Tag: sakit kepala

  • Kenali 4 Tanda Pertumbuhan Jamur di Rumah Sebelum Terlambat!



    Jakarta

    Musim hujan membuat kondisi rumah menjadi lebih lembab. Nah udara yang lembab di dalam ruangan bisa memicu pertumbuhan jamur pada bangunan.

    Jika jamur sudah tumbuh pada bangunan seperti dinding rumah, bisa memicu hal buruk bagi struktur dan tampilan rumah. Tak hanya itu, jamur pada dinding rumah bisa menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

    Nah untuk mencegah pertumbuhan jamur di rumah salah satunya dengan mengetahui tanda pertumbuhannya. Cara mengetahuinya cukup mudah, tidak membutuhkan alat canggih atau bantuan profesional.


    Melansir dari Homes and Gardens, berikut beberapa tanda adanya pertumbuhan jamur pada bangunan

    1. Adanya Perubahan Warna pada Bagian Bangunan

    Kamu bisa mengetahui keberadaan jamur dari kondisi fisik bangunan yakni dari perubahan warna. Sebagai contoh perubahan warna cat pada dinding, plafon, lantai, dan bagian lainnya. Perubahan warna ini juga diikuti dengan munculnya noda hitam, hijau, merah muda, hingga putih.

    Jika kamu melihat hal ini, kamu harus segera membasminya karena jamur dapat menyebar dan berlipat ganda dalam 24 jam. Cara membasminya dengan mencampurkan larutan pemutih dengan air putih secukupnya kemudian disemprotkan ke area yang berjamur.

    2. Tercium Bau Lembap

    Bau lembap itu seperti bau apek. Bau ini sebagai pertanda jamur tengah berkembang di media yang lembap. Bau ini bisa tercium jelas pada saat kamu menghidupkan kipas angina tau AC. Maka dari itu, penting di rumah memiliki ventilasi.

    3. Cat dan Wallpaper Mengelupas

    Kemudian, jika kamu melihat cat dinding atau wallpaper di rumah mengelupas, kemungkinan penyebabnya adalah jamur. Kemudian jika kamu menyentuh cat dinding terasa lembut dan kenyal itu menandakan ada kelembaban yang terperangkap di bawahnya.

    Untuk memperbaikinya, bukan dengan mengecat ulang, tetapi membasmi dulu jamur tersebut. Dengan begitu permasalahan jamur tidak akan terulang lagi.

    4. Mengalami Alergi

    Seperti yang disebut di awal, jamur tidak hanya merusak struktur dan tampilan rumah, melainkan menyebabkan penyakit bagi penghuninya. Jamur dapat menyebabkan batuk, bersin, hidung tersumbat, mata gatal, iritasi kulit, gangguan pernapasan, sakit kepala, dan gejala mirip alergi lainnya.

    Cara untuk membersihkannya adalah dengan membersihkan rumah secara teratur atau menggunakan cuka yang disemprotkan ke area pertumbuhan jamur.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Jamur di Plafon Kamar Mandi Bahaya buat Kesehatan, Begini Cara Atasinya



    Jakarta

    Plafon kamar mandir menjadi salah satu area yang sering terkena jamur. Salah satu alasannya karena kondisi kamar mandi yang lembap ataupun ada kebocoran di atap.

    Nah buat kamu yang penasaran apakah kamar mandi kamu atapnya berjamur bisa dilihat apakah ada noda-noda kecoklatan atau warna yang kontras dengan plafon. Biasanya jamur ini bisa bertambah banyak tergantung pada besar area lembap.

    Jika ada jamur di atap kamar mandi kamu jangan dianggap sepele. Sebab itu bisa berisiko bagi kesehatan. Mulai dari batuk, bersin, hidung tersumbat, mata gatal, iritasi kulit, gangguan pernapasan, sakit kepala, dan gejala mirip alergi lainnya.


    Lagi pula membasmi jamur pada plafon kamar mandi ternyata tidak sulit. Dilansir The Spruce, berikut ada cara menghilangkan jamur di plafon kamar mandi.

    Cara Menghilangkan Jamur sari Plafon Kamar Mandi Drywall (Papan Gipsum) Yang Dicat

    1. Campurkan Larutan Pembersih

    Larutan pembersih jamur mudah kamu temukan, bahkan ada yang instan. Namun, jika kamu ingin membuat sendiri larutan pembersih tersebut. Caranya dengan menyiapkan sabun pencuci puring dan pemutih klorin. Campurkan kedua larutan tersebut ke dalam sebuah wadah berisi air hangat dengan perbandingan 1:2:1.

    Setelah itu, masukkan larutan pembersih ke dalam botol. Semprotkan larutan tersebut pada plafon yang berjamur. Diamkan seharian, lalu semprot lagi hingga terlihat perubahannya.

    Saat membersihkan jamur, kamu harus memakai alat pelindung seperti masker wajah, kacamata pelindung, dan sarung tangan. Selain itu, pastikan ventilasi di kamar mandi dalam keadaan terbuka atau berfungsi agar kamar mandi tidak lembap dan area yang dibersihkan bisa cepat kering.

