Tag: teksturnya

  • Tips Mudah Merawat Lidah Mertua Biar Makin Cantik dan Subur


    Jakarta

    Ada berbagai jenis tanaman hias yang cocok ditanam di rumah, salah satunya yang populer adalah lidah mertua (Sansevieria). Tanaman ini memiliki sejumlah manfaat untuk hunian, mulai dari memperbaiki kualitas udara hingga mengatur kelembapan.

    Lidah mertua juga termasuk tanaman yang mudah dirawat lho. Maka dari itu, lidah mertua sangat cocok bagi detikers yang baru memulai menanam tanaman hias di rumah.

    Meski mudah dirawat, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menanam lidah mertua. Bagaimana tips merawat lidah mertua? Simak penjelasannya dalam artikel ini.


    Tips Mudah Merawat Lidah Mertua

    Ada sejumlah tips dalam merawat lidah mertua agar bisa tumbuh subur. Dikutip dari The Spruce, Rabu (11/6/2025), berikut beberapa tipsnya:

    1. Beri Sinar Matahari

    Lidah mertua perlu sinar matahari sekitar 8-10 jam dalam sehari. Akan tetapi, tanaman ini juga dikenal dapat bertahan hidup meski dalam kondisi minim cahaya. Namun, proses pertumbuhannya akan berjalan lambat.

    Maka dari itu, sebaiknya letakkan lidah merua di jendela yang menghadap arah timur. Bisa juga meletakkan tanaman ini di dekat jendela yang menghadap ke selatan atau barat.

    2. Tanam di Tanah Pot yang Gembur

    Lidah mertua lebih menyukai campuran tanah pot yang gembur dan punya drainase baik. Tanaman ini dapat tumbuh subur di tanah berpasir, sehingga tanah pot kaktus serbaguna bisa menjadi pilihan terbaik.

    Perlu diingat, jangan mencampur tanah yang mengandung persentase gambut tinggi karena dapat menahan terlalu banyak air.

    3. Siram Air ketika Sudah Kering

    Lidah mertua sebaiknya disiram ketika benar-benar kering dan pastikan disiram secara menyeluruh. Jika kamu tinggal di udara yang cenderung sejuk atau dingin, lidah mertua hanya perlu disiram sebulan sekali saja. Jika daunnya sudah terlihat rapuh dan kering, sebaiknya segera disiram.

    Sebagai informasi, tidak dianjurkan menyiram lidah mertua secara berlebihan. Sebab, terlalu bayak air membuat tanaman ini jadi terendam dan sistem akarnya menjadi busuk.

    3. Suhu dan Kelembapan

    Agar dapat tumbuh subur, sebaiknya tanam lidah mertua di suhu sekitar 21-32 derajat Celcius. Sebagai pengingat, tanaman ini tidak tahan terhadap embun beku dan suhu di bawah 10 derajat Celcius. Dalam jangka waktu singkat, lidah mertua bisa mati karena suhu yang dingin.

    Jika ingin menanam lidah mertua di dalam rumah, pastikan tingkat kelembapannya berada di antara 30-50%.

    4. Pupuk

    Beri pupuk setiap enam bulan sekali agar lidah mertua tetap tumbuh dengan baik. Jika ditanam di dalam ruangan, sebaiknya beri pupuk cair organik.

    5. Rutin Mengecek Batangnya

    Selain mengganti pupuk, penting juga untuk mengecek batang lidah mertua secara teratur. Jika batangnya berubah warna jadi kuning dan teksturnya lembek, hal itu terjadi karena terlalu banyak disiram air sehingga mengalami pembusukan akar.

    Manfaat Menanam Lidah Mertua di Rumah

    Ada sejumlah manfaat dari menanam lidah mertua di rumah. Apa saja? Simak di bawah ini:

    • Mudah dirawat dan cocok bagi orang yang baru pertama kali menanam tanaman di rumah.
    • Mengatasi udara kotor.
    • Dapat menghilangkan benzena, formaldehida, toluena, trikloroetilen pada udara di dalam ruangan.
    • Punya bentuk yang unik dan menarik sebagai tanaman hias.
    • Dapat tumbuh di kondisi cahaya yang redup, meski proses pertumbuhannya sedikit lambat
    • Tidak perlu disiram air setiap hari.
    • Tahan kering.
    • Mengeluarkan oksigen saat malam hari.

    Sebagai catatan, lidah mertua merupakan tanaman yang sedikit beracun bagi hewan peliharaan. Maka dari itu, tanaman ini tidak disukai kucing dan anjing. Apabila lidah mertua tertelan manusia, hal ini berisiko menyebabkan iritasi mulut, gangguan pencernaan, hingga muntah.

    Demikian tips merawat lidah mertua di rumah agar tumbuh subur. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/ilf)



    Sumber : www.detik.com

  • Penyebab, Cara Cegah, dan Bersihkan Bantal Kuning Jadi Bersih Lagi


    Jakarta

    Bantal yang menguning kerap ditemukan di rumah. Apalagi, kalau bantal tersebut sudah digunakan dalam waktu yang cukup lama.

    Noda kuning pada bantal ini terkadang bisa membuat penghuni rumah tidak nyaman menggunakannya dan tidak enak dipandang. Namun jangan khawatir, karena masih ada cara untuk menghilangkannya.

    Nah, sebelum mengetahui cara membersihkan noda kuning pada bantal, sebaiknya ketahui dulu penyebabnya. Dilansir dari Sleep Foundation, berikut ini informasinya.


    Penyebab Bantal Menguning

    1. Air Liur

    Ketika tidur, seseorang bisa saja mengeluarkan air liur alias ngiler. Disarankan untuk tidur telentang agar tidak mudah ngiler saat tidur, hal ini guna membantu mengurangi kelembaban berlebih pada bantal.

    2. Keringat

    Keringat dalam jumlah tertentu saat kamu tertidur adalah cara normal tubuh mengatur suhu. Namun, keringat yang merembes ke sarung bantal bisa menimbulkan noda kuning.

    Untuk meminimalisir hal ini, kamu bisa memakai piyama yang lebih ringan dan tidur di ruangan yang lebih sejuk guna mencegah bantal menguning dan mengurangi keringat malam.

    3. Minyak Rambut dan Kulit

    Kelenjar sebasea adalah bagian tubuh yang bertanggung jawab memproduksi minyak rambut dan kulit. Kelenjar ini menghasilkan zat yang disebut sebum yang berperan penting untuk kesehatan kulit.

    Walau demikian, kelenjar sebasea yang terlalu aktif membuat rambut dan kulit berminyak. Minyak berlebih ini kemungkinan akan menyerap ke dalam bantal dan mengubah warna bantal.

    4. Rambut Basah

    Jangan langsung tiduran di bantal ketika rambut masih basah. Hal itu karena air bisa meresap ke dalam sarung bantal dan menyebabkan perubahan warna.

    Kamu bisa menghindari hal ini dengan cara memberi jeda waktu mandi dan waktu tidur, serta pastikan rambutmu sudah kering agar mengurangi kelembapan pada bantal.

    5. Krim Wajah, Lotion, dan Produk Kecantikan

    Setiap orang punya rutinitas perawatan kulit di malam hari, seperti mencuci muka atau mengoleskan bermacam krim atau lotion. Saat mengoleskan produk kecantikan sebelum tidur, pastikan produk tersebut punya waktu untuk menyerap ke dalam kulit. Hal ini bertujuan agar produk perawatannya tidak meresap ke dalam bantal dan menimbulkan noda serta perubahan warna.

    Cara Mencegah Bantal Menguning

    Dilansir dari English Home, untuk mencegah noda kekuningan, sarung bantal dapat digunakan untuk melindunginya dari keringat dan minyak yang dihasilkan tubuh. Pakai sarung bantal yang mudah dilepas-pasang sehingga bisa dicuci secara rutin.

    Penting untuk mencuci bantal secara berkala setiap 6-12 bulan sekali. Gunakan mesin pengering untuk mengeringkan bantal secara menyeluruh. Jika mesin cuci tidak cukup besar, bantal dapat dicuci di tempat binatu atau laundry.

    Cara Membersihkan Noda Kuning pada Bantal

    Masih dilansir dari English Home, berikut ini cara membersihkan noda kuning pada bantal.

    1. Pakai Soda Kue dan Cuka

    Soda kue dan cuka sudah dikenal sebagai pembersih alami yang bantu hilangkan noda atau kotoran membandel. Berikut cara menggunakannya:

    – Campurkan soda kue dengan sedikit air hingga teksturnya mengental seperti pasta.
    – Oleskan pasta langsung ke area bantal yang bernoda dan biarkan selama 15-30 menit.
    – Setelah itu, basahkan kain bersih dengan cuka putih lalu tepuk-tepuk ke area bantal tadi untuk mengangkat noda dan menghilangkan pasta.
    – Usai noda hilang, bilas bantal dengan air dan cuci bersih bantal sesuai petunjuk label perawatan.

    Khawatir bau cuka menempel lama? Campurkan minyak esensial seperti lavender dengan detergen biasa saat proses pencucian untuk menghilangkan aroma asam cuka.

    2. Pakai Detergen

    Detergen yang dipakai sehari-hari untuk mencuci juga dapat digunakan untuk membersihkan noda kekuningan pada bantal. Berikut caranya:

    – Tambahkan detergen dan air dengan perbandingan yang sama langsung ke area noda.
    – Tepuk-tepuk area bantal tadi untuk mengangkat noda kuning.
    – Setelah noda hilang, bilas sampai bersih dan cuci bantal sesuai petunjuk label perawatan.

    Noda yang disebabkan dari sesuatu yang tertumpah penting segera ditangani menggunakan detergen ringan dan kain bersih dengan cara seperti di atas. Semakin cepat noda dihilangkan, semakin besar pula kemungkinan noda cepat hilang dan tidak bertahan lama.

    Usai menghilangkan nodanya, pastikan bantal benar-benar kering setelah selesai dicuci agar tidak timbul noda lain. Hal ini juga memastikan bantal tidak lembap dan berjamur.

    Itulah penyebab, cara mencegah, dan menghilangkan noda kuning pada bantal.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Benda yang Sebaiknya Tidak Ditaruh di Atas Kulkas, Bisa Berbahaya!



    Jakarta

    Atas kulkas sering kali jadi ‘meja darurat’ di rumah. Mulai dari botol minyak, roti, hingga peralatan dapur kecil semuanya kerap numpuk di atas permukaan kulkas. Bahkan, ada yang sengaja melapisinya dengan taplak lengkap dengan kantong-kantong untuk menyimpan berbagai barang.

    Padahal, nggak semua benda aman ditaruh di atas kulkas, lho! Alih-alih praktis, kebiasaan ini justru bisa bikin kulkas cepat rusak, barang jadi cepat basi, bahkan bisa membahayakan keselamatan.

    Melansir dari Southern Living, berikut daftar benda yang sebaiknya tidak diletakkan di atas kulkas:


    1. Minyak Goreng

    Menurut Petya Holevich, supervisor pembersihan rumah dari Fantastic Service, minyak sangat sensitif terhadap panas dan cahaya. Suhu hangat dari atas kulkas bisa mengubah rasa dan kualitas minyak, bahkan bisa mempercepat tengik.

    2. Roti

    Roti memang sering jadi andalan sarapan, tapi kalau diletakkan di atas kulkas, teksturnya bisa cepat berubah. Panas dari kulkas bisa menimbulkan embun dalam kemasan, yang akhirnya mempercepat pertumbuhan jamur.

    3. Keripik

    Camilan favorit satu ini juga sebaiknya disimpan jauh dari kulkas. Suhu hangat membuat teksturnya cepat melempem dan minyak di dalamnya bisa rusak, bikin rasa keripik jadi hambar.

    4. Minuman Beralkohol

    Bryan Griffin, pendiri Patriot Maids Cleaning Services, mengungkap bahwa suhu panas dari kulkas dapat merusak cita rasa minuman beralkohol dan mengurangi daya simpan botolnya.

    5. Benda Pembersih

    Menurut Kathy Cohoon, manajer operasional Two Maids, bahan pembersih sebaiknya disimpan di tempat sejuk dan berventilasi. Menaruhnya di atas kulkas bisa jadi kombinasi berbahaya karena panas bisa memicu reaksi kimia.

    6. Benda Berat

    Permukaan atas kulkas umumnya terbuat dari bahan logam atau plastik tipis. Menaruh benda berat seperti rice cooker, galon, atau tumpukan buku bisa menekan struktur kulkas dan berpotensi penyok. Selain itu, benda berat bisa jatuh dan membahayakan orang di sekitarnya.

    7. Microwave dan Pemanggang Roti

    Dua alat ini menghasilkan panas dan butuh ventilasi khusus. Menaruhnya di atas kulkas bisa mengganggu sirkulasi panas keduanya-risikonya? Bisa merusak dua perangkat sekaligus.

    8. Wadah Plastik Kosong

    Kelihatannya aman, tapi wadah plastik bisa berubah bentuk atau bahkan retak kalau terus-menerus terpapar suhu hangat dari kulkas. Apalagi jika wadah tersebut terbuat dari bahan murah.

    9. Benda Mudah Terbakar

    Lilin, korek api, atau bahan kimia sebaiknya dijauhkan dari permukaan kulkas. Panas dari mesin kulkas bisa memicu kebakaran jika benda-benda ini tidak sengaja terpancing nyala.

    10. Obat-Obatan

    Obat memerlukan suhu penyimpanan yang stabil. Menaruhnya di atas kulkas bisa membuat efektivitasnya menurun karena panas yang dihasilkan dari mesin kulkas merambat ke atas.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Tips Bersihkan Noda Bekas Semen Yang Menempel di Lantai Keramik



    Jakarta

    Setelah merenovasi atau membangun rumah, biasanya banyak kotoran atau sisa-sisa pekerjaan yang masih tertinggal seperti bekas semen yang sulit dibersihkan.

    Selain di tembok, bekas semen yang sudah kering sering ditemukan di lantai keramik. Bila dibiarkan, noda ini membuat tampilan lantai menjadi kotor dan kurang menarik.

    Oleh karena itu, pemilik rumah harus segera membersihkan sisa-sisa semen kering yang masih menempel di keramik. Caranya bagaimana?


    Sebenarnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk membersihkan noda semen yang menempel di lantai, bahkan dengan bahan-bahan yang ada di rumah.

    Begini caranya

    1. Larutan HCL

    Selanjutnya, asam klorida (HCL) juga termasuk pembersih yang kuat, tetapi harus digunakan dengan sangat hati-hati. Untuk melindungi kamu dari bahaya dan risiko lain yang tidak diinginkan, kenakan dahulu semua alat pelindung dan pastikan area yang kamu kerjakan punya ventilasi yang baik. Campurkan HCL dengan air sesuai petunjuk pada label dan oleskan pada bekas semen.

    Lalu diamkan selama beberapa menit, kemudian gunakan sikat atau spons untuk membersihkan bekas semen. Bilas dengan air bersih dan pastikan bekas semen telah hilang sepenuhnya.

    2. Lemon

    Mirip dengan belimbing wuluh, lemon punya kandungan asam sitrat yang dapat membantu melunakkan bekas semen. Cukup peras lemon lalu gunakan jusnya untuk membersihkan bekas semen. Diamkan beberapa menit, lalu sikat sampai bekas semen terkelupas. Bilas dengan air bersih dan pastikan telah hilang sepenuhnya sebelum mengeringkan.

    3. Hidrogen Peroksida

    Kamu dapat coba menggunakan hidrogen peroksida untuk menghilangkan bekas-bekas semen. Cukup campurkan hidrogen peroksida dengan air dalam perbandingan 1:1, lalu oleskan pada bekas semen dan biarkan selama beberapa menit sebelum membersihkannya dengan sikat. Bilas dengan air bersih dan keringkan.

    4. Batu Apung

    Batu apung merupakan bahan yang abrasif, sehingga dapat membantu mengikis bekas semen dari keramik. Basahi permukaan keramik terlebih dahulu, kemudian gunakan batu apung untuk menggosok perlahan bekas semen yang mengeras. Pastikan untuk berhati-hati agar tidak merusak permukaan keramiknya. Setelah mengikis, bilaslah dengan air hingga semua sisa semen bersih.

    5. Cuka

    Cuka merupakan bahan alami yang mampu menghilangkan berbagai noda, termasuk bekas semen. Cuka akan membantu melunakkan semen sehingga kamu dapat dengan mudah menggosoknya dengan sikat atau spons.

    Caranya mudah, kamu bisa mulai dengan mencampurkan cuka dan air dalam perbandingan 1:1. Setelah campuran jadi, oleskan pada bekas semen dan biarkan selama 10-15 menit. Lalu kamu dapat menggosok area tersebut dengan sikat kasar atau spons untuk membuat sisa semen terkelupas. Kemudian bersihkan dengan membilasnya menggunakan air bersih.

    6. Garam

    Lalu, garam bisa jadi bahan untuk membantu melunakkan bekas semen. Untuk menggunakannya, kamu cukup mencampurkan garam dengan sedikit air untuk membuat teksturnya kental jangan sampai terlalu cair.

    Oleskan pasta ini pada bekas semen dan diamkan selama 10-15 menit. Gunakan sikat atau spons untuk membersihkan bekas semen, lalu bilas dengan air bersih dan keringkan.

    7. Parutan Kelapa

    Siapa sangka, parutan kelapa bisa jadi cara menghilangkan bekas semen dengan alami. Kamu dapat memarut kelapa segar dan gunakan serbuknya untuk menggosok bekas semen. Hal ini bisa menjadi metode yang lembut dan aman untuk permukaan keramik. Setelah menggosok, bilas dengan air bersih dan keringkan.

    8. Soda Kue

    Selain itu, soda kue adalah bahan pembersih efektif yang bisa kamu coba buat hilangkan semen pada keramik. Untuk menggunakannya, kamu perlu mencampurkan soda kue dengan sedikit air sampai sedikit mengental.

    Oleskan campuran tersebut pada bekas semen dan diamkan selama 10-15 menit. Kemudian gunakan sikat atau spons keras untuk membersihkan bekas semen dan bilas dengan air hingga bersih.

    9. Belimbing Wuluh

    Buah satu ini mengandung asam sitrat alami yang bisa membantu melunakkan bekas semen. Potong belimbing wuluh menjadi dua bagian dan gosokkan permukaan dagingnya pada bekas semen. Biarkan sejenak, kemudian sikat atau lap bersih.

    Itulah beberapa cara membersihkan noda semen pada keramik. Semoga membantu!

    (zlf/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Mau Tanam Cabai di Rumah? Begini Langkah-langkahnya


    Jakarta

    Harga cabai yang tidak stabil membuat banyak masyarakat kerap dibuat pusing. Ditambah lagi kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu sehingga beberapa warga tak mampu untuk membeli cabai.

    Namun jangan khawatir, ada solusi ampuh agar kamu tetap bisa menikmati cabai tanpa perlu mengeluarkan banyak uang, yakni dengan menanamnya di rumah. Memangnya bisa?

    Dilansir laman resmi Dinas Pertanian dan Pangan Magelang, cabai merah dapat tumbuh subur di kawasan dataran rendah maupun tinggi di antara 0-1.000 mdpl. Jenis tanah yang cocok dipakai untuk menanam cabai adalah tanah gembur yang teksturnya seperti remah dan tidak begitu padat. Kandungan pH-nya pun normal yakni 6-7.


    Ingin tahu bagaimana cara menanam cabai di rumah dengan benar? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

    Cara Menanam Cabai di Rumah

    Menanam cabai tak bisa dilakukan sembarangan. Waktu yang tepat untuk menanam cabai adalah ketika musim hujan. Selain itu, cabai lebih baik ditanam saat kondisi udara cukup lembap daripada kering.

    Agar cabai bisa tumbuh subur, simak cara menanam cabai di rumah yang benar di bawah ini:

    1. Rendam Benih Cabai

    Agar cabai bisa tumbuh subur maka dibutuhkan benih yang berkualitas. Untuk mengetahui bibit yang berkualitas caranya adalah dengan merendam bibit ke dalam air hangat dengan suhu 50 derajat Celcius. Pada umumnya, benih yang berkualitas akan tenggelam di dalam air.

    2. Semai Benih Cabai

    Langkah berikutnya, semai benih cabai ke media tanam. Gunakan pupuk kandang atau kompos yang sudah dicampur tanah dengan perbandingan 1:1, lalu tempatkan pada sebuah wadah atau polybag. Ketika sudah disemai, tutup area tersebut dengan daun pisang selama 2-3 hari.

    Setelah itu, cabai mulai tumbuh perlahan sekitar 7-8 hari berikutnya. Benih cabai yang sudah tumbuh perlu dipindahkan ke pot yang lebih besar dengan campuran tanah yang sama. Selama proses ini pastikan kamu menyiram tanaman cabai setiap hari.

    3. Pindahkan ke Tanah

    Ketika tanaman cabai semakin besar, kamu perlu memindahkannya ke tanah agar tumbuh subur. Buat area tanam sekitar 1-1,2 meter dan tinggi 30 cm. Area tanam ini akan berbentuk seperti gundukan tanah tinggi.

    Jika kondisi tanah sebelum ditanam kondisinya kering, kamu perlu mencampurnya dengan pupuk dasar berupa pupuk kandang kuda atau sapi dan pupuk buatan. Tambahkan juga pupuk susulan berupa urea, ZA, KCL sebanyak tiga kali pada umur 3, 6, dan 9 minggu setelah bibit ditanam.

    Untuk besaran masing-masing pupuk dapat disesuaikan dengan luas tanah yang dibuat. Setelah itu, tutup tanah tersebut dengan plastik mulsa berlubang, lalu masukkan cabai muda ke dalam lubang.

    4. Merawat Tanaman Cabai

    Tanaman cabai juga perlu diperhatikan dan dirawat sebaik mungkin. Setelah 1-2 minggu ditanam segera cek apakah ada bibit yang mati atau tidak. Jika ditemukan ada bibit yang mati atau sakit segera dibuang.

    Sementara untuk bibit tanaman cabai yang sudah berkembang subur pastikan untuk selalu disiram secara rutin. Jika ada tanaman cabai yang sudah tumbuh tinggi, tambahkan bambu kecil sebagai penyangga agar batangnya tidak tumbuh ke samping.

    5. Masa Panen Cabai

    Masa panen cabai bisa berbeda-beda tergantung dari lokasinya. Jika ditanam di dataran rendah maka waktu panennya sekitar dua bulan lebih atau 70-75 hari, sedangkan di dataran tinggi sekitar 4-5 bulan. Apabila ditemukan buah cabai yang rusak maka segera disingkirkan.

    Cara menentukan waktu panen dapat menyesuaikan dengan waktu penggunaan cabai tersebut. Jika cabai ingin dikirim ke daerah yang jauh, sebaiknya panen cabai ketika warnanya masih hijau, tapi jika untuk kebutuhan di rumah maka panen cabai ketika sudah berubah merah.

    Demikian cara menanam cabai di rumah dengan mudah. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Bantal di Rumah Menguning? Ini 3 Penyebab dan Cara Membersihkannya


    Jakarta

    Bantal bukan hanya bisa mengalami perubahan bentuk, melainkan warna juga. Saat ini kebanyakan bantal berwarna putih, warna ini lama kelamaan bisa berubah jadi kekuningan seperti warna kuning yang biasa ditemukan pada kerah dan lipatan tangan baju.

    Penyebabnya bisa karena beragam alasan, dilansir Sleep Foundation, beberapa di antaranya karena kebiasaan penggunanya, seperti:

    1. Tidur dengan Rambut Basah

    Siapa yang suka tiduran di kasur padahal habis keramas. Alhasil bantal yang dipakai untuk meletakkan kepala jadi basah. Air sisa mandi di malam hari dapat meresap ke sarung bantal, menyebabkan noda kuning dan perubahan warna. Sebaiknya saat rambut masih basah, tahan dulu untuk tiduran menggunakan bantal.


    Hal ini juga berlaku untuk seseorang yang baru selesai olahraga dan kepalanya basah bermandikan keringat. Bantal bukan hanya jadi lembap, melainkan bisa bau apek. Selain itu, kepala yang lepek karena berminyak juga sebaiknya dibersihkan dahulu, baru setelah itu tidur menggunakan bantal. Minyak kulit ini sebenarnya bagus untuk kesehatan rambut, tetapi apabila telah membuat lembap bantal justru dapat mengubah warnanya menjadi kekuningan.

    2. Ngiler

    Selanjutnya adalah apabila bantal tersebut tidak memakai sarung bantal dan terkena iler atau air liur yang keluar dari mulut. Biasanya ngiler itu terjadi tidak sengaja saat sedang tidur. Orang yang tidur telentang cenderung tidak ngiler dibandingkan mereka yang tidur tengkurap atau menyamping. Jadi apabila ingin mengatasi masalah ngiler ini coba ubah posisi tidur.

    3. Tidak Membersihkan Makeup

    Saat ini sudah banyak perempuan memakai produk kecantikan pada wajah untuk terlihat lebih segar, menarik, dan cantik. Beberapa produk kecantikan ada yang tidak bisa terkena dengan benda lain karena bahannya bisa menempel pada benda lain. Produk kecantikan tersebut seperti lotion, krim wajah, dan bedak. Sebelum tidur sebaiknya bersihkan wajah dan pastikan benar-benar bersih karena produk kecantikan juga bisa menyebabkan permukaan bantal kuning.

    Cara Membersihkan Noda Kuning pada Bantal

    Apabila bantal di rumah sudah terlanjut berubah warna, berarti harus segera dibersihkan, begini caranya.

    1. Pakai Detergen

    Bantal bisa dicuci dengan detergen seperti pakaian. Dilansir dari The English Home, berikut caranya:

    – Tambahkan detergen dan air dengan perbandingan yang sama langsung ke area noda.
    – Tepuk-tepuk area bantal tadi untuk mengangkat noda kuning.
    – Setelah noda hilang, bilas sampai bersih dan cuci bantal sesuai petunjuk label perawatan.

    Noda yang disebabkan dari sesuatu yang tertumpah penting segera ditangani menggunakan detergen ringan dan kain bersih dengan cara seperti di atas. Semakin cepat noda dihilangkan, semakin besar pula kemungkinan noda cepat hilang dan tidak bertahan lama.

    Usai menghilangkan nodanya, pastikan bantal benar-benar kering setelah selesai dicuci agar tidak timbul noda lain. Hal ini juga memastikan bantal tidak lembap dan berjamur.

    2. Pakai Soda Kue dan Cuka Putih

    Apabila warnanya tidak ada perubahan, coba pakai campuran soda kue dan cuka. Kedua bahan ini sering dipakai untuk membersihkan noda membandel di segala benda. Berikut cara menggunakannya:

    – Campurkan soda kue dengan sedikit air hingga teksturnya mengental seperti pasta.
    – Oleskan pasta langsung ke area bantal yang bernoda dan biarkan selama 15-30 menit.
    – Setelah itu, basahkan kain bersih dengan cuka putih lalu tepuk-tepuk ke area bantal tadi untuk mengangkat noda dan menghilangkan pasta.
    – Usai noda hilang, bilas bantal dengan air dan cuci bersih bantal sesuai petunjuk label perawatan.

    Khawatir bau cuka menempel lama? Campurkan minyak esensial seperti lavender dengan detergen biasa saat proses pencucian untuk menghilangkan aroma asam cuka.

    3. Pakai Pemutih

    Dilansir dari Sleep Foundation, pemutih umumnya dipakai untuk menghilangkan noda pada pakaian putih. Bahan ini ternyata bisa digunakan untuk menghilangkan noda kuning pada bantal. Caranya, rendam bantal yang menguning dalam pemutih sebelum dicuci, hal ini bantu mengembalikan warna bantal ke warna semula.

    Kamu harus berhati-hati karena produk kimia bersifat keras dan tidak semua bantal bisa diputihkan dengan pemutih. Pastikan untuk pelajari terlebih dahulu instruksi perawatan bantal dengan cermat sebelum memakai pemutih.

    Itulah beberapa cara menghilangkan noda kuning pada bantal. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Jenis Bahan Sofa yang Bikin Rumah Terlihat Makin Stylish


    Jakarta

    Sofa merupakan perabotan yang sering ditemui di rumah. Furnitur ini biasanya diletakkan di ruang tamu atau ruang keluarga, berseberangan dengan TV.

    Ada berbagai jenis sofa, salah satunya dibedakan berdasarkan materialnya. Pemilik rumah bisa mempertimbangkan bahan saat hendak membeli sofa.

    Bahan sofa bisa mempengaruhi tampilan interior ruangan. Lalu, faktor ini juga menentukan berapa lama usia pakai sofa.


    Bagi yang sedang mencari sofa, bisa pelajari jenis-jenis bahannya. Temukan pilihan bahan sofa yang bikin rumah terlihat stylish berikut ini.

    Jenis Bahan Sofa

    Inilah beberapa opsi bahan sofa yang bisa dipertimbangkan, dikutip dari Livingetc.

    Serat Alami

    Wide shot of cozy flat interior with home office area including big sofa, wooden table and motivational posters at dark-gray wallSofa Foto: Getty Images/SeventyFour

    Sofa berbahan serat alami seperti linen, katun, dan wol umum digunakan. Bahan linen punya tampilan yang terkesan mewah, mudah dicuci, dibersihkan, dan disedot debu. Bahan ini cocok untuk suasana kasual, tetapi bahannya mudah kusut dan melar.

    Sementara itu, katun bisa jadi opsi yang baik karena bahannya lembut, mudah menyerap keringat, dan terjangkau sehingga cocok untuk suasana kasual atau tradisional. Namun, katun dapat kusut dan kurang tahan lama kecuali dicampur dengan bahan sintetis.

    Kemudian, kain wol ideal untuk iklim dingin. Namun, bahan ini bisa jadi agak kasar sehingga perlu pertimbangan lebih jauh.

    Beludru

    sofa beludru/Future via Ideal HomeSofa Beludru Foto: Future via Ideal Home

    Sofa beludru bisa menambah kesan elegan pada ruangan. Bahan ini hadir dalam berbagai warna, termasuk yang netral untuk tampilan lebih kalem.

    “Beludru modern memiliki tumpukan yang lebih pendek, sehingga memberikan tampilan yang ramping dan kontemporer sekaligus sangat tahan lama dan anti noda. Bahannya lembut, dan ramah anak menjadikannya pilihan yang praktis namun mewah,” kata Thea Bloch-Neal, pendiri dan desainer Curated by Thea.

    Kain Chenille

    Sofa Hijau Berbahan ChenilleSofa Chenille Foto: Pexels/Designecologist

    Selain itu, ada bahan chenille yang bisa jadi alternatif dari linen. Material ini dapat dilihat sebagai perpaduan yang pas antara beludru dan bounclé.

    Bahan ini sangat nyaman sebagai sofa. Detail teksturnya menambah estetika ruangan. Namun, tekstur kain chenille rentan untuk tersangkut.

    Kulit

    Real photo of handmade macrame and mockup poster hanging on the wall in bright sitting room interior with leather sofa and metal rack with decor and booksSofa Kulit Foto: Getty Images/iStockphoto/KatarzynaBialasiewicz

    Jika ingin menambah sentuhan berkelas pada ruangan, coba tambahkan sofa kulit. Kulit merupakan pilihan material yang tidak lekang oleh waktu. Bahan kulit juga mudah dibersihkan.

    Berbagai jenis kulit, seperti kulit asli, yang memberikan kesan alami dan mewah sehingga membentuk patina seiring waktu. Sementara itu, kulit sintetis menawarkan alternatif yang terjangkau, meskipun kurang tahan lama.

    “Namun, tidak ada yang lebih baik daripada sofa kulit berwarna cerah,” kata Cheryl, seorang desainer.

    Itulah beberapa pilihan sofa berdasarkan bahannya. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Makanan Ringan Ultra Processed Food Rasanya Selalu ‘Nagih’?


    Jakarta

    Pasti pernah, niatnya cuma makan satu bungkus makanan ringan, tapi ujung-ujungnya malah menghabiskan beberapa bungkus? Atau niatnya hanya minum sedikit minuman bersoda, tapi tangan reflek ambil lagi dan lagi?

    Fenomena ini tidaklah aneh. Makanan seperti itu memang dibuat agar terasa nagih, gurihnya pas, manisnya bikin puas, dan teksturnya membuat mulut ingin terus mengunyah. Tanpa sadar, tubuh jadi sulit berhenti meski sudah banyak makan tanpa merasa kenyang.

    Jenis makanan seperti inilah yang dikenal dengan sebutan ultra-processed food atau UPF. Dalam jangka panjang, konsumsi berlebih bisa memicu pola makan tak terkendali yang mirip dengan kecanduan.


    Apa itu UPF?

    Ultra-processed food (UPF) adalah istilah untuk makanan yang telah melalui banyak tahap pemrosesan industri. Bukan sekadar dimasak atau diawetkan, UPF biasanya dibuat dari bahan hasil ekstraksi seperti pati, protein terisolasi, atau minyak terhidrogenasi.

    Bahan-bahan ini kemudian dicampur dengan berbagai zat aditif, mulai dari pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengawet, hingga pengemulsi, yang jarang kita temukan di dapur rumah.

    Ciri khas UPF mudah dikenali: tampilannya menarik, rasanya intens, praktis dikonsumsi, dan tahan lama. Jadi produk seperti mi instan, biskuit manis, sosis, nugget, snack kemasan, minuman bersoda, hingga makanan beku siap saji termasuk dalam kategori ini.

    Kenapa Bisa Bikin Kecanduan?

    Produk UPF sengaja diproduksi dengan kombinasi rasa yang sangat menggugah selera (highly palatable) yaitu tinggi gula, lemak, dan garam. Perpaduan ini memicu lonjakan hormon dopamin di otak yang memberi rasa senang dan puas setiap kali kita makan. Akibatnya, tubuh mengingat sensasi tersebut dan ingin mengulanginya lagi dan lagi.

    Tak berhenti di situ, konsumsi UPF juga bisa mengacaukan sistem alami pengatur nafsu makan. Kandungan gula dan lemak tinggi dapat meningkatkan kadar hormon pemicu lapar (ghrelin) sekaligus menurunkan sensitivitas terhadap hormon yang memberi sinyal kenyang (leptin). Akibatnya, tubuh sulit membedakan waktu saat benar-benar lapar dan waktu saat sudah cukup makan.

    Selain itu, asupan UPF berlebihan dapat menimbulkan resistensi insulin, yaitu saat hormon insulin tidak lagi efektif menekan rasa lapar dan mengontrol kadar gula darah. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah terdorong untuk terus makan, terutama makanan dengan kandungan tinggi karbohidrat.

    Kombinasi antara gangguan hormonal dan pelepasan dopamin inilah yang membuat UPF terasa begitu nagih dan sulit dikendalikan. Dari sisi otak dan tubuh, efeknya sangat mirip dengan mekanisme kecanduan pada zat adiktif.

    Kenali 5 Tahapan Sebelum Kecanduan UPF

    Kecanduan terhadap makanan ultra-proses tidak muncul begitu saja. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Metabolic Health tahun 2024 menunjukkan bahwa ada tahapan yang bisa dikenali sedari awal sebelum tubuh benar-benar kehilangan kendali:

    1. Tahap Pra-Adiksi

    Konsumsi UPF mulai berlebihan, tetapi belum menimbulkan ketergantungan nyata. Dorongan makan masih bisa dikendalikan, meski rasa “ngidam” mulai muncul saat tidak makan.

    2. Tahap Awal Adiksi

    Frekuensi konsumsi meningkat tanpa kontrol yang jelas. Seseorang mulai sulit membatasi porsi, tapi belum sampai pada perilaku kompulsif. Biasanya disertai pembenaran seperti, “nggak apa-apa, cuma sekali ini”.

    3. Tahap Pertengahan Adiksi

    Muncul perilaku binge eating atau makan berlebihan secara kompulsif, disertai gejala mirip withdrawal (putus zat) seperti gelisah, murung, atau sulit fokus ketika makanan tertentu dihentikan.

    4. Tahap Lanjut Adiksi

    Konsumsi tetap dilakukan meski sadar akan dampak negatifnya. Kontrol diri menurun dan sering muncul perasaan bersalah setelah makan, tapi tetap sulit berhenti.

    5. Tahap Akhir Adiksi

    Toleransi meningkat dan tubuh butuh rasa atau jumlah yang lebih besar untuk mendapatkan kepuasan yang sama. Gejala putus zat makin jelas, dan makan berubah menjadi perilaku kompulsif untuk menjaga kestabilan psikologis maupun fisik yang mulai terganggu.

    Cara Mengurangi Konsumsi UPF

    Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi kecanduan UPF:

    1. Pilih makanan utuh (whole foods)

    Mulailah mengganti sebagian UPF dengan cemilan alami seperti buah, sayur, telur, atau kacang-kacangan. Makanan utuh mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral yang membantu menjaga keseimbangan hormon lapar dan kenyang secara alami.

    2. Kurangi UPF secara bertahap

    Hindari perubahan yang tiba-tiba atau mendadak. Jika biasanya ngemil keripik setiap hari, coba dikurangi jadi tiga kali seminggu. Pendekatan bertahap membantu tubuh dan otak menyesuaikan diri tanpa memicu craving berlebihan.

    3. Terapkan mindful eating

    Coba makan dengan penuh kesadaran: rasakan tekstur, aroma, dan rasa setiap suapan tanpa terburu-buru. Hindari makan sambil bermain ponsel atau menonton TV. Teknik ini membantu otak menangkap sinyal kenyang lebih cepat dan mengurangi dorongan makan berlebih.

    4. Tidur cukup dan kelola stres

    Kurang tidur dan stres kronis dapat meningkatkan kadar hormon rasa lapar (ghrelin) dan menurunkan hormon rasa kenyang (leptin), sehingga memicu keinginan makan tinggi gula dan lemak.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Apa Itu Ultra Processed Food? Jadi Polemik karena Muncul di Menu MBG


    Jakarta

    Istilah Ultra-Processed Food (UPF) belakangan ini ramai dibicarakan. Jenis makanan ini banyak ditemukan dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), program yang sebenarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah.

    Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri dalam sebuah surat memberi restu untuk menghadirkan UPF dalam menu MBG selama mengutamakan produk lokal. Di sisi lain, para pakar gizi mengkritik kebijakan tersebut karena seharusnya lebih mengutamakan makanan segar.

    Terlepas dari polemik tersebut, sebenarnya apa yang disebut Ultra Processed Food? Apa definisinya dan kenapa identik dengan menu tidak sehat?


    Pengertian Ultra-Processed Food

    Ultra-processed food (UPF) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan yang telah mengalami banyak tahapan pemrosesan industri. Tidak hanya sekadar dimasak atau diawetkan, UPF biasanya dibuat dari bahan hasil ekstraksi (seperti pati, protein terisolasi, minyak terhidrogenasi) yang kemudian dicampur dengan zat aditif seperti pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengawet, dan pengemulsi. Bahan-bahan ini jarang sekali ditemukan di dapur rumah tangga.

    Ciri khas UPF adalah tampilannya yang sangat menarik, rasanya intens, praktis dikonsumsi, dan bisa bertahan lama di rak toko. Tidak heran kalau produk seperti mi instan, biskuit manis, sosis, nugget, snack kemasan, minuman bersoda, hingga makanan beku siap saji masuk dalam kategori ini.

    Industri makanan mengandalkan UPF karena beberapa alasan. Pertama, produk ini lebih murah diproduksi dengan bahan dasar yang bisa diolah massal. Kedua, daya simpannya lebih lama, sehingga mudah didistribusikan ke berbagai daerah. Ketiga, UPF cenderung seragam rasanya, membuat konsumen lebih mudah menerima dan terbiasa.

    Klasifikasi NOVA

    Istilah Ultra Processed Food diperkenalkan dalam Sistem NOVA, sebuah sistem pengkategorian pangan yang dibuat tahun 2009 oleh Prof Carlos Monteiro dan tim penelitian dari Universitas Sao Paulo, Brasil. Ide ini lahir karena masyarakat makin bergantung pada makanan olahan industri, sementara konsumsi pangan segar menurun.

    Berbeda dengan klasifikasi gizi biasa, NOVA menilai makanan dari tingkat pemrosesannya. Meski bukan acuan resmi WHO, sistem ini populer di dunia riset dan bahkan dipakai Pan American Health Organization (PAHO) sebagai rujukan kebijakan gizi, khususnya untuk melihat kaitan antara pola makan modern dan penyakit tidak menular.

    Untuk memahami posisi UPF, sistem NOVA membagi makanan menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya:

    • NOVA 1 (Unprocessed or Minimally Processed Foods) adalah makanan segar dan minim proses. Makanan segar atau makanan yang tidak diolah contohnya adalah buah, sayur, ikan segar, telur, biji-bijian, dan jamur. Makanan minim proses adalah makanan yang diolah secara sederhana seperti menghilangkan bagian yang tidak diinginkan, penggilingan, pemotongan, pendinginan, dan pemanasan.
    • NOVA 2 (Processed Culinary Ingredients) adalah bahan hasil ekstraksi atau bahan masak olahan, contohnya minyak goreng, gula, garam, mentega, cuka, dan madu.
    • NOVA 3 (Processed Food): makanan olahan sederhana, contohnya roti tradisional, keju, ikan asin, dan tempe.
    • NOVA 4 (Ultra Processed Food): produk industri dengan banyak tambahan, seperti nugget, sosis, mi instan, biskuit, dan minuman kemasan berpemanis.

    Sejauh ini tidak ada istilah resmi dalam Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai padanan Ultra Processed Food. Beberapa publikasi di media massa menggunakan istilah ‘Makanan Ultra Proses’ sebagai padanannya, walaupun sebenarnya kurang tepat karena tidak konsisten dengan terjemahan untuk kategori lain dalam sistem klasifikasi NOVA. Kategori ‘Processed Food‘ tidak diterjemahkan jadi ‘Makanan Proses’ kan?

    Kenapa UPF Identik dengan Makanan Tidak Sehat?

    UPF kerap diasosiasikan dengan makanan tidak sehat karena biasanya tinggi kalori, gula, garam, serta lemak jenuh, tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral. Konsumsi berlebihan berpotensi mengubah pola makan jadi tidak sehat dan meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker.

    Sejumlah penelitian mendukung hal ini. Publikasi tahun 2025 dalam Critical Reviews in Food Science and Nutrition menyebutkan konsumsi UPF tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian dini, diabetes tipe 2, kanker kolorektal, dan penyakit jantung. Studi lain yang dipublikasikan di Nutrition Journal tahun 2020 meneliti ratusan ribu peserta yang juga dikaitkan dengan konsumsi UPF dengan penyakit obesitas, sindrom metabolik, serta depresi.

    Jika ditarik lebih jauh, masalah utama bukan hanya soal zat tambahan di dalam UPF, melainkan bagaimana makanan ini memengaruhi pola makan seseorang secara keseluruhan. UPF cenderung membuat orang makan lebih banyak karena rasanya dirancang agar sangat enak dan sulit dihentikan (palatable). Selain itu, teksturnya biasanya lembut dan praktis, serta minim serat membuat proses makan lebih cepat, sehingga otak tidak sempat mengirim sinyal kenyang. Hasilnya, kalori yang masuk bisa berlebih tanpa disadari.

    Pada anak-anak, kebiasaan ini bisa berdampak lebih serius. Konsumsi UPF berlebihan sejak usia dini dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, gigi berlubang, hingga menurunnya kualitas pola makan seimbang. Studi jangka panjang juga menunjukkan bahwa pola makan yang terbentuk di masa kecil cenderung bertahan hingga dewasa. Artinya, jika sejak sekolah anak sudah terbiasa dengan nugget atau mi instan, besar kemungkinan kebiasaan itu akan terbawa sampai mereka dewasa.

    Isu ini relevan bila dikaitkan dengan program MBG. Jika menu yang diberikan berisi UPF seperti nugget, sosis, dll, maka tujuan untuk memperbaiki status gizi anak agar menjadi generasi emas bisa tidak tercapai. Memang, UPF lebih mudah diproduksi massal dan tahan lama, tetapi kualitas gizi yang ditawarkan tidak sebaik makanan segar. Di sinilah pentingnya memastikan MBG lebih menekankan buah, sayur, telur, ikan, atau daging segar agar manfaatnya benar-benar optimal bagi anak.

    Meski demikian, tidak semua UPF otomatis berarti buruk. Ada yang memang bermanfaat, misalnya makanan medis tertentu atau produk fortifikasi pangan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Apa Itu Ultra Processed Food? Jadi Polemik karena Muncul di Menu MBG


    Jakarta

    Istilah Ultra-Processed Food (UPF) belakangan ini ramai dibicarakan. Jenis makanan ini banyak ditemukan dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), program yang sebenarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah.

    Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri dalam sebuah surat memberi restu untuk menghadirkan UPF dalam menu MBG selama mengutamakan produk lokal. Di sisi lain, para pakar gizi mengkritik kebijakan tersebut karena seharusnya lebih mengutamakan makanan segar.

    Terlepas dari polemik tersebut, sebenarnya apa yang disebut Ultra Processed Food? Apa definisinya dan kenapa identik dengan menu tidak sehat?


    Pengertian Ultra-Processed Food

    Ultra-processed food (UPF) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan yang telah mengalami banyak tahapan pemrosesan industri. Tidak hanya sekadar dimasak atau diawetkan, UPF biasanya dibuat dari bahan hasil ekstraksi (seperti pati, protein terisolasi, minyak terhidrogenasi) yang kemudian dicampur dengan zat aditif seperti pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengawet, dan pengemulsi. Bahan-bahan ini jarang sekali ditemukan di dapur rumah tangga.

    Ciri khas UPF adalah tampilannya yang sangat menarik, rasanya intens, praktis dikonsumsi, dan bisa bertahan lama di rak toko. Tidak heran kalau produk seperti mi instan, biskuit manis, sosis, nugget, snack kemasan, minuman bersoda, hingga makanan beku siap saji masuk dalam kategori ini.

    Industri makanan mengandalkan UPF karena beberapa alasan. Pertama, produk ini lebih murah diproduksi dengan bahan dasar yang bisa diolah massal. Kedua, daya simpannya lebih lama, sehingga mudah didistribusikan ke berbagai daerah. Ketiga, UPF cenderung seragam rasanya, membuat konsumen lebih mudah menerima dan terbiasa.

    Klasifikasi NOVA

    Istilah Ultra Processed Food diperkenalkan dalam Sistem NOVA, sebuah sistem pengkategorian pangan yang dibuat tahun 2009 oleh Prof Carlos Monteiro dan tim penelitian dari Universitas Sao Paulo, Brasil. Ide ini lahir karena masyarakat makin bergantung pada makanan olahan industri, sementara konsumsi pangan segar menurun.

    Berbeda dengan klasifikasi gizi biasa, NOVA menilai makanan dari tingkat pemrosesannya. Meski bukan acuan resmi WHO, sistem ini populer di dunia riset dan bahkan dipakai Pan American Health Organization (PAHO) sebagai rujukan kebijakan gizi, khususnya untuk melihat kaitan antara pola makan modern dan penyakit tidak menular.

    Untuk memahami posisi UPF, sistem NOVA membagi makanan menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya:

    • NOVA 1 (Unprocessed or Minimally Processed Foods) adalah makanan segar dan minim proses. Makanan segar atau makanan yang tidak diolah contohnya adalah buah, sayur, ikan segar, telur, biji-bijian, dan jamur. Makanan minim proses adalah makanan yang diolah secara sederhana seperti menghilangkan bagian yang tidak diinginkan, penggilingan, pemotongan, pendinginan, dan pemanasan.
    • NOVA 2 (Processed Culinary Ingredients) adalah bahan hasil ekstraksi atau bahan masak olahan, contohnya minyak goreng, gula, garam, mentega, cuka, dan madu.
    • NOVA 3 (Processed Food): makanan olahan sederhana, contohnya roti tradisional, keju, ikan asin, dan tempe.
    • NOVA 4 (Ultra Processed Food): produk industri dengan banyak tambahan, seperti nugget, sosis, mi instan, biskuit, dan minuman kemasan berpemanis.

    Sejauh ini tidak ada istilah resmi dalam Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai padanan Ultra Processed Food. Beberapa publikasi di media massa menggunakan istilah ‘Makanan Ultra Proses’ sebagai padanannya, walaupun sebenarnya kurang tepat karena tidak konsisten dengan terjemahan untuk kategori lain dalam sistem klasifikasi NOVA. Kategori ‘Processed Food‘ tidak diterjemahkan jadi ‘Makanan Proses’ kan?

    Kenapa UPF Identik dengan Makanan Tidak Sehat?

    UPF kerap diasosiasikan dengan makanan tidak sehat karena biasanya tinggi kalori, gula, garam, serta lemak jenuh, tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral. Konsumsi berlebihan berpotensi mengubah pola makan jadi tidak sehat dan meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker.

    Sejumlah penelitian mendukung hal ini. Publikasi tahun 2025 dalam Critical Reviews in Food Science and Nutrition menyebutkan konsumsi UPF tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian dini, diabetes tipe 2, kanker kolorektal, dan penyakit jantung. Studi lain yang dipublikasikan di Nutrition Journal tahun 2020 meneliti ratusan ribu peserta yang juga dikaitkan dengan konsumsi UPF dengan penyakit obesitas, sindrom metabolik, serta depresi.

    Jika ditarik lebih jauh, masalah utama bukan hanya soal zat tambahan di dalam UPF, melainkan bagaimana makanan ini memengaruhi pola makan seseorang secara keseluruhan. UPF cenderung membuat orang makan lebih banyak karena rasanya dirancang agar sangat enak dan sulit dihentikan (palatable). Selain itu, teksturnya biasanya lembut dan praktis, serta minim serat membuat proses makan lebih cepat, sehingga otak tidak sempat mengirim sinyal kenyang. Hasilnya, kalori yang masuk bisa berlebih tanpa disadari.

    Pada anak-anak, kebiasaan ini bisa berdampak lebih serius. Konsumsi UPF berlebihan sejak usia dini dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, gigi berlubang, hingga menurunnya kualitas pola makan seimbang. Studi jangka panjang juga menunjukkan bahwa pola makan yang terbentuk di masa kecil cenderung bertahan hingga dewasa. Artinya, jika sejak sekolah anak sudah terbiasa dengan nugget atau mi instan, besar kemungkinan kebiasaan itu akan terbawa sampai mereka dewasa.

    Isu ini relevan bila dikaitkan dengan program MBG. Jika menu yang diberikan berisi UPF seperti nugget, sosis, dll, maka tujuan untuk memperbaiki status gizi anak agar menjadi generasi emas bisa tidak tercapai. Memang, UPF lebih mudah diproduksi massal dan tahan lama, tetapi kualitas gizi yang ditawarkan tidak sebaik makanan segar. Di sinilah pentingnya memastikan MBG lebih menekankan buah, sayur, telur, ikan, atau daging segar agar manfaatnya benar-benar optimal bagi anak.

    Meski demikian, tidak semua UPF otomatis berarti buruk. Ada yang memang bermanfaat, misalnya makanan medis tertentu atau produk fortifikasi pangan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com