Tag: sholat jumat

  • Contoh Khutbah Jumat tentang Bersyukur, Singkat dan Mudah Dihafal


    Jakarta

    Hari Jum’at merupakan hari istimewa bagi umat muslim, di mana hari tersebut menjadi simbol berkumpul dalam sosialisasi umat muslim. Di hari Jumat, para lelaki muslim diwajibkan untuk melaksanakan sholat Jumat.

    Sebelum pelaksanaan sholat, terdapat khutbah Jumat yang disampaikan oleh khatib. Penyampaian khutbah bisa mengambil berbagai macam tema, salah satunya adalah tentang bersyukur. Berikut beberapa contoh khutbah Jum’at tentang bersyukur.

    Contoh Khutbah Jumat Singkat tentang Bersyukur

    Khutbah jumat terdiri dari khutbah pertama dan kedua. Berikut beberapa contoh khutbah Jumat singkat tentang bersyukur mengutip laman NU Online dan Universitas Islam Malang.


    1. Bersyukur atas Nikmat Lahir dan Batin

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

    Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.

    Kaum Muslimin jama’ah shalat Jumat rahimakumullah. Sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Ia anugerahkan kepada kita. Tiada satu pun selain-Nya yang mampu menghitungnya. Nikmat terbagi menjadi dua macam, nikmat lahir dan nikmat batin. Allah ta’ala berfirman:

    وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً (لقمان: 20) Artinya: “Dan Allah telah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu.” (QS. Luqman: 20)

    Nikmat lahir adalah nikmat yang terlihat oleh mata seperti harta, penghormatan orang, ketampanan, kecantikan, diberi taufiq (kemudahan) untuk melakukan amal ketaatan, kesehatan, keturunan, harta, kedudukan, sungai, hujan, tanaman, hewan ternak, air dingin dan banyak lagi lainnya. Sedangkan nikmat batin adalah nikmat yang didapati oleh seseorang dalam dirinya seperti memiliki ilmu tentang Allah, kokohnya keyakinan kepada Allah dan dijauhkan dari penyakit dan berbagai marabahaya.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Kewajiban setiap mukallaf (baligh dan berakal) adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat tersebut. Bersyukur kepada Allah adalah dengan tidak menggunakan nikmat-nikmat dari Allah untuk bermaksiat kepada-Nya, tidak kufur kepada Allah dan para utusan-Nya. Barang siapa melakukan syukur seperti ini, maka ia adalah seorang hamba yang telah bersyukur kepada Tuhannya. Sedangkan orang yang mengucap syukur kepada Allah dengan lidahnya sebanyak apapun namun masih menggunakan nikmat Allah untuk berbuat maksiat kepada-Nya, maka hakikatnya ia belumlah bersyukur kepada Tuhannya sebagaimana yang diwajibkan.

    Dan hendaklah diketahui bahwa kita semua di hari kiamat akan dimintai pertanggungjawaban atas nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ. (رواه الترمذيّ وصحّحه)
    Artinya: “Seorang hamba tidak akan berpindah dari suatu fase ke fase yang lain di hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya dalam hal apa dihabiskan, tentang ilmunya dalam hal apa digunakan, tentang hartanya dari mana ia perolah dan dalam hal apa disalurkan dan tentang jasadnya dalam hal apa difungsikan.” (HR. at-Tirmidzi dan ia menilainya shahih).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
    أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ أُصِحَّ لَكَ جِسْمَك وَأُرْوِكَ مِن الْمَاءِ الْبَارِدِ. (رواه الحاكم وصحّحه)

    Artinya: “Hal pertama yang seorang hamba akan dihisab tentangnya di hari kiamat adalah dikatakan kepadanya: Bukankah telah Aku sehatkan badanmu dan aku hilangkan dahagamu dengan air yang dingin?” (HR. al Hakim dan ia menilainya shahih).

    Karenanya, mari kita hisab diri kita. Mari kita renungkan, sudahkah kita bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah kurniakan kepada kita sebagaimana mestinya? Saudara-saudara seiman, di antara nikmat batin adalah nikmat teragung yang tidak sebanding dengan nikmat apapun, yaitu nikmat iman kepada Allah dan nikmat-nikmat yang mengikutinya, yaitu berserah diri kepada Allah, mencintai orang-orang shaleh, kokohnya keyakinan kita kepada Allah, mengagungkan ilmu agama dan semacamnya.

    Iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah modal utama bagi seorang muslim, sehingga ia adalah nikmat yang paling agung, paling utama dan paling tinggi yang diberikan kepada manusia. Orang yang diberi dunia (harta, jabatan dan semacamnya) namun tidak diberi iman, maka seakan ia tidak diberi nikmat apapun.

    Sebaliknya, orang yang diberi iman dan tidak diberi dunia, maka seakan ia tidak terhalang dari satu nikmat pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    إِنَّ اللهَ عزَّ وجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الدِّيْنَ إِلَّا لِمَن أَحَبَّ (رواه أحــمد)

    Artinya: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla memberikan (nikmat) dunia kepada orang yang Ia cintai dan kepada orang yang tidak Ia cintai, dan tidak memberikan nikmat agama kecuali kepada orang yang Ia cintai.” (HR. Ahmad)

    Di antara nikmat ada juga yang merupakan akibat atau buah dari nikmat iman. Nikmat ini tampak pada anggota badan seseorang, seperti melaksanakan kewajiban, menjauhi perkara haram dan memperbanyak amal sunnah. Nikmat iman sebenarnya adalah nikmat batin, akan tetapi pengaruhnya terlihat pada anggota badan. Iman adalah syarat diterimanya amal shaleh. Tanpa iman, bentuk amal kebaikan sebanyak apapun tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.

    Orang yang mati dalam keadaan tidak iman akan datang di hari kiamat tanpa memiliki sedikit pun kebaikan, karena ia tidak mengenal Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Sedangkan seorang muslim yang tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, lalu meninggal sebagai pelaku dosa besar, maka ia tergantung pada kehendak Allah.

    Jika Allah menghendaki, Ia akan menyiksanya dan jika Allah menghendaki, Ia akan mengampuninya. Sedangkan orang yang diberi taufiq untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin, dengan melaksanakan perintah Allah, sehingga ia melaksanakan kewajiban dan menjauhi perkara haram serta menggunakan anugerah nikmat untuk menaati Tuhannya, maka balasan dari Tuhannya adalah kenikmatan yang abadi, yang tidak akan punah dan sirna. Allah ta’ala berfirman:

    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)

    Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka dari Tuhannya adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. al Bayyinah: 7-8).

    Mereka adalah makhluk yang paling berbahagia, karena Allah ridha terhadap mereka sebagaimana mereka ridha kepada-Nya. Ridha Allah adalah salah satu sifat-Nya, yang tidak menyerupai ridla makhluk. Karena makna ridha Allah adalah kehendak untuk memberikan nikmat.

    Sedangkan ridha para hamba kepada Tuhannya adalah berimannya mereka kepada Allah, menerima ketetapan-Nya dan menyerahkan segala hal kepada-Nya. Mereka tidak memprotes dan menyalahkan Allah dalam satu pun musibah yang menimpa mereka.

    Sebaliknya mereka bersabar untuk tetap melaksanakan kewajiban dan menjauhi perkara haram serta menahan diri dari menggunakan nikmat Allah dalam perbuatan maksiat kepada-Nya. Mereka juga bersabar atas ujian-ujian yang menimpa mereka, sehingga balasan untuk mereka adalah ridho Allah terhadap mereka. Sungguh beruntung mereka. Alangkah berbahagianya mereka.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

    (Ust. Nur Rohmad, S.Ag., M.Pd.I, Anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kab. Mojokerto.)

    2. Bersyukur atas Nikmat Sehat

    Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah

    Jumat adalah hari terbaik, karenanya menjadi saat yang tepat untuk terus mengingatkan takwallah. Pesan tersebut selalu disampaikan khatib agar senantiasa meningkatkan takwa dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini memberikan pesan bahwa betapa penting dan berharganya menjaga takwallah. Sadar bahwa diri senantiasa dalam pantauan Allah di segala keadaan dan suasana. Karenanya, alfakir berpesan kepada diri sendiri dan jamaah yang berbahagia untuk terus menjaga dan memupuk takwallah tersebut.

    Hadirin yang Berbahagia

    Kenikmatan hidup paling mahal adalah sehat, karena apa pun yang kita miliki di dunia tak akan bisa dinikmati jika sakit. Dalam suasana yang serba tidak menentu seperti sekarang, nikmat sehat menjadi hal yang mahal harganya. Karenanya, kita perlu mensyukuri nikmat sehat yang ada. Apalagi dalam sebuah ayat disebutkan sebagai berikut:

    وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوها، إِنَّ الْإِنْسانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

    Artinya: Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh manusia sangat zalim dan banyak mengingkari nikmat. (QS al-Nahl: 18)

    Nikmat sehat bukan suatu kemewahan seperti emas dan perak. Tetapi menjadi mahal ketika kesehatan telah berubah menjadi sakit. Nikmat sehat merupakan mahkota tubuh. Saat terbaring sakit, kita baru sadar bahwa kesehatan sangat berharga. Yang mengabaikan kesehatan dirinya adalah orang yang menabung masalah untuk masa depan. Seorang filosof Inggris mengatakan: Jika dengan memperoleh pengetahuan malah merusak kesehatan kita, maka kita bekerja untuk hal yang tidak berguna.

    Tidak berlebihan dan sangat tepat kalau dalam suatu hadits diriwayatkan sebagai berikut:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ، اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

    Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata: Nabi SAW bersabda: Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu (lalai) padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang. (HR al-Bukhari).

    Dalam Mukhtashar Minhâjul Qâshidîn intisari kitab Ihya` Ulûmiddîn diriwayatkan, ada orang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang alim. Lalu si alim berkata: Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?

    “Tidak,” jawabnya.

    “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?” tanya ulang si alim.

    “Tidak,” jawabnya.

    “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?,” lanjut si alim.

    “Tidak,” jawabnya.

    “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?” Si alim terus bertanya.

    “Tidak,” jawabnya.

    “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu?,” pungkas si alim.

    Dari kisah tersebut, kita dapat memetik pelajaran bahwa nikmat sehat atau kesehatan jauh lebih berharga dibanding uang yang banyak ataupun harta yang melimpah.