    2. Periksa Noda Secara Teratur

    Jamur tidak akan hilang dalam satu kali penyemprotan. Kamu perlu menyemprotkan larutan pembersih secara berulang hingga noda tersebut hilang.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 8 Warna Sofa yang Perlu Dihindari Menurut Desainer Interior


    Jakarta

    Sofa adalah perabot yang menjadi titik fokus utama di sebuah ruangan. Sofa dengan warna yang cerah, kalem, dan terlihat bersih membantu ruangan terlihat cerah serta tenang.

    Kesan berbeda muncul jika sofa yang dipilih berwarna gelap, terlalu terang, atau pucat. Rumah bisa terasa kurang nyaman bagi orang yang menempatinya atau sekadar bertamu.

    Warna Sofa yang Perlu Dihindari

    Dengan banyaknya pilihan, mungkin akan sulit memilih warna yang tepat untuk sofa di rumah. Namun secara umum sebaiknya hindari warna-warna berikut dikutip dari laman Cozy Plant dan Livingetc.


    1. Hitam

    Sofa hitam bisa menciptakan kesan gelap dan berat di dalam ruangan. Warna hitam juga akan menyerap cahaya dan membuat ruangan terkesan sempit dan lebih tertutup.

    Jika memang mau menggunakan warna ini, pilih bahan yang bisa memantulkan cahaya dengan cara yang menarik. Dengan sedikit cahaya dan bayangan, sofa hitam bisa tampak elegan dan tidak kaku.

    2. Merah

    Warna merah memang sering dikaitkan dengan gairah, berani, dan keinginan menarik perhatian. Namun sebaiknya hindari warna merah untuk sofa karena bisa menjadi fokus utama rumah.

    Akibatnya pesona perlengkapan, ornamen, dan pernak-pernik rumah lainnya cenderung hilang serta tidak terlihat. Apalagi jika warna merah sofa makin pudar seiring waktu, yang bisa bikin rumah terlihat pucat.

    3. Hijau Neon

    Hijau neon juga perlu dihindari dalam pemilihan warna sofa. Warna terang dan bold ini berisiko menyebabkan mata lelah bahkan sakit kepala. Selain itu, hijau neon bisa berbenturan dengan warna lain di rumah, sehingga sulit menciptakan paduan yang harmonis dan kohesif.

    4. Kuning Cerah

    Kuning sebaiknya tidak dipilih untuk warna sofa. Warna yang identik dengan kebahagiaan ini, berisiko bikin mata tegang dan tidak nyaman. Jika masih ingin menggunakan warna kuning, sebaiknya pilih yang lembut dan kalem.

    5. Oren

    Oren sering dikaitkan dengan kehangatan dan energi, tapi tidak cocok untuk warna sofa. Warna ini juga sulit dipadukan dengan yang lain, sehingga bisa membatasi pilihan untuk dekorasi dan aksesori.

    6. Putih

    Jika ingin menggunakan putih sebagai warna sofa, sebaiknya pertimbangkan unsur lain di dalam rumah. Misalnya tidak ada hewan peliharaan yang berisiko mudah mengotori sofa.

    Pertimbangan ini dikarenakan putih adalah warna yang mudah kotor, sehingga pemiliknya harus rajin membersihkan sofa. Tentunya tanpa merusak sofa, sehingga tampilannya tampak selalu bersih dan baru.

    Pemilik rumah yang masih menginginkan sofa warna putih, sebaiknya pilih model yang menggunakan sarung. Model ini mudah dicuci dan diganti dengan berbagai warna lain.

    7. Abu-abu

    Warna abu-abu bisa terlihat kontemporer dan anggun namun juga menimbulkan kesan kaku dan formal. Kesan lain yang berisiko muncul adalah kusam, dingin, dan tidak bersahabat.

    “Jika ada berbicara tentang warna sofa, satu-satunya hal yang akan saya hindari adalah abu-abu yang terlalu formal dengan tenunan ketat. Pada sofa, kain yang tenunannya terlalu halus bisa terlihat dan terasa terlalu kaku,” kata desain interior bernama Anne Hindley.

    Jika memang ingin memilih abu-abu, tambahkan aksesoris lain untuk memberi karakter pada ruang tamu, misalnya dengan paduan merah muda pucat. Hiasi juga sofa dengan bantal agar muncul nuansa rileks.

    8. Warna yang Sedang Tren

    Ketika memilih sofa, jangan terpaku dengan warna yang sedang tren. Hijau sage misalnya, banyak disukai di momen-momen tertentu dan memungkinkan orang memilihnya sebagai warna sofa.

    Namun harus diingat, sofa adalah investasi dan warna tren mungkin akan datang dan pergi. Jika warna yang dipilih tidak lagi trendi, sofa menjadi seperti ketinggalan zaman.

    Pemilik rumah yang ingin mengikuti warna trend, bisa memilih alternatif sarung sofa atau bantal. Sehingga, sofa selalu terlihat trendi dengan warna paling update.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Penyebab Air di Rumah Bau dan Kotor Serta Cara Mengatasinya


    Jakarta

    Air sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Apabila air di rumah terlihat keruh dan mengeluarkan aroma tak sedap, tentu hal ini bikin jengkel.

    Sebab, air akan digunakan untuk mencuci baju, mandi, hingga mencuci peralatan makan. Apabila air yang digunakan kotor dan bau tentu tidak bisa digunakan.

    Sebenarnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan air di rumah jadi kotor dan bau, salah satunya bisa disebabkan kandungan klorin pada air yang terlalu tinggi.


    Selain itu, masih ada penyebab lain yang membuat air di rumah menjadi kotor dan bau. Bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasannya dalam artikel ini.

    Penyebab Air di Rumah Bau dan Kotor

    Ada sejumlah faktor yang membuat air di rumah menjadi bau dan kotor sehingga tak bisa digunakan. Dikutip dari Better Homes & Gardens dan Clean Water Store, Senin (16/6/2025), berikut sejumlah penyebabnya:

    1. Kandungan Klorin yang Tinggi

    Klorin bisa jadi salah satu penyebab air di rumah jadi batu dan keruh. Klorin sebenarnya terdapat dalam persediaan air pada tingkat sekitar 0,2 sampai 2 part per million (ppm). Namun dalam sejumlah kasus, tingkat klorin bisa menyentuh 5 ppm yang dapat menyebabkan bau klorin ringan.

    Senyawa klorin memiliki sifat oksidasi yang kuat sehingga efektif dalam membunuh bakteri. Pada umumnya, bau klorin dapat hilang secara alami dalam beberapa menit setelah air terkena udara.

    2. Kandungan Besi dan Mangan Tinggi

    Kadar zat besi dan mangan juga bisa ditemukan dalam air. Umumnya, kandungan besi dalam air maksimal di angka 0,3 mg/L atau 0,3 ppm. Jika kandungan besi melebihi angka tersebut, maka air dapat berubah warna menjadi merah, cokelat, atau kuning.

    Mangan juga merupakan logam yang dapat ditemukan pada air. Mangan berasal dari tanah dan bebatuan di sekitar sumur, sedangkan besi berasal dari kerak bumi.

    Kandungan mangan yang tinggi pada air bisa meninggalkan noda berwarna cokelat atau teh pada peralatan makan dan pakaian. Air yang terkontaminasi mangan tinggi dapat menciptakan rasa pahit.

    3. Tumbuh Bakteri di Saluran Air

    Air di rumah juga bisa mengeluarkan aroma tak sedap seperti bau belerang atau telur busuk. Hal ini dapat terjadi karena bakteri yang tumbuh di dalam saluran air, baik pemanas air maupun saluran pembuangan.

    Munculnya bakteri di saluran air bisa disebabkan oleh derajat keasaman atau pH yang terlalu rendah, yakni di bawah 6,5. Kondisi itu dapat melarutkan mineral seperti zat besi sehingga menimbulkan bau dan rasa yang tak sedap.

    Bakteri seperti Gallionella dan Leptothrix dapat memanfaatkan besi di air untuk metabolisme. Alhasil, kandungan air semakin kotor dan tidak sehat untuk digunakan.

    4. Sumber Air Memang Kotor

    Apabila tidak ditemukan pipa yang rusak atau kotor, bisa jadi masalahnya datang dari sumber air di rumah yang tidak bagus. Meskipun sudah menggali sumur air lebih dalam tetapi air yang keluar tetap kotor dan berlumpur.

    Tips Mengatasi Air di Rumah yang Bau dan Kotor

    Masalah air di rumah yang bau dan kotor tidak bisa dianggap sepele. Sebab, air sangat dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.

    Dikutip dari Artisanal Water, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi air yang kotor dan bau. Berikut caranya:

    1. Pasang Filter Air

    Tips yang pertama adalah memasang filter air untuk menyaring kandungan besi. Sebaiknya pilih alat filter yang sesuai untuk mengatasi masalah spesifik, seperti bau besi dan keruh.

    2. Tawas

    Salah satu bahan yang disebut efektif mengatasi air yang bau dan kotor adalah tawas. Bahan ini merupakan garam rangkap sulfat dan aluminium sulfat.

    Cara pakainya cukup melarutkan tawas yang sudah dihaluskan ke penampungan air sebanyak 500 gram hingga 1 Kg. Namun, perlu diperhatikan jika tawas bisa menimbulkan efek samping seperti mual, sakit kepala, gangguan ginjal, dan masalah kesehatan lainnya jika dikonsumsi.

    3. Ijuk (Serat Pepohonan)

    Kamu bisa menggunakan bahan-bahan alami seperti ijuk untuk mengatasi air yang kotor. Perlu dicatat, langkah ini tak langsung berhasil secara instan sehingga perlu menunggu beberapa waktu.

    Penggunaan ijuk sebagai filter air dapat dilakukan dengan cara membuat setumpuk ijuk yang diikat terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke dalam sumur air. Apabila ijuk mengapung maka perlu diberi pemberat agar bisa masuk ke dalam air.

    4. Merawat Pipa Air

    Merawat pipa air secara berkala dapat mencegah air di rumah jadi bau dan kotor. Apabila pipa sudah berkarat maka segera ganti dengan yang baru. Sebaiknya pilih pipa yang tahan korosi seperti PVC untuk meminimalisir masalah serupa di kemudian hari.

    Itulah penyebab air di rumah menjadi bau dan kotor serta cara mengatasinya. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Jarak Aman Tinggal di Rumah Dekat SUTET, Berapa Meter Seharusnya?



    Jakarta

    Lokasi merupakan salah satu hal penting yang harus dipertimbangkan saat ingin membeli atau menyewa rumah. Jangan salah menentukan lokasi bila tak ingin menyesal kemudian.

