dalam sarang dan mengenali berbagai jenis bunga saat mencari makanan.

    Lantas, bagaimana cara mengusir lebah jika ada di rumah? Dilansir dari House Digest, berikut ini caranya.

    1. Serai

    Serai selain bisa untuk mengusir nyamuk ternyata juga bisa digunakan untuk mengusir lebah. Wangi serai dinilai menjijikkan dan mengganggu lebah.

    Kamu bisa menggunakan lilin beraroma serai atau meneteskan minyak esensial ke dalam air dan menyemprotkan ke area yang terdapat lebah. Kamu juga bisa menggunakan tanaman dengan beraroma kuat lainnya, misalnya mint, kayu manis, almond pahit, atau timun.

    2. Semprotan Cuka

    Cuka juga bisa digunakan untuk mengusir lebah, namun jangan gunakan dalam dosis besar karena bisa membahayakan lebah. Untuk mengusirnya, kamu bisa campurkan cuka putih dan air dengan perbandingan yang sama, lalu letakkan wadah berisi campuran tersebut di area yang terdapat lebah.

    Selain itu, kamu bisa menuangkan campuran tersebut ke dalam botol semprot dan menyemprotnya ke sarang atau area yang sering mereka kunjungi.

    3. Bawang Putih

    Bawang putih juga bisa digunakan untuk mengusir lebah. Baunya yang menyengat mengganggu lebah dan membuatnya pindah ke tempat lain.

    Untuk membasmi lebah dengan bawang putih, siapkan 2 siung bawang putih dan sebuah mangkok berisi 1/2 cangkir air mendidih. Kupas bawang putih dan potong halus lalu masukkan ke dalam air panas dan rendam semalaman.

    Keesokan harinya, saring bawang putih dan isi botol semprot dengan cairan tersebut. Semprotkan cairan tersebut ke tanaman yang menjadi sumber makanan lebah atau ke sarang lebah jika benar-benar diperlukan. Sebab, menurut Entomological Society of America, penelitian menunjukkan ekstrak bawang putih beracun bagi larva lebah dan menyebabkan gejala seperti Lesu dan berat badan rendah pada lebah pekerja dewasa.

    4. Asap

    Asap juga bisa kamu gunakan untuk mengusir lebah dari sarangnya. Gunakan asap pengusir nyamuk yang aman untuk memberikan sinyal halus kepada mereka agar meninggalkan sarangnya. Saat mencium aroma asap, lebah akan mengira itu berasal dari kebakaran hutan sehingga memutuskan pindah ke lokasi yang lebih aman.

    5. Panggil Layanan Pengendali Lebah

    Apabila keberadaan lebah sudah tidak terkontrol di rumah atau bahkan ada sarang lebah di rumah, kamu bisa panggil pemadam kebakaran (damkar) atau layanan khusus pengendalian lebah. Damkar bisa membantumu membuang sarang lebah dengan aman dan memberikan solusi jangka panjang. Sarang lebah bisa dibuang tanpa harus membunuh lebah di dalamnya.

    Damkar telah terlatih menggunakan teknik dan produk yang disetujui untuk membebaskan rumah dari gangguan lebah. Hubungi 112 untuk meminta bantuan dari Damkar.

    Itulah beberapa cara untuk mengusir lebah dari rumah. Semoga bermanfaat!

    Buat detikers yang punya permasalahan seputar rumah, tanah atau properti lain. Baik itu berkaitan dengan hukum, konstruksi, pembiayaan dan lainnya, tim detikProperti bisa bantu cari solusinya. Kirim pertanyaan Kamu via email ke [email protected] dengan subject ‘Tanya detikProperti’, nanti pertanyaan akan dijawab oleh pakar.

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Pilihan Material Rumah yang Cocok saat Musim Hujan Biar Nggak Gampang Rusak



    Jakarta

    Memilih material rumah tentu sangat penting, apalagi sudah masuk musim hujan seperti ini. Jika salah pilih material, justru ketika hujan datang bisa merusak rumah.

    Maka dari itu, tak hanya estetika saja yang diperhatikan saat bangun rumah, tetapi material yang tahan ketika hujan juga diperlukan. Berikut ini merupakan contoh material yang tahan saat kondisi hujan.

