Tag: semut

  • 5 Bahan Alami yang Baunya Menyengat, Bikin Semut Tak Berdaya


    Jakarta

    Semut merupakan serangga yang mudah sekali ditemukan di rumah. Semut seperti bisa menemukan jalannya sendiri untuk mendapatkan makanan.

    Hidupnya yang berkoloni kerap membuat penghuni rumah repot. Sebab, ketika semut sudah menemukan target makanan, butuh waktu lama untuk memaksa mereka benar-benar pergi. Bahkan setelah wadah makanan digoyang-goyang pun tidak begitu berpengaruh, pasti ada semut bandel yang bertahan di dalam wadah.

    Dilansir Better Homes and Gardens, cara paling ampuh untuk mengusir dan mematikan semut adalah dengan meletakkan bahan berbau menyengat. Indra penciuman semut yang kuat bisa menjadi kelemahan bagi mereka jika ada bahan-bahan tersebut.


    Bahan Alami yang Baunya Tidak Disukai Semut

    1. Cuka Putih Suling

    Larutan yang kerap dipakai untuk membersihkan noda ini ternyata ampuh untuk mengusir semut. Bahkan cuka putih suling yang sangat pekat bisa membunuh koloni tersebut tetapi juga dapat membunuh mereka.

    Semut mencari makanan menggunakan feromon, meninggalkan jejak untuk diikuti semut lain. Untuk menghilangkan jejak dan membuat mereka bingung semprotkan campuran cuka dengan air dengan perbandingan 1:3 di mana pun penghuni rumah melihat semut.

    Cari juga titik pertama dan terakhir mereka terlihat. Umumnya semut membuat sarang pada celah di rumah, seperti kusen jendela, pintu belakang, atau papan alas. Penyemprotan ini perlu digunakan seminggu sekali atau lebih dan lihat efeknya.

    2. Jeruk

    Siapa di sini sering menyimpan jeruk di rumah? Ternyata selain menyegarkan ketika dikonsumsi, jeruk juga memiliki aroma yang tidak disukai oleh semut. Jenis jeruk yang dimaksud adalah lemon, jeruk nipis, dan jeruk bali.

    Bagian dari jeruk yang dipakai adalah kulit. Lalu sebarkan ke sekitar pintu masuk. Jika tidak ada kulit jeruk, bisa juga menggunakan minyak esensial jeruk. Sebarkan minyak esensial tersebut di sekitar rumah.

    3. Minyak Peppermint

    Cara instan lainnya untuk mengusir semut adalah memakai minyak Peppermint. Selain semut, aroma dari cairan ini juga tidak disukai oleh lalat dan nyamuk. Lokasi yang tepat untuk menyemprotkan cairan minyak ini adalah ambang pintu, kusen jendela, dan papan lis.

    4. Kayu Manis

    Bukan rahasia umum lagi jika kayu manis memiliki aroma yang kuat. Oleh karena itu bahan ini kerap dipakai sebagai bahan masakan. Penelitian menunjukkan bahwa kayu manis memiliki senyawa yang dikenal sebagai trans-cinnamaldehyde yang efektif mengusir dan membunuh semut.

    Cara memasang perangkapnya adalah dengan meletakkan bubuk kayu manis di sekitar pintu masuk umum. Aromanya yang kuat akan bertindak sebagai pengusir semut alami. Cara lainnya bisa dengan melapisi bola kapas dengan bubuk kayu manis atau minyak kayu manis, lalu meletakkannya di dekat area yang rawan semut.

    5. Cabai Rawit atau Lada Hitam

    Bahan yang biasanya dipakai sebagai bahan masakan kini menjadi senjata paling ampuh untuk mengusir semut. Caranya dengan menaburkan lada di sekitar area yang sering dimasuki semut di rumah. Bisa juga membuat larutan campuran dari air dan lada, kemudian disemprotkan ke semut tersebut. Menurut studi Texas A&M larutan air dan lada efektif membunuh semut.