    Jamaah yang Dirahmati Allah,

    Betapa pentingnya nikmat kesehatan, hingga Rasulullah SAW pun bersabda:

    مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

    Artinya: Siapa saja di antara kalian masuk waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman dalam rumahnya, punya makanan pokok pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya. (HR Ibnu Majah).

    Dalam Islam menjaga kesehatan menjadi bagian penting dari prinsip-prinsip pemeliharaan pokok syariat (maqâsidusy syarî’ah). Hal itu terdiri dari; pemeliharaan agama (hifdzud dîn), pemeliharaan diri atau kesehatan (hifdzun nafs), pemeliharaan akal (hifdzul ‘aql), pemeliharaan keturunan (hifdzun nasab), dan pemeliharaan harta (hifdzul mâl).

    Sebaliknya, Islam melarang berbagai tindakan yang membahayakan kesehatan atau keselamatan jiwa, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT yang artinya: Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian dalam kerusakan. (QS Al-Baqarah: 195); dan ayat yang artinya: Dan janganlah kalian membunuh diri kalian. Sungguh Allah Maha Penyayang kepada kalian. (QS An-Nisa’: 29).

    Badan kita punya hak yang harus dipenuhi agar terjaga kesehatan maupun keseimbangannya. Di antara hak badan adalah memberikan makanan pada saat lapar, memenuhi minuman saat haus, memberikannya istirahat saat lelah, membersihkannya saat kotor, dan mengobatinya saat sakit. Ajaran Islam sangat menekankan kesehatan.

    Diriwayatkan dari Al-Abbas bin Abdul Muthallib RA, ia berkata: Aku pernah datang menghadap Rasulullah SAW dan bertanya: Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku suatu doa yang akan aku baca dalam doaku. Nabi menjawab: Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan. Kemudian aku menghadap lagi pada kesempatan lain dan saya bertanya: Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku suatu doa yang akan aku baca dalam doaku. Nabi menjawab: Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah SAW, mintalah kesehatan kepada Allah, di dunia dan akhirat. (HR at-Tirmidzi).

    Demikianlah khutbah singkat ini, semoga bermanfaat mengingatkan kita agar selalu menjaga kesehatan dan mensyukurinya dengan sebaik-baiknya.

    3. Bersyukur atas Nikmat selama Setahun

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَعْطَىنَا بِالصَّبْرِ وَالشُّكْرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الصَّبُوْرُ الشَّكُوْرُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَخْرَجَنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

    Segala puji merupakan milik Allah swt, Tuhan semesta alam. Segala anugerah yang telah kita nikmati sampai detik ini, tidak lain adalah pemberian dari-Nya. Khususnya, nikmat iman, nikmat Islam, juga nikmat sehat wal afiat. Dengan kenikmatan-kenikmatan itu, sudah sepatutnya kita datang dan bertemu pada siang hari ini dalam rangka menunaikan ibadah kepada-Nya. Tidak lain, inilah bentuk syukur kita atas semua hal itu.

    Selanjutnya, khatib mengajak kita semua untuk senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad, Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammad. Semoga shalawat kita juga dapat mengalir kepada keluarganya, sahabatnya, tabi’in, dan juga kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya rabbal alamin. Allah swt memerintahkan kita untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya dengan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah-ibadah, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh-Nya.

    Sebagai bagian dari peningkatan takwa itu, kita perlu senantiasa bersyukur atas segala nikmat karunia yang telah Allah swt anugerahkan kepada kita semua, sehingga kita bisa dapat menjalani kehidupan dengan baik. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt,

    Saat ini, kita telah memasuki penghujung bulan Desember sekaligus akhir dari tahun 2022. Begitu banyak hal yang telah kita lalui sepanjang tahun 2022 ini, mulai dari hal yang terasa berat, tidak enak, hingga nikmat-nikmat yang memberikan rasa bahagia bagi kita. Satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah semua hal tersebut patut kita syukuri.

    Iya, sekalipun bisa dipastikan sepanjang tahun itu tidak semuanya bahagia dan ada saja hal yang membuat kita kecewa, kesal, dan sedih, pasti saja ada hal penting yang belum kita ketahui di balik itu semua. Selain memang, kesedihan, kekecewaan, dan kekesalan yang kita terima itu jauh lebih sedikit daripada kenikmatan yang telah kita terima. Sebab, banyak hal yang tanpa kita sadari, itu adalah nikmat besar yang seringkali luput dari pengamatan.

    Padahal, itulah yang biasa kita rasakan saban hari sejak kali pertama terlahir di dunia sampai hari ini. Misalnya, udara yang kita hirup sebagai napas diperoleh secara gratis. Kita tidak dapat membayangkan seumpama oksigen itu harus kita bayar.

    Kita juga kerap lupa dengan nikmat sehat yang selama ini kita nikmati. Saat kita ditimpa sakit, barulah kita memohon-mohon berdoa kepada Allah agar lekas disembuhkan, sedang saat sehat, kita sendiri lupa tidak mensyukurinya.

    Nabi Muhammad saw sampai menyebut hal itu dalam hadisnya, bahwa banyak orang tertipu akan dua kenikmatan, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu. Jamaah Jumat yang berbahagia, Allah swt secara tegas memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 152 berikut.

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

    Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

    Dalam Tafsir Al-Baghawi, disebutkan bahwa bersyukur itu dilakukan ketaatan, sedangkan tidak kufur berarti tidak bermaksiat. Sementara menurut Imam Al-Qurthubi, bahwa syukurnya seorang hamba ini harus diucapkan dengan lisan dan diikrarkan dalam hati bahwa menggunakan nikmat itu untuk ketaatan.

    Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt, Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa dengan bersyukur, niscaya nikmat kita akan ditambah. Hal itu termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 berikut.

    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras”.”

    Dalam kitab tafsirnya, Imam Al-Baghawi mengutip sebuah pendapat, bahwa syukur itu mengikat yang sudah ada dan memburu yang tiada. Ia juga menyampaikan bahwa syukur yang sesungguhnya adalah dengan senantiasa menjalankan ketaatan atas segala perintah Sang Pemberi nikmat itu.

    Sementara hal yang ditambahkan adalah pahalanya. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui bahwa nikmat itu tidak lain ditujukan bagi Sang Pemberi nikmat itu sendiri, yaitu Allah swt, dan tidak menggunakannya untuk selain taat kepada-Nya.

    Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt, Oleh karena itu, dari penjelasan para ulama di atas, dapat kita ambil pengertian bahwa bersyukur berarti adalah menggunakan segala nikmat yang kita peroleh untuk menunaikan ketaatan kita, yaitu menghamba kepada-Nya, beribadah karena-Nya. Dalam hal ini, kita perlu meningkatkan ketaatan kita mulai hari ini dan ke depannya sebagai tanda syukur kita atas segala nikmat yang telah Allah swt anugerahkan kepada kita.

    Dan menjadikan ini sebagai bagian dari resolusi tahun 2023 kita. Saking mulianya bersyukur, Rasulullah saw bersabda, bahwa orang yang makan dan bersyukur itu sederajat dengan orang berpuasa dan sabar atas puasanya itu.

    Dari hal itu, khatib mengajak jamaah semuanya untuk bersyukur atas segala anugerah yang telah kita peroleh dengan senantiasa meningkatkan ketaatan kita kepada-Nya, menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk beribadah kepada-Nya. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemampuan untuk mensyukuri seluruh nikmat-Nya sehingga kita tergolong sebagai ‘ibadiyas syakur, hamba-hamba Allah yang banyak bersyukur.

    (Ustadz Syakir NF, Imam Masjid Baitul Maqdis, Padabeunghar, Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat.)

    4. Rasa Syukur

    Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

    Marilah kita bersama sama memanjatkan tasyakkur ke hadirat Allah SWT, atas segala limpahan karunia Allah SWT, atas karunia waktu luang, nikmat kesehatan, karunia ilmu pengetahuan, kenikmatan rizki, keutuhan keluarga, kita bersyukur atas adanya rasa tersebut dalam hati.

    Kita bersyukur kepada Allah bilamana dalam hati dan perbuatan kita ada manifestasi dari rasa syukur. Adalah sebuah keindahan kalau kita dalam perbuatan kita ada nilai nilai syukur.

    Kita berlindung kepada Allah atas sikap lupa dan alpa. Kita sungguh berlindung kapada Allah atas kufur tipis tipis, YAITU tidak menyadari betapa besar, hal apa saja yang Allah karuniakan kepada kita. Betapa Allah kasih sayang kepada keluarga kita, kepada lingkungan kita.

    Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

    Kita bisa kerja, kita bisa beribadah, kita bisa memiliki kemerdekaan, karena orang lain dan tentu karunia Allah. Kita bisa kerja karena kampus kita ada dan memberi gaji dan tunjangan karena pimpinan. KITA bisa tenang beribadah, Karena tak ada orang lain yang membuat kekacauan. Kita pantas bersyukur atas ketenteraman lingkungan itu semua. Alhamdulillah.

    Bersyukur atas yang kecil kecil, tak usah menunggu hal yang besar besar, yang fantastis. Bersyukur kepada orang lain yang menjadi perantara karunia Allah, karena itu yang menjadi ajaran. MAN LAM YASKURINNAS, LAM YASKURILLAH. MAN LAM YASKURIL KHOLIL, LAM YASKURIL KATSIR.

    Baiknya keluarga kita, pasangan kita, anak anak kita, kebaikan negara kita, orang orang baik di Universitas kita adalah karunia kita yang patut kita syukuri. Kita berada di Indonesia, sudah termasuk negara muslim paling demokratis, aman di dunia, patut kita syukuri.

    Maasyiroh Muslimin Hadirin, Rahimakumullah

    Sebagai kaum beriman kita disarankan untuk tetap waspada. Syaitan ada dimana mana. Kita bisa saja tergelincir. Sikap kita akan membawa aura lingkungan kita. Sikap sabar adalah bentuk rasa syukur.

    Para Nabi, para Rasul, para Waliyullah, para ulama besar, itu adalah orang orang yang sabar. Kita orang biasa biasanya- termasuk diri saya- sering mengeluh, sering menuntut. Akhirnya lupa. Itu lawan dari bersyukur.

    Tak ada Nabi dan Rasul yang hidup tanpa beban yang berat, namun semua Nabi dan Rasul adalah orang orang yang tak bersedih dengan situasi apa saja. Mereka itu ahli syukur terutama hati dan amal perbuatan, bukan hanya lisan. Kemuliaan mereka ada di akhlak kesyukurannya.

