Tag: siksa kubur

  • Urutan Cara Mengirim Yasin untuk Orang Sakit


    Jakarta

    Mengirim Surah Yasin untuk orang sakit menjadi salah satu cara memberikan doa dan dukungan spiritual yang diharapkan dapat membawa ketenangan, perlindungan, dan kemudahan bagi yang sedang diuji oleh penyakit.

    Cara mengirim Yasin untuk orang sakit sering kali dilakukan dengan berbagai metode, baik dibacakan secara langsung di dekatnya atau dibacakan dari jauh. Mengutip dari buku Fadhilah & Keutamaan Al-Isrâ’, Al-Kahfi, Yâsîn yang diterbitkan oleh Shaf Electronic Publishing, dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa membaca surah Yasin untuk Allah, maka Dia akan mengampuninya dan memberinya pahala sebanyak 12 kali orang membaca seluruh Al-Qur’an. Bila orang sakit dibacakan surah Yasin, maka Allah akan menurunkan untuk setiap huruf yang terdapat dalam surah ini seribu malaikat yang berdiri berbaris di hadapannya sambil memintakan ampunan, menyaksikan pencabutan nyawanya, mengusung janazahnya, melaksanakan shalat untuknya, dan menyaksikan penguburannya. Bila orang sakit yang berada dalam sakaratul maut membaca atau dibacakan untuknya surah Yasin, maka Malaikat Ridhwan, penjaga surga, akan mendatanginya di ranjangnya dengan seteguk minuman surga yang akan membuatnya puas dan meninggal dalam keadaan puas (tidak dahaga), dibangkitkan dalam keadaan puas, dan tidak membutuhkan lagi (untuk minum) di telaga para nabi hingga ia akan masuk surga dalam keadaan puas.”


    Hadits ini menunjukkan bahwa membaca surah Yasin di sisi orang yang sakit atau sedang menghadapi sakaratul maut memiliki nilai yang begitu mulia, hingga malaikat pun turun untuk menyertainya.

    Cara Mengirim Yasin untuk Orang Sakit

    Berikut adalah urutan cara-cara mengirim surah Yasin untuk orang sakit Menurut artikel berjudul Tradisi Pembacaan Yasin 41 Studi Living Qur’an karya Tia Subu Simamora dkk yang terbit di Jurnal GARUDA Kemdikbud:

    1. Menjelaskan Niat

    Pembaca dapat menentukan niat awal untuk mengirim bacaan Yasin sebagai bentuk ikhtiar memohon kesembuhan untuk orang yang sakit atau kelancaran sakaratul maut bagi yang sakit.

    2. Pembacaan Istighfar dan Tawasul

    Sebelum mulai membaca surah Yasin, pembaca dapat mengucapkan istighfar tiga kali diikuti dengan doa tawasul. Tawasul dilakukan untuk memohon perantaraan kebaikan para nabi dan orang-orang saleh agar doa lebih mudah dikabulkan.

    Berikut adalah bacaan tawasul dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah.

    إلى حَضْرَةِ النَّبِيِّ المُصْطَفَى مُحَمَّدٍ رَّسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وعلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذُرِّيَاتِهِ وَأَزْوَاجِه وَأَهْلِ بَيْتِهِ أَجْمَعِينَ وَلِكَافَّةِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ شَيْءٌ اللَّهُ لَهُ وَلَهُمُ الْفَاتِحَة

    ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ آبَاءِنَا وَأُمَّهَا تِنَا وَإِلَى أَرْوَاحِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنَيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ لْأَرْضِ إِلى مَعَا رِهَا خصوصا احمد الديربي الفا تحة

    3. Menyebut Nama Orang Sakit dalam Doa

    Setelah bertawasul, selanjutnya adalah membaca doa khusus untuk orang sakit diucapkan dengan menyebutkan nama lengkapnya.

    Tujuan doa ini adalah agar bacaan Yasin disampaikan khusus kepada orang sakit dengan harapan diberikan kemudahan dalam kesembuhan dari sakitnya atau sakaratul maut.

    4. Membaca Surah Al-Fatihah

    Sebelum memulai Yasin, pembaca dapat membaca surah Al-Fatihah terlebih dahulu.

    5. Membaca Ta’awudz

    Setelah itu, pembacaan ta’awudz dilakukan untuk mengawali bacaan Yasin.

    6. Membaca Surah Yasin

    Surah Yasin dapat dibaca secara bersama-sama atau sendiri.

