Tag: stroke

  • Udara Jakarta Terburuk ke-2 Dunia, Ini Cara Jaga Rumah Tetap Bersih dari Polusi


    Jakarta

    Dalam beberapa hari terakhir, kualitas udara di Jakarta masuk dalam kategori buruk sehingga tidak baik untuk kesehatan. Dalam pantauan detikcom di situs IQ Air, Rabu (16/7/2025), kualitas udara di Jakarta masuk peringkat kedua terburuk di dunia.

    Hal ini tentu membuat banyak masyarakat khawatir karena harus menghirup udara tidak sehat sehari-hari. Belum lagi udara kotor tersebut masuk ke dalam rumah sehingga dapat mengganggu kesehatan penghuninya.

    Meski begitu, ada beberapa tips agar udara di dalam rumah tetap bersih dan bebas dari polusi. Simak selengkapnya dalam artikel ini.


    Cara Agar Udara di Dalam Rumah Tetap Bersih

    Ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar udara di dalam rumah tetap bersih. Dengan begitu, kamu bisa menghirup udara segar tanpa khawatir terpapar polusi. Dikutip dari Healthline, berikut sejumlah tipsnya:

    1. Mencegah Udara Kotor

    Tips yang pertama adalah mencegah udara kotor dan polusi masuk ke dalam rumah. Udara kotor ini meliputi asap rokok dan asap pembakaran sampah.

    Perlu diketahui, asap rokok mengandung ribuan bahan kimia berbahaya, mulai dari nikotin, tar, karbon monoksida, dan benzena. Sedangkan asap pembakaran sampah juga mengandung zat beracun, seperti karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, dan hidrokarbon.

    Selain mengganggu udara bersih di dalam rumah, menghirup kedua asap tersebut bisa membahayakan kesehatan. Beberapa risiko penyakit yang ditimbulkan seperti jantung, kanker, gangguan pernapasan, dan stroke.

    2. Singkirkan Debu

    Debu dan kotoran yang menempel di furnitur, dinding, ataupun lantai bisa menyebabkan kualitas udara di dalam rumah memburuk. Hal ini bisa menyebabkan kamu jadi mudah bersin, pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan kulit gatal.

    Jika ada banyak debu di dalam rumah, cobalah untuk dibersihkan secara rutin menggunakan sapu atau vacuum cleaner. Bersihkan juga karpet dan furnitur di rumah agar tidak ada lagi sisa debu yang menempel.

    3. Pakai Air Purifier

    Agar udara di dalam rumah tetap bersih disarankan memakai air purifier. Alat ini dirancang untuk membersihkan udara kotor dengan menyaring partikel kecil seperti debu dan asap yang ada di ruangan.

    Air purifier bekerja dengan cara menyedot udara kotor, lalu melewati serangkaian filter seperti High-Efficiency Particulate Air (HEPA). Setelah udara kotor disaring, air purifier akan menyemburkan udara bersih ke dalam ruangan.

    Sejumlah air purifier telah mengusung teknologi canggih dan filter udara terbaik. Hal ini dapat menyaring patogen di udara seperti bakteri, virus, dan spora jamur.

    4. Membersihkan Ventilasi Udara

    Ventilasi udara sangat penting agar mengalirkan udara kotor di dalam rumah dan menggantinya dengan udara bersih dari luar sekaligus mencegah kelembapan. Meski begitu, pertimbangkan lagi untuk membuka ventilasi jika udara di luar sedang tidak sehat.

    Selain itu, dianjurkan juga untuk membersihkan ventilasi udara di dalam rumah dari debu dan kotoran. Langkah ini penting agar udara yang masuk ke dalam rumah tidak terkontaminasi partikel debu yang justru membahayakan kesehatan.

    5. Menanam Tanaman Hijau

    Ada banyak tanaman hijau yang cocok ditanam di dalam rumah. Bahkan, beberapa di antaranya disebut efektif menjaga udara tetap bersih di dalam ruangan, seperti tanaman dracaena, peace lily, dan ivy.

    Meski begitu, jangan hanya mengandalkan tanaman hijau untuk membasmi udara kotor di dalam ruangan. Sebab, tanaman ini hanya mampu mengurangi polusi sampai batas tertentu saja. Lalu, dibutuhkan juga perawatan rutin agar tanaman bisa menjaga udara bersih secara optimal.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/das)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
    ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason
  • Pentingnya Udara Segar di Rumah, Alat yang Tepat Jadi Kuncinya



    Jakarta

    Polusi udara bukan hanya terjadi di luar ruang (outdoor) tapi juga di dalam ruang (indoor). Bahkan, polusi yang terjadi di luar ruang memiliki penangkal ataupun filter alami berupa angin, hujan, vegetasi, dan lainnya sementara di dalam ruangan kerap dianggap selalu bersih padahal tidak memiliki filter.

    Polusi udara khususnya di dalam ruangan bisa mengancam kesehatan secara serius. Data United States Environmental Protection Agency (EPA), jika kadar polutan di dalam ruangan memiliki tingkat 2-5 bahkan 100 kali lebih tinggi dibandingkan kadar polutan di luar ruangan.

    Ada banyak penyebab yang menjadikan sebuah ruangan tinggi polutan, salah satunya ventilasi udara buruk yang menyebabkan debu, proses pembakaran dalam rumah seperti rokok, memasak, bahan kimia pembersih, bulu Binatang, tungau, jamur, hingga serbuk terjebak dalam ruangan.