    Itulah beberapa bahan yang ampuh mengusir semut dari rumah, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Mengusir Semut yang Dipanjatkan Nabi Sulaiman



    Jakarta

    Doa mengusir semut yang dipanjatkan Nabi Sulaiman AS bisa menjadi satu cara mengusir hewan kecil tersebut. Seperti yang kita ketahui, semut termasuk ke dalam binatang istimewa yang tidak boleh dibunuh.

    Menurut buku Yuk Mengenal Hewan Halal & Hewan Haram tulisan Rian Hidayat, larangan membunuh semut dijelaskan dalam beberapa hadits riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, serta Ahmad.

    “Nabi SAW melarang untuk membunuh empat hewan yakni semut, lebah, burung hudhud, dan burung shurad,”


    Namun, manusia diperbolehkan membunuh semut yang ukurannya besar dan dapat membahayakan manusia itu sendiri. Cara membunuhnya pun tidak sembarangan, melainkan harus diinjak atau dipukul, bukan dibakar.

    Menukil dari buku Al-Lu’lu’ wal Marjan oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi, larangan membunuh semut juga disebutkan dalam salah satu hadits Abu Hurairah, beliau berkata:

    “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Seekor semut menyengat seorang nabi dan para nabi yang ada, lalu dia memerintahkan untuk mendatangi sarang semut, maka dibakarlah sarang semut itu. Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Apakah hanya seekor semut menyengat kamu, lalu engkau membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (mensucikan Allah)?” (HR Bukhari).

    Sejalan dengan itu, Imam Malik dalam buku Hadi Qudsi Firman Allah yang Tak Tercantum dalam Al-Qur’an susunan Kasimun, mengemukakan bahwa makruh hukumnya membunuh semut kecuali jika membahayakan dan tidak dapat menolaknya selain membunuhnya.

    Doa Mengusir Semut yang Dipanjatkan Nabi Sulaiman

    Doa mengusir semut Nabi Sulaiman ini tersemat dalam surat An Naml ayat 18. Surat itu membahas pertemuan beliau dengan semut. Adapun bacaan doanya ialah sebagai berikut.

    حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

    Arab latin: Hattā iżā atau ‘alā wādin-namli qālat namlatuy yā ayyuhan-namludkhulụ masākinakum, lā yahṭimannakum sulaimānu wa junụduhụ wa hum lā yasy’urụn

    Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari,”

    Cerita Singkat Nabi Sulaiman dan Pasukan Semut

    Syofyan Hadi dalam Tafsir Qashashi Jilid III mengisahkan terkait Nabi Sulaiman yang bertemu semut. Suatu hari, beliau mengumpulkan pasukannya dari berbagai golongan, mulai dari jin, manusia, serta burung untuk melakukan parade.

    Melihat rombongan Nabi Sulaiman yang sangat banyak itu, ratu semut memerintahkan pada pasukannya untuk menghindar dan memberi jalan bagi mereka. Semut-semut itu lantas bersembunyi di dalam lubang-luang agar tidak terinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman.

    Sebagai seorang nabi yang dikaruniai mukjizat berbicara dengan hewan, Nabi Sulaiman mendengar perkataan semut-semut tersebut. Lalu ia membaca doa agar hewan mungil itu diberi petunjuk oleh Allah SWT.

    Demikian pembahasan tentang doa mengusir semut yang dipanjatkan Nabi Sulaiman beserta informasi terkaitnya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Semut Bertasbih kepada Allah, Ini Dalilnya Menurut Hadits



    Jakarta

    Semut termasuk makhluk yang senantiasa bertasbih kepada Allah SWT. Hal ini diketahui saat ada seorang nabi memerintahkan untuk membakar sarang semut.