    Kenapa Hujan Bisa Merusak Rumah?

    Sebelum masuk ke contoh material yang tahan saat kondisi hujan, perlu diketahui alasan hujan bisa merusak rumah. Hal itu karena saat musim hujan, intensitas jumlah air yang menerpa rumah meningkat. Paparan air yang terus menerus bisa inilah yang bisa perlahan merusak rumah.


    Melansir Enercare, Rabu (3/1/2024), hujan yang sering dan deras akan merusak atap dan sirap rumah lebih cepat sehingga berpotensi menyebabkan merembesnya air ke dalam struktur pendukung rumah, seperti dinding dan lantai. Air yang merembes ini bisa melemahkan ketahanan struktur rumah.

    Atap, lantai, dan dinding rumah merupakan bagian penting dari struktur rumah yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu, pemilihan material bangunan untuk ketiga bagian rumah ini tidak boleh dilakukan sembarangan.

    Material Bangunan Ideal untuk Atap, Lantai, dan Dinding yang Tahan Hujan

    Melansir situs sunrise-steel.com, Rabu (3/1/2024), berikut material bangunan ideal untuk atap, lantai, dan dinding rumah yang tahan terhadap hujan.

    Baja Ringan dan Genteng Metal untuk Atap yang Kuat

    Atap menjadi pelindung utama rumah dari hujan. Maka dari itu, memilih bahan yang tepat untuk rangka atap sangat penting. Baja ringan hadir sebagai solusi unggul dengan daya tahan terhadap rayap dan korosi, harga yang terjangkau, dan daya tahan tinggi.

    Pilihlah baja ringan berbahan dan bertanda Zinium untuk kekokohan yang terjamin. Genteng metal yang ringan juga menjadi opsi ideal untuk atap rumah karena tidak hanya tahan karat, tetapi juga mampu menampung air hujan dan mengurangi risiko kebocoran.

    Keramik dan Lantai Beton Waterproof untuk Lantai Anti-lembap

    Lantai yang tahan air adalah kunci untuk mencegah masalah kelembaban yang bisa merusak bangunan. Keramik dan lantai beton yang dilapisi waterproofing adalah pilihan terbaik untuk daerah dengan curah hujan tinggi. Material ini tidak hanya tahan terhadap air, tetapi juga menjaga lantai tetap kering, mengurangi risiko kelembaban pada dinding, dan memberikan kenyamanan bagi penghuni rumah.

    Bata Ringan dan Cat Eksterior untuk Dinding Tangguh

    Pemilihan material untuk dinding juga memegang peranan penting. Bata ringan atau bata merah dengan lapisan waterproofing bisa mencegah rembesan air hujan dan menjaga kekokohan struktur rumah.

    Penambahan cat eksterior atau cladding seperti acp, vinyl cladding, atau panel resin juga bisa memberikan perlindungan tambahan dan meningkatkan estetika bangunan.

    Demikian material bangunan ideal untuk atap, lantai, dan dinding rumah yang tahan hujan. Dalam memilih material bangunan untuk daerah dengan curah hujan tinggi, pemilihan yang bijak sangat dibutuhkan. Atap, lantai, dan dinding adalah elemen-elemen kunci yang harus mendapatkan perhatian khusus. Semoga informasinya bermanfaat!

    Buat detikers yang punya permasalahan seputar rumah, tanah atau properti lain. Baik itu berkaitan dengan hukum, konstruksi, pembiayaan dan lainnya, tim detikProperti bisa bantu cari solusinya. Kirim pertanyaan Kamu via email ke [email protected] dengan subject ‘Tanya detikProperti’, nanti pertanyaan akan dijawab oleh pakar.

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Tips Jitu Mencegah Tandon Air Berlumut, Ikuti 4 Cara Ini


    Jakarta

    Apakah keran air di rumahmu mengeluarkan lumut? Kalau iya, bisa jadi lumut itu berasal dari tempat penampungan air atau toren, lho.