    7. Mengucapkan Shalawat

    Setelah selesai membaca Yasin, selanjutnya adalah membaca shalawat sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

    8. Berdoa untuk Orang Sakit

    Doa setelah membaca surah Yasin dipanjatkan dengan harapan agar Allah SWT memberikan ketenangan, kesembuhan, atau mempermudah sakaratul maut jika sudah waktunya.

    Doa Setelah Membaca Surah Yasin

    Berikut adalah doa yang biasa dibaca setelah Surah Yasin seperti yang dikutip dari arsip DetikHikmah.

    اللّٰهُمَّ اِنّٓا نَسْتَحْفِظُكَ وَ نَسْتَوْدِعُكَ اَدْيَانَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَهْلَنَا وَاَوْلَادَنَا وَاَمْوَالَنَا وَكُلِّ شَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِن كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيدٍ وَذِى عَيْنٍ وَذِى بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى شَرٍّ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اَللّٰهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَالسَّلَامَةِ وَحَقِّقنَا بِالتَّقْوٰى وَالْاِسْتِقَامَةِ وَاَعِذْناَ مِنْ مُوجِبَاتِ النَّدَامَةِ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِاَوْلَادِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِاِخْوَانِنَا ِفِى الدِّينِ وَلِاَصْحَابِنَا وَاَحْبَابِنَا وَلِمَنْ اَحَبَّنَا فِيكَ وَلِمَنْ اَحْسَنَ اِلَيْنَا وَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ يَارَبَّ العَالَمِيْنَ. وَصَلِّ اَللّٰهُمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. وَارْزُقْنَا كَمَالَ الْمُتَابَعَةِ لَهُ وَظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِي عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

    Arab-latin: Allahumma inna nastahfidzhuka wa nastaudi’uka diinana wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai’in a’thaitanaa.

    Allahummaj’alnaa wa iyyaa hum fii kanafika wa amaanika wa jiwaarika wa ‘iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin’ aniid wa dzii ‘ainin wa dzii baghyin wa min syarri kulli dzii syarrin innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.

    Allahumma jamilnaa bil’aafiyati was salaaati wa haqqiqnaa bit taqwaa wal istiqaamati wa a’idznaa min muujibaatin nadaamati innaka samii’ud du’aa’i.

    Allahummaghfirlanaa wa li waalidiina wa li aulaadinaa wa li masyaa-yikhinaa wa li ikhwaaniaa fiddiini wa li ashhaabinaa wa ahbaabinaa wa liman ahabbanaa fiika wa liman ahsana ilainaa wa lil mukminiina wal mukminaati wal musliminiina wal muslimaati ya rabbal ‘aalamiin.

    Wasalallahumma ala abdika warasulika saiyadinaa wamaulanaa muhammadin wa ala lihi wasabihi wasallam. war zuqna kamalal mutaba’ati lahu dhohiron wa bathinan fi ‘afiyatin wa salamatin birohmatika ya arhamar rohimina.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami mohon pemeliharaan-Mu dan kami menyerahkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta-harta kami dan segala yang telah Engkau berikan kepada kami.

    Ya Allah, jadikanlah kami dan juga mereka berada di dalam pemeliharaan-Mu, keamanan-Mu dan perlindungan-Mu dari setiap gangguan syetan pendurhaka, orang-orang takabur yang keras kepala, orang yang mempunyai pandangan jahat, kedhaliman dan dari pada kejahatan setiap orang yang mempunyai kejahatan. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

    Ya Allah, perindahkanlah kami dengan keselamatan dan kesejahteraan. Karuniakanlah kepada kami ketakwaan dan istiqomah. Lindungilah kami dari perkara-perkara yang menyebabkan kami mendapat penyesalan. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar sesuatu doa.

    Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, anak-anak kami, guru-guru kami, saudara-saudara seagama kami, sahabat-sahabat karib kami, orang-orang yang mencintai kami karena Engkau, orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kami, dari kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, wahai Tuhan yang mengatur alam semesta.

    Ya Allah, curahkanlah rahmat dan keselamatan kepada hamba-Mu dan utusan-Mu, junjungan kami dan tuan kami Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan para sahabatnya. Karuniakanlah kepada kami kesempurnaan mengikuti ajarannya, secara dhahir dan batin, di dalam kesejahteraan dan keselamatan dengan kasih sayang.”