    Manusia itu tempat salah dan lupa. Itulah makanya Allah memberi kitab oenuntun di setiap jamannya. Allah juga mngutus rasul dan nabi serta orang orang alim untuk mengingatkan kita. Karena kita AL INSAANU MAHALUL KHOTO’ WAN NISYAN. Kita sering alpa.

    Di luar sana ada kemiskinan ekstrim, di luar sana ada kesulitan sosial dan di sini kita baik baik saja. FABIAYYI AALA-I ROBBIKUMA TUKADDZIBAAN. Nikmat apa lagi yang pantas kita dustakan

    Salah satu hal yang terbaik selain syukur nikmat, saya mengajak diri saya, bersedia memperbaiki kesalalah kesalahan kita, menjaga hati, menjaga diri dan menjaga niat, menghindarkan diri dari sikap menerabas tatanan agar mendapatkan keinginannya.

    Tokoh tokoh pahlawan yang merintis kemerdekaan atau muassis kampus Kita bukan orang-orang yang suka mengeluh dan mereka juga berkali kali gagal dalam usaha usaha yang mulia, oleh sebab itu kita perlu mendidik diri kita harus berani berjuang. Kata Gus Dur “hidup adalah perjuangan, setiap perjuangan butuh pengorbanan, dan semua pengorbanan besar pahalanya”.

    Orang orang sukses dari dulu dan sampai sekarang itu tak pernah dicapai dengan mudah. No pain, no gain. Ada perjuangan dan doa di sana.

    Bahkan Imam Syafii RA selalu berpesan kepada para kita bahwa tidak ada kenikmatan hidup tanpa kita bersusah payah sebelumnya. Segala sesuatu yang didapat dengan mudah apalagi dengan menghilangkan atau mengurangi hak hak orang lain, bisa hilang keberkahannya.

    Sesungguhnya kita ini mungkin sdh diberi yang terbaik, sudah diberi banyak, kadang kita saja yang tak bisa mensyukurinya.

    وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Penelitian Ahli Psikologi juga mengungkapkan, rasa syukur ini, membuat orang dekat dengan rasa bahagia R. Riset mengatakan “Bukanlah banyaknya harta dan kekayaan dan jabatan satu satunya alat bahagia”. Tapi kebahagiaan itu, bermula dari rasa tenteram atas apa yang Allah berikan kepada kita.

    Sebagai penutup saya mengajak diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk mengisi tanggung jawab sebagai rasay syukur,

    Pertama tanggung jawab, kasih sayang, ketulusan dan memberi hal dan melaksanakan kewajiban pada diri sendiri dan keluarga, anak, istri, suami, terutama orang tua.

    Kedua; tanggung jawab sebagai makhluk dan abdillah, kepada Allah SWT melaksanakan perintahnya dan menjahui larangaNya. Syukur tertinggi itu syukur amaliyah.

    Ketiga;tanggung tanggung jawab sosial kepada tetangga, saudara terutama yang membutuhkan dengan berbagi walau dengan sumbangan tak seberapa, social responsibility, Zakat, Infaq, Shadaqoh adalah jalannya.

    Keempat;tanggung jawab kepada bangsa dan negara, merawat kerukunan sebagai rasa syukur.

    Kelima;tanggung jawab kepada alam dan lingkungan semesta dengan cinta alam dan melindunginya. Merawat Jagad dan mencintai manusia dan alam adalah bentuknya.

    Semoga Allah SWT selalu melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah kepada kita.

    (Prof. M. Masud Said, Ph.D)

    Syarat Melaksanakan Sholat Jumat

    Syekh Imam Taqiyudin Abi Bakar Muhammad Al-Huseini dalam kitab Kifayatul Akhyar mengatakan, ada 6 syarat dalam melaksanakan khutbah Jumat. Mengutip buku Khutbah Jumat 7 Menit oleh KH. Marzuqi Mustamar, berikut keenam syaratnya:

    1. Waktu melaksanakan khutbah adalah ketika masuk waktu dzuhur atau tergelincirnya matahari
    2. Mendahulukan dua khutbah terlebih dahulu daripada sholat Jumat
    3. Khotib melaksanakan khutbah dalam keadaan berdiri
    4. Duduk di antara dua khutbah dengan Thuma’ninah
    5. Seorang khotib harus suci dari hadats dan najis pada badan, pakaian, serta tempat
    6. Mengeraskan suara ketika berkhutbah.

    Rukun Khutbah Jumat

    Seorang khotib haruslah memperhatikan beberapa rukun yang ditetapkan syara’. Hal ini agar ibadah sholat Jumat sah. Berikut beberapa rukun berkhutbah.

    1. Memuji Allah di khutbah pertama dan kedua
    2. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW di khutbah pertama dan kedua
    3. Berwasiat takwa kepada Allah di khutbah pertama dan kedua
    4. Membaca ayat suci Al Qur’an pada salah satu dari kedua khutbah. Minimal membaca satu ayat
    5. Berdoa untuk kaum mukmin di khutbah kedua.

    Itulah empat contoh khutbah sholat Jumat tentang bersyukur. Semoga beberapa contoh ini bisa menginspirasimu dalam membuat teks khutbah.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Teks Khutbah Jumat Bulan Syaban: Amalan Persiapan Ramadan


    Jakarta

    Khutbah Jumat bertema Syaban bisa menjadi pilihan topik khatib sholat Jumat pekan ini. Ada banyak pembahasan terkait keutamaan Syaban, salah satunya tentang keutamaan ibadah-ibadah sunnah di dalamnya.

    Bulan Syaban diapit dua bulan mulia yakni Rajab dan Ramadan. Pada bulan ini terdapat malam Nisfu Syaban yang menjadi malam istimewa.

    Menurut Kalender Kementerian Agama, 1 Syaban 1445 Hijriah jatuh pada Minggu, 11 Februari 2024. Artinya pada Jumat, 16 Februari 2024 bertepatan dengan 6 Syaban 1445 H.


    Khutbah Jumat Bertema Syaban

    Merangkum buku Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun karya Muhammad Khatib, S.Pd.I dan juga mengutip laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), berikut teks khutbah Jumat bulan Syaban.

    إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
    وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى الْيَوْمِ الَّذِيْ نَلْقَاه
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
    أمّا بَعْدُ

    Hadirin jamaah Jumah rahimakumullah

    Marilah kita bersama-sama menjaga kualitas takwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan. Karena hanya dengan takwalah, kita bisa mendekati Allah dan mencapai kebahagiaan, di dunia maupun di akhirat.

    Sebagaimana firman-Nya:

    ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ

    Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 63)

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Alhamdulillah, hari ini kita semua masih bertemu bulan Syaban. Syaban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah. Secara bahasa, kata “Syaban” mempunyai arti “berkelompok”. Nama ini disesuaikan dengan tradisi bangsa Arab yang berkelompok mencari nafkah pada bulan itu.

    Syaban termasuk bulan yang dimuliakan Rasulullah SAW. Terbukti beliau berpuasa pada bulan ini. Usamah berkata pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunah) sebanyak yang engkau lakukan dalam bulan Syaban.” Rasulullah SAW menjawab: “Bulan Syaban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.” (HR. An-Nasai dan Abu Dawud)

    Dalam riwayat lain disebutkan: “Bulan itu (Syaban), yang berada di antara Rajab dan Ramadan adalah bulan yang dilupakan manusia, dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku diangkat ketika aku berpuasa. (HR An Nasa’i)

    Seorang ulama yang bernama Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi berkata:

    شَهْرُ رَجَبَ شَهْرٌ لِلزَّرْعِ وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ وَرَمَضَانُ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

    “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Syaban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Syaban juga mempunyai makna “jalan setapak menuju puncak.” Artinya, Syaban adalah bulan persiapan yang disediakan Allah untuk menapaki dan menjelajahi keimanan, sebagai persiapan menghadapi puncak bulan Ramadan.

    Meniti jalan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Sebagaimana mendaki gunung, butuh latihan dan persiapan yang matang. Begitu pula meniti puncak di bulan Syaban, tentunya butuh kesungguhan hati dan niat yang suci serta siap bersusah payah. Kepayahan itu akan lebih terasa ketika kita berpuasa di bulan Syaban. Namun, kepayahan itu akan dibalas dengan pahala yang sangat besar.

    Rasulullah SAW bersabda: Bulan ini dinamakan Syaban karena berhamburan kebajikan di dalamnya. Barang siapa berpuasa tiga hari di awal bulan Syaban, tiga hari di pertengahannya dan tiga hari di akhirnya, maka Allah SWT menulis untuk orang itu pahala tujuh puluh orang nabi, dan seperti ibadah tujuh puluh tahun, dan jika orang itu meninggal pada tahun ini, maka akan diberikan predikat mati syahid.

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Pendakian di bulan Syaban ini juga dapat dilakukan dengan cara membanyak beristighfar atau meminta ampun atas segala dosa, lebih-lebih dosa hati yang tak kasat mata, seperti, ujub, takabur, dan sum’ah. Biasanya, dosa hati itu lebih banyak daripada dosa tubuh.

    Setiap orang beriman sepatutnya membersihkan dan mensucikan diri dari sifat-sifat tercela serta menyiapkan mental, agar dapat menghadapi dan memasuki bulan Ramadan dengan tenang dan khusyu.

    Setiap orang beriman hendaknya mempersiapkan lahir dan batin dalam menghadapi bulan Ramadan, sebagaimana petani menyiapkan air dalam menghadapi musim kering.

    Permohonan ampun tidak dibatasi oleh tempat dan waktu, akan tetapi kita bisa melakukan di mana saja dan kapan saja. Namun demikian, ia sangat baik bila dilakukan sebelum datang bulan Ramadan. Hal ini kita lakukan sebagai rasa hormat dan Ta’dzim atas kedatangan bulan yang mulia.

    Istighfar dan taubat di bulan Syaban akan menjaga dan memelihara ibadah di bulan Rajab, merawat dan menyuburkan iman di bulan Syaban serta memberi semangat ibadah di bulan Ramadan.

    Diharapkan dengan persiapan ini, kita akan meraih kemuliaan dan kemenangan dari Allah SWT di bulan yang agung tersebut.