    Lokasi yang sebaiknya dihindari adalah lokasi rumah yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan nyawa karena punya risiko yang tak main-main. Salah satunya yang tidak disarankan adalah dekat dengan jaringan listrik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET)

    Tinggal di dekat SUTET bisa menimbulkan risiko kesehatan bagi penghuni rumah. Mengutip dari artikel ilmiah berjudul Pengaruh Radiasi Elektromagnetik dari SUTET Terhadap Kesehatan karya Prisca Ananda dan J Jamaaluddin, disebutkan potensi gangguan kesehatan akibat pajanan medan elektromagnetik SUTET 500 kV antara lain pada sistem biologis, psikologis, sosial budaya, dan hipersensitivitas. Tanda dan gejala hipersensitivitas elektromagnetik antara lain sakit kepala, pusing, gangguan tidur, keletihan menahun, jantung berdebar-debar, rasa mual, kejang otot, kebingungan, hingga depresi (Rea, 1991; Grant, 1995; Bergdahl,1995).


    Namun, bila keadaan memaksa memang harus tinggal di dekat SUTET, ada jarak aman yang harus diperhatikan.

    Pemerintah telah mengeluarkan aturan mengenai jarak minimal bangunan dengan SUTET yang harus dipenuhi agar tidak berbahaya. Aturan itu tertera dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13/2021 tentang Ruang Bebas dan Jarak Bebas Minimum Jaringan Transmisi Tenaga Listrik dan Kompensasi atas Tanah, Bangunan, dan/atau Tanaman yang Berada di Bawah Ruang Bebas Jaringan Transmisi Tenaga Listrik.

    Nah, yang dimaksud dengan ruang bebas dalam aturan tersebut yaitu jarak atau radius tertentu yang diukur dari tapak tiang SUTET yang harus terbebas dari bangunan apapun. Dalam lampiran aturan tersebut, jarak aman yang harus dipenuhi berdasarkan jenis dan kapasitas tegangan SUTET. Berikut ini informasinya.

    Jarak Bebas Minimum Horizontal dari Sumbu Vertikal Menara/Tiang pada Jaringan Transmisi Tenaga Listrik

    – SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) 66 kV jenis tiang baja memiliki ruang bebas minimal 4 meter
    – SUTT 66 kV jenis tiang beton memiliki ruang bebas minimal 4 meter
    – SUTT 66 kV jenis menara memiliki ruang bebas minimal 7 meter
    – SUTT 150 kV jenis tiang baja memiliki ruang bebas minimal 6 meter
    – SUTT 150 kV jenis tiang beton memiliki ruang bebas minimal 5 meter
    – SUTT 150 kV menara sirkuit ganda memiliki ruang bebas minimal 10 meter
    – SUTT 150 kV jenis menara sirkuit empat memiliki ruang bebas minimal 10 meter
    – SUTET 275 kV menara Sirkuit Ganda memiliki ruang bebas minimal 13 meter
    – SUTET 500 kV jenis Sirkuit Tunggal memiliki ruang bebas minimal 22 meter
    – SUTET 500 kV jenis Sirkuit Ganda memiliki ruang bebas minimal 17 meter
    – SUTET 500 kV menara sirkuit 4 vertikal memiliki ruang bebas minimal 17 meter
    – SUTET 500 kV menara sirkuit 4 horizontal memiliki ruang bebas minimal 30 meter
    – SUTET 500 kV compact tower sirkuit ganda memilik ruang bebas minimal 14 meter
    – SUTET 500 kV compact tower sirkuit 4 vertikal memiliki ruang bebas minimal 14 meter
    – SUTET 500 kV tiang baja sirkuit ganda memiliki ruang bebas minimal 14 meter
    – SUTET 500 kV tiang baja sirkuit empat memiliki ruang bebas minimal 14 meter

    Itulah jarak aman bangunan dari SUTET. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Beli Rumah Dekat SUTET? Hati-Hati Dampaknya Bisa Merugikan Seumur Hidup


    Jakarta

    Ada sejumlah pertimbangan saat membeli sebuah hunian. Tak hanya soal biaya, tapi juga memperhatikan lokasi rumah tersebut. Salah satu pertimbangannya adalah membeli rumah di dekat Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

    Banyak orang yang enggan tinggal di dekat SUTET. Salah satu alasannya dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan nyawa karena memiliki risiko yang tak main-main.

    Apabila kamu tertarik untuk membeli rumah di dekat SUTET, sebaiknya pertimbangkan dulu sejumlah risikonya. Tak hanya terkait kesehatan, tapi juga harga jual properti tersebut di kemudian hari.


    Ingin tahu apa saja risiko punya rumah di dekat SUTET? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

    Risiko Tinggal di Rumah dekat SUTET

    Perlu diketahui, ada sejumlah risiko jika kamu membeli hunian di dekat SUTET. Dengan begitu, kamu bisa mempertimbangkan lagi sebelum mencapai kata sepakat untuk membeli rumah tersebut.

    1. Potensi Risiko Kesehatan

    Salah satu risiko yang sangat dikhawatirkan jika membeli rumah di dekat SUTET adalah memengaruhi kesehatan. Soalnya, kabel listrik dapat menghasilkan medan elektromagnetik, yakni suatu bentuk radiasi yang disebut dapat meningkatkan risiko kanker jika terpapar secara signifikan dalam jangka waktu tertentu.