    Manfaat Membaca Surah Yasin

    Selain bermanfaat untuk orang sakit, surah Yasin juga memiliki banyak keutamaan lain yang luar biasa. Berikut adalah beberapa manfaat membaca surah Yasin:

    1. Pahala setara membaca Al-Qur’an 10 kali
    2. Sebagai jantungnya Al-Qur’an
    3. Dijamin ampunan dosa
    4. Mengurangi siksa kubur
    5. Pendamping di saat sakaratul maut
    6. Memberikan keutamaan mati syahid

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Syahidnya Masyithah, Tukang Sisir Putri Fir’aun yang Pertahankan Islam


    Jakarta

    Seluruh perbuatan manusia selama di dunia menjadi penentu mereka di akhirat kelak. Mereka yang rugi dan banyak berbuat buruk akan diganjar siksa kubur.

    Dalil tentang siksa kubur tercantum dalam Al-Qur’an, salah satunya pada surah Al An’am ayat 93:

    وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ قَالَ اُوْحِيَ اِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ اِلَيْهِ شَيْءٌ وَّمَنْ قَالَ سَاُنْزِلُ مِثْلَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ ٩٣


    Artinya: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya dan orang yang berkata, “Aku akan mendatangkan seperti yang diturunkan Allah.” Seandainya saja engkau melihat pada waktu orang-orang zalim itu (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sembari berkata), “Keluarkanlah nyawamu!” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

    Berkaitan dengan siksa akhirat, ada sebuah kisah yang didasarkan dari riwayat Imam Ahmad yang berasal dari Abu Dharir, dari Hammad bin Salamah, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas. Dikutip dari Karamat Al-Auliya’ susunan Abul Fida’ Abdurraqib bin Ali bin Hasan Al-Ibi yang diterjemahkan oleh Abdurrosyad Shidiq, diceritakan Rasulullah pada malam Isra mencium aroma harum.

    Bertanyalah dia kepada Malaikat Jibril, “Wahai Jibril, aroma apakah ini?”

    “Itu adalah aroma wanita yang menyisir putri Fir’aun dan anak-anaknya,” jawab Jibril.

    Mendengar hal itu, sang rasul kembali bertanya, “Apa yang terjadi padanya?”

    Malaikat Jibril lalu menceritakan, “Pada suatu hari ketika Masyithah sedang menyisir putri Fir’aun, sisirnya jatuh dari tangannya. Lalu, secara spontan ia berkata, ‘Dengan nama Allah’.

    Putri Fir’aun bertanya, ‘Itu ayahku?’

    Sang wanita lalu menjawab, ‘Bukan. Tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu. Dialah Allah.’

    Putri Fir’aun kembali bertanya, ‘Bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada ayahku?’

    Tanpa ragu, wanita tersebut mengiyakan pertanyaan sang putri Fir’aun itu. Setelahnya, wanita tersebut dipanggil oleh Fir’aun dan ditanyai, ‘Hai pelayan, apakah kamu punya Tuhan selain aku?’

    ‘Punya. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.’

    Kemudian, Fir’aun menyuruh mengambilkan sebuah wajan besar. Setelah diisi dengan air mendidih, wanita tersebut beserta anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya.

    Sebelum dilempar, wanita itu berkata, ‘Aku punya satu permintaan kepadamu,’

    ‘Apa permintaanmu?’ tanya Fir’aun.

    ‘Aku ingin kamu mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku pada selembar kain, lalu kamu kubur kami dalam satu liang lahat.’ jawabnya.

    Fir’aun mengiyakan permintaan sang wanita. Ia lalu menggiring wanita tersebut dan anaknya satu per satu ke dekat wajan.

    Ketika tiba giliran seorang ibu dan bayinya yang masih menyusu, bayi itu lalu melihat ke arah ibunya yang seakan-akan ragu untuk memasuki bejana. Sang bayi secara tiba-tiba berkata, ‘Hai ibu, masuklah. Sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan daripada siksa akhirat.’

    Lalu, wanita itu memasukinya.”

    Cara Berlindung dari Siksa Kubur

    Sebagaimana yang diketahui, siksa kubur menjadi sesuatu yang menakutkan bagi setiap orang. Meski demikian, ada sejumlah cara untuk berlindung dari siksa kubur.

    Mengutip dari buku 1001 Siksa Kubur oleh Abdul Rahman, berikut beberapa caranya.