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Sebagai penghujung khutbah ini, marilah di bulan Syaban yang penuh fadhilah ini, kita mendaki bersama dengan menjalankan berbagai amal shaleh dan meminta pengampunan-Nya, sehingga kita akan sampai di puncak nanti, sebagai hamba yang siap menjalankan kewajibannya di depan Sang Khaliq.
    Aamiin.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat di Masjidil Haram-Nabawi Ada Versi Bahasa Indonesia, Ini Caranya


    Jakarta

    Khatib Jumat di Masjidil Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah menggunakan bahasa Arab dalam menyampaikan khutbahnya. Meski demikian, khutbah Jumat di dua masjid suci tersebut bisa diakses dengan bahasa lain.

    Jemaah yang berasal dari Indonesia bisa mendengarkan khutbah Jumat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi versi bahasa Indonesia. Hal ini bisa dilakukan secara daring menggunakan bantuan HP.

    Kabar tersebut turut disampaikan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Kerajaan Arab Saudi cabang Kota Madinah melalui media sosialnya. detikcom telah mendapat izin dari PPMI Madinah untuk mengutipnya.


    “Atas izin Allah, pihak pengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu telah memberikan improvisasi bahwasanya banyak sekali dari jemaah atau dari kita sendiri yang datang ke tempat ini, oleh karena itu pihak pengelola ingin kita semua bisa mendengarkan dengan seksama, seperti diterjemahkannya ke dalam bahasa asing. Salah satunya bahasa Indonesia,” jelasnya seperti dilihat dari Instagram @ppmimadinah, Jumat (1/3/2024).

    PPMI Madinah kemudian membagikan cara mengakses khutbah Jumat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam bahasa Indonesia. Setidaknya jemaah perlu menyiapkan HP, headset, dan aplikasi radio yang biasanya sudah tersedia di HP.

    “Caranya yang pertama hanya perlu headset, kemudian HP kita sendiri. Kita masuki headset kita ke hp kita. Kemudian kita pergi ke aplikasi radio, cari frekuensi 99.00 FM untuk di Masjid Nabawi dan 90.50 FM itu untuk di Masjidil Haram,” ujarnya.

    Fasilitas khutbah Jumat di Masjid Nabawi dalam bahasa Indonesia ini sudah tersedia sejak lama. Hal ini turut dibenarkan pihak Divisi Media dan Informasi PPMI Madinah Musytahar Umar Fariqi.

    “Iya khutbah Masjid Nabawi bisa didengarkan dengan bahasa Indonesia sejak lama,” ujarnya saat dihubungi detikHikmah, Jumat (1/3/2024).

    Menurut laporan detikcom dari Arab Saudi pada 2014 lalu, jemaah sudah bisa menyimak isi khutbah yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Caranya melalui radio.

    Selain radio, khutbah Jumat juga bisa diakses secara daring melalui laman https://manaratalharamain.gov.sa. Dalam laman tersebut juga tersedia jadwal dan informasi khatib khutbah Jumat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

    Khatib Jumat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Hari Ini

    Inside the Haramain melaporkan, Jumat (1/3/2024), khatib Jumat Masjidil Haram hari ini adalah Syeikh Maher dan khatib Masjid Nabawi adalah Syeikh Hudaify.

    Jadwal salat Jumat hari ini akan berlangsung pukul 12:33 waktu Arab Saudi (WAS) di Makkah dan pukul 12.34 WAS di Madinah.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Teks Khutbah Jumat Singkat dengan Berbagai Tema Menarik


    Jakarta

    Khutbah Jumat termasuk salah satu rukun sholat Jumat. Pelaksanaannya dilakukan sebelum mendirikan sholat dan terdiri dari dua khutbah yang dipisah dengan khatib duduk sejenak.

    Materi khutbah Jumat tidak bisa sembarangan, melainkan rukun-rukunnya mesti terpenuhi. Mengutip buku Tata Cara Shalat Lengkap yang Dicintai Allah dan Rasulullah oleh Yoli Hemdi, rukun khutbah Jumat yaitu mengucapkan pujian terhadap Allah SWT, bersholawat kepada Rasul, menyampaikan wasiat untuk bertakwa, membaca ayat Al-Qur’an, dan memohon ampunan-Nya melalui doa.

    Jika ditunjuk sebagai khatib sholat Jumat, temukan teks khutbah Jumat ringkas dengan berbagai tema menarik yang dapat dijadikan referensi di bawah ini.


    Materi Khutbah Jumat Singkat Terbaru

    Mengutip buku Kumpulan Lengkap dan Praktis Khutbah Jum’at & Hari Besar Islam Sepanjang Tahun karya Ustadz Much. Zaenuri Nur, berikut sejumlah khutbah Jumat singkat dengan berbagai tema yang dapat dijadikan referensi:

    1. Berbakti kepada Orang Tua

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعْطَانَا مِنَ النِّعَمِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَكُوْنُ بِهِ مُخْتَصًّا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَكُنْ مُعَانِدًا وَلَا عَصَى. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي صَارَ بِالشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى مُخْتَصًّا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ مَا دَامَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ. أَمَّا بَعْدُ: فَأُوْصِيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طغَى.

    Kaum muslimin rahimakumullah,

    Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Sehingga kita masih dapat melaksanakan shalat Jum’at berjamaah sebagai wujud rasa iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Tidak lupa, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Takwa dengan sebenar-benarnya, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

    Sidang Jumat rahimakumullah,

    Orang yang paling dekat, paling banyak, dan paling besar jasa serta pengorbanannya kepada kita adalah kedua orang tua. Jasa dan pengorbanan yang telah diberikan orang tua kepada kita tidak dapat diukur atau diganti dengan apa pun. Karena begitu besar jasa dan pengorbanan yang telah diberikan kepada kita, maka agama menempatkan kewajiban berbakti kepada orang tua di urutan kedua setelah berbakti kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya sebagai berikut:

    وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا – 23

    Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS Al-Isra: 23)

    Kaum muslimin rahimakumullah,

    Ayat tersebut dengan sangat jelas telah memerintahkan kepada kita untuk tidak menyekutukan Allah SWT dan tidak mendurhakai orang tua. Selain itu, juga menerangkan tentang beberapa cara berbuat baik kepada kedua orang tua kita. Kita harus mengasuhnya dengan kasih sayang, berkata dengan lemah lembut kepadanya, dan tidak menyakiti hatinya. Allah SWT sangat murka terhadap seorang anak manusia yang mendurhakai kedua orang tuanya. Bahkan, Rasulullah SAW telah bersabda:

    رِضَى اللَّهُ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللَّهِ فِي سُخْطِ الْوَالِدَيْن.

    Artinya: “Keridhaan Allah SWT tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah SWT terletak pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Ibnu Hibban dan Hakim)

    Kaum muslimin rahimakumullah,

    Lewat mimbar yang terhormat ini, saya berpesan kepada saya sendiri khususnya dan segenap kaum muslimin umumnya. Jika kita sekarang telah hidup berkecukupan dengan harta benda yang melimpah, kedudukan dan kehormatan yang tinggi, janganlah sombong dan melupakan kedua orang tua kita, meskipun mereka hidup di pedesaan yang sunyi dan berada di bawah garis kemiskinan. Justru, kita harus menjadikan mereka sebagai sosok yang sangat kita hormati dan patuhi. Selama tidak bertentangan dengan Allah Swt. dan Rasul-Nya, kita wajib menuruti perintah kedua orang tua.

    Dan, kalau sekiranya kita telah menjadi orang kaya, ingatlah bahwa kekayaan yang kita miliki sekarang adalah karena perjuangan dan pengorbanan dari orang tua kita. Dan, kalau saat ini kita menjadi orang yang berilmu, ingatlah juga bahwa ilmu yang kita miliki didapat dengan taruhan tetesan keringat, genangan darah usaha orang tua yang telah diberikan kepada kita. Pendek kata, semua yang kita miliki sekarang tidak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan yang telah diberikan oleh orang tua kita.

    Seandainya kedua orang tua kita telah meninggal, kita tidak ada yang kita lakukan kecuali mendoakan keduanya kepada Allah SWT agar diampuni dosanya dengan cara-cara yang baik dan benar.

    Saudara kaum muslimin rahimakumullah,

    Dari uraian singkat ini, dapat disimpulkan bahwa menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua dengan cara-cara yang disyariatkan adalah keniscayaan yang harus dilakukan oleh kaum muslimin.

    Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang kuat berbakti kepada kedua orang tua. Amin.

    جَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِينَ الْآمِنِينَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ. فَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ.

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَرْسَلَ كَافَةً إِلَى النَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، وَهَادِيًا إِلَى الْحَقِّ وَسِرَاجًا مُنِيرًا. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

    Jamaah Jumat rahimakumullah,

    Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadapan Allah SWT yang sudah memberikan segala nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Sehingga, di tengah kesibukan hidup, kita masih sempat memantapkan niat dan melangkahkan kaki menuju masjid dalam rangka melaksanakan shalat Jum’at berjamaah sebagai wujud rasa iman dan takwa kita ke hadirat Allah SWT. Tidak lupa juga, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita ke hadirat Allah SWT dengan jalan beribadah kepada-Nya sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan hadits.