    Sementara itu, dalam artikel ilmiah berjudul Pengaruh Radiasi Elektromagnetik dari SUTET Terhadap Kesehatan karya Prisca Ananda dan J Jamaaluddin, disebutkan potensi gangguan kesehatan akibat pajanan medan elektromagnetik SUTET 500 kV antara lain pada sistem biologis, psikologis, sosial budaya, dan hipersensitivitas. Tanda dan gejala hipersensitivitas elektromagnetik antara lain sakit kepala, pusing, gangguan tidur, keletihan menahun, jantung berdebar-debar, rasa mual, kejang otot, kebingungan, hingga depresi (Rea, 1991; Grant, 1995; Bergdahl, 1995).

    Meski begitu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan medan elektromagnetik dapat memicu risiko kanker. Sebab, ada sejumlah barang elektronik di rumah seperti smartphone dan perangkat WiFi yang memancarkan radiasi tersebut, bahkan bisa lebih tinggi daripada kabel listrik.

    2. Kebakaran dan Tower Roboh

    Meski dipasang dengan kokoh dan mengutamakan keselamatan, SUTET juga dapat memicu kebakaran. Hal ini biasanya dipicu karena cuaca ekstrem seperti badai petir, sehingga menimbulkan bahaya kebakaran dan sengatan listrik.

    Dilansir Fast Expert, Rabu (2/7/2025), cuaca ekstrem seperti hujan disertai angin kencang juga berisiko bagi masyarakat yang tinggal di bawah SUTET. Ada risiko sejumlah komponen tiang bisa roboh dan menimpa rumah warga di sekitar.

    3. Harga Jual Rumah Turun

    Risiko berikutnya adalah harga rumah jadi turun drastis. Hal ini terjadi karena banyak orang yang enggan tinggal di bawah SUTET sebab lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya.

    Meski kamu menjual rumah dengan harga lebih murah daripada saat membelinya, akan tetapi masih cukup sulit untuk mencari pembeli. Alhasil, harga properti bisa turun drastis dan sulit terjual dalam waktu cepat.

    4. Estetika dan Visual

    Bagi sebagian orang, kehadiran SUTET di lingkungan rumah dapat mengganggu estetika dan visual. Sebab, keberadaan SUTET bisa membuat hunian jadi tampak kurang menarik dan dianggap merusak pemandangan.

    Bagi orang yang membeli rumah dengan pertimbangan pemandangan luas atau lingkungan yang indah, tentu tidak akan mengambil rumah di dekat SUTET. Hal tersebut yang juga memengaruhi harga jual properti jadi turun karena peminatnya sedikit.

    5. Muncul Suara Berdengung

    Aliran listrik bertegangan tinggi dapat menghasilkan suara dengung rendah atau berdengung terus-menerus. Suara tersebut dapat mengganggu penghuni rumah yang tinggal di dekat SUTET. Bahkan, suara tersebut akan semakin terdengar jelas saat cuaca hujan.

    Dalam beberapa kasus, orang yang tinggal di dekat SUTET mengatakan kerap mengalami sakit kepala atau migrain akibat mendengar suara berdengung terus-menerus. Hal ini bisa memicu stres karena suara dengung yang terus berlangsung.

    Demikian lima risiko tinggal di rumah dekat SUTET yang perlu diketahui. Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi detikers!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Cat Dinding Retak dan Berkerut Masih Bisa Ditolong, Begini Caranya



    Jakarta

    Kondisi cat dinding yang retak dan berkerut sering ditemui di sudut-sudut rumah. Temuan ini merupakan pertanda jika ada kesalahan pada dinding atau cat. Sebab, cat dinding yang dilapisi dengan benar dan tanpa masalah memiliki hasil akhir mulus.

    Menurut kontraktor Wildan cat dinding yang retak atau berkerut biasanya disebabkan oleh dindingnya. Muncul beberapa retakan pada dinding membuat cat ikut tertarik sehingga muncul retak atau justru kerutan di sisi lain.

    “Kalau cat retak itu karena catnya nggak bisa nahan gaya tarik dari dinding retak. Jadi masalahnya di dinding,” kata Wildan saat dihubungi detikcom, Rabu (9/7/2025).


    Wildan menyarankan cara mencegah cat dinding retak atau berkerut adalah dengan diplamir. Plamir adalah proses untuk menutup pori-pori dinding sehingga halus dan mudah dilapisi cat.

    “Kalau retak itu caranya diplamir ulang, plamir itu materal buat nutup lubang,” ungkap Wildan.

    Setelah itu dinding harus dipasang cat dasar atau primer. Cat dasar ini merupakan kunci penting cat lapisan atas tetap menempel dan tahan lama. Cat dasar biasanya berwarna putih. Pemakaiannya cukup satu lapis saja. Tunggu 1-2 jam sampai benar-benar mengering baru kemudian lapisi dengan cat permukaan atau top coat.

    Untuk top coat harus terdiri dari 2 lapis atau lebih agar warnanya terlihat. Setiap lapisan harus ditunggu hingga kering 1-2 jam baru melapisi dengan lapisan baru. Dengan begitu, cat akan lebih menempel pada dinding.