    • Rutin berdzikir
    • Membaca surah Al Mulk
    • Memperbarui taubatnya
    • Menjauhi sebab yang menjerumuskan ke dalam azab kubur
    • Mengevaluasi diri sendiri atas apa yang telah dilakukan, baik perkara yang dirugikan maupun perkara yang menguntungkan
    • Ada juga doa dari siksa kubur yang dapat dipanjatkan,

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

    Arab latin: Allaahumma innii ‘auudzu bika min ‘adzaabi al-qabri wa min ‘adzaabi jahannama wa min fitnati al-mahyaa wa al-mamaati wa min syarri fitnati al-masiihi ad-dajjaali.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR Bukhari & Muslim)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Orang yang Tak Mandi Junub Dapat Perlakuan Kasar di Alam Kubur



    Jakarta

    Mandi junub hukumnya wajib bagi orang yang berhadas besar. Ada riwayat yang mengisahkan seseorang mendapat perlakuan kasar karena semasa hidup pernah tak mandi junub.

    Kisah ini diceritakan Imam al-Ghazali dalam kitab Kasyf ‘Ulum al-Akhirah yang diterjemahkan Abu Hamida MZ dengan bersandar pada riwayat yang diceritakan oleh lebih dari seorang perawi.

    Diriwayatkan, orang-orang yang telah meninggal terlihat dalam mimpi. Lalu ditanyakan kepada mereka tentang kondisinya di alam kubur, “Apa yang Allah perbuat kepadamu?”


    Ia menjawab, “Tinggalkanlah aku. Pada suatu hari, aku pernah tidak dapat mandi junub. Karenanya, Allah memakaikan kepadaku pakaian dari api sehingga aku menggeliat-geliat hingga tubuhku hangus.”

    Seperti diketahui, para ulama menyatakan hukum mandi junub adalah wajib. Dalil kewajiban mandi junub bersandar pada firman Allah SWT dalam surah Al Maidah ayat 6,

    وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ

    Artinya: “Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah.”

    Terkait bersuci dari hadas, ada juga riwayat yang menceritakan seseorang terlihat di mimpi lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Orang itu menjawab, “Aku pernah menunaikan salat tanpa berwudhu. Karenanya, Allah menyerahkan kepadaku serigala yang menakutkanku di dalam kuburanku. Keadaanku adalah sejelek-jeleknya keadaan.”

    Imam al-Ghazali juga menceritakan riwayat serupa tentang kondisi orang di alam kubur yang terlihat dalam mimpi. Di antara mereka ada yang terlihat lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang Allah perbuat kepadamu?”

    Orang itu menjawab, “Orang yang memandikanku membawaku dengan kasar sehingga sebuah paku yang tertancap pada tempat memandikan merobek-robek tubuhku. Karenanya, aku merasa sakit.”

    Ketika pagi tiba, hal tersebut ditanyakan kepada orang yang memandikannya. Ia menjawab, “Hal itu bukan keinginanku–tidak sengaja melakukannya.”

    Banyak hadits lain yang menceritakan kisah-kisah semacam ini. Imam al-Ghazali mengatakan hadits tersebut menjelaskan bahwa para penghuni kubur juga merasakan sakit di dalam kubur mereka karenanya Rasulullah SAW melarang mematahkan tulang orang yang sudah meninggal. Hal ini bersandar pada sabda Nabi SAW,

    “Mayat itu merasakan sakit di dalam kuburnya sebagaimana orang hidup merasakan sakit di dalam rumahnya.”

    Terdapat riwayat yang mengisahkan seseorang duduk-duduk di pelataran kuburan. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, beliau melarang dan bersabda, “Janganlah kalian menyakiti orang-orang yang telah meninggal di dalam kuburan mereka.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Dampak Negatif bagi Pelaku Zina di Akhirat, Mendapat Siksa yang Pedih!



    Jakarta

    Zina termasuk bagian dari dosa besar yang paling dibenci oleh Rasulullah SAW. Bahkan, Allah SWT telah melarang hamba-hamba-Nya untuk mendekati segala hal yang dapat menjerumuskannya ke jurang perzinaan.

    Syaikh Abu Bakar Jabar al-Jazairi dalam Kitab Minhajul Muslim menerangkan, zina adalah perbuatan haram dengan melakukan hubungan badan, baik melalui kemaluan atau dubur oleh dua orang yang bukan pasangan suami istri.

    Sementara dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa zina merupakan suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. Orang yang melakukan zina berarti telah mengotori jiwanya dengan sifat-sifat yang buruk, baik di mata sesama manusia maupun di sisi Allah SWT.