    Toren atau tandon air umumnya dipasang di setiap hunian sebagai wadah menyimpan air. bersih Ini dimaksudkan agar detikers tidak kesulitan saat terjadi kasus mesin air mati atau padam listrik, lantaran tersedia cadangan air di rumah.

    Namun, tangki air dapat ditumbuhi lumut dalam jangka waktu tertentu. Dan inilah yang mengakibatkan ada lumut yang keluar dari keran.


    Tapi, apa yang menyebabkan tandon air berlumut? Dan adakah cara agar toren tidak lumutan?

    Penyebab Tandon Air Berlumut

    Ada beberapa hal yang membuat tangki air jadi berlumut. Simak penjelasannya berikut.

    1. Sinar Matahari

    Lumut bisa tumbuh di sekeliling bagian dalam toren ketika terkena sinar matahari. Karena umumnya tangki air dipasang di atas rumah, cahaya matahari dapat langsung mengenai tandon.

    2. Air Baku yang Kotor

    Jika kualitas air yang mengisi toren adalah air kotor atau keruh maka lumut dapat muncul. Ini karena air kotor mengandung jamur sehingga perkembangan lumut di dalam tangki bisa lebih cepat.

    3. Udara Lembap

    Tandon yang berisi air memiliki udara yang lembap di dalamnya. Di tempat seperti inilah lumut cepat tumbuhnya. Terlebih jika tangki air terpapar sinar matahari maka lumut akan semakin cepat berkembangnya.

    Cara Mencegah Tandon Air Berlumut

    Nah, walaupun lumut dapat muncul di toren karena sejumlah hal tapi detikers bisa kok mencegahnya untuk tumbuh.

    Berikut tips mencegah tangki air agar tidak lumutan sebagaimana dikutip dari akun Instagram resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) @kemenpupr.

    1. Tutup Tangki dengan Rapat

    Langkah awal untuk menghindari pertumbuhan lumut yakni dengan menutup toren dengan rapat. Kalau tidak tertutup dengan baik, sinar matahari dapat masuk ke dalam tangki. Dan kemudian bisa memicu berkembangnya lumut.

    2. Pasang Pelindung untuk Tangki

    Toren biasanya dipasang di bagian atas rumah. Spot inilah yang memungkinkan cahaya matahari untuk langsung mengenai tandon. Selain itu, sinar matahari juga dapat menembus tangki air berbahan plastik yang berwarna cerah. Untuk meminimalisir itu terjadi, pelindung seperti atap bisa dibuat di atas tangki.

    3. Pilih atau Cat Tangki Berwarna Gelap

    Sinar matahari diketahui bisa menembus toren yang berwarna cerah. Jika detikers salah satu yang menggunakan tangki air warna cerah, kamu dapat mengaplikasikan cat berwarna gelap ke sekeliling luar tandon.

    Namun jika detikers belum memiliki tandon di rumah dan berniat untuk memasangnya, bisa pilih tandon yang berwarna gelap.

    4. Kuras Tangki Secara Rutin

    Air yang terisi di tangki bisa saja menjadi keruh karena partikel tanah yang ikut terbawa saat memompa air. Karena itu, lumut dapat tumbuh dengan cepat.

    Nah, kalau toren terlanjur lumutan maka detikers dapat mengurasnya. Dan jika tangki terus-menerus berlumut, kamu dapat melakukan menguras secara rutin.

    Lakukan pengurasan tandon setidaknya enam bulan sekali. Apabila lumut berkembang lebih cepat, detikers dapat mengurasnya rutin tiga sampai empat bulan sekali.

    Jadi, kalau tangki air di rumahmu berlumut, ikuti tips pencegahan seperti di atas, ya!

    (fds/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Catat! Ini Hal yang Wajib Dilakukan Kalau Rumah Kamu Rawan Banjir


    Jakarta

    Hujan deras mulai terjadi di berbagai daerah, tak jarang hal ini memicu terjadinya banjir. Sebelum banjir melanda rumah kamu, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan.

    Seperti diketahui, banjir bisa terjadi karena beberapa penyebab contohnya hujan deras hingga saluran pembuangan aur yang tersumbat. Jika saluran air tersumbat bisa membuat air sungai tidak mengalir dengan baik dan justru meluap keluar. Sumbatan tersebut biasanya terjadi karena sampah-sampah yang dibuang sembarangan.