    Cara yang sama juga bisa dilakukan untuk melakukan pengecatan ulang. Ketika hendak mengecat ulang, pastikan cat lama sudah dibersihkan dan dikeruk hingga tidak ada lagi cat lama yang tersisa.

    Wildan mengatakan setelah ruangan dicat sebaiknya tidak langsung ditempati karena baunya masih menyengat. Ruangan tersebut harus dibiarkan terbuka selama 2-3 hari. Bau cat yang baru dipasang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan sehingga tidak disarankan untuk berada di dalam ruangan tersebut dengan kondisi tertutup tanpa ventilasi.

    Dilansir How Stuff Works, VOC (Volatile organic compounds) merupakan senyawa organik yang mudah menguap setelah cat dinding diaplikasikan. Fungsi dari senyawa ini adalah membuat cat lebih tahan lama dan bahan kimia yang membuat dinding basah menjadi kering. Seperti pengertiannya, VOC ini bentuknya adalah uap.
    Menurut Healthline, beberapa contoh VOC di antaranya adalah toluene, xilena, aseton, metilen klorida, formaldehida, hingga benzene.

    Paparan VOC terkadang dapat menimbulkan efek kesehatan jangka pendek atau jangka panjang. Untuk jangka pendek seperti iritasi pada mata, hidung, atau tenggorokan, sakit kepala, pusing, mual, hingga kesulitan bernapas. Sedangkan, untuk jangka panjang bisa merusak sistem saraf, hati, ginjal.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Tercium Bau Bangkai Tikus di Rumah? Begini Cara Atasinya


    Jakarta

    Bangkai tikus mati sering ditemukan di rumah. Biasanya hewan pengerat itu mati karena terlindas kendaraan, dimakan binatang lain, atau memakan perangkat yang dipasang manusia. Bangkai ini berbau tidak sedap seperti bau daging busuk dan cukup tajam jika lokasi bangkai cukup dekat.

    Bau bangkai tikus jangan dianggap sepele. Dilansir dari HVAC, bau dari bangkai tikus bisa menyebabkan sakit kepala, mual, reaksi alergi, hingga masalah saluran pernapasan.

    Dilansir Apartment Therapy, berikut cara menghilangkan bau bangkai tikus.


    1. Temukan dan Buang Bangkainya

    Biasanya bau bangkai tikus yang cukup menyengat menandakan lokasinya cukup dekat dari bau tempat kita mencium bau tersebut. Kebanyakan bangkai tikus ditemukan di jalan karena tikus sering keluar menyeberang di jalanan dan tak sengaja terlindas mobil. Jika seperti ini cara menemukannya cukup mudah.

    Lokasi yang sulit adalah apabila bau tikus tercium jelas di dalam rumah, tetapi wujudnya tidak ada. Khawatirnya tikus tersebut mati di atap, saluran pembuangan atau ventilasi udara. Jika sudah begini, cari area yang bisa dibuka untuk mengecek. Jika sulit untuk dicek, bisa memanggil tenaga ahli agar penanganannya lebih cepat.

    Saat menemukannya, jangan lupa menggunakan sarung tangan dan masker. Masukkan bangkai ke kantong plastik, lalu lapisi lagi dengan kantong (2-3 lapis). Buang bangkai tersebut ke tempat sampah di luar rumah.

    2. Bersihkan Area Bekas Bangkai

    Setelah bangkai diangkat, area bekas tikus mati perlu didisinfeksi. Isi disinfektan tersebut adalah campuran larutan pemutih dan air. Lalu, semprotkan pada area tersebut. Diamkan selama 10 menit, kemudian bilas dengan air bersih atau menggunakan lap bersih yang sekali pakai. Tujuannya agar bakteri dan virus yang mungkin terbawa oleh tikus benar-benar hilang.

    3. Netralisir Bau Secara Alami

    Bau bekas bangkai tikus biasanya tidak akan langsung hilang setelah dibersihkan. Ada cara jitu agar baunya bisa langsung hilang, yakni menaburkan soda kue atau bubuk kopi di area tersebut setelah diberikan disinfektan. Kedua bahan ini efektif menyerap bau tak sedap. Alternatif lain, buat cairan dari campuran air dan cuka, lalu semprotkan ke udara atau area yang bau.

    4. Alirkan Udara Segar

    Hal penting lainnya adalah jangan lupa membuka jendela dan ventilasi yang ada di rumah agar bau bangkai tikus bisa hilang karena udara segar masuk ke dalam rumah.

    Itulah cara menghilangkan bau bangkai tikus. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Makanan Basi Keluar Lendir? Kenali Juga Tanda Bahaya Lainnya


    Jakarta

    Hingga September 2025, tercatat 6.517 kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR-RI Komisi IX mengusulkan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) untuk membantu mengawasi keamanan dalam program Makanan Bergizi (MBG).

    Selain itu, Menkes juga usulkan mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah mengenai keamanan pangan dan gizi. Menurutnya, usulan ini adalah upaya agar anak sekolah memahami makanan yang disajikan dalam program MBG masih layak dikonsumsi atau tidak.

    Meski biasanya makanan yang sudah dimasak aman dikonsumsi, makanan yang disimpan terlalu lama atau tidak sesuai standar penyimpanan makanan akan memberi kesempatan terjadinya kontaminasi bakteri atau rentan basi. Karena itu, menurut Menkes penting untuk tahu ciri-ciri makanan yang sudah tidak layak konsumsi.