    Sidang Jumat rahimakumullah,

    Sesungguhnya, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia sama artinya seperti seorang tentara yang telah dibekali pedang yang tajam dan terjun ke medan perang untuk berhadapan dengan lawan yang hanya ada dua kemungkinan, yaitu menang dan tetap hidup atau terkapar di medan perang. Ya, begitulah hidup ini. Kita diberikan akal dan agama oleh Allah SWT yang fungsinya seperti pedang yang tajam. Kemudian, Allah SWT menurunkan ujian dengan berbagai jenis. Hal ini sesuai dengan firman-Nya sebagai berikut:

    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ – 155 اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ – 156 اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ – 157

    Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah: 155-157)

    Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah menyebutkan tentang berbagai cobaan yang beraneka ragam, baik yang berupa kemiskinan, kelaparan, kematian, dan lain sebagainya. Namun, di sisi lain, Allah SWT juga menyebutkan bahwa wanita, anak, juga harta kekayaan yang melimpah juga bagian dari ujian. Itu artinya bahwa ujian yang akan Allah SWT berikan kepada manusia bukan hanya berupa penderitaan. Namun, bermacam-macam kesenangan yang ada di dunia juga sebuah ujian untuk menguji keimanan seseorang. Tentang hal ini, Allah SWT berfirman:

    كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ – 35

    Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS Al-Anbiya: 35)

    Sidang Jumat rahimakumullah,

    Karena penderitaan hidup di dunia adalah ujian dari Allah SWT untuk menguji keimanan kita, maka kita harus menyambutnya dengan cara bersabar. Sebab, hanya orang- orang yang bersabar, yang akan mendapatkan pahala dan kemenangan dari Allah SWT tentang hal ini, Allah SWT berfirman:

    … اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ – 10

    Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS Az-Zumar: 10)

    Sementara itu, kesenangan dan kemewahan hidup juga harus kita hadapi dengan rasa bersyukur kepada Allah SWT dan mempergunakan sebagai sarana ibadah kehadirat-Nya. Jangan sampai kita gunakan sebagai alat untuk menyombongkan diri dan durhaka kepada Allah SWT. Sebab, itu artinya kita telah kalah di medan perang. Kita telah menjadi kafir kepada Allah SWT karena terpengaruh oleh kenikmatan dunia, sebagaimana dijelaskan oleh hadits berikut:

    إِنْ صَبَرْتَ مَضَى أَمْرُ اللَّهِ وَكُنْتَ مَأْجُوْرًا وَإِنْ جَزَعْتَ قَضَى أَمْرُ اللَّهِ وَكُنْتُ مَأْزُوْرًا.

    Artinya: “Bila kamu bersabar, ketentuan Allah SWT tetap berlaku, sedang kamu diberi pahala. Dan, bila kamu mengeluh, ketentuan Allah SWT tetap berlaku, sedang kamu mendapat dosa.”

    Jamaah Jumat rahimakumullah,

    Oleh karena itu, sabar dalam menghadapi cobaan adalah sebuah kewajiban bagi orang-orang yang beriman. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin berat pula ujian yang akan diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Itu semua dalam rangka menguji keimanan mereka; apakah iman mereka telah benar- benar menghunjam di dalam jiwa ataukah hanya sekadar permainan belaka? Hal tersebut telah pernah dinyatakan oleh Luqman ketika memberi nasihat kepada anaknya, sebagaimana diabadikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya sebagai berikut:

    يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ – 17

    Artinya: “Wahai anakku, tegakkanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.” (QS Luqman: 17)

    Mengakhiri khutbah ini, saya akan sampaikan pesan dari ahli bijak:

    “Wahai manusia, kalian mencintai tiga perkara, sedangkan tiga perkara itu bukanlah milik kalian, yaitu kalian mencintai jiwa, sedangkan jiwa itu kepunyaan hawa nafsunya; kalian mencintai ruh, sedangkan ruh itu kepunyaan Allah SWT ; kalian mencintai harta, sedangkan harta itu kepunyaan ahli waris.”

    Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari orang- orang yang beriman yang senantiasa bersabar ketika diberikan cobaan berupa penderitaan hidup dan menjadi hamba Allah SWT yang pandai bersyukur ketika diberikan cobaan berupa kesenangan hidup di dunia.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَاسْتَغْفِرُهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

    3. Bersyukur Atas Nikmat Umur

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعْطَانَا مِنَ النِّعَمِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَكُوْنُ بِهِ مُخْتَصًّا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَكُنْ مُعَانِدًا وَلَا عَصَى. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي صَارَ بِالشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى مُخْتَصًّا. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ اللِّقَاءِ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى.

    Jamaah Jumat rahimakumullah,

    Melalui mimbar yang terhormat ini, khatib berpesan kepada kita semua, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah. Takwa dalam arti yang sebenar- benarnya, yakni melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

    Kaum muslimin rahimakumullah,

    Sesungguhnya, dalam hidup ini banyak sekali karunia dan nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Bahkan, seandainya air laut dipakai sebagai tinta, dan pohon-pohon yang tumbuh di muka bumi digunakan sebagai pena untuk melukiskan nikmat Allah Swt., niscaya semuanya tidak akan cukup. Pantaslah kalau Allah SWT menyatakan dalam firman- Nya:

    … وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ – 34

    Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.” (QS Ibrahim: 34)

    Kaum muslimin rahimakumullah,

    Sesungguhnya, nikmat yang paling berharga dalam hidup adalah nikmat umur, bahkan lebih berharga dari apa pun yang kita punya. Pangkat dan jabatan, harta dan kekayaan, kehormatan dan kedudukan semuanya tidak ada artinya kalau kematian sudah menjemput kita. Allah SWT berfirman:

    وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ – 11

    Artinya: “Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Munafiqun: 11)

    Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah menyatakan bahwa manusia tidak akan mempunyai kekuatan apa pun untuk menolak sebuah kematian. Hidup hanyalah sangat sementara. Hidup ibarat seseorang yang mampir untuk minum, lalu ia melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya, kita berjumpa kembali ke hadapan Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama di dunia.

    Allah SWT berfirman:

    قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ – 8

    Artinya: Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS Al-Jumuah: 8)

    Kaum muslimin rahimakumullah,

    Batas umur manusia sangatlah misteri, dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Manusia tidak dapat memajukan atau mengundurkan ajal. Oleh karena itu, sebagai wujud dari rasa iman dan takwa kita kepada Allah SWT, tidak ada sesuatu yang pantas dilakukan, kecuali mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Caranya adalah dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk beribadah kepada Allah SWT.

    Ajal datang menjemput kita tanpa memberi tahu sebelum nya. Kita tidak tahu kapan datangnya, apakah nanti, besok, atau lusa. Oleh karena itu, jangan sampai kita lengah atau lupa diri. Jangan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Mari mulai sekarang, kita bangkit. Kita menyingsingkan lengan untuk bersujud dan tunduk kepada Allah SWT.

    Meskipun demikian, kita tidak harus meninggalkan dunia. Otak kita boleh Jerman, tapi hati harus tetap Makkah. Dunia kita harus sukses. Dan, di akhirat, kita harus beruntung. Jika suatu pekerjaan belum tuntas, harus segera kita selesaikan. Mana saja ibadah yang belum kita kerjakan, padahal kita telah mampu, harus segera kita kerjakan.

    Kaum muslimin rahimakumullah,

    Ya, umur adalah nikmat Allah SWT yang tidak ternilai harganya, dan betapa kita telah banyak menyia-nyiakannya. Kita telah lupa bahwa ajal sewaktu-waktu bisa saja datang kepada kita. Dan, setelah nyawa kita diambil oleh Allah SWT, pintu taubat telah tertutup. Sirnalah semua harta dan kekayaan serta pangkat dan jabatan yang selama ini kita bangga-banggakan. Dan terkuburlah sudah segala kesombongan yang selama ini kita tonjolkan. Lalu, berganti dengan air mata dan penyesalan karena dosa dan kemaksiatan yang selama ini kita lakukan.

    Oleh karena itu, sebelum semuanya terjadi, marilah kita manfaatkan nikmat umur yang telah diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Marilah kita gunakan waktu dengan bekerja semaksimal mungkin dan beribadah kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh. Sungguh, kita akan menyesal selama kita hidup di dunia tidak mampu dan bahkan lalai memanfaatkan umur dengan sebaik-baiknya.

    Mudah-mudahan, kita digolongkan oleh Allah SWT menjadi hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmat umur. Sehingga, nasib kita menjadi mujur ketika badan kita membujur dan hancur dimakan ulat di dalam kubur. Kita tetap dalam kondisi iman dan Islam yang sempurna kepada Allah SWT. Amin.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Khutbah Jumat tentang Sedekah dan Berbagi Rezeki


    Jakarta

    Khutbah Jumat adalah salah satu bagian penting dari rangkaian ibadah sholat Jumat yang wajib diikuti oleh setiap Muslim laki-laki. Melalui khutbah, khatib menyampaikan nasihat dan pesan-pesan keagamaan yang tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga memberi panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

    Seperti apa isi khutbah yang dapat menginspirasi jamaah untuk lebih peduli terhadap sesama? Artikel ini akan membahas 3 khutbah Jumat yang penuh hikmah tentang berbagi sedekah dan rezeki. Simak selengkapnya berikut ini.

    Contoh Khutbah Jumat tentang Sedekah

    Khutbah Jumat menjadi momen istimewa untuk mengingatkan jamaah tentang pentingnya memperbaiki diri, termasuk dalam hal berbagi sedekah dan memahami konsep rezeki dalam Islam.


    Dalam Islam, berbagi sedekah dan menjaga hubungan baik dengan sesama adalah wujud nyata dari keimanan. Khutbah Jumat tentang sedekah dan rezeki sering kali menjadi pengingat bagi jamaah akan keberkahan yang datang dari berbagi kepada sesama. Berikut ini beberapa contohnya.

    1. Sedekah yang Bermakna

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُه

    Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

    Mengawali khutbah kali ini khatib akan menyampaikan sebuah hadits yang memiliki makna dalam bagi kehidupan manusia. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal:

    كُلُّ نَفْسٍ كُتِبَ عَلَيْهَا الصَّدَقَةُ كُلُّ يَوْمِ طَلَعَتْ فِيْهِ الشَّمْسُ فَمِنْ ذلِكَ أَنْ يَعْدِلَ بَيْنَ الْإِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَأَنْ يُعَيِّنَ الرَّجُلُ عَلَى دَابَتِهِ فَيَحْمِلُهُ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَيَرْفَعُ مَتَاعَهُ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَيُمِيْطَ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَمْشِي إِلَى الصَّلاةَ صَدَقَةٌ

    “Setiap jiwa diwajibkan bersedekah setiap hari setiap matahari terbit. maka berbuat adil di antara dua orang adalah sedekah. Dan memilihkan sekor binatang untuk dipilih maka itu adalah sedekah. Menghiasinya adalah sedekah. Dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah. Mengucapkan perkataan yang baik adalah sedekah. Dan setiap langkah menuju shalat juga adalah sedekah.” (HR. Ahmad).

    Hadits di atas berbicara urgensi shodaqoh dalam kehidupan seorang muslim. Bahwa sedekah adalah bagian tak terpisahkan dari keberhasilan manusia, baik sebagai hamba maupun sebagai khalifah.