    Kisah tersebut diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari seperti diterjemahkan Yoli Hemdi. Imam Bukhari meriwayatkannya dari Yahya bin Bukair yang jalurnya sampai pada Abu Hurairah RA. Berikut bunyi haditsnya,

    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنْ فَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنْ الْأُمَمِ تُسَبِّحُ


    Artinya: Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair, telah bercerita kepada kami Al-Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Musayyab dan Abu Salamah bahwa Abu Hurairah RA berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada semut yang menggigit seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu lalu nabi itu memerintahkan agar membakar sarang semut itu maka kemudian Allah mewahyukan kepadanya, ‘Hanya karena gigitan seekor semut maka kamu telah membakar suatu kaum yang bertasbih (kepada Allah)’.”

    Menurut penjelasan dalam Hadits Qudsi: Firman Allah yang Tak Tercantum dalam Al-Qur’an yang disusun Imam Nawawi dan Qasthalani (Edisi bahasa Indonesia terbitan Elex Media Komputindo), nabi yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Nabi Musa AS. Ini merupakan pendapat At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Ada juga yang mengatakan nabi itu adalah ‘Uzair.

    Para ahli hadits menafsirkan hadits tersebut sebagai kebolehan membunuh binatang yang membahayakan, termasuk dengan cara membakarnya. Terkait hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

    Imam an-Nawawi mengatakan, syariat Islam melarang membunuh hewan dengan cara membakarnya. Larangan ini bersandar pada hadits yang berbunyi, “Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Allah.”

    Para ulama yang mendukung pendapat tersebut behujjah dengan hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas,

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعِ مِنَ الدَّوَابِ: النَّمْلَةُ وَالنَّخْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ

    Artinya: “Sesungguhnya nabi melarang membunuh empat binatang, yaitu semut, lebah, burung hudhud dan burung shudad.” (HR Abu Dawud dengan isnad shahih sesuai syarah Bukhari dan Muslim)

    Adapun, Al-Qasthalani menyatakan bahwa larangan membunuh semut itu dikhususkan bagi semut yang besar, sedangkan semut yang kecil diperbolehkan.

    Terlepas dari itu, semut termasuk makhluk yang senantiasa bertasbih kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surah Al Isra ayat 44,

    تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ٤٤

    Artinya: “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

    Menurut Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, ayat tersebut menjelaskan bahwa semua makhluk yang ada di langit dan bumi bertasbih dan mengagungkan asma Allah SWT serta menyaksikan bukti-bukti keesaan-Nya. Tak ada satu pun makhluk melainkan bertasbih memuji-Nya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Mengusir Semut yang Bisa Dilafalkan Kaum Muslimin


    Jakarta

    Doa mengusir semut adalah bacaan yang bisa dipanjatkan kaum muslimin. Doa ini dilafalkan oleh Nabi Sulaiman AS dan termaktub dalam ayat suci Al-Qur’an.

    Dalam Islam, semut termasuk hewan yang dilarang untuk dibunuh. Imam Nawawi & Imam Qasthalani melalui bukunya Hadis Qudsi terjemahan Abu Firly Bassam Taqiy, menyebutkan sejumlah hadits yang menerangkan hal tersebut.

    Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW melarang membunuh empat binatang, yaitu semut, lebah, (burung) hud-hud, dan (burung) shurad).” (HR Abu Dawud)


    Meski demikian, diperbolehkan untuk membunuh semut yang ukurannya besar dan membahayakan manusia. Cara membunuhnya pun tidak asal, melainkan harus diinjak atau dipukul bukan dibakar.

    Doa Mengusir Semut: Arab, Latin dan Artinya

    Doa mengusir semut termaktub dalam surah An Naml ayat 18,

    حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

    Arab latin: Hattā iżā atau ‘alā wādin-namli qālat namlatuy yā ayyuhan-namludkhulụ masākinakum, lā yahṭimannakum sulaimānu wa junụduhụ wa hum lā yasy’urụn

    Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

    Alasan Larangan Membunuh Semut

    Mengacu pada buku yang sama, Imam Nawawi mengutip pendapat sejumlah ulama bahwa diperbolehkan membunuh semut dan membakarnya. Allah SWT juga tidak mencela nabi yang disebutkan pada riwayat tersebut atas perlakuannya.