    Nah, ketika banjir melanda rumah bisa saja merusak rumah bahkan menghanyutkan beberapa barang berharga. Dilansir dari Buku Pengetahuan dan Aktivitas Tentang Bencana Alam, Sabtu (6/1/2024), berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum dan saat terjadi banjir.


    Sebelum Terjadi Banjir

    Kamu bisa menyimpan barang berharga dan surat penting seperti sertifikat tanah, akta lahir, ijazah, dan lainnya di tempat yang kedap air, lalu letakkan di tempat yang aman.

    Saat Terjadi Banjir

    – Jauhi benda-benda listrik dan kabel

    – Hindari berenang di air karena air banjir yang kotor menyebabkan penyakit

    – Jika perlu keluar saat banjir, gunakan alat untuk memandu jalan seperti kayu panjang, sapu, tiang payung, dan lainnya agar tidak tersandung atau terperosok di lubang

    – Jika banjir sudah tinggi, segera mengungsi ke tempat uang aman

    – Dikutip dari detikEdu, jika sudah siap untuk evakuasi, amankan rumah atau tempat tinggal terlebih dahulu. Misalnya, Tempatkan perabot di luar rumah atau di tempat yang aman banjir. Barang yang lebih berharga diletakkan pada bagian yang lebih tinggi di dalam rumah

    – Matikan semua jaringan listrik, terlebih jika ada instruksi dari pihak berwenang

    – Cabut alat-alat yang masih tersambung dengan listrik

    – Bersihkan dan siapkan penampungan air untuk berjaga-jaga jika kehabisan air bersih

    Sesudah Terjadi Banjir

    – Hindari air banjir karena ada kemungkinan kontaminasi zat-zat berbahaya dan ancaman kena setrum

    – Waspada dengan instalasi listrik

    – Hindari air yang bergerak

    – Hindari area yang airnya baru saja surut karena jalan berisiko keropos dan amblas

    – Hindari lokasi yang masih terkena bencana, kecuali jika pihak yang berwenang membutuhkan sukarelawan dengan pengetahuan terkait banjir

    – Kembali ke rumah sesuai dengan perintah dari pihak yang berwenang

    – Tetap di luar gedung atau rumah yang masih dikelilingi air

    – Hati-hati saat memasuki gedung karena ada risiko kerusakan yang tidak terlihat seperti kerusakan pada fondasi

    – Perhatikan kesehatan dan keselamatan keluarga dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih jika terkena air banjir

    – Buang makanan yang terkontaminasi air banjir

    – Dengarkan berita atau informasi mengenai kondisi air, serta di mana mendapatkan bantuan perumahan/shelter mengungsi, pakaian, dan makanan

    – Dapatkan perawatan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat

    – Bersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah dari sisa-sisa kotoran setelah banjir

    – Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

    – Jika ada sumur gali di sekitar, ikut kaporitisasi sumur gali

    – Jika ada jamban dan saluran pembuangan air limbah (SPAL) di sekitar, ikut perbaikan jamban dan SPAL

    Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum, saat, dan sesudah banjir melanda rumah. Semoga bermanfaat!

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Biaya Meninggikan Rumah Biar Nggak Kena Banjir Lagi



    Jakarta

    Belakangan ini mulai turun hujan yang sangat deras sehingga memicu terjadinya banjir di berbagai daerah. Jika kamu memiliki rumah di wilayah yang rawan banjir, salah satu cara hal yang bisa kamu lakukan adalah meninggikan rumah.

    Akan tetapi, meninggikan rumah tidak bisa asal dilakukan. Profesional Kontraktor dari PT Gaharu Kontruksindo Utama, Panggah Nuzhul Rizki memberikan beberapa tips untuk meninggikan rumah supaya terhindar dari banjir. Berikut ini tipsnya.

    1. Perkirakan Tinggi Air Ketika Banjir

    Hal itu karena jika langsung meninggikan rumah tanpa tahu tinggi permukaan air maka tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, rumah bisa saja tetap kebanjiran.


