Tag: sampah rumah tangga 1

  • 5 Cara Mengelola Sampah Rumah Tangga yang Baik Biar Sehat


    Jakarta

    Setiap rumah tentu menghasilkan sampah hingga menggunung dan dibuang untuk diangkut oleh petugas kebersihan. Sebenarnya sampah rumah tangga ini sebaiknya tidak langsung dibuang begitu saja, tetapi dikelola terlebih dahulu.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ponorogo Gulang Winarno mengatakan sebagian besar masyarakat belum mengelola sampah rumah tangga dengan optimal. Hal ini karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah.

    “Sampah itu kalau tidak dikelola dengan baik, akhirnya akan mengganggu terkait kesehatan, (lalu lintas) transportasi, (dan) ekosistem. Kalau dikelola dengan baik, (sampah) tidak akan mengganggu (aktivitas) dan juga akan menambah nilai produktif,” ujar Gulang kepada detikProperti, Rabu (10/7/2024).


    Justru dengan mengelola sampah rumah tangga, masyarakat bisa merasakan manfaat seperti hasil penjualan sampah bernilai, lho! Lalu, pekarangan di rumah akan lebih subur karena bisa menghasilkan kompos dari hasil pengelolaan sampah.

    Lalu, bagaimana cara mengelola sampah rumah tangga? Yuk, simak ulasan berikut ini.

    Cara Mengelola Sampah Rumah Tangga

    1. Memilah Sampah Sesuai Kategori

    Cara paling utama untuk mengelola sampah rumah tangga adalah memilah sampah sesuai kategori. Untuk kebutuhan rumah pada umumnya, Gulang menyarankan untuk memisahkan antara sampah organik, non organik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

    Ia menjelaskan sampah organik seperti dari sisa makanan dan dedaunan. Sedangkan sampah non organik merupakan benda-benda yang terbuat dari plastik, kaleng, kertas, atau karton.

    2. Mengompos Sampah Organik

    Untuk mengurangi pembuangan sampah organik, kamu bisa memisahkan sampah tersebut untuk dijadikan pupuk. Ia menyebutkan penggunaan komposter atau wadah untuk menyimpan sampah organik secara tertutup. Setelah beberapa hari dibiarkan, sampah akan menjadi pupuk.

    “Yang (sampah) organik bisa buat pupuk setidaknya buat tanaman kita sendiri di pekarangan rumah,” katanya.

    3. Menjual Sampah Bernilai

    Selain membiarkan pengepul atau petugas kebersihan mengangkut sampah untuk dikelola, kamu juga bisa menghasilkan ketika mengelola sampah. Sampah non organik yang memiliki nilai, seperti botol plastik, kertas, dan kaleng bisa dijual kalau diserahkan ke bank sampah.

    “Sampah itu sebenarnya bisa menghasilkan untuk tambahan kebutuhan rumah tangga. Walaupun hal itu cuman sedikit, kalau dijual satu bulan juga menambah nilai atau membantu keuangan rumah tangga,” jelasnya.

    4. Mengurangi Produksi Sampah

    Supaya sampah tidak cepat menumpuk di rumah, kamu bisa beralih memakai barang-barang yang tidak bersifat sekali pakai. Dengan begitu kamu dapat mengurangi beban sampah yang perlu dikelola.

    “Untuk mengurangi sampah juga, menggunakan alat-alat yang sekiranya dapat digunakan kembali. Jadi bukan plastik tapi yang nanti bisa digunakan untuk beberapa kali. Tidak sekali pakai terus dibuang,” imbuhnya.

    5. Buang Sampah Pada Tempatnya

    Terakhir, pastikan kamu membuang sampah pada tempatnya. Jangan asal buang di taman, pinggir jalan, atau sungai. Akan lebih baik lagi jika menyiapkan beberapa tempat sampah sesuai kategorinya.

    “Di setiap rumah tangga itu ada tempatnya sendiri-sendiri, organik, non organik, dan B3 itu kita tempatkan (dan) tandain. Kalau kita memiliki kesadaran membeli tempat sampah yang terpilah tersebut,” pungkas Gulang.

    Itulah beberapa tips mengelola sampah rumah tangga dengan baik. Semoga bermanfaat!