    Berbagai polutan ini bisa menjadi pemicu hingga menyebabkan gangguan kesehatan serius pneumonia, sakit kepala, sakit tenggorikan, sesak napas, bersin, iritasi pada mata, jantung, hingga stroke. Pneumonia misalnya, merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menyerang organ paru-paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur yang ada di udara dan selama beberapa dekade telah menjadi penyebab utama kematian pada bayi dan balita.

    Karena itu produsen perangkat elektronik rumah tangga (home appliances) Sharp bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk mensosialisasikan pentingnya menciptakan udara sehat di dalam ruangan.

    “Sudah lebih dari 20 tahun Sharp mengembangkan teknologi Plasmacluster dan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan fungsi dari produk penjernih udara (air purifier) yang dapat memberikan perlindungan ekstra di dalam ruangan. Kerja sama dengan IDI merupakan kontribusi lebih kami untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menciptakan udara yang sehat di rumah,” ujar Shinji Teraoka, Presiden Direktur PT Sharp Electronics Indonesia.

    Kampanye “Ciptakan Udara Sehat Untuk Indonesia” terus didorong akan pentingnya kualitas udara yang bersih, sehat, dan segar di dalam rumah. Dengan produk air purifier berteknologi Plasmacluster, dibenamkan ion generator untuk menghasilkan Ion Plasmacluster bermuatan positif (H+(H2O)m) dan ion bermuatan negatif (O2-(H2O)n) yang dilepaskan ke udara secara bersamaan.

    Ion positif dan negatif ini secara instan mengikat pada permukaan bakteri di udara, jamur, virus, alergen, dan sejenisnya kemudian mengubahnya menjadi radikal OH (hidroksil) yang memiliki daya oksidasi sangat tinggi. TeknoIogi Plasmacluster menjadi teknologi pemurnian udara unik yang bekerja untuk menekan aktivitas bakteri dan lainnya dengan memecah protein di permukaan tubuh mereka melalui reaksi kimia. Teknologi Plasmacluster juga mampu menghilangkan bau, melumpuhkan virus, bakteri dan kuman serta mengurangi pertumbuhan jamur dan listrik statis.

    Menurut dr. Ulul Albab, Sp. OG, Sekretaris Jenderal IDI, pihaknya mengapresiasi komitmen Sharp untuk meningkatkan kesadara masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas udara di dalam ruangan karena dampak polusi di ruangan telah menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan utama di Indonesiia.

    “Kami berharap melalui kampanye ini bisa terus meningkatkan kesadara masyarakat hingga menyukseskan program pemerintah dalam mengurangi kasus angka kematian akibat pneumonia yang terjadi di Indonesia. Bersama Sharp, kami juga telah melakukan penelitian dengan lembaga survei medis, farmasi, dan Monthly Index of Medical Specialities (MIMS) dan produk air purifier bisa meningkatkan kualitas udara dalam ruangan,” jelasnya.

    Sharp juga merilis produk air purifier terbaru yaitu Sharp Purefit mini-series untuk melengkapi line-up sebelumnya, lebih lengkapnya bisa dilihat di id.sharp. PSG Manager for AC dan Air Purifier Sharp Indonesia Yudha Eka Putra mengatakan, produk ini didesain untuk coverage area mencapai 84 m2 yang cocok digunakan untuk kamar anak maupun ruangan yang kecil.

    “Produk ini hadir dalam tiga tipe untuk menyesuaikan kebutuhan ruang-ruang kompak di rumah. Dibenamkan beragam fitur yang canggih untuk meningkatkan kualitas udara lebih sehat dan segar di ruangan dengan harga mulai Rp2 jutaan. Kami juga memberikan kemudahan dengan cashback sebesar Rp200 ribu bahkan untuk anggota IDI dan keluarganya ada cashback mencapai Rp900 ribu,” pungkasnya.

    (dna/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Tips Pilih Lantai Kamar Mandi yang Aman dan Anti Licin


    Jakarta

    Jenis lantai yang digunakan di kamar mandi berbeda dengan lantai di ruangan lain. Hal ini dikarenakan kamar mandi selalu basah dan mudah sekali lembap. Diusahakan mencari jenis lantai yang anti slip atau tidak mudah licin.

    Lantai yang kesat atau tidak licin dapat melindungi penggunanya dari kejadian terpeleset. Terjatuh di kamar mandi bisa fatal, dilansir detikHealth, bisa menyebabkan memar, pendarahan otak, cedera tulang, stroke, hingga henti jantung. Banyak kejadian orang yang terjatuh di kamar mandi dan tidak ditangani dengan cepat, meninggal dunia. Oleh karena itu, masalah lantai kamar mandi tak boleh dipandang sepele.

    Bagi detikers yang berencana membeli lantai untuk kamar mandi, ketahui tips-tips berikut.


    Tips Beli Keramik buat Lantai Kamar Mandi

    1. Pilih Permukaan Keramik Anti Slip

    Graphic Designer PT Kia Serpih Mas, Besa Wade Ruwapensa, menjelaskan terdapat 2 jenis keramik yang cocok dipakai di kamar mandi, yakni satin atau baby skin dan anti-slip atau anti licin.

    “Kalau kamar mandi disarankan untuk wet areanya memakai anti slip. Terus untuk area kering kalau menurut saya lebih disarankan memakai satin. Jangan pakai yang glossy karena di sana biasanya ada wastafel, takut ada cipratan air berpotensi basah licin,” kata Besa saat ditemui dalam acara pameran ke-10 Keramika Indonesia bersama Mega Build Indonesia edisi ke-21, beberapa waktu lalu.

    Tampilan keramik anti slip keluaran KIA Ceramics.Tampilan keramik anti slip keluaran KIA Ceramics. Foto: Sekar Aqillah Indraswari

    Keramik anti slip ini bisa digunakan pada beberapa area jika kamar mandi cukup luas, yakni hanya di area basah saja. Namun, apabila kamar mandi tersebut kecil, kalau bisa sebagian besar lantainya memakai yang kesat karena air pasti akan membasahi seluruh ruangan.