    2. Gunakan Bahan Material yang Baik

    Dengan menggunakan bahan material dengan kualitas rendah, bisa saja cepat rusak. Maka dari itu, perlu menggunakan bahan material yang baik dan kokoh agar tahan lama.

    3. Pakai Jasa Profesional

    Meninggikan rumah bukanlah suatu hal yang mudah. Sebaiknya, gunakan jasa profesional untuk perencanaan dan pelaksanaan supaya hasilnya sesuai harapan.

    Untuk meninggikan rumah tentunya memerlukan biaya. Kira-kira berapa ya biaya renovasi untuk meninggikan rumah?

    Biaya Meninggikan Rumah

    Panggah mengatakan, untuk meninggikan seluruh bagian rumah diperkirakan membutuhkan biaya Rp 150-200 juta untuk rumah tipe 36. Namun, tergantung juga dari rencana level ketinggian rumah. Adapun lama pengerjaannya sekitar 3-4 bulan.

    “Harganya berkisar Rp 150-200 juta yang meliputi biayanya peninggian struktur, peninggian dinding, pembongkaran rangka dan atap, pemasangan kembali rangka dan atap, pengurukan lantai, pemasangan keramik lantai baru, pembongkaran rangka plafon dan pemasangan kembali, pemasangan instalasi air dan listrik, plester acian dinding, pengecatan rumah,” jelasnya kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

    Senada, CEO Sobat Bangun Taufiq Hidayat menuturkan, biaya meninggikan seluruh bagian rumah untuk tipe 36 bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun, masih tidak semahal ketika membangun rumah baru.

    “Yang jelas, nggak seperti bikin rumah baru. Kalau bangun rumah baru sekitar Rp 4 juta (per meter), kalau ninggiin (rumah) itu per meter sekitar Rp 2,5 juta,” tuturnya.

    “Pengurugan itu didatangin dari luar, 1 kubik (tanah urugan) sudah Rp 500 ribu itu 1 mobil kijang, kalau tipe 36 (mau tinggiin) tinggi setengah meter aja butuh 18 kubik itu bisa 20 mobil kijang datengin. Belum dinding dinaikkan, kalau dinding bata kalau sudah diplester aci itu sekitar Rp 170 ribu per meter, belum plafonnya kalau diganti. Kalau plafon diganti, 1 plafon sekitar Rp 250 ribu, belum kalau atapnya diganti, ya lumayan lah kalau mau ninggiin rumah,” paparnya.

    Jika hanya meninggikan lantainya saja untuk rumah tipe 36 diperkirakan sekitar Rp 10-12 juta. Itu sudah termasuk dengan biaya tukang, tanah urugan, dan keramik.

    “Ya sekitar Rp 10-12 juta kalau tinggiinnya cuma 30 cm. Nggak usah bongkar plafon, (tanpa) bongkar atap,” ujar Taufiq.

    Untuk lama pengerjaannya pun relatif, tergantung dari luas rumah dan desain elevasi rumah yang dilakukan. Jika meninggikan rumah secara total, bisa sekitar 3 bulan tetapi jika hanya meninggikan lantai bisa lebih cepat.

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Tinggikan Rumah Demi Cegah Banjir, Perlu Bongkar Fondasi?



    Jakarta

    Meninggikan rumah memang bisa menjadi solusi untuk menghindari banjir di wilayah yang rawan banjir. Apalagi saat ini hujan deras melanda berbagai daerah di Indonesia.

    Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika meninggikan rumah. Misalnya, apakah fondasi rumah perlu dibongkar ketika meninggikan rumah?

    CEO SobatBangun, Taufiq Hidayat mengatakan, perlu dibongkar atau tidaknya fondasi rumah tergantung dari ketinggian air banjir. Maka dari itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat ketinggian air banjir, baru menentukan desain elevasi lantai rumah.


    Nah, ternyata meninggikan rumah nggak selalu harus bongkar fondasi rumah. Jika jarak ketinggian antara plafon dengan lantai cukup tinggi, maka tidak perlu membongkar fondasi rumah.