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Alasan Kamu Perlu Mulai Kelola Sampah Rumah Tangga


    Jakarta

    Kebanyakan masyarakat Indonesia masih asal membuang sampah rumah tangga tanpa memilahnya sesuai kategori. Padahal, mengelola sampah itu penting bagi lingkungan hidup, serta dapat menguntungkan penghuni rumah.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ponorogo Gulang Winarno mengatakan pengelolaan sampah rumah tangga di masyarakat belum optimal. Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengelola sampah masih kurang.

    Lantas, mengapa kita perlu mengelola sampah? Simak penjelasannya berikut ini.


    Alasan Mengelola Sampah Rumah Tangga

    1. Menjaga Lingkungan Hidup

    “Sampah itu kalau tidak dikelola dengan baik, akhirnya akan mengganggu terkait kesehatan, (lalu lintas) transportasi, (dan) ekosistem. Kalau dikelola dengan baik, (sampah) tidak akan mengganggu (aktivitas) dan juga akan menambah nilai produktif,” ujar Gulang kepada detikcom, Rabu (10/7/2024).

    Gulang menjelaskan sampah harus dibuang pada tempat semestinya agar tidak mengganggu ekosistem atau aktivitas manusia. Ia mengaku mendapat keluhan ada sampah di sungai dan taman, sehingga mengganggu orang-orang sekitar serta mencemari lingkungan.

    Selain itu, sampah perlu dipilah berdasarkan kategorinya, seperti organik, non organik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Hal ini untuk memudahkan pengelolaan sampah lanjutan, baik untuk didaur ulang maupun dikompos.

    2. Menghasilkan Uang

    Selain lebih baik untuk lingkungan, memilah sampah bisa menjadi penghasilan tambahan untuk rumah tangga. Kamu bisa memisahkan sampah yang masih bernilai dan dapat didaur ulang, seperti botol plastik, kaleng, hingga kertas.

    “Sampah itu sebenarnya bisa menghasilkan untuk tambahan kebutuhan rumah tangga. Walaupun hal itu cuman sedikit, kalau dijual satu bulan juga menambah nilai atau membantu keuangan rumah tangga,” jelasnya.

    3. Membuat Kompos untuk Tanaman di Rumah

    Sampah rumah tangga juga bisa dimanfaatkan menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman di rumah. Siapkan wadah tertutup atau komposter untuk menyimpan sampah sisa makanan atau dedaunan dan ranting dari pekarangan. Setelah beberapa hari atau minggu, sampah organik tersebut bisa menjadi pupuk.

    “Yang (sampah) organik bisa buat pupuk setidaknya buat tanaman kita sendiri di pekarangan rumah,” katanya.

    Itulah beberapa alasan untuk mulai mengelola sampah rumah tangga dengan baik. Pastikan kamu menyiapkan beberapa tempat sampah untuk setiap kategori ya. Semoga bermanfaat!

    (dhw/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Langkah Kelola Sampah Rumah Tangga Biar Nggak Numpuk, Bisa Jadi Cuan!



    Jakarta

    Setiap rumah menghasilkan sampah dari berbagai kegiatan. Namun, sering kali sampah tersebut tidak dikelola dengan baik, sehingga hanya menumpuk di suatu lahan, sehingga berdampak buruk bagi lingkungan hidup.

    Hal ini menjadi perhatian Penggiat Lingkungan dan Pendiri Rumah SOPAN, Sony Teguh Trilaksono yang prihatin dengan penumpukan sampah. Ia pun mulai mengolah sampah dan tidak membuang sampah ke luar rumah.

    “Sejak 2005 saya sudah tidak membuang sampah keluar, terutama sampah yang dikirim ke tukang pemulung atau tukang sampah. Kita sekarang kelola sendiri Dan itu sudah lebih dari 15 tahun. Alhamdulillah, nggak ada masalah karena sebetulnya mudah,” ujar Sony kepada detikcom belum lama ini.


    Selain menjaga lingkungan, mengolah sampah rumah tangga menguntungkan juga lho. Yuk, simak caranya berikut ini.

    Cara Mengolah Sampah Rumah Tangga

    1. Mengurangi Produksi Sampah

    Pertama, ada baiknya mulai dengan mengurangi produksi sampah. Sony menyarankan untuk menerapkan 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle untuk mencegah sampah.

    “Tiga unsur (yaitu) reduce, reuse, dan recycle ini kita terapkan di dalam pengelolaan sampah skala rumah tangga di perkotaan,” ucapnya.

    Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan plastik. Misalkan membawa tas belanja daripada menggunakan kantong plastik.

    Reuse adalah menggunakan suatu barang secara berulang agar tidak menimbulkan sampah baru. Seperti mengisi ulang botol air minum daripada membeli air minum kemasan plastik.

    Terakhir, recycle adalah mendaur ulang sampah menjadi barang baru. Contohnya kumpulan kemasan plastik diubah menjadi ecobrick untuk membuat bangku.

    2. Memilah Sampah

    Lalu, sediakan setidaknya tiga jenis tempat sampah di rumah untuk memilah sampah organik, anorganik, dan B3 (bahan beracun dan berbahaya). Sampah organik bisa berupa makanan dari dapur atau sampah dari pekarangan.

    “Kalau di rumah tangga ada sampah organik dapur (atau disingkat) SOD namanya. Lalu, ada sampah organik yang lain-lainnya contohnya daun, ranting-ranting. Itu namanya sampah organik,” jelasnya.

    Sementara sampah anorganik di antaranya berbahan gelas, plastik, besi, karton, hingga kaleng. Sedangkan sampah B3 termasuk baterai dan obat-obatan.

    3. Menyetor ke Bank Sampah

    Sampah anorganik yang masih bernilai masih bisa kamu jual ke bank sampah setelah dibersihkan. Hal ini lumayan menguntungkan untuk mendapat penghasilan dari sampah rumah tangga.

    “Setiap botol yang sudah kita tidak pakai, kita simpan, kita kumpulkan, setiap minggu kita setor kepada bank sampah. Nah, itu ditukar dengan tabungan yang kita bisa ambil 6 (bulan) sampai 1 tahun ke depan,” terangnya.

    Bahkan, minyak jelantah bisa kamu jual ke bank sampah seharga Rp 5 ribu per kilonya. Untuk itu, Sony mengajak masyarakat untuk menjadi anggota bank sampah.

    “Jadi rumah kecil, rumah tanah kecil itu ikutlah bank sampah dulu. Ikut menjadi anggota bank sampah. Sebagian besar masalah (sampah rumah tangga) sudah terselesaikan,” imbuhnya.

    Namun, sampah B3 yang diserahkan ke bank sampah atau pengelola harus dimusnahkan agar tidak mencemari lingkungan.

    4. Membuat Kompos

    Sampah organik dapur (SOD) bisa kamu masukan ke dalam lubang resapan biopori agar terurai secara alami. Sampah di dalam tanah akan menyusut dalam beberapa hari saja. Lubang ini juga bermanfaat untuk menyuburkan tanah dan mendukung menyerapan air ke tanah.

    Biopori Rumah SOPANBiopori Rumah SOPAN Foto: 20detik

    Sementara sampah dedaunan dan ranting-ranting bisa kamu kompos di dalam bak tertutup. Caranya dengan mencacah sampah pekarangan dan menyemprotkan cairan bioaktivator untuk mempercepat proses penguraian.

    Setelah 2-4 minggu, kamu akan menghasilkan kompos yang bisa digunakan untuk tanaman di rumah. Kalau mau untung, kamu juga bisa menjual komposnya.

    5. Membuat Prakarya

    Nah, terkadang ada saja sisa sampah plastik atau sampah anorganik yang tidak layak jual. Misalkan sisa kemasan obat atau potongan kemasan plastik kecil.

    Sampah ini bisa dipotong kecil-kecil untuk dimasukkan dan dipadatkan ke dalam botol plastik. Ini disebut ecobrick, yang bisa kamu gunakan untuk merakit furniture. Kamu bisa menjual ecobrick satuan atau berupa furniture yang sudah jadi.

    “Ada pengrajin yang memang mengumpulkan ecobrick. Jadi kalau rata-rata ecobrick yang sudah jadi itu yang bahan bakunya padat itu rata-rata Rp10.000 harganya (per botol seberat 500 gram),”katanya.

    “Satu bangku ini (terbuat dari) Rp 10.000 kali 16 (botol). Berapa itu? Rp 160.000. Harganya memang bangku ini Rp 250.000. Ini tahan lama,” pungkasnya.

    Mau tahu berapa cicilan rumah impian kamu? Cek simulasi hitungannya di kalkulator KPR.

    Nah kalau mau pindah KPR, cek simulasi hitungannya di kalkulator Take Over KPR.

    (dhw/dna)



    Sumber : www.detik.com