    2. Pilih Keramik Khusus Lantai

    Jenis keramik yang digunakan juga harus keramik khusus lantai. Sebab, komposisinya sudah sesuai dan cukup kuat untuk dipasang di lantai. Jangan sampai memasang keramik untuk dinding pada lantai karena ketahanannya berbeda.

    “Disarankan menggunakan keramik sesuai peruntukkannya. Contohnya banyak yang memakai keramik dinding ke lantai. Padahal itu kurang cocok karena breaking strength-nya lebih rendah yang dinding. Kalau dia ditempel otomatis ada kemungkinan kalau perekatnya tidak kuat akan jatoh, nanti menimpa orang. Nah makanya keramik dinding pasti lebih ringan dari keramik lantai,” jelasnya.

    Tampilan keramik baby skin atau satin keluaran KIA Ceramics.Tampilan keramik baby skin atau satin keluaran KIA Ceramics. Foto: Sekar Aqillah Indraswari

    Cara membedakan keramik lantai dan dinding, bisa dicek pada kemasan produk. Keramik lantai umumnya disebut floor tile dan untuk keramik dinding dinamakan wall tile.

    Ukuran keramik juga menentukan ketahanannya. Besa mengatakan semakin besar ukuran keramik maka ketebalannya akan bertambah. Begitu juga dengan harganya juga akan semakin mahal.

    “Kalau untuk pasar Indonesia biasanya memakai ukuran 30×30 cm (persegi), 25×25 cm untuk kamar mandi. Kalau bentuknya square biasanya untuk keramik lantai,” sebutnya.

    3. Tentukan Ukuran dan Jumlah Keramik

    Jika sudah menemukan jenis, model, dan warna yang sesuai, hitung jumlah keramik yang perlu dibeli. Sebutkan juga lokasi pemasangannya apakah dinding atau lantai.

    Besa menyebutkan harga keramik dihitung per meter persegi. Dalam satu dus keramik umumnya terdiri dari keramik 1 meter persegi (square meter). Keramik tidak bisa dibeli satuan sehingga saat membeli keramik kamar mandi harus dilebihkan 1 dus untuk berjaga-jaga apabila ada yang retak atau kesalahan pemasangan.

    “Anggaplah perumahan-perumahan sekarang itu kamar mandinya 1,5 meter x 1,5 meter biasanya. Berarti tinggal dikalikan. Nanti kita dapat luasnya berarti 22,5 meter persegi. Berarti harus beli 3 dus untuk keramik ukuran 50 x 50 cm dengan 12 pcs keramik isinya. Biasanya satu dus itu 1 square meter. Satu dus (ukuran 50 x 50 cm) isinya 4 pcs karena 1 keramik setengah meter,” ujarnya.

    Itulah beberapa tips memilih lantai kamar mandi yang benar, semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Olahraga Simpel untuk Mengecilkan Perut Buncit, Hempaskan Gelambir dengan Mudah

    Jakarta

    Olahraga untuk mengecilkan perut tidak harus menggunakan peralatan mahal atau pergi ke gym. Ada banyak olahraga tanpa alat yang bisa dilakukan untuk memangkas lemak di perut dan menurunkan berat badan.

    Bagi kebanyakan orang, perut buncit memang merupakan sesuatu yang mengganggu. Selain merusak penampilan, timbunan lemak di perut bisa memengaruhi rasa percaya diri dan membuat minder.

    Tak hanya itu, perut buncit juga dikaitkan dengan sejumlah gangguan kesehatan, seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga stroke.


    Karena itu, penting untuk menjaga berat badan tetap ideal agar terhindar dari penyakit. Salah satunya dengan rutin melakukan olahraga ringan di rumah.

    Lantas, apa saja olahraga sederhana tanpa alat yang bisa dilakukan untuk mengecilkan perut? Dikutip dari Prevention, berikut daftarnya.

    1. Lari

    Lari adalah salah satu olahraga paling simpel untuk membakar kalori. Olahraga ini tidak membutuhkan alat khusus dan bisa dilakukan di mana saja.

    Pelatih lari dari New York, Natalie Dorset mengatakan cara terbaik untuk membakar kalori saat berlari adalah dengan memvariasikan latihan.

    “Variasikan kecepatan dalam satu latihan, lakukan beberapa kali lari cepat, atau variasikan jenis lari yang Anda lakukan. Entah itu lari pelan dan stabil, nyaman dan keras, atau interval, variasi adalah kunci untuk adaptasi yang konstan,” terangnya.

    2. Jalan kaki

    Tidak suka lari? Jalan kaki bisa jadi alternatif yang lebih nyaman untuk menurunkan berat badan.

    Pendiri Jim White Fitness and Nutrition Studios, Jim White RDN, ACSM Ex-P, mengungkapkan jalan kaki dapat meningkatkan pengeluaran energi yang berdampak terhadap penurunan berat badan.

    “Berjalan adalah latihan yang sangat baik untuk menurunkan berat badan. Ini adalah latihan menahan beban yang berdampak rendah. Latihan ini meningkatkan pengeluaran energi dan dapat divariasikan dalam kecepatan, durasi, dan intensitas,” ujarnya.

    3. Squats

    Squats berfungsi untuk melatih otot tubuh bagian bawah, seperti paha dan betis. Tak hanya itu, squats juga membantu mengencangkan bokong, sehingga membuatnya tampak lebih kecil.

    Ingin squats lebih menantang? Cobalah melakukan latihan ini secara perlahan atau sambil menahan beban.

    4. Burpees

    Burpees merupakan salah satu olahraga intensitas tinggi yang dapat membantu membakar kalori, membentuk otot, dan menghilangkan lemak.

    “Lebih khusus lagi, burpees bagus untuk membakar lemak perut, dan gerakan intensitas tinggi seperti burpees juga dapat membakar hingga 50 persen lebih banyak lemak daripada latihan kekuatan konvensional,” kata White.

    Tak hanya itu, burpees juga membantu meningkatkan kesehatan kardiovaskular sambil membantu penurunan berat badan.

    5. Yoga

    Percaya atau tidak, yoga juga termasuk olahraga yang ideal untuk menurunkan berat badan. Olahraga ini dapat membantu mengurangi stres, salah satu faktor yang dapat memicu kenaikan berat badan.

    Saat stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol. Penelitian menunjukkan kadar kortisol yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

    Selain mengurangi stres, yoga juga dapat meningkatkan fleksibilitas, kekuatan, dan koordinasi tubuh. Kombinasi antara yoga dan pola makan yang seimbang dapat memberikan hasil yang signifikan dalam penurunan berat badan.

    6. Pilates

    Sekilas, pilates mirip dengan yoga. Namun olahraga ini lebih fokus pada kekuatan. White mengatakan pilates memiliki banyak gerakan menantang yang bermanfaat untuk meningkatkan fleksibilitas, kekuatan otot, kontrol otot, hingga kesehatan mental.

    “Pilates juga meningkatkan kekuatan dan kekencangan pada otot perut, punggung bawah, pinggul, dan bokong,” tambah White.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Liburan Makan Enak Melulu, Ini Saran Ahli Biar Tak Menggendut


    Jakarta

    Liburan panjang atau long weekend kerap menjadi momen yang dinantikan banyak orang. Selain jadi waktu yang tepat untuk melepas penat, liburan juga identik dengan momen bersantap, mulai dari kumpul keluarga, jalan-jalan kuliner, hingga menikmati makanan manis dan berlemak tanpa banyak pertimbangan.

    Tak heran, banyak orang merasa pola makan mereka jadi tak terkendali selama liburan. Porsi makan melonjak, jam makan berantakan, dan godaan camilan sulit dihindari. Ahli gizi dari Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD, mengatakan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, seperti gorengan hingga makanan bersantan yang berlebihan bisa berdampak buruk terhadap kesehatan.

    Hal ini dikarenakan lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL) dalam darah. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat menyumbat pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, hingga stroke.


    Begitu juga makanan manis. Pratiwi mengatakan kandungan gula yang tinggi dalam makanan ini dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Tubuh yang mengalami lonjakan gula darah secara berulang akan lebih cepat merasa lapar, mudah lelah, dan mengalami penumpukan lemak, terutama di jaringan adiposa.

    “Lonjakan ini akan memicu peningkatan produksi insulin dalam tubuh sebagai respon alami, namun jika terlalu sering terjadi, bisa berdampak negatif,” ucap Pratiwi, dikutip dari laman UGM, Selasa (27/5/2025).

    Tubuh yang terus-menerus mengalami lonjakan gula darah dan insulin bekerja terlalu keras dalam waktu lama dapat memicu resistensi insulin. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

    “Caranya sederhana dengan cukup tidur, batasi gula, konsumsi buah dan sayur yang kaya antioksidan, serta makanan yang mengandung probiotik seperti yoghurt atau makanan fermentasi,” tegasnya.

    Selama liburan panjang, penting juga untuk tetap memenuhi kebutuhan serat. Hal ini dikarenakan serat sangat membantu dalam menjaga kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. Usahakan mengonsumsi minimal 3 porsi sayur dan 2 porsi buah setiap hari.

    Prinsip “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan dapat dijadikan pedoman, yakni setengah piring diisi buah dan sayur, seperempat lauk pauk, dan seperempat makanan pokok. Pratiwi pun mengingatkan agar masyarakat tidak khawatir, karena menjaga pola makan sehat bukan berarti harus menjauhi makanan favorit. Ia justru menganjurkan pendekatan yang lebih realistis dengan pola makan 80:20.

    “Artinya, 80 persen kebutuhan kalori harian kita dipenuhi dari makanan berkualitas dan 20% sisanya boleh dari makanan yang sifatnya rekreasional,” jelasnya.

    NEXT: Rekomendasi aktivitas fisik

    Selain itu, Pratiwi juga merekomendasikan untuk melakukan aktivitas fisik agar tubuh tetap bugar selama liburan. Liburan sering kali identik dengan gaya hidup inaktif, seperti rebahan seharian, duduk lama menonton film atau bermain gadget, dan waktu istirahat yang justru terlalu panjang tanpa gerak.

    Padahal, tubuh tetap membutuhkan pergerakan untuk menjaga metabolisme tetap optimal dan mencegah penumpukan kalori yang tidak terpakai.

    “Banyak orang berpikir kalau olahraga itu harus yang berat, seperti pergi ke gym atau ikut kelas kebugaran tertentu. Padahal, aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki selama 15-30 menit setiap hari sudah sangat membantu menjaga kebugaran tubuh,” tambahnya.

    “Kuncinya adalah keseimbangan. Gaya hidup sehat dilakukan sepanjang hidup agar kita bisa menikmati momen liburan dengan tubuh yang bugar dan pikiran yang ringan,” tutup Pratiwi.

    (suc/up)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Termasuk Seblak, 5 Makanan Favorit Gen-Z Ini Bisa Diam-diam Picu Kolesterol Tinggi


    Jakarta

    Makanan dan minuman kekinian seperti boba, croffle, ayam geprek crispy, hingga seblak pedas jadi bagian dari gaya hidup kuliner Gen Z. Rasanya nikmat, tampilannya estetik, dan gampang banget ditemukan di kafe, gerai cepat saji, maupun aplikasi pesan-antar online. Namun, siapa sangka makanan kekinian ini justru bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh, bahkan di usia muda.

    Fenomena ini bukan sekadar tren, tapi sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Generasi yang tumbuh bersama media sosial cenderung lebih sering mencoba makanan viral. Pertanyaannya, apa efeknya bagi kesehatan jangka panjang?


    Kenapa Gen Z Rentan?

    Generasi muda saat ini hidup serba cepat. Aktivitas padat, ditambah budaya nongkrong di kafe, bikin makanan cepat saji dan minuman manis jadi lebih disukai karena praktis.

    Tren dari media sosial juga berpengaruh terhadap kebiasaan makan makanan yang sedang viral. Masalahnya, banyak makanan viral itu adalah fast food, ultra-processed food dan makanan serta minuman manis yang tinggi lemak jenuh, gula tambahan, lemak trans dan kandungan lain yang tidak menguntungkan.

    Kebiasaan ini menyebabkan pola makan tidak seimbang yang berpotensi menaikkan kadar Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dalam darah, yang bisa memicu aterosklerosis sejak dini.

    Apa Itu Kolesterol?

    Kolesterol yang dibutuhkan tubuh secara alami diproduksi di hati. Kolesterol sebenarnya tidak selalu zat yang buruk bagi tubuh. Faktanya kolesterol adalah zat yang penting. Kolesterol berfungsi sebagai bahan pembangun membran sel, hormon steroid (hormon seks: testosteron, estrogen, progesteron ; dan hormon kortikosteroid: kortisol, aldosteron), prekursor vitamin D, dan bahan produksi asam empedu.

    Pola makan yang tidak sehat merupakan salah satu faktor yang membuat kadar kolesterol tidak terkendali. Kolesterol dikirim dari hati ke sel-sel tubuh menggunakan “kendaraan” bernama Low-Density Lipoprotein (LDL). Sayangnya, bila LDL terlalu banyak, kolesterol bisa menumpuk di dinding pembuluh darah. Inilah yang kemudian disebut sebagai kolesterol jahat. Sebaliknya, ada juga High-Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik, yang bertugas membersihkan kelebihan kolesterol dari darah dan membawanya kembali ke hati.

    Makanan Favorit Gen Z yang Bisa Jadi Pemicu

    Kategori makanan yang sangat mungkin meningkatkan kadar kolesterol menurut American Heart Association, Harvard Health Publishing, dan Journal of Nutrition yang dikutip dari Everyday Health:

    • Makanan hewani yang tinggi lemak jenuh
    • Makanan dan minuman tinggi gula
    • Fast food dan Ultra-processed food

    Adapun makanan-makanan populer kalangan Gen Z yang masuk kategori tersebut antara lain:

    1. Boba dan Kopi Susu Gula Aren

    Minuman kekinian ini mengandung susu full cream, krimer, serta gula tambahan. Meski kandungan kolesterol di dalamnya tidak ada, lemak jenuh dan gula tinggi bisa menaikkan trigliserida dan menurunkan kadar HDL dalam darah.

    2. Croffle, Donat, dan Dessert Serba Creamy

    Dibuat dengan butter, margarin, dan topping krim atau keju yang tinggi lemak jenuh sehingga dapat memicu naiknya kolesterol jahat.

    3. Ayam Goreng Crispy dan Fast Food

    Gorengan tepung dalam minyak yang berulang kali dipakai menyebabkan kandungan lemak trans di dalamnya paling berbahaya untuk keseimbangan kadar HDL dan LDL.

    4. Seblak dan Jajanan Pedas Viral

    Kerupuk goreng sebagai bahan utama menyerap banyak minyak. Ditambah topping telur, sosis, atau ceker ayam, kandungan kolesterol bisa melonjak drastis.

    5. Camilan Mozzarella dan Serba Keju

    Dari corndog keju hingga mie instan topping cheese. Keju olahan kaya lemak jenuh yang bisa meningkatkan kolesterol jahat.

    Kenapa Harus Waspada Sejak Dini?

    Kolesterol tinggi sering disebut “silent killer” karena gejalanya tidak langsung terasa. Kolesterol yang tinggi di dalam darah dikarenakan kadar LDL yang berlebih. Banyaknya kadar LDL dalam darah menyebabkan reseptor (pintu) sel tidak dapat lagi menyerap kolesterol masuk ke dalam sel, sehingga LDL akan teroksidasi menyebabkan terjadinya plak di pembuluh darah. Hal ini dapat terjadi bahkan sejak masa remaja. Akumulasi bertahun-tahun membuat risiko serangan jantung dan stroke meningkat saat dewasa.

    Generasi muda yang sering mengandalkan makanan cepat saji, dessert manis dan minuman tinggi gula harus lebih waspada.

    Kesimpulan

    Makanan populer Gen Z memang lezat dan bikin heboh di media sosial, tapi dampaknya bagi kesehatan tidak boleh diremehkan. Fast food, minuman manis, gorengan, hingga dessert creamy bisa meningkatkan kolesterol jahat bila dikonsumsi terus-menerus setiap hari.

    Studi ilmiah menunjukkan kebiasaan ini terkait dengan risiko dislipidemia bahkan pada usia muda. Jadi, bukan berarti tidak boleh dan harus berhenti total, tapi pintar-pintarlah memilih, membatasi frekuensi dan mengontrol porsi. Dengan begitu, Gen Z tetap bisa menikmati tren kuliner tanpa mengorbankan kesehatan kardiovaskular di masa depan.

    (mal/up)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Pentingnya Cek Label Gizi, Cara Sederhana Batasi GGL

    Jakarta

    Gaya hidup serba praktis membuat banyak orang mengandalkan makanan dan minuman kemasan. Cepat, mudah ditemukan, dan rasanya pun menggugah selera. Namun, di balik kemudahan itu, terdapat ancaman dari kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan. Inilah alasan mengapa membaca label gizi seharusnya menjadi kebiasaan setiap kali membeli produk pangan.

    Apa Itu Label Gizi

    Label gizi adalah informasi yang menunjukkan kandungan energi dan zat gizi utama dalam suatu produk pangan. Informasi label gizi mencakup jumlah energi total, lemak, protein, karbohidrat, gula, serta natrium per takaran saji. Kementerian Kesehatan melalui Peraturan BPOM Nomor 22 Tahun 2019 mengatur bahwa setiap produk pangan olahan wajib mencantumkan label gizi agar konsumen dapat memilih makanan secara sadar dan sehat.

    Label gizi biasanya juga dilengkapi dengan Persen Angka Kecukupan Gizi (%AKG). AKG menunjukkan berapa besar kontribusi zat gizi dalam satu porsi produk terhadap kebutuhan harian seseorang. Sebagai contoh, satu bungkus mi instan dengan 900 mg natrium berarti sudah memenuhi hampir 45% dari kebutuhan garam harian. Jika dalam sehari seseorang makan dua bungkus ditambah camilan asin, maka jumlah natrium bisa melonjak jauh melebihi batas aman. Hal yang sama juga berlaku untuk minuman manis dalam botol yang rata-rata mengandung 25-30 gram gula per porsi.


    Kenapa GGL Harus Dibatasi

    Tubuh memang memerlukan gula, garam, dan lemak agar metabolisme berjalan optimal. Gula menjadi sumber energi, garam membantu keseimbangan cairan, dan lemak berperan dalam penyerapan vitamin dan bahan pembentuk hormon. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak, dampaknya bisa serius bagi kesehatan.

    Kementerian Kesehatan menetapkan anjuran konsumsi harian GGL melalui kampanye Batasi Gula Garam Lemak (GGL), yaitu:

    • Gula: maksimal 50 gram per hari (setara 4 sendok makan)
    • Garam: maksimal 2.000 mg natrium atau 1 sendok teh garam
    • Lemak: maksimal 67 gram per hari (setara 5 sendok makan minyak)

    Namun, tanpa sadar banyak orang yang melebihi batas konsumsi GGL. Survei Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan konsumsi GGL masyarakat Indonesia masih di atas anjuran. Konsumsi gula berlebih membuat kadar glukosa darah melonjak dan tubuh kesulitan mengendalikannya.

    Penelitian yang terbit di British Medical Journal tahun 2023 menunjukkan bahwa peningkatan 10% asupan gula tambahan bisa menaikkan risiko diabetes tipe 2 hingga 15%. Garam yang dikonsumsi berlebihan juga memperberat kerja jantung.

    World Health Organization (WHO) mencatat, pengurangan konsumsi garam sebesar 30% secara global bisa mencegah jutaan kasus hipertensi dan stroke. Lemak jenuh dan lemak trans juga berbahaya dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL).

    Studi dalam Jurnal Foods tahun 2021 menemukan bahwa konsumsi lemak trans sebesar 2% dari total energi harian mampu meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 23%. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi GGL setiap hari mungkin terasa enak, tetapi secara perlahan mengikis kesehatan dan memicu berbagai penyakit kronis.

    Cara Sederhana Membaca Label Gizi

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membaca label gizi adalah sebagai berikut:

    1. Baca takaran saji

    Banyak yang salah menafsirkan angka karena tidak memperhatikan takaran saji di kemasan. Jika tertulis “takaran saji: 2”, berarti seluruh kandungan gizi di label perlu dikalikan dua bila produk di kemasan dikonsumsi habis.

    2. Perhatikan jumlah gula, natrium, dan lemak total

    • Produk yang mengandung lebih dari 15 gram gula per 100 gram, tergolong tinggi.
    • Kandungan natrium di atas 500 mg per 100 gram, tergolong tinggi.
    • Pilih kandungan lemak kurang dari 3 gram lemak jenuh per 100 gram.

    3. Lihat %AKG sebagai panduan cepat

    Angka Kecukupan Gizi (%AKG) menunjukkan kontribusi zat gizi dalam satu sajian terhadap kebutuhan harian. Jika label menunjukkan “Natrium 75% AKG”, berarti satu porsi produk sudah menyumbang 75% kebutuhan natrium harian.

    4. Hati-hati dengan klaim di depan kemasan

    Klaim seperti “rendah lemak” atau “tanpa gula tambahan” tidak selalu berarti aman. Produk bisa saja tetap tinggi kalori atau mengandung pemanis buatan. Jadi pastikan selalu membaca tabel nilai gizi di belakang kemasan.

    Mulai dari Label Gizi

    Membaca label gizi mungkin terlihat sepele, tetapi langkah kecil ini dampaknya besar bagi kesehatan tubuh. Langkah ini membantu memperbaiki pola makan, batas konsumsi, keputusan yang lebih sehat. Seiring waktu, kebiasaan ini bisa menjadi modal yang meningkatkan kebugaran dan kesehatan di Indonesia.

    Jadi, mulai sekarang, biasakan melihat bagian belakang kemasan sebelum membeli. Karena di balik angka-angka kecil di label gizi, tersimpan informasi besar yang bisa menentukan kondisi kesehatan di masa depan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Pentingnya Cek Label Gizi, Cara Sederhana Batasi GGL

    Jakarta

    Gaya hidup serba praktis membuat banyak orang mengandalkan makanan dan minuman kemasan. Cepat, mudah ditemukan, dan rasanya pun menggugah selera. Namun, di balik kemudahan itu, terdapat ancaman dari kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan. Inilah alasan mengapa membaca label gizi seharusnya menjadi kebiasaan setiap kali membeli produk pangan.

    Apa Itu Label Gizi

    Label gizi adalah informasi yang menunjukkan kandungan energi dan zat gizi utama dalam suatu produk pangan. Informasi label gizi mencakup jumlah energi total, lemak, protein, karbohidrat, gula, serta natrium per takaran saji. Kementerian Kesehatan melalui Peraturan BPOM Nomor 22 Tahun 2019 mengatur bahwa setiap produk pangan olahan wajib mencantumkan label gizi agar konsumen dapat memilih makanan secara sadar dan sehat.

    Label gizi biasanya juga dilengkapi dengan Persen Angka Kecukupan Gizi (%AKG). AKG menunjukkan berapa besar kontribusi zat gizi dalam satu porsi produk terhadap kebutuhan harian seseorang. Sebagai contoh, satu bungkus mi instan dengan 900 mg natrium berarti sudah memenuhi hampir 45% dari kebutuhan garam harian. Jika dalam sehari seseorang makan dua bungkus ditambah camilan asin, maka jumlah natrium bisa melonjak jauh melebihi batas aman. Hal yang sama juga berlaku untuk minuman manis dalam botol yang rata-rata mengandung 25-30 gram gula per porsi.


    Kenapa GGL Harus Dibatasi

    Tubuh memang memerlukan gula, garam, dan lemak agar metabolisme berjalan optimal. Gula menjadi sumber energi, garam membantu keseimbangan cairan, dan lemak berperan dalam penyerapan vitamin dan bahan pembentuk hormon. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak, dampaknya bisa serius bagi kesehatan.

    Kementerian Kesehatan menetapkan anjuran konsumsi harian GGL melalui kampanye Batasi Gula Garam Lemak (GGL), yaitu:

    • Gula: maksimal 50 gram per hari (setara 4 sendok makan)
    • Garam: maksimal 2.000 mg natrium atau 1 sendok teh garam
    • Lemak: maksimal 67 gram per hari (setara 5 sendok makan minyak)

    Namun, tanpa sadar banyak orang yang melebihi batas konsumsi GGL. Survei Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan konsumsi GGL masyarakat Indonesia masih di atas anjuran. Konsumsi gula berlebih membuat kadar glukosa darah melonjak dan tubuh kesulitan mengendalikannya.

    Penelitian yang terbit di British Medical Journal tahun 2023 menunjukkan bahwa peningkatan 10% asupan gula tambahan bisa menaikkan risiko diabetes tipe 2 hingga 15%. Garam yang dikonsumsi berlebihan juga memperberat kerja jantung.

    World Health Organization (WHO) mencatat, pengurangan konsumsi garam sebesar 30% secara global bisa mencegah jutaan kasus hipertensi dan stroke. Lemak jenuh dan lemak trans juga berbahaya dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL).

    Studi dalam Jurnal Foods tahun 2021 menemukan bahwa konsumsi lemak trans sebesar 2% dari total energi harian mampu meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 23%. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi GGL setiap hari mungkin terasa enak, tetapi secara perlahan mengikis kesehatan dan memicu berbagai penyakit kronis.

    Cara Sederhana Membaca Label Gizi

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membaca label gizi adalah sebagai berikut:

    1. Baca takaran saji

    Banyak yang salah menafsirkan angka karena tidak memperhatikan takaran saji di kemasan. Jika tertulis “takaran saji: 2”, berarti seluruh kandungan gizi di label perlu dikalikan dua bila produk di kemasan dikonsumsi habis.

    2. Perhatikan jumlah gula, natrium, dan lemak total

    • Produk yang mengandung lebih dari 15 gram gula per 100 gram, tergolong tinggi.
    • Kandungan natrium di atas 500 mg per 100 gram, tergolong tinggi.
    • Pilih kandungan lemak kurang dari 3 gram lemak jenuh per 100 gram.

    3. Lihat %AKG sebagai panduan cepat

    Angka Kecukupan Gizi (%AKG) menunjukkan kontribusi zat gizi dalam satu sajian terhadap kebutuhan harian. Jika label menunjukkan “Natrium 75% AKG”, berarti satu porsi produk sudah menyumbang 75% kebutuhan natrium harian.

    4. Hati-hati dengan klaim di depan kemasan

    Klaim seperti “rendah lemak” atau “tanpa gula tambahan” tidak selalu berarti aman. Produk bisa saja tetap tinggi kalori atau mengandung pemanis buatan. Jadi pastikan selalu membaca tabel nilai gizi di belakang kemasan.

    Mulai dari Label Gizi

    Membaca label gizi mungkin terlihat sepele, tetapi langkah kecil ini dampaknya besar bagi kesehatan tubuh. Langkah ini membantu memperbaiki pola makan, batas konsumsi, keputusan yang lebih sehat. Seiring waktu, kebiasaan ini bisa menjadi modal yang meningkatkan kebugaran dan kesehatan di Indonesia.

    Jadi, mulai sekarang, biasakan melihat bagian belakang kemasan sebelum membeli. Karena di balik angka-angka kecil di label gizi, tersimpan informasi besar yang bisa menentukan kondisi kesehatan di masa depan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Diet Mediterania Kembali Dinobatkan Jadi Diet Terbaik di 2025, Ini Alasannya


    Jakarta

    Para panel ahli yang tergabung dalam US News & World Report menobatkan diet mediterania sebagai diet terbaik untuk dijalani di tahun 2025. Diet Mediterania telah berada di posisi puncak untuk rekomendasi diet terbaik sejak 2019.

    Diet Mediterania, yang lebih merupakan gaya hidup daripada diet, memenangkan penghargaan tertinggi karena fokusnya pada konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, minyak zaitun, serta kacang-kacangan dan biji-bijian sambil menekankan pentingnya makan bersama keluarga dan teman-teman serta olahraga setiap hari. Diet ini juga memangkas konsumsi makanan manis dan merekomendasikan sedikit susu dan daging, terutama daging merah.

    “Sudah diketahui umum bahwa apa yang baik untuk jantung juga baik untuk otak dan tubuh dalam segala hal,” ucap Samantha Cassetty, MS, RD, ahli diet di New York City, menjelaskan mengapa diet Mediterania begitu populer dan mendapat peringkat tinggi.


    “Apa yang baik untuk jantung dan otak Anda ternyata juga baik untuk usus,” ujar dia seraya mengutip peringkat teratas diet Mediterania untuk kesehatan usus dan divertikulitis.

    Diet Mediterania mendapat skor 4,8 dari 5 berdasarkan evaluasi beberapa faktor, termasuk kelengkapan nutrisi, risiko dan manfaat kesehatan, keberlanjutan jangka panjang, dan efektivitas berbasis bukti.

    Diet ini juga mendapat skor teratas dalam 11 kategori tambahan dalam peringkat tahunan publikasi tersebut, termasuk yang paling mudah diikuti, kesehatan usus, penurunan berat badan, dan kesehatan mental.

    “Orang yang menjalani diet ala Mediterania memiliki harapan hidup lebih panjang, melaporkan kualitas hidup yang lebih tinggi, dan lebih kecil kemungkinannya menderita penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung,” menurut US News and World Report.

    Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 60.000 orang, mereka yang mengikuti diet Mediterania lebih ketat memiliki risiko demensia yang lebih rendah, terlepas dari risiko genetik.

    American Heart Association mengatakan bahwa diet Mediterania dapat “berperan besar” dalam mencegah penyakit jantung dan stroke serta mengurangi faktor risiko seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com

  • Diet Ini Tak Cuma Perpanjang Umur, Tapi Juga Cegah Pikun di Usia Tua


    Jakarta

    Diet Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay (MIND) menggabungkan diet Mediterania dan DASH untuk menargetkan otak yang menua. Diet ini penuh dengan makanan yang kaya akan vitamin, karotenoid, dan flavonoid tertentu, yang dianggap mampu melindungi otak dengan mengurangi stres oksidatif dan peradangan.

    Sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi hijau, serta biji-bijian utuh, minyak zaitun, unggas, ikan, kacang-kacangan, dan kacang-kacangan semuanya menjadi pusat perhatian dalam diet MIND. Buah beri lebih disukai daripada buah-buahan lainnya, dan Anda disarankan untuk mengonsumsi satu atau lebih porsi ikan dan dua atau lebih porsi unggas per minggu.

    Sementara itu, daging merah dan makanan manis harus dibatasi masing-masing empat dan lima kali seminggu, dan keju, makanan yang digoreng, dan mentega juga harus dibatasi.


    “Dengan meningkatnya jumlah pengidap demensia seiring bertambahnya populasi yang menua, penting untuk menemukan perubahan yang dapat kita lakukan untuk menunda atau memperlambat perkembangan masalah kognitif,” kata penulis studi Dr Russell P. Sawyer, dari University of Cincinnati di Ohio dan anggota American Academy of Neurology, dalam sebuah pernyataan.

    “Kami sangat tertarik untuk melihat apakah pola makan memengaruhi risiko gangguan kognitif,” ujar Russel dikutip dari IFL Science.

    Russel dan rekannya merekrut 14.145 orang dengan usia rata-rata 64 tahun, 70 persen di antaranya berkulit putih dan 30 persen berkulit hitam dan mengikuti mereka selama rata-rata 10 tahun. Peserta diminta untuk melengkapi Kuesioner Frekuensi Makanan dalam studi REasons for Geographic and Racial Differences in Stroke (REGARDS), yang digunakan para peneliti untuk menilai seberapa dekat pola makan mereka dengan pola makan MIND.

    Mereka juga mengukur keterampilan berpikir dan ingatan di awal dan akhir studi dan membandingkan kepatuhan pola makan MIND dengan gangguan kognitif yang terjadi dan lintasan kognitif, dengan menyesuaikan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, ras, kondisi kesehatan yang mendasarinya, dan faktor gaya hidup.

    Peneliti menemukan bahwa mengonsumsi pola makan yang sangat mirip dengan pola makan MIND dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan kognitif pada peserta perempuan, tetapi tidak pada peserta laki-laki; tidak ada perbedaan antara peserta berkulit hitam dan putih. Mengalihkan perhatian mereka ke penurunan kognitif, para peneliti menemukan bahwa pada orang yang lebih dekat mengikuti diet MIND, kognisi memburuk lebih lambat daripada mereka yang tidak, dan bahwa kepatuhan terhadap diet MIND merupakan prediktor penurunan kognitif yang lebih baik pada peserta kulit hitam daripada peserta kulit putih.

    “Temuan ini memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama untuk memeriksa dampak yang bervariasi ini di antara pria dan wanita serta orang kulit hitam dan kulit putih,” pungkasnya.

    (kna/kna)



    Sumber : health.detik.com