    Sedekah memiliki makna yang sangat luas. Setiap orang dalam keadaan apa saja dapat melakukannya. Sedekah tidak dibatasi dalam bentuk materi yang hanya orang-orang mampu yang bisa melakukannya. Orang-orang yang tak mampu pun bisa bersedekah dengan perbuatan baik kepada sesama. Hadits di atas menjelaskan bahwa ucapan yang menyejukkan hati atau memberi senyum simpatik pada orang lain juga adalah sedekah. Tidak dipersoalkan sedekah itu banyak atau sedikit, berupa materi atau pun bukan, tapi yang penting ialah hasrat dan niat yang suci untuk mengukir jasa baik dalam hidup ini. Begitulah Islam mendidik manusia dengan nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal.

    Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

    Ajaran tentang sedekah dalam Islam mengisyaratkan betapa luasnya lapangan amal kebajikan, di mana setiap orang dapat berpartisipasi di dalamnya. Sedekah adalah sumber kebajikan yang berfungsi menjalin hubungan sesama manusia berlandaskan rasa empati, kasih sayang, dan persaudaraan.

    Memberi adalah sumber kebahagiaan, dan seorang muslim akan merasa bahagia jika dapat membahagiakan orang lain dengan apa yang ada pada dirinya. Di situlah nilai hidup yang sejati bagi seorang muslim.

    Diriwayatkan oleh Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:

    خَيْرُ النَّاسِ أَتْقَاهُمْ وَآمِرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَوْصِلْهُمْ لِلرَّحْمِ

    Sebaik-baik manusia adalah yang paling bertakwa dan mengajak kepada kebaikkan serta melarang kepada kemungkaran dan menyambung silaturrahim. “(HR. Thabrani)

    Dalam Al-Qur’an dinyatakan, balasan kebajikan tiada lain ialah kebajikan pula. Kebajikan yang dilakukan manusia dalam hidup ini sering kali “dibayar kontan” oleh Allah SWT sesuai dengan keikhlasannya. Kalaupun tidak semuanya diperoleh balasan di dunia, Allah SWT menjanjikan balasan yang sempurna di akhirat, sebagaimana dalam firman-Nya:

    سلے مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا تُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ )

    “Barang siapa yang datang dengan (membawa) satu kebajikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat. Barang siapa datang dengan (membawa) satu kejahatan, maka tiada ia dibalasi lebih dari kejahatan (yang sama). Dan ia takkan dizalimi sedikitpun”. (QS. Al An’am: 160).

    Seorang muslim yang baik adalah yang mampu dan bisa menjadi pembuka kebajikan, di manapun ia berada. Karena kebajikan adalah pintu menuju surge. Hal ini telah diingatkan Rasulullah SAW dalam haditsnya;

    عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّة .. (رواه مسلم) “Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan dan kebajikan akan mengantarkan kepada surga.” (HR. Muslim).

    Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

    Ada sebuah ilustrasi yang sangat indah yang digambarkan Nabi SAW terkait dengan urgensi kebajikan sebagai penjaga dari panasnya api neraka. Beliau SAW bersabda:

    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

    “Takutlah kalian dengan (siksa) neraka walaupun dengan (bersedekah) sepotong kurma. Maka apabila kalian tidak menemukannya cukuplah dengan perkataan yang baik.” (HR. Muslim).

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW mengungkapkan kelebihan “amal jariyah” di antara seluruh jenis kebajikan dalam Islam, yaitu pahalanya tetap mengalir walaupun orang yang melakukannya telah meninggal dunia. Sabda Rasulullah SAW:

    إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ (رواه البخاري ومسلم)

    “Apabila meninggal anak Adam, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan (kedua orang tua)-nya.” (HR. Bukhari-Muslim).

    Suatu hal yang penting untuk direnungkan bahwa Islam memberi prioritas terhadap amal jariyah, yaitu amal kebajikan yang memberi manfaat lebih lama dan lebih luas dalam konteks kehidupan duniawi. Semua amal jariyah memang berkaitan dengan kehidupan sosial dan kemanusiaan.

    Akan tetapi kenapa sebagian besar umat Islam saat ini tertinggal dibanding umat lain di bidang kemajuan sosial, ekonomi dan teknologi? Penyebabnya antara lain karena umat Islam kurang memberi perhatian pada amal jariyah. Umat Islam di abad kejayaan masa lalu bisa tampil memimpin peradaban dunia karena ditopang oleh akidah yang kokoh dan amal jariyah yang luas.

    Bagi seorang muslim, setiap saat dari hidupnya adalah kesempatan untuk beribadah dan berbuat baik. Hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi manfaat kepada orang lain. Setiap muslim harus sadar bahwa seluruh perbuatan dan kerja kita di dunia ini, tidak akan hilang begitu saja ditelan masa, tapi semuanya ditulis dalam buku catatan amal yang akan diterima secara terbuka ketika seluruh manusia dikumpulkan di Padang Masyhar.

    “Seorang mukmin harus dapat mengelola dunia untuk kepentingan akhirat,” kata Imam Al-Qurtubi.

    Sungguh tepat kita renungkan ungkapan Ali Syariati, pemikir muslim asal Iran dalam bukunya Humanisme, Antara Islam dan Mazhab Barat, “Seorang yang saleh tak akan dibiarkan sendiri oleh kehidupan. Kehidupan akan menggerakkannya dan zaman akan mencatat amal baiknya”.

    بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهُ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

    2. Manfaat Sedekah

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ. وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورٍ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيبُهُ. بَلَغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَّحَ لِلْأُمَّةِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِينُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْأَوَّلِينَ، وَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْآخِرِينَ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْعَالَمِينَ، وَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي كُلِّ وَقْتِ وَحِيْنِ، وَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْمَلَأُ الْأَعْلَى إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

    فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.

    Melalui mimbar ini, saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian marilah bersama-sama kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Takwa dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bahwasanya tidak ada perbedaan antara seseorang dengan yang lainnya, maka alangkah beruntung dan bahagianya orang yang termasuk golongan orang muttaqin. Karena kelak akan mendapat tempat dan maqom yang mulia di sisi Allah Swt.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.

    Allah Swt. dalam Surah Al-An’am ayat 160 berfirman:

    مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

    “Barang siapa yang membawa amal baik, maka baginya pahala amal baik sepuluh kali lipat.”

    Dikisahkan pada suatu hari, Sayyidah Fatimah azZahra sangat menginginkan buah delima. Sayyidina Ali bin Abi Thalib segera berangkat ke pasar untuk mencari delima yang dimaksud. Mengingat uang yang dimilikinya (waktu itu) sangat terbatas, Sayyidina Ali hanya membelikan satu buah delima untuk Sayyidah Fatimah.

    Di tengah jalan, datang seorang yang sangat miskin menginginkan buah delima. Oleh sayyidina Ali diberikan setengahnya. Sesampai di rumah, Sayyidina Ali menceritakan kepada Sayyidah Fatimah mengapa buah delima yang dibawakannya tinggal setengah. Selang beberapa lama, terdengar seseorang mengetuk pintu. Begitu dibuka, ternyata Salman al-Farisi.

    Ia berdiri di depan pintu dengan membawa sembilan buah delima. Rasulullah Saw. mengutus Salman al-Farisi untuk memberikan sepuluh buah delima kepada Sayyidah Fatimah, hanya saja Salman menyembunyikan satu buah delima. Sehingga yang dibawanya hanya sembilan buah delima.

    Salman lalu berkata, “Ini ada buah delima dari Rasulullah untuk Sayyidah Fatimah.”

    Sayyidina Ali lalu berkata, “Kalau benar ini dari Rasulullah SAW, pasti jumlahnya sepuluh. Bukan sembilan.”

    Mendengar hal itu, Salman al-Farisi kaget. Lalu bertanya, “Bagaimana engkau tahu, wahai Sayyidina Ali?”

    Sayyidina Ali menjawab, “Karena saya ingat firman Allah SWT yang berbunyi ‘man ja a bi al-hasanati fa lahu ‘asyru amtsaliha’. Barang siapa yang membawa amal baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya.”

    Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah.

    Bukan hanya dilipatgandakan balasannya. Orang yang rajin sedekah akan dihindarkan dari beragam bencana dan malapetaka. Rasululllah SAW bersabda:

    دَوُوُا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

    “Obatilah, orang-orang sakit kalian dengan sedekah.”

    Al-‘Allamah al-Yafi’ dalam kitabnya At-Targhib wa Tarhib menuturkan sebuah kisah. Pada masa Nabi Sholeh a.s., hiduplah seorang tukang tato yang suka merusak pakaian orang-orang. Sekelompok orang lalu menemui Nabi Sholeh a.s. dan berkata, “Wahai Nabiyallah, doakan orang (tukang) tato itu agar ditimpa musibah karena dia suka merusak pakaian-pakaian kami.”

    Nabi Sholeh a.s. lalu berdoa agar tukang tato tersebut pulang dalam keadaan tidak selamat. Namun, sore harinya Nabi Sholeh a.s. kaget melihat tukang tato tersebut pulang dengan membawa bundelan dan selamat. Di dalam bundelan itu ada seekor ular yang ganas dan berbisa.

    Lalu Nabi Sholeh bertanya, “Wahai tukang tato, apa yang kamu lakukan tadi pagi sebelum berangkat?”

    Tukang tato menjawab, “Saya berangkat dengan membawa dua buah roti. Satu roti saya sedekahkan kepada orang dan satu roti saya makan.”

    Lalu Nabi Sholeh berkata, “Benar, Allah telah menyelamatkan kamu dari bahaya malapetaka ular yang bersembunyi di dalam bundelan yang kamu bawa lantaran sedekah yang kamu lakukan. Pergi, dan bertobatlah.”

    Tukang tato itu pun bertaobat dan tidak melakukan kejahatan yang dia lakukan lagi.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.

    Sungguh luar biasa keajaiban sedekah. Saking luar biasanya, Ibn Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma’ad mengatakan: “Dalam bersedekah banyak hal luar biasa, termasuk menolak beragam bencana dan penyakit. Sekalipun yang melakukan sedekah adalah orang yang durhaka ataupun orang yang banyak menganiaya.”

    Mengingat banyaknya manfaat sedekah, pengarang kitab Tanbihul Ghofilin, Imam Samarqandi mengatakan:

    “Biasakanlah kamu untuk terus bersedekah, baik dalam jumlah kecil maupun jumlah yang besar karena dalam sedekah ada sepuluh manfaat. Lima manfaat yang akan kamu peroleh ketika di dunia dan lima manfaat ketika di akhirat kelak.”