    “Misalnya tinggi plafon rumah 4 meter, kalau naiknya (lantai) cuma 80 cm, itu atap nggak perlu dibongkar juga, itu lebih cepat (selesai meninggikan rumah),” tuturnya kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

    Akan tetapi, jika jarak tinggi plafon dengan lantai cukup dekat, maka rumah perlu dibongkar.

    “Misalnya (lantai rumah) ditinggiin 1 meter, berartikan mesti diurug 1 meter, lantainya berubah naik 1 meter, itu harus diurug, dipasang keramik lagi. Selama dipasang keramik kan ada plafon, tinggi plafon yang misalnya 3 meter jadi sisa 2 meter, mentok nanti kepalanya. Ya mesti ditinggiin juga plafonnya,” tuturnya.

    “Kalau plafon ditinggikan, itu cukup nggak keadaan atap, kuda-kuda rumahnya? Kalau misalnya nggak cukup, ya mesti dibongkar atasnya, dimodifikasi,” tambahnya.

    Tak hanya bagian dalam rumah saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga bagian garasi. Menurutnya, jika meninggikan rumah, garasi juga perlu ditinggikan agar mobil tidak terkena banjir. Namun, perlu dilihat juga apakah carport tersebut bisa ditinggikan atau tidak.

    “Memungkinkan nggak carport-nya ditinggiin? Kalau kondisi jalannya tetap kan malah susah masuk mobilnya, karena curam (jalan dari garasi ke jalan depan rumah),” ujar Taufiq.

    Maka dari itu, ia kembali menegaskan sebelum meninggikan rumah sebaiknya mencatat ketinggian air banjir yang masuk ke dalam rumah. Setelahnya, baru merencanakan desain elevasi rumahnya seperti apa.

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Penting! 6 Cara Mencegah Air Hujan Masuk Rumah Lewat Celah Pintu



    Jakarta

    Saat hujan deras, terkadang air hujan bisa masuk ke dalam rumah melalui celah pintu. Hal ini tentu merepotkan penghuni rumah karena harus membersihkannya.

    Apabila air masuk ke dalam rumah, bisa-bisa perabotan rumah rusak karena tergenang air. Tak hanya itu, dinding juga bisa rusak karena bekas air yang masuk ke dalam rumah.

    Buat kamu yang tinggal di daerah rawan banjir bisa simak tips berikut ini untuk mencegah air masuk ke dalam rumah melalui celah pintu. Dilansir dari Emporio Architect, Sabtu (6/1/2024), berikut ini tipsnya.


    1. Sisipkan Kain pada Celah Jendela dan Pintu

    Tips pertama yang bisa dilakukan oleh kamu adalah dengan menyisipkan kain pada celah jendela dan pintu. Dengan begitu, air hujan pun akan terserap oleh kain sebelum masuk ke dalam rumah. Walaupun cara ini kurang optimal, namun mudah untuk dilakukan.

    2. Pakai Sealer untuk Menutup Celah Pintu

    Cara lain untuk mencegah air hujan masuk ke dalam rumah adalah dengan memakai sealer di celah pintu. Sealer bisa ditempelkan di bagian bawah pintu untuk menutupi celah pintu. Dengan begitu, bukan hanya air hujan saja yang tidak bisa masuk, tetapi serangga hingga debu juga tidak bisa masuk rumah.

    3. Tempatkan Triplek di Pintu Untuk Menghalau Air

    Tips lain yang cukup sederhana, kamu dapat menempatkan triplek di pintu untuk menghalau air. Bila ingin lebih kuat lagi, misalnya untuk menghalau banjir, kamu bisa memberi penahan seperti besi di bagian kiri-kanan triplek yang disekrup ke kusen pintu. Sementara itu, celah-celahnya bisa diisi atau ditutup dengan lelehan lilin malam atau karet agar air tidak merembes masuk ke dalam rumah.

    4. Pakai Kerai Bambu

    Saat hujan lebat apalagi disertai dengan angin, terkadang bisa membuat air masuk ke dalam rumah. Untuk mengatasinya, kamu bisa memasang kerai bambu untuk menghalau air masuk ke dalam rumah melalui celah pintu.