    Beberapa ciri makanan tidak layak konsumsi yang bisa dikenali antara lain sebagai berikut.

    Bau dan Rasa Berubah

    Indra penciuman dan perasa menjadi cara paling cepat untuk mendeteksi keamanan makanan yang akan dikonsumsi. Nasi basi akan beraroma asam yang menusuk, sayur bening yang rusak akan berbau masam, sementara lauk bersantan cenderung langu atau tengik.

    Perubahan ini terjadi karena pertumbuhan bakteri pembusuk. Misalnya, Bacillus cereus yang sering muncul pada nasi menghasilkan asam organik saat memecah pati, sehingga muncul aroma kecut. Begitu pula pada sayur berkuah, bakteri fermentatif memecah kandungan karbohidrat sayuran menjadi asam, membuat rasanya berubah. Minyak dalam santan yang teroksidasi juga menghasilkan bau tengik.

    Menurut penelitian yang terbit di Jurnal Foods (2025), senyawa volatil hasil metabolisme mikroba inilah yang memunculkan bau dan rasa tak sedap, meski secara kasat mata makanan kadang masih terlihat normal.

    Tekstur Tidak Normal

    Perubahan tekstur pada makanan juga dapat mengindikasikan makanan tidak layak. Nasi yang pulen bisa berubah menjadi kering, menggumpal, bahkan berlendir jika sudah basi. Pada sayur berkuah, kuah yang semula jernih bisa menjadi kental atau berbusa. Lauk bersantan biasanya mengalami pecah santan, yaitu minyak terpisah dan terlihat mengambang di permukaan.

    Penyebabnya bisa datang dari tiga faktor yaitu aktivitas mikroba, enzim alami makanan yang masih aktif meski sudah dimasak, serta suhu penyimpanan yang tidak tepat. Kombinasi faktor ini mempercepat kerusakan makanan matang, bahkan sebelum ada tanda lain seperti bau menyengat.

    Warna Berubah

    Warna juga bisa menjadi indikator. Sayur bening yang biasanya jernih bisa berubah keruh, sop ayam yang cerah bisa menjadi keabu-abuan, dan lauk bersantan bisa tampak cokelat kusam.

    Menurut penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Food Science & Technology tahun 2024, perubahan warna ini umumnya dipicu oleh oksidasi lemak, pemecahan pigmen alami bahan makanan, serta pertumbuhan mikroba. Pada santan misalnya, oksidasi membuat warnanya berubah gelap, sementara aktivitas bakteri pada sayur bisa membuat kuahnya menjadi keruh.

    Tidak Selalu Gampang Dikenali

    Namun perlu diingat, tidak semua makanan matang yang terkontaminasi akan menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ada kalanya makanan tetap tampak normal, tapi sebenarnya berbahaya.

    Contohnya, nasi goreng atau mie goreng yang disimpan di suhu ruang bisa terkontaminasi Staphylococcus aureus, meski bau dan rasanya masih sama. Lauk berkuah juga bisa mengandung Salmonella atau E. coli tanpa perubahan fisik yang jelas.

    Selain bakteri, ada pula risiko dari histamin. Pada lauk berbahan ikan laut seperti tongkol atau cakalang, bakteri tertentu bisa memecah histidin menjadi histamin. Masalahnya, histamin bisa bertahan meski ikan sudah dimasak. Akibatnya, makanan tampak normal namun bisa memicu gejala keracunan seperti wajah memerah, sakit kepala, mual, hingga diare. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety (2020) menyebut fenomena ini sebagai scombroid poisoning, yang kerap luput terdeteksi.

    Dampak Mengonsumsi Makanan Tidak Layak

    Mengonsumsi makanan matang yang sebenarnya sudah tidak layak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Gejalanya bisa muncul cepat, beberapa jam setelah makan, atau tertunda hingga sehari kemudian, tergantung jenis mikroba maupun toksin yang terbentuk.

    1. Gangguan saluran cerna

    Gejala paling umum adalah mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Bacillus cereus pada nasi basi, misalnya, dikenal memicu muntah dan diare akibat toksin yang tahan panas.

    2. Keracunan bakteri berbahaya

    Jika makanan terkontaminasi Salmonella atau E. coli, gejalanya bisa lebih berat, seperti demam, kram perut, diare berdarah, bahkan dehidrasi parah. Kondisi ini butuh penanganan medis cepat, terutama pada anak-anak.

    3. Reaksi mirip alergi

    Pada ikan yang menghasilkan histamin, gejala muncul menyerupai alergi: wajah dan tubuh memerah, sakit kepala, jantung berdebar, hingga rasa panas di kulit. Kondisi ini dikenal sebagai scombroid poisoning, yang sering tidak disadari karena makanan terlihat normal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kenapa Makanan Basi Keluar Lendir? Kenali Juga Tanda Bahaya Lainnya


    Jakarta

    Hingga September 2025, tercatat 6.517 kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR-RI Komisi IX mengusulkan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) untuk membantu mengawasi keamanan dalam program Makanan Bergizi (MBG).