    Hanya saja, ia menegur nabi lantaran malah membunuh sekelompok semut, bukan seekor semut yang menggigitnya. Terlebih, dalam hadits lainnya Nabi SAW melarang untuk membakar binatang.

    Akhirnya, timbul perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukum membunuh semut. Imam Qasthalani mengemukakan, “Larangan membunuh semut itu dikhususkan kepada semut yang besar, dan semut kecil diperbolehkan membunuhnya.”

    Sementara Imam Malik berpandangan, “Bahwa makruh hukumnya membunuh semut kecuali jika ia membahayakan dan tidak dapat menolaknya kecuali dengan membunuhnya.”

    Ulama Ad-Damiri turut menyatakan pendapatnya, “Firman Allah (pada hadits qudsi riwayat Abu Hurairah di atas) ‘Mengapa tidak membunuh seekor semut saja?’ merupakan alasan bagi diperbolehkannya membunuh hewan yang membahayakan. Membunuh hewan jika ada manfaatnya atau karena menolak bahaya, maka tidak berdosa menurut para ulama.”

    Para ulama mengartikan semut yang dilarang untuk dibunuh dalam sabda Nabi SAW, bukanlah mencakup seluruh jenis semut melainkan semut besar dan panjang yang termuat di kisah Nabi Sulaiman AS. Sehingga semut jenis lain boleh dibunuh, apabila mengganggu manusia.

    Bahkan bila semut besar dan panjang itu menyakiti manusia, maka larangan untuk dibunuhnya menjadi hilang. Dengan demikian, semut itu boleh saja dibunuh.

    Kisah Nabi Sulaiman dan Tentara Semut

    Syofyan Hadi dalam Tafsir Qashashi Jilid III mengisahkan tentang Nabi Sulaiman AS yang bertemu semut. Suatu hari, ia mengumpulkan pasukannya dari berbagai golongan, mulai dari jin, manusia, serta burung untuk melakukan parade.

    Melihat rombongan Nabi Sulaiman AS yang sangat banyak, ratu semut memerintahkan pasukannya untuk menghindar dan memberi jalan. Semut-semut itu lantas bersembunyi di dalam lubang-luang agar tidak terinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman AS.

    Sebagai seorang nabi yang dikaruniai mukjizat berbicara dengan hewan, Nabi Sulaiman AS mendengar perkataan semut-semut tersebut. Lalu ia membaca doa agar hewan mungil itu diberi petunjuk oleh Allah SWT.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Nabi Sulaiman Mengusir Semut, Jangan Dibunuh!


    Jakarta

    Doa Nabi Sulaiman untuk mengusir semut dapat menjadi salah satu cara alternatif dalam mengatasi kehadiran semut di rumah. Semut adalah serangga kecil yang sering kita temui di berbagai tempat, termasuk di dalam rumah.

    Semut termasuk hewan yang dilarang dibunuh. Dalam kitab Hadis Qudsi susunan Imam an-Nawawi dan Imam Qasthalani yang diterjemahkan Abu Firly Bassam Taqiy terdapat sebuah hadits yang menyatakan hal ini, Ibnu Abbas berkata:

    “Sesungguhnya Nabi melarang membunuh empat binatang, yaitu semut, lebah, burung hudhud, dan burung shurad.”


    Selanjutnya Al-Qasthalani menyatakan bahwa larangan membunuh semut itu dikhususkan kepada semut besar, sedangkan semut kecil diperbolehkan untuk membunuhnya. Imam Malik menyatakan bahwa makruh hukumnya membunuh semut kecuali jika ia membahayakan dan tidak dapat menolaknya kecuali dengan membunuhnya.