    5. Meninggikan Lantai

    Jika rumah kamu punya ketinggian lebih rendah dari jalan utama, bukan tidak mungkin rumah jadi sering kebanjiran atau kemasukan air saat hujan. Nah, kamu bisa coba menghalangi jalannya air agar tidak masuk ke dalam rumah melalui celah pintu dengan mengeruk tanah atau meninggikan lantai di depan pagar atau di depan pintu.

    Dengan mengeruk tanah dan menempatkannya di depan rumah, tanah jadi berfungsi sebagai tanggul karung pasir yang memblokir dan menyerap air hujan. Dengan begitu, air tidak masuk ke dalam rumah. Selain itu, kamu juga bisa meninggikan lantai di depan pintu agar air tidak bisa masuk ke dalam rumah melalui celah-celahnya.

    6. Pasang Floodgate pada Pagar atau Pintu Rumah

    Kalau kamu memiliki budget lebih dan ingin mencegah air masuk ke dalam rumah, kamu bisa memasang floodgate di pagar atau pintu rumah. Awalnya, gerbang jenis ini dipasang di tanggul atau sungai, namun dimodifikasi agar bisa digunakan pada tiap gerbang atau pintu rumah untuk mencegah air masuk ke dalam. Nah, pagar jenis ini cocok untuk rumah kamu yang rawan banjir.

    Itulah beberapa cara untuk menghalau air hujan masuk ke dalam rumah melalui celah pintu. Semoga bermanfaat!

    Buat detikers yang punya permasalahan seputar rumah, tanah atau properti lain. Baik itu berkaitan dengan hukum, konstruksi, pembiayaan dan lainnya, tim detikProperti bisa bantu cari solusinya. Kirim pertanyaan Kamu via email ke [email protected] dengan subject ‘Tanya detikProperti’, nanti pertanyaan akan dijawab oleh pakar.

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Cara Terhindar dari Penipuan Beli Rumah



    Jakarta

    Memiliki rumah adalah impian semua orang. Namun sayang, tak semua orang punya kemampuan untuk membeli rumah.

    Faktor ekonomi menjadi alasan utamanya. Namun, ada juga yang sudah memiliki uang cukup dan hendak membeli rumah, malah berujung kena tipu. Alhasil, uang hilang, rumah yang diimpikan pun melayang.

    Nah, oleh karena itu, sebelum membeli rumah ada hal-hal yang perlu kamu ketahui. Pasalnya, bila tidak, kita akan kena tipu atau rumah yang kita beli tak sesuai harapan. Apa saja tipsnya? enjelasan tips membeli rumah yang aman:


    1. Memahami reputasi developer

    Langkah awal untuk membeli rumah adalah memahami reputasi developer. Caranya dengan membaca secara detail melalui website dan media sosialnya untuk melihat portofolio dari proyek-proyek apa saja sudah mereka lakukan selama ini.

    Selain itu, rajin-rajin juga untuk mengecek pemberitaan di media dan internet. Tujuannya untuk mengetahui apakah developer tersebut pernah tersandung kasus-kasus negatif yang merugikan konsumennya.

    2. Perhatikan Legalitas Sertifikat Hak Milik (SHM) & Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

    Anda harus memperhatikan legalitas dari rumah yang ingin dibeli dari developer untuk menghindari masalah yang dapat terjadi di kemudian hari. Misalnya penyegelan oleh pihak berwenang, penolakan kredit bank, dan masalah lainnya.

    Karenanya, Anda harus bertanya ke pihak developer tentang kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Jika belum ada SHM dan IMB, maka sebaiknya tunda dulu untuk beli rumah di developer tersebut.

    3. Tanyakan kejelasan sertifikat rumah

    Ketika membeli rumah melalui developer, biasanya sertifikat rumah akan sudah diganti nama dari pemilik lama menjadi nama developer. Jika tertarik membeli, pastikan Anda menanyakan sertifikat tersebut dapat beralih ke nama Anda.