    Lima manfaat yang akan diperoleh di dunia adalah menyucikan harta, menyucikan badan dari perbuatan dosa, dapat menolak beragam bencana dan penyakit, membahagiakan orang miskin, dan menjadikan harta kekayaan berkah, serta rizki akan menjadi melimpah.

    Ada pun manfaat yang diperoleh di akhirat adalah sedekah menjadi pelindung dari sengatan panasnya matahari kelak, mendapat ridha Allah, membantu melewati shirath (jembatan), dan mengangkat ketinggian derajat di surga kelak.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.

    Marilah kita budayakan gemar sedekah dalam kondisi apa pun. Karena di antara ciri orang yang bertakwa adalah orang yang tetap bersedekah ketika sempit atau lapang, ketika suka ataupun duka, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 133-134:

    وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (۱۳۳) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤)

    Jangan sampai datang penyesalan di belakang.

    Sebagaimana firman Allah:

    وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

    “Dan berinfaklah kalian dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah satu di antara kalian, lalu ia berkata, wahai Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan saya bisa bersedekah dan saya termasuk golongan orang-orang yang saleh.”

    بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَاسْتَغْفِرُوا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    3. Kemuliaan Ahli Sedekah

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَا بَعْدُ

    قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

    Jamaah salat Jumat yang dimuliakan Allah.

    Hadirin Jamaah salat Jumat yang insya Allah selalu berada dalam naungan rahmat dan hidayah Allah Swt., kita tak henti-hentinya memuji dan bersyukur kepada Allah Swt., yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, karunia yang sangat besar yang Dia berikan kepada hamba-Nya. Tentu saja, kita bersyukur atas nikmat ini. Semua pujian hanya milik Allah, Alhamdulillah. Tidak pantas bagi manusia untuk mengharapkan pujian dan merasa berjasa.

    Pada kesempatan yang mulia ini, selaku khatib mengajak semua orang yang hadir untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Keimanan berarti kita senantiasa selalu berusaha untuk menghadirkan Allah dalam setiap situasi dan keadaan dengan berzikir dan melakukan segala perintahNya. Takwa berarti kita senantiasa melibatkan Allah dalam setiap masalah yang kita hadapi dengan berdoa, memohon pertolongan, dan meminta bantuan dari-Nya.

    يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقْتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekalikali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

    Selanjutnya, salawat serta salam semoga selalu tercurah tak henti hentinya kepada Nabi Muhammad saw., beserta keluarganya dan para sahabatnya.

    Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

    Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita bersama-sama membaca hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw., bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta manusia. Sedekah tidak akan mengurangi harta.”

    Selain itu, Syaikh Kulaini dalam kitabnya, Al-Kafi meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far Shadiq, Rasulullah saw. bersabda, “Obati penyakitmu dengan sedekah, dan hilangkan kesulitan-kesulitan dan musibah dengan sedekah. Sedekah membuang tujuh puluh syetan dari apa yang ada dalam janggut seseorang, dan sedekah akan lebih dulu sampai ke tangan Allah Swt., sebelum sampai ke tangan orang yang membutuhkan.”

    Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

    Dalam buku Kisah-kisah Ajaib Pembeli Surga karya Ahmed Al-Ali, dikisahkan dari Mullah Fatih Ali bahwa seorang kawan dekatnya, laki-laki mengaku memiliki sejumlah lahan pertanian. Namun, selama setahun perekonomian di daerahnya memburuk sehingga banyak orang menderita akibat kelaparan. Akhirnya, lakilaki itu memutuskan untuk mensedekahkan hasil panen dari salah satu ladang pertaniannya untuk orang-orang miskin. Ia pun pergi ke masjid dan mengumumkan kepada semua orang bahwa mereka boleh memanfaatkan tanah ladangnya, dan mengambil semua hasil panennya sesuai kebutuhan.

    Orang-orang pun berbondong-bondong pergi ke ladang milik sang Laki-laki dan menggarap dalam jumlah besar. Pemilik lahan tersebut cukup sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak pernah memerhatikan ladang pertaniannya.

    Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

    Setelah ia memanen semua lahan pertaniannya, ia teringat akan ladang yang diberikan untuk sedekah itu. Segera ia memerintah orang untuk mengumpulkan semua batang kering, tumbuhan, dan bulir-bulir yang masih tersisa.

    Menakjubkannya, para pegawai sang Lelaki melihat bahwa masih ada banyak hasil panen yang tersisa. Mereka juga mendapati hasil panen melebihi hasil panen tanah pertanian yang lain. Terlebih lagi, umumnya tanah pertanian yang telah dipanen harusnya dibiarkan terlebih dahulu tanpa ditanami apapun selama setahun agar tanah kembali normal. Selain itu, tanah bisa memiliki mineralmineral yang hilang. Namun, bedanya, tanah pertanian yang diberikan untuk sedekah justru tidak kehilangan kesuburannya sehingga bisa ditanami kembali. Perumpamaan kisah ini kiranya sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261.

    مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَثْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضْعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

    Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

    Dari khutbah di atas dapat kita ambil pelajaran penting bahwa kisah tersebut mengajarakan kepada kita untuk memperbanyak sedekah, apa lagi dibulan yang penuh berkah yakni bulan suci Ramadan. Hikmah lainnya adalah bahwa perintah untuk terus bersedekah adalah kita tidak tahu sedekah yang mana yang akan diterima oleh Allah.

    Demikian khutbah singkat ini. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita sebagai hamba-hamba ahli sedekah dan setiap sedekah yang kita keluarkan diterima sebagai catatan amal yang membawa kepada surganya Allah. Amin.

    وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّلِحَتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

    بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

    وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

    وَتَقَبَّلَ مِنَى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتِهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Hadits Ini Jelaskan Keutamaan Sholat Jumat


    Jakarta

    Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang keutamaan sholat Jumat. Sholat sunnah di hari Jumat ini mendatang pahala dan berkah jika dikerjakan dengan niat tulus semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.

    Bagi umat muslim, Jumat merupakan hari yang istimewa. Banyak amalan yang mendatangkan pahala berlimpah ketika dikerjakan di hari Jumat.

    Mengutip buku Superberkah Shalat Jumat: Menggali dan Meraih Keutamaan dan Keberkahan di Hari Paling Istimewa karya Firdaus Wajdi dan Luthfi Arif dijelaskan bahwa Jumat menjadi simbol hari berkumpul dalam sosialisasi umat Islam.


    Hal ini sesuai dengan makna “Jumat” itu sendiri yang secara etimologis berasal dari kata jama’a – yajmau- jama’ah yang berarti “berkumpul”. Dalam Al-Mu’jam Al-Wasith, kata al-jum’atu berarti al-majmu’atu yang bermakna “kumpulan”.

    Menurut Ibnu Sirin, yang pertama kali menyebut ‘Jumat’ adalah kaum Anshar. Ketika itu, penduduk Madinah (Anshar) berkumpul di hari ‘Arubah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah). Mereka berkata, “Dalam satu minggu umat Yahudi memiliki satu hari khusus untuk berkumpul, yaitu hari Sabtu. Umat Nasrani juga memiliki hari khusus, yakni hari Ahad. Mari kita berkumpul untuk menciptakan satu hari khusus, yang pada hari itu kita berzikir dan berdoa kepada Allah.”

    Mereka berkata, “Sabtu adalah harinya umat Yahudi. Ahad adalah harinya umat Nasrani. Maka, mari jadikan ‘Arubah hari khusus bagi kita’. Mereka lalu berkumpul untuk menemui As’ad bin Zurarah atau yang dikenal dengan sebutan Abu Umamah. Mereka shalat dua rakaat dengan As’ad bin Zurarah sebagai imam.

    Dalam pertemuan itu, Asad juga menyembelih seekor kambing untuk hidangan makan siang setelah shalat. Sejak saat itulah ‘Arubah dinamakan Jumat, yang secara harafiah berarti ‘hari berkumpul’.

    Hadits tentang Keutamaan Sholat Jumat

    Buku Rahasia Kedahsyatan Hari Jumat Berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah karya Nur Aisyah Albantany menjelaskan sholat Jumat memiliki banyak keutamaan. Sebut saja mulai dari cara bersuci yang sangat dianjurkan untuk mandi besar sebagaimana mandi janabat, cara berpakaian yang dianjurkan memakai pakaian terbagus dan menggunakan wewangian.

    Berikut ini beberapa dalil hadits Rasulullah SAW yang menunjukkan keutamaan sholat Jum’at.

    1. Pahala besar bagi yang datang awal ke masjid

    Diriwayatkan dari Aus bin Aus r.a, berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa mandi pada hari Jumat, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585).

    2. Amalan yang dicatat malaikat

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda:
    “Jika tiba hari Jumat, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jumat adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164)

    3. Diampuni dosa di antara dua Jumat

    Diriwayatkan dari Salman r.a, Rasulullah SAW bersabda:
    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak wangi yang di rumahnya, kemucian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan khutbah dengan seksama ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan Jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya, no. 859)

    4. Pahala mendengarkan khutbah

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum’at, “diamlah!” sewaktu imam berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘Alaih, lafadz milik Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 859)

    Dalam riwayat Ahmad, dari lbnu ‘Abbas r.a, Rasulullah SAW bersabda:
    “Siapa yang berbicara pada hari Jumat, padahal imam sedang berkhutbah, maka dia seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Dan orang berkata kepada (saudara)-nya, “diamlah!”, tidak ada Jumat baginya.” (HR. Ahmad).

    Hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa sholat Jumat memiliki pahala besar. Barangsiapa melaksanakannya sesuai dengan syarat-syaratnya, tata tertibnya, sunnah-sunnahnya, maka dia akan memperoleh banyak pahala dan keutamaan sebagai berikut:

    – Setiap langkah dari rumahnya menuju ke masjid mendapatkan pahala seperti pahala puasa dan pahala sholat malam setahun penuh.

    – Mendapatkan pahala seperti orang yang berqurban unta, atau sapi, atau kambing, atau ayam, atau telur, sesuai seberapa awal ia berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat.

    – Mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah ia lakukan hingga tiba shalat Jumat berikutnya dan tambahan tiga hari menurut sebagian riwayat.