    Mengutip buku Hadis Shahih Bukhari-Muslim Jilid 3 oleh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, larangan membunuh semut juga diceritakan dalam salah satu hadits Abu Hurairah, beliau bersabda:

    “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Seekor semut menyengat seorang nabi dan para nabi yang ada, lalu dia memerintahkan untuk mendatangi sarang semut, maka dibakarlah sarang semut itu. Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Apakah hanya seekor semut menyengat kamu, lalu engkau membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (mensucikan Allah)?” (HR Bukhari)

    Dari uraian di atas, Islam melarang membunuh semut. Oleh sebab itu penting sekali bagi kita mengetahui doa Nabi Sulaiman saat mengusir semut sebagai alternatif untuk tidak membunuh semut.

    Doa Nabi Sulaiman Mengusir Semut

    Bersumber dari buku karya Adil Mustafa Abdul Karim yang berjudul Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an, doa mengusir semut telah diajarkan Nabi Sulaiman kepada rombongannya saat berada di lembah di negeri Syam yang banyak dihuni semut. Kisah ini tercantum dalam surah An-Naml ayat 18:

    حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

    Arab latin: Hattaa idzaa atau ‘alaa waadin-namli qaalat namlatuy yaa ayyuhan-namludkhulụ masaakinakum, laa yahṭimannakum sulaimaanu wa junuduhụ wa hum laa yasy’urụn

    Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

    Nabi Sulaiman dan Tentara Semut

    Ada sebuah kisah antara Nabi Sulaiman dan tentara semut sebagaimana diceritakan dalam Tafsir Qashashi Jilid III karya Syofyan Hadi. Suatu hari, Nabi Sulaiman mengumpulkan pasukan dari berbagai golongan, termasuk jin, manusia, dan burung, untuk mengadakan parade.

    Melihat Nabi Sulaiman dan rombongannya yang sangat banyak, ratu semut memerintahkan pasukannya untuk menghindar dan memberi jalan. Semut-semut tersebut kemudian bersembunyi di dalam lubang-lubang agar tidak terinjak Nabi Sulaiman dan rombongannya.

    Sebagai Nabi yang diberi mukjizat dapat berbicara dengan hewan, Nabi Sulaiman mendengar perkataan yang diucapkan semut-semut itu. Beliau kemudian membaca doa agar hewan kecil itu diberi petunjuk oleh Allah SWT.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Mengusir Semut Menurut Islam, Bacakan Doa Ini


    Jakarta

    Terkadang kehadiran semut menjadi gangguan di rumah atau jenis tertentu bahkan bisa menyakiti manusia. Hal ini pun kerap membuat kita perlu mengusirnya.

    Pengusirannya tidak perlu sampai dibunuh, karena semut termasuk hewan istimewa yang tak boleh dibunuh. Dalam Islam, ada cara untuk mengusir semut dengan doa.

    Dalam Islam, ada cara untuk mengusir semut dengan doa. Doa mengusir semut diajarkan oleh Nabi Sulaiman dan termaktub dalam Al Qur’an surat An Naml ayat 18.


    Doa Mengusir Semut

    Berikut adalah bacaan doa mengusir semut Nabi Sulaiman bahasa Arab, latin, dan artinya:

    حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

    Latin: Hattā iżā atau ‘alā wādin-namli qālat namlatuy yā ayyuhan-namludkhulụ masākinakum, lā yahṭimannakum sulaimānu wa junụduhụ wa hum lā yasy’urụn.

    Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari,’”.

    Larangan Membunuh Semut dalam Islam

    Rasulullah SAW melarang kita untuk membunuh hewan semut. Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad berikut.

    “Nabi SAW melarang untuk membunuh 4 hewan yaitu semut, lebah, burung hudhud, dan burung shurad,”

    Selintas dari hadits di atas, membunuh semut termasuk hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW, sehingga termasuk perbuatan yang perlu dihindari.

    Tapi, para ulama mengarahkan bahwa semut yang dimaksud hadits tadi tidaklah bermakna mutlak yang mencakup seluruh jenis semut. Melainkan hanya jenis tertentu, seperti semut-semut besar dan panjang yang tersebut dalam kisah Nabi Sulaiman.