    Jika sertifikat belum balik nama, maka Anda tidak dapat melakukan alih kredit ke bank lain dari bank saat ini. Sebabnya, pihak bank akan meminta sertifikat atas nama Anda agar bank dapat menyetujui pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

    4. Jangan membayar Down Payment (DP) sebelum KPR disetujui

    Sebelum pinjaman yang kamu usulkan disetujui oleh pihak bank, maka jangan pernah mau untuk membayar uang muka atau DP yang sudah ditentukan kepada pihak developer. Sebabnya, tidak ada jaminan pihak bank akan menyetujui KPR rumah meski developer sudah bekerjasama dengan bank.

    Jika kamu tetap nekat membayar DP ke developer dan KPR ditolak oleh bank, maka akan berisiko uang DP tersebut sulit kembali atau mendapatkan potongan sekian persen.

    5. Pelajari kewajiban developer

    Baiknya Anda mempelajari apa saja kewajiban developer jika sampai terjadi wanprestasi. Langkahnya adalah membaca secara rinci dan jelas Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) sebelum menandatangani berita acara serah terima hunian tersebut.

    Simak tips beli rumah yang aman di halaman selanjutnya

    6. Menjadwalkan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB)

    Jika sudah setuju dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), maka segeralah menjadwalkan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB). Yakni sebagai bukti sah hak atas tanah dan bangunan sudah beralih dari developer kepada Anda sebagai pemilik baru. AJB harus dilakukan bersama developer di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

    7. Jangan bertransaksi jual beli rumah di bawah tangan

    Transaksi jual beli rumah di bawah tangan atau atas dasar kepercayaan yang menggunakan kuitansi sebagai tanda bukti sangatlah berisiko. Jika rumah yang akan dibeli masih dalam status dijaminkan atau diagunkan di bank, maka lakukan pengalihan kredit dan dibuatkan AJB di hadapan notaris.

    Sementara itu, Ketua Bidang Humas DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jatim Kumoro Atmaja juga memberikan sejumlah tips tambahan bagi Anda yang ingin membeli rumah. Berikut tipsnya.

    8. Beli rumah secara KPR

    Menurut Kumoro, pembelian rumah dengan sistem KPR lebih aman. Sebab, developer harus mengantongi rekomendasi dari perbankan.

    “KPR jarang ada penipuan, 95 persen aman. Sebab, tim perbankan akan rutin memonitor,” ujar Kumoro saat dihubungi detikJatim, Rabu (31/8/2022).

    9. Pahami Reputasi Developer Lewat Asosiasi

    Jika Anda masih ragu, cek reputasi developer lewat asosiasi. Menurut Kumoro, asosiasi memiliki data pengembang yang telah tereputasi dengan baik.

    “Asosiasi itu ada REI, Apersi, dan lain-lain. Jika sudah terdaftar di asosiasi, calon pembeli juga bisa tanya mengenai track record developer tersebut,” papar pria yang menjabat sebagai Penasehat Apersi Korwil Jember itu.

    10. Hati-hati dengan Developer Berkedok Syariah

    Kumoro mengatakan bahwa developer berkedok syariah memang marak akhir-akhir ini. Sebagian developer berkedok syariah membangun lahan yang belum dilunasi dan sudah niat menipu sejak awal.

    “Syariah ini kan sistemnya tanpa perbankan, developer ada kerjasama dengan pemilik lahan serta izinnya belakangan. Nah, ada developer berkedok syariah yang bangun lahan tapi belum dilunasi,” ujar Kumoro.

    Salah satu cara untuk mencegah penipuan developer berkedok syariah adalah cari tahu perijinan lahannya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) regional masing-masing. Selain itu, Anda bisa tanya ke pengembang langsung tentang perijinan lahannya.

    “Cari tahu nama tersebut apakah sudah terverifikasi izinnya. Kalau belum, jangan, karena izinnya berarti belum lengkap. Lalu Anda juga bisa tanya pengembangnya langsung terkait perizinannya, jika sudah ada ijin, Anda bisa konfirmasi ke BPN atau notaris,” pungkasnya.

    Nah, itu tadi tips untuk membeli rumah yang aman. Semoga bermanfaat ya, detikers!

    (zlf/zlf)



    Sumber : www.detik.com