    – Malaikat mencatat pahala shalat Jumatnya di dalam catatan mereka, selain catatan malaikat yang bertugas menuliskan amal.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Amalan Sebelum Sholat Jumat, Laki-laki Muslim Wajib Tahu!



    Jakarta

    Ada amalan yang bisa dikerjakan sebelum melaksanakan sholat Jumat. Amalan ini sebagaimana dilakukan dan dicontohkan Rasulullah SAW semasa hidupnya.

    Amalan sebelum sholat Jum’at ini bisa dikerjakan laki-laki muslim sebelum berangkat ke masjid untuk menunaikan kewajiban sholat Jum’at.

    Mengutip buku Super Berkah Shalat Jumat: Menggali dan Meraih Keutamaan dan Keberkahan di Hari Paling Istimewa karya Firdaus Wajdi dijelaskan, Rasulullah SAW rutin melakukan beberapa hal sebelum melaksanakan sholat Jum’at. Hal-hal tersebut secara lahiriah berhubungan erat dengan kebersihan jasmani.


    Dalam ajaran Islam, kaum muslimin memang diperintahkan untuk senantiasa memperhatikan aspek kebersihan.

    Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah agama yang bersih. Maka, jagalah kebersihan karena tidak akan masuk ke dalam surga kecuali orang yang bersih.” (HR. Ath Thabrani)

    Amalan Sebelum Sholat Jum’at

    Berikut beberapa amalan yang bisa dikerjakan sebelum berangkat sholat Jumat:

    1. Mandi

    Ada banyak hadits Rasulullah SAW yang menerangkan perintah mandi sebelum melaksanakan sholat Jumat. Salah satunya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah satu dari kalian melaksanakan sholat Jumat maka hendaknya ia mandi terlebih dahulu.” (HR Bukhari)

    Dalam hadits lain, dari Abdullah bin Abi Qatadah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mandi pada hari Jumat maka ia berada dalam kesucian sampai Jumat berikutnya.” (HR Al Hakim)

    Mandi sebelum sholat Jumat juga menjadi amalan penghapus dosa. Dari Abu Umamah, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Mandi pada hari Jumat itu dapat mencerabut kesalahan hingga ke akar rambut.” (HR Ath Thabrani)

    2. Bersiwak

    Bersiwak menjadi amalan sunnah sebelum sholat Jumat. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan mulut.

    Dari Aisyah ra. Nabi Muhammad bersabda, “Siwak itu dapat membersihkan mulut dan membuat senang Allah.” (HR An Nasa’i)

    Dalam hadits lain, dari Abu Sa’id Al Khudri, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Mandi pada hari Jumat adalah keharusan bagi orang yang sudah balig, dan hendaknya bersiwak dan memakai wewangian semampunya.” (HR Muslim)

    3. Mengenakan Pakaian Terbaik

    Amalan sunnah selanjutnya adalah mengenakan pakaian yang terbaik. Pakaian yang baik mencerminkan kemuliaan orang yang mengenakannya. Pakaian juga mencerminkan kemuliaan momen dan orang yang ditemui di momen tersebut.

    Sholat Jumat merupakan Hari Raya bagi umat Islam. tentu hari ini menjadi momen yang mulia.

    Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang telah balig hendaknya mandi di hari Jumat dan mengenakan salah satu pakaian terbaik yang ia miliki. Jika ia memiliki minyak wangi maka oleskanlah.” (HR Ahmad)

    Maksud dari pakaian terbaik ini bukanlah baju yang baru dan mewah tetapi baju yang menutup aurat, bersih, tidak terbuat dari sutra, tidak mencolok, tidak bergambar, dan dianjurkan berwarna putih.

    Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Pakailah pakaian yang berwarna putih. Sesungguhnya itu adalah sebaik-baik pakaian yang kalian gunakan. Dan kafankanlah orang yang meninggal dengan pakaian putih.” (HR At Tirmidzi)

    4. Memakai wewangian dan mengoleskan minyak rambut

    Amalan lain sebelum sholat Jumat adalah memakai wewangian dan mengoleskan minyak rambut.

    Dari Az Zuhri Thawus berkata, aku bertanya pada Ibnu Abbas mereka mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Mandilah kalian jika hendak menunaikan sholat Jumat dan basuhlah kepala kalian walaupun kalian tidak sedang junub, dan pakailah wewangian.”(HR Al Bukhari)

    Dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, hendaklah di hari ini (Jumat) kalian mandi. Pakailah minyak wangi dan minyak rambut terbaik yang kalian miliki.” (HR Al Hakim)

    5. Memotong kuku dan mencukur kumis

    Anggota tubuh yang dianjurkan untuk dirapikan sebelum melaksanakan sholat Jumat adalah kuku dan kumis. Rasulullah SAW menganjurkan untuk memotong kuku dan mencukur kumis sebelum sholat Jumat.

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW memotong kukunya dan mencukur kumisnya pada hari Jumat sebelum berangkat sholat. (HR Al Baihaqi)

    Itulah beberapa amalan yang dapat dilakukan sebelum berangkat sholat Jumat.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hukum Sholat Jumat Bagi Perempuan, Bolehkah?



    Jakarta

    Hari Jumat merupakan hari yang penuh berkah bagi umat muslim. Pada hari ini, ada satu ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh laki-laki, yaitu sholat Jumat.

    Kewajiban ini tercantum dalam Al Quran dan juga dijelaskan dalam beberapa hadits. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Jumu’ah ayat 9 sebagai berikut:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ


    Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”

    Adapun dalam buku Fiqih Praktis I yang ditulis oleh Muhammad Bagir disebutkan bahwa syarat melaksanakan sholat Jumat adalah setiap laki-laki muslim yang sudah baligh, berakal (tidak gila), mukim di kotanya, mampu (atau kuasa) pergi ke tempat diselenggarakan sholat Jumat, dan tidak mempunyai alasan (udzur) tertentu yang membolehkannya meninggalkan sholat tersebut.

    Lantas, bagaimana hukumnya jika sholat Jumat dilaksanakan oleh perempuan?

    Bolehkan Perempuan Ikut Sholat Jumat?

    Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, Allah pun menjamin bahwa setiap kewajiban beribadah pasti diikuti oleh kemudahannya. Oleh karenanya, Islam tidak membebani umatnya untuk melakukan ibadah kecuali bagi yang mampu. Dalam hal ini, Islam memiliki kriteria yang mewajibkan seseorang untuk melaksanakan sholat Jumat.

    Dari Thariq bin Syihab, Rasulullah SAW bersabda: “Sholat Jumat itu dilaksanakan secara jamaah dan wajib hukumnya bagi seorang muslim selain hamba sahaya, perempuan, anak-anak, atau orang yang sakit,” (HR Abu Dawud).

    Kriteria utamanya adalah laki-laki. Namun, tidak berarti kaum perempuan tidak diperkenankan untuk melaksanakan sholat Jumat. Hanya saja, kaum perempuan lebih dianjurkan untuk sholat di rumah. Sebagaimana sabda Rasulullah yang dinukil dari buku Superberkah Shalat Jumat yang ditulis oleh Firdaus Wajdi dan Luthfi Arif berikut ini:

    Dari Ibnu ‘Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian mencegah para perempuan (yang berada dalam tanggung jawab) kalian untuk pergi ke masjid, tapi (sholat) di rumah-rumah mereka itu lebih baik lagi bagi mereka,” (HR Abu Dawud).

    Salah satu alasan mengapa perempuan lebih diutamakan sholat di rumah adalah karena sholat Jumat dilaksanakan secara berjamaah sehingga dikhawatirkan akan terjadi fitnah apabila antara laki-laki dan perempuan yang berjumlah banyak berkumpul dalam satu tempat.

    Namun, apabila hal tersebut diantisipasi seperti misalnya terdapat fasilitas khusus untuk perempuan yang ingin melaksanakan sholat Jumat, maka hal tersebut juga diperbolehkan dan sifatnya tidak wajib (maka terhitung sunnah).

    Sementara itu, perempuan yang sholat Jumat berjamaah bersama imam hukumnya sah dan tidak wajib sholat Dzuhur. Akan tetapi, bila ia tidak ingin sholat berjamaah, misalnya ingin sholat di rumah saja, maka perempuan tersebut harus melaksanakan sholat Dzuhur, bukan sholat Jumat. Hal ini dikarenakan sholat Dzuhur adalah sholat fardhu yang wajib dilaksanakan dan lebih utama bagi perempuan.

    Adapun bagi perempuan yang melaksanakan sholat Jumat berjamaah dengan sesama perempuan maka hukumnya tidak sah karena pada dasarnya pelaksanaan sholat Jumat bagi perempuan harus mengikuti tata cara pelaksanaan sholat Jumat bagi laki-laki. Sebab, pelaksanaan syiar agama melalui khutbah Jumat hanya dapat dilakukan oleh laki-laki.

    Perempuan Sholat Jumat di Masa Rasulullah

    Merangkum Buku Saku Dirasat Islamiyah yang disusun oleh KH Mahir M Soleh, dkk., Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim memberikan penjelasan jika para ulama sudah bersepakat jika perempuan muslim bisa mengikuti sholat Jumat di masjid sebagaimana yang dilakukan perempuan pada zaman Rasulullah.

    Hal ini dibuktikan dari penjelasan Ummu Hisyam binti Al Harits RA, beliau mengatakan, “Tidaklah aku hafal surat Qaf kecuali dari lisan Rasulullah SAW, beliau berkhutbah dengannya (membacanya) pada setiap hari Jumat.”

    Adapun perempuan yang diperbolehkan menghadiri sholat Jumat juga harus memenuhi kriteria tertentu, yakni tidak menimbulkan fitnah. Dalam kitab “Al-Majmu”, Imam an-Nawawi mengutip pendapat Syekh Al-Bandaniji yang memberi pernyataan jika disunnahkan bagi perempuan yang sudah tua untuk mengikuti sholat Jumat. Begitu pula perempuan yang telah diberi izin oleh suami.

    Sedangkan bagi perempuan yang masih muda dimakruhkan untuk mengikuti sholat Jumat bersama pria. Hal ini disebabkan karena pada umumnya perempuan yang masih muda dan cenderung gemar bersolek seringkali menimbulkan fitnah.

    Demikian penjelasan dari hukum sholat Jumat bagi perempuan. Semoga bermanfaat dan dapat memberikan pencerahan ya, Detikers!

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com