    Melalui surat Al-Isra ayat 32, Allah SWT telah menegaskan larangan berbuat zina melalui firmannya:

    وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

    Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32).

    Turut disebutkan dalam buku Wanita-wanita yang Dimurkai Nabi oleh Muhammad Masykur, pelaku zina akan mendapatkan dampak negatif, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak.

    Wanita yang sudah berumah tangga dan masih melakukan perzinaan akan membuat hancurnya kehormatan rumah tangga. Selain itu, pelaku zina juga dapat keluarga dan nama baik orang tua sehingga termasuk perbuatan dosa besar.

    Lantas, seperti apa dampak negatif bagi pelaku zina di akhirat kelak? Ini penjelasannya.

    Dampak Negatif bagi Pelaku Zina di Akhirat

    Berikut ini di antara siksaan bagi pelaku zina di akhirat, dirangkum dari buku Ternyata Kita Tak Pantas Masuk Surga karya H. Ahmad Zacky El Syafa & Dosa-dosa Jariah karya Rizem Aizid.

    1. Hisab yang Berat dan Dimurkai Allah SWT

    Pelaku zina di akhirat kelak akan mendapatkan balasan berupa hisab yang berat serta dimurkai Allah SWT. Dalam suatu riwayat hadits telah diterangkan dampak negatif bagi pelaku zina di akhirat, Rasulullah SAW bersabda:

    “Hai kamu muslimin, takutlah kamu terhadap perbuatan zina, karena didalamnya ada enam perkara, yaitu hilangnya cahaya di wajah, umur pendek, dan akan terus berada dalam keadaan fakir. Sedang tiga perkara di akhirat, mendapat kemurkaan Allah, siksa yang jelek, dan azab neraka.” (HR Baihaqi).

    2. Hidup Kekal di Neraka Jahanam

    Di akhirat kelak, pelaku zina akan hidup kekal di Neraka Jahanam. Muka pelaku zina akan ditarik dengan rantai ke jurang neraka paling dahsyat. Hal ini turut digambarkan dalam hadits, sebagaimana dikatakan melalui sabda Rasulullah SAW:

    “Di Jahanam, ada sebuah lembah ada suatu lembah yang dipenuhi oleh ular berbisa. Ukurannya sebesar leher unta dan akan mematuk orang yang meninggalkan sholat. Bisanya akan menggerogoti tubuh selama 70 tahun hingga terkelupas daging-dagingnya.

    Di sana juga terdapat lembag bernama Jubb al-Huzn. Di dalamnya dipenuhi ular dan kalajengking. Ukuran kalajengkingnya sebesar bighal (peranakan keledai atau kuda) dan memiliki 70 sengat. Masing-masing kalajengking memiliki kantung bisa untuk menyengat pezina dan memasukkan isi kantong bisanya ke dalam tubuh pezina itu.

    Pelaku zina akan merasakan kepedihan selama 1000 tahun. Kemudian terkelupaslah daging-dagingnya dan akan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk.” (HR Baihaqi).

    3. Dibakar dengan Api yang Berkobar

    Pelaku zina di akhirat nantinya akan dibakar dengan api yang menyala-nyala. Dalam sebuah hadits dari Samurah bin Jundub RA, ia berkata Rasulullah SAW bermimpi didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail, lalu bercerita:

    “Kamu berjalan hingga kami tiba di sebuah dapur yang mulutnya kecil, tetapi di bawahnya luas. Dari dalam lubang itu terdengar suara berisik. Kami pun melongok ke dalamnya. Di sana, kami melihat para lelaki dan wanita telanjang dan dibakar api yang berkobar di bawahnya.

    Saat lidah api menyentuhnya, mereka pun berteriak dengan histeris karena panasnya. Aku lantas bertanya kepada malaikat, ‘Siapakah gerangan itu?’ Malaikat menjawab, ‘Mereka adalah para pezina. Ini azab mereka hingga hari kiamat.’” (HR Bukhari).

    Meskipun hadits tersebut didasarkan pada sebuah mimpi, tetapi mimpi para nabi dapat dikatakan sebagai wahyu yang haq atau benar.

    Demikian dampak negatif bagi pelaku zina di akhirat, yaitu akan mendapat siksaan yang pedih dan kekal. Semoga dapat menjadi renungan untuk selalu menjauhi perbuatan zina ya, detikers!

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com