    Jika dirasa semut itu bisa membahayakan manusia itu sendiri atau berukuran besar maka diperbolehkan untuk membunuhnya. Cara membunuhnya tidak boleh asal, dan jangan dibakar. Melainkan, harus dengan diinjak atau dipukul.

    Dilansir laman Nahdlatul Ulama im(NU), membunuh semut dengan perantara membakar bisa menyakiti semut.

    Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk menggunakan cara yang baik dalam membunuh hewan. Terutama tidak membunuh dengan sesuatu yang akan semakin menyiksa hewan itu sendiri.

    Namun, ada perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai hukum membunuh semut. Imam Qasthalani mengatakan, “Larangan membunuh semut itu dikhususkan kepada semut yang besar, dan semut kecil diperbolehkan membunuhnya.”

    Dalam buku Hadi Qudsi Firman Allah yang Tak Tercantum dalam Al-Qur’an susunan Kasimun, Imam Malik menyebut bahwa makruh hukumnya membunuh semut kecuali jika membahayakan dan tidak bisa menolaknya selain membunuhnya.

    Kesimpulannya, semut yang dilarang untuk dibunuh dalam sabda Nabi SAW bukanlah untuk seluruh jenis semut, tapi untuk semut besar dan panjang. Jadi, semut jenis lain boleh dibunuh jika mengganggu/menyakiti manusia.

    Maka larangan untuk dibunuhnya menjadi hilang, sehingga semut itu boleh saja dibunuh. Wallahu a’lam.

    (khq/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Sulaiman AS dan Semut yang Berdoa agar Diturunkan Hujan



    Jakarta

    Nabi Sulaiman AS terkenal dengan mukjizatnya yang dapat berbicara dengan hewan. Tak sampai di situ, Sulaiman AS bahkan mampu membuat para hewan itu patuh terhadap perintahnya.

    Nabi Sulaiman AS juga mampu berbicara dengan bangsa jin. Selain itu, dirinya dianugerahi kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa oleh Allah SWT.

    Menurut buku Rahasia Kekayaan Nabi Sulaiman: Amalan-amalan Pelimpah Rezeki Nabi Sulaiman tulisan Muhammad Gufron Hidayat, dengan kekayaan yang melimpah itu justru Nabi Sulaiman AS semakin bertakwa kepada Allah SWT. Dikatakan, dirinya merupakan orang terkaya di muka bumi.


    Nabi Sulaiman pernah berdoa kepada Allah SWT agar diberikan mukjizat dan harta kekayaan yang melimpah. Dalam Al-Qur’an surat An Naml ayat 35, Allah SWT berfirman:

    وَإِنِّى مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌۢ بِمَ يَرْجِعُ ٱلْمُرْسَلُونَ

    Arab latin: Wa innī mursilatun ilaihim bihadiyyatin fa nāziratum bima yarji’ul-mursalụn

    Artinya: Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

    Selain kaya raya, ada sebuah cerita menarik mengenai Nabi Sulaiman AS dan hewan semut yang meminta air. Seperti yang diketahui, sang nabi diberi mukjizat memahami bahasa hewan dan berbicara dengan mereka.

    Mengutip buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an karya Adil Musthafa Abdul Halim. Kala itu, Sulaiman AS hendak melaksanakan salat istisqa sebelum akhirnya mendapati seekor semut yang sedang terbaring sambil mengangkat tangan dan kakinya ke arah langit seraya berkata,

    “Ya Allah sesungguhnya saya adalah salah satu makhluk ciptaan-Mu yang tidak bisa hidup tanpa curahan air dari-Mu. Jika kamu tidak mencurahkan air kepada kami, kami akan binasa.”

    Usai menyaksikan perbuatan si semut, Sulaiman AS lalu meminta orang-orang yang mengiringinya untuk kembali lalu berkata,

    “Sesungguhnya Allah telah mencurahkan air berkat doa makhluk lain,”

    Dalam kesempatan lain, ada juga kisah Nabi Sulaiman AS dengan gerombolan semut. Menukil buku The Leadership of Sulaiman karya Ibnu Mas’ud, kala itu pasukan Sulaiman AS melakukan parade.

