Tag: tamu

  • Rasulullah Anjurkan Menerima Tamu di Rumah, Bagaimana Kalau Tidak Bisa?



    Jakarta

    Selain sebagai tempat beristirahat, rumah juga merupakan tempat yang cocok untuk berkumpul bersama keluarga, teman, atau tetangga. Maka setiap rumah pasti pernah kedatangan seorang tamu selama penghuni tersebut tinggal di sana.

    Dalam Islam, datangnya tamu sama saja seperti penghuni rumah tersebut sedang kedatangan rezeki. Hal ini diceritakan oleh Allah melalui kisah Nabi Ibrahin AS yang menerima kedatangan Malaikat di rumahnya sebagai ‘tamu’.

    “Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap. Sudahkah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Cerita itu bermula) ketika mereka masuk (bertamu) kepadanya, lalu mengucapkan, “Salam.” Ibrahim menjawab, “Salam.” (Mereka) adalah orang-orang yang belum dikenal.” (QS Az Zariyat: 23-25).


    Mengutip dari detikHikmah pada Senin (25/3/2024), Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Muslim untuk berpergian dan tidak lupa untuk mampir di rumah kerabat. Dalam riwayat Hadits Al Bukhari dan Ismail batas bertamu di rumah orang lain adalah 3 hari.

    “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah SAW bersabda: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.” (Al Bukhari dan Ismail, 2011).

    Menurut NU Online, terdapat beberapa adab yang harus diperhatikan saat bertamu ke rumah orang lain menurut Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, dalam Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2, halaman 117) diantaranya sebagai berikut.

    1. Tidak menolak ketika dipersilakan duduk di suatu tempat dan (tidak menolak) ketika diberi penghormatan.
    2. Menyantap makanan (yang dihidangkan), tak perlu beralasan sudah kenyang.
    3. Membasuh kedua tangan (ketika hendak makan dengan tangan).
    4. Ketika melihat tuan rumah bergerak untuk melakukan sesuatu, jangan mencegahnya.
    5. Tidak bertanya pada tuan rumah tentang sesuatu di rumahnya kecuali arah kiblat dan toilet.
    6. Tidak mengintip ke arah tempat Wanita
    7. Tidak menolak ketika dipersilakan duduk di suatu tempat dan (tidak menolak) ketika diberi penghormatan.

    Meskipun menyambut tamu dan bertamu di rumah orang lain dianjurkan, tetapi dalam keadaan tertentu, tuan rumah boleh menolak tamu untuk datang ke rumah. Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu diriwayatkan dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut.

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (Hadits shahih. HR. Bukhari, no. 5891 dan Muslim, no. 2153).

    Dalam Surat Al-Ahzab ayat 5 Allah SWT menceritakan ada seorang tamu yang membuat Rasulullah SAW malu untuk memintanya pulang karena sudah terlalu lama bertamu.

    “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapkan Hal Ini di Rumah Sambut Tamu Pas Lebaran, Biar Nggak Malu


    Jakarta

    Lebaran Idul Fitri biasanya kita berkumpul bersama keluarga. Apabila kamu menjadi tuan rumah yang mengadakan acara silaturahmi, tentu ada banyak persiapan yang harus dilakukan sebelum hari H.

    Selain mempersiapkan makanan dan minuman yang lezat, kondisi rumah juga perlu dibersihkan supaya para tamu bisa merasa nyaman. Kamu tidak perlu repot-repot membersihkan seluruh rumah, cukup sisihkan waktu untuk fokus membersihkan ruangan yang akan ditempati oleh tamu.

    1. Rapikan Barang-barang di Rumah

    Rumah yang dihuni wajar saja ada barang berserakan atau tidak pada tempatnya. Hal pertama yang sebaiknya dilakukan ketika membersihkan rumah adalah merapikan barang-barang yang tidak teratur, seperti tumpukan baju, mainan yang berserakan, dan lainnya.


    Jika mempunyai waktu dan tenaga yang cukup, kamu bisa merapikan dengan mengembalikan semua barang pada tempat semestinya. Namun, apabila tidak sempat maka jangan asal menaruh barang-barang ke dalam lemari. Kamu bisa menyiapkan tempat atau keranjang untuk setiap ruangan dan menaruh barang-barang tersebut di dalamnya untuk sementara.

    2. Persiapkan Area Hiburan

    Tamu-tamu biasanya tidak akan menghabiskan waktu di seluruh rumah, melainkan area tertentu seperti ruang tamu, ruang makan, dan ruang keluarga. Jadi, kamu tidak harus menghabiskan tenaga membersihkan seluruh rumah, melainkan hanya tempat yang akan diisi oleh tamu.

    3. Rapikan Dapur

    Lebaran memang harinya makan-makan, maka tak jarang tuan rumah ataupun tamu ingin memasak atau menyiapkan hidangan di dapur. Oleh karena itu, sebaiknya merapikan dapur dengan teratur supaya mudah menemukan peralatan dapur sekaligus tampak rapi di mata tamu. Area dapur yang sebaiknya kamu membersihkan antara lain kulkas, kompor, dan cucian piring kotor.

    4. Harumkan Ruangan

    Selain membersihkan fisik ruangan, akan lebih baik jika kamu juga membersihkan aroma udara dari aroma tidak sedap. Terkadang penghuni rumah kebal dengan aroma rumah yang mungkin kurang sedap karena memasak atau memelihara hewan.

    Kamu bisa membuat rumah beraroma lebih segar dengan membuang sampah, membuka jendela, membersihkan ruangan, serta memasang pengharum ruangan yang tidak terlalu menyengat.

    5. Bersihkan Kamar Mandi

    Kamar mandi pasti akan sering digunakan oleh tamu, jadi penting untuk memastikannya dalam keadaan bersih. Bahkan, mungkin ruangan ini yang paling membutuhkan pembersihan secara mendalam.

    Pastikan untuk menyikat WC pada setiap sisi, termasuk di bawah tempat duduk. Lalu, bersihkan juga wastafel dan cermin. Lalu, sebaiknya menyembunyikan peralatan mandi dan menaruh handuk dan sabun baru khusus untuk tamu.

    Itulah beberapa hal yang perlu dibersihkan untuk mempersiapkan rumah menerima tamu saat lebaran. Semoga membantu!

    (dhw/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyambut Tamu yang akan Menginap saat Lebaran


    Jakarta

    Lebaran merupakan momen yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. Banyak orang bahkan kembali ke kampung halaman untuk bertemu kerabat yang sudah lama tak dijumpai.

    Apabila kamu bakal kedatangan tamu yang akan menginap di rumah, ada baiknya mempersiapkan beberapa hal di seputar rumah. Selain menyediakan tempat menginap yang nyaman bagi tamu, hal ini bisa menjadi menunjukkan kamu menyambut kedatangan mereka dengan baik.

    Melansir dari C’s home & office management, berikut ini beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk menyambut tamu yang akan menginap saat Lebaran.


    1. Bersihkan Rumah

    Hal terpenting dalam mempersiapkan rumah untuk menyambut kedatangan tamu adalah membersihkan dan merapikan rumah. Langkah ini termasuk membuang sampah, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, serta membersihkan debu di sekitar rumah. Selain itu, kamu juga bisa mengatur ulang furnitur untuk menciptakan lebih banyak ruang gerak bagi para tamu.

    2. Sediakan Bantal dan Kasur

    Tergantung pada jumlah tamu yang akan menginap, kamu perlu menyediakan bantal, selimut, dan kasur yang cukup untuk mereka tidur. Atur di mana para tamu akan tidur sebelum mereka datang supaya tidak pusing pada hari H.

    3. Siapkan Kebutuhan Kamar Mandi

    Tentunya para tamu akan menggunakan kamar mandi untuk mandi maupun buang air. Jadi pastikan sudah menyediakan tisu, sabun, dan handuk untuk mereka gunakan. Sebagai tambahan, sebaiknya menyediakan sikat gigi barangkali mereka tidak membawa dari rumah.

    4. Pastikan Persediaan Makanan & Alat Makan

    Lalu, pastikan persediaan makanan dan alat makan memadai untuk para tamu. Sebaiknya menyimpan makanan dan camilan lebih agar sewaktu-waktu tidak sampai kehabisan makanan. Jangan lupa juga bahan masakan dan minuman esensial seperti minyak goreng, garam, gula, kopi, dan teh.

    5. Tur Keliling Rumah

    Ketika tamu sudah sampai di rumah, sempatkan untuk mengajak mereka berkeliling rumah. Hal ini penting agar mereka tahu letak ruangan maupun barang sekaligus mengajarkan mereka cara menggunakan peralatan di sekitar rumah.

    Demikian beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk menyambut kerabat yang akan menginap di rumah saat Lebaran. Semoga membantu!

    Ikuti berita-berita terkini arus mudik dan arus balik di BRI Teman Mudik.

    (dhw/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Pantangan Saat Bertamu ke Rumah Orang Menurut Ajaran Islam



    Jakarta

    Selain sebagai tempat istirahat, rumah juga sebagai tempat buat kumpul bersama keluarga, teman, atau tetangga. Tentunya setiap rumah pernah kedatangan seorang tamu dan kita pun bertamu ke rumah orang lain.

    Dalam Islam, datangnya tamu bagaikan penghuni rumah kedatangan rezeki. Hal ini diceritakan oleh Allah melalui kisah Nabi Ibrahin AS ketika menerima kedatangan malaikat di rumahnya sebagai ‘tamu’.

    “Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap. Sudahkah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Cerita itu bermula) ketika mereka masuk (bertamu) kepadanya, lalu mengucapkan, “Salam.” Ibrahim menjawab, “Salam.” (Mereka) adalah orang-orang yang belum dikenal.” (QS Az Zariyat: 23-25).


    Meski demikian, Islam mengajarkan adab bertamu ke orang lain. Jangan sampai kita sebagai tamu malah membuat pemilik rumah merasa tidak nyaman.

    Dikutip dari detikHikmah, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Muslim untuk berpergian dan tidak lupa untuk mampir di rumah kerabat. Dalam riwayat Hadits Al Bukhari dan Ismail batas bertamu di rumah orang lain adalah 3 hari.

    “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah SAW bersabda: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.” (Al Bukhari dan Ismail, 2011).

    Menurut NU Online, terdapat beberapa adab yang harus diperhatikan saat bertamu ke rumah orang lain menurut Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, dalam Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2, halaman 117) di antaranya sebagai berikut.

    1. Tidak menolak ketika dipersilakan duduk di suatu tempat dan (tidak menolak) ketika diberi penghormatan.
    2. Menyantap makanan (yang dihidangkan), tak perlu beralasan sudah kenyang.
    3. Membasuh kedua tangan (ketika hendak makan dengan tangan).
    4. Ketika melihat tuan rumah bergerak untuk melakukan sesuatu, jangan mencegahnya.
    5. Tidak bertanya pada tuan rumah tentang sesuatu di rumahnya kecuali arah kiblat dan toilet.
    6. Tidak mengintip ke arah tempat wanita
    7. Tidak menolak ketika dipersilakan duduk di suatu tempat dan (tidak menolak) ketika diberi penghormatan.

    Meskipun menyambut tamu dan bertamu di rumah orang lain dianjurkan, tetapi dalam keadaan tertentu, tuan rumah boleh menolak tamu untuk datang ke rumah. Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu diriwayatkan dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut.

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (Hadits shahih. HR. Bukhari, no. 5891 dan Muslim, no. 2153).

    Dalam Surat Al-Ahzab ayat 5 Allah SWT menceritakan ada seorang tamu yang membuat Rasulullah SAW malu untuk memintanya pulang karena sudah terlalu lama bertamu.

    “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Tips Agar Rumah Tampak Rapi Nggak Pakai Ribet


    Jakarta

    Merapikan rumah bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Hal ini tentu bisa membantu penghuni rumah ketika tiba-tiba kedatangan tamu.

    Ada beberapa cara agar rumah langsung terlihat rapi dan bersih. Bagaimana caranya? Dilansir dari Homes & Gardens berikut ini informasinya.

    1. Rapikan Area Pintu Masuk

    Merapikan area pintu masuk penting untuk dilakukan. Hal itu karena bagian tersebut merupakan area pertama yang dilihat ketika tamu datang.


    “Pintu masuk menentukan suasana seluruh rumah Anda. Luangkan waktu lima menit untuk membersihkan sepatu, menyingkirkan barang-barang yang tidak seharusnya ada di tempat itu, dan mengumpulkan semua tas, surat, atau jaket yang tidak terpakai. Hal itu langsung membuat rumah Anda terasa lebih terarah dan tidak terlalu berantakan,” kata pemilik Beautiful Life Creative Organizing, Sarah Schier, dikutip dari Homes & Gardens.

    2. Rapikan Tempat Tidur

    Merapikan tempat tidur bisa menjadi salah satu cara agar rumah tampak rapi. Merapikan tempat tidur juga bisa memberikan efek lainnya seperti kamar terasa bersih dan rapi meski ada beberapa barang di sekitarnya.

    Terkadang tamu bisa masuk ke kamar tidur jika ingin menumpang untuk melaksanakan ibadah seperti salat ketika bertamu. Bisa juga kamar tidur di rumah dipakai untuk tempat menginap tamu jika diperlukan. Maka dari itu, penting untuk merapikan kamar tidur setiap hari.

    3. Rapikan Barang-barang di Permukaan

    Salah satu cara mudah untuk membuat rumah tampak lebih rapi adalah dengan merapikan barang-barang yang ada di permukaan, seperti di area ruang keluarga dan dapur.

    Itulah beberapa cara yang bisa dilakukan agar rumah tampak rapi tanpa ribet. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Anjuran Memuliakan Tamu, Ini Hadits dan Keutamaannya



    Jakarta

    Tahukah detikers, memuliakan tamu termasuk bagian dari keimanan dan menunjukkan perangai yang baik. Hal ini pernah disabdakan oleh Nabi SAW melalui hadits.

    Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menuturkan:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


    Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mempererat hubungan kekeluargaannya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengucapkan yang baik ataupun berdiam diri saja.” (Muttafaq ‘Alaih, HR Bukhari [10/373, 442] & Muslim [47])

    Menukil Syarah Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, hadits tersebut menjelaskan bahwa tanda keimanan yang sempurna, salah satunya adalah memuliakan tamu.

    Musthafa Dieb Al-Bugha dalam kitab Al-Wafi di Syahril Arba’in an-Nawawiyah turut kemukakan memuliakan tamu merupakan kewajiban seorang muslim yang baik. Lantaran hal ini menunjukkan kesempurnaan iman dan ketakwaan yang total kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

    Cara Memuliakan Tamu dalam Islam

    Imam Al-Ghazali melalui kitabnya Ihya Ulumiddin menerangkan kesempurnaan memuliakan tamu seperti apa yang dianjurkan di sini. Yakni dengan cara; menyambutnya dengan wajah berseri dan bibir tersenyum, bersegera dalam memberi suguhan dan menjamunya, berbuat dan bertutur baik, juga mengucapkan selamat tinggal dengan hangat saat tamu hendak pulang.

    Al-Auza’i pernah ditanya, “Bagaimana cara memuliakan tamu?” Ia menjawab, “Dengan bibir yang tersenyum dan berbicara yang baik.”

    Raghib As-Sirjani dalam buku Ihya 345 Sunnah Nabawiyah menyebutkan pula cara memuliakan tamu, “Memuliakan tamu mencakup menerima tamu dengan baik, menghadirkan rona wajah yang berseri-seri, menyuguhkan makanan dan minuman, duduk di tempat yang baik dan mempersilahkan tamu bermalam jika hal itu dibutuhkan hingga tiga hari.”

    Bermalam selama tiga hari di kediaman orang lain merupakan salah satu hak tamu, tetapi kembali lagi, apakah merepotkan dan menyusahkan tuan rumahnya atau tidak.Demikian bila hendak bermalam lebih dari tiga hari, maka kembali pula ke kedermawanan pemilik rumah.

    Keutamaan Memuliakan Tamu

    Masih dari kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali melampirkan tutur Nabi SAW yang mengungkap keistimewaan dalam memuliakan tamu.

    Rasul SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang berakhlak baik dalam memuliakan tamu, akan mendapat derajat kemuliaan orang yang banyak berpuasa dan mendirikan salat sunnah.” (Hadits Shahih)

    Dalam hadits lain riwayat Abu Hurairah diceritakan: “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku ini orang susah.’ Beliau menyuruh ke rumah seorang istrinya, lalu istrinya itu berkata, ‘Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak mempunyai apa-apa selain air.’

    Kemudian beliau menyuruh lagi ke tempat istrinya yang lain, lalu ia pun berkata seperti itu. Hingga mereka semua berkata seperti itu, ‘Tidak ada, demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak punya apa-apa selain air.’

    Lalu beliau bersabda, ‘Siapakah yang mau menjamu orang ini malam ini?’ Seorang
    laki-laki dari golongan Anshar berkata, ‘Aku, ya Rasulullah.’

    Orang itu berangkat dengan tamunya ke rumahnya, lalu berkata kepada istrinya, ‘Muliakanlah tamu Rasulallah SAW ini.”

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Orang itu berkata kepada istrinya, ‘Apakah engkau mempunyai suatu jamuan?’ Istrinya menjawab, ‘Tidak ada, kecuali makanan untuk anak-anakku.’

    Laki-laki itu berkata, ‘Lalaikan anak-anakmu dengan suatu hal. Jika mereka ingin makan malam, tidurkanlah mereka. Jika tamu kita telah masuk rumah, padamkanlah lampunya dan perlihatkan kepadanya bahwa kita sedang makan.’ Lalu mereka duduk, sementara tamu itu makan. Maka, kedua suami istri itu meringkuk semalam (lapar).

    Ketika menjelang pagi harinya, orang itu pergi menemui Nabi SAW. Lalu beliau bersabda, ‘Allah benar-benar kagum terhadap perbuatan kalian terhadap tamu kalian tadi malam.” (Muttafaq ‘Alaih, HR Bukhari [7/90, 91, 8/484] & Muslim [2054])

    Diterangkan dalam Syarah Raiyadhus Shalihin, hadits di atas menganjurkan untuk mementingkan orang lain atau tamu. Adapun memuliakan tamu merupakan akhlak yang baik dalam Islam, sebagaimana Allah SWT memuji perilaku sahabat Anshar dan istrinya itu dalam riwayat tersebut. Namun demikian, mencukupi diri sendiri dan keluarga lebih didahulukan karena hukumnya wajib.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com