    Selain itu, Menkes juga usulkan mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah mengenai keamanan pangan dan gizi. Menurutnya, usulan ini adalah upaya agar anak sekolah memahami makanan yang disajikan dalam program MBG masih layak dikonsumsi atau tidak.

    Meski biasanya makanan yang sudah dimasak aman dikonsumsi, makanan yang disimpan terlalu lama atau tidak sesuai standar penyimpanan makanan akan memberi kesempatan terjadinya kontaminasi bakteri atau rentan basi. Karena itu, menurut Menkes penting untuk tahu ciri-ciri makanan yang sudah tidak layak konsumsi.


    Beberapa ciri makanan tidak layak konsumsi yang bisa dikenali antara lain sebagai berikut.

    Bau dan Rasa Berubah

    Indra penciuman dan perasa menjadi cara paling cepat untuk mendeteksi keamanan makanan yang akan dikonsumsi. Nasi basi akan beraroma asam yang menusuk, sayur bening yang rusak akan berbau masam, sementara lauk bersantan cenderung langu atau tengik.

    Perubahan ini terjadi karena pertumbuhan bakteri pembusuk. Misalnya, Bacillus cereus yang sering muncul pada nasi menghasilkan asam organik saat memecah pati, sehingga muncul aroma kecut. Begitu pula pada sayur berkuah, bakteri fermentatif memecah kandungan karbohidrat sayuran menjadi asam, membuat rasanya berubah. Minyak dalam santan yang teroksidasi juga menghasilkan bau tengik.

    Menurut penelitian yang terbit di Jurnal Foods (2025), senyawa volatil hasil metabolisme mikroba inilah yang memunculkan bau dan rasa tak sedap, meski secara kasat mata makanan kadang masih terlihat normal.

    Tekstur Tidak Normal

    Perubahan tekstur pada makanan juga dapat mengindikasikan makanan tidak layak. Nasi yang pulen bisa berubah menjadi kering, menggumpal, bahkan berlendir jika sudah basi. Pada sayur berkuah, kuah yang semula jernih bisa menjadi kental atau berbusa. Lauk bersantan biasanya mengalami pecah santan, yaitu minyak terpisah dan terlihat mengambang di permukaan.

    Penyebabnya bisa datang dari tiga faktor yaitu aktivitas mikroba, enzim alami makanan yang masih aktif meski sudah dimasak, serta suhu penyimpanan yang tidak tepat. Kombinasi faktor ini mempercepat kerusakan makanan matang, bahkan sebelum ada tanda lain seperti bau menyengat.

    Warna Berubah

    Warna juga bisa menjadi indikator. Sayur bening yang biasanya jernih bisa berubah keruh, sop ayam yang cerah bisa menjadi keabu-abuan, dan lauk bersantan bisa tampak cokelat kusam.

    Menurut penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Food Science & Technology tahun 2024, perubahan warna ini umumnya dipicu oleh oksidasi lemak, pemecahan pigmen alami bahan makanan, serta pertumbuhan mikroba. Pada santan misalnya, oksidasi membuat warnanya berubah gelap, sementara aktivitas bakteri pada sayur bisa membuat kuahnya menjadi keruh.

    Tidak Selalu Gampang Dikenali

    Namun perlu diingat, tidak semua makanan matang yang terkontaminasi akan menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ada kalanya makanan tetap tampak normal, tapi sebenarnya berbahaya.

    Contohnya, nasi goreng atau mie goreng yang disimpan di suhu ruang bisa terkontaminasi Staphylococcus aureus, meski bau dan rasanya masih sama. Lauk berkuah juga bisa mengandung Salmonella atau E. coli tanpa perubahan fisik yang jelas.

    Selain bakteri, ada pula risiko dari histamin. Pada lauk berbahan ikan laut seperti tongkol atau cakalang, bakteri tertentu bisa memecah histidin menjadi histamin. Masalahnya, histamin bisa bertahan meski ikan sudah dimasak. Akibatnya, makanan tampak normal namun bisa memicu gejala keracunan seperti wajah memerah, sakit kepala, mual, hingga diare. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety (2020) menyebut fenomena ini sebagai scombroid poisoning, yang kerap luput terdeteksi.

    Dampak Mengonsumsi Makanan Tidak Layak

    Mengonsumsi makanan matang yang sebenarnya sudah tidak layak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Gejalanya bisa muncul cepat, beberapa jam setelah makan, atau tertunda hingga sehari kemudian, tergantung jenis mikroba maupun toksin yang terbentuk.

    1. Gangguan saluran cerna

    Gejala paling umum adalah mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Bacillus cereus pada nasi basi, misalnya, dikenal memicu muntah dan diare akibat toksin yang tahan panas.

    2. Keracunan bakteri berbahaya

    Jika makanan terkontaminasi Salmonella atau E. coli, gejalanya bisa lebih berat, seperti demam, kram perut, diare berdarah, bahkan dehidrasi parah. Kondisi ini butuh penanganan medis cepat, terutama pada anak-anak.

    3. Reaksi mirip alergi

    Pada ikan yang menghasilkan histamin, gejala muncul menyerupai alergi: wajah dan tubuh memerah, sakit kepala, jantung berdebar, hingga rasa panas di kulit. Kondisi ini dikenal sebagai scombroid poisoning, yang sering tidak disadari karena makanan terlihat normal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com