    Pasukannya tidak hanya terdiri dari manusia, melainkan juga jin dan burung. Ketika hendak melewati segerombolan semut, ratu semut meminta gerombolannya agar menghindar dari jalanan untuk bersembunyi di dalam lubang-lubang agar tidak terinjak oleh pasukan Nabi Sulaiman AS.

    Sulaiman AS ternyata mendengar percakapan gerombolan semut itu. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk berhenti sejenak seraya berkata,

    “Berhentilah sejenak. Kita memberi jalan untuk makhluk yang berlindung kepada Allah Ta’ala,”

    Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah An Naml ayat 18-19,

    (18) حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

    فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ
    (19) عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

    Artinya: hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”

    Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

    Para pasukan Nabi Sulaiman AS merasa bingung, sebab di depan mereka tidak ada satu pun makhluk hidup yang melintas. Sang nabi lantas memberitahu bahwa sehasta tepat di depannya ada lembah dengan jumlah jutaan semut yang sedang mencari perlindungan agar tidak terlindas oleh kuda pasukannya.

    Setelahnya, Sulaiman AS berkata:

    “Wahai Tuhanku, berikanlah ilham dan taufik kepadaku agar aku dapat mensyukuri nikmat dan keutamaan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Berikanlah taufik kepadaku agar aku dapat melakukan kebaikan yang dapat mendekatkan aku kepadamu serta perbuatan yang kamu sukai dan kamu ridhai. Masukkanlah aku ke surga yang merupakan rumah yang indah bersama dengan hamba hamba-Mu yang saleh.”

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Sulaiman dan Semut yang Diabadikan dalam Al-Qur’an


    Jakarta

    Dalam perjalanan hidup Nabi Sulaiman AS, terdapat banyak mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT, salah satunya adalah kemampuan beliau untuk berbicara dengan hewan. Namun, mukjizat ini beliau gunakan untuk melakukan hal-hal baik terhadap makhluk lain yang berinteraksi dengannya.

    Mukjizat Nabi Sulaiman AS tersebut terbukti dalam kisahnya dengan semut, yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an. Salah satu bukti nyata dari mukjizat tersebut dapat dilihat dalam kisah Nabi Sulaiman dan semut berikut ini.

    Kisah Nabi Sulaiman Mengengar Percakapan Semut

    Dikisahkan dalam buku Rahasia Kekayaan Nabi Sulaiman yang disusun oleh Muhammad Gufron Hidayat bahwa suatu ketika, Nabi Sulaiman AS beserta rombongan yang terdiri dari manusia, jin, dan bala tentaranya melewati sebuah lembah. Di lembah tersebut, ada sekawanan semut yang sedang beraktivitas sesuai dengan tugas masing-masing.


    Sebagian semut bertugas membangun sarang, sebagian lainnya mengangkut material, sementara beberapa semut lagi bekerja menempelkan material satu sama lain hingga membentuk sarang. Semut-semut yang bertanggung jawab mengumpulkan makanan bekerja tanpa kenal lelah, mengangkut makanan di pundaknya untuk disimpan dalam sarang.

    Begitu juga semut-semut prajurit, dengan penuh waspada dan teliti mengawasi setiap sudut wilayah untuk mencegah segala gangguan yang mungkin muncul tiba-tiba.

    Sebelum iring-iringan Nabi Sulaiman sampai di lembah tersebut, seekor semut penjaga sudah melihat kedatangan rombongan itu. Ia segera melapor kepada pimpinan semut, memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman AS dan bala tentaranya akan melewati lembah ini. Semut penjaga menggambarkan bagaimana besar iring-iringan tersebut, serta kemungkinan kehancuran yang dapat menimpa sekawanan semut.

    Mendapatkan laporan dari prajuritnya, pimpinan semut pun langsung mengumumkan kepada semua semut untuk segera menyingkir, menyelamatkan diri dari bahaya terinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman. Jika tidak, mereka akan hancur.

    Salah satu kelebihan Nabi Sulaiman AS adalah kemampuan untuk mengerti bahasa binatang. Oleh karena itu, ketika pemimpin semut memerintahkan para semut untuk menyingkir, Nabi Sulaiman AS yang sudah sangat dekat dengan mereka langsung memberi perintah kepada pasukannya untuk berhenti.

    Nabi Sulaiman AS kemudian tersenyum dan berkata, “Tuhanku, tetapkanlah aku untuk selalu bersyukur atas nikmat-Mu dan selalu melakukan perbuatan yang Engkau ridhoi.”

    Nabi Sulaiman AS bersyukur karena dianugerahi kemampuan untuk mengerti bahasa binatang oleh Allah SWT. Ia juga bersyukur karena dengan kemampuan tersebut, ia tidak sengaja menginjak atau membinasakan sekawanan semut.

    Kisah Nabi Sulaiman dan semut ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 18-19,

    حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُون . فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

    Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: ‘Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

    Kisah Nabi Sulaiman dan Seekor Semut yang Membawa Kurma

    Selain itu, ada pula kisah Nabi Sulaiman dan semut yang diceritakan dalam buku 365 Kisah Teladan Islam karya Ariany Syurfah.

    Suatu hari, Nabi Sulaiman AS sedang berjalan-jalan dan bertemu dengan seekor semut kecil yang sedang membawa sebutir buah kurma.

    Nabi Sulaiman AS pun bertanya kepada semut itu, “Hai semut kecil, untuk apa kamu membawa sebutir buah kurma itu?”

    Semut itu menjawab, “Kurma ini adalah pemberian Allah SWT untuk persediaan makan saya selama setahun.”

    Nabi Sulaiman AS pun berkata, “Kemarilah, hai semut!” Semut itu lalu mendekat kepada Nabi Sulaiman.

    Setelah dekat, Nabi Sulaiman AS berkata lagi, “Hai semut, aku akan membelah buah kurma ini menjadi dua bagian. Separuhnya akan aku bawa, dan separuhnya lagi untuk persediaanmu selama setahun. Aku ingin melihat apakah kamu dapat bertahan hidup dengan separuh buah kurma.”

    Nabi Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol dan berkata, “Sekarang, masuklah ke dalam botol ini dengan membawa separuh buah kurma yang aku berikan.”

    Semut itu pun menuruti perintah Nabi Sulaiman AS dan masuk ke dalam botol. Setelah itu, Nabi Sulaiman AS meninggalkan semut tersebut.

    Waktu pun berlalu selama setahun, dan Nabi Sulaiman AS merasa penasaran dengan keadaan semut kecil itu, apakah ia dapat bertahan hidup hanya dengan separuh buah kurma atau tidak. Nabi Sulaiman AS pun pergi untuk menemui semut itu.

    Betapa takjubnya Nabi Sulaiman AS ketika melihat semut kecil itu masih hidup dan dalam keadaan segar. Sementara itu, separuh buah kurma masih tersisa.

    Nabi Sulaiman AS pun bertanya, “Bagaimana kamu bisa bertahan hidup hanya dengan separuh buah kurma? Padahal, biasanya kamu memerlukan sebutir kurma untuk makanan selama setahun?”

    Semut itu menjawab, “Saya banyak berpuasa dan hanya mengisap sedikit airnya. Biasanya, Allah SWT memberikan sebutir kurma untuk makanan saya selama setahun. Ketika Anda mengambil separuhnya, saya takut tahun depan Allah SWT tidak memberikan kurma lagi kepada saya, karena saya tahu, Anda bukanlah sang Pemberi Rezeki.”

    Demikianlah dua kisah Nabi Sulaiman dengan semut. Semoga kisah-kisah ini dapat diambil pelajarannya agar kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Wallahu a’lam.

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com