Tag Archives: serikat

Pasar Kripto Loyo, Stablecoin Keluarga Trump Ikut Melorot


Jakarta

Sejumlah token kripto kompak terkoreksi pada perdagangan hari ini, Selasa (24/2/2026). Pelemahan juga terjadi pada token stablecoin yang didukung keluarga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, USD1.

Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap pukul 10.57 WIB, token USD1 tercatat bergerak di zona merah dengan koreksi 0,3% ke harga US$ 0.9987. Sebelumnya USD1 bahkan sempat terjun lebih dalam ke harga US$ 0.9951 pada perdagangan Senin (23/2) kemarin.

Pemilik produk stablecoin USD1, World Liberty Financial, mengatakan tokennya aman di tengah ketidakpastian global, sebagaimana dikutip dari Reuters. Bahkan, mereka memgklaim dapat pulih dengan cepat kala token USD1 runtuh kemarin.


Selain itu, token WLFI juga diklaim aman dan terlindungi di tengah isu peretasan akun sosial media para pendirinya. Diketahui, World Liberty Financial didirikan pada tahun 2024 oleh keluarga Trump dan sejumlah mitra kerja sama. World Liberty Financial kemudian luncurkan token kripto WLFI dan USD1.

“Tidak ada kontrak pintar yang terpengaruh. Semua dana USD1 tetap sepenuhnya aman, terlindungi, dan dijamin sepenuhnya. Infrastruktur dan tim kami beroperasi persis seperti yang dirancang,” bunyi unggahan tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (24/2/2026).

Untuk diketahui, USD1 merupakan stablecoin berbasis dolar AS yang miliki harga seusai dengan mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Sementara WLFI adalah token berbasis Ethereum.

WLFI sendiri hari ini tercatat melemah 5,03% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.1080 dari level tertingginya di posisi US$ 0.117 para perdagangan pagi tadi. Secara kumulatif pada perdagangan sepekan terakhir, WLFI masih tercatat menguat 7,41%.

Simak juga Video ‘Belajar dari Gegernya Dugaan Penipuan Trading Timothy Ronald, Kita Bisa Apa?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Makin Anjlok Gara-gara Trump


Jakarta

Aset kripto kompak tertekan pada perdagangan beberapa hari terakhir. Pelemahan pasar kripto ini disinyalir terjadi imbas ketidakpastian geopolitik dan pengumuman tarif impor yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Pelemahan terbesar terjadi pada token Bitcoin (BTC). Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 19.18 WIB, pergerakan harga BTC melemah 4,5% sepanjang 24 jam terakhir ke level US$ 63.225 atau sekitar Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 16.833). Harga BTC turun dari US$ 66.359 atau sekitar Rp 1,11 miliar pada perdagangan pagi tadi.

Sementara Ether (ETH), tercatat melemah 4,72% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.825 atau sekitar Rp 30,72 juta. Secara kumulatif pada perdagangan seminggu terakhir, ETH bergerak melemah 7,37% dari harga US$ 1.966 atau sekitar Rp 33,09 juta.


CEO Triv, Gabriel Rey, menjelaskan harga BTC masih berpotensi terkoreksi. Menurutnya, level support harga BTC saat ini berada di US$ 59.000 atau sekitar Rp 993,2 juta untuk memastikan ruang untuk kembali menguat. Namun jika level tersebut tembus lebih rendah, ruang koreksi harga BTC disebut mencapai US$ 53.000 atau sekitar Rp 892,14 juta.

“Support terkuat harusnya ada di angka sekitar US$ 59.900 atau sekitar US$ 60.000, itu kita harusnya akan melihat bounce. Kalau memang itu sampai tembus, berarti kita akan melihat angka US$ 53.000. Tapi saya yakin harusnya US$ 60.000 tidak akan back down,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Selasa (24/2/2026).

Gabriel menjelaskan, melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” jelasnya.

Dihubungi terpisah Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, menjelaskan pelemahan pasar kripto terjadi imbas banyaknya ketidakpastian global yang memaksa pelaku pasar cenderung menghindari risiko atau risk off. Kemudian dominasi dari investor awam pada pasar kripto juga menjadi sentimen aksi jual bersih pada sejumlah token utama.

“Dengan dominasi dari investor awam (mainstream) di pasar crypto saat ini, tentunya ini akan memberikan ketidakpastian untuk mereka, yang membuat mereka akan cenderung terdesak menjual posisi mereka,” jelasnya.

Christopher menambahkan, kekhawatiran pelaku pasar kripto juga meningkat menyusul ancaman quantum computing. Imbas kombinasi sentimen tersebut, pasar kripto disebut masih akan terkoreksi dalam jangka pendek hingga menengah.

“Dalam waktu dekat ini, peluang harga untuk memulai kembali akan cenderung lebih kecil. Menurut saya, dalam waktu jangka pendek hingga menengah, bursa crypto secara keseluruhan akan cenderung terkonsolidasi,” jelasnya.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin cs Mulai Bangkit


Jakarta

Pasar kripto kembali pulih pada perdagangan Rabu (2/25) siang. Diketahui sebelumnya, aset digital kripto kompak terkoreksi imbas meningkatnya tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Selain itu, pengumuman tarif global baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga ikut menekan harga aset digital.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 11.15 WIB, token Bitcoin (BTC) tercatat kembali menguat 3,8% sepanjang 24 jam terakhir ke harga US$ 65.445 atau sekitar Rp 1,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.804). Harga BTC mulai bangkit dari level terendahnya pada harga US$ 62.694 atau sekitar Rp 1 miliar pada perdagangan pagi tadi.


Kemudian untuk token Ether (ETH) tercatat menguat 4,86% ke harga US$ 1.904 atau sekitar Rp 31,99 juta sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. ETH bangkit dari level terendahnya di harga US$ 1.813 atau sekitar Rp 30,46 juta.

Secara teknikal, pelemahan harga BTC sebelumnya terjadi karena gagal bertahan di area US$ 64.000 hingga US$ 65.000. Ruang koreksi juga masih terbuka secara jangka pendek, mengingat BTC masih bergerak di bawah level psikologis US$ 70.000.

“Data dari Standard Chartered, karena area US$ 64.000-US$ 65.000 gagal dipertahankan, memperingatkan potensi penurunan lanjutan hingga US$ 50.000 sebelum harga stabil. Saat ini, Bitcoin masih bergerak di bawah level psikologis US $70.000, menandakan tekanan jangka pendek masih membayangi pasar,” ungkap
Vice President Indodax, Antony Kusuma, kepada detikcom, Rabu (25/2/2026).

Meski begitu, Antony menjelaskan koreksi yang terjadi pada BTC cenderung lebih teratur dibanding siklus krisis sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan matangnya struktur pasar kripto dengan ruang pemulihan harga yang terbuka.

“Peluang rebound tetap terbuka. Saat ini pasar masih berada dalam fase konsolidasi atau pembentukan dasar harga (bottoming). Jika sentimen makro membaik dan terjadi aliran dana segar (inflow) kembali ke pasar, Bitcoin berpeluang keluar dari tekanan bearish,” jelasnya.

Antony menambahkan, investor saat ini biasanya menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara bertahap. Langkah ini dilakukan untuk menekan dampak fluktuasi harga jangka pendek.

“Pendekatan ini dianggap lebih disiplin dibanding mencoba menebak titik terendah pasar di fase konsolidasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, CEO Triv Gabriel Rey, menjelaskan melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” ujarnya kepada detikcom, Selasa (25/2).

Sebagai informasi, penguatan harga aset kripto juga terjadi pada sejumlah altcoin lainnya. BNB misalnya, tercatat menguat 0,79% sepanjang perdagangan 24 jam ke harga US$ 595,43. Nasib serupa juga terjadi pada token Solana (SOL) yang menguat 7,29% ke harga US$ 82,24.

Sementara untuk stablecoin Tether (USDT) bergerak stabil pada harga US$ 0.9998 dan USDC menguat 0,1% ke harga US$ 1. Penguatan juga dialami oleh memecoin seperti DOGE yang tercatat menguat 1,32% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09261.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Terbang Lagi, Jadi Segini Sekarang


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan hari ini, Kamis (26/2/2026). Bitcoin bergerak mendekati level US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,17 miliar (asumsi kurs Rp 16.752) dari harga US$ 64.867.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 13.18 WIB hari ini, Kamis (26/2), harga BTC bergerak menguat sebesar 5,24% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 68.335 atau sekitar Rp 1,14 miliar. BTC Sempat menyentuh harga tertingginya pada level US$ 69.512 atau sekitar Rp 1,16 miliar pada perdagangan pagi tadi.

Dikutip dari Bloomberg, menguatan harga BTC ini dipicu oleh kembalinya likuiditas pasar kripto usai tekanan jual bersih beberapa waktu lalu. Lonjakan harga BTC ini bahkan terjadi sejalan dengan pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengklaim kembalinya ekonomi Negeri Paman Sam.


“Kenaikan harga kemungkinan mencerminkan perilaku pembelian saat harga turun setelah aksi jual yang berkepanjangan,” kata salah satu pendiri Orbit Markets, Caroline Mauron, dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/2/2026).

Selain BTC, altcoin lainnya juga tercatat menguat pada perdagangan hari ini. Token Ether (ETH) misalnya, menguat 4,15% pada perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 2.063 atau sekitar Rp 34,56 juta. Kemudian token BNB menguat 2,33% ke harga US$ 627,16 dan Solana (SOL) menguat 6,39% ke level US$ 87,55.

Stablecoin pada perdagangan siang hari ini juga terpantau menguat, sebagaimana yang terjadi pada Tether (USDT) yang naik 0,03% ke US$ 1. Sementara memecoin seperti DOGE menguat 8,3% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.1000.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Aset Kripto Dunia Babak Belur, Transaksi di RI Ikut Turun


Jakarta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terjadi penurunan jumlah investor dan transaksi aset kripto di Indonesia. Hal ini seiring dengan tren pelemahan harga sejumlah aset kripto utama di pasar global.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi mengatakan jumlah konsumen aset kripto mencapai 20,7 juta konsumen per Januari 2026. Jumlah itu sedikit menurun dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai 20,19 juta.

“Terkait perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per Januari 2026 jumlah konsumen mencapai 20,7 juta konsumen atau tumbuh 2,56% month to date,” kata Hasan dalam konferensi pers bulanan di Gedung OJK Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).


Kemudian nilai transaksi aset kripto tercatat Rp 29,24 triliun dan nilai transaksi derivatif dari aset keuangan digital Rp 8,01 triliun. Jumlah tersebut juga turun jika dibandingkan transaksi pada Desember 2025 yang sebesar Rp 32,68 triliun.

“Tentu ini sejalan dengan tren penurunan harga sejumlah aset kripto utama di kawasan global,” jelas Hasan.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah aset kripto utama dalam tren penurunan sejak beberapa waktu terakhir. Terbaru, penurunan terjadi usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Khusus Bitcoin, harganya telah merosot ke bawah level US$ 64.000 seiring intensitas aksi jual karena keraguan investor tentang kripto meningkat. Bitcoin telah turun hampir 30% selama setahun terakhir.

“Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan bahwa investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat,” kata analis Deutsche Bank, Marion Laboure dalam catatan kepada kliennya, dikutip dari CNBC.

(aid/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Investor Borong Bitcoin di Harga Diskon saat Timur Tengah Memanas


Jakarta

Harga Bitcoin melonjak di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Lonjakan signifikan tercatat pada perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026), yang bergerak dari rentang harga US$ 68.513 atau sekitar Rp 1,15 miliar (asumsi kurs Rp 16.900) menjadi US$ 72.028 atau sekitar Rp 1,21 miliar.

Sebelumnya, diketahui harga Bitcoin sempat terkoreksi di area US$ 66.000 atau sekitar Rp 1,11 miliar. Koreksi tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia ke level US$ 85 per barel imbas serangan AS terhadap Iran pada Sabtu (28/2) kemarin.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai kembalinya harga kripto dipicu oleh meningkatnya kepercayaan investor ritel maupun institusional. Kondisi ini memperkuat fondasi pasar kripto di tengah momentum harga diskon.


“Pergerakan Bitcoin yang cepat pulih setelah sempat terkoreksi menunjukkan bahwa minat beli investor masih aktif, khususnya di pasar spot. Koreksi ke area US$ 66.000 hingga US$ 67.000 justru dimanfaatkan sebagian pelaku pasar untuk melakukan akumulasi,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).

Di samping itu, ia menyebut investor institusional juga mulai melakukan inflow pada produk investasi berbasis Bitcoin seperti ETF. Fyqieh mengatakan, tercatat ratusan juta dolar AS masuk ke produk ETF Bitcoin dalam beberapa hari terakhir.

“Arus masuk dana ke ETF Bitcoin menjadi salah satu indikator bahwa minat investor institusional terhadap aset ini masih tinggi. Hal ini membantu menjaga likuiditas pasar dan memberikan dukungan terhadap harga ketika terjadi tekanan jangka pendek,” katanya.

Meski begitu, Fyqieh mengatakan masih tercatat netflow di sejumlah bursa kripto besar dunia. Binance misalnya, mencatat netflow sekitar 13.500 Bitcoin sejak akhir Februari. Bahkan dalam satu hari, lebih dari 3.800 Bitcoin ditarik dari bursa Binance.

Secara keseluruhan, tren netflow ini terjadi selama tujuh hari berturut-turut di berbagai bursa kripto utama. Namun menurut Fyqieh, tren ini menjadi sinyal sebagian investor memiliki pandangan jangka panjang terhadap Bitcoin.

“Ketika netflow di bursa berubah menjadi negatif, biasanya itu mengindikasikan investor tidak berniat menjual dalam waktu dekat. Mereka memindahkan aset ke wallet pribadi sebagai bagian dari strategi penyimpanan jangka menengah atau panjang,” ungkapnya.

Fyqieh mengingatkan, volatilitas pada aset Bitcoin masih berpotensi terjadi mengingat pasar global yang sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi. Ia mengatakan, Bitcoin yang bergerak di level US$ 70.000 menjadi area teknikal penting untuk menjaga momentum pergerakan harga.

“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area US$ 70.000, peluang untuk melanjutkan pergerakan menuju kisaran US$ 72.000 hingga US$ 74.000 masih terbuka. Level tersebut menjadi area yang cukup penting untuk menjaga momentum pasar,” imbuhnya.

(ara/ara)



Sumber : finance.detik.com

Pergerakan Bitcoin Dibayangi Perang-Harga Minyak


Jakarta

Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang turut mengerek harga minyak dunia membayangi pasar kripto. Menurut Vice President Indodax Antony Kusuma, dinamika geopolitik dan harga energi juga menjadi perhatian investor.

Ia mengatakan dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas harga minyak meningkat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pergerakan harga energi ini berpotensi mempengaruhi tekanan inflasi pada periode berikutnya, serta berdampak pada aktivitas ekonomi secara lebih luas.

“Oleh karena itu, investor cenderung mencermati berbagai indikator ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi,” ujar Antony dalam keterangannya, dikutip Jumat (13/32026).


Antony menjelaskan respons investor terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) terlihat relatif terbatas. Setelah laporan dirilis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 69.000 dengan pergerakan yang relatif moderat dalam 24 jam terakhir. Hal ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan data ekonomi berikutnya serta arah kebijakan moneter global.

Antony menilai angka inflasi AS pada Februari 2026 di level 2,4% sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga sentimen investor cenderung lebih stabil.

“Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya akan lebih fokus mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed karena kebijakan moneter masih menjadi faktor utama yang memengaruhi likuiditas dan pergerakan aset berisiko termasuk kripto. Untuk saat ini, pasar cenderung berada dalam fase menunggu sambil memperhatikan perkembangan data ekonomi berikutnya,” tambah Antony.

Berdasarkan laporan terbaru, inflasi bulanan AS pada Februari tercatat naik 0,3%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Januari. Sementara itu, inflasi inti (core CPI) yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan, sesuai dengan proyeksi analis.

Menurut Antony, stabilnya angka inflasi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di ekonomi AS masih relatif terkendali, meskipun tetap berada di atas target inflasi 2% yang ditetapkan oleh Federal Reserve.

Ia menjelaskan ekspektasi kebijakan moneter tersebut juga tercermin dalam proyeksi pasar yang dihimpun melalui CME FedWatch Tool, yang menunjukkan peluang hampir 99% bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret. Sementara itu, probabilitas pemotongan suku bunga sekitar 25 basis poin pada April diperkirakan masih relatif kecil, yakni sekitar 11%.

“Kondisi ini membuat pasar kripto cenderung bergerak lebih defensif sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter berikutnya,” jelas ia.

Sejalan dengan itu, ia turut mengimbau para investor untuk tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin dan melakukan riset secara mandiri, serta mempertimbangkan strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) untuk menghadapi volatilitas pasar kripto.

Sementara, Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, Bitcoin menjadi aset yang paling sensitif terhadap dinamika makro ekonomi global. Eskalasi konflik geopolitik dan kenaikan harga energi berpotensi menekan aset berisiko dalam jangka pendek.

“Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan harga energi melonjak, pasar biasanya merespons dengan menurunkan eksposur terhadap aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman sehingga tekanan jual pada Bitcoin dan aset kripto lainnya dapat meningkat,” ujar Fyqieh dalam keterangannya.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dapat memicu tekanan inflasi global yang berpotensi mempengaruhi kebijakan moneter AS. Dalam hal ini, ruang pemangkasan suku bunga The Fed akan semakin terbatas.

Selain faktor geopolitik dan makroekonomi, Bitcoin secara teknikal juga menunjukkan potensi pelemahan jangka pendek. Meski demikian, ia menilai volatilitas pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang berlangsung cepat, sehingga arah pergerakan pasar dapat berubah sewaktu-waktu.

“Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan global, khususnya konflik geopolitik dan dinamika kebijakan moneter. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan makro secara lebih luas karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi sentimen pasar dalam waktu singkat,” tutupnya.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com . Diterbitkan pada :

Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok


Jakarta

Harga Bitcoin mengalami penurunan ke level US$ 70.000 atau Rp 1,18 miliar (kurs Rp 16.928/dolar AS). Penurunan nilai aset digital ini didorong oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan sinyal arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih cenderung ketat.

Sebelumnya, Bitcoin sempat mengkuat mendekati US$ 76.000 atau Rp 1,28 miliar pada perdagangan Selasa (17/3) pekan lalu, didorong arus dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar US$ 199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut, dengan total arus masuk selama tujuh hari mencapai US$ 1,16 miliar.

“Hal ini menunjukkan minat investor besar yang masih terjaga meski pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, para investor melakukan penyesuaian yang mempengaruhi pergerakan harga, tercermin dari koreksi sekitar 7-8%,” kata Vice President INDODAX, Antony Kusuma, dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/3/2026).


“Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar pun menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang,” sambungnya.

Belum lagi menurutnya pergerakan ini turut dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, termasuk revisi kenaikan inflasi AS menjadi sekitar 2,7% serta suku bunga yang bertahan di kisaran 3,50%-3,75%.

Dalam hal ini Gubernur The Federal Reserve (Bank Sentral AS) Jerome Powell menyampaikan penurunan suku bunga di AS akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Membuat minat investasi akan aset digital ini menjadi terbatas.

“Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih terbatas, sehingga mempengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” paparnya.

Pada akhirnya, Antony berpendapat pergerakan aset kripto Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 70.000, dengan area US$ 70.000-72.000 menjadi level support penting yang dicermati oleh investor.

“Selama level ini mampu bertahan, pergerakan harga berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, didukung oleh arus masuk dana institusional yang membantu menyerap tekanan jual. Namun jika harga melewati level support ini, penyesuaian harga berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah,” jelasnya.

Antony menambahkan pada kondisi pasar saat ini, sentimen pasar cenderung dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Namun bagi investor, fase koreksi dan konsolidasi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk menata kembali strategi investasi secara lebih bijak dengan manajemen risiko yang tepat dan fokus jangka panjang

“Sejalan dengan dinamika ini, INDODAX menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan aset kripto yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh member. INDODAX juga aktif mendorong literasi dan edukasi masyarakat melalui INDODAX Academy, agar pengguna memahami risiko investasi dan pentingnya riset mandiri (DYOR),” ujar Antony.

“Selain itu, penerapan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar dengan lebih disiplin, Lewat edukasi yang berkelanjutan, INDODAX mengajak masyarakat untuk tetap rasional, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang dalam menyikapi peluang di pasar kripto,” pungkasnya.

(igo/hns)



Sumber : finance.detik.com . Diterbitkan pada :

Geger 23 Orang Masuk RS gegara Digigit Semut Api, Begini Cara Cegahnya


Jakarta

Dilaporkan sebanyak 23 orang warga Australia menjalani perawatan medis sejak Maret 2025 karena sengatan semut api. Di luar itu, pihak Program Pemberantasan Semut Api Nasional mencatat telah menerima 60 laporan terhadap sengatan serangga ini.

Dilansir detikTravel, meskipun semut api bertubuh mungil, risiko dari gigitannya dapat menimbulkan pustula, alergi, dan yang paling parah adalah kematian.

Serangga ini akan tiba-tiba menyengat berulang kali saat mereka merasa terancam. Sengatan tersebut akan menyebabkan bentol-bentol yang gatal, nyeri, dan bahkan reaksi alergi yang parah pada beberapa orang.


Semut api banyak ditemukan di Amerika Serikat, Meksiko, Karibia, Tiongkok, Australia, negara-negara di Eropa, dan Indonesia.

Penyebab semut api banyak ditemukan di Australia adalah karena hujan deras. Australia tengah mengalami badai tropis pada awal Maret yang menyebabkan serangga tersebut bergerak di atas tanah dan membentuk rakit untuk mengapung ke daerah baru.

Lantas, bagaimana cara mengantisipasi keberadaan semut api agar tidak masuk ke rumah? Dilansir The Spruce berikut cara cegah dan basmi semut api.

1. Kulit Jeruk atau Minyak Jeruk

Mengusir semut api ternyata bisa memakai bahan alami yakni kulit jeruk atau minyak esensial dari jeruk. Semut memiliki penciuman yang tajam, ketika mencium bau jeruk mereka akan menjauh karena terlalu menyengat.

Cara memasang perangkapnya dengan meletakkan kulit jeruk di area yang sering didatangi semut. Bisa juga membuat semprotan dari minyak esensial jeruk atau dari kulit jeruk yang dihaluskan. Semprotan larutan dari kulit jeruk tersebut ke ruangan yang banyak semut atau sarangnya yang berada di luar rumah.

2. Insektisida

Bahan kedua yang bisa dipakai adalah dengan menaburkan insektisida ke sarang semut api. Insektisida tidak dapat digunakan untuk mencegah atau mengusir semut api yang ditemukan di dalam ruangan.

Saat menyebar insektisida, pastikan area tersebut aman dari anak-anak atau hewan lainnya yang tidak berbahaya.

3. Boraks

Bahan selanjutnya yang cukup untuk mengusir semut api adalah boraks. Namun, saat menyiapkan umpan ini harus lebih berhati-hati karena bahan ini beracun baik untuk hewan dan manusia. Saat menyiapkan umpan ini disarankan untuk menggunakan sarung tangan khusus dan jauh dari anak kecil.

Boraks tersebut harus dicampur dengan cairan manis. Setelah boraks disebar, tunggu selama 24-48 jam untuk dapat memusnahkan semut api.

4. Air Panas

Jika tiba-tiba melihat semut api di rumah, daripada membasmi satu per satu lebih baik mengusirnya dengan air panas. Lalu, jika mengetahui lokasi sarangnya, kalian juga bisa menyiramnya dengan air panas. Namun, setelah menyiram sebaiknya kamu harus langsung menjauh karena semut yang berada di dalamnya akan keluar.

5. Panggil Tenaga Ahli

Apabila keberadaan semut api benar-benar mengancam, kamu bisa memanggil jasa pembasmi serangga untuk menangani masalah ini.

Itulah beberapa cara untuk mencegah semut api masuk ke dalam rumah. Semoga bermanfaat!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/abr)



Sumber : www.detik.com

Banyak Rumah Di Amerika Pakai Pagar Tanaman, Ternyata Ini Alasannya



Jakarta

Di Indonesia, pagar rumah umumnya terbuat dari besi yang kokoh dan tahan lama. Namun lain halnya dengan di Amerika Serikat, sebab banyak rumah yang justru menggunakan pagar tanaman. Apa alasannya?

Ternyata, penggunaan pagar tanaman pada rumah-rumah di Amerika memiliki sejarah yang panjang. Mengutip situs National Gallery of Art, Senin (21/7/2025), telah ditemukan banyak catatan sejak 1700-an yang menyebut beragam kegunaan dari pagar tanaman.

Pagar tanaman digunakan untuk berbagai keperluan praktis dan ornamen rumah. Pagar ini umumnya berfungsi sebagai pemisah di taman, melindungi tanaman yang rapuh dari angin kencang, menjaga properti dari hewan maupun manusia, menghalangi pandangan dari luar, penanda jalan setapak, hingga pembatas untuk sejumlah bunga atau tanaman di halaman.


Memang, pagar tanaman dapat ditemukan di hampir seluruh wilayah AS. Namun, jenis tanaman yang digunakan pada pagar cukup bervariasi tergantung pada tujuan pembuatan pagar dan kondisi iklim di daerah tersebut.

Misalnya di daerah yang lebih hangat, maka tanaman yang digunakan biasanya pohon jeruk, yucca, atau mawar cherokee. Sementara untuk wilayah beriklim lebih dingin banyak menggunakan pohon cedar, cemara, dan juniper.

Lalu di daerah pertanian, pagar tanaman cenderung dibuat dari rumput dan belukar yang ditanam rapat dan berjalin. Langkah ini dilakukan agar tanaman dapat menjadi penghalang yang rapat.

Menurut Arsitek Denny Setiawan, salah satu alasan mengapa rumah di AS menggunakan pagar tanaman, terutama yang modelnya seperti pagar rumput adalah karena lingkungan perumahan di sana melarang dipasang pagar.

“Kluster itu biasanya melarang pemilik rumah untuk membuat pagar. Makanya, untuk menjadi penanda teritori, mereka membuat pagar dari tanaman,” katanya kepada detikcom, Rabu (26/3/2025).

Di sisi lain, rumah-rumah di AS biasanya telah memiliki keamanan lingkungan yang ketat. Dengan begitu, memasang pagar besi yang tinggi untuk melindungi properti dirasa kurang perlu karena keamanan adalah nomor satu.

“Ada beberapa wilayah perumahan atau kluster gitu ya, yang keamanannya sudah dijamin dengan adanya satpam di depan,” tambahnya.

Denny mengatakan pagar tanaman juga jauh lebih bagus untuk penghuni rumah. Soalnya, pagar ini menggunakan tanaman yang dapat memproduksi oksigen, menyaring debu, dan meminimalisir kebisingan dari luar.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(ilf/ilf)



Sumber